31 May 2018

Menu Vegetarian di Malam Waisak

Malam bulan purnama. Tepat Waisak. Saya mampir ke rumah almarhum Pandita Nugroho di Pondok Jati X Sidoarjo. Ikut merasakan berkat Sang Buddha bersama sekitar 100 umat Buddha di Sidoarjo.

Detik-detik Waisak tahun ini 21:19. Jam yang pas. Tidak kemalaman, kepagian, atau kesiangan. Kurang asyik kalau bulan purnama sempurna siang hari. Katakanlah pukul 12.00 atau 13.00. Bulan purnamanya gak kelihatan.

Makanya, saya suka Waisak yang detik-detiknya jatuh malam hari. Itulah pengalaman beberapa kali meliput Waisak di kawasan candi-candi. Meditasi trisuci di alam terbuka, diterangi purnama....asyik.

Pukul 21.00 saya tiba di rumah Pak Nugroho yang rangkap Wihara Dharma Bhakti. Banyak polisi yang berjaga. Jalan masuk ditutup. Saya pun sempat diperiksa sebelum diizinkan masuk.

Suasana sudah meriah. Puja bakti dan sebagainya sudah selesai. Meditasinya kapan? ''Sudah. Sekarang acara makan-makan. Monggo ada nasi pecel yang enak,'' ujar Nico Tri Sulistyo Budi, putra almarhum Pak Nugroho, yang kini jadi rohaniwan Buddha di wihara itu.

Loh... katanya Mbah Google detik-detik waisak jam 9:19?

''Betul. Tapi kita majukan. Biar gak kemaleman. Soalnya banyak anak-anak dan lansia,'' ujar Mas Nico seraya tersenyum.

Luar biasa. Orang Buddha ternyata sangat luwes. Sembahyangnya bisa dimajukan atau dimundurkan. Lihat sikon: situasi dan kondisi. Beberapa tahun lalu waisak jatuh pada pukul 03.00 lebih sekian menit. Pagi buta. Pandita Nugroho bersama jemaatnya melakukan meditasi pada pukul 10.00.

''Meditasi itu bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Kalau di wihara-wihara besar sih biasanya disesuaikan dengan detik-detik waisak. Di sini kan wihara kecil,'' kata Mas Nico yang ketiban sampur jadi pandita setelah ayahnya meninggal pada akhir 2015.

Apa boleh buat. Saya tidak bisa motret umat Buddha meditasi bersama. Mengenang tiga peristiwa penting dalam kehidupan Sang Buddha Gautama.
Saya langsung masuk acara utama: makan-makan. Menu vegetarian khas Buddhis Sidoarjo. Nasi pecel, mi, nasi goreng. Minumnya es garbis kayak buka puasa.

''Alhamdulillah... sueger,'' kata seorang polisi dari Polsek Buduran yang duduk di samping saya.

Selamat Waisak!
Semoga semua makhluk berbahagia!

30 May 2018

Rahman Tamin (1907-1960) Pendiri Ratatex di Balongbendo

Oleh ROSIHAN ANWAR

Rahman Tamin, 54 tahun, Presiden Direktur Ratatex dan NV Rahman Tamin, meninggal dunia Selasa jang lalu (11 Oktober 1960) dan kemarin dikebumikan itu adalah sebuah suri teladan dari ketjakapan dan ketekunan entrepreneur swasta membangunkan suatu usaha jang berharga untuk masjarakat.

Ia berasal dari keluarga saudagar, anak Hadji Tamin. Namun tidaklah berarti bahwa segala sesuatu tadinja telah dilemparkan begitu sadja ke dalam pangkuannja. Ia harus membangunkan usahanja dikit demi dikit mulai dari alasnja.

Alas itu adalah toko kain Jakarta di Pasar Senen, jang dimulainja tidak lama setelah zaman malaise. Dari pengetjer ia meningkat djadi grosir dan di tahun 1937 ia mulai bergerak djadi importir. Tempatnja sudah di Pintu Ketjil, dan perusahaannja telah bernama Firma Rahman Tamin.

Ber-sama2 dengan adiknja, Agus Tamin, ia mempunjai feeling jang tepat sekali untuk mengetahui kain2 tekstil tjorak apa jang digemari oleh publik. Meskipun pendidikan sekolahnja hanja sampai MULO kelas I di Padang, meskipun ia tidak pernah beladjar tentang survey dan research market, management dll, sebagaimana jang dipeladjari oleh doctorandi ekonomi sekarang. Namun perusahaannja madju terus dan di zaman kolonial Belanda itu pun sudah ia diakui dan dihormati oleh pihak Belanda sebagai importir dan ahli tekstil.

