29 April 2018

Konser Paduan Suara Paroki St. Theresia Pandaan



Sudah lama saya tidak menyaksikan konser paduan suara. Apalagi di dalam Gereja Katolik. Biasanya kor-kor gereja bikin konser di ballroom hotel, aula, gedung kesenian macam Cak Durasim Surabaya dan sejenisnya. Maka, saya agak kaget ketika tahu ada konser di Gereja Katolik Pandaan, Kabupaten Pasuruan. St Theresia Choir.

Tahunya ya... saat ikut misa Sabtu sore. Umat diminta tidak langsung pulang. Ada acara makan-makan disusul konser paduan suara. Dalam rangka 400 tahun Kongregasi Misi (CM). Kebetulan saat ini Paroki St Theresia Pandaan dipegang pater Vinsensian: Romo Didik Setiawan CM dan Romo Stanislaus Beda CM. Kedua imam ini memang punya apresiasi kesenian yang bagus.

Suasana konser St Theresa Choir ini memang jauh berbeda dengan konser-konser klasik yang sering saya saksikan di Surabaya dan beberapa kota lain. Meriah dan guyub. Hampir semua jemaat paroki datang untuk menonton. Sebab ada misi sosial di baliknya. Membantu program-program CM dan paroki. Gereja di pinggir jalan raya pun penuh sesak.

Dukungan umat yang luar biasa ini membuat adik-adik paduan suara sangat antusias. Khususnya dirigen Heribertus Djaka Wusana, organis Yosef Wibisono, dan Romo Stanis selaku pembina. Begitu pula Ariek Yusni Erdianti koreografer sejumlah tarian.

Arswendo Atmowiloto sebagai bintang tamu pun sumringah. Memakai blankon khas Jawa, wartawan, budayawan, sastrawan, dsb ini diberi tugas berbagi pengalaman hidup. Lebih tepatnya melawak tunggal alias standup comedy di depan ribuan umat Katolik di Pandaan.

Seperti biasa, acara-acara paroki selalu ada pidato. Dewan paroki, ketua panitia, pastor paroki dsb. Tapi tidak panjang. Sebab umat sudah tidak sabar menikmati paduan suara, tarian, dan pemutaran film pendek tentang pelayanan Vinsensian di Indonesia. Film pendek diselipkan di antara lagu-lagu kor.

Dibuka dengan Domini Est Terra (Pater Georg Braun SVD), Kor Santa Teresa ini tampil meyakinkan. Akustik gereja yang bagus membuat suara sopran alto tenor bas bisa berpadu harmonis. Megah.

Kemudian lagu Besarlah Nama Allah (ET Caraen) yang kondang di kalangan kor-kor Katolik. Komposisinya pendek tapi menuntut nada-nada tinggi dari sopran. Ada kejar-kejaran ala canon. Gagal fokus bisa bahaya. Syukurlah, arek-arek Pandaan selamat di tengah cuaca yang sejuk tanpa perlu AC.

Lagu ketiga, I Have a Deam dari ABBA, mencairkan suasana. Dari yang rohani, liturgis, ke profan. Komposisi yang diaransemen Theis Watopa (almarhum) ini diikuti sejumlah penonton. Lagunya sangat terkenal sih.

Bagian kedua terdiri dari empat lagu. Ecce Sacerdos (Pustardos SVD), Mutiara Vinsensius, Santo Vinsensius dan Santa Luisa (Francis Cruz CM), dan Kupinta Lagu (Cornel Simanjuntak).

Hem.. yang terakhir ini, dulu, sering dilombakan antarparoki di Keuskupan Malang. Saya pernah memperkuat Paroki St Yusuf Jember dan menang. Meski bukan the best. Saat itu Paroki Pandaan juga ciamik. Memang dari dulu Paroki Pandaan ini sangat kompetitif meskipun umatnya tergolong sedikit.

Bagian ketiga berisi tiga lagu: We Are All His People (Jay Althouse), Cantate Domino (Hans Leo Hasler), dan Kristus Yesus Alleluia. Konser ditutup dengan Wartakanlah pada Sesama.

Dibandingkan konser-konser paduan suara yang sering saya saksikan (dan liput), konser Paduan Suara St Teresa ini paling menarik. Bukan perkara kualitas atau penampilan ala artis kelas nasional atau dunia. Tapi partisipasi penonton yang tak lain umat Paroki Pandaan. Dari kita, oleh kita, untuk kita.

