
Sudah lama saya tidak menyaksikan konser paduan suara. Apalagi di dalam Gereja Katolik. Biasanya kor-kor gereja bikin konser di ballroom hotel, aula, gedung kesenian macam Cak Durasim Surabaya dan sejenisnya. Maka, saya agak kaget ketika tahu ada konser di Gereja Katolik Pandaan, Kabupaten Pasuruan. St Theresia Choir.
Tahunya ya... saat ikut misa Sabtu sore. Umat diminta tidak langsung pulang. Ada acara makan-makan disusul konser paduan suara. Dalam rangka 400 tahun Kongregasi Misi (CM). Kebetulan saat ini Paroki St Theresia Pandaan dipegang pater Vinsensian: Romo Didik Setiawan CM dan Romo Stanislaus Beda CM. Kedua imam ini memang punya apresiasi kesenian yang bagus.
Suasana konser St Theresa Choir ini memang jauh berbeda dengan konser-konser klasik yang sering saya saksikan di Surabaya dan beberapa kota lain. Meriah dan guyub. Hampir semua jemaat paroki datang untuk menonton. Sebab ada misi sosial di baliknya. Membantu program-program CM dan paroki. Gereja di pinggir jalan raya pun penuh sesak.
Dukungan umat yang luar biasa ini membuat adik-adik paduan suara sangat antusias. Khususnya dirigen Heribertus Djaka Wusana, organis Yosef Wibisono, dan Romo Stanis selaku pembina. Begitu pula Ariek Yusni Erdianti koreografer sejumlah tarian.
Arswendo Atmowiloto sebagai bintang tamu pun sumringah. Memakai blankon khas Jawa, wartawan, budayawan, sastrawan, dsb ini diberi tugas berbagi pengalaman hidup. Lebih tepatnya melawak tunggal alias standup comedy di depan ribuan umat Katolik di Pandaan.
Seperti biasa, acara-acara paroki selalu ada pidato. Dewan paroki, ketua panitia, pastor paroki dsb. Tapi tidak panjang. Sebab umat sudah tidak sabar menikmati paduan suara, tarian, dan pemutaran film pendek tentang pelayanan Vinsensian di Indonesia. Film pendek diselipkan di antara lagu-lagu kor.
Dibuka dengan Domini Est Terra (Pater Georg Braun SVD), Kor Santa Teresa ini tampil meyakinkan. Akustik gereja yang bagus membuat suara sopran alto tenor bas bisa berpadu harmonis. Megah.
Kemudian lagu Besarlah Nama Allah (ET Caraen) yang kondang di kalangan kor-kor Katolik. Komposisinya pendek tapi menuntut nada-nada tinggi dari sopran. Ada kejar-kejaran ala canon. Gagal fokus bisa bahaya. Syukurlah, arek-arek Pandaan selamat di tengah cuaca yang sejuk tanpa perlu AC.
Lagu ketiga, I Have a Deam dari ABBA, mencairkan suasana. Dari yang rohani, liturgis, ke profan. Komposisi yang diaransemen Theis Watopa (almarhum) ini diikuti sejumlah penonton. Lagunya sangat terkenal sih.
Bagian kedua terdiri dari empat lagu. Ecce Sacerdos (Pustardos SVD), Mutiara Vinsensius, Santo Vinsensius dan Santa Luisa (Francis Cruz CM), dan Kupinta Lagu (Cornel Simanjuntak).
Hem.. yang terakhir ini, dulu, sering dilombakan antarparoki di Keuskupan Malang. Saya pernah memperkuat Paroki St Yusuf Jember dan menang. Meski bukan the best. Saat itu Paroki Pandaan juga ciamik. Memang dari dulu Paroki Pandaan ini sangat kompetitif meskipun umatnya tergolong sedikit.
Bagian ketiga berisi tiga lagu: We Are All His People (Jay Althouse), Cantate Domino (Hans Leo Hasler), dan Kristus Yesus Alleluia. Konser ditutup dengan Wartakanlah pada Sesama.
Dibandingkan konser-konser paduan suara yang sering saya saksikan (dan liput), konser Paduan Suara St Teresa ini paling menarik. Bukan perkara kualitas atau penampilan ala artis kelas nasional atau dunia. Tapi partisipasi penonton yang tak lain umat Paroki Pandaan. Dari kita, oleh kita, untuk kita.