Kekuatannja terletak pula pada kemampuannja untuk memimpin Tamin Gebroeders. Semua saudaranja diikutsertakannja dan diberinja tempat jang serasi dalam perusahaannja. Dari satu jang satu itu, ia mempunjai 10 saudara lainnja, di antaranja 9 laki2.

Pada ketjakapannja mengatur uang jang tidak boleh diboroskan pada pengeluaran2 konsumtif jang tidak karuan belaka. Ia tidak memiliki sifat2 OW er OKB alias orang kaja baru. Dan pada pandangannja jang tepat untuk mengalihkan usahanja pada waktu jang tepat dari perdagangan tekstil ke bidang produksi tekstil.

Maka lahirlah konsepsinja untuk membangunkan sebuah pabrik tekstil jang achirnja berwudjud dalam Ratatex jang dibuka dengan resmi di bulan Mei 1958 di Sidoarjo, mesin 4 jasin.

Ratatex dengan produksinja 500.000 meter sehari dan konon mulai November 1960 jad. Ditingkatkan lagi dengan 80%, walaupun belum kerdja dengan sepenuh kapasiteitnja berhubung hambatan2 belum adanja tambahan mesin dan kapital bagi masjarakat, tak dapat disangkal adalah vital bagi masjarakat kita di dalam memenuhi keperluan sandang rakjat.

Hanja kurang lebih setengah tahun sesudah pembukaan resminja Rahman Tamin dapat aktif memimpin Ratatex. Kemudian mulailah ia sakit2an, dan keadaan ini berlanjut terus selama kurang lebih dua tahun. Ia telah diangkat djadi anggota Depernas, tapi di situ pun karena sakit2an, ia tidak kuasa memberikan sepenuh tenaganja.

Ia telah mengecap kegembiraan dan kebanggaan swasta melihat usahanja tumbuh dan dibangunkan atas kekuasaan dan keunggulan sendiri. Ia telah membuktikan bahwa tiada beralasan untuk mempertahankan pandangan rendah si prijaji terhadap saudagar bahwa sesungguhnja orang harus pula menaruh hormat dan respek kepada pengusaha swasta, jang djikalau sadja diberi kesempatan dapat mentjipakan usaha jang berguna bagi masjarakat.

Kini Rahman Tamin entrepreneur in optima forma sudah tak ada lagi. Usahanja diteruskan oleh saudara2nja dan anak2nja. Tapi seperti harimau meninggal meninggalkan belangnja, begitulah manusia meninggal meninggalkan namanja. Nistjaja nama Rahman Tamin dikenang terus. (*)

Sumber: Harian PEDOMAN, Kamis 13 Oktober 1960

26 May 2018

Sabun Sidoarjo Asing di Kampung Sendiri

Sabun produksi PT Megasurya Mas di Desa Tambaksawah, Kecamatan Waru, Sidoarjo, paling banyak diekspor ke luar negeri. Lebih dari 100 negara. Karena itu, perusahaan ini tiap tahun dapat penghargaan dari pemerintah pusat.

Anehnya, tidak banyak warga Sidoarjo yang tahu sabun-sabun produksi PT Megasurya. Lebih dari 10 orang Sidoarjo yang saya tanya pun mengaku tidak tahu. Apalagi memakai sabun yang dibikin di Tambaksawah, desa langganan banjir di dekat Bandara Juanda itu.

Sudah lama saya mengecek toko-toko di Kabupaten Sidoarjo. Ternyata tidak ada sabun buatan Megasurya Mas. Bahkan di Tambaksawah, Tambakrejo, atau Tambaksumur yang satu kawasan dengan pabrik pengolahan kelapa sawit itu.

"Jarang ada orang yang pakai," kata Lita, mahasiswi asal Tambakrejo, tidak jauh dari pabrik sabun Megasurya Mas.

Aneh! Sabun yang katanya diekspor ke banyak negara tapi kurang dikenal di kampung halamannya sendiri. Bisa saja karena selera orang Sidoarjo memang beda dengan sabun-sabun made in Sidoarjo.

