<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026</id><updated>2012-01-31T07:45:52.922+07:00</updated><category term='uskup surabaya'/><category term='gereja'/><category term='jazz'/><category term='jurnalisme'/><category term='bahasa'/><category term='teater-tari'/><category term='agama non-kristen'/><category term='tionghoa'/><category term='cagar budaya'/><category term='keroncong'/><category term='dahlan iskan'/><category term='Tokoh Kita'/><category term='wisata'/><category term='buku'/><category term='musik klasik'/><category term='maria eva'/><category term='seni rupa'/><category term='bisnis'/><category term='Flores'/><category term='Surabaya Raya'/><category term='sosial politik etc'/><category term='musik'/><category term='paduan suara'/><category term='Lembata'/><category term='Sidoarjo'/><category term='Bahasa Lamaholot'/><category term='seni tradisi'/><title type='text'>HUREK punya blog</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>1517</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-2263773689227691866</id><published>2012-01-30T14:44:00.001+07:00</published><updated>2012-01-30T18:15:40.819+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sidoarjo'/><title type='text'>Mengapa rindu hatiku tiada tertahan?</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-2YYj7Y07pZM/TyZ7rygLLuI/AAAAAAAAG50/8diSSJi-vY8/s1600/abah%2Bnyanyi.JPG" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="214" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-2YYj7Y07pZM/TyZ7rygLLuI/AAAAAAAAG50/8diSSJi-vY8/s320/abah%2Bnyanyi.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Rindu... &lt;br /&gt;Mengapa rindu hatiku tiada tertahan?&lt;br /&gt;Kau tinggalkan aku seorang...&lt;p&gt;Orang Sidoarjo itu gila dangdut. Di semua desa di 18 kecamatan pasti ada orkes melayu alias dangdut. Maka, tak heran Bupati Sidoarjo Saiful Ilah pun suka dangdut. Juga suka naik panggung untuk menyanyikan lagu dangdut.&lt;p&gt;Saya perhatikan, sejak dulu Pak Saiful selalu membawakan lagu RINDU. Dangdut lawas ciptaan Ali Alatas, kalau tidak salah, yang juga tinggal di Sidoarjo.&lt;p&gt;Pak Bupati ini orang kaya, raja tambak, jauh sebelum menjadi wakil bupati pada 2000. Sepuluh tahun jadi wabup, Pak Saiful kemudian menang mutlak dalam pemilihan bupati pada 2010.&lt;p&gt;Mengapa selalu nyanyi Rindu? Kok tidak pernah lagu lain? Mungkin karena hanya hit 1970-an itulah yang dihafal. Lumayan, buat menghibur rakyat di Sidoarjo yang terkena lumpur panas Lapindo sejak 2006.&lt;p&gt;Yang menarik, Pak Saiful kalau diminta nyanyi selalu mengajak pasukan. Mulai wakil bupati, kepala2 dinas, sekwilkab, hingga camat2. Panggung pun penuh.&lt;p&gt;Minggu 29 Januari 2012 Pak Saiful kembali menyanyikan Rindu di alun-alun. Acara hari jadi ke-153 Kabupaten Sidoarjo. Abah ditemani wabup, sekwilkab, dan pejabat lain. &lt;p&gt;&amp;quot;Saya minta semua penyanyi untuk menemani saya,&amp;quot; pinta bupati. Lima pedangdut cewek OM Rollista pun ramai2 menemani Pak Saiful menyanyi.&lt;p&gt;Suara sang bupati pun tenggelam. Yang penting, semua gembira.&lt;p&gt;&amp;quot;... akan kucari walau ke mana, kini aku berkelana..&lt;br /&gt;ke ujung dunia akan kucari.&lt;br /&gt;Engkau pergi tiada pesan, kabar darimu kunantikan...&amp;quot;&lt;p&gt;Mudah-mudahan acara goyang dangdut di alun-alun ini tidak membuat kita lupa nasib ribuan warga korban lumpur Lapindo!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-2263773689227691866?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/2263773689227691866/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/mengapa-rindu-hatiku-tiada-tertahan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/2263773689227691866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/2263773689227691866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/mengapa-rindu-hatiku-tiada-tertahan.html' title='Mengapa rindu hatiku tiada tertahan?'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-2YYj7Y07pZM/TyZ7rygLLuI/AAAAAAAAG50/8diSSJi-vY8/s72-c/abah%2Bnyanyi.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-4814827072219050196</id><published>2012-01-30T10:32:00.001+07:00</published><updated>2012-01-30T15:43:38.483+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sidoarjo'/><title type='text'>Evi penyanyi dangdut Rollista</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-91y1AN4al1c/TyZYDzQhG0I/AAAAAAAAG5c/Fj_kX-W1GMQ/s1600/eva%2Bdangdut.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="320" width="277" src="http://1.bp.blogspot.com/-91y1AN4al1c/TyZYDzQhG0I/AAAAAAAAG5c/Fj_kX-W1GMQ/s320/eva%2Bdangdut.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Namanya Evi, asal Mojosari, Mojokerto. Karena ikut OM Rollista, Evi lebih dikenal di panggung sebagai Evi Rollista.&lt;p&gt;Suaranya oke, goyangannya boleh juga. Cuma kurang tinggi untuk ukuran artis dangdut yang perlu postur dan penampilan di atas rata2. Seksinya juga... lumayanlah.&lt;p&gt;Saya kenal Evi dan suaminya, pemain keyboard OM Rollista, yang sering ditanggap bersama sang istri. Seperti penyanyi2 dangdut di Jatim umumnya, Evi ngamen ke mana2. Mulai dari kampung tambak, kawasan pabrik gula, alun2, hingga pub dan kafe di Surabaya.&lt;p&gt;&amp;quot;Namanya rezeki ya jangan ditolak. Kita harus bisa menghibur siapa saja,&amp;quot; kata Evi yang enggan mengungkap honornya.&lt;p&gt;Dunia artis, apalagi dangdut, memang gemerlap, tapi juga nelangsa dan penuh godaan. Melihat penampilan seksi, genit, lirik2 lagu yang nakal, pengunjung kafe sering bikin ulah. Apalagi kalau sudah mabuk berat. Maklum, pub dan kafe di kota memang tempatnya orang mabuk.&lt;p&gt;Bagaimana cara menghadapi pengunjung yang macam2 atau minta lebih? Evi mengaku punya jurus ampuh untuk menepis rayuan mabuk om2 pemabuk itu. Ada teknik khusus yang sifatnya win-win solution. Jangan sampai kehilangan penggemar, tapi juga jangan sampai dianggap wanita nakal atau pekerja seks.&lt;p&gt;Eva bersyukur karena selalu didampingi suami saat bernyanyi. Suami main keyboard, dia nyanyi dan bergoyang ria. Sang suami ibarat body guard paling setia. Tapi ini, di sisi lain, kurang menguntungkan karena laki2 iseng tak akan berani terlalu geer dan mengobral uang kepada Evi.&lt;p&gt;Tidak ingin jadi artis terkenal macam Ayu Ting Ting? &amp;quot;Siapa sih gak ingin terkenal di seluruh Indonesia?&amp;quot; sergahnya. &lt;p&gt;Vokalnya tidak kalah dengan si Alamat Palsu itu. Tapi nasib dan jalan hidup orang memang lain2. Ayu Ting Ting pun tidak menyangka bisa terkenal dan bikin heboh seperti sekarang. &lt;p&gt;&amp;quot;Doain aja ya,&amp;quot; kata Evi yang begitu sopan di luar panggung. Di atas panggung, wuih, gayanya terkesan liar dan nakal.&lt;p&gt;Untung saya tidak bisa joget dan malu naik panggung. Kalau tidak saya jadi bulan2an si artis dangdut ini. Rollista!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-4814827072219050196?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/4814827072219050196/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/evi-penyanyi-dangdut-rollista.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/4814827072219050196'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/4814827072219050196'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/evi-penyanyi-dangdut-rollista.html' title='Evi penyanyi dangdut Rollista'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-91y1AN4al1c/TyZYDzQhG0I/AAAAAAAAG5c/Fj_kX-W1GMQ/s72-c/eva%2Bdangdut.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-6145293732810295722</id><published>2012-01-30T09:24:00.001+07:00</published><updated>2012-01-30T15:36:34.985+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Surabaya Raya'/><title type='text'>Duren bisa bikin stroke</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-XGavE2OJCx4/TyZWfcl0grI/AAAAAAAAG5Q/RCLCvS4Wavg/s1600/montong.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="255" width="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-XGavE2OJCx4/TyZWfcl0grI/AAAAAAAAG5Q/RCLCvS4Wavg/s320/montong.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sekarang lagi musim duren. Buah berduri ini melimpah di pasar2 Surabaya. Duren petruk, bajul, wonosalam, montong, bangkok. Tapi yang paling enak, menurut saya, tetap bangkok dan montong.&lt;p&gt;Cuma harga si bangkok ini selalu mahal. Selalu di atas 80 ribu. Saya punya kenalan gadis penjual duren asal Madura yang kasih diskon besar. Maka, saya begitu lahap makan duren bangkok. Sudah lama saya ketagihan si duren ini.&lt;p&gt;Tapi kini saya pelan2 mulai insaf. Duren ternyata sangat berbahaya bagi manusia, khususnya yang darah tinggi. Tensi cepat naik dan... bisa stroke.&lt;p&gt;Awal 2012 ada teman wartawan, pengidap hipertensi, yang ngiler durian. Hanya satu biji. Bukan satu buah seperti yang dulu biasa saya lakukan. &lt;p&gt;Hap.. koma dan dibawa ke hospital. Pembuluh darah di otak bagian kirinya pecah. Jadi lumpuh sebelah kanan. Tidak bisa apa2 selain tidur di UGD. Bicaranya pelat.&lt;p&gt;Syukurlah, kemarin sudah bisa jalan agak jauh meski pakai bantuan tongkat. Lucu tapi mengenaskan! &lt;p&gt;Sejak melihat sendiri kasus duren montong ini saya mulai mengambil jarak dengan si duren. Tidak lagi mencari nona Madura di Pasar Kembang yang punya stok montong dan bangkok yang bukan main enaknya itu.&lt;p&gt;&amp;quot;Dari dulu saya biasa makan satu buah kok gak apa2 tuh. Malah pernah makan dua buah,&amp;quot; kata teman yang memang rakus duren.&lt;p&gt;Hehehe... Memang tidak semua pemakan duren kena stroke atau jadi lumpuh. Tapi sebaiknya kita lebih hati2 dengan si duren ini. Harganya paling mahal... eh masuk ICU pula.&lt;p&gt;Lebih baik makan buah yang murah saja macam pisang, pepaya, rambutan, atau nanas. Kalau kebanyakan makan pepaya risikonya paling banter lebih sering ke kakus.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-6145293732810295722?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/6145293732810295722/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/duren-bisa-bikin-stroke.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/6145293732810295722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/6145293732810295722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/duren-bisa-bikin-stroke.html' title='Duren bisa bikin stroke'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-XGavE2OJCx4/TyZWfcl0grI/AAAAAAAAG5Q/RCLCvS4Wavg/s72-c/montong.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-1112184502602922130</id><published>2012-01-29T22:10:00.000+07:00</published><updated>2012-01-30T22:50:43.452+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Surabaya Raya'/><title type='text'>Dokter Edhy Listiyo CEO RS Adi Husada Surabaya</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-8C4xPb3OVyc/TyViE1iFBDI/AAAAAAAAG44/xBzCp707jx4/s1600/dr%2Bedhy%2BADI%2BHUSADA%2B%25284%2529.JPG" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="320" width="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-8C4xPb3OVyc/TyViE1iFBDI/AAAAAAAAG44/xBzCp707jx4/s320/dr%2Bedhy%2BADI%2BHUSADA%2B%25284%2529.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh LAMBERTUS LUSI HUREK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sudah setahun lebih dr Edhy Listiyo MARS ditinggal selamanya oleh sang istri tercinta, Aily Laksmi. Namun, kecintaan CEO Rumah Sakit Adi Husada Surabaya ini terhadap mendiang Aily tak juga hilang. Sang dokter senior ini merasa seakan-akan Aily masih berada di sampingnya.&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NAH, menjelang tahun baru Imlek 2563 ini, dr Edhi Listiyo meluncurkan memoar dalam bahasa Mandarin. Dicetak di atas art paper, edisi lux, buku ini merupakan kado terindah dr Edhy kepada sang istri, Aily Laksmi, yang meninggal pada 22 Oktober 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria kelahiran Cilacap, Jawa Tengah, 66 tahun silam ini memang begitu terpukul dengan kematian sang istri yang begitu mendadak. Saat itu Edhy sedang berada di Tiongkok untuk mengikuti sebuah kongres internasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Edhy menerima telepon dari Surabaya bahwa sang istri tercinta, Aily Laksmi, kolaps dan terjadi pendarahan otak. Meski sudah ditangani tim dokter, Tuhan berkehendak lain. Tiga hari kemudian Aily, wanita kelahiran Batu, 28 September 1945, ini berpulang untuk selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang dr Edhy mengaku masih belum bisa melupakan kenangan manis dan bahagia bersama sang istri yang telah memberinya dua anak itu. Kepada Radar Surabaya, Kamis (19/1/2012), dr Edhy menunjuk foto-foto di dalam buku beraksara Tionghoa itu. Pose keduanya yang selalu tampak mesra dalam kondisi apa pun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut petikan wawancara khusus dengan dr Edhy Listiyo di ruang kerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-hY_05iT3Y9U/Tya8OkUM-xI/AAAAAAAAG6k/H5jNDv7MDRo/s1600/edy%2Bbook.JPG" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="265" width="314" src="http://3.bp.blogspot.com/-hY_05iT3Y9U/Tya8OkUM-xI/AAAAAAAAG6k/H5jNDv7MDRo/s320/edy%2Bbook.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa Anda membuat buku khusus tentang perjalanan hidup Anda bersama istri tercinta?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini. Dia itu pacar saya yang pertama dan terakhir. Sebaliknya, saya ini juga pacar dia yang pertama dan terakhir. Cinta kasih antara saya dan dia begitu mendalam. Kami sangat sulit dipisahkan. Hanya maut yang akhirnya memisahkan kami.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Apa lagi yang berkesan dari mendiang istri Anda?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia itu sosok yang sangat low profile. Kalau saya bicara di depan, dia duduk di belakang. Dia bilang, yang jadi direktur rumah sakit itu suami saya, bukan saya. Kalau belanja suka nawar. Tidak pernah beli barang yang mahal-mahal. Benar-benar low profile.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Kenalannya dulu di mana?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami satu sekolah di SMA Chung Chung Surabaya. Kemudian saya kuliah kedokteran, dia ambil Sastra Tionghoa. Makanya, dia menguasai tulisan resmi Mandarin. Beda dengan saya yang hanya bisa berbahasa Mandarin sehari-hari. Kalau perlu surat-surat atau dokumen resmi ke Tiongkok, saya minta bantuan dia. Jadi, terus terang, saya sangat-sangat kehilangan. Buku ini saya buat sebagai oleh-oleh untuk istri yang meninggal setahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Ada misi khusus di balik penulisan buku ini?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada empat tujuan yang ingin saya sampaikan. Pertama, bagaimana menjadi istri teladan, istri yang sangat mendukung penuh karier dan pengabdian saya selama bertahun-tahun. Kedua, kasih sayang antara kami berdua sangat-sangat mendalam. Cinta kasih itulah yang menjadi landasan kami dalam membentuk sebuah rumah tangga yang harmonis. Saya dan istri itu tidak bisa dipisahkan, dua orang tapi satu. Satu dalam banyak hal meskipun dua pribadi yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke mana-mana kami selalu berdua. Kalau lagi ke Tiongkok untuk konferensi atau acara lain pun kami selalu berdua. Ini yang membuat saya sedih karena terakhir ketika saya ke Tiongkok sendiri, istri saya nggak ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, bagaimana saya memimpin Rumah Sakit Adi Husada. Keempat, bagaimana kita melayani Tuhan dengan sepenuh hati dan jiwa dalam tugas dan profesi kita. Saya ingin ide-ide dan cita-cit saya dan istri ini diteruskan oleh anak cucu di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Berapa lama Anda menyiapkan buku ini?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar enam bulan. Saya menulis garis besarnya, kejadian-kejadiannya. Setiap saya baca ulang saya selalu menangis karena sangat menyentuh perasaan saya. Lalu, saya ke Beijing bertemu penerbit khusus buku-buku biografi. Ternyata setelah membaca, dia menangis juga. Berarti dia benar-benar bisa nyambung dengan perasaan saya. Nah, penerbit itulah yang menerbitkan buku saya dalam bahasa Mandarin.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Dicetak berapa? Dan kapan dibuat edisi Indonesia?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicetak terbatas, hanya 200 eksemplar. Tapi banyak yang ingin membaca, maka sekarang sedang dibuat edisi Indonesia. Yang menerjemahkannya staf Pendeta Stephen Tong. Untuk edisi Indonesia ini kemungkinan dicetak seribu eksemplar.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, bagaimana saran Anda kepada generasi muda untuk mewujudkan keluarga bahagia dan harmonis?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederhana saja. Saya dan istri punya ikatan batin yang sangat dalam. Kami selalu bergandengan tangan kalau bepergian ke mana saja. Selalu ada kedekatan hati. Yang juga sangat penting, saya selalu pulang ke rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah itu sarangnya bahagia. Sesibuk apa pun bekerjan saya selalu usahakan untuk pulang. Dan kalau ada tugas di luar kota atau luar negeri, saya selalu mengajak istri saya. Komunikasi. Sama-sama rendah hati. Ini semua saya share di buku saya. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-121ZdnCsQUU/TyVjFE3OljI/AAAAAAAAG5E/6p5rZpdx9-E/s1600/dr%2Bedhy%2BADI%2BHUSADA%2B%252814%2529.JPG" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-121ZdnCsQUU/TyVjFE3OljI/AAAAAAAAG5E/6p5rZpdx9-E/s320/dr%2Bedhy%2BADI%2BHUSADA%2B%252814%2529.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Jualan Baju Keliling Pasar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEGITU banyak pengalaman mengharukan yang dirasakan  dr Edhy Listiyo dari sang mendiang istri, Aily Laksmi. Salah satunya adalah ketika sang istri hamil tua. Edhy masih harus kuliah dan ekonomi rumah tangga belum mapan. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sangat mengharukan karena istri saya tetap menjahit baju anak-anak untuk dijual keliling pasar demi menambah uang rumah tangga dan biaya kuliah saya,” kenang dokter yang menerima berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, dr Edhi menilai peranan sang istri, Aily, sangat besar dalam keberhasilan kariernya sebagai dokter. “Saya bisa jadi begini berkat keringat dari istri saya,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran, pasangan suami-istri Edhy-Aily ini begitu lengketnya bagaikan prangko. Ke mana-mana selalu berdua, bergandengan tangan, ala orang sedang pacaran. “Saya dan istri selalu berkomunikasi melalui SMS baik pagi, siang, maupun malam hari,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi ritual rutin yang dilakukan Edhy-Aily untuk mempererat ikatan batin di antara mereka. Yakni, sama-sama merendam kaki di dalam air yang sudah diberi ramuan tradisional Tionghoa. Ritual rendam kaki ini dilakukan pada malam hari sepulangnya dr Adhy dari tempat kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena paginya kerja sampai malam, jadinya rendam kaki hanya dilakukan malam,” kenangnya. (rek)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-_7KRj_6pDPA/Tya55k25b8I/AAAAAAAAG6A/XDEh8UAKarw/s1600/edhy.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="266" width="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-_7KRj_6pDPA/Tya55k25b8I/AAAAAAAAG6A/XDEh8UAKarw/s320/edhy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-1112184502602922130?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/1112184502602922130/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/dokter-edhy-listiyo-ceo-rs-adi-husada.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/1112184502602922130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/1112184502602922130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/dokter-edhy-listiyo-ceo-rs-adi-husada.html' title='Dokter Edhy Listiyo CEO RS Adi Husada Surabaya'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-8C4xPb3OVyc/TyViE1iFBDI/AAAAAAAAG44/xBzCp707jx4/s72-c/dr%2Bedhy%2BADI%2BHUSADA%2B%25284%2529.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-7643671640763160414</id><published>2012-01-29T16:11:00.001+07:00</published><updated>2012-01-30T23:34:32.928+07:00</updated><title type='text'>Blog di era BBM dan media sosial</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Bj1oqS4JjZU/TybGkrg0BZI/AAAAAAAAG68/FbCnN8sIW_0/s1600/mobile.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="180" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-Bj1oqS4JjZU/TybGkrg0BZI/AAAAAAAAG68/FbCnN8sIW_0/s320/mobile.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blogging atau ngeblog tidak seheboh tahun 2007-2008. Beberapa komunitas blogger di Surabaya saya lihat vakum. Acara ngeblog bareng di taman sudah lama tak terdengar.&lt;p&gt;Ya, segala sesuatu itu ada masanya. Masa booming blog sudah berlalu diganti media sosial macam facebook, twitter, dan sekarang BBM. Teman2 lama yang dulu doyan ngeblog sekarang selalu bicara isu2 aktual di BBM.&lt;p&gt;&amp;quot;Anda ketinggalan zaman Bung. Aneh, anda gak punya BB, fb-mu gak aktif,&amp;quot; kata teman lama mantan blogger asal Jatim. &lt;p&gt;Saya cek di internet, blognya sudah mangkrak begitu lama. Postingan terakhirnya sekitar dua tahun lalu. Dia memang aktif mengikuti perkembangan IT dan media sosial. Dan blog dirasa tidak cocok lagi dengan dunianya.&lt;p&gt;Hobi orang memang beda2, kita tak bisa memaksa. Termasuk memaksa orang aktif blogging, sementara media sosial berkembang sangat pesat. Dan jauh lebih menarik.&lt;p&gt;Tapi bagi orang2 luar Jawa, khususnya NTT macam saya, blogging saya rasa masih mutlak perlu untuk berbagi informasi di era internet. Sebab, informasi tentang NTT di media nasional seperti surat kabar sangat minim. &lt;p&gt;Saya perhatikan dalam dua tahun terakhir tidak ada satu pun berita tentang kabupaten saya di pelosok NTT yang dimuat di koran2 nasional. Karena dianggap tidak menarik pembaca. Padahal, pemimpin redaksi surat kabar Kompas itu orang NTT bernama Rikard Bagun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu2nya berita dari Flores Timur yang dimuat Kompas adalah prosesi Jumat Agung di Larantuka, tradisi yang sudah berusia 500 tahun. &lt;p&gt;Maka, blog menjadi platform satu-satunya bagi orang2 kampung NTT ini untuk sedikit berbagi informasi. Paling tidak menyumbang Mr Google ketika misalnya ada orang yang cari informasi tentang Gunung Lewotolok di NTT yang akan meletus. Lewotolok itu di mana. Hampir pasti Mr Google akan menggiring orang itu ke blog ini. Hehehe...&lt;p&gt;Saya juga senang karena ternyata anak2 TKI asal NTT yang lahir di Malaysia, dan tak pernah pulang kampung, banyak menjadikan blog ini sebagai referensi. Paling tidak mereka tahu sedikit kampung halaman orangtua atau leluhur di NTT.&lt;p&gt;Saya juga kaget ketika ada orang Barcelona, Spanyol, yang banyak bertanya tentang Lembata setelah membaca blog ini. Kemudian dia dan istrinya memutuskan berlibur ke Lembata, NTT.&lt;p&gt;Contoh2 kecil ini menunjukkan bahwa blog masih ada gunanya di era BBM dan media sosial ini. Meski blogging dianggap old school dan ketinggalan zaman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-7643671640763160414?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/7643671640763160414/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/blog-di-era-bbm-dan-media-sosial.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/7643671640763160414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/7643671640763160414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/blog-di-era-bbm-dan-media-sosial.html' title='Blog di era BBM dan media sosial'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Bj1oqS4JjZU/TybGkrg0BZI/AAAAAAAAG68/FbCnN8sIW_0/s72-c/mobile.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-4359187206004679696</id><published>2012-01-26T15:50:00.001+07:00</published><updated>2012-01-27T09:50:26.499+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gereja'/><title type='text'>Song leader kurang enak</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-zoeb9i27AWI/TyIQ4DUxXHI/AAAAAAAAG4g/q2pLv1JHrJM/s1600/lilin.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="212" width="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-zoeb9i27AWI/TyIQ4DUxXHI/AAAAAAAAG4g/q2pLv1JHrJM/s320/lilin.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Mengapa harus ibu itu?&lt;br /&gt;Mengapa bukan orang lain yang suaranya lebih bagus?&lt;br /&gt;Bukankah gereja itu punya ribuan jemaat? &lt;br /&gt;Apakah terlalu sulit menemukan orang yang benar2 vokalis?&lt;p&gt;Pertanyaan2 ini muncul ketika saya secara tak sengaja menyaksikan program rohani Kristen di TVRI Surabaya dengan judul MUJIZAT (yang benar MUKJIZAT, pakai K). Acara Gereja Tiberias kalau tidak salah.&lt;p&gt;Sesua namanya, program ini menekankan kuasa penyembuhan Tuhan alias mukjizat. Orang sakit berat sembuh secara ajaib tanpa bantuan dokter. Ada mayat yang utuh selama bertahun-tahun.&lt;p&gt;Mimbar kristiani tentu selalu ada puji2an atau worship/gospel song. Di sinilah yang bikin telinga saya gak enak mengingat reputasi Tiberias yang hebat. Bandnya oke, pemusik2 bolehlah, tapi vokalisnya seorang ibu yang bukan vokalis.&lt;p&gt;Maka, ketika muncul di televisi, rasanya seperti suara ibu-ibu di kampung. Bukan suara yang layak dipakai untuk siaran televisi tingkat nasional.