Suasananya yang hangat, asyik, mirip nonton sepak bola aja. Ini juga membuktikan bahwa umat Katolik ternyata masih punya apresiasi yang baik pada seni musik, khususnya paduan suara.
Selamat untuk Paroki Pandaan!
Tahunya ya... saat ikut misa Sabtu sore. Umat diminta tidak langsung pulang. Ada acara makan-makan disusul konser paduan suara. Dalam rangka 400 tahun Kongregasi Misi (CM). Kebetulan saat ini Paroki St Theresia Pandaan dipegang pater Vinsensian: Romo Didik Setiawan CM dan Romo Stanislaus Beda CM. Kedua imam ini memang punya apresiasi kesenian yang bagus.
Suasana konser St Theresa Choir ini memang jauh berbeda dengan konser-konser klasik yang sering saya saksikan di Surabaya dan beberapa kota lain. Meriah dan guyub. Hampir semua jemaat paroki datang untuk menonton. Sebab ada misi sosial di baliknya. Membantu program-program CM dan paroki. Gereja di pinggir jalan raya pun penuh sesak.
Dukungan umat yang luar biasa ini membuat adik-adik paduan suara sangat antusias. Khususnya dirigen Heribertus Djaka Wusana, organis Yosef Wibisono, dan Romo Stanis selaku pembina. Begitu pula Ariek Yusni Erdianti koreografer sejumlah tarian.
Arswendo Atmowiloto sebagai bintang tamu pun sumringah. Memakai blankon khas Jawa, wartawan, budayawan, sastrawan, dsb ini diberi tugas berbagi pengalaman hidup. Lebih tepatnya melawak tunggal alias standup comedy di depan ribuan umat Katolik di Pandaan.
Seperti biasa, acara-acara paroki selalu ada pidato. Dewan paroki, ketua panitia, pastor paroki dsb. Tapi tidak panjang. Sebab umat sudah tidak sabar menikmati paduan suara, tarian, dan pemutaran film pendek tentang pelayanan Vinsensian di Indonesia. Film pendek diselipkan di antara lagu-lagu kor.
Dibuka dengan Domini Est Terra (Pater Georg Braun SVD), Kor Santa Teresa ini tampil meyakinkan. Akustik gereja yang bagus membuat suara sopran alto tenor bas bisa berpadu harmonis. Megah.
Kemudian lagu Besarlah Nama Allah (ET Caraen) yang kondang di kalangan kor-kor Katolik. Komposisinya pendek tapi menuntut nada-nada tinggi dari sopran. Ada kejar-kejaran ala canon. Gagal fokus bisa bahaya. Syukurlah, arek-arek Pandaan selamat di tengah cuaca yang sejuk tanpa perlu AC.
Lagu ketiga, I Have a Deam dari ABBA, mencairkan suasana. Dari yang rohani, liturgis, ke profan. Komposisi yang diaransemen Theis Watopa (almarhum) ini diikuti sejumlah penonton. Lagunya sangat terkenal sih.
Bagian kedua terdiri dari empat lagu. Ecce Sacerdos (Pustardos SVD), Mutiara Vinsensius, Santo Vinsensius dan Santa Luisa (Francis Cruz CM), dan Kupinta Lagu (Cornel Simanjuntak).
Hem.. yang terakhir ini, dulu, sering dilombakan antarparoki di Keuskupan Malang. Saya pernah memperkuat Paroki St Yusuf Jember dan menang. Meski bukan the best. Saat itu Paroki Pandaan juga ciamik. Memang dari dulu Paroki Pandaan ini sangat kompetitif meskipun umatnya tergolong sedikit.
Bagian ketiga berisi tiga lagu: We Are All His People (Jay Althouse), Cantate Domino (Hans Leo Hasler), dan Kristus Yesus Alleluia. Konser ditutup dengan Wartakanlah pada Sesama.
Dibandingkan konser-konser paduan suara yang sering saya saksikan (dan liput), konser Paduan Suara St Teresa ini paling menarik. Bukan perkara kualitas atau penampilan ala artis kelas nasional atau dunia. Tapi partisipasi penonton yang tak lain umat Paroki Pandaan. Dari kita, oleh kita, untuk kita.
Suasananya yang hangat, asyik, mirip nonton sepak bola aja. Ini juga membuktikan bahwa umat Katolik ternyata masih punya apresiasi yang baik pada seni musik, khususnya paduan suara.
Selamat untuk Paroki Pandaan!