Suasananya yang hangat, asyik, mirip nonton sepak bola aja. Ini juga membuktikan bahwa umat Katolik ternyata masih punya apresiasi yang baik pada seni musik, khususnya paduan suara.

Selamat untuk Paroki Pandaan!

28 April 2018

Liga Juara-Juara ala Malaysia


Koran Utusan dari Malaysia di rubrik sukan menulis begini:

"Pasukan Liverpool menundukkan Manchester City 3 - 0 dalam perlawanan suku akhir peringkat pertama Liga Juara-Juara Eropah di Anfield sebentar tadi. Dalam satu lagi perlawanan lain Bercelona menewaskan Roma 4-1."

Saya cukup sering membaca beberapa media berbahasa Melayu Malaysia seperti Utusan, Berita Harian, dan Bernama. Mirip bahasa Indonesia. Maklum, bahasa Indonesia sebetulnya juga bahasa Melayu yang akarnya sama. Bedanya cuma di serapan.

Yang menarik, dan saya salut, orang Malaysia ini lebih berani menerjemahkan kata-kata bahasa Inggris. Beda dengan kita di Indonesia yang sengaja membiarkan kata-kata asing apa adanya. Atau mencampur Indonesia + English. Terjemahan yang tanggung.

Kembali ke berita sepak bola di awal. (Oh ya, Malaysia bilang bola sepak, bukan sepak bola.) Media-media di Malaysia biasa menggunakan LIGA JUARA-JUARA untuk CHAMPIONS LEAGUE. Menarik!

Kita di Indonesia pakai LIGA CHAMPIONS. Tanggung! Mengapa CHAMPIONS tidak diterjemahkan? Mengapa bukan LIGA KAMPIUN? Atau LIGA JUARA? Bisa juga Liga Juara-Juara ala Malaysia? Kita punya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk United Nations.

Perlawanan suku akhir peringkat pertama. Di Indonesia peringkat pertama ini biasa ditulis first leg. Ada juga yang menulis leg pertama. Mengapa tidak diterjemahkan dengan kata-kata Melayu atau Indonesia?

Laga pertama dan laga kedua untuk first leg dan second leg cukup sederhana.

Barcelona menewaskan Roma 4-1. Di Indonesia hampir tidak ada media yang pakai TEWAS atau MENEWASKAN untuk sepak bola atau olahraga. Kata TEWAS biasanya dipakai untuk korban kecelakaan atau bencana alam. Tapi asyik juga dipakai untuk sepak bola.

Bahasa Melayu Malaysia percakapan, saya perhatikan di Youtube, lebih sederhana. Pidato-pidato Mahathir, Anwar Ibrahim, atau Najib Razak enak didengarkan. Ada bumbu-bumbu pantun, pepatah petitih, ungkapan bahasa Inggris yang pas.

Beda dengan omongan politisi atau pesohor kita di televisi yang kerap memaksakan kata-kata Inggris agar terkesan modern dan intelek. Padahal kalau disuruh ngomong English beneran, saya gak yakin orang Indonesia lebih fasih ketimbang orang Malaysia.

Jazz hambar tanpa saksofon

''Ada acara jazz. Asyik mas! Datangnya ya!''

Begitu pesan dari teman lama yang aktif mengelola komunitas jazz di Surabaya. Saya lihat musisinya baru. Muda-muda. Tapi kok gak ada saksofon ya?

Jazz, atau musik apa saja, memang tidak harus pakai saksofon. Improvisasi melodi bisa dimainkan dengan instrumen apa saja. Dan semuanya bagus... kalau senimannya benar-benar berbakat dan punya pengalaman di dunia jazz.

Bubi Chen piano. Bill Saragih flute. Idang piano. Rene Belanda piano. Ireng Maulana gitar. Indra Lesmana dan ayahnya, Jack Lesmana, piano. Louis Amstrong trumpet.

Tapi saya kadung suka musik jazz yang ada sax-nya. Rasanya khas. Instrumen tiup yang satu itu sudah identik dengan jazz. Bahkan sudah jadi semacam ikon jazz. Huruf J di kata JAZZ biasanya diganti gambar saksofon yang memang indah.

Termasuk undangan nonton jazz ini. Ada gambar saksofon untuk ganti huruf J meskipun saya perhatikan band-band yang tampil tidak pakai saksofon. Mungkin bunyi saksofon digital seperti yang biasa dimainkan Balawan dengan gitar listriknya itu.