Akhirnya, pekan lalu saya menemukan sabun buatan Megasurya Mas Sidoarjo di kawasan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Ada beberapa merek: Harmony dan Medicare. "Penggemarnya lumayan banyak. Harmony itu sabun aroma buah-buahan," kata penjaga toko yang lebih suka sabun Lux.

Sabun-sabun hotel yang mungil itu ternyata buatan Megasurya Mas juga. Sebagian besar hotel di berbagai kota di tanah air menggunakan sabun itu. Bahkan sudah lama ekspor juga.

Mengapa sabun-sabun made in Sidoarjo kurang dikenal masyarakat? Asing di tanahnya sendiri? "Karena tidak ada iklannya. Mana ada iklan sabun-sabun Sidoarjo di televisi, koran, atau majalah?" ujar seorang teman.

22 May 2018

Bumi Surabaya Tolak Mayat Teroris

Senin siang, 21 Mei 2018. Saya mampir ke warkop di dekat Makam Ngagel Surabaya. Tempat cangkrukan lama saya ketika masih tinggal di Ngagel Jaya Selatan. Sekaligus nyekar.

Meskipun bulan puasa, ada saja warkop yang buka. Saya pun tertarik melihat spanduk di dekat makam Bung Tomo. Isinya menolak jenazah teroris. Tidak sudi teroris-teroris yang beraksi di Surabaya dan Sidoarjo 13-14 Mei 2018 itu dimakamkan di Ngagel.

''Itu komitmen warga,'' ujar seorang pria yang biasa dapat job membuat makam di Ngagel. ''Masak sih teroris dimakamkam di dekat makamnya Bung Tomo. Apa kata anak cucu kita,'' ujar kenalan lama yang mokel puasa ini.

Luar biasa arek-arek Suroboyo! Sikap tegas ini sebelumnya ditunjukkan warga Putat Jaya. Mereka bahkan menolak jenazah para teroris meskipun lubang sudah digali. Akhirnya mayat-mayat para pengantin bom bunuh diri itu batal dimakamkan di Surabaya.

Bumi Surabaya menolak teroris! Bahkan mayatnya pun tidak dapat tempat di tanah Surabaya. Tabik dan respek! Inilah bumi para pejuang 45 yang telah mempersembahkan jiwa raga untuk Indonesia.

Polisi sempat bingung. Sebab tidak mungkin mayat-mayat yang hancur itu dibiarkan terlalu lama. Untungnya ada makam milik Dinas Sosial Sidoarjo di dekat sungai kecil itu. Lahan khusus untuk menguburkan jenazah yang tidak dikenal.

Mayat-mayat teroris akhirnya dimakamkan di Sidoarjo. Total 14 mayat. ''Lah, wong keluarganya saja gak mau ngambil jenazah teroris. Mosok mau dimakamkan di sini,'' ujar kenalan lama di dekat Makam Ngagel itu.

Misa Pentakosta seminggu pascabom

Minggu 20 Mei 2018. Tepat seminggu setelah tragedi bom di tiga gereja di Surabaya, semua gereja di Surabaya, Sidoarjo, Gresik dsb dijaga ketat. Khawatir kecolongan teroris bom bunuh diri.

Begitu juga di Gereja Katolik Salib Suci, Wisma Tropodo, Waru, Sidoarjo. Saya ikut misa pagi di gereja yang dilayani imam-imam Societas Verbi Divini (SVD) asal Flores NTT itu. Banyak banget polisi yang berjaga di sekitar gereja. Ada tentara juga. Tidak ketinggalan teman-teman Banser NU.

Pintu pagar yang biasanya dibiarkan terbuka lebar pagi itu dibuka sedikit. Polisi dan petugas keamanan gereja mengecek tas dan barang bawaan umat. Tidak lama. Saya lihat banyak pula polisi-polisi yang pakai pakaian preman.

Ekaristi dipimpin Pater Gabriel Maja SVD. Hari Raya Pentakosta. Pater asal Ngada Flores itu pakai kasula merah. Sesuai dengan warna liturgi Pentakosta. Roh kudus turun untuk memberi kekuatan kepada para rasul.

''Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras....'' petikan Kisah Para Rasul 2:1-12. Bacaan pertama pagi itu.