&lt;p&gt;Memang tidak mudah menemukan orang yang serbabisa: Punya kualitas evangelis atau pendeta, suara bagus, hebat di public speaking. Karena itu, biasanya acara2 sejenis di televisi memanfaatkan song leader yang profesional. Tapi Gereja Tiberias ini rupanya kurang mempertimbangkan hal itu.&lt;p&gt;Beberapa tahun lalu ada pendeta gereja lain, laki2, yang juga maksa bikin album. Padahal suaranya sangat jelek. Kok maksa gitu? Apa tidak ada vokalis lain yang lebih pantas membawakan lagu2 ciptaan beliau?&lt;p&gt;Usut punya usut, pendeta bersuara fals ini ternyata masih kerabat dekat bos besar atau owner gereja itu. Maka, jemaat hanya bisa pasrah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-4359187206004679696?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/4359187206004679696/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/song-leader-kurang-enak.html#comment-form' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/4359187206004679696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/4359187206004679696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/song-leader-kurang-enak.html' title='Song leader kurang enak'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-zoeb9i27AWI/TyIQ4DUxXHI/AAAAAAAAG4g/q2pLv1JHrJM/s72-c/lilin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-8462849123793532276</id><published>2012-01-26T11:09:00.001+07:00</published><updated>2012-01-26T11:41:57.775+07:00</updated><title type='text'>Hentikan ekspor pembantu ke Malaysia</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-VVma5wV5TOQ/TyDW5boXcWI/AAAAAAAAG4U/q4Cx0C3ZJ2I/s1600/TKI.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="320" width="250" src="http://3.bp.blogspot.com/-VVma5wV5TOQ/TyDW5boXcWI/AAAAAAAAG4U/q4Cx0C3ZJ2I/s320/TKI.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Koran terbitan Jakarta edisi hari ini, 26 Januari 2012, kembali membahas tenaga kerja Indonesia atau TKI. Khususnya TKI ke Malaysia. Kerajaan Melayu itu memang banyak menampung TKI di sektor informal.&lt;p&gt;Begitu banyak pekerja2 kasar, kuli, tukang kebun, dan pembantu asal Indonesia di Malaysia. Jumlahnya lebih banyak daripada total penduduk Singapura dan Brunei. Karena itu, Indonesia sering dihina sebagai bangsa kuli, bangsa budak, bangsa babu (pembantu).&lt;p&gt;Menteri Muhaimin Iskadar seperti dikutip Kompas mengatakan akan membatasi pengiriman pembantu ke Malaysia. Mutu calon TKI akan ditingkatkan. Statemen macam ini sudah lama diucapkan menteri2, bahkan sejak zaman Suharto.&lt;p&gt;Faktanya? Lain di bibir lain di lapangan. Ekspor TKI tetap saja tinggi baik ke Malaysia maupun Saudi. Dua negara yang paling rawan bagi TKI, khususnya pembantu. &lt;p&gt;Pemerintah kita rupanya belum ada usaha serius untuk menyediakan pekerjaan di Indonesia. Mengapa harus jauh2 ke Malaysia atau Saudi kalau hanya jadi pembantu, tukang kebun, atau pemetik sawit? &lt;p&gt;Indonesia adalah negara yang penduduknya sangat banyak, 230 juta. Wilayahnya luas. Tapi penduduk yang banyak justru jadi beban karena kita tak mampu menciptakan pekerjaan. Pengangguran terlalu banyak.&lt;p&gt;Presiden SBY pernah berjanji membuat policy2 yang pro job, pro poor, pro growth. Misi ini bagus dan seharusnya diikuti tindakan nyata oleh menteri2. Bukan malah menjadikan TKI sebagai alat bargaining dengan Kerajaan Malaysia.&lt;p&gt;Salah satu ukuran keberhasilan presiden adalah mengurangi sebesar mungkin ekspor TKI ke Malaysia dan Saudi. Kita harus punya mimpi bersama: suatu ketika, one day, tidak ada lagi orang Indonesia yang menjadi pembantu atau kuli di Malaysia!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-8462849123793532276?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/8462849123793532276/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/hentikan-ekspor-pembantu-ke-malaysia.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/8462849123793532276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/8462849123793532276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/hentikan-ekspor-pembantu-ke-malaysia.html' title='Hentikan ekspor pembantu ke Malaysia'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-VVma5wV5TOQ/TyDW5boXcWI/AAAAAAAAG4U/q4Cx0C3ZJ2I/s72-c/TKI.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-6732487277652809673</id><published>2012-01-25T11:33:00.001+07:00</published><updated>2012-01-25T22:46:35.868+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tionghoa'/><title type='text'>Sincia di rumah abu keluarga Han</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-76FjNuh0DVk/TyAjx4eAc6I/AAAAAAAAG20/Oke8uEYg-Mo/s1600/han%2Bfamily%2Bn%2BDavid%2BReeve.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-76FjNuh0DVk/TyAjx4eAc6I/AAAAAAAAG20/Oke8uEYg-Mo/s320/han%2Bfamily%2Bn%2BDavid%2BReeve.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari sebelum Sincia atau tahun baru Imlek, warga Tionghoa mengadakan sembahyang leluhur. Semua keluarga baik dekat maupun jauh berkumpul untuk memberikan penghormatan kepada para leluhur yang sudah tiada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu pula yang dilakukan keluarga Han di Surabaya, Minggu (22/1/2012). Mereka berkumpul di rumah abu keluarga Han, Jl Karet. Sejak pagi tampak hadir Robert Rosihan bersama bersama istri Tan Ling Mei dan anak-anaknya. Ada juga Shirley, kakak Robert.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang siang datang Johanes Rosihan, putra sulung mendiang Han Kian Kwat. "Setiap tahun kami selalu berkumpul di sini. Selain Sincia, juga saat sembahyang rebutan dan Ceng Bing," kata Robert. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia didampingi Hubert, anaknya yang sekolah di SMAK Santa Maria. Anak kedua, Indriani, tak hadir dalam sembahyang leluhur karena tinggal di Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski namanya rumah abu, menurut Robert, tak ada abu jenazah leluhur yang disimpan di sini. Yang ada hanya sinci-sinci atau papan bertuliskan nama-nama leluhur marga Han dalam bahasa Tionghoa. Sinci-sinci itu terletak di atas meja altar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shirley Han, anak ketiga dari empat bersaudara, menyiapkan berbagai perlengkapan sembahyang. Mulai buah-buahan seperti pisang, apel, jeruk, rambutan. Kemudian makanan basah seperti ayam, kepiting, ikan, babi, bebek. Tak lupa kue-kue basah seperti wajik, roti mangkok, nian gao, dan kue thok. Juga minuman putao chee chiew, sejenis anggur rendah alkohol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang wajib ada tebu sebagai simbol manis-manis. Supaya di tahun yang baru ini semua keluarga diberikan rezeki dan kehidupan yang manis," kata Shirley.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putra-putri mendiang Han Kian Kwat mengawali sembahyang leluhur dengan penuh hormat. Tak lama kemudian kerabat-kerabat lain datang dan melakukan ritual yang sama. Han Tjoan San khusus datang dari Lawang untuk mengikuti acara menjelang pergantian tahun Imlek itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, ritual keluarga Han ini dihadiri juga oleh David Reeve, profesor dan peneliti dari University of New South Wales, Sydney, Australia. Dia khusus datang ke Surabaya untuk meneliti keluarga Han di Jawa Timur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Keturunan Han banyak yang jadi opsir Tionghoa. Mereka merupakan keluarga Tionghoa terpandang di Jawa Timur," kata David.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-6732487277652809673?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/6732487277652809673/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/sincia-di-rumah-abu-keluarga-han.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/6732487277652809673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/6732487277652809673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/sincia-di-rumah-abu-keluarga-han.html' title='Sincia di rumah abu keluarga Han'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-76FjNuh0DVk/TyAjx4eAc6I/AAAAAAAAG20/Oke8uEYg-Mo/s72-c/han%2Bfamily%2Bn%2BDavid%2BReeve.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-3642032561851906877</id><published>2012-01-25T10:07:00.001+07:00</published><updated>2012-01-26T11:39:52.293+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembata'/><title type='text'>Pelacuran merusak Lembata</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-7Uo6vu2IvBY/TyAlIxM5anI/AAAAAAAAG3M/FoeVIb-cqBM/s1600/bandara%2Blembata.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="214" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-7Uo6vu2IvBY/TyAlIxM5anI/AAAAAAAAG3M/FoeVIb-cqBM/s320/bandara%2Blembata.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembata mulai memisahkan diri dari Kabupaten Flores Timur pada tahun 2000. Tak banyak kemajuan di pulau yang dulu disebut Lomblen itu. Jalan raya dibiarkan rusak. Infrastruktur lain pun begitu2 saja.&lt;p&gt;Yang maju justru ini: Pelacuran! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu orang Lembata tak pernah membayangkan ada nona-nona yang cari nafkah dengan menjual diri. Sebab, di NTT hanya ada satu lokalisasi prostitusi setengah resmi di Kupang. Yakni di dekat Pelabuhan Tenau.&lt;p&gt;Tapi laporan wartawan Kompas Kornelis Kewa Ama bikin kita geleng2 kepala. Prostitusi justru terjadi terang2an di Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata. Ironisnya, menurut tulisan Kornelis, konsumennya juga kalangan politisi, pejabat, dan pengusaha.&lt;p&gt;Bisnis kafe, karaoke, panti pijat marak di kabupaten baru ini. Tak hanya jualan minuman keras, juga memajang nona-nona dari Surabaya dan Makassar. Usia wanita penghibur ini 15-45 tahun. Yang muda mejeng di karaoke atau kafe, yang tua2 melayani tamu di gubuk2 sederhana.&lt;p&gt;Memprihatinkan! Masyarakat Pada tak bisa berbuat banyak karena bisnis kotor itu diduga kuat melibatkan orang2 kuat. Ada beking di belakangnya. Apalagi omzet esek2 itu memang menggiurkan.&lt;p&gt;Menurut Kompas, konsumen para PSK liar itu kebanyakan anak2 muda di Lewoleba, juga dari 9 kecamatan. Mereka sudah tahu kompleks tak resmi yang sudah terkenal itu. Bahkan, ada orang Adonara dan Solor pun memaksa diri ke Lewoleba untuk mencicipi surga dunia itu.&lt;p&gt;Sudah sering tokoh masyarakat protes. Pastor2 marah. Ulama meradang. Tokoh2 Lembata di Kupang pun sudah beberapa kali mendesak pemkab untuk membersihkan pulau miskin itu dari prostitusi. Tapi hasilnya nol besar. Setiap hari bisnis esek2 it jalan terus.&lt;p&gt;Sebetulnya pemkab punya momentum bagus untuk bertindak. Mumpung bupati dan wakil bupati masih baru menjabat. Senyampang bisnis seks ini masih berskala kecil. &lt;p&gt;Kalau dibiarkan terus-menerus justru akan menjadi bom waktu di masa mendatang. Bupati Sunur sebagai orang nomor satu di Lembata dituntut lebih tegas! Begitu juga Wabup Watun. Jangan terlalu sering ke Kupang, Bung!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-3642032561851906877?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/3642032561851906877/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/pelacuran-merusak-lembata.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/3642032561851906877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/3642032561851906877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/pelacuran-merusak-lembata.html' title='Pelacuran merusak Lembata'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-7Uo6vu2IvBY/TyAlIxM5anI/AAAAAAAAG3M/FoeVIb-cqBM/s72-c/bandara%2Blembata.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-2773979553577862485</id><published>2012-01-25T00:05:00.001+07:00</published><updated>2012-01-25T23:15:18.858+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bahasa Lamaholot'/><title type='text'>Pao wawe utan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-43jl8hZiVP4/TyAqfkjaN8I/AAAAAAAAG4I/E63vwU_zzQA/s1600/lewo.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="214" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-43jl8hZiVP4/TyAqfkjaN8I/AAAAAAAAG4I/E63vwU_zzQA/s320/lewo.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tite rae lewotana biasa pao witi, wawe, manuk. Sapi take. Witi nong wawe paling aya, ewang nawun tang buley dagel.&lt;p&gt;Wawe utan? Wawe nepi ata pao hala. Tapi rae Lamahora ata kiwan alawen, dahe Hadakewa, ra pao wawe utan. Hehehe...&lt;p&gt;Wawe utan nepe ra royaro. Pasang jerat, rewang moring. Kalo tite langsung gerian, tekan rame2... Ata Hadakewa pao wawe utan sampe tun tou rua. &lt;p&gt;Beleka kae ra gerian, tekan hama2 rae watan, tempat wisata, piknik. Waktu go balik lewo, kami mekan wawe utan tou. Hmm.. mela2, woraken kurang. Wawe biasa woraken aya-ayaka. Go suka hala!&lt;p&gt;Tekan wawe utan nepe oneke senang2. Behing tuak neak tou rua telo... ehm bisa melayang. &amp;quot;Pao wawe utan hama nong wawe biasa. Na gan uwe, wata muringen, heloka makanan naen te utan onen. Repot hala,&amp;quot; Ama Lewa maring nepa.&lt;p&gt;Jawa alawen maring wawe utan meri celeng. Watanen rekan hala heloka wawe biasa. Coba wawe utan nepi ra tula sei heloka rae Kupang? Hmm... iluka gerota.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-2773979553577862485?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/2773979553577862485/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/pao-wawe-utan.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/2773979553577862485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/2773979553577862485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/pao-wawe-utan.html' title='Pao wawe utan'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-43jl8hZiVP4/TyAqfkjaN8I/AAAAAAAAG4I/E63vwU_zzQA/s72-c/lewo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-2844470452385317359</id><published>2012-01-24T23:10:00.001+07:00</published><updated>2012-01-25T23:00:06.353+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bahasa Lamaholot'/><title type='text'>Wata take uran kurang</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-LrP26kOYgHg/TyAm-NLvd7I/AAAAAAAAG3k/WwGVtbaZBtE/s1600/watan.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="214" width="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-LrP26kOYgHg/TyAm-NLvd7I/AAAAAAAAG3k/WwGVtbaZBtE/s320/watan.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tun nepi uran rae lewo kurang2. Uran lodo moan tou rua hena. Ina ama kaka ari mula wata, ro go niku mela hala. &lt;p&gt;Wata teti Ileape mataya moan rua kae. Waktu go balik lewo wulan waiken ia uran di take. Ekan teti mawa di sare hala, wata tawa nepa kahen. &lt;p&gt;Tun waiken Desember 2010 pas go saing wata belolo2. Tite pana teti Bungamuda, tobi puken, toi wekike hala. &lt;p&gt;&amp;quot;Mungkin uran beto wati. Moga-moga lera wulan tana ekan peten tite,&amp;quot; amak tou maring go.&lt;p&gt;Kalo uran tun, ina ama rae lewo mula aku muri? Nean, bibit, gohuka kae. Hope nean welin2, ra doita take. Beng tabe aku?&lt;p&gt;Go basa surat kabar pi leron, NTT warata kae. Kapal2 feri pana bisa hala karena oyok belek2. Tanah Lembata urana le take?&lt;p&gt;Pemerintah kabupaten, bapa bupati, wakil bupati, camat... mio musti jaga2. Antisipasi! Ekan malu mara, wata take wai kurang!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-2844470452385317359?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/2844470452385317359/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/wata-take-uran-kurang.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/2844470452385317359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/2844470452385317359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/wata-take-uran-kurang.html' title='Wata take uran kurang'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-LrP26kOYgHg/TyAm-NLvd7I/AAAAAAAAG3k/WwGVtbaZBtE/s72-c/watan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-5381261957758328434</id><published>2012-01-24T08:27:00.001+07:00</published><updated>2012-01-24T09:31:34.477+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tionghoa'/><title type='text'>Gus Dur dan Tionghoa</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-kEe1uBXQFuM/Tx4W2psqHpI/AAAAAAAAG1g/OiJBdZp3awU/s1600/boen%2Bbio.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="270" width="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-kEe1uBXQFuM/Tx4W2psqHpI/AAAAAAAAG1g/OiJBdZp3awU/s400/boen%2Bbio.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Gus Dur memang hanya dua tahun menjabat presiden RI, 1999-2001. Namun kiai bernama lengkah KH Abdurrahman Wahid ini punya tempat khusus di hati warga Tionghoa. Nama Gus Dur selalu disebut-sebut dalam suasana tahun baru Imlek seperti sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;quot;Kalau tidak ada Gus Dur, kita tidak bisa main barongsai atau liang-liong ke mana-mana,&amp;quot; kata Chandra Wurianto, dedengkot barongsai sekaligus ketua Persobarin Jatim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya atraksi barongsai, perayaan Imlek pun tak akan semeriah sekarang. Ini berkat komitmen Gus Dur pada hak-hak asasi manusia dan pembelaannya kepada kelompok minoritas. Gus Dur jauh sebelum jadi presiden ikut berjuang agar Khonghucu kembali diakui sebagai agama resmi di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan perjuangan panjang itu akhirnya berhasil. Belenggu terhadap ekspresi budaya dan tradisi Tionghoa akhirnya dicabut. Konfusius jadi agama keenam. Presiden Wahid mencabut Inpres 14/1967 yang menjadi senjata rezim Orde Baru dalam membredel hak-hak sipil warga Tionghoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat Boen Bio, kelenteng khusus Khonghucu di Kapasan, punya cara khusus mengenang jasa almarhum Gus Dur. Foto besar kiai humanis ini dipasang di depan altar sejak Gus Dur meninggal dunia. Dan umat secara rutin memanjatkan doa untuk Gus Dur di alam sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;quot;Gus Dur itu pahlawan kami umat Khonghucu dan seluruh masyarakat Tionghoa di Indonesia. Bahkan pahlawan untuk kita semua tentang bagaimana menghormati human rights,&amp;quot; kata Bingky Irawan, tokoh Khonghucu dan mantan pengurus Boen Bio Kapasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, sudah lama meninggal dunia, foto Gus Dur tetap akan dipasang di lithang atau aula peribadatan Boen Bio. Ini akan menjadi inspirasi bagi umat Khonghucu untuk meneruskan perjuangan Gus Dur yang pluralis dan humanis. Bahwa semua makhluk yang ada di kolong langit itu ciptaan Tuhan dan sudah seharusnya saling menghormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah hak-hak sipil orang Tionghoa dipulihkan, sincia jadi libur nasional, atraksi seni budaya Tionghoa marak di mana-mana, menurut Bingky, sudah saatnya orang Tionghoa semakin peduli pada Indonesia. Bekerja keras, memberikan yang terbaik untuk Yin du ni xia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Women dou shi Yinni ren!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gong xi fa cai!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-5381261957758328434?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/5381261957758328434/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/gus-dur-dan-tionghoa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5381261957758328434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5381261957758328434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/gus-dur-dan-tionghoa.html' title='Gus Dur dan Tionghoa'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-kEe1uBXQFuM/Tx4W2psqHpI/AAAAAAAAG1g/OiJBdZp3awU/s72-c/boen%2Bbio.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-203578274884598830</id><published>2012-01-23T08:46:00.001+07:00</published><updated>2012-01-24T09:59:50.287+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tionghoa'/><title type='text'>Sincia di Kelenteng Cokro</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-2u6CJbYz3VA/Tx4eaEwsmwI/AAAAAAAAG14/Ht-mK7Sovv8/s1600/gongxi.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="161" width="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-2u6CJbYz3VA/Tx4eaEwsmwI/AAAAAAAAG14/Ht-mK7Sovv8/s400/gongxi.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Hujan rintik-rintik mewarnai malam tahun baru Imlek di Kelenteng Hong San Ko Tee Surabaya. Selepas magrib, jemaat mulai berdatangan ke kelenteng di Cokroaminoto 12 itu.&lt;p&gt;Ada yang sembahyang kemudian pulang karena ingin melewatkan malam sincia di rumah atau restoran. Ada pula yang sibuk mengurus persiapan ramah-tamah selepas sembahyang bersama.&lt;p&gt;Sesuai tradisi, kelenteng in menggelar doa bersama melepas tahun lama dan menyambut tahun baru pada pukul 00:00. Karena itu, kelenteng baru ramai setelah pukul 22:00. &lt;p&gt;Tak hanya jemaat atau orang Tionghoa, warga sekitar pun datang karena akan ada atraksi barongsai. Maklum, dragon dance TITD Hong San Ko Tee diperkuat oleh anak-anak muda di kawasan Cokroaminoto dan pandegiling.&lt;p&gt;Pukul 23:00 kelenteng mulai penuh. Asap hio pun menyebar ke mana-mana. Aroma wewangian khas Tionghoa itu pun tercium ke jalan raya. Juliani Pudjiastuti, pimpinan kelenteng, meminta para petugas upacara untuk bersiap. &lt;p&gt;Mendekati pergantian tahun, jemaat rame-rame mengambil posisi berdiri di depan atar utama. Memegang hio di tangan. Lalu lonceng dan tambur tanda doa bersama ditabuh. Sang rohaniwan membacakan doa dalam bahasa campuran Indonesia dan Hokkian. Intinya meminta berkat, rezeki dan perlindungan di tahun baru yang tinggal beberapa menit lagi.&lt;p&gt;Doa bersama pun usai. Jemaat saling bersalaman dan mengucapkan gong xi, selamat. Acara dilanjutkan dengan ramah-tamah dan melekan bersama. Baku cerita ngalor ngidul.&lt;p&gt;&amp;quot;Malam ini malamnya rezeki makanya jangan tidur. Kalau ada kotoran di lantai jangan disapu dulu karena sama saja dengan buang-buang rezeki,&amp;quot; kata Budi, jemaat yang juga aktivis kelenteng.&lt;p&gt;Sementara itu, pasukan barongsai mulai beraksi menghibur umat serta warga sekitar. Kesempatan untuk panen angpao karena di malam sincia biasanya orang-orang lebih murah hati.&lt;p&gt;GONGXI FACAI!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-203578274884598830?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/203578274884598830/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/sincia-di-kelenteng-cokro.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/203578274884598830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/203578274884598830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/sincia-di-kelenteng-cokro.html' title='Sincia di Kelenteng Cokro'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-2u6CJbYz3VA/Tx4eaEwsmwI/AAAAAAAAG14/Ht-mK7Sovv8/s72-c/gongxi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-1046260963565910973</id><published>2012-01-22T03:53:00.001+07:00</published><updated>2012-01-24T09:59:38.701+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tionghoa'/><title type='text'>Gongxi facai! Xinnian hao!</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-2u6CJbYz3VA/Tx4eaEwsmwI/AAAAAAAAG14/Ht-mK7Sovv8/s1600/gongxi.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="161" width="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-2u6CJbYz3VA/Tx4eaEwsmwI/AAAAAAAAG14/Ht-mK7Sovv8/s400/gongxi.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari terakhir ini saya menemui sejumlah tokoh Tionghoa di Surabaya dan Sidoarjo. Biasa, mempersiapkan edisi khusus tahun baru Imlek.&lt;p&gt;Syukurlah, semuanya antusias. Mulus-mulus saja. Banyak perspektif lama maupun baru yang saya dapat. Dan ini memperkaya wawasan saya tentang Tionghoa.&lt;p&gt;Pak Liem Ouyen bahas tradisi sincia generasi lama yang hemat dan sederhana. Pak Njoo yang rohaniwan Buddhis tentang beberapa ritual menyambut dan sesudah sincia.&lt;p&gt;Pak Soetiadji tentang ritual di Sanggar Agung berikut acara makan bersama untuk 5000 orang. Acara tahunan di Kenjeran Park Surabaya.&lt;p&gt;Mbak Ervinna, penyanyi pop Mandarin legendaris, bakal mengisi perayaan malam tahun baru Imlek dengan 3-6 lagu Mandarin. Mbak Ervin tampil bersama penyanyi-penyanyi asal Tiongkok. Ciamik.&lt;p&gt;Pak Chandra, ketua Persobarin, bahas barongsai dan Cap Go Meh. Persobarin memang bikin acara imlekan cukup besar di ITC. Juga Pak Gunawan dari Boen Bio menjelaska agenda sincia litang konfusius itu.&lt;p&gt;Last but not least, Tante Tok ahli bikin kue keranjang yang luar biasa. Saya diajari cara membuat nian gao mulai masih tepung, bikin adonan, didandang 4 jam, hingga jadi kue keranjang. Wuenak tenan kue bikinan tante di pecinan Sidoarjo itu.&lt;p&gt;Kamsia yang banyak. Xiexie nin! &lt;p&gt;Tentu saja saya tidak lupa mengucapkan selamat tahun baru Imlek kepada bapak ibu, saudara-saudari, teman-teman Tionghoa, yinnihua ren, di mana pun berada. &lt;p&gt;Termasuk Mr Wang Huagen bersama nyonya, Miss Wang Dandan, semua staf Konjen Tiongkok, dan rekan-rekan Zhongguo ren di Surabaya, khususnya Yen xiaojie dari Shanghai.&lt;p&gt;XINNIAN HAO!&lt;br /&gt;GONGXI FACAI!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-1046260963565910973?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/1046260963565910973/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/gongxi-facai-xinnian-hao.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/1046260963565910973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/1046260963565910973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/gongxi-facai-xinnian-hao.html' title='Gongxi facai! Xinnian hao!'