Saya perhatikan dalam 10 tahun terakhir banyak anak muda yang belajar main saksofon. Bahkan sekolah musiknya Pak Solomon Tong yang orientasinya sangat klasik, orkestra, mayoritas biola dan instrumen gesek, juga ada saksofonnya.

Tapi kok makin jarang band-band jazz yang pakai saksofon beneran? Bukan saksofon digital nan palsu dari keyboard itu?

''Mencari pemain saksofon yang bagus itu gak gampang. Apalagi untuk jazz,'' ujar seorang kenalan yang biasa main jazz di Surabaya.

Di Sidoarjo saya sempat menonton empat atau lima band yang suka bermain smooth jazz. Dua band senior, lainnya musisi di bawah 30 tahun. Gak ada saksofon sama sekali. Nuansa jazz sih ada tapi kurang kental. Malah ada kesan band ini seperti mengiringi penyanyi aja.

Syukurlah, belum lama ini saya diajak Mbak Devy, PR Hotel Luminor di Jemursari Surabaya, untuk nonton jazz. Gratis. Dapat makan pula. Saya lihat ada nama Mas Ucok, pentolan saksofon di Surabaya. Mantap! Pasti seru.

Di komunitas fusion jazz itu Mas Ucok tampil prima. Dengan musik fusion yang rancak. Rasanya gak jauh dari pop. ''Saya memang sengaja mengajak anak-anak muda untuk menikmati jazz. Kami bikin acara dari hotel ke hotel, mal ke mal, kampus dan sebagainya,'' ujar Ucok yang selalu antusias kalau bicara soal jazz.

Ucok bahkan bikin semacam komunitas pemain saksofon di Surabaya. Belum lama ini mereka bikin pertunjukan di stasiun kereta api Gubeng Surabaya. Menghibur para penumpang sepur. ''Alhamdulillah, respons penonton cukup bagus,'' katanya.

Kerja keras dan dedikasi Ucok untuk men-jazz-kan Surabaya layak diacungi jempol. Apalagi mencetak pemain-pemain saksofon. Tapi tentu saja saya tidak ingin menonton 6 atau 10 saksofonis main bareng di atas panggung. Yang saya butuhkan cukup satu orang pemain saksofon kelas maestro macam Embong Rahardjo atau Arief Setiadi.

25 April 2018

Bertanyalah kepada Mbah Google

Malu bertanya sesat di jalan.

Itu dulu. Ketika belum ada google. Ketika masyarakat Indonesia masih komunal. Ketika orang Indonesia belum terkena virus individualisme Barat yang dulu sering dikecam orang Indonesia.

Sekarang pepatah 'malu bertanya sesat di jalan' ternyata kurang cocok di lapangan. Sudah terlalu banyak contoh. Orang yang kita tanya biasanya tidak tahu. Atau tidak mau tahu. Cuek bebek.

Itulah yang saya alami di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Minggu 22/04/2018. Jelang pertandingan Deltras vs Surabaya Muda. Mampirlah saya ke warung nasi pecel. Dekat kantor sekretariat Deltras. Pecelnya lumayan enak.

''Bu, karcis pertandingan Deltras berapa ya?''

''Nggak tahu,'' kata ibu yang pakai jilbab itu.

''Bapak tahu harga tiket sepak bola sore ini?''

Juga tidak tahu. Hem... saya tersenyum sendiri. Aneh. Jualan persis di samping kantor Deltras kok tidak tahu harga karcis Deltras. Gak nguping omongan arek-arek suporter yang biasa mampir di warungnya.

Rupanya ibu ini--juga pedagang-pedagang lain di luar stadion--hanya fokus jualan. Gak mau tahu urusan tiket. Padahal jarak dengan loket tidak sampai 50 meter. Orang Indonesia memang sudah beda dengan sebelum 2000. Yang suka berbagi informasi tentang apa saja. Termasuk gosip-gosip yang penuh bumbu.

Puji Tuhan, sekarang ini ada Mbah Google. Ketik Deltras vs Surabaya Muda. Maka keluarlah berbagai informasi tentang Liga 3. Prediksi pemain Deltras yang akan diturunkan, siapa cedera, hingga harga tiket.

VIP Rp 25 ribu dan ekonomi Rp 15 ribu. Cukup murah. Maklum pertandingan bola kasta ketiga yang dianggap amatir. Beda dengan Persebaya di Liga 1 yang jauh lebih mahal.