Misa berjalan seperti biasa. Di dalam gereja tidak terasa kalau pekan lalu ada bom di gereja. Termasuk di Paroki Ngagel. Gereja penuh. Saya bahkan sampai tidak dapat tempat. Untung petugas tatib (istilah khas di paroki-paroki) mengantar saya ke posisi agak depan. Tidak jauh dari paduan suara.

Oh ya... kornya bagus. Ordinarium pakai Gregorian 1. Cukup sulit sehingga jarang dinyanyikan di gereja-gereja lain. Bapak yang jadi dirigen saya nilai sangat menguasai gregorian yang sulit.

Pater Gabriel dalam homilinya sempat menyinggung tragedi bom itu. Sambil geleng-geleng kepala. Kok ada orang tega menyerang sesama di tempat ibadah. Di mana hak asasi? Kewajiban asasi?

''Kita punya kewajiban asasi untuk menghormati kehidupan sesama manusia. Siapa saja!'' tegas pater dengan suara bergetar.

Di ujung ekaristi umat diajak bersama-sama membacakan doa untuk korban bom dan keselamatan bangsa Indonesia. Meminta perlindungan Bunda Maria. Lalu berkat penutup dan pengutusan.

Kor membawakan lagu Ave.. Ave.. Ave Maria. Lagu khas bulan Maria, bulan Mei, yang sudah lama tidak saya dengar. Maklum tidak ada di buku Puji Syukur. Haru. Enak sekali paduan suara membawakan lagu devosi yang sederhana itu. Lagu yang dulu biasa kami nyanyikan saat SD di pelosok NTT.

Di Lourdes di gua sunyi terpencil
Tampaklah Maria perawan murni
Ave... Ave... Ave Maria
Ave... Ave... Ave Maria

19 May 2018

Grup WA Penuh Khotbah

Grup WA sering bikin kesal. Tahu-tahu saya dimasukkan ke beberapa grup whatsapp. Tanpa permisi. Minggu lalu saya dimasukkan ke grup WA kumpulan wartawan-wartawan senior eks koran yang sudah lama tutup.

Gak salah sih. Sebab saya sempat bekerja di situ meskipun tidak lama. "Anda harus ikut grup. Banyak info bagus," ujar Pak Bambang wartawan senior asli Malang.

Saya tolak. Sudah kebanyakan grup. Lagi pula ponsel saya tidak kuat. Kapasitasnya kecil. Eh, jurnalis lawas ini rupanya lupa. Saya dimasukkan ke grup sama admin yang tidak saya kenal. Waduh...

Sudah seminggu ini saya ikuti tulisan, foto, video di grup itu. Ternyata 95 persen ceramah agama Islam. Khotbah-khotbah. Ada juga motivator yang eks wartawan yang juga penuh pesan islami. Bahkan ada juga yang kelihatannya pendukung HTI.

Saya malas baca postingan-postingan para pensiunan wartawan itu. Terlalu banyak khotbah agama. Pagi siang malam.. selalu muncul siraman rohani. Ironisnya, bukan tulisan sendiri tapi share dari mana-mana. Kreativitas wartawan senior itu lumpuh.

Di usia senja. Kalau cuma share tulisan, foto, video... apa bedanya dengan anak kecil? Padahal para senior itu dulu sering ceramah agar reporter-reporter muda harus rajin meliput. Wawancara tatap muka. Turun ke lapangan. Banyak deskripsi. Pancaindra dipakai, kata wartawan senior yang juga anggota grup. Total anggota 100 lebih.

Saya pun mau left group. Cabut. Tapi gak enak sama beberapa senior yang akrab. WA ini memang beda dengan FB. Keluar grup WA akan terlihat semua anggota.

Kalau grup wartawan-wartawan lawas penuh khotbah Islam, sebaliknya salah satu grup orang NTT penuh khotbah-khotbah kristiani. Ada gambar, video dsb. Setelah terjadi bom di gereja, maraklah khotbah macam di gereja.
Malah lebih lebay di media sosial. Kalau di gereja cuma sekali seminggu, di grup medsos ini setiap saat. Apalagi beberapa anggota yang aktif luar biasa. Kapan kerja kalau khotbah terus? Pastor yang kerjanya (antara lain) berkhotbah pun tak bicara sebanyak ini.

Apa boleh buat, saya harus hapus grup-grup khotbah ini. Ketimbang capek membersihkan postingan tiap hari. Kesel Cak!

15 May 2018

Mampir ke Gereja Katolik Ngagel Surabaya

Sudah tiga tahunan saya tidak masuk ke Gereja Santa Maria Tak Bercela, Ngagel Surabaya. Setelah tidak tinggal di Ngagel Jaya Selatan. Dulu tiap Minggu saya misa di sini. Duduk di pinggir kiri. Biasanya ketemu Mbak Jeane PR salah satu hotel bintang lima di Surabaya.

Maka ada rasa haru saat mampir lagi ke paroki lamaku ini. Masih banyak serpihan sisa-sisa bom yang meledak hari Minggu pagi 13 Mei 2018. Sejumlah pekerja dikirim Ibu Wali Kota Bu Risma untuk membersihkan sisa-sisa reruntuhan di depan.

Masih banyak polisi, tentara, dan satpol pp yang berjaga. Siaga penuh. Siapa pun tak boleh masuk ke halaman tanpa izin. Termasuk umat paroki. Termasuk wartawan media apa pun.

Karena itu, saya pun disilakan menunggu lama di luar pagar. Bersama beberapa wartawan lokal dan internasional. Saya jadi tahu Mbak Sitepu dari BBC yang tulisannya sering saya baca. Hem... mirip artis sinetron.

''Tiap hari saya baca BBC,'' kata saya, siapa tahu nona dari Jakarta berdarah Batak Karo ini senang.

''Oh ya...,'' balasnya tersenyum.

''Iya. BBC Football paling saya suka. Saya senang mengikuti analisis Liga Inggris. Sangat lengkap. Mendalam. Pakai data-data akurat. Nggak asal nulis thok,'' kata saya.

Sekitar 30 menit kemudian Sitepu dkk disilakan masuk. Ngopi dulu. Ibu-ibu paroki menyiapkan kopi, teh, nasi bungkus berlimpah di meja dekat toko buku. Untuk bapak-bapak keamanan.

Setelah wartawan bule Amerika selesai wawancara, kami masuk ke gereja Katolik terkenal itu. Oh, ada Romo Nanglek yang masih rajin pelihara brewok. Dulu sering jadi teman diskusi di markas PMKRI Surabaya. Sekarang pastor yang nama aslinya RD Petrus Canisius Eddy Laksito itu jadi direktur Seminari Tinggi Providentia Dei Surabaya. Kampusnya calon-calon imam diosesan alias RD di Keuskupan Surabaya.

Senang banget ketemu Romo Nanglek yang memang hebat itu. Sayang, di dalam gereja yang baru dibom oleh dua remaja teroris muda. Mas Aloysius Bayu Rendra yang jadi relawan jaga gereja tewas karena mencegah teroris masuk dan ngebom di dalam gereja yang umatnya sudah banyak itu.

Sitepu BBC dan wartawan lain sibuk wawancara Romo Aloysius Widyawan, pastor rekan. Cerita tentang kejadian bom dua hari lalu. Saya cuma nguping karena sudah dimuat di koran-koran. Di televisi juga sudah diulas besar-besar.

Romo Widyawan banyak menyinggung Mas Bayu. Seorang relawan yang mengorbankan diri untuk keselamatan orang lain. Pengorbanan yang tak sia-sia. Paroki mengadakan misa requiem sore harinya. Solidaritas muncul usai peristiwa tragis ini.

Romo Widyawan merasa terharu. Betapa banyak saudara-saudari yang datang untuk memberikan dukungan moral. Baik yang Katolik, Islam dsb. Semua sama-sama mengutuk peristiwa ini.

Apakah Romo sudah mengampuni pelaku (teroris)? Begitu kira-kira pertanyaan BBC.

Romo Widyawan tersenyum. Mengambil napas panjang. Lalu bilang bahwa pelaku bom ini sejatinya juga korban. Dua anak remaja yang nekat melakukan perbuatan keji ini karena mendapat didikan atau indoktrinasi dari orang lain. ''Tentu kita sudah memaafkan. Kita juga mendoakan agar tidak ada lagi peristiwa seperti ini,'' katanya.

Apakah hari Minggu nanti ada misa seperti biasa? tanya BBC lagi.

Romo Widyawan sih maunya begitu. Namun, dalam kondisi siaga satu ini, pihak gereja tentu tidak bisa membuat keputusan sendiri. Harus koordinasi dengan kepolisian dsb. ''Mudah-mudahan diizinkan,'' katanya.