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-2u6CJbYz3VA/Tx4eaEwsmwI/AAAAAAAAG14/Ht-mK7Sovv8/s72-c/gongxi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-1240354636448478557</id><published>2012-01-20T14:55:00.001+07:00</published><updated>2012-01-21T08:51:02.863+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembata'/><title type='text'>Telepon seluler di Lembata</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-NsD0BAuejy4/TxoZ-Aq0JjI/AAAAAAAAG08/hMfkTBdhOVU/s1600/parek.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="267" width="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-NsD0BAuejy4/TxoZ-Aq0JjI/AAAAAAAAG08/hMfkTBdhOVU/s400/parek.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Idealnya orang mengkonsumsi teknologi secara bertahap. Step by step. Termasuk teknologi komunikasi.&lt;p&gt;Tapi ini yang tidak terjadi di NTT, khususnya pelosok Lembata. Orang2 di sana tidak kenal telepon rumah. Tak pernah lihat tiang atau kabel telepon. Bahkan, mungkin tidak pernah menggunakan fixed telephone jika tidak keluar daerahnya. &lt;p&gt;Syukurlah, revolusi seluler membuat masalah komunikasi jarak jauh di Lembata teratasi. Sejak 10 tahun terakhir orang2 kampung sudah menggunakan ponsel alias HP.&lt;p&gt;Dan satu2nya sinyal yang nyambung di NTT, khususnya Lembata, adalah TELKOMSEL. Saya sempat bawa 6 nomor dari Surabaya saat mudik akhir 2011 lalu. Ternyata hanya Telkomsel yang nyambung. Itu pun sebenarnya belum merata di kampung2.&lt;p&gt;Jangan heran hampir semua orang Lembata pakai kartu AS. Mereka tidak kenal operator2 lain yang sering ngecap di televisi itu.&lt;p&gt;Adanya seluler sekaligus menghapus budaya surat-menyurat. Sudah bertahun2 saya tidak pernah menulis surat ke kampung. Kirim kartu natal atau kartu lebaran tak pernah lagi. Cukup SMS atau menelepon langsung.&lt;p&gt;Loncatan teknologi seluler, di sisi lain, membuat etiket atau sopan santun bertelepon kurang dihayati sejumlah orang kampung. Cara bicara di telepon, volume suara, durasi.. kurang dihayati sejumlah orang kampung. &lt;p&gt;Maka, pulsa pun cepat habis. Lalu kirim SMS minta dikirimi pulsa dari Kupang atau Surabaya. Wah, memangnya kita ini pabrik pulsa?&lt;p&gt;Juga banyak nomor HP yang hangus karena pulsa tidak segera diisi melewati masa tenggang. Lalu ganti nomor. Ketika kita kontak nomor lama, jelas tidak bisa. Repot juga.&lt;p&gt;Bagaimanapun juga revolusi telepon nirkabel alias seluler ini patut disyukuri. Akses informasi menjadi lancar. Orang2 kampung tidak perlu lagi ketinggalan informasi apa pun.&lt;p&gt;Saat berada di Desa Lamawara, Kecamatan Ileape, Lembata, saya tiap pagi duduk di tepi pantai. Kawasan yang sinyal Telkomselnya paling kuat. Di situlah saya mengakses situs2 berita dan membuka e-mail.&lt;p&gt;Terima kasih untuk Telkomsel!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-1240354636448478557?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/1240354636448478557/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/telepon-seluler-di-lembata.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/1240354636448478557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/1240354636448478557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/telepon-seluler-di-lembata.html' title='Telepon seluler di Lembata'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-NsD0BAuejy4/TxoZ-Aq0JjI/AAAAAAAAG08/hMfkTBdhOVU/s72-c/parek.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-4618819847090991997</id><published>2012-01-20T09:21:00.001+07:00</published><updated>2012-01-23T10:29:46.109+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tionghoa'/><title type='text'>Sanggar Agung jelang Imlek</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-sxMkuyDjCs8/TxzUIvSdL5I/AAAAAAAAG1U/LKQ0fbBngvU/s1600/kawan%2BIm.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="267" width="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-sxMkuyDjCs8/TxzUIvSdL5I/AAAAAAAAG1U/LKQ0fbBngvU/s400/kawan%2BIm.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Para dewa sudah pergi ke kahyangan. Kelenteng dianggap kosong. Yang ada cuma rupang-rupang biasa tanpa sukma.&lt;p&gt;Maka, inilah kesempatan terbaik untuk membersihkan seluruh areal kelenteng. Patung dewa-dewi dicuci bersih, aksesoris, tempat hio, hingga aksesoris di halaman.&lt;p&gt;Itulah yang terlihat di Sanggar Agung, kelenteng terkenal di Kenjeran Park Surabaya. Acara bersih-bersih ini dilakukan sejak 17 Januari 2012. Tepatnya setelah sembahyang bersama melepas kepergian para dewa ke kahyangan.&lt;p&gt;&amp;quot;Setelah itu umat dan pekerja melakukan kerja bakti bersih-bersih kelenteng,&amp;quot; kata Yuni, bio kong alias pengurus harian Sanggar Agung.&lt;p&gt;Sebagai kelenteng besar, acara tahunan ini tak hanya dilakukan umat. Sekitar 20 orang, sebagian besar wanita, dikerahkan untuk membersihkan seluruh bagian kelenteng. Altar-altar mulai di bagian depan, samping, belakang dibersihkan.&lt;p&gt;Lotus raksasa dibagian depan juga dikeroyok ramai-ramai. Kelihatan sederhana, tapi cukup rumit mengingat banyaknya rupang berukuran kecil.&lt;p&gt;Pembersihan ini penting agar umat Tridharma bisa mengikuti ritual Sincia alias tahun baru dalam suasana yang serbabaru dan bersih. &lt;p&gt;Sanggar Agung memang selalu menjadi jujukan utama warga Tionghoa untuk sembahyangan. Lokasinya strategis di pantai wisata dengan patung Dewi Kwan Im ukuran raksasa. Kemudian patung Buddha Empat Muka simbol sang Brahmana.&lt;p&gt;Yang tak kalah penting, areal parkirnya sangat luas. Bisa menampung berapa pun mobil yang datang. Beda dengan kelenteng-kelenteng lain yang tak punya areal parkir.&lt;p&gt;&amp;quot;Persiapan kami di sini, ya, tidak banyak karena Sincia itu kan sudah rutin. Biasa-biasa sajalah,&amp;quot; kata Yuni yang asli Jawa ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-4618819847090991997?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/4618819847090991997/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/sanggar-agung-jelang-imlek.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/4618819847090991997'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/4618819847090991997'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/sanggar-agung-jelang-imlek.html' title='Sanggar Agung jelang Imlek'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-sxMkuyDjCs8/TxzUIvSdL5I/AAAAAAAAG1U/LKQ0fbBngvU/s72-c/kawan%2BIm.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-8594600614309536636</id><published>2012-01-20T08:34:00.001+07:00</published><updated>2012-01-25T11:51:14.227+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembata'/><title type='text'>Masjid Babul Jannah di Lewotolok</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-KE-berprpZY/TxoZNzmB7uI/AAAAAAAAG0w/9E-nYEOvf1o/s1600/masjid%2Blewo.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="267" width="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-KE-berprpZY/TxoZNzmB7uI/AAAAAAAAG0w/9E-nYEOvf1o/s400/masjid%2Blewo.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-BboSBx02-MQ/Tx-KLAflkfI/AAAAAAAAG2Q/LULeeClkka4/s1600/haji%2Btadong.JPG" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="200" width="188" src="http://3.bp.blogspot.com/-BboSBx02-MQ/Tx-KLAflkfI/AAAAAAAAG2Q/LULeeClkka4/s200/haji%2Btadong.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Mudik ke kampung halaman, saya selalu berusaha mampir ke rumah tokoh Islam. Salah satunya Haji Anwar Tadong (foto bawah). Selain punya hubungan keluarga (mamanya suku Hurek), saya ikut jemput beliau di Surabaya ketika pulang naik haji dari Tanah Suci beberapa tahun lalu.&lt;p&gt;Haji Anwar tinggal samping masjid. Ya, dialah takmir masjid sekaligus ulama terkemuka asli Lamaholot di Lembata. Maklum, di Kabupaten Lembata orang Islam yang haji sangat2 langka. &lt;p&gt;Saya disambut hangat Ama Haji Anwar Tadong di rumahnya. Ngopi bareng di bawah pohon asam di pinggir pantai. Kayu2 menumpuk karena beliau memang pengusaha bangunan.&lt;p&gt;Pak Haji banyak cerita tentang operasi kataraknya yang sukses. Sekarang dia bisa melihat dengan jelas. Alhamdulillah, dia dapat kesempatan operasi gratis di Lewoleba.&lt;p&gt;&amp;quot;Tapi mata sempat buta, gelap total, karena saya sempat sentuh sehabis operasi itu,&amp;quot; kenangnya. &lt;p&gt;Syukurlah, dokter cepat2 menangani sehingga bisa pulih kembali. Hanya, mata Pak Haji masih tak boleh kena air. &amp;quot;Jadi, saya ini wudu pakai tembok,&amp;quot; katanya. &lt;p&gt;Masjid Babul Jannah di Desa Lewotolok, Kecamatan Ileape, Lembata, ini tak kalah dengan masjid2 di kota. Dibandingkan masjid di desa2 tetangga macam Waowala, Mawa, atau Lemau, jelas jauh lebih kinclong. &lt;p&gt;Salat rutin, bahasa daerahnya SEMBEANG, lancar2 saja. Sering juga dikunjungi tokoh2 Islam dari kabupaten atau daerah2 yang jauh. Ini membesarkan hati umat Islam di kampung halaman saya.&lt;p&gt;Menjelang magrib, obrolan saya dengan Pak Haji makin menarik. Tapi harus diakhiri karena beliau harus salat magrib berjemaah. &lt;p&gt;Saya pun disangoni ikan segar yang baru di tangkap di perairan Lewotolok. &amp;quot;Kali ini kamu datang pada saat yang tepat. Bisa bawa ijan segar,&amp;quot; kata Pak Haji yang selalu bicara dengan penuh semangat ini.&lt;p&gt;Terima kasih banyak Ama Haji! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat bertugas mengurusi umat dan masyarakat di lewotanah!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-8594600614309536636?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/8594600614309536636/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/masjid-babul-jannah-di-lewotolok.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/8594600614309536636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/8594600614309536636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/masjid-babul-jannah-di-lewotolok.html' title='Masjid Babul Jannah di Lewotolok'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-KE-berprpZY/TxoZNzmB7uI/AAAAAAAAG0w/9E-nYEOvf1o/s72-c/masjid%2Blewo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-5097174017463144879</id><published>2012-01-19T09:57:00.001+07:00</published><updated>2012-01-19T13:12:01.347+07:00</updated><title type='text'>Real Madrid keok lagi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-S6Ze8jh_Kv0/TxeRTyVGMhI/AAAAAAAAG0M/4rmnndXlIao/s1600/real.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="296" width="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-S6Ze8jh_Kv0/TxeRTyVGMhI/AAAAAAAAG0M/4rmnndXlIao/s400/real.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Apa saya bilang? Real Madrid terlalu sulit mengalahkan Barcelona. Sebaliknya Barca terlalu mudah mengalahkan Madrid.&lt;p&gt;Tadi Real kembali keok 1-2. Dipermalukan di depan ribuan suporter. Lagi2 diajari cara main bola oleh Xavi dkk dengan penguasaan bola 70%. Umpan2 Barca hampir selalu akurat, sementara Real tanpa pola.&lt;p&gt;Fakta ini makin membuktikan Real bukan hanya kalah gol, tapi kalah kelas. Istilah el clasico sudah tidak pas karena Real sebetulnya sudah out of class. &lt;p&gt;Jose Mourinho yang pernah dipuji selangit terlihat pandir ketika melawan Barca. Tapi kita tak bisa menyalahkan Mou karena klub2 besar lain pun tak berdaya ketika menghadapi Barca yang tika-taka.&lt;p&gt;Leg kedua Piala Raja akan digelar di kandang Barca. Kita akan melihat lagi master class yang dimainkan Messi, Xavi, Iniesta untuk kembali mempermalukan Real Madrid.&lt;p&gt;Bagaimana pendapat Anda?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-5097174017463144879?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/5097174017463144879/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/real-madrid-keok-lagi_19.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5097174017463144879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5097174017463144879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/real-madrid-keok-lagi_19.html' title='Real Madrid keok lagi'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-S6Ze8jh_Kv0/TxeRTyVGMhI/AAAAAAAAG0M/4rmnndXlIao/s72-c/real.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-5949609135468503127</id><published>2012-01-19T03:44:00.001+07:00</published><updated>2012-01-19T13:21:53.243+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dahlan iskan'/><title type='text'>Dahlan Iskan tetap menulis</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-0bYnNCcmZlE/TxeOLZ-D4hI/AAAAAAAAG0A/Tcp_6X7GcqQ/s1600/dis.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="249" width="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-0bYnNCcmZlE/TxeOLZ-D4hI/AAAAAAAAG0A/Tcp_6X7GcqQ/s400/dis.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dahlan Iskan, menteri BUMN, ini memang luar biasa. Setelah jadi dirut PLN, kemudian menteri, beliau tetap produktif menulis. Pak Dahlan selalu saja menemukan ruang dan waktu untuk menulis di sela kesibukannya yang bukan main.&lt;p&gt;Catatan Dahlan Iskan selalu menarik dan sulit ditandingi wartawan atau penulis mana pun di negeri ini. Bahasanya sederhana, runut, enak, ngangeni. Tak heran begitu banyak orang, termasuk saya, yang ketagihan membaca Catatan Dahlan Iskan.&lt;p&gt;Ketika diangkat jadi dirut PLN, banyak penggemarnya yang khawatir Pak Dahlan tidak menulis lagi karena sibuk mengurus listri dari Sabang sampai Merauke. Tapi Pak Bos menjawab keraguan tersebut. Catatan-catatan Pak Bos tetap mengalir lancar. Membahas masalah listrik tapi tetap enak dibaca. Apa saja yang ditulis Pak Bos selalu menarik... dan bikin orang ketagihan saking asyiknya.&lt;p&gt;Maka, tidak salah kalau catatan Pak Dahlan sebagai dirut PLN itu dibukukan. Dan laris manis di pasaran. &lt;p&gt;Sekarang setelah jadi menteri BUMN, kesibukan Dahlan Iskan tentu berlipat ganda. Kalau sebelumnya hanya mengurus PLN, kini harus mengurus ratusan BUMN. Lalu, bagaimana membagi waktu untuk menulis catatan atau esai atau feature?&lt;p&gt;Namanya penulis kawakan (bukan sekadar wartawan, karena hanya sedikit wartawan yang benar-benar berbakat penulis), Pak Dahlan masih produktif. Tulisan-tulisannya dengan tema besar MANUFACTURING HOPE tetap mengalir lancar di Jawa Pos setiap Senin. Kualitasnya tetap terjaga.&lt;p&gt;Tulisan-tulisan Dahlan Iskan setelah jadi pejabat rata-rata di atas 8000 karakter. Ini menunjukkan kelas beliau sebagai maestro jurnalisme tutur yang brilian. Tak banyak orang, termasuk reporter yang kerjanya sehari-hari menulis, mampu melakukannya. Apalagi sebagus Dahlan Iskan.&lt;p&gt;Saya sering prihatin karena saat ini banyak wartawan yang kesulitan menulis dengan enak, runut, dan cerdas dalam 2000 karakter. Alih-alih 4000 atau 5000 karakter. &lt;p&gt;Semoga wartawan-wartawan Indonesia bisa belajar banyak dari maestro jurnalis asal Magetan ini. Bisa menulis kapan saja, di mana saja, dalam kondisi apa saja... dengan tetap menjaga kualitas.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;NB: Catatan-catatan Dahlan Iskan bisa dibaca di &lt;a href="http://dahlaniskan.wordpress.com"&gt;dahlaniskan.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-5949609135468503127?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/5949609135468503127/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/dahlan-iskan-tetap-menulis.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5949609135468503127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5949609135468503127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/dahlan-iskan-tetap-menulis.html' title='Dahlan Iskan tetap menulis'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-0bYnNCcmZlE/TxeOLZ-D4hI/AAAAAAAAG0A/Tcp_6X7GcqQ/s72-c/dis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-3798639715898277694</id><published>2012-01-19T02:43:00.001+07:00</published><updated>2012-01-19T18:44:45.466+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musik'/><title type='text'>Ian Antono dan istri</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-ReA1xAKHOQY/TxgCFKLxeRI/AAAAAAAAG0k/9SINqSHLVhc/s1600/ian%2Bantono%2Bn%2Bwife.JPG" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-ReA1xAKHOQY/TxgCFKLxeRI/AAAAAAAAG0k/9SINqSHLVhc/s400/ian%2Bantono%2Bn%2Bwife.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Tiap kali mendengar lagu-lagu lama dari Nicky Astria atau God Bless, saya selalu ingat Ian Antono. Arek Malang ini pernah menjadi gitaris paling top di Indonesia beberapa tahun lalu.&lt;p&gt;Petikan gitarnya khas dan enak. Main akustik atau elektrik sama-sama enak. Rock tapi manis. Ian juga piawai sebagai komposer dan arranger.&lt;p&gt;Sudah lama Ian, Albar, Fariz, Dian PP... tersingkir dari industri musik pop. Sebab, pemain2 industri kita harus muda, single, di bawah 30. Lewat usia itu habislah sang musisi. Paling hanya dapat tempat di Zona Memori atau Tembang Kenangan saja. Beda banget dengan industri di Barat yang tetap memberi tempat untuk Deep Purple atau Stones.&lt;p&gt;Saya beberapa kali bertemu Ian Antono di Surabaya dan Malang. Bicaranya santun, halus, irit. Rokok tetap ngepul. Badannya tetap sehat, stamina di panggung oke.&lt;p&gt;Ian selalu ditemani sang istri Titi Saelan. Ke mana2 berdua di atas maupun di bawah panggung. Kekompakan Ian-Titi ini jarang diperlihatkan pasangan musisi lain. Tak ada gosip atau berita miring tentang rumah tangga mereka.&lt;p&gt;Apa kegiatan Mas Ian sekarang? pancing saya. &lt;p&gt;Tetap main musik, katanya. Musik sudah menjadi bagian dari hidup Ian. Setiap saat dia main gitar. Ada atau tidak ada jadwal manggung.&lt;p&gt;Seorang musisi, katanya, harus berlatih dan terus berlatih sampai ajal menjemput. Tak ada kata berhenti berlatih meski Ian Antono ini sejatinya sudah kelas maestro atau guitar hero.&lt;p&gt;Meski Tionghoa, Ian bukanlah pedagang atau pengusaha. Dagangannya ya musik. Dia mengaku tetap bisa bekerja meski sudah sangat lama tidak muncul di televisi.&lt;p&gt;God Bless pernah bikin album bagus beberapa tahun lalu. Album bagus dengan aransemen yang kaya dan manis khas Ian. Tapi album ini tidak sempat promosi di televisi. Maka, publik pun hanya mengenal Ian dan God Bless lewat lagu2 lama macam Semut Hitam, Musisi, Rumah Kita, Kehidupan, Raksasa.&lt;p&gt;Saya paling suka menikmati Ian main gitar solo mengiringi Achmad Albar menyanyikan Syair Kehidupan atau Panggung Sandiwara. Ciamik soro! &lt;p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-3798639715898277694?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/3798639715898277694/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/ian-antono-dan-istri.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/3798639715898277694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/3798639715898277694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/ian-antono-dan-istri.html' title='Ian Antono dan istri'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-ReA1xAKHOQY/TxgCFKLxeRI/AAAAAAAAG0k/9SINqSHLVhc/s72-c/ian%2Bantono%2Bn%2Bwife.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-2688605112382031721</id><published>2012-01-18T13:28:00.001+07:00</published><updated>2012-01-19T11:03:16.651+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembata'/><title type='text'>Guru tempeleng murid di Lembata</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-W3_FGFn3eUM/TxeSA3H9j9I/AAAAAAAAG0c/QSGTtmjBSOg/s1600/mawa%2BSD.JPG" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-W3_FGFn3eUM/TxeSA3H9j9I/AAAAAAAAG0c/QSGTtmjBSOg/s400/mawa%2BSD.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Anak-anak SD main di namang (halaman desa) di Mawa, Lembata.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru tempeleng murid jadi masalah di Surabaya. Rabu (18/1/2012) jadi berita besar di Jawa Pos. Kasus ini selalu berulang dan selalu jadi berita.&lt;p&gt;Saya sering geli sendiri ketika membandingkan dengan di Lembata atau NTT umumnya. Guru tempeleng murid, khususnya SD, sangat biasa. Bahkan orangtuanya senang karena anaknya dikasih pendidikan. Maklum, banyak orang tua di kampung yang sudah tidak mampu mengatasi anak-anaknya yang nakalnya keterlaluan.&lt;p&gt;&amp;quot;Pukul saja Pak kalau anak saya nakal,&amp;quot; begitu pesan orangtua kepada guru SD di daerah-daerah NTT, di pelosok macam kampung saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, tak pernah ada kasus guru pukul murid masuk koran di NTT. Apalagi diproses di kepolisian. Orang tua malah senang kalau anaknya yang nakal dikasih 'pelajaran' (baca: dipukul) oleh bapak-ibu guru.&lt;p&gt;Tentu saja tempelengan atau pukulan si guru ini bersifat mendidik. Bukan emosional. Tidak mencederai si anak. Murid-murid SD di NTT juga kerap dicubit telinganya kalau tidak bikin pekerjaan rumah.&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Waktu sekolah di SDK Mawa di kampung dulu, Lembata, ada pelajaran yang namanya mencongak. Murid-murid harus menjawab pertanyaan matematika alias berhitung mulai perkalian, penjumlahan, pembagian, pengurangan dengan tepat. Murid-murid yang jawabannya salah dipukul jarinya dengan mistar. Tidak terlalu sakit, tapi lumayan menggigit. Hehehe...  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem pendidikan ala guru-guru lama memang keras. Guru-guru lawas, yang sudah pensiun semua ini, lulusan Sekolah Guru Atas (SGA), Sekolah Guru Bawah (SGB), Sekolah Pendidikan Guru (SPG), dan Kursus Pendidikan Guru (KPG). KPG ini merupakan kursus atau diklat singkat penyetaraan ijazah bagi guru-guru tamatan SGA dan SGB. Jika sudah lulus KPG, maka ijazahnya dianggap setara dengan SPG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara mendidik mereka cenderung keras. Mencontoh guru-guru Belanda yang juga sangat keras. Pakai hukuman badan, meskipun kesalahan murid-murid sebenarnya sangat sepele.&lt;p&gt;Apakah sistem lama yang main pukul atau tempeleng ini masih relevan? Saya kira guru-guru di NTT perlu introspeksi. Sebab, zaman sudah jauh berubah. Pendekatan kekerasan makin ditolak di mana-mana.&lt;p&gt;Masyarakat NTT pun makin berubah dengan makin mudahnya akses informasi. Sistem lama yang keras tak laku lagi. Para orangtua pun tidak bisa lagi main pukul atau menyiksa anak-anaknya yang membuat kesalahan.&lt;p&gt;Memarahi anak-anak dengan suara tinggi, berteriak, kemudian memukul... adalah masa lalu. Kita hendaknya mulai membangun budaya baru yang lebih canggih dan beradab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-2688605112382031721?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/2688605112382031721/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/guru-tempeleng-murid-di-lembata.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/2688605112382031721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/2688605112382031721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/guru-tempeleng-murid-di-lembata.html' title='Guru tempeleng murid di Lembata'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-W3_FGFn3eUM/TxeSA3H9j9I/AAAAAAAAG0c/QSGTtmjBSOg/s72-c/mawa%2BSD.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-5288032572023689292</id><published>2012-01-18T09:29:00.001+07:00</published><updated>2012-01-19T10:59:53.776+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembata'/><title type='text'>Jalan di Flores dulu dan sekarang</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-nYPIz8oumy8/TxeNnz06oWI/AAAAAAAAGz0/C_VPMjqJjBI/s1600/laraN.JPG" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-nYPIz8oumy8/TxeNnz06oWI/AAAAAAAAGz0/C_VPMjqJjBI/s400/laraN.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kondisi jalan di daerah Ileape, Lembata, NTT, yang dibiarkan saja oleh pemerintah daerah.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tak semulus di Jawa, jalan raya di Pulau Flores dari barat ke timur sudah lumayan bagus. Berkelok-kelok. Banyak tikungan. Awas jurang!&lt;p&gt;Karena itu, orang Flores Timur tidak pernah menggunakan jalan darat dari Jawa atau Bali. Lebih aman lewat laut. Jalan yang buruk itu juga membuat orang Flores kurang mengenal kabupaten tetangganya.&lt;p&gt;Sejak kapan jalan trans Flores ini dibangun? Menurut catatan sejarah, sejak zaman Hindia Belanda ketika berlaku politik etis. Pemerintah kolonial pada 1920an mulai membangun infrastruktur jalan. Tentu dengan kerja paksa alias rodi.&lt;p&gt;Jalan utama di Flores panjangnya 607 km. Lebih panjang dari pulaunya karena berlekak-lekuk itu tadi. Batu-batu diledakkan. Bukit-bukit ditembusi, dipotong... agar bisa jadi jalan.&lt;p&gt;Tahun 1926 jalan lintas Flores selesai. Tentu tidak mulus, hanya sekadar membuka isolasi. &lt;p&gt;Selanjutnya Belanda juga bikin jalan di Pulau Adonara dan Lembata alias Lomblen. Di Adonara dari Wailebe melalui Waiwerang ke Sagu. Kemudian memutar dari Hinga melalui Boleng ke Waiwerang lagi.&lt;p&gt;Di Lembata jalan dibuat dari Lewoleba ke Kedang sejauh 60 km. Namun, karena pemerintah Belanda tak punya cukup uang pembangunan jalan-jalan di Lembata sangat terbatas. &lt;p&gt;Karena itu, sampai tahun 2000an masih banyak daerah di Lembata yang terisolasi. Mobil masih sulit menembus kawasan tertentu, khususnya di bagian tengah. &lt;p&gt;Kesimpulannya: sejak dirintis kolonial Belanda, masalah jalan raya di Flores dan Lembata hanya mengalami sedikit kemajuan. Kita masih berkutat dengan masalah yang sama dari tahun ke tahun meski sudah merdeka 66 tahun.