Hidup google! Luar biasa!

Mesin pencari asal USA itu makin pintar saja. Makin terbukti sebagai penyedia data dan informasi yang akurat. Serbatahu. Termasuk pertandingan bola di Sidoarjo. Sebaliknya, pedagang-pedagang di sekeliling stadion malah tidak tahu apa-apa.

Sebelumnya saya pernah ngetes salah satu warga di Tropodo Waru. Mantan orang penting dan sudah 20an tahun tinggal di kawasan langganan banjir itu. ''Apa ada Gereja Katolik di sekitar sini? Kawasan Tropodo?'' pancing saya.

Kenalan yang beragama Islam itu menjawab tidak tahu. Dia mengaku tahu ada gereja tapi tidak tahu denominasinya: katolik protestan pentakosta dsb.

Hem... saya tersenyum kecut. Untung ada google. Ketik gereja katolik di Tropodo dan keluarlah begitu banyak informasi. Mulai jadwal misa, romonya, kegiatan OMK, hingga sejarah gereja. Ada banyak foto di dalam dan luar gereja yang digembalakan romo-romo SVD itu. Paroki Salib Suci ini sejak dulu selalu ada romo asal Flores NTT. Sampai sekarang.

Ada lagi contoh yang ironis. Saya mencari rumah Ibu Susy mantan drummer Dara Puspita di Gedangan. Alamat dsb saya dapat berkat bantuan google juga. Saat itu saya kesasar ke tetangganya Bu Susy. Terpaut satu rumah.

''Maaf Mbak... rumahnya Bu Susy di mana ya?''

''Bu Susy siapa ya?''

''Bu Susy Dara Puspita.''

''Nggak tahu. Nggak pernah dengar.''

Mbak yang usianya di bawah 30 itu rupanya tidak tahu ada band lawas Dara Puspita yang sangat terkenal. Apalagi tahu nama-nama personelnya. Tapi saya bisa pastikan dia tahu lagu lawas ini. ''Surabaya Surabaya.. oh Surabaya. Kota kenangan.. kota kenangan... tak kan terlupa.''

Eh, tidak lama kemudian Bu Susy keluar ke halaman rumahnya. Saya pun langsung mengucapkan selamat pagi dan menyalami musisi senior ini. Akrab kayak teman lama saja.

Pelajaran moralnya:
Banyak bertanya (kepada manusia) belum tentu mendapat informasi yang dibutuhkan. Mbah Google jauh lebih efektif sebagai tempat bertanya dan mencari informasi.

Hidup Mbah Google!!!

Minum arak kok bisa mati?


Tiga orang mati karena miras (minuman keras) oplosan. Begitu berita di koran hari ini. Di RSUD Soetomo masih ada 13 pasien yang dirawat inap. Gara-gara mendhem cukrik oplosan.

Aneh tapi nyata. Orang Jawa, khususnya Jatim, yang tidak punya budaya minum tuak + arak sering mati konyol gara-gara miras. Kasus ini selalu berulang dan berulang. Pembuat mirasnya tiarap sebentar, lalu ngoplos maneh. Jualan lagi. Mati lagi.

Budaya minum tuak terlihat jelas di NTT. Nusa lontar. Pulau-pulau kecil yang banyak lontarnya. Pagi dan sore ada semacam ritual iris tuak. Ambil tuak yang sudah penuh plus mengiris malai yang baru. Tuak itu kemudian diminum ramai-ramai.

Kandungan alkoholnya? Pasti ada tapi sedikit. Sebab durasi fermentasi gulanya terlalu pendek. Sekitar 12 jam saja. Karena itu, tuak yang dihasilkan pun manis. Di Jawa namanya legen.

Bapa-bapa peminum sejati biasanya tidak puas dengan tuak. Meskipun ada ramuan kayu agar lebih keras rasanya. Maka disulinglah tuak itu. Jadi arak. Moke. Sopi. Tidak pakai oplosan atau campuran macam-macam.

Biasanya ada satu dua orang yang mabuk. Omong ngawur. Jalan sempoyongan. Tapi tidak ada yang mati. Juga tidak ada yang sampai dibawa ke rumah sakit. Juga jarang ada tawuran gara-gara arak kampung.

Kok bisa di Surabaya (Jawa umumnya) banyak yang mati karena mendhem cukrik? Itu keheranan beberapa teman asal NTT yang belum paham komposisi arak jawa alias cukrik tadi.

Beda jauh dengan miras kampung di NTT. Di Surabaya ini araknya bukan hasil penyulingan atau destilasi tuak. Tapi hasil pencampuran alkohol 95 persen yang dibeli di apotek + air suling (akuades). Ditambah lagi dengan metanol. Biar bisa melayang, katanya.

Satu bagian alkohol dicampur lima bagian akuades. Pengenceran. Lalu dimasukkan ke botol-botol untuk dijual. Bisa dibayangkan dahsyatnya miras ala rakyat kelas bawah itu. Biasanya dicampur lagi minuman energi. Lebih gila lagi ditambah obat nyamuk.

Ini pula yang menjelaskan mengapa kita tidak pernah dengan kabar orang-orang barat mati gara-gara minum bir atau miras jenis lain. Mirasnya orang bule dibuat di pabrik. Pasti ada standar keselamatannya. Gak asal oplos alkohol seperti yang dilakukan arek-arek kenthir di Surabaya itu.

Kalau mau aman ya ngombe tuak manis aja. Atau minum bir atau anggur orang tua. Lebih aman lagi ya cukup minum kopi atau teh.

20 April 2018

Sampean satpam di mana?



Begitu pertanyaan seorang ibu di kawasan Berbek Waru, Sidoarjo. Mungkin potongan saya persis sekuriti, istilah halus satpam. Mungkin juga karena saya mancal sepeda lawas untuk olahraga pekan lalu.

Bukan satpam Bu. Tapi kuli.

Kuli di mana? Tanjung Perak?

Waduh... dikejar terus ibu setengah tua ini. Kuli itu ya buruh. Pekerja kasar.

Tapi kuli apa?

Mau saya bilang kuli tinta tapi malas. Bisa tambah kacau.

Mestinya tadi saya ngaku aja kerja satpam. Selesai. Satpam di Juanda, Buduran, Rungkut... asal sebut aja. Ngawur-ngawuran. Tapi saya kadung sebut kuli.

Jadi ingat kata-kata Bung Karno: ''... bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa.''

Istilah KULI rupanya sudah banyak dilupakan orang. Kuli bangunan, kuli pelabuhan, kuli tinta....

Saya segera menghindar dari ibu yang menganggap saya satpam itu. Gak guna menghadapi orang yang begitu yakin kalau orang yang belum dikenalnya itu satpam. Pertanyaan yang benar + sopan: sampean kerja di mana?

Hemmm... Saya tersenyum sendiri sambil nggowes sepeda lawas ke markas sepeda tua di perbatasan Surabaya dan Sidoarjo itu. Anggota sepeda tua memang sering dikira satpam, tukang parkir, buruh, atau penganggur. Ada bos yang punya lima mobil pun dikira satpam.

''Biarin aja. Dibilang satpam gak papa, buruh juga gak papa. Nganggur juga gak papa,'' ujar seorang bapak dari Buduran penghobi nggowes.

Yang pasti, ibu STW tadi tidak sendiri. Orang Indonesia memang sering menilai orang dari bungkus luarnya. Penampilan. Kendaraan yang dipakai. Baju bermerek. Sepatu yang mahal. Atau malah rasnya.

Maka, orang-orang Tionghoa tidak mungkin dibilang satpam atau kuli bangunan. Pasti bos-bos yang kaya. Borjuis. ''Saya dikira pengusaha hebat. Padahal cuma karyawan biasa,'' ujian Koh Joni di Sidoarjo.

''Saya malah dibilang satpam,'' ujar saya kepada Joni yang biasa nggowes sepeda Sidoarjo ke Surabaya pergi-pulang itu.

''Enak satpam Cak. Anda tidak akan dimintai uang karena dianggap miskin. Saya sering dimintai sumbangan karena dikira orang kaya. Hahaha...,'' kata wong tenglang yang subur tubuhnya itu.

Yen dipikir-pikir, banyak untungnya dianggap satpam, kuli bangunan, atau tukang parkir. Saya bisa menyerap informasi apa adanya khas wong cilik di lapangan. Tidak perlu menyamar untuk investigative reporting.

Hidup satpam!

Makin sulit berdoa di era medsos

Berdoa itu sebetulnya tidak sulit. Doa-doa liturgi pun umumnya sudah hafalan. Sejak TK dan SD. Sembahyang pagi, sembahyang malam, doa tobat, saya mengaku, pater noster, ave maria, credo in unum deum etc.

Berdoa juga tidak butuh waktu lama. Tidak sampai 10 menit. Malah kurang lima menit saja. Apalagi doa angelus yang pendek. Misa di gereja hari Minggu pun rata-rata (di Surabaya dan Sidoarjo) hanya 70 menit. Misa harian malah lebih cepat lagi.

Tapi mengapa kita sulit berdoa? Menyisihkan waktu sedikit saja buat Tuhan? Mengapa nonton bola dua jam di depan televisi kok kuat? Pukul 02.00 sampai 04.00 pula? Main medsos bisa sampai dua jam? Dan tidak bosan-bosannya?

Mengapa berdoa yang cuma sejenak kok seperti bosan? Langsung tengok HP? Malah ada juga umat yang bolak-balik tengok HP saat misa di gereja?

Pertanyaan-pertanyaan ini sering diangkat anak-anak muda Katolik di acara retreat, refleksi, dsb. Bahkan orang-orang yang tidak muda lagi pun ikut kecanduan medsos. Jatah waktu untuk Tuhan makin sedikit.

''Saya sudah lama tidak ke gereja. Tapi malam Natal dan pekan suci pasti ke gereja,'' ujar teman lama mantan aktivis organisasi mahasiswa Katolik. Alasan utamanya sibuk. Atau kebetulan bertugas di kota yang gereja katoliknya sangat jauh. Bahkan tidak ada.

Saya pun mulai terkena virus ponsel pintar yang terhubung internet itu. Masih berdoa tapi kurang banyak. Beda dengan ketika di masa belum ada HP, internet, gadget dsb.

Di zaman kegelapan itu (belum ada listrik), kehidupan orang NTT, khususnya Flores, penuh dengan doa. Mau tidur sembahyang malam dulu. Doa tobat. Hendak berlindung ya Santa Bunda Allah. Ditutup lagu Salam Ya Ratu alias Ave Regina Mater Misericordia.

Bangun pagi sembahyang pagi dulu. Nanti jam enam lonceng malaikat berbunyi. Doa Angelus atau sembahyang malaikat. ''Maria diberi kabar oleh malaikat Tuhan....''

Sekarang ini ponsel alias HP seperti melekat di badan. Selalu ada di tempat tidur. Mau tidur lihat HP. Sepuluh menit. 20 menit. 30 menit. Gak terasa bablas satu jam. Apalagi nonton YouTube yang musiknya bagus dan kena di hati. Tahu-tahu sudah bablas. YouTube jalan terus, sementara mata sudah terpejam. Tubuh dan otak tidak kuat.

Sudah pasti lupa doa malam. (Orang Katolik lawas di NTT lebih suka menyebut sembahyang malam ketimbang doa malam. Sembahyang pagi ketimbang doa pagi. Sembahyang rosario ketimbang doa rosario.)

Pagi jam limaan, belum sempat sembahyang pagi, cek HP. Terkait pekerjaan. Biasanya koordinasi dengan tim pemasaran di lapangan. Kawasan mana yang paling bagus untuk ditembakin surat kabar. Potensinya di utara, dekat Juanda. Di Krian ada berita menarik. Dan sebagainya.

Sembahyang paginya kapan? Hehe... kadang lupa. Padahal sembahyang pagi versi lawas itu tidak sampai lima menit. ''Ya Tuhanku dan Allahku.. aku berlutut di hadapan-Mu.... dst dst.'' Lalu... tanda salib... selesai.

Luar biasa HP sekarang. Kontennya bikin ketagihan. Beda dengan baca koran atau majalah yang cepat selesai. Informasi dan hiburan di internet selalu segar dan menarik. Tidak pernah selesai. Tubuh dan jiwa kita yang akhirnya lelah sendiri.

Oh ya... di medsos juga ada begitu banyak doa modern. Cukup copy paste lalu kirim ke teman yang ulang tahun, anaknya sakit semoga lekas sembuh, kutip ayat suci, atau meme-meme rohani.

Seperti Pak Paul atau Pak Eddy di Surabaya yang tiap pagi mengirim video berisi doa pagi plus lagu rohani kepada semua kenalannya yang kristiani. Pagi ini lagunya Tuhan Menuntun Langkahku... yang melodinya enak.

Mungkin dengan menonton video kiriman Paul dan Edi kita sudah sembahyang pagi. Tidak perlu tutup mata, tanda salib, mendaraskan pater noster, ave maria, gloria patri etc.

Selamat sembahyang pagi!