08 June 2018

Selamat libur 17 hari

Lebaran sudah dekat. Pegawai negeri sipil mulai libur panjang Sabtu 9 Juni 2018. Selama dua minggu. Masuk lagi Senin 25 Juni 2018. Total 17 hari.

Luar biasa! Betapa enaknya jadi PNS. Libur panjang, cuti bersama, cuti perorangan, dsb. ''Kerjanyanya juga gak ngoyo. Gak pake target. Gaji pasti naik terus. Negara tidak akan bangkrut,'' ujar Cak Mamat di warkop Tambaksumur Sidoarjo.

Kebijakan libur panjang ini sudah pasti diikuti swasta. Di koran-koran pagi ini BCA merilis jadwal libur kantornya di seluruh Indonesia. Mulai 9 sampai 20 Juni 2018. Kantor-kantor BCA beroperasi normal pada 21 Juni. Artinya libur selama 12 hari.

Asyik memang Indonesia ini. Liburnya makin banyak dan panjang. Ada tanggal merah hari buruh, hari pancasila dsb. Libur Lebaran selalu bertambah dari tahun ke tahun. Demi kelancaran arus mudik dan arus balik.

Tahun depan akan dievaluasi. Jika arus mudik masih belum lancar juga ya liburnya akan ditambah lagi. Kalau tahun ini libur 17 hari, mungkin tahun depan libur 24 hari. Atau sekalian libur panjang satu bulan penuh.

Selamat libur panjang.
Selamat Lebaran!
Mohon maaf dan salam sejahtera!

03 June 2018

Lupakan mudik lewat laut

Dua pekan menjelang Lebaran, media-media membahas persiapan arus mudik. Bahkan ada koran yang sudah bahas mudik sejak awal puasa. Bikin liputan serial tentang jalan tol dari Jakarta hingga Jawa Timur.

Menteri PU Basuki Hadimuljono yakin arus mudik tahun 2018 ini lebih lancar. Sebab jalan tol sudah tembus ke Pasuruan. Panjangnya 1.167 km. Dari Jakarta hingga Pasuruan. Itulah buah pembangunan infrastruktur yang digalakkan Presiden Jokowi.

Luar biasa! Mudik tahun ini juga diyakini lebih lancar karena libur plus cuti bersama lebih panjang. Dua minggu. Dus, pemudik bisa memilih waktu yang longgar untuk mudik ke kota asalnya. Tidak numpuk pada ruang dan waktu yang sempit.

Sayang, pemerintah masih belum tertarik dengan mudik laut. Tanpa perlu bikin jalan tol yang mahal. Tolnya asli ciptaan Tuhan: laut yang sangat luas. Yang menghubungkan pulau-pulau. Cukup mengerahkan kapal-kapal penumpang dengan fasilitas standar. Tidak perlu terlalu mewah.

Begitulah. Mudik jalur laut memang tidak populer di Indonesia. Khususnya Pulau Jawa yang sangat berorientasi daratan. Silakan ngetes sendiri. Berapa banyak orang Jawa yang pernah naik kapal laut dari Surabaya ke Jakarta (dan sebaliknya)?

Bisa dipastikan tidak sampai dua orang (10 responden). Bahkan nol. Seperti yang saya survei di Sidoarjo beberapa hari lalu. "Gak enak naik kapal laut. Lama. Bisa mabuk di perjalanan," ujar Alfian di Sedati, dekat Bandara Juanda. "Pakai pesawat aja... biar sedikit mahal," katanya.

Tak lama setelah dilantik, Jokowi sering bicara poros maritim. Tol laut. Bikin kuis nama-nama ikan berhadiah sepeda pancal Polygon yang dibuat di Buduran, Sidoarjo. Tapi Jokowi kemudian fokus ke darat. Bikin tol trans Jawa. Untuk mengakomodasi jutaan pengendara mobil pribadi di Pulau Jawa.

Ya wis... lupakan saja mudik laut di Jawa. Itu sih cerita zaman nenek moyang kita yang orang pelaut... gemar mengarungi samudra yang luas. Mungkin saja nenek moyang orang pelaut itu berasal dari Tiongkok.

Haiya... haiya... kamsia!

Djaja Laksana Masih Yakin Tutup Semburan Lumpur

Semburan lumpur di Porong Sidoarjo sudah berlangsung selama 12 tahun. Persoalan ganti rugi, relokasi dsb, secara umum sudah selesai. Tinggal beberapa berkas yang tersisa yang terganjal administrasi. Duitnya sudah ditalangi negara sejak era Presiden Jokowi.

Yang jadi pertanyaan: kapan semburan lumpur itu berhenti? Masih mungkin ditutup? Apa masih ada teknologi untuk nyumbat lumpur?

PPLS yang ditugasi negara untuk menangani lumpur bilang tidak bisa. Sebab ada gunung alias mud volcano di bawahnya. Yang bisa dilakukan PPLS, sejak 2006, adalah mengendalikan lumpur. Dialirkan lewat Sungai Porong ke laut.

Satu-satunya orang yang sangat yakin bahwa semburan lumpur bisa ditutup adalah Djaja Laksana. Insinyur dari ITS ini datang lagi ke tanggul lumpur pada 29 Mei 2018. Peringatan 12 tahun Lumpur Sidoarjo seperti tahun-tahun lalu. Sambil menjelaskan metodologinya kepada wartawan.

Djaja Laksana pakai Teori Bernoulli. Dibuat bendungan besar keliling semburan itu. Sampai ketinggian tertentu tercapai titik keseimbangan. Saat itulah semburan akan berhenti.

Djaja tidak asal ngecap. Sebelumnya dia demo menutup semburan-semburan kecil alias bubble di kawasan lumpur. Berhasil. Kemudian menutup semburan di Kalimantan. Sukses. Karena itu, Djaja sangat yakin bisa mengatasi semburan di Porong.

Biayanya kan banyak?

"Memang banyak. Tapi tidak seberapa dibandingkan kerusakan lingkungan akibat lumpur ini. Sudah berapa duit yang dipakai selama 12 tahun?" ujar insinyur yang doyan main golf dan main band ini.

Mengutip penelitian sejumlah ahli geologi, lumpur diperkirakan berhenti sendiri setelah 30 sampai 40 tahun. Masih sangat lamaaa. Saat ini volumenya memang mengecil tapi tetap stabil.

Djaja tidak yakin lumpur bisa stop sendiri. Perlu ada kerja nyata untuk menghentikannya. Djaja sangat yakin dengan metode Bernoulli itu.

Sayang, pemerintah dan PPLS tidak yakin dengan solusi ala Djaja Laksana. Selain mahal, belum tentu manjur. Apalagi PPLS, sejak masih diketuai Basuki Hadi Muljono (sekarang menteri PU), sudah mencoba berbagai metode. Termasuk cara-cara dukun dengan memasukkan ribuan bola beton ke pusat semburan.

Karena itu, pemerintah apatis dengan Djaja Laksana. Hopeless. Cukup mengendalikan lumpur saja. Siapa tahu bisa berhenti sendiri. Toh, lahan sekitar 700 hektare di Porong dan sekitarnya itu sudah kosong.

PPLS dan Pemkab Sidoarjo berencana menjadikan tempat wisata geologi. Geopark. Sebab lumpur itu sangat unik. Tidak ada duanya di dunia. "Lusi itu aset untuk Sidoarjo," kata Prof Hardi yang rajin meneliti fenomena lumpur di Sidoarjo.

Djaja Laksana sih tenang saja meskipun proposal Bernoulli-nya dianggap angin lalu. Dia tetap menikmati hidup dengan main musik bersama teman-temannya yang tergabung dalam Bernoulli Band. Suara Pak Djaja boleh juga. Besar dan empuk kayak Perry Como.

Wise man say....

Kebiasaan Misa Sabtu Sore di Jawa

Setiap hari Minggu pagi, pukul 04.00 sampai 05.00, Paul selalu mengirim pesan ini. Selamat hari Minggu, selamat beribadah dst. Beberapa orang asal NTT di Jawa pun suka mengirim pesan yang sama. Jangan lupa misa hari Minggu.

Ehm... biasanya pesan-pesan begini langsung saya hapus. Bikin memori penuh. Lagi pula gambar atau videonya bukan karya sendiri. Saya suka yang autentik meskipun jelek. Lebih baik mengetik pesan sendiri, huruf demi huruf, ketimbang cuman share dari sumber yang tidak jelas.

Saya sering tersenyum sendiri karena sudah lama tidak misa hari Minggu pagi. Biasanya malah sepedaan atau ikut ngurus Car Free Day di Alun-Alun Sidoarjo. Atau memperpanjang masa tidur. Memanjakan badan dan otak di kawasan pegunungan yang sejuk.

Lalu misanya kapan? SABTU sore. Atau Sabtu malam.

Sabtu 2 Juni 2018, kemarin, saya ikut misa di Pandaan. Romo Stanis Beda CM yang aksennya kental Flores Timur yang pimpin misa. Homili tentang tubuh dan darah Kristus.

Pater ini sempat guyon tentang kebiasaan orang yang suka antre makan enak di restoran. Padahal banyak kolesterolnya dan habis banyak duit. Makanan rohani yang justru lebih penting. Kira-kira itu yang saya ingat.

Awalnya memang aneh misa Sabtu sore untuk ekaristi hari Minggu. Sebab waktu masih anak-anak, di pelosok NTT, Lembata, tidak pernah ada misa Sabtu petang. Misa ya Minggu pagi. Misa Minggu sore juga tidak ada. Orang-orang kampung pasti sangat heran ada misa sore hari.

Setelah hijrah ke kota baru saya tahu ada misa Sabtu sore. Statusnya sama dengan misa hari Minggu. Awalnya saya rasa janggal. Sebab tidak sesuai dengan rumusan 5 Perintah Gereja yang saya hafal betul saat pelajaran agama Katolik di SD.

"Rayakanlah ekaristi kudus pada hari Minggu...," begitu antara lain bunyi perintah gereja. Bukan hari Sabtu.

Tapi lama-lama kok enak misa Sabtu sore. Hawanya lebih sejuk dan nyaman. Misa mulai pukul 17.00 jelang magrib. Selesai misa udara sejuk. Apalagi di Gereja Kayu Tangan, Malang. Pulang gereja bisa mampir ke Gramedia di depan gereja. Atau Sarinah, alun-alun, plaza, bioskop dsb. Kayu Tangan memang jantungnya Kota Malang.

Sejak itulah saya selalu berusaha untuk misa Sabtu sore. Apalagi di Surabaya dan Sidoarjo yang panas. Misa Minggu pagi biasanya mulai 07.30 atau 08.00 atau 09.00. Selepas misa selama 90 menit rasanya gerah. Sinar matahari makin membakar tubuh jemaat.

Iseng-iseng saya baca Warta Paroki Santa Theresia Pandaan, Keuskupan Malang. Gereja tua ini punya tiga sesi misa: Sabtu sore, Minggu pagi, dan Minggu sore. Umat yang misa Sabtu sore tergolong tinggi: 33%. Berarti 67% misa Minggu pagi dan sore.

Jemaat yang misa Minggu pagi di Pandaan 38%. Minggu sore hanya 28%.

Angka ini saya rasa hampir sama di gereja-gereja katolik di Jawa Timur. Di Surabaya persentase umat yang misa Sabtu sore kemungkinan lebih banyak lagi.

Data di Surabaya sih tidak ada. Tapi saya sering tidak dapat tempat di Gereja Roh Kudus, Puri Mas, Gununganyar, Surabaya. Padahal misa masih 30 menit lagi. Banyak sekali umat yang terpaksa duduk di luar gereja.

Bagaimana kalau umat Katolik lebih memilih misa Sabtu sore ketimbang Minggu? Bisa-bisa gereja justru sepi di hari Minggu yang sering dikatakan sebagai Hari Tuhan. Itu yang sempat saya pikirkan sejak lama.

Puji syukur, selama 30an tahun ini, sejak ada kebijakan alias diskresi, misa Sabtu sore, mayoritas umat Katolik di Indonesia jauh lebih banyak yang rajin misa hari Minggu. Khususnya Minggu pagi. Di Lembata, kampung asal saya, juga masih berlaku tradisi misa Minggu pagi. Bukan Minggu sore, apalagi Sabtu sore.

"Yang paling penting itu ya ke gereja. Mau hari Minggu, Sabtu, atau Senin Selasa Rabu Kamis Jumat ya sama saja. Ketimbang gak ke gereja sama sekali," ujar teman saya, bekas aktivis mahasiswa, yang agak liberal.

Paul yang asli Flores, yang rajin kirim ucapan selamat misa hari Minggu, itu rupanya orang Katolik konservatif. Orang-orang macam ini sangat dibutuhkan untuk mengawal liturgi dan tradisi gereja dari masa ke masa.

Apa jadinya kalau mayoritas orang Katolik memilih misa Sabtu sore? Bisa-bisa jadi Katolik Advent!

02 June 2018

Bella Bello Perupa Korban Lumpur


Sudah 12 tahun semburan lumpur terjadi di kawasan Porong bagian timur. Selama itu pula Mochammad Al-Insan Bella Bello kehilangan rumah dan kampung halamannya di Desa Siring. Namun, putra almarhum Luqman Azis, pelukis kawakan itu, tidak ingin larut dalam kesedihan.

Saat ini Bello pindah domisi ke Desa Penambangan, Kecamatan Balongbendo. Seperti ayahnya, Bello pun aktif menghidupi seni rupa. Jalan kesenian rupanya telah menjadi sumber nafkah bagi pria yang murah senyum ini. Tempat workshop-nya pun selalu jadi jujukan anak-anak hingga mahasiswa yang ingin melihat proses kreatifnya, diskusi, hingga mencari bahan-bahan untuk penulisan skripsi.

Bersamaan dengan 12 tahun tragedi semburan lumpur, 29 Mei 2018, Bello menulis catatan menarik. Dia ingin agar warga desa-desa terdampak lumpur tidak larut dalam kesedihan berkepanjangan.

Bello menulis:

''Fokus pada kehidupan yang baru adalah pilihan mutlak. Sementara ini yang bisa kami lakukan hanyalah melupakan kesedihannya saja biar kita tidak larut di sana. Sekarang waktunya kita songsong kehidupan yang baru dengan lebih gembira, karena sejatinya hajat hidup ini memang harus dirayakan.''

Perupa yang sudah beberapa kali mengadakan pameran di Sidoarjo, Surabaya, Jember, dan beberapa kota lain itu menambahkan:

''Kita terus bekerja, kita terus berkarya, dan sebisa mungkin kita lakukan hal-hal positif dengan cara kita masing-masing apa pun profesi kita. Semua itu kita lalukan sebagai bentuk kecintaan kita terhadap tempat asal kita. Kita hidup di tempat yang baru, tapi tetap selalu berusaha mengharumkan tempat asal kita yang sudah hilang. Sebab, cuma itu darma bhakti yang bisa kita lakukan. Desa sudah hilang, minimal baunya masih wangi dan menggema, suaranya tidak sumbang."

Dia bersyukur karena masalah ganti rugi tanah dan bangunan dari keluarganya, alhamdulillah, sudah beres semua. Namun, dia tidak menutup mata masih ada persoalan yang dialami sejumlah korban lumpur asal Siring, Jatirejo, Renokenongo, Kedungbendo, dan sebagainya. Ini karena proses pembayaran ganti rugi itu menggunakan beberapa skema. Ada cash and carry, cash and resettlement, hingga relokasi. Masing-masing skema punya kelebihan dan kekurangan.

''Jadi, tidak bisa digeneralisasi,'' kata mantan aktivis pemuda Desa Siring itu.

Lantas, ke mana saja ribuan warga Siring dan sekitarnya pascatragedi mud volvano itu?

Bello mengaku tidak punya data. Yang pasti, saat ini warga Siring dan desa-desa lain yang terdampar lumpur sudah tersebar ke mana-mana. Sebagian masih di wilayah Kabupaten Sidoarjo, seperti Bello dan keluarga, sebagian lagi di luar Sidoarjo. Mulai Pasuruan, Mojokerto, Surabaya, bahkan keluar Provinsi Jatim.

''Alhamdulillah, masih ada silaturahmi warga (eks Desa Siring) meskipun hanya sekadar bikin acara kumpul-kumpul reunian, ziarah makan yang tenggelam ke tanggul lumpur. Sanak saudara punya hajat, kami berusaha datang. Atau sekadar tidak sengaja ketemu di jalan,'' tuturnya.

Keberadaan media sosial dalam lima tahun terakhir juga dimanfaatkan warga eks Desa Siring untuk silaturahmi di jagat maya. Saling berbagi cerita tentang kondisi warga yang sudah tersebar ke mana-mana itu.

''Lusi atau Lumpur Sidoarjo bagi saya pribadi, dan mungkin seluruh korban baik yang terdampak langsung maupun tak langsung, merupakan suatu peradaban baru kehidupan warga Sidoarjo pada umumnya, dan Porong pada khususnya.

Kami tidak akan bisa melupakan tanah air kelahiran kami. Terlalu banyak cerita di sana baik suka maupun duka. tapi hidup harus terus berjalan,'' katanya.

Sebagai seniman muda yang lahir di Siring, hanya sekitar 500 meter dari pusat semburan, Bello mengaku ingin membuat karya seni rupa 'yang joss' di tanggul lumpur. Konsepnya karya instalasi dari plastik. "Tapi harus besar. Makanya, saya lagi nyiapkan power,'' katanya.

Sidoarjo Kecolongan Banyak Teroris

Inilah makam 17 teroris di Sidoarjo. Mereka terlibat teror bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya pada 13-14 Mei 2018. Hari Minggu pagi. Saat jemaat sedang kebaktian atau jelang ekaristi.

Dedengkot bomber ini adalah Dita yang dulu pelajar berotak encer. Dita menjadi guru terorisme untuk istri dan empat anaknya. Satu keluarga, enak anak, sama-sama pelaku bom bunuh diri.

Sebelas kubur yang lain untuk pelaku bom di markas Polwiltabes Surabaya, Senin 14 Mei 2018. Pagi saat kantor baru buka.

Mayat-mayat lain adalah jaringan teroris anak buah Dita di Sidoarjo. Mulai dari Rusunawa Wonocolo, Urangagung, hingga Sukodono. Dua hari lalu polisi menangkap lagi seorang terduga teroris di Wisma Tropodo, Waru, Sidoarjo.

Ngeriiii! Bukan apa-apa. Imam Bahri, yang ditangkap densus 88 antiteror itu, sehari-hari ketua RT. Tokoh masyarakat. Rumahnya tidak jauh dari gereja tempat saya biasa ikut misa: Paroki Salib Suci, Wisma Tropodo, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Mengapa begitu banyak teroris yang bersarang di Sidoarjo? Kota kita yang lagi gencar memodernkan diri? Ingin mengimbangi tetangganya Surabaya?

Sudah banyak analisis di media massa. Sebagai warga pendatang di Sidoarjo, saya melihat masyarakat dan pemerintah Sidoarjo sangat welcome untuk siapa saja. Urusan apa saja dipermudah. Sulit urus kendaraan di Surabaya? Tenang. Bisa ke Sidoarjo.

Sidoarjo memang kota industri. pabrik-pabriknya banyak sejak zaman Belanda. Pabrik gulanya saja ada 16 biji. Meskipun yang masih beroperasi tahun 2018 ini hanya DUA: PG Kremboong dan PG Candi Baru. Masih ada ribuan pabrik kecil hingga raksasa macam Maspion, Kapal Api, Megasurya, Tjiwi Kimia, Sekar Laut, hingga pabrik sepatu mahal kelas dunia Ecco Indonesia.

Karena itu, sejak dulu sudah banyak pendatang di Sidoarjo. Bekerja di pabrik-pabrik. Kemudian pindah penduduk. Sangat mudah mengurus KTP di Sidoarjo. Khususnya ketika belum ada KTP elektronik alias e-KTP. Makanya ada saja orang yang punya KTP lebih dari dua. Dulu.

Nah, rupanya kebaikan masyarakat dan Pemkab Sidoarjo ini dimanfaatkan teroris untuk mengembangkan selnya. Bahkan bisa tinggal di Rusunawa Ngelom. Rumah susun yang aslinya dibuat pemkab hanya untuk warga Sidoarjo yang berpenghasilan rendah. Kok bisa lolos ke rusunawa di perbatasan Sidoarjo-Surabaya?

Nasi sudah jadi bubur. Bom sudah meledak. Menghancurkan sekian banyak orang. Termasuk menewaskan wong cilik Sidoarjo yang kebetulan pada Ahad pagi melintas di Jalan Arjuna Surabaya. Derrr! Dita meledakkan diri dan mobilnya (lebih tepat mobil istrinya) di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya.

Apakah masih ada teroris-teroris yang bersembunyi di Sidoarjo? Tentu polisi yang paling tahu. Khususnya densus. Tapi beberapa pengamat yakin teman-teman Dita JAD masih banyak di Sidoarjo, Surabaya, dan kota-kota lain di Jatim. Sel-sel tidur itu sewaktu-waktu akan tumbuh ibarat suket teki disiram air hujan.

01 June 2018

Piala Thomas Dikalahkan Persebaya

Bulutangkis Indonesia sedang terpuruk. Baru saja keok dalam perebutan Piala Thomas dan Piala Uber di Bangkok. Kedigdayaan bulutangkis kita sepertinya tinggal nostalgia.

Bukan hanya atlet-atletnya yang kurang bakat, apresiasi penonton juga makin rendah. Demam Piala Thomas dan Piala Uber tidak ada lagi. Beda dengan di masa kecil saya dulu. Piala Thomas dan Piala Uber jadi bahan obrolan di kampung yang tidak ada listriknya.

Berbekal sepotong cerita dari koran bekas, plus rajin nguping warta berita RRI, orang-orang di kampung saya bisa dengan fasih menceritakan kehebatan Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Hastomo, Christian Hadinata, Ivanna Lie, Imelda dsb. Tanpa pernah melihat bintang-bintang badminton ini bermain. Sebab televisi cuma ada di kota. Sekitar 25 kilometer dari kampungku.

Ketika pindah ke Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur, demam badminton memang luar biasa. Kejuaraan apa saja pasti ditonton banyak orang. Padahal televisinya hitam putih. TV warna masih beberapa biji punyanya baba-baba Tionghoa.

Ketika ada siaran Piala Thomas... wuih heboh. Indonesia menang. Warga ramai-ramai bersorak gembira usai pertandingan yang menegangkan lawan Tiongkok. Berhari-hari warga membahas kehebatan pemain-pemain Indonesia. Lius Pongoh yang ulet. King dengan smash lompatnya yang mematikan. Hastomo yang napas kuda dsb.

Minggu lalu, saya sengaja mencari kafe-kafe yang biasa menayangkan siaran langsung olahraga untuk nobar (nonton bareng). Lebih asyik menonton semifinal Piala Thomas 2018. Indonesia vs Tiongkok. Pertandingan hidup mati. Pasti seru.

Eh... saya ternyata keliru. Dari lima kafe di Sidoarjo, mulai Buduran sampai Porong, tidak ada satu pun yang menayangkan Piala Thomas. Nobarnya sih ada dan ramai. Tapi siaran langsung Persebaya vs Madura United. Kebetuan jamnya bersamaan dengan Piala Thomas.
''Di sini nggak ada yang suka Piala Thomas. Mintanya Persebaya,'' ujar pelayan kafe di pinggir jalan raya Candi. Di kafe-kafe lain pun jawabannya sama.

Apa boleh buat. Malam itu saya terpaksa nonton siaran Piala Thomas sendirian. Di HP. Sambil mendengarkan sorakan pengunjung lain yang semuanya penggemar Persebaya.

Media-media di Indonesia juga sudah lama meninggalkan bulutangkis. Beritanya cuma sekadarnya di halaman dalam. Bukan di halaman depan.

Televisi swasta juga lebih suka menyiarkan pertandingan sepak bola uji coba ketimbang Piala Thomas. Masih lumayan TVRI mau siaran langsung Piala Thomas dan Piala Uber.

Kelesuan bulutangkis ini tentu tak lepas dari prestasi yang jeblok. Nama-nama pemain bulutangkis saat ini makin asing di telinga masyarakat. Sebab prestasinya juga pas-pasan. Dus, sulit menarik masyarakat untuk demam bulutangkis seperti pada masa lalu.

Menpora Imam Nahrawi meminta para pemain tidak terlalu bersedih dengan kekalahan di Bangkok itu. Berlatih lagi yang keras. Balas di Asian Games di Jakarta. Apa bisa? Saya kok ragu.