&lt;p&gt;Mengapa Flores, Lembata, Adonara, Solor, Alor, Pantar... selalu disebut daerah tertinggal dan terpencil? Antara lain karena infrastruktur jalan yang belum beres.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-5288032572023689292?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/5288032572023689292/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/jalan-di-flores-dulu-dan-sekarang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5288032572023689292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5288032572023689292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/jalan-di-flores-dulu-dan-sekarang.html' title='Jalan di Flores dulu dan sekarang'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-nYPIz8oumy8/TxeNnz06oWI/AAAAAAAAGz0/C_VPMjqJjBI/s72-c/laraN.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-3169921407278505320</id><published>2012-01-17T15:59:00.002+07:00</published><updated>2012-01-17T15:59:42.163+07:00</updated><title type='text'>Anak SMK bisa bikin mobil</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-gEpMaOO9hGQ/TxU4B9qUhxI/AAAAAAAAGzo/2n3vw_5Oulo/s1600/smk.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="263" width="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-gEpMaOO9hGQ/TxU4B9qUhxI/AAAAAAAAGzo/2n3vw_5Oulo/s400/smk.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Orang Indonesia ternyata cukup kreatif. Anak-anak SMK (dulu namanya STM), yang usianya masih belasan tahun, ternyata bisa bikin mobil. Katanya sih tidak kalah dengan mobil-mobil Jepang yang sekarang bikin macet lalu lintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak SMK! Bukan profesor botak atau pakar-pakar lulusan Jerman atau Amerika. Kita baru tahu kalau bikin mobil itu gampang. Kalau mobil saja bisa tentu anak-anak SMK itu bisa bikin sepeda motor, sepeda pancal, televisi, HP, komputer, laptop dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu BJ Habibie sangat ngotot bikin kapal terbang. Dia kumpulkan insinyur-insinyur hebat untuk memproduksi pesawat. Dan memang berhasil. Habibie begitu bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Habibie dan Orde Baru lupa memproduksi dan mengembangkan mobil, motor, ponsel, komputer, dsb. Padahal rakyat lebih butuh mobil atau motor ketimbang pesawat. Rezim Orba terlena dengan mobil-motor made in Japan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita didikte Japan, bekas penjajah. Dijadikan pasar utama Jepang. Bahkan pemerintah sejak awal 1970-an sama sekali tidak berpikir untuk mobil nasional atau motor nasional. Yang dipikir hanya TETUKO: sing tuku ora teko, sing teko ora tuku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orde Baru dan Habibie tamat. IPTN tak jelas nasibnya. Sejak merdeka Indonesia tak memproduksi apa-apa, selain TKI spesialias pembantu dan kuli kasar. Tapi pemerintah bangga karena produksi dan konsumsi mobil dan motor Jepang terus meningkat. Jakarta macet. Surabaya menyusul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, saya bangga dengan anak-anak SMK sekarang. Kalau kakak-kakaknya di STM tempo dulu suka berkelahi, mereka diam-diam bikin mobil Kiat Esemka. Bikin kita semua terbelalak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lebih bangga dengan anak-anak SMK yang bikin mobil ketimbang insinyur-insinyur lawas yang bikin Tetuko. Maju terus!&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-3169921407278505320?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/3169921407278505320/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/anak-smk-bisa-bikin-mobil.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/3169921407278505320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/3169921407278505320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/anak-smk-bisa-bikin-mobil.html' title='Anak SMK bisa bikin mobil'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-gEpMaOO9hGQ/TxU4B9qUhxI/AAAAAAAAGzo/2n3vw_5Oulo/s72-c/smk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-6255567349082475747</id><published>2012-01-17T10:03:00.001+07:00</published><updated>2012-01-17T15:51:04.698+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembata'/><title type='text'>Buat api pakai bambu</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-mJgjUAe9XdY/TxU2YBOzarI/AAAAAAAAGzc/E-uqHAxUYNc/s1600/ape.JPG" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-mJgjUAe9XdY/TxU2YBOzarI/AAAAAAAAGzc/E-uqHAxUYNc/s400/ape.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sekarang sudah zaman internet. Koneksi internet di pelosok Lembata, khususnya Bungamuda dan Napaulun alias kampung lama sudah bisa meskipun lambat. Tapi tradisi zaman baheula masih juga dilakukan.&lt;p&gt;Akhir Desember 2011 saya bersama empat orang lain mengunjungi rumah adat alias lango beruin di Napaulun. Rumah adat suku Hurek Making subsuku (rie) Langotukan itu mangkrak. Terlalu lama tidak dikunjungi orang.&lt;p&gt;Maka, sebagai orang Lamaholot, langkah pertama adalah PARIK APE atau menyalakan api di tungku. Tungku yang mengepul, ada bara api, sebagai pertanda kehidupan.&lt;p&gt;Sayang, waktu itu kami lupa membawa korek api karena memang tidak ada yang merokok. Lalu, bagaimana tradisi parik ape? Ehm... pikir punya pikir, cara kuno ala nenek moyang pun terpaksa dipraktikkan lagi.&lt;p&gt;Sederhana saja. Bikin api pakai bambu. Dua belahan bambu digosok-gosok dengan keras agar menghasilkan panas. Di bagian bawah lubang kita tempel sabut kelapa kering untuk menangkap panas itu.&lt;p&gt;Jika bambu itu digesek terus-menerus, dengan kuat, maka lama-kelamaan akan keluar asap dari sabut itu. Kita tinggal meniup saja.. dan api pun menyala. &lt;p&gt;Cara lama ini masih dipraktikkan hingga tahun 1980-an, khususnya mereka yang tinggal di oring alias pondok yang jauh dari permukiman penduduk. Saat ini sudah tak ada lagi yang melakukan, kecuali dalam kondisi darurat.  &lt;p&gt;Orang Lembata yang pulang kampung sering kali menemui rumahnya kosong atau mangkrak. Maka, langkah pertama untuk mengusir kemangkrakan, sekaligus isyarat ada orang di rumah, adalah parik ape. Bikin tungku di dapur menyala karena orang Lamaholot punya tradisi paki tungku, bukan kompor minyak tanah atau kompor gas atau kompor listrik.&lt;p&gt;Pelajaran moral: Kalau jalan-jalan di pelosok Lembata, jangan lupa bawa korek api!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-6255567349082475747?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/6255567349082475747/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/buat-api-pakai-bambu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/6255567349082475747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/6255567349082475747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/buat-api-pakai-bambu.html' title='Buat api pakai bambu'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-mJgjUAe9XdY/TxU2YBOzarI/AAAAAAAAGzc/E-uqHAxUYNc/s72-c/ape.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-8834851816682273104</id><published>2012-01-17T09:29:00.001+07:00</published><updated>2012-01-17T15:44:21.257+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembata'/><title type='text'>Penyulingan mangkrak di Bungamuda</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-nlLjUI2ruKM/TxU01BvP-XI/AAAAAAAAGzQ/sugUbeXDeeU/s1600/wai.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-nlLjUI2ruKM/TxU01BvP-XI/AAAAAAAAGzQ/sugUbeXDeeU/s400/wai.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Proyek instalasi penyulingan air laut di Bungamuda, Ileape, Lembata, NTT, ini maksudnya baik. Menyediakan air tawar untuk konsumsi masyarakat. Maklum, desa di bukit itu tidak punya satu pun sumur.&lt;p&gt;Warga terpaksa jalan cukup jauh, 1-2 km, untuk menimba sumur di Lamawara. Setiap hari, turun-temurun. Maka, Bupati Andreas Manuk yang juga orang Bungamuda membuat proyek desalinasi alias penyulingan itu.&lt;p&gt;Sayang, rupanya proyek bernilai 10 miliar ini tidak didukung studi kelayakan yang memadai. Juga tidak mempertimbangkan kesinambungannya. Juga tidak memperhitungka reaksi masyarakat alias konsumen air suling itu.&lt;p&gt;Maka, instalasi di dekat laut itu pun mangkrak. Saat Pak Ande Manuk masih menjabat bupati pun proyek itu tidak jalan. Airnya tidak dikonsumsi warga. Apalagi kini setelah Pak Ande lengser pada Agustus 2011.&lt;p&gt;Saat berlibur di kampung pada akhir Desember 2011, saya lihat instalasi itu mangkrak. Tak ada aktivitas. Saya juga perhatikan bak penampungan di Ebaken. Tidak berfungsi. &lt;p&gt;Mau diapakan proyek Pemkab Lembata itu? Tidak jelas. Warga Kecamatan Ileape biasanya ketawa-ketawa kalau ditanya proyek itu. Sebab, sejak awal merek memang tidak menghendakinya.&lt;p&gt;Yang diinginkan rakyat sederhana saja: Air leding yang ditarik dari sumber air di Kalikasa, Lewoleba, atau kawasan Lembata tengah yang memang berlimpah air. Pipa-pipa bahkan sudah dipasang di desa-desa.&lt;p&gt;Tapi, karena tak ada air mengalir, pipa-pipa itu banyak yang rusak... dan hilang. Sejak Lembata masih gabung dengan Flores Timur, sudah ada ide dan janji mengalirkan air leding ke Ileape. Tapi kenyataannya?&lt;p&gt;Saat ini masyarakat Bungamuda, dan Ileape dan Ileape Timur umumnya, kembali berharap pada bupati baru: Yance Sunur. Mungkinkah dalam lima tahun ini air leding bisa masuk Ileape? &lt;p&gt;Biarkan saja proyek penyulingan di Bungamuda itu mangkrak. Toh, selama ini air sulingnya tidak pernah dipakai.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-8834851816682273104?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/8834851816682273104/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/penyulingan-mangkrak-di-bungamuda.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/8834851816682273104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/8834851816682273104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/penyulingan-mangkrak-di-bungamuda.html' title='Penyulingan mangkrak di Bungamuda'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-nlLjUI2ruKM/TxU01BvP-XI/AAAAAAAAGzQ/sugUbeXDeeU/s72-c/wai.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-4206542855965819255</id><published>2012-01-15T16:41:00.001+07:00</published><updated>2012-01-16T10:05:52.305+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gereja'/><title type='text'>GKI YASMIN, WARGA, WALI KOTA</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-09wnHi05ltM/TxKwRlFXHbI/AAAAAAAAGxw/2TzQrLDq_xc/s1600/GKi%2Byasmin.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="267" width="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-09wnHi05ltM/TxKwRlFXHbI/AAAAAAAAGxw/2TzQrLDq_xc/s400/GKi%2Byasmin.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kasus Gereja Kristen Indonesia (GKI) Taman Yasmin di Bogor sudah terlalu berlarut-larut. Tadi saya lihat di televisi warga dan ormas Islam kembali membubarkan kebaktian. Tiap minggu selalu begitu.&lt;p&gt;Harus ada solusi segera! Memang ada putusan kasasi yang memenangkan GKI. Tapi faktanya wali kota Bogor dan massa menolak. Dus, kemenangan yuridis tidak disertai kemenangan sosiologis dan birokratis.&lt;p&gt;Masalah pembangunan atau izin rumah ibadah, khususnya minoritas, di Indonesia memang dimensinya banyak. Ruwet. Aturan formal, yuridis, tidak selalu jalan di lapangan.&lt;p&gt;Sebab, rumah ibadah ini sangat sensitif. Ada ketakutan akan apostasi, ancaman the others dan sebagainya. GKI sebagai liyan dianggap mengganggu kemapanan sosiologis masyarakat tempatan.&lt;p&gt;Maka, pihak GKI yang berkepentingan dengan gereja baru perlu menempuh adat ketimuran. Cobalah berkomunikasi, minum kopi bareng, omong2 dengan pihak yang menentang GKI Yasmin. Juga wali kota Bogor dan tokoh masyarakat.&lt;p&gt;Carilah solusi yang win-win. Jangan terlalu ngoyo, ngotot, sehingga memaksa warga tempatan melakukan aksi yang lebih keras. Harus luwes! Jangan bikin gerakan2 yang membuat wali kota atau warga terpojok. Anda akan dimusuhi... dan itu bisa berimbas pada gereja2 lain di Bogor dan sekitarnya.&lt;p&gt;Diplomasi diam perlu dilakukan terus-menerus petinggi GKI. Tak ada salahnya, pinjam filosofi Jawa, mengalah, mundur.. demi kebajikan bersama di masa depan. Pasti akan ketemu jalan keluar kalau kedua belah pihak sama2 legawa dan berjiwa besar.&lt;p&gt;Kisruh GKI Yasmin ini mengingatkan saya pada kebijakan seorang almarhum uskup Katolik di Jawa Timur. Dalam hal pembangunan gereja baru beliau sangat sensitif dengan faktor sosiologis. Sebab, gereja itu harus berdiri kokoh di situ dalam waktu lama. Harus menjadi bagian dari masyarakat tempatan. &lt;p&gt;Okelah, kita sudah punya surat-surat izin yang lengkap setumpuk. Tapi ketika gereja yang sedang dibangun itu digugat atau didemo warga, tentu dengan macam2 alasan, sang uskup memilih untuk menghentikannya. Sebab, gereja itu tidak didukung masyarakat. Biasanya, setelah pending cukup lama ditambah berbagai upaya pendekatan dan diplomasi, akan ditemukan solusi yang tuntas. Panitia akhirnya menemukan lahan baru, yang lebih luas dan bagus, dengan dukungan masyarakat sekitar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-4206542855965819255?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/4206542855965819255/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/gki-yasmin-warga-wali-kota.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/4206542855965819255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/4206542855965819255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/gki-yasmin-warga-wali-kota.html' title='GKI YASMIN, WARGA, WALI KOTA'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-09wnHi05ltM/TxKwRlFXHbI/AAAAAAAAGxw/2TzQrLDq_xc/s72-c/GKi%2Byasmin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-5892011982988820874</id><published>2012-01-15T12:41:00.001+07:00</published><updated>2012-01-16T10:03:40.453+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembata'/><title type='text'>ORANG SUNDA DI LEMBATA</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-XDu0nvhOa7Q/TxKwpcYbWyI/AAAAAAAAGx8/qUF5DkbbQsQ/s1600/DSCF6075.JPG" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="267" width="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-XDu0nvhOa7Q/TxKwpcYbWyI/AAAAAAAAGx8/qUF5DkbbQsQ/s400/DSCF6075.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Acara piknik di Pantai Pedan, Lembata.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh dari rumah saya di Lamawara, Ileape, Lembata, NTT, tinggal Agnes Acha. Mama Acha sapaan sehari-harinya. Dari logatnya saya bisa memastikan mama kurus dan energik ini berasal dari Jawa Barat.&lt;p&gt;&amp;quot;Saya asal Subang tapi sudah lama merantau,&amp;quot; kata Mama Acha saat kami duduk santai di dekat sumur pinggir laut. Acara BAUNG atau di Jawa dikenal dengan cangkrukan.&lt;p&gt;Saat merantau di Batam, dia kenalan dengan Ama Ola. Kemudian menikah. Kemudian lancar bahasa Lamaholot, bahasa daerah kami. Kemudian diajak pulang ke Lembata dan ternyata betah.&lt;p&gt;Setelah Ama Ola meninggal, Mama Acha tetap tinggal di kampung. Sesekali mudik ke Subang tapi kembali lagi. Lembata yang jauh tertinggal dibandingkan Sunda sudah dianggap kampung halamannya.&lt;p&gt;Sungguh saya terharu dengan Mama Acha. Orang luar yang gelekat lewotanah peheng suku lango. Sementara begitu banyak orang Lembata yang tak mau lagi kembali ke kampung.&lt;p&gt;Sebagai perantau ulung, sejak 1970-an orang2 Lembata sering membawa istri dari luar. Orang Malaysia, Jawa, Sulawesi, Jakarta, bahkan Tionghoa. Tapi jarang ada yang kerasan. Paling lama tahan satu bulan, kemudian menangis minta kembali ke Jawa atau Malaysia. Kalaupun ada yang bertahan, biasanya orang2 Jawa yang berlatar petani di desa-desa pelosok. Bukan warga kota besar.&lt;p&gt;Jangankan orang Jawa atau Malaysia, anak-anak orang Lembata yang lahir dan tinggal di kota besar pun tak betah. Sekali diajak bapaknya ke kampung, setelah itu no way! Kemudian menikah di Jawa dengan orang Jawa.. dan kemudian hilang kelembataannya. &lt;p&gt;Maka, buat saya, Mama Acha ini sebuah pengecualian. Mama paling rajin dalam berbagai kegiatan di kampung. Motivator ulung. Tukang kasih semangat. Dialah yang mengajak saya ke kampung di bukit malam hari untuk sembahyang tikar Memeng Perada. Semacam tahlilan di Jawa.&lt;p&gt;&amp;quot;Tapi saya dari dulu nggak bisa makan di acara kematian,&amp;quot; kata Mama Acha saat acara makan bersama di rumah duka. Padahal, hidangan malam itu sangat istimewa.&lt;p&gt;Mama Acha, terima kasih, anda layak jadi cermin buat orang Lembata.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-5892011982988820874?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/5892011982988820874/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/orang-sunda-di-lembata.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5892011982988820874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5892011982988820874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/orang-sunda-di-lembata.html' title='ORANG SUNDA DI LEMBATA'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-XDu0nvhOa7Q/TxKwpcYbWyI/AAAAAAAAGx8/qUF5DkbbQsQ/s72-c/DSCF6075.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-6944432564431728616</id><published>2012-01-15T12:03:00.001+07:00</published><updated>2012-01-16T10:03:19.011+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musik klasik'/><title type='text'>Pauline Poegoeh Soprano Surabaya</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-FCfxx07m-ZU/TxOTZjghQKI/AAAAAAAAGyg/BEE26ckb1t4/s1600/pauline%2BSSO%2Bkonser.JPG" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="400" width="382" src="http://1.bp.blogspot.com/-FCfxx07m-ZU/TxOTZjghQKI/AAAAAAAAGyg/BEE26ckb1t4/s400/pauline%2BSSO%2Bkonser.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Lambertus Hurek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tidak banyak anak muda di tanah air yang menekuni seni vokal klasik atau yang lebih dikenal dengan seriosa. Maka, PAULINE POEGOEH (27 tahun) boleh dibilang 'manusia langka'. Dia  konsisten menggeluti seriosa sejak 2001.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 10 tahun Pauline Poegoeh memukau pencinta musik klasik di Kota Surabaya dengan suara soprannya yang powerful. Soprano kelahiran Surabaya ini selalu menjadi bintang dalam konser-konser rutin yang digelar Surabaya Symphony Orchestra (SSO). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maklum, gadis 27 tahun ini merupakan vokalis andalan Solomon Tong, dirigen sekaligus pendiri SSO. Tong bahkan menyebut Pauline sebagai salah satu soprano terbaik yang dimiliki Indonesia saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pauline sudah pernah membawakan berbagai aria operasi karya komponis-komponis ternama seperti Mozart, Beethoven, Verdi, Puccini, Catalani dengan sangat meyakinkan. Termasuk yang tingkat kesulitannya tinggi," puji Solomon Tong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujian Tong rasanya tak berlebihan. Dalam setiap pergelaran SSO, rata-rata 3-4 kali setahun, penonton senantiasa dibuat terpukau dengan suara sopran Pauline yang lantang dan bertenaga. Dengan teknik vokal prima, dia bisa dengan enteng menaklukkan nada-nada tinggi. Tak ayal, aplaus panjang pun terdengar setiap kali Pauline menyelesaikan lagu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas konser, sebagian penonton pun tak langsung pulang, tapi lebih dulu menyalami Fu Huaxiu, nama lain Pauline Poegoeh. Itu pula yang terlihat ketika Pauline menggelar resital yang diiringi SSO belum lama ini di Hotel Shangri-La Surabaya. Penonton berjubel meski lagu-lagu yang dibawakan Pauline bukanlah lagu-lagu jenis hiburan yang mudah dicerna penonton awam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUDAH BERAPA KALI ANDA MENGGELAR RESITAL? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga kali. Resital pertama Juni 2004, kedua September 2005, dan ketiga November 2011. Puji Tuhan, resital-resital saya selalu dipenuhi penonton. Ini membuat saya bangga dan semakin termotivasi untuk menekuni musik klasik, khususnya seni vokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERAPA LAMA ANDA MEMPERSIAPKAN RESITAL ITU?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak begitu lama sebetulnya. Hanya sekitar dua atau tiga bulan saja. Itu pun tidak terlalu intensif karena saya kan harus mengajar, juga ada kesibukan-kesibukan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YANG MENENTUKAN REPERTOAR DI RESITAL ITU ANDA SENDIRI ATAU SOLOMON TONG?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan Pak Tong. Beliau kan guru dan pelatih saya. Hehehe… Pak Tong juga yang membuat orkestrasi untuk delapan dari 13 komposisi yang saya bawakan. Jadi, peranan Pak Tong memang sangat menentukan. Saya bisa bikin resital juga berkat dukungan beliau dan SSO. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM RESITAL KEMARIN ANDA MEMBAWAKAN 13 LAGU DALAM LIMA BAHASA TANPA TEKS. BAGAIMANA ANDA BISA MENGUASAI BAHASA-BAHASA ASING ITU?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, berlatih dan berlatih. Saya belajar dari internet, Pak Tong, tanya ke orang-orang yang tahu, dan sebagainya. Saya harus hafal lirik-lirik lagunya agar bisa tampil optimal di atas panggung. Menyanyi sambil membaca teks itu sebetulnya kurang bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SELAMA 10 TAHUN MENJADI PENYANYI SERIOSA, BAGAIMANA ANDA MENILAI APRESIASI MASYARAKAT SURABAYA TERHADAP SENI VOKAL KLASIK DAN MUSIK KLASIK UMUMNYA?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah makin bagus meskipun masih kalah jauh dengan di luar negeri. Konser-konser klasik di Surabaya, termasuk resital saya, selalu penuh. Ini menunjukkan bahwa apresiasi musik masyarakat kita sudah meningkat. Cuma masih banyak hal yang perlu kita benahi agar bisa bersaing dengan luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIDAK SULIT MENCARI CD/VCD KLASIK DI INDONESIA?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit. Kalaupun ada, koleksinya sangat terbatas. Saya biasanya pesan dari luar negeri, khususnya Singapura. Syukurlah, sekarang ini sudah ada internet sehingga kita bisa memperkaya referensi musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANDA SENDIRI SUDAH MERILIS BERAPA ALBUM?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat. Semuanya berisi konser-konser saya di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ALBUM-ALBUM ITU BISA DIJUAL DI PASARAN? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Distribusinya tentu berbeda dengan album-album pop atau dangdut. Album-album saya ini dikoleksi oleh komunitas yang sangat khusus. Biasanya cukup ramai ketika dijual di acara konser-konser SSO. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KABARNYA, ANDA JUGA AKTIF MENJADI GURU VOKAL. ENAK MANA JADI GURU ATAU VOKALIS?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama-sama enak dan punya tantangan sendiri-sendiri. Sebagai guru, saya harus mengajar siswa mulai anak-anak taman kanak-kanak sampai lansia. Ini merupakan tantangan yang harus saya hadapi. Saya senang karena sudah ada beberapa murid saya yang sudah berhasil sebagai penyanyi. (rek)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-0APupMLichs/TxLf7WwDEWI/AAAAAAAAGyI/O2ZkrNgmSxM/s1600/pauline%2Bpooegoeh.JPG" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-0APupMLichs/TxLf7WwDEWI/AAAAAAAAGyI/O2ZkrNgmSxM/s400/pauline%2Bpooegoeh.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERLATIH KERAS SEJAK ANAK-ANAK &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEJAK kecil Pauline Poegoeh memang sudah suka musik, khususnya seni suara. Talenta musiknya ini kemudian disalurkan dengan menjadi anggota paduan suara anak-anak Gereja Elyon Surabaya. Gereja yang hampir semua jemaatnya keturunan Tionghoa ini kebetulan punya banyak guru musik dan vokal yang hebat seperti Solomon Tong dan istrinya, Ester Karlina Magawe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, di usia sangat belia itu, Pauline belajar piano pada Ester Karlina. Bocah ini cepat sekali mengalami kemajuan dibandingkan teman-teman sebayanya. Bukan itu saja. Sejak kecil gadis berbadan subur ini punya kemampuan menyanyi di atas rata-rata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latihan vokal yang diperoleh di kor anak-anak membuatnya bisa membawakan lagu-lagu klasik dengan tingkat kesulitan tinggi. Potensi dan bakat besar ini tentu saja lekas terpantau Ester yang juga pianis Surabaya Symphony Orchestra (SSO) itu. Maka, pada usia 14 tahun Pauline langsung digembleng oleh Solomon Tong. Guru vokal senior dan tokoh musik klasik Surabaya ini kebetulan baru mendirikan SSO pada akhir 1996.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pauline ini memang sangat hebat. Bakat menyanyi luar biasa sehingga dia bisa menguasai teknik vokal klasik dengan sangat cepat," kenang Solomon Tong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan Pauline tentu saja menjadi berkah bagi SSO yang saat itu memang belum punya soprano tetap. Sebagai orkes simfoni, SSO dituntut memiliki home singer untuk mengisi konser-konser rutin sepanjang tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan itu tidak gampang. Sebab, Tong mendambakan vokalis serbabisa yang mampu membawakan aneka jenis lagu, mulai seriosa Indonesia, nyanyian Tionghoa, hingga petikan opera yang sangat rumit dan panjang. Tong pun dengan telaten membagikan ilmu vokalnya kepada gadis yang juga dipanggil Fu Huaxiu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Puji Tuhan, Pauline ternyata bisa menjawab tantangan saya," kata pria yang sudah 54 tahun membaktikan hidupnya untuk musik klasik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa anak asuhnya sudah siap tampil di depan publik, Pauline mulai diperkenalkan Tong dalam konser ke-15 SSO pada 2001. Saat itu dia menjadi penyanyi utama alias leading voice singer. Belum bisa tampil bersama full orchestra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Tong, seorang vokalis klasik harus dipersiapkan sungguh-sungguh sebelum bisa tampil bersama orkes simfoni. Tidak bisa instan. Maka, Pauline masih terus menjalani latihan intensif bersama Solomon Tong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia juga berlatih membawakan lagu-lagu yang akan ditampilkan oleh penyanyi tamu baik dari dalam maupun luar negeri," tutur Tong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemblengan yang tergolong sangat keras ini, menurut Tong, merupakan bekal berharga untuk karir musiknya di masa depan. Dan itu sangat langka di Kota Surabaya, bahkan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melalui proses pelatihan yang panjang, barulah Pauline dipercaya tampil bersama SSO, full orchestra, pada konser ke-25. Sambutan penonton, termasuk kalangan ekspatriat, sangat meriah. Telah lahir seorang penyanyi opera dengan karakter suara coloratura soprano yang dahsyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itulah Pauline hampir tak pernah absen dalam konser-konser SSO di Surabaya. Porsi dan tingkat kesulitan lagu yang disodorkan Tong pun makin lama makin berat. Toh, Pauline mampu membawakannya dengan enjoy. "Sangat jarang mendapat penyanyi yang punya kualitas seperti Pauline," kata Tong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya digembleng Tong, Pauline juga kerap mengikuti master class yang diberikan para guest singer. Pada Juni 2004, Pauline mendapat kesempatan mendalami ilmu vokal di University of Taichong, Taiwan. Di sana dia dibina secara khusus oleh Dr Yi Lin-Hsu dan Prof Dr Judy. Di negeri Formosa itu Pauline juga memperdalam bahasa Mandarin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran, bahasa Mandarin cewek murah senyum ini kian fasih saja. Ketika membawakan lagu-lagu Tiongkok, lafalnya fasih seperti Zhongguo ren saja. Ini terasa ketika Pauline membawakan lagu Chun Thian Lai Le dan Na Ciu Se Wo di Hotel Shangri-La belum lama ini. (HUREK)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dimuat Radar Surabaya edisi Minggu 15 Januari 2012.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-6944432564431728616?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/6944432564431728616/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/blog-post_15.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/6944432564431728616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/6944432564431728616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/blog-post_15.html' title='Pauline Poegoeh Soprano Surabaya'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-FCfxx07m-ZU/TxOTZjghQKI/AAAAAAAAGyg/BEE26ckb1t4/s72-c/pauline%2BSSO%2Bkonser.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-7838440124410609115</id><published>2012-01-15T09:58:00.001+07:00</published><updated>2012-01-16T10:12:53.874+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembata'/><title type='text'>Bertemu Perantau Malaysia Timur</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-go-36qKeW0A/TxOVpGam1WI/AAAAAAAAGys/1C8PxzqnnD4/s1600/mawa%2Bnamang.JPG" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-go-36qKeW0A/TxOVpGam1WI/AAAAAAAAGys/1C8PxzqnnD4/s400/mawa%2Bnamang.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kaget juga saya ketemu Frans Hurek, teman SD, di Mawa pada malam Natal. Saya benar2 pangling. Badannya gemuk, overweight, wajahnya beda dengan 20-an tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga kaget karena dia bercelana pendek, baju santai, belum mandi. Padahal, semua orang lagi bersiap ke gereja untuk misa malam Natal. Saya sendiri sudah siap dengan baju batik murah kelas Pasar Turi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun minum kopi, ada kue. Kaget juga karena Frans bicara dalam bahasa daerah (Lamaholot) fasih. Beda dengan perantau2 lain yang suka berbahasa Melayu Malaysia, lupa bahasa Indonesia, apalagi bahasa daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawin dengan wanita Malaysia di Sabah, Frans tergolong sukses. Dia bisa mudik ke kampung secara teratur. Kali ini bersama istri dan seorang anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya ajak anak istri agar mereka tahu kampung halaman saya," katanya. "Kalau anak saya cuti, dan saya ada rezeki, saya usahakan pulang kampung."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan yang menarik. Mengapa? Orang2 Lembata atau Flores yang merantau di Malaysia biasanya sangat jarang yang pulang kampung secara teratur. Ada yang 10 tahun, 20 tahun, bahkan 30 tahun tak pulang-pulang. Ada yang merantau sejak lulus SD, usia belasan tahun, dan sampai meninggal dunia di usia senja di Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi cerita Frans yang membuat saya hidung kembang. Katanya, anak-anak perantau asal Lembata atau Flores Timur di Malaysia Timur selalu membaca blog saya. Mereka jadi tahu sedikit suasana dan keadaan di Lembata atau Flores Timur setelah membaca saya punya blog. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketika mereka cari informasi di Google, ketemunya di laman Anda. Anak-anak muda ini terkejut karena ternyata begitu banyak informasi tentang Lewotanah (kampung halaman) di blog Anda," kata Frans yang waktu anak-anak senang jadi kernet mobil ke Lewoleba ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ehmmm... saya merasa tersanjung dengan pengakuan Frans. Yah, paling tidak saya sudah ikut membantu memberikan informasi sekadarnya tentang kampung halaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-7838440124410609115?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/7838440124410609115/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/bertemu-perantau-malaysia-timur.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/7838440124410609115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/7838440124410609115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/bertemu-perantau-malaysia-timur.html' title='Bertemu Perantau Malaysia Timur'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-go-36qKeW0A/TxOVpGam1WI/AAAAAAAAGys/1C8PxzqnnD4/s72-c/mawa%2Bnamang.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-3410370332360921987</id><published>2012-01-14T15:57:00.001+07:00</published><updated>2012-01-14T16:20:02.504+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musik'/><title type='text'>Arie Koesmiran di Metro TV</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-wYWWtnjXHs0/TxFIvFnOL5I/AAAAAAAAGxk/ZiCq0xbBpLg/s1600/arie.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="235" width="197" src="http://2.bp.blogspot.com/-wYWWtnjXHs0/TxFIvFnOL5I/AAAAAAAAGxk/ZiCq0xbBpLg/s400/arie.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Melihat Arie Koesmiran di Metro TV, saya ingat lelang bandeng di alun-alun Sidoarjo. Ya,  Arie memang asli Sidoarjo. Tahu tradisi lelang bandeng kawak setiap bulan Maulud. Dia pernah diundang mengisi acara lelang bandeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat bersalaman, bincang sejenak, melihat dari dekat sosok Arie Koesmiran. Orangnya ramah, tenang, berwibawa, murah senyum. Baik sekali memang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas panggung, wah, gayanya bukan main hebatnya. Karakter suara, teknik vokal, penguasaan  panggung.. di atas rata-rata. Juga komunikatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja Arie Koesmiran waktu lelang bandeng itu menyanyikan hitnya Setulus Hatiku Semurni Cintaku. Lagu ciptaan Is  Haryanto yang melambungkan namanya. Lagu yang masih enak sampai hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup lama saya tidak melihat Arie Koesmiran di televisi. Syukurlah, Zona Memori menghadirkan Arie  kembali pada 18 Desember 2011. Gaya dan pesonanya masih sama. Yang berubah tentu saja umur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyanyi lawas umumnya punya karir panjang. Tidak muncul sekejap lalu hilang kayak penyanyi zaman sekarang. Begitu pula Arie Koesmiran yang sudah menang festival sejak SD itu. "Sampai sekarang saya sudah merilis sekitar 450 lagu," katanya di televisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan satu album berisi 10 lagu, berarti sudah bikin 45 album. Banyak banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, yang paling menarik dari Arie Koesmiran adalah konsistensinya. Musik atau menyanyi telah menjadi bagian dari kehidupannya sejak kecil hingga usia yang makin senja. Dan itu pula yang membuat dia kelihatan awet muda dan bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-3410370332360921987?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/3410370332360921987/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/arie-koesmiran-di-metro-tv.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/3410370332360921987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/3410370332360921987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/arie-koesmiran-di-metro-tv.html' title='Arie Koesmiran di Metro TV'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-wYWWtnjXHs0/TxFIvFnOL5I/AAAAAAAAGxk/ZiCq0xbBpLg/s72-c/arie.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-7028308910070244472</id><published>2012-01-13T13:54:00.001+07:00</published><updated>2012-01-13T22:32:00.057+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembata'/><title type='text'>Banyak Cerita tentang Lembata</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-CQlysH-B-cc/TxBOX1vufMI/AAAAAAAAGwc/1vO2XmwepAw/s1600/IMG0038A.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-CQlysH-B-cc/TxBOX1vufMI/AAAAAAAAGwc/1vO2XmwepAw/s400/IMG0038A.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Saya baru saja pulang dari kampung halaman di Lembata, NTT. Banyak hal sederhana, tapi menarik bagi saya yang sudah terlalu lama di Jawa. Lembata sudah banyak berubah.&lt;p&gt;Dulu, ketika saya masih di kampung, Lembata ikut Kabupaten Flores Timur. Sekarang jadi kabupaten sendiri. Dulu tak ada listrik, sekarang PLN masuk ke desa-desa. Televisi ada di rumah-rumah.&lt;p&gt;Saya, meski lahir di Lembata, ibarat orang asing di tanah sendiri. Heran, kagum, pangling... melihat perubahan yang begitu pesat. Termasuk heran melihat banyak anak muda yang tidak ke gereja pada hari Minggu. &lt;p&gt;Maka, hal-hal sederhana di kampung itu saya catat di blog ini. Sekalian membiasakan diri dengan mobile blogging, ngeblog pakai ponsel. Cara blogging paling praktis meski kurang optimal karena dibatasi 2000 karakter. &lt;p&gt;Tulisan atau artikel yang utuh biasanya minimal 5000 karakter. Lebih banyak lebih tuntas tentu saja. Tapi mobile blogging tetap berguna untuk menulis apa saja secara singkat  dan padat. Kapan saja, di mana saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-7028308910070244472?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/7028308910070244472/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/banyak-cerita-tentang-lembata.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/7028308910070244472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/7028308910070244472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/banyak-cerita-tentang-lembata.html' title='Banyak Cerita tentang Lembata'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-CQlysH-B-cc/TxBOX1vufMI/AAAAAAAAGwc/1vO2XmwepAw/s72-c/IMG0038A.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-2462416105042114418</id><published>2012-01-13T10:34:00.001+07:00</published><updated>2012-01-13T22:30:39.448+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembata'/><title type='text'>Tokojaeng, Kampung Bakau di Lembata</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-yZqQevP95JE/TxBOELE5flI/AAAAAAAAGwQ/YNjciy8Aypg/s1600/IMG0073A.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-yZqQevP95JE/TxBOELE5flI/AAAAAAAAGwQ/YNjciy8Aypg/s400/IMG0073A.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;TOKOJAENG. Desa yang nama resminya Lamatokan di Ileape Timur, Pulau Lembata, NTT, ini sudah lama sekali tak saya kunjungi. Terakhir saat saya masih SD di kampung. Maka, bermodal motor pinjaman saya memaksakan diri mampir sejenak di sana akhir Desember 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana sudah banyak berubah. Jalan aspal mulus hotmix, lebih bagus ketimbang di Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata. Kampung yang dulu dianggap terpencil itu kini jauh lebih bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja di pinggir jalan masih sama dengan ketika saya kecil. Baru saja Tokojaeng jadi tuan rumah perayaan Natal karena gerejanya tergolong besar. Hiasan di gereja belum dicopot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan Tokojaeng adalah pantainya yang indah dengan hutan bakau yang lebat. Laut sangat tenang karena terletak di teluk. Sore itu anak-anak mandi di laut dengan gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski didukung pantai yang indah alami, sejak dulu Tokojaeng belum bisa menjadi objek wisata. Ini karena akses jalan yang buruk dan terjal di desa-desa tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan dari Mawa, Atawatung, Ebak, Lemau.. masih sangat buruk. Sama dengan zaman dulu meski ada pengaspalan di beberapa ruas jalan. Jalan dari jalur Baopukang pun kurang bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokojaeng sangat dekat dengan Gunung Lewotolok alias Ileape yang saat ini sedang erupsi. Karena itu, warga harus siaga penuh. Harus siap mengungsi kalau gunung setinggi 1.400 meter itu meletus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi justru itu pula kelebihan Tokojaeng. Kita bisa menikmati keindahan gunung yang aktif mengeluarkan belerang dan asap tebal itu. Mungkin suatu ketika energi gunung itu bisa dimanfaatkan untuk listrik dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sangat dekat gunung, air sumur di Tokojaeng berasa pahit. Tak layak minum. Syukurlah, sekarang ada bantuan tandon atau bak di rumah-rumah penduduk untuk menampung air hujan. Air hujan inilah yang menggantikan air pahit itu untuk konsumsi sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudah setelah Lembata jadi kabupaten sendiri, kemudian Kecamatan Ileape dimekarkan menjadi Ileape Timur, Tokojaeng dan kampung-kampung sekitar macam Lamawolo, Lemau, Ebak, Baopukang, Kimakamak, Waiwaru... makin maju. Tidak lagi masuk daftar desa tertinggal di NTT.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-2462416105042114418?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/2462416105042114418/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/tokojaeng-kampung-bakau-di-lembata.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/2462416105042114418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/2462416105042114418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/tokojaeng-kampung-bakau-di-lembata.html' title='Tokojaeng, Kampung Bakau di Lembata'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-yZqQevP95JE/TxBOELE5flI/AAAAAAAAGwQ/YNjciy8Aypg/s72-c/IMG0073A.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-3000280677380753763</id><published>2012-01-12T15:54:00.001+07:00</published><updated>2012-01-13T22:35:35.145+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembata'/><title type='text'>Tidur Awal Bangun Cepat</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-wFVgisqcpdI/TxBPPK5tf8I/AAAAAAAAGw0/c6XZKI5EOKA/s1600/IMG0097A.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-wFVgisqcpdI/TxBPPK5tf8I/AAAAAAAAGw0/c6XZKI5EOKA/s400/IMG0097A.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Saat ini desa-desa di pelosok Lembata sudah dialiri listrik PLN. Beda banget dengan kita saya SD. Waktu itu listrik sama sekali tidak dikenal. Karena listrik lancar, televisi ada di banyak rumah dengan kualitas gambar sangat bagus.&lt;p&gt;Tapi gaya hidup agraris belum berubah. Orang-orang desa tetap membiasakan diri tidur awal. Tak ada hiburan, apalagi night life. Pukul 18.00 pintu-pintu rumah sudah ditutup. &lt;p&gt;Jangan harap melihat warung -warung di pinggir jalan. Lengang. Saat saya melintas dari Tokojaeng, Lemau, Ebak, Atawatung, Mawa, Bungamuda, Lamawara belum lama ini hari beranjak senja. Suasana sepi. Hampir tak ada orang yang melintas di jalan raya.&lt;p&gt;Sebagai orang yang biasa tidur di atas jam 00.00, saya memang pangling dengan situasi ini. Apakah harus cepat-cepat tidur? Nonton tv juga susah karena hampir semua orang tidak biasa melihat acara tv malam-malam.&lt;p&gt;Karena tidur awal, pagi-pagi sekali orang Lembata sudah bangun. Lalu ke kebun, memasak, ambil air di sumur, memberi makan babi dan kambing, cari ikan, atau mendaras tuak. Kesibukan khas orang desa.&lt;p&gt;Mungkin pola tidur yang sangat baik ini membuat orang-orang desa lebih sehat. Jarang yang berurusan dengan sakit. Kalaupun sakit, penyakit-penyakit khas orang desa kebanyakan tergolong kelas ringan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-3000280677380753763?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/3000280677380753763/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/tidur-awal-bangun-cepat.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/3000280677380753763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/3000280677380753763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/tidur-awal-bangun-cepat.html' title='Tidur Awal Bangun Cepat'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-wFVgisqcpdI/TxBPPK5tf8I/AAAAAAAAGw0/c6XZKI5EOKA/s72-c/IMG0097A.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-1428964988621031441</id><published>2012-01-12T10:27:00.001+07:00</published><updated>2012-01-12T11:20:59.625+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembata'/><title type='text'>Bupati Tionghoa di Lembata</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-zF-CaY2V7PM/Tw5Yi2o1daI/AAAAAAAAGvc/jyqnukz8wXA/s1600/yance.JPG" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="400" width="321" src="http://1.bp.blogspot.com/-zF-CaY2V7PM/Tw5Yi2o1daI/AAAAAAAAGvc/jyqnukz8wXA/s400/yance.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bupati Yance Sunur bersama istri, dr Margie Kandou, dan putrinya. (foto: Lambertus Hurek)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang unik dan menarik di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, kampung halaman saya. Kabupaten hasil pemekaran Flores Timur ini sekarang dipimpin Bupati Yance Sunur yang etnis Tionghoa. Wakil bupatinya Viktor Mado Watun etnis Lamaholot alias pribumi.&lt;p&gt;Yance-Viktor baru dilantik pada 25 Agustus 2011 setelah memenangi pemilukada putaran kedua. Baik Yance maupun Viktor sama-sama kader PDI Perjuangan. &lt;p&gt;Yang menarik lagi, ketua DPRD Lembata pun orang Tionghoa. Ada pula Tarsisia Hany Candra, anggota DPRD Lembata, yang juga Tionghoa. Hany dikenal sebagai perempuan cerdas dan tak banyak bicara.  &lt;p&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin Lembata bisa diperintah politisi Tionghoa, padahal etnis jawara dagang ini kurang dari 2 persen? Ini membanggakan saya sebagai putra asli Lembata. Bahwa masalah rasial atau etnisitas atau SARA tidak ada lagi di Lembata. Asas kompetensi dan meritokrasi sudah diterapkan di pulau terpencil itu. &lt;p&gt;Orang Lembata di sembilan kecamatan itu sudah sangat dewasa. Tidak termakan hasutan atau isu rasial yang sempat dicuatkan sejumlah politisi (lawan Yance-Viktor) saat kampanye. Rakyat sudah memilih secara langsung dan Yance Sunur adalah pemenangnya.&lt;p&gt;Kalau ditelusuri, Yance sebetulnya bukan Tionghoa totok yang baru datang dari Tiongkok. Leluhurnya sudah bercampur dengan DNA Lamaholot. Saya bahkan kaget ketika diberi tahu kalau ada leluhur Yance yang bermarga Paokuma, suku di Ileape.&lt;p&gt;Yance besar di Kedang meski berkarir di Bogor, Jawa Barat. Karena itu, dia fasih bahasa Kedang. Saat kampanye di kampung-kampung Yance menyampaikan pesannya dalam bahasa daerah. Calon-calon yang mengaku pribumi justru berbahasa Indonesia. Hehehe...&lt;p&gt;Didukung istrinya yang dokter, Margie Kandou, Yance menarik hati rakyat dengan bakti sosial pengobatan gratis. Juga ada dukungan logistik yang cukup. Ditambah citranya sebagai politisi bersih karena selama ini berkiprah di luar Lembata.&lt;p&gt;Sekarang tinggal Bupati Yance membuktikan janjinya untuk membangun lewotanah. Memajukan Lembata, salah satu kabupaten pemekaran yang dinilai tidak sukses. &lt;p&gt;Secara tidak langsung kepemimpinan Yance juga sebuah taruhan bagi warga Tionghoa untuk membuktikan diri. Bahwa memerintah di Lembata itu mengabdi demi kemajuan rakyat Lembata. Selamat bekerja Bung Yance!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-1428964988621031441?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/1428964988621031441/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/bupati-tionghoa-di-lembata.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/1428964988621031441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/1428964988621031441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/bupati-tionghoa-di-lembata.html' title='Bupati Tionghoa di Lembata'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-zF-CaY2V7PM/Tw5Yi2o1daI/AAAAAAAAGvc/jyqnukz8wXA/s72-c/yance.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-6282777135078332433</id><published>2012-01-12T08:57:00.001+07:00</published><updated>2012-01-12T10:56:47.660+07:00</updated><title type='text'>Real Madrid Sulit Menang</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/--bGk5a5f_bw/Tw5ZwCyQIHI/AAAAAAAAGvo/6wFQljccCbE/s1600/mou.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="250" width="400" src="http://1.bp.blogspot.com/--bGk5a5f_bw/Tw5ZwCyQIHI/AAAAAAAAGvo/6wFQljccCbE/s400/mou.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Jose Mourinho selalu panas karena kewalahan menghadapi Barca. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Real Madrid hampir pasti bakal bentrok lagi dengan Barcelona di Piala Raja. Siapa yang menang? Jelas Barca.&lt;p&gt;Sejak dilatih Jose Mourinho, Madrid sering menang, bahkan menang besar, tapi cara mainnya kurang indah. Pola atau skema main dan kerja tim sangat buruk. Itu jika kita bandingkan dengan Barca.&lt;p&gt;Saya tidak pernah absen melihat duel klasik ini di tv. Saya selalu geleng-geleng kepala karena Madrid selalu keteteran. Kalah cepat, kalah akurat, kalah cerdas dari Barca. Maka, Real Madrid pun kalah banyak. Di kandang sendiri pula. Memalukan!!!&lt;p&gt;Barca terlalu bagus, terlalu dominan. Kita sulit mencari kelemahan Barca kecuali satu dua blunder yang membuatnya kebobolan pada menit 1 tempo hari.&lt;p&gt;Bentrok Madrid-Barca nanti akan membuat Mou dan pemain-pemainnya makin frustrasi. Makin inferior. Selama masih dilatih Mou dengan space yang lebar, akurasi passing yang buruk, emosi tinggi... Barca akan makin berkibar.&lt;p&gt;Saya sedih melihat pemain-pemain terkenal, dan mahal, macam Ronaldo, Kaka, Higuain, Benzema, di Maria, Pepe... terus dibuat mainan oleh Barca. Diajari cara main bola oleh Barca.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-6282777135078332433?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/6282777135078332433/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/real-madrid-sulit-menang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/6282777135078332433'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/6282777135078332433'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/real-madrid-sulit-menang.html' title='Real Madrid Sulit Menang'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/--bGk5a5f_bw/Tw5ZwCyQIHI/AAAAAAAAGvo/6wFQljccCbE/s72-c/mou.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-2416651439407560686</id><published>2012-01-11T19:47:00.001+07:00</published><updated>2012-01-13T22:41:10.567+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembata'/><title type='text'>Kampung Islam di Lembata</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-G3YCKbGfcFg/TxBPeC_lXiI/AAAAAAAAGxA/TpZm8VtDwBQ/s1600/IMG0041A.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-G3YCKbGfcFg/TxBPeC_lXiI/AAAAAAAAGxA/TpZm8VtDwBQ/s400/IMG0041A.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Belum lama ini (30/12/2011), saya mengunjungi Desa Palilolon, Kecamatan Ileape, Kabupaten Lembata, NTT. Saya ditemani Mama Siti Manuk, adik kandung mendiang mama saya. Palilolon merupakan salah satu dari dua desa muslim di Kecamatan Ileape.&lt;p&gt;Boleh dikata 100% penduduk Palilolon dan Kolipadan, kampung tetangga, beragama Islam. Ini menarik karena warga desa-desa lain di Lembata hampir semuanya Katolik. Di kampung halaman kami memang hanya ada dua agama: Katolik dan Islam. Agama Kristen Protestan atau Pentakosta atau Adven dan sejenisnya tidak ada.&lt;p&gt;Meski berbeda agama, orang Lembata sangat rukun. Ada ikatan kekerabatan yang sangat erat sebagai sesama orang Lamaholot. Bahasa, adat, gaya hidup, pola pikir... tak ada beda.&lt;p&gt;Terletak di antara hutan bakau dengan pasir yang halus, kampung Palilolon ini sebenarnya sangat indah. Orang-orangnya pun sangat ramah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kampung Islam di Lembata dan Flores Timur memang berada di pesisir pantai. Karena itu, orang Islam biasa disebut WATANEN dalam bahasa Lamaholot. WATAN berarti pantai. Sebaliknya, orang Katolik disebut KIWANEN yang artinya orang gunung. Orang WATANEN alias Islam di bumi Lamaholot ini sejak dulu dikenal sebagai pelaut yang ulung. Mereka piawai menyelam di laut yang cukup dalam meski tanpa bantuan peralatan memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama Siti Lebaur kaget bukan main ketika saya nongol di rumahnya. Saat itu tante saya ini sedang membuat jagung titi di dapur. Seakan tak percaya ada &amp;#39;orang Jawa&amp;#39; mampir ke rumahnya.&lt;p&gt;Meski banyak menghasilkan ikan dan rumput laut, dua kampung Islam ini punya masalah air minum. Air tawar tak ada. Air sumurnya malah lebih asin dari air laut di Jawa, begitu guyonan saya. Karena itu, sejak dulu warga harus jalan kaki jauh untuk menimba air sumur.&lt;p&gt;Kalau punya uang bisa beli air tangki yang dijual beberapa pedagang dari Lewoleba. Tapi orang Palilolon enjoy aja dengan krisis air bersih ini.&lt;p&gt;Syukurlah, beberapa tahun lalu ada bantuan bak atau tandon air dari pemerintah. Tandon dipasang di bawah cucuran atap untuk menampung air hujan. Warga pun kini terbiasa minum air hujan dan tak lagi kehausan. Tandon 3000 liter di setiap rumah itu jadi solusi yang mujarab.&lt;p&gt;Sekitar tahun 2000 warga kampung Islam ini sempat kipas-kipas uang. Panen raya rumput laut yang membuat penghasilan mereka jauh lebih banyak ketimbang jadi nelayan atau petani biasa. Anak-anak muda beli motor baru, bisa bangun rumah, beli tv plus parabola.&lt;p&gt;Sayang, sejak 3 tahun terakhir rumput laut ini rusak. Panenan pun sepi. Maka, sebagian warga kembali lagi menggarap ladang jagung yang sempat ditelantarkan selama beberapa tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Langgara kamen data laga gohuk. Heloka nolo hala," kata Mama Siti Lebaur dalam bahasa daerah. Artinya, saat ini budi daya rumput laut sudah rusak. Tidak seperti dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azan magrib pun terdengar. Warga Pailolon, yang baru saja menyaksikan pertandingan bola di kampung tetangga, kalah 1-4, bersiap menunaikan salat. Mesin genset pun dihidupkan untuk menerangi kampung bakau yang sudah mulai gelap. Saya minta diri pulang bersama Mama Siti Kasa sambil membawa oleh-oleh segepok ikan kering dan gurita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-5WJnMI9326s/Tw2SYzMTzaI/AAAAAAAAGvQ/TxhcGS3hVTU/s1600/IMG0036A.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-5WJnMI9326s/Tw2SYzMTzaI/AAAAAAAAGvQ/TxhcGS3hVTU/s400/IMG0036A.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-2416651439407560686?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/2416651439407560686/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/kampung-islam-di-lembata.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/2416651439407560686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/2416651439407560686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/kampung-islam-di-lembata.html' title='Kampung Islam di Lembata'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-G3YCKbGfcFg/TxBPeC_lXiI/AAAAAAAAGxA/TpZm8VtDwBQ/s72-c/IMG0041A.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-7138916803135518734</id><published>2012-01-10T23:24:00.001+07:00</published><updated>2012-01-12T11:15:38.214+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembata'/><title type='text'>Masalah Paduan Suara di Lembata</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-tXP9UHJDHDw/Tw1yhuYfZvI/AAAAAAAAGu4/j851TLN-Eus/s1600/DSCF6026.JPG" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="267" width="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-tXP9UHJDHDw/Tw1yhuYfZvI/AAAAAAAAGu4/j851TLN-Eus/s400/DSCF6026.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Paduan suara malam Natal, 24 Desember 2011, di Gereja Stasi Mawa, Lembata. Terlalu fokus ke teks, kurang perhatikan dirigen. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai mantan aktivis paduan suara mahasiswa dan paduan suara gereja di Jawa Timur, saya selalu menyimak dengan saksama penampilan dan cara bernyanyi paduan suara. Di mana pun. Itu pula yang saya lakukan saat ikut misa malam Natal 2011 di Gereja Mawa, misa Natal kedua di Gereja Waowala, dan misa tahun baru 2012 di Gereja Lewotolok.&lt;p&gt;Mawa, Waowala, dan Lewotolok adalah tiga desa di Kecamatan Ileape, Kabupaten Lembata, NTT. Kampung halaman saya. Jujur, saya terharu dengan semangat anggota kor di Mawa. Mereka sudah menyisihkan waktu untuk berlatih untuk ekaristi malam Natal. Begitu pula kor di Lewotolok yang merupakan gabungan Desa Bungamuda, Lamawara, dan Amakaka.&lt;p&gt;Sayang, masalah klasik sejak saya SD di kampung belum juga teratasi. Yakni teknik vokal atau cara produksi suara yang keliru. Orang-orang kampung masih saja menyanyi dengan suara leher. Cara ini membuat vokal yang keluar tidak bagus. Dan akan sangat sulit ketika membawakan nada tinggi.&lt;p&gt;Tiga paduan suara ini merupakan gambaran kor-kor di Pulau Lembata. Masalah teknis dasar ini terus berulang karena dirigen atau pelatih mengabaikan latihan vokal. Teknik pernapasan, diafragma, suara dada, suara kepala atau falsetto, frasering kurang digarap. Orang-orang kampung biasanya langsung solmisasi dan berlatih lagu baru.&lt;p&gt;Masalah serius di Gereja Lewotolok adalah insetting atau memulai lagu. Kor acapella alias tanpa iringan musik memang tidak gampang. Sang dirigen harus bisa membuat aba-aba yang pas agar semua penyanyi tidak ragu untuk memulai. Insetting memang masalah sangat prinsip dalam paduan suara acapella.&lt;p&gt;Di Lewotolok ini sopran, alto, tenor, bas terasa kurang harmonis. Padahal, saya lihat si dirigen sudah kerja keras. Mungkin kurang latihan!&lt;p&gt;Masalah lain yang cukup mengganggu adalah iringan musik. Kelihatan sekali kalau pemusik di kampung kurang paham musik liturgi. Ritme atau irama mekanis yang disetel di keyboard sangat tidak cocok untuk paduan suara. Belum lagi volume musik yang terlalu keras sehingga menenggelamkan paduan suara. Ini terlihat saat misa Natal kedua di Gereja Lewotolok.&lt;p&gt;Mudah-mudahan Romo Paskalis Hurek, pengurus Seksi Liturgi Keuskupan Larantuka, yang kebetulan orang Mawa, Ileape, mau pulang kampung untuk membenahi kor-kor di kampung. Potensi dan materi vokal sudah bagus, tinggal dipoles sedikit sajalah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-7138916803135518734?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/7138916803135518734/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/masalah-paduan-suara-di-lembata.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/7138916803135518734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/7138916803135518734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/masalah-paduan-suara-di-lembata.html' title='Masalah Paduan Suara di Lembata'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-tXP9UHJDHDw/Tw1yhuYfZvI/AAAAAAAAGu4/j851TLN-Eus/s72-c/DSCF6026.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-8363822731553116567</id><published>2012-01-10T22:42:00.001+07:00</published><updated>2012-01-11T18:38:19.662+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembata'/><title type='text'>Atap Seng di Lembata</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-KotZ0PmoomI/Tw1znbVQEXI/AAAAAAAAGvE/yzlfC0hZdkc/s1600/IMG0071A.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-KotZ0PmoomI/Tw1znbVQEXI/AAAAAAAAGvE/yzlfC0hZdkc/s400/IMG0071A.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Gereja Stasi Tokojaeng, Lembata, yang beratap seng.&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1980-an rumah-rumah di Lembata, khususnya di Kecamatan Ileape, sangat sederhana. Berlantai tanah. Atap daun kelapa atau daun lontar atau alang-alang. Berdinding belahan bambu alias gedhek.&lt;p&gt;Hanya segelintir rumah yang pakai tembok. Itu pun hanya setengah tembok. Bagian atas tetap bambu dengan atap alang-alang. Kapela alias gereja kecil di Mawa dulu pun beratap alang-alang, berdinding bambu, berlantai pasir. Sangat sederhana.&lt;p&gt;Tapi berkat jasa para perantau di Malaysia Timur, rumah-rumah di kampung pelan-pelan dirombak. Dibuat lebih bagus. Ditembok utuh baik itu pakai batako atau batubata maupun dicor. Atapnya pakai SENG, bukan genting, apalagi alang-alang.&lt;p&gt;Seng dianggap jauh lebih tinggi kelasnya ketimbang genting atau alang-alang atau daun kelapa dan daun lontar. Orang yang rumahnya beratap seng dianggap lebih hebat. Maka, seng pun makin populer dan pelan-pelan menggusur alang-alang, daun kelapa atau daun siwalan.&lt;p&gt;Kearifan lokal khas Lamaholot kian tergusur. Ironis, karena suhu udara di Lembata tergolong panas. Angin pantai pun tak mampu mendinginkan suhu di dalam rumah. Ketika panas terik, seng menyerap panas dengan sempurna. Maka, hawa di dalam ruangan pun jadi panas tak karuan. Sudah pasti mandi keringat.&lt;p&gt;Jika turun hujan, wah ributnya bukan main. Seng yang logam itu menimbulkan bunyi aneh. Bikin sengsara kalau hujannya lama pada malam hari saat orang enak-enakny tidur. Tentu saja mereka yang rumahnya pakai atap alang-alang bisa tidur dengan nyenyak.&lt;p&gt;Begitulah. Entah siapa yang memulai, akal sehat di bidang arsitektur sudah lama hilang di Lembata. Orang begitu memuja seng sebagai atap yang tahan lama meski bising dan bikin panas. Maka, ketika bercuti di kampung belum lama ini saya memilih tidur di ORING, pondok sederhana beratap daun kelapa dan daun lontar di luar rumah. Sejuk dan nyaman banget.&lt;p&gt;Saya sempat mengantar ayah ke RSUD Lembata di Lamahora pada 31 Januari 2011. Wuih, rumah sakit baru ini beratap seng. Termasuk lorong-lorongnya yang rendah. Panas nian siang itu! Puanassss!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-8363822731553116567?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/8363822731553116567/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/atap-seng-di-lembata.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/8363822731553116567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/8363822731553116567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/atap-seng-di-lembata.html' title='Atap Seng di Lembata'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-KotZ0PmoomI/Tw1znbVQEXI/AAAAAAAAGvE/yzlfC0hZdkc/s72-c/IMG0071A.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-2173722667731976696</id><published>2012-01-10T14:07:00.001+07:00</published><updated>2012-01-11T17:40:02.637+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembata'/><title type='text'>Lango Beruin yang Merana</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-iX8yJ7Gz4RA/TwwYrE6vQ4I/AAAAAAAAGuQ/0X40Ii2JERM/s1600/IMG0058A.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-iX8yJ7Gz4RA/TwwYrE6vQ4I/AAAAAAAAGuQ/0X40Ii2JERM/s400/IMG0058A.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sejak acara pesta kacang pada 2008 tak ada lagi aktivitas di Napaulun atau kampung lama kami di Ileape, Pulau Lembata, NTT. Tidak heran rumah-rumah adat atau lango beruin yang terkenal itu sangat merana.&lt;p&gt;Saya sempat mampir ke beberapa rumah adat akhir Desember 2011. Bahkan sempat tidur di salah satu rumah adat saat hujan. Kondisinya sangat memprihatinkan.&lt;p&gt;Atap dari daun kelapa dan daun lontar (siwalan) sudah bolong-bolong. Balai-balai bambu rusak. Rumput dan tetanaman liar tumbuh tak karuan. Pertanda orang-orang di kampung pun tak pernah sekadar mampir berteduh. Selama hampir tiga tahun.&lt;p&gt;Namang atau halaman utama tempat atraksi dolo-dolo, oha, seni tradisional Lamaholot pun dipenuhi daun-daun kering. Tapi prasasti yang ditandatangani Bupati Lembata Andreas Duli Manuk masih bagus. Begitu pula beberapa rumah adat yang dibuat lebih modern di samping namang.&lt;p&gt;Mengapa rumah adat di Lembata sangat parah kondisinya? Padahal biaya perawatan tergolong sangat murah? Ini pertanyaan yang sulit dijawab. Ini masalah kita bersama sebagai orang Lamaholot yang makin modern dan makin jauh dari lango beruin, asal muasal kita.&lt;p&gt;Yang jelas, rumah-rumah itu tak berpenghuni. Jauh dari kampung atau permukiman warga. Hanya satu dua orang yang sempat melintas, itu tak sempat mampir, apalagi mau sedikit capek untuk mencabut rumput-rumput liar.&lt;p&gt;Andai saja setiap suku seperti Hurek, Manuk, Wahon, Nimanuho... punya petugas khusus yang memelihara rumah adat, alangkah bagusnya. Tentu saja harus disiapka uang lelah atau semacam honor bulanan. &lt;p&gt;Kurang elok rasanya kalau rumah adat itu baru diperhatikan kalau ada pesta kacang yang jadwalnya tidak menentu. Tanpa perawatan rutin, maka infrastruktur jalan tembus ke Napaulun yang dibuat pada era Bupati Ande Manuk menjadi sia-sia. Padahal, pemkab ingin menjadikan rumah-rumah adat dan kampung lama itu sebagai objek wisata budaya di Lembata. &lt;p&gt;Bagaimana mau menarik wisatawan kalau kita sendiri sebagai pemilik lango beruin alias rumah adat menelantarkan warisan budaya kita sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-UvecEJp-e6g/TwwZMNgb00I/AAAAAAAAGuc/vnp4mA0kU14/s1600/IMG0052A.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-UvecEJp-e6g/TwwZMNgb00I/AAAAAAAAGuc/vnp4mA0kU14/s400/IMG0052A.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-2173722667731976696?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/2173722667731976696/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/lango-beruin-yang-merana.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/2173722667731976696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/2173722667731976696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/lango-beruin-yang-merana.html' title='Lango Beruin yang Merana'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-iX8yJ7Gz4RA/TwwYrE6vQ4I/AAAAAAAAGuQ/0X40Ii2JERM/s72-c/IMG0058A.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-4145249952112036453</id><published>2012-01-10T13:31:00.001+07:00</published><updated>2012-01-13T22:40:12.683+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembata'/><title type='text'>Jagung Titi Bikin Kangen Kampung</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-ZbC7-PClCVk/TxBQTmj--eI/AAAAAAAAGxM/VuwklenJK3I/s1600/titi.JPG" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="205" width="321" src="http://3.bp.blogspot.com/-ZbC7-PClCVk/TxBQTmj--eI/AAAAAAAAGxM/VuwklenJK3I/s400/titi.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Jagung titi atau emping jagung. Camilan sederhana ini punya makna khusus bagi orang Lamaholot (Lembata, Adonara, Solor, Flores Timur daratan dan Alor). Lebih-lebih bagi para perantau di Jawa.&lt;p&gt;Karena itu, ketika kembali cuti di kampung, jagung titi menjadi oleh-oleh pertama dan utama. Beli sana-sini, minta sana-sini... sudah cukup untuk satu tas besar. Maka bagasi saya pun lebih banyak dimuati jagung titi.&lt;p&gt;Tahu kalau saya baru kembali dari Lembata, beberapa teman Lamaholot pun langsung pesan wata kenanen alias jagung titi. Tak perlu oleh-oleh lain yang mahal dan berat. Cukup jagung titi beberapa genggam.&lt;p&gt;Saya pun keliling Surabaya, Sidoarjo, Malang hanya untuk mengantar jagung titi. Capek sudah pasti. Tapi mereka antusias dan sangat berterima kasih begitu menerima jagung titi yang tidak banyak itu.&lt;p&gt;Saya sendiri pun meski sudah terlalu lama di Jawa Timur, selalu rindu jagung titi. Mencicipi jagung lempeng yang dititi dengan batu ini, saya pun teringat kampung halaman. Ingat mama-mama, kaka ari di Lewotanah yang bekerja keras di ladang jagung. Ingat bagaimana mama-mama begitu cekatan memungut butir-butir jagung panas untuk dilempengkan hingga pipih.&lt;p&gt;Karena itu, bagi orang Lamaholot di perantauan, jagung titi bukan makanan atau camilan biasa. Ia punya makna kultural, nostalgia, membawa simbol budaya Lamaholot yang khas. &lt;p&gt;Dengan makan jagung titi, orang Lamaholot seakan-akan diingatkan untuk tidak lupa kampung halaman. Lebih baik hujan batu di Lewotanah daripada hujan emas di negeri orang. Maka, jika ada orang Lamaholot yang merantau di Jawa atau Malaysia tak pulang-pulang bisa jadi karena dia sudah tidak pernah makan jagung titi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-4145249952112036453?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/4145249952112036453/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/jagung-titi-makanan-khas-lamaholot.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/4145249952112036453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/4145249952112036453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/jagung-titi-makanan-khas-lamaholot.html' title='Jagung Titi Bikin Kangen Kampung'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-ZbC7-PClCVk/TxBQTmj--eI/AAAAAAAAGxM/VuwklenJK3I/s72-c/titi.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-5446114034471819935</id><published>2012-01-08T20:54:00.001+07:00</published><updated>2012-01-11T17:40:18.723+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tionghoa'/><title type='text'>Chandra Wurianto Penggerak Barongsai</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-y9augpoGL4g/TwpFxIklnSI/AAAAAAAAGts/QrJhGsk7MIk/s1600/Chandra%2Bbarongsai.JPG" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="396" width="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-y9augpoGL4g/TwpFxIklnSI/AAAAAAAAGts/QrJhGsk7MIk/s400/Chandra%2Bbarongsai.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Oleh Lambertus Hurek &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang Tahun Baru Imlek ini, berbagai atraksi seni budaya Tionghoa bisa dinikmati di Surabaya. Salah satunya kejuaraan barongsai lantai di atrium ITC Mega Grosir. Kejuaraan tahunan yang sangat meriah ini tak lepas dari peran Chandra Wurianto, ketua Persatuan Seni dan Olahraga Barongsai Indonesia (Persobarin) Jawa Timur. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chandra jugalah yang menghidupkan kembali barongsai di Surabaya setelah mati suri selama 30 tahun lebih. Berikut petikan percakapan Radar Surabaya dengan Chandra Wurianto di sela kejuaraan barongsai ITC Cup IV, kemarin (7/1/2011).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana perkembangan barongsai di Jatim dalam 10 tahun terakhir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luar biasa. Peminatnya sangat banyak dan tersebar di berbagai kabupaten/kota. Begitu banyak anak-anak yang ikut berlatih barongsai, padahal sebelumnya mereka tidak kenal olahraga dan kesenian ini. Anda bisa lihat di kejuaraan barongsai lantai ITC Cup ini saja pesertanya ada 74 tim. Saya kira ini merupakan salah satu kejuaraan barongsai terbesar dan paling teratur di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya pemain-pemain barongsai pascareformasi didominasi anak-anak dan remaja non-Tionghoa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ini yang sangat membanggakan kami sebagai pengurus Persobarin. Barongsai dan liang-liong memang kesenian Tionghoa, tapi bisa dimainkan siapa saja dari etnis, ras, agama apa pun. Bahkan, barongsai ini sudah masuk dan dimainkan di beberapa pesantren di tanah air. Pada kejuaraan liang-liong tahun lalu ada sebuah tim yang hampir semua pemainnya pakai jilbab. Dan, supaya diketahui, barongsai ini olahraga yang tidak mengenal perbedaan gender atau usia. Laki-laki perempuan, anak-anak, remaja, dewasa, atau lansia bisa ikut kejuaraan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah berapa kali Anda menggelar kejuaraan barongsai seperti ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat sering, khususnya setelah almarhum Gus Dur mencabut Inpres Nomor 14 Tahun 1967 ketika beliau menjabat presiden Republik Indonesia. Jadi, jasa Gus Dur itu sangat besar dalam perkembangan seni budaya Tionghoa di Indonesia. Kami bahkan pernah mengadakan kejuaraan dunia barongsai di Kenjeran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama empat tahun terakhir kami bekerja sama dengan ITC untuk mengadakan kejuaraan barongsai dan liang-liong di Surabaya. Ini sudah jalan empat tahun dan menjadi agenda tetap untuk menyambut tahun baru Imlek. Nanti bulan Mei akan ada kejuaraan barongsai Wali Kota Cup untuk memeriahkan hari jadi Kota Surabaya. Kemudian akan ada kejuaraan liang-liong atau lion dance untuk memeriahkan Hari Pahlawan. Jadi, dalam setahun kami sudah punya tiga agenda kejuaraan rutin di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dikatakan Surabaya menjadi salah satu barometer barongsai di tanah air?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persis. Sebab, organisasi barongsai bernama Persobarin ini kan lahir di Surabaya. Sejak awal Persobarin pusat dipimpin oleh Pak Dahlan Iskan sampai sekarang. Selama dipimpin Pak Dahlan barongsai ini berkembang pesat di seluruh penjuru tanah air. Makanya, pada kongres di Jakarta akhir tahun lalu Pak Dahlan dipilih kembali secara aklamasi sebagai ketua umum Persobarin. Nah, kami sebagai pengurus daerah berkewajiban untuk menghidupkan kegiatan barongsai secara teratur di Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggelar kejuaraan tingkat nasional tentu membutuhkan biaya besar dan dukungan sponsor. Selama ini Anda mendapat bantuan dari mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, dari teman-teman pengusaha, khususnya Paguyuban Masyarakat Tionghoa dan manajemen ITC Mega Grosir. ITC menyediakan tempat sehingga kami bisa mengadakan kejuaraan secara teratur. Para pengunjung juga senang karena bisa menikmati hiburan gratis. Dukungan juga datang dari Pemkot Surabaya sehingga kami bisa menggelar kejuaraan baongsai tonggak Wali Kota Cup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mengapa tim barongsai Jatim sulit bersaing dengan Tarakan dan Jakarta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarakan itu didukung penuh oleh donatur besar dan pemerintah daerah. Mereka sering ikut kejuaraan internasional di Malaysia karena memang secara geografis sangat dekat. Tapi kualitas tim-tim Surabaya dan Jatim pun makin lama makin bagus. Kita makin sadar bahwa sekarang ini sudah waktunya untuk meningkatkan prestasi dan kualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa program konkret Anda di tahun 2012 ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin menjadikan tahun 2012 ini sebagai tahun prestasi. Makanya, mulai tahun ini kita akan sering ke luar negeri untuk ikut kejuaraan internasional. Kita sudah siapkan pemain-pemain untuk berlaga di Malaysia, Hongkong, Tiongkok, Makau. Kalau hanya bermain di dalam negeri, nanti dibilang cuma jago kandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah pemain-pemain kita sudah siap?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, harus siap. Mereka kan sudah sering mengikuti kejuaraan-kejuaraan di tanah air dengan aturan internasional. Jadi, saya rasa pemain-pemain kita bisa mengharumkan nama Indonesia lewat barongsai di luar negeri. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-9N423YJFXiE/Twmg71FcAGI/AAAAAAAAGtg/vzrygBkY8-g/s1600/Chandra%2Bbarongsai%2B%25284%2529.JPG" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-9N423YJFXiE/Twmg71FcAGI/AAAAAAAAGtg/vzrygBkY8-g/s400/Chandra%2Bbarongsai%2B%25284%2529.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Main Barongsai Sembunyi-Sembunyi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KECINTAAN Chandra Wurianto pada barongsai tidak datang tiba-tiba. Sejak masih anak-anak di tanah kelahirannya, Samarinda, Kalimantan Timur, Chandra mengaku sudah menggeluti seni dan olahraga asal Tiongkok itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya ini dulu memang pemain barongsai. Saya ikut latihan barongsai hampir setiap hari," kata Chandra Wurianto kepada saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, pada era 1960-an kehidupan barongsai di berbagai daerah di tanah air sangat semarak. Selain mengisi acara-acara yang berhubungan dengan hari-hari besar Tionghoa, kejuaraan barongsai dan liang-liong pun sering diadakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tim barongsai dari Kalimantan Timur cukup sering memenangi kejuaraan baik di tingkat regional maupun nasional. Sampai sekarang pun tim barongsai Kaltim, khususnya dari Tarakan, masih merajai kejuaraan nasional barongsai. Ini tak lepas dari banyaknya bibit pemain dan proses regenerasi yang teratur di Kaltim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ketika berusia 17 tahun, Chandra memilih merantau ke Surabaya. Pilihan yang terbilang 'nekat' ini dia lakukan untuk memperbaiki kehidupan ekonominya. Sejak itulah dia mulai menjauh dari dunia barongsai dan tenggelam dalam urusan pekerjaan. "Saya ini shio macan. Orang yang berjuang keras untuk tetap eksis dalam hidup," kata pria yang murah senyum ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya juga pemain barongsai, Chandra kemudian merintis sasana barongsai di Surabaya. Mengumpulkan anak-anak muda untuk berlatih dan sekali-sekali pentas. Hanya saja, di era Orde Baru itu atraksi barongsai dan berbagai seni budaya Tionghoa tidak bisa dimainkan secara bebas di tempat terbuka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita hanya main sembunyi-sembunyi di lingkungan terbatas. Situasi saat itu memang tidak memungkinkan," kenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurlah, reformasi politik kemudian membawa angin segar bagi seni budaya Tionghoa. Khususnya ketika Presiden Abdurrahman Wahid (almarhum) mencabut Inpres Nomor 14 Tahun 1967 yang selama tiga dasawarsa mengekang ekspresi budaya Tionghoa. Chandra bersama Yayasan Senopati pun mengisi momentum bersejarah ini dengan menghidupkan kembali barongsai yang mati suri sekian lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi, kita yang pertama kali mempopulerkan kembali barongsai di Surabaya," katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan itu saja. Bersama sejumlah tokoh masyarakat Tionghoa dan Dahlan Iskan, yang waktu itu chairman Jawa Pos Group, Chandra ikut mendirikan Persatuan Seni dan Olahraga Barongsai Indonesia (Persobarin). Maka, sejak itulah barongsai makin menggeliat di berbagai kota di tanah air. Chandra pun bangga karena olahraga kegemarannya semasa kecil kini dipentaskan di mana-mana. (rek) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-E-sU70q2Mno/TwmgXTav9-I/AAAAAAAAGtI/bZMQ4rDTml8/s1600/Chandra%2Bbarongsai%2B%25282%2529.JPG" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-E-sU70q2Mno/TwmgXTav9-I/AAAAAAAAGtI/bZMQ4rDTml8/s400/Chandra%2Bbarongsai%2B%25282%2529.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;CV SINGKAT CHANDRA WURIANTO &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama : Chandra Wurianto &lt;br /&gt;Lahir : Samarinda, 27 Agustus 1950&lt;br /&gt;Shio : Macan &lt;br /&gt;Anak : 2 orang&lt;br /&gt;Pekerjaan : Pengusaha perkapalan dan ekspedisi &lt;br /&gt;Jabatan : Ketua Persatuan Seni dan Olahraga Barongsai Indonesia (Persobarin) Jawa Timur &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi &lt;br /&gt;Persobarin&lt;br /&gt;Yayasan Senopati &lt;br /&gt;Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya&lt;br /&gt;Perhimpunan Pengusaha Indonesia Tionghoa (Perpit) Jatim &lt;br /&gt;Yayasan HM Cheng Hoo Indonesia  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIMUAT RADAR SURABAYA, Minggu 8 Januari 2011&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-5446114034471819935?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/5446114034471819935/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/chandra-wurianto-penggerak-barongsai.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5446114034471819935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5446114034471819935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/chandra-wurianto-penggerak-barongsai.html' title='Chandra Wurianto Penggerak Barongsai'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-y9augpoGL4g/TwpFxIklnSI/AAAAAAAAGts/QrJhGsk7MIk/s72-c/Chandra%2Bbarongsai.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-2831332029827113272</id><published>2012-01-06T18:00:00.001+07:00</published><updated>2012-01-11T17:40:47.465+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembata'/><title type='text'>Sepeda Hilang di Lembata</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-HlOvILYD-IM/TwfFi4es_CI/AAAAAAAAGsw/7Umw9kGu-jk/s1600/atawatung.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-HlOvILYD-IM/TwfFi4es_CI/AAAAAAAAGsw/7Umw9kGu-jk/s400/atawatung.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ada yang janggal di Pulau Lembata, NTT. Ketika di kota-kota besar sedang demam sepeda, orang lembata, khususnya Ileape, justru menghilangkan budaya bersepeda.&lt;p&gt;Saat melintas dari jalan raya Lewoleba ke Bungamuda pekan lalu, saya sama sekali melihat orang naik sepeda. yang ada hanya ojek motor atau satu dua mobil. Atau beberapa orang jalan kaki sambil menjunjung barang di kepala.&lt;p&gt;Ke mana sepeda-sepeda yang sangat marak sebelum 1990-an itu? &lt;p&gt;Tidak jelas. Dua sepeda ontel di rumah saya pun entah ke mana. Orang-orang lama yang dulu merintis gerakan bersepeda, termasuk bapak saya, sudah lama gantung sepeda.&lt;p&gt;Kayaknya hanya Ama Gaba Gilo dan Ama Daniel Benikakan yang masih setia bersepeda. Maka, jalanan pun bersih dari sepeda angin.&lt;p&gt;Hilangnya sepeda di Lembata jelas ironi besar. Sebab, saat ini jalan-jalan sudah mulus dan rata ketimbang tahun 1980-an yang tidak karuan. Ketika masih SD di Mawa, saya selalu ke mana-mana pakai sepeda. Bahkan ngontel jauh ke Lewoleba sejauh 50 km pergi pulang.&lt;p&gt;Ironi lain: harga bensin di Lembata saat ini sangat mahal. Sekitar Rp 10.000, Padahal harga asli hanya Rp 4.500. Tarif ojek pun jadi sangat mahal. &lt;p&gt;Mengapa tidak naik sepeda saja untuk jarak 5 atau 8 km? &lt;p&gt;Mungkin Bupati Yance Sunur dan Wakil Bupati Viktor Mado Watun mulai menggalakkan kembali gerakan bersepeda sehat di seluruh Lembata.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-2831332029827113272?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/2831332029827113272/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/sepeda-hilang-di-lembata.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/2831332029827113272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/2831332029827113272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/sepeda-hilang-di-lembata.html' title='Sepeda Hilang di Lembata'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-HlOvILYD-IM/TwfFi4es_CI/AAAAAAAAGsw/7Umw9kGu-jk/s72-c/atawatung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-5233508215387328919</id><published>2012-01-06T08:49:00.000+07:00</published><updated>2012-01-11T17:41:05.248+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembata'/><title type='text'>Orang Lembata Makan Raskin</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-DD5spcix7gY/TwfC2isAx-I/AAAAAAAAGsk/6cuE6EBfbjE/s1600/raskin.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="260" width="330" src="http://4.bp.blogspot.com/-DD5spcix7gY/TwfC2isAx-I/AAAAAAAAGsk/6cuE6EBfbjE/s400/raskin.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Saat mudik di Pulau Lembata, NTT, pekan lalu saya ingin sekali makan jagung. bukan nasi dari beras putih. Saya juga ingin ubi-ubian. Nostalgia ala masa kecil di kampung dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, keinginan sederhana itu tak bisa terpenuhi. saat ini tak ada hidangan jagung di meja makan. Jagung titi pun harus cari di tetangga sebelah. Bahkan, saya lihat pasien diabetes pun makan beras putih, padahal dianjurkan makan jagung yang kuning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya kultur konsumsi di Lembata, juga Flores umumnya, sudah berubah. Politik beras perlahan-lahan mengubah selera masyarakat.Ironis, karena tanah dan air di Lembata tak memungkinkan budidaya padi sawah, kecuali di kawasan Waikomo atau Wairiang dan beberapa daerah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsumsi beras makin masif gara-gara pemerintah menggelontor raskin: beras untuk rakyat miskin. Ketika Lembata dan beberapa daerah di NTT kelaparan, raskin dikirim ke kampung-kampung. Nyaris gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup dengan 1000 atau 2000 orang sudah dapat raskin. Jauh lebih mahal ketimbang jagung yang 5000 per kg. Sampai sekarang pun raskin jadi favorit orang Lembata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makan jagung itu zaman dulu. Kita sekarang kan sudah maju," kata seorang anak muda 20-an tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketergantungan rakyat Lembata pada beras, meski kualitas terjelek, jelas sangat berbahaya. Produksi jagung akan mandek. Dan orang akan terus membeli, membeli, dan membeli karena lembata tak akan mungkin berswasembada beras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Pak Frans Lebu Raya, gubernur NTT? Cita-cita menjadikan ntt provinsi jagung bakal meleset jika rakyat makin kecanduan raskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun kembali ke surabaya karena jatah cuti sudah habis. Tanpa pernah menikmati sepiring jagung.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-5233508215387328919?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/5233508215387328919/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/orang-lembata-makan-raskin.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5233508215387328919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5233508215387328919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/orang-lembata-makan-raskin.html' title='Orang Lembata Makan Raskin'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-DD5spcix7gY/TwfC2isAx-I/AAAAAAAAGsk/6cuE6EBfbjE/s72-c/raskin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-2352566232539847320</id><published>2012-01-05T17:54:00.002+07:00</published><updated>2012-01-13T10:56:27.519+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembata'/><title type='text'>Gunung Lewotolok Meletus setelah 100 Tahun</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-hRfyb7sSr6M/Tw-p9bjw3kI/AAAAAAAAGwE/W6_LV0P1HkM/s1600/ile%2Bape.JPG" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="170" width="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-hRfyb7sSr6M/Tw-p9bjw3kI/AAAAAAAAGwE/W6_LV0P1HkM/s400/ile%2Bape.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Gunung Lewotolok alias ILEAPE dipotret dari pesawat Susi Air pada 2 Januari 2012. (foto: Lambertus Hurek).&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaget juga membaca di internet bahwa GUNUNG LEWOTOLOK di Kecamatan Ileape, Kabupaten Lembata, NTT, dinyatakan siaga per 2 Januari 2012. Khawatir segera erupsi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, ketika saya berada di sana, kampung saya persis di Gunung Lewotolok ini, tidak ada yang aneh. Cuma hawa terasa jauh lebih panas dari biasanya meski sudah hujan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 1 Januari 2012 saya ikut misa tahun baru di Gereja Lewotolok bersama masyarakat Desa Lewotolok, Lamawara, dan Bungamuda. Masyarakat tiga desa itu memang bergabung dengan Gereja Lewotolok yang cukup terkenal di Pulau Lembata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung LEWOTOLOK (pakai K), bukan LEWOTOLO (seperti sering ditulis di media massa nasional),  sudah 92 tahun tidak meletus. Warga bahkan menganggap sudah mati. Tak akan meletus lagi. Aman-aman saja. Meskipun asap belerang muncul setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika gunung-gunung tetangga bergolak seperti Ile Boleng, Labalekan, atau  Lewotobi bergolak,  Lewotolok tenang-tenang saja. Maka, saya juga kaget gunung yang jadi ikon Kecamatan Ileape ini mulai batuk-batuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berada di atas pesawat Susi Air, 2 Januari 2012, tiba-tiba saya tergerak untuk menjepret Gunung Lewotolok yang lebih populer dengan sebutan ILE APE (ile = gunung, ape = api), dengan kamera poket. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, buat kenang-kenangan sudah pulang kampung pakai pesawat Susi Air. Hehehe.... Biar selalu ingat kampung halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baca di laman Tempo, Pak Surono dari Vulkanologi minta warga Ileape waspada. Siap mengungsi kapan saja aktivitas gunung meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan status siaga ini tidak berlangsung lama. Di musim hujan ini warga Ileape sedang sibuk bekerja di ladang jagung.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-2352566232539847320?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/2352566232539847320/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/gunung-lewotolik-meletus-setelah-100.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/2352566232539847320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/2352566232539847320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/gunung-lewotolik-meletus-setelah-100.html' title='Gunung Lewotolok Meletus setelah 100 Tahun'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-hRfyb7sSr6M/Tw-p9bjw3kI/AAAAAAAAGwE/W6_LV0P1HkM/s72-c/ile%2Bape.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-5565587297110232522</id><published>2012-01-04T17:59:00.001+07:00</published><updated>2012-01-07T10:59:18.075+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sidoarjo'/><title type='text'>Prof Hardi Prasetyo Pemikir BPLS</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-dcCGLy7wch4/TwQx3bQJytI/AAAAAAAAGrc/VYR6jP1VTlM/s1600/DSCN1297.JPG" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-dcCGLy7wch4/TwQx3bQJytI/AAAAAAAAGrc/VYR6jP1VTlM/s320/DSCN1297.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Oleh LAMBERTUS HUREK &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) dibentuk pada pertengahan 2007, Prof Dr Ir Hardi Prasetyo selalu berada di kawasan semburan lumpur di Porong, Sidoarjo. Bersama para petugas BPLS, profesor lulusan Amerika Serikat ini sibuk mencatat dan menganalisis berbagai perkembangan yang terkait dengan semburan Lumpur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, wakil ketua badan pelaksana BPLS ini punya tugas tambahan baru di Pulau Sarinah, pulau buatan hasil reklamasi yang dilakukan BPLS. Wartawan Radar Surabaya sempat menemui Prof Hardi Prasetyo di Pulau Sarinah, pekan lalu. Berikut petikan wawancara khusus dengan mantan dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Pajajaran Bandung ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa pulau buatan BPLS ini dinamakan Pulau Sarinah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, BPLS tidak pernah memberikan nama. Yang memberi nama itu kan masyarakat setempat, kemudian dipubliksan di media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sebetulnya konsep pembuatan pulau ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, ini tidak lepas dari tugas BPLS untuk menanggulangi lumpur Sidoarjo. Sejak 8 April 2007 BPLS resmi menggantikan Lapindo Brantas Inc. Sebagian air lumpur itu kami alirkan melalui Sungai Porong untuk selanjutnya ke laut. Nah, itu semua harus dipantau dan dikendalikan. Salah satu caranya adalah membuat sebuah pulau seperti ini. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sendiri meminta agar sebisa mungkin (Lumpur) ini bisa dimanfaatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengerukan dan pengurukan apa masih dilakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang sudah selesai. Dulu ada empat kapal (yang mengeruk dan kemudian menguruk hasil kerukunan untuk dijadikan pulau). Maka, sekarang kami tinggal mengembangkan lahan yang sudah ada ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa luas Pulau Sarinah ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 80 hektare. Kalau jalan kaki dari ujung ke ujung cukup lama juga. Tapi saya suka jalan keliling untuk melihat kondisi di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep pengembangan pulau ini seperti apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsepnya wanamina, hutan yang dikombinasikan dengan perikanan. Penanaman bakau (mangrove) sudah dilakukan, begitu pula dengan perikananya. Tapi bakau-bakaunya belum besar. Dalam beberapa tahun ke depan, setelah bakau-bakaunya besar, wanamina ini sudah bisa teralisasi dalam satu sistem. Kami bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Di sini ikannya bandeng. Yang paling penting itu bagaimana kita melancarkan jalan sungai dan membantu komunitas nelayan di sekitar sini. Pulau ini jadi semacam tempat perlindungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi selama ini orang berdatangan ke sini karena menganggap Pulau Sarinah sebagai tempat wisata?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, itu alamiah saja. Silakan kalau warga mau datang ke sini. Sebagai lembagai pemerintah, kami dari BPLS siap menerima. Ingat, BPLS ini bukan bagian dari Lapindo, melainkan pemerintah. Anggarannya dari APBN, uang rakyat. Saya perlu menegaskan hal ini karena ada pendapat yang salah seolah-olah BPLS itu identik dengan Lapindo. Kami ini bagian dari pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah BPLS menempatkan petugasnya secara rutin di sini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami punya pos pantau yang melakukan pemantauan setiap hari. Divisi operasi ada sembilan orang yang melakukan pemantauan, pencatatan, kemudian membuat laporan. Jadi, semua perkembangan yang menyangkut lumpur Sidoarjo selalu kami ikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai staf ahli menteri yang biasa bekerja di Jakarta, apa Anda tidak merasa kesepian bertugas di tempat terpencil seperti sekarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehe... tidak. Ini sudah menjadi bagian dari tugas dan panggilan hidup saya. lagi pula, di sini saya banyak didatangi ahli-ahli dari luar negeri seperti dari Arizona, Amerika Serikat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau akses jalan ke Tlocor, yang mulus, dermaga nelayan, kemudian monumen itu dibuat BPLS juga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Dan itu merupakan bagian dari upaya BPLS dalam mengendalikan dan memantau aliran lumpur. Jalan raya itu suatu saat nanti akan diserahkan kepada pemerintah daerah. Begitu juga dermaga untuk pengembangan ekonomi masyarakat nelayan. Monumen itu memang sebagai simbol untuk mencintai dan melestarikan lingkungan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan sebagian pendapat bahwa lumpur itu bisa membuat ikan-ikan mati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sama sekali tidak benar. Buktinya, ikan-ikan yang kami budidayakan di sini sehat-sehat dan besar-besar. karena itu, sistem wanamina yang dikembangkan di pulau ini sekaligus menjadi bukti untuk membantah pendapat-pendapat negatif seperti itu. (rek)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Tentang Prof Hardi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama : Prof Dr Ir Hardi Prasetyo&lt;br /&gt;Lahir/Usia : Jogjakarta, 66 tahun&lt;br /&gt;Jabatan : Wakil Kepala Badan Pelaksana BPLS&lt;br /&gt;Hobi : Bersepeda, jalan &lt;br /&gt;Alamat : Gayung Kebonsari 50 Surabaya 60235&lt;br /&gt;Telepon : 031 8285746 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan terakhir : University of California Los Angeles (UCLA), USA&lt;br /&gt;Kompetensi : Research Professor in Earch Sciences &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karir :&lt;br /&gt;Dosen ITB, Unpad, dan seju&lt;/b&gt;mlah perguruan tinggi&lt;br /&gt;Staf Ahli Menteri ESDM &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-fs1h3PqFA2M/TwQxe10NGjI/AAAAAAAAGrQ/cTXKfKopaBM/s1600/OKE%2Bhardi%2BBPLS.JPG" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-fs1h3PqFA2M/TwQxe10NGjI/AAAAAAAAGrQ/cTXKfKopaBM/s320/OKE%2Bhardi%2BBPLS.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar Pancasila di Amerika &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROF Dr Ir Hari Prasetyo sangat terkesan ketika mengambil program doktor di UCLA (University of California Los Angeles), Amerika Serikat. Begitu banyak hal yang sebetulnya sederhana, tapi sangat fundamental yang bisa dia pelajari dari negara Abang Sam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya soal kejujuran. Sejak kecil anak-anak dilatih untuk jujur kepada diri sendiri, orangtua, guru, dan siapa saja. Karena itu, tidak ada pelajar atau mahasiswa yang mencontek atau mencontoh pekerjaan temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita di Indonesia kan sudah biasa nyontek. Nah, di Amerika tidak ada satu mahasiswa pun yang melakukan itu," kenangnya seraya tertawa kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, saat ujian tiba, tidak perlu ada pengawasan yang ketat. Guru atau dosen hanya bertugas membagikan soal untuk digarap peserta ujian. Si pengawas itu pun dengan enteng meninggalkan kelas atau membaca buku. Semua siswa sibuk mengerjakan soalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejujuran ini akhirnya menjadi budaya masyarakat di hampir semua bidang. Tak ada skripsi atau disertasi jiplakan. Bahkan, software bajakan tidak laku karena semua orang hanya membeli perangkat lunak yang legal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ada anak-anak muda di sana yang meng-copy software. Mereka sangat menghargai hak cipta dan kejujuran," tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi yang dikagumi Hardi dari Amerika di bidang keadilan sosial. &lt;br /&gt;Ketika kuliah di UCLA, Hardi memboyong dua anaknya ke sana. Mereka tentu saja harus bersekolah. Hardi sempat bingung karena duitnya pas-pasan. Betapa kagetnya dia karena ternyata negara sudah punya sistem untuk meng-cover biaya pendidikan rakyatnya. Kedua anak Hardi pun bisa menempuh pendidikan di sekolah bermutu. Gratis pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makanya, saya sering bilang bahwa saya justru belajar pancasila di amerika serikat. Nilai-nilai Pancasila itu sebenarnya sudah dilaksanakan di sana," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran lain yang penting, menurut dia, anak-anak Amerika sejak kecil sudah dibiasakan untuk membuat diari atau catatan. kegiatan harian dicatat. Termasuk mencatat uang yang dipakai belanja. "Membeli apa saja, meskipun nilainya kecil, selalu dicatat anak-anak," tutur Hardi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kebiasaan ini akhirnya terbawa ketika mereka dewasa. orang-orang amerika pun menjadi sangat lancar menulis atau membuat laporan. Pakar-pakar USA yang datang meninjau semburan lumpur di sidoarjo, misalnya, menurut Hardi, secara otomatis membuat laporan dari waktu ke waktu. Kebiasaan ini yang kurang tampak dalam diri orang Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, Hardi selalu berpesan kepada para pelajar untuk selalu membiasakan diri melakukan field trip atau studi lapangan. (rek)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-5565587297110232522?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/5565587297110232522/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/prof-hardi-prasetyo-pemikir-bpls.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5565587297110232522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5565587297110232522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/prof-hardi-prasetyo-pemikir-bpls.html' title='Prof Hardi Prasetyo Pemikir BPLS'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-dcCGLy7wch4/TwQx3bQJytI/AAAAAAAAGrc/VYR6jP1VTlM/s72-c/DSCN1297.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-821193787154588947</id><published>2012-01-04T17:41:00.001+07:00</published><updated>2012-01-07T10:59:34.935+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gereja'/><title type='text'>Lanny Chandra dan Pelita Kasih</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-e4A444RHylU/TwQyvMzWnCI/AAAAAAAAGro/rJWE9daMrTg/s1600/Lanny%2Bchandra%2B%25281%2529.JPG" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-e4A444RHylU/TwQyvMzWnCI/AAAAAAAAGro/rJWE9daMrTg/s320/Lanny%2Bchandra%2B%25281%2529.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh LAMBERTUS HUREK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lingkungan Rutan Medaeng, Lanny Chandra menjadi sosok yang sangat populer. Sebagian besar tahanan dan terpidana, khususnya yang kristiani, mengenal wanita berkacamata ini. Saat perayaan Natal bersama di Rutan Medaeng, pekan lalu, para tahanan ramai-ramai menjabat tangan Lanny Chandra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya di Rutan Medaeng, Lanny bersama timnya melakukan pelayanan ke Lapas Porong, Lapas Pamekasan, Lapas Lowokwaru, Lapas Pasuruan, serta beberapa lapas dan rumah tahanan kepolisian di Jawa Timur. Berikut petikan percakapan Radar Surabaya dengan Lanny Chandra, ketua Yayasan Pelita Kasih Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah berapa tahun Anda melakukan pelayanan ke penjara dan rutan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah 15 tahun, sebentar lagi 16 tahun. Karena terlalu asyik pelayanan, saya sendiri kaget ternyata sudah cukup lama saya terlibat dalam aktivitas pelayanan seperti ini. Kalau kita jalani hari-hari kita bersama Tuhan, maka segala sesuatunya menjadi indah. kita akan tetap punya semangat untuk terus melakukannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Anda setia melayani napi-napi yang sama sekali tidak ada hubungan keluarga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, itulah yang dinamakan pelayanan. Saya hanya punya keinginan untuk memenangkan jiwa-jiwa di dalam penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang ditahan di rutan atau lembaga pemasyarakatan (lapas) ini kan punya masalah hukum, masalah keluarga, masalah ekonomi dan sebagainya. Banyak narapidana yang tidak pernah dikunjungi keluarganya. Bahkan, mungkin sudah putus hubungan dengan keluarga. Ada tahanan dari Malaysia atau Tiongkok. Siapa yang harus mengunjungi mereka? Maka, kita datang menjadi sahabat atau keluarga mereka. Jadi tempat curhat, kita usahakan jalan keluar. Bahkan, kita juga bantu mengurus pemakaman kalau ada tahanan atau napi yang meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai mengurus pemakaman segala?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sih sudah sering ditangani Pelita Kasih. Kita kerja sama dengan berbagai pihak untuk mengurus pemakaman tahanan (kristiani) yang tidak punya keluarga. Biasanya pihak rutan menghubungi saya kalau terjadi kasus seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak capek mengurus napi-napi itu selama belasan tahun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, tidak lah. Kita selalu sukacita di dalam Tuhan. Hehehe.... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kalau Anda sakit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya saya istirahat dan berobat. Tapi anggota tim Pelita Kasih tetap aktif mengunjungi teman-teman kami di rutan atau lapas. Kita punya tim pelayanan, bukan hanya saya sendiri. Kalau Lanny Chandra sendiri ya tidak akan bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Anda pernah dikecewakan oleh orang-orang yang Anda layani?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dikecewakan sih sudah sering sekali. Selama 15 tahun pelayanan, ya, pastilah ada suka dan duka. Tapi bagi saya dikecewakan itu justru ujian agar saya bisa naik kelas. Tuhan ingin saya naik kelas, terus bertumbuh dan berkembang dalam iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat berpikir untuk berhenti mengadakan pelayanan seperti ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak pernah. Justru pelayanan Pelita Kasih ini berkembang ke mana-mana. Misalnya, kita digandeng tim dokter dari Malaysia untuk pelayanan di Sidoarjo, Surabaya, dan sekitarnya. Kita juga bekerja sama dengan anak-anak muda untuk baksos pengobatan massal. Jadi, tidak ada ceritanya saya mau berhenti melayani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punya pengalaman berkesan selama melayani penghuni penjara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali dan hampir semuanya berkesan. Salah satunya mendampingi Ibu Sumiarsih (alm), terpidana mati. Dia akhirnya dieksekusi, tapi diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bertobat. Setiap hari dia berdoa agar diberikan jalan yang terbaik. Tapi akhirnya beliau dieksekusi juga. Itu benar-benar pengalaman yang sangat sulit dilupakan. Kita semua sudah berusaha, tapi akhirnya seperti itu. Sebagai orang beriman, kita semua percaya bahwa itulah jalan terbaik yang Tuhan berikan untuk beliau. (rek)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BIODATA SINGKAT TANTE LANNY &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama : Lanny Chandra &lt;br /&gt;Nama Tionghoa : Liau Sin Lan &lt;br /&gt;Lahir : Surabaya, 9 Agustus 1949&lt;br /&gt;Suami : Chandra Wiyana (69)&lt;br /&gt;Anak : Joen (39), Supangat (36), Ilu Yoahnes (32).&lt;br /&gt;Cucu : Abi (10), Via (9), Freya (4), Denise (8 bulan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alamat : Dian Regency, Sukolilo, Surabaya&lt;br /&gt;Aktivitas  :  Ketua Misi Penginjilan Pelita Kasih &lt;br /&gt;Hobi : Bakti sosial, kuliner &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan : &lt;br /&gt;SD-SMA di Chung Chung, Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-821193787154588947?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/821193787154588947/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/lanny-chandra-dan-pelita-kasih.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/821193787154588947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/821193787154588947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/lanny-chandra-dan-pelita-kasih.html' title='Lanny Chandra dan Pelita Kasih'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-e4A444RHylU/TwQyvMzWnCI/AAAAAAAAGro/rJWE9daMrTg/s72-c/Lanny%2Bchandra%2B%25281%2529.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-8185978081049952623</id><published>2012-01-04T12:23:00.001+07:00</published><updated>2012-01-11T17:41:23.288+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembata'/><title type='text'>Bertemu Bupati Sunur dan Wabup Watun</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-XLzyTQdzh34/TwW8VQLiq5I/AAAAAAAAGsY/m5dhL-BVksE/s1600/bupati%2Bn%2Bwabup%2BLembata.JPG" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="267" width="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-XLzyTQdzh34/TwW8VQLiq5I/AAAAAAAAGsY/m5dhL-BVksE/s400/bupati%2Bn%2Bwabup%2BLembata.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara kebetulan saya bertemu Bupati Lembata Yance Sunur dan wakilnya Viktor Mado Watun di ruang tunggu Bandara Wunopito  Lewoleba. Bupati Sunur didampingi istri, anak, dan kerabatnya. Wabup Watun bersama putrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susi Air adalah pesawat kecil yang hanya memuat 12 penumpang. Maka, hari itu mungkin hanya saya yang bukan keluarga pejabat  di Susi Air. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun menyalami Pak Sunur dan Pak Watun. Selamat natal dan tahun baru. Pak Wabup kaget juga melihat saya di ruang tunggu  bandara. Lalu kami omong-omong dalam bahasa daerah karena kebetulan kami tetangga kampung di Kecamatan Ileape.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Wabup hendak mengantar anaknya yang sekolah di Santa Ursula Ende. Katanya, lewat udara via Kupang justru lebih murah  ketimbang pakai kendaraan laut kemudian darat dari Larantuka ke Ende.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Kupang, pak wabup dan anaknya ganti pesawat Wings Air ke Ende. Tiket hanya sekitar 400. Sementara Pak Bupati Sunur bersama keluarga ada urusan di Kupang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Bupati yang Tionghoa ini rupanya hemat bicara. Dia hanya bicara yang perlu-perlu saja. Beda dengan wabup yang  ceplas-ceplos. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di dalam Susi Air tak ada yang bicara. Suara mesin terlalu bising. Pak Bupati saya lihat menyumbat kuping pakai kapas. Nyonya Bupati tertidur. Begitu juga Pak Wagub dan putri sulungnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turun di Bandara Eltari, Kupang, saya minta izin untuk memotret Pak Bupati, Pak Wabup... bersama keluarganya. Lumayan! Saya dapat momentum bagus yang cukup langka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya titip lewotanah tercinta pada Pak Sunur dan Pak Watun. Semoga makin maju dan jalan raya di Lembata dibuat lebih bagus lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-8185978081049952623?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/8185978081049952623/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/aku-bertemu-bupati-dan-wabup-lembata.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/8185978081049952623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/8185978081049952623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/aku-bertemu-bupati-dan-wabup-lembata.html' title='Bertemu Bupati Sunur dan Wabup Watun'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-XLzyTQdzh34/TwW8VQLiq5I/AAAAAAAAGsY/m5dhL-BVksE/s72-c/bupati%2Bn%2Bwabup%2BLembata.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-5400506259377368972</id><published>2012-01-03T17:59:00.002+07:00</published><updated>2012-01-11T08:58:57.357+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jurnalisme'/><title type='text'>Iklan Babi di Media Massa</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-m5ybLBQaWVI/TwL_8Q3KCHI/AAAAAAAAGrE/aqes8ee2DOI/s1600/sei%2Bresto.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="111" width="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-m5ybLBQaWVI/TwL_8Q3KCHI/AAAAAAAAGrE/aqes8ee2DOI/s320/sei%2Bresto.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Bolehkah iklan babi di media massa seperti koran, majalah, televisi, atau radio? Ini tentu topik sensitif di Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Urusannya bisa panjaaaang sekali karena menyentuh soal SARA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bangsa muslim, masalah halal-haram memang jadi isu sangat-sangat peka. Maka, babi yang diharamkan umat Islam tentu tak patut disajikan di ruang publik. Silakan buka restoran yang ada menu babinya, tapi jangan diiklankan di media massa umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat membaca beberapa koran terbitan Kupang, NTT, yang penduduknya mayoritas kristiani, saya senyam-senyum sendiri. Kenapa? Iklan menu babi begitu banyak. Sei babi memang makanan paling top di ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Restoran-restoran bersaing beriklan menu sei babi alias daging babi asap ini. Media-media pun senang dapat income cukup banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi masalah iklan babi akan menjadi peka di daerah-daerah mayoritas Islam. Pengusaha restoran Tionghoa di Jawa sekalipun pasti tak akan nekat pasang iklan menu babi. Lebih baik diam-diam, toh tetap laku keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan iklan bir atau minuman keras? Dulu, bisa dipasang di media, khususnya sebelum 1990. Tapi makin lama bir dkk tak muncul lagi seiring meningkatnya sensitivitas agama di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan iklan bernuansa prostitusi seperti pijat plus dan sejenis? Silakan Anda cek sendiri di media-media di kota Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula iklan rokok, produk yang dianggap membahayakan kesehatan, bahkan haram, makin lama makin dibatasi. Rupanya, keharaman babi, miras, atau rokok memang berbeda. Maka, sensitivitasnya pun berbeda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-5400506259377368972?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/5400506259377368972/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/iklan-babi-di-media-massa.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5400506259377368972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5400506259377368972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/iklan-babi-di-media-massa.html' title='Iklan Babi di Media Massa'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-m5ybLBQaWVI/TwL_8Q3KCHI/AAAAAAAAGrE/aqes8ee2DOI/s72-c/sei%2Bresto.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-2591264589307483241</id><published>2012-01-03T09:35:00.001+07:00</published><updated>2012-01-11T18:03:48.135+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembata'/><title type='text'>Orang Lembata dan Televisi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-p8uthxjLGWM/TwpY0ri2VxI/AAAAAAAAGuE/imHCp3wW2Q4/s1600/antene%2Bpalilolon.JPG" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-p8uthxjLGWM/TwpY0ri2VxI/AAAAAAAAGuE/imHCp3wW2Q4/s400/antene%2Bpalilolon.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini televisi mudah ditemukan di rumah-rumah penduduk di Pulau Lembata, NTT. Beda banget dengan era sebelum 1990-an. Ini juga berkat masuknya jaringan listrik PLN sejak era 2000.&lt;p&gt;TV-TV di kampung saya itu bahkan harus pakai perangkat matrix yang membuat gambar lebih jelas dan channel pun lebih banyak. Karena itu, channel di Lembata jauh lebih banyak ketimbang di Surabaya - yang tak pakai parabola.&lt;p&gt;Saya misalnya baru mengikuti siaran NHK justru ketika cuti di kampung. Juga televisi berita berbahasa Inggris macam CNN. Di Jatim kita hanya bisa memirsa tv lokal atau nasional.&lt;p&gt;Sayang, selera orang-orang kampung masih sebatas hiburan. Anak-anak doyan film kartun. Yang tua suka sinetron. Yang muslim senang acara dakwah. Acaranya Mama Dedeh digemari ibu-ibu, termasuk yang nonmuslim.&lt;p&gt;Televisi berita macam Metro TV atau TVOne? Boleh dikata tidak laku. Cuma saya yang menyetel, itu pun segera diubah ke sinetron atau kartun. Informasi atau berita-berita belum jadi kebutuhan. &lt;p&gt;Dan dianggap tidak menarik. Apalagi berita-berita unjuk rasa, bakar kantor, atau pernyataan pejabat. Yang disukai justru berita dramatis macam orang dimakan buaya di Waijarang, dekat Lewoleba.&lt;p&gt;Karena itu, warga Ileape tidak tahu bahwa Gunung Ile Lewotolok alias Ile Ape sedang dalam kondisi siaga. Jelang erupsi atau meletus. Saya baru tahu kondisi gunung di kampung kami itu setelah melihat Metro TV di Surabaya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-2591264589307483241?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/2591264589307483241/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/orang-lembata-dan-televisi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/2591264589307483241'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/2591264589307483241'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/orang-lembata-dan-televisi.html' title='Orang Lembata dan Televisi'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-p8uthxjLGWM/TwpY0ri2VxI/AAAAAAAAGuE/imHCp3wW2Q4/s72-c/antene%2Bpalilolon.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-6566787801689764487</id><published>2012-01-03T07:42:00.005+07:00</published><updated>2012-01-03T07:51:01.975+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tionghoa'/><title type='text'>PANGGILAN HONORIFIK KELUARGA TONGHOA</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-U2y_LplTOq4/TwJQk4aCjuI/AAAAAAAAGqI/gapthNfnwxg/s1600/peranakan.jpg" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="320" width="298" src="http://2.bp.blogspot.com/-U2y_LplTOq4/TwJQk4aCjuI/AAAAAAAAGqI/gapthNfnwxg/s320/peranakan.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Oleh WENS GERDYMAN &lt;br /&gt;Arek Tionghoa Surabaya, tinggal di USA &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti orang Asia pada umumnya, orang keturunan China atau orang Tionghoa di Indonesia punya kebiasaan berbeda-beda untuk memanggil kerabat mereka, tergantung mereka mengikuti tradisi barat, Indonesia, atau masih berorientasi tanah leluhur. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Hollands-spreken atau kakek neneknya berpendidikan Belanda, sudah mengikuti tradisi barat. Semua paman dipanggil Oom. Semua bibi dipanggil Tante. Semua kakek dipanggil Opa dan semua nenek dipanggil Oma. Kakak dipanggil nama, tidak lagi memakai sebutan mas atau mbak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gampang dan praktis, seperti tradisi Barat pada umumnya. Yang lucu, anak-anak dipanggil dengan akhiran –tje atau –sje, akhiran yang merupakan term of endearment atau sebutan kasih saying untuk si kecil. Misalnya nama anak Gwan, jadi Gwantje, Min jadi Mintje. Han jadi Hansje. Namanya Hokkian, tapi akhiran Belanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang, sampai sudah usia gocap (50) lebih pun masih dipanggil menurut nama kecilnya, hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang peranakan, terutama di Jawa, maunya mempertahankan tradisi Tionghoa, tapi bunyi dan struktur panggilannya sudah terkena pengaruh dan tradisi Indonesia. Misalnya panggilan untuk kakek. Dalam bahasa Hokkian (kebanyakan orang Tionghoa di Indonesia berasal dari Hokkian selatan), kakek itu “kong”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jawa, semua kata diberi suara awal m, n, atau ng, agar enak menyebutnya: mBak, mBadhok, ngGanteng, nDablek, dll. Juga kata yang akhirannya berupa bunyi vokal, agar lebih enak bunyinya diberi akhiran “k”: “buka” jadi “bukak”, dll. Akibatnya, Kong jadi Engkong. Koh (kakak lelaki) jadi Engkoh, Ci (kakak perempuan) jadi Cik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cek (adik lelaki papa) jadi Encek. Pa’ (kakak lelaki papa) jadi Empek. So (saudara ipar perempuan) jadi Enso, Ku (saudara lelaki mama) jadi Engku. Yi (saudara perempuan mama) jadi Yik. Hanya Kou (saudara perempuan papa) yang tidak berubah, tetap Kou.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain bunyi yang terpengaruh Jawa, ada lagi pengaruh lainnya. Orang Tionghoa peranakan masih mau mempertahankan tradisi Konfusius yang sangat mempertahankan hirarki, menghormati yang dituakan. Kalau punya saudara lelaki tiga orang, dalam tradisi Tionghoa yang sebenarnya, yang tertua dipanggil Toa-Koh (toa = besar), yang kedua dipanggil Ji-Koh (ji = 2), dst. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dalam tradisi peranakan yang sudah terpengaruh Jawa, yang paling besar dipanggil Koh-De, yang nomer dua dipanggil Koh-Ngah, yang paling kecil dipanggil Koh-Lik. De, Ngah, dan Lik itu bukan bahasa Tionghoa, tapi bahasa Jawa: Gede, Tengah, dan Cilik, seperti Pak-De, Paklik, Bu-De dan Bu-Lik. Memang lucu, tapi pembauran budaya ini nyata. Kadang-kadang, biar gampang, yang lebih muda memanggilnya “De!” atau “Ngah!”, sehingga kalau kebetulan ada di satu ruangan Cik-De dan Koh-De dua-duanya menoleh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kakek neneknya dari keluarga totok alias baru turun kapal atau FOB (fresh off the boat) di 1920-1930, panggilan nama kerabat tidak boleh dianggap main-main. Yang merasa dituakan bisa tersinggung kalau panggilannya tidak tepat.  Misalnya kakek: beda antara kakek dari garis papa (Ah-Kong atau Engkong saja) atau kakek dari garis mama (Wai-Kong atau kakek luar); ibunya papa (Ah-P’o atau P’o-p’o) atau ibunya mama (Wai-P’o atau nenek luar). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urusan yang menyangkut marga  seperti orang Batak, harus jelas, karena ujung-ujungnya menyangkut warisan yang mengikuti tradisi patrilineal. Saudara Engkong pun harus jelas; yang lebih tua disebut Pek-Kong atau paman-kakek; saudara engkong yang lebih muda dipanggil Cek-Kong, bahkan kalau saudaranya banyak bisa jadi ada Ji-Cek-Kong, San-Cek-Kong, Si-Cek-Kong, dst. urut seperti merk rokok Ji-Sam-Su (234).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga totok jaman sekarang, biasanya generasi berikutnya lahir di Indonesia antara tahun 1935–1955, yang masih mengalami sekolah Tionghoa sebelum ditutup oleh rejim Suharto di tahun 1966, jadi mereka masih lancar berbahasa Mandarin (bahasa persatuan di Tiongkok). Akibatnya, sebutan honorifik untuk yang dituakan pun bercampur-campur antara bahasa Hokkian (atau bahasa dialek asli kakek nenek, entah Hokchia, Tiochiu, Henghua, Hakka, Konghu, dll.) dan bahasa Mandarin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keluarga saya, memanggil saudara perempuan papa tidak memakai bahasa Hokkian (Kou), tapi bahasa Mandarin (ejaan Indonesia: Kuku; pinyin: Gugu).  Karena saudara perempuan papa saya ada tujuh, susah mengingatnya mana yang nomer 3-4-5 dan 6. Jadi kita memanggilnya Kuku plus  namanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau menurut bahasa Mandarin yang benar, seharusnya MD atau Menerangkan Diterangkan, jadi Hun-Kuku, Hua-Kuku.  Berhubung generasi berikutnya bersekolah Indonesia, kita memanggilnya mengikuti tata bahasa Indonesia: DM (diterangkan menerangkan), yaitu Kuku Hun (Tante Hun), Kuku Tjen (Tante Tjen). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami-suami mereka kita panggil dengan sebutan Ku-tjang (tjang dari tjang-fu atau pinyin zhang-fu; artinya suami); Kutjang Hap, Kutjang An, dll. Tetapi kita memanggil paman masih menggunakan bahasa Hokkian dan Hokchia: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa saya yang merupakan saudara lelaki tertua dipanggil Empek. Saya memanggil adik-adik lelaki papa dengan Ah-Cik (bahasa Hokchia, sama dengan Ah-Cek atau Encek); saudara lelaki mama dengan Ah-Kiu (bahasa Hokchia, sama dengan bahasa Hokkian Ah-ku atau Engku). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kebiasaan tiap keluarga itu lain, tergantung situasi kondisinya. Apa lagi kalau sudah kawin campur antara totok dan peranakan, atau dengan orang Jawa atau yang asli lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di generasi Tionghoa sekarang (yang lahir sesudah 1980), tradisi memanggil menurut sebutan honorifik ini sudah luntur. Memang lebih mudah menggunakan Oom, Tante, Opa, Oma, daripada sebutan Tionghoa yang macam-macam dan susah diingat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya tradisi ini maksudnya bagus yaitu menghorrmati yang lebih tua dan ada fungsi praktisnya yaitu memberi kejelasan mana yang dari pihak papa dan pihak mama. Mungkin tidak perlu terlalu mendetil sampai harus tahu urutannya, cukuplah jika generasi muda itu tahu dalam bahasa Mandarin: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah-Yi (saudara perempuan mama), Kuku (saudara perempuan papa), Shushu (saudara lelaki papa), dan Tjiu-tjiu (saudara lelaki mama, pinyin: Jiu-jiu), dan masih menghormati kakaknya, entah dengan sebutan Koh (Mandarin: Ge), atau Ci (Mandarin: Jie).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-6566787801689764487?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/6566787801689764487/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/panggilan-honorifik-keluarga-tonghoa.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/6566787801689764487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/6566787801689764487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/panggilan-honorifik-keluarga-tonghoa.html' title='PANGGILAN HONORIFIK KELUARGA TONGHOA'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-U2y_LplTOq4/TwJQk4aCjuI/AAAAAAAAGqI/gapthNfnwxg/s72-c/peranakan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-5018950048591760449</id><published>2012-01-03T07:19:00.000+07:00</published><updated>2012-01-11T17:41:44.693+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembata'/><title type='text'>Wisata Pantai Pedan di Lembata</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-JCFpCqrEe0w/TwfGXE1usdI/AAAAAAAAGs8/Tmv9CinFPs4/s1600/pedan%2Banak.JPG" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-JCFpCqrEe0w/TwfGXE1usdI/AAAAAAAAGs8/Tmv9CinFPs4/s400/pedan%2Banak.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Saya baru tahu kalau ada pantai wisata di Ileape, Pulau Lembata, NTT. Pantai Pedan namanya. Terletak di Desa Petuntawa, pantai ini masih alami. Pedan artinya pandan. Yah, kawasan ini memang ada banyak tanaman pandan, bakau, dan kelapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasir putih, halus, lumayan bersih. Bakau alias mangrove lumayan sibur. Air laut tenang. Kedalamannya cukup untuk berenang. Relatif aman untuk berenang santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu 1 Januari 2012, kami bersama rombongan berwisata ke Pedan Beach. Ah, ramai juga ternyata. Beberapa rombongan dari Lewoleba dan Hadakewa juga ada di sana untuk mengisi hari pertama tahun 2012.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengelola pantai menyiapkan sound system berikut musiknya. Tari dolo-dolo dengan iringan lagu Felix Matarau, Nona Masih Kecil, diputar. Saya lihat 6 laki-laki dewasa menari. Asyik sekali. Suasana pantai pun makin meriah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap rombongan rupanya membawa bekal sendiri-sendiri. Termasuk air minum. Mereka gelar tikar dan makan ramai-ramai. Enak sekali menu daging binatang hutan ala Hadakewa yang kami nikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski asli Ileape, baru kali ini saya tahu ada pantai wisata yang bagus macam Pedan Beach. Hanya, perlu polesan dan sentuhan yang lebih profesional agar pedan dan pantai-pantai lain di lembata bisa lebih maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah utama masih tetap akses jalan. Sampai sekarang jalan utama dari Lewoleba ke Ileape masih  buruk. Ruas jalan yang bagus tak sampai 20-an kilometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat sulit mengajak orang berwisata dengan kondisi jalan raya sejelek itu. Sebab, orang yang pesiar hanya mau senang-senang, bukan cari susah atau penyakit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papan penunjuk wisata Pantai Pedan pun belum ada. Tidak ada promosi dari Pemkab Lembata atau Pemcam Ileape. Bagaimana mau mengajak orang datang kalau orang Ileape sendiri pun kurang informed?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagaimanapun juga keberadaan Pedan Beach layak diapresiasi. Ia jadi aset berharga orang-orang desa untuk memajukan ekonominya. Masih banyak lagi pantai-pantai dan objek wisata di Pulau Lembata yang bisa dipoles dan dijual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-h0ugVS7jZeU/TwJLYA--k7I/AAAAAAAAGp8/Qt0BTq1sPC0/s1600/pedan.JPG" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-h0ugVS7jZeU/TwJLYA--k7I/AAAAAAAAGp8/Qt0BTq1sPC0/s320/pedan.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-5018950048591760449?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/5018950048591760449/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/wisata-pantai-pedan-di-lembata.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5018950048591760449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5018950048591760449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/wisata-pantai-pedan-di-lembata.html' title='Wisata Pantai Pedan di Lembata'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-JCFpCqrEe0w/TwfGXE1usdI/AAAAAAAAGs8/Tmv9CinFPs4/s72-c/pedan%2Banak.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-8472424824844994966</id><published>2012-01-03T06:52:00.000+07:00</published><updated>2012-01-03T06:56:29.897+07:00</updated><title type='text'>TAHUN BARU LAGI</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-66MyHCX-T6M/TwJDQbqvz3I/AAAAAAAAGpY/QTqgEUeNn1Q/s1600/pantai%2Blamawara.JPG" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-66MyHCX-T6M/TwJDQbqvz3I/AAAAAAAAGpY/QTqgEUeNn1Q/s320/pantai%2Blamawara.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun baru lagi. Kemudian ulang tahun lagi. Umur bertambah satu. Makin tua. Tenaga makin kurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam saya tidak ikut acara tahun baru di Lamawara, Lembata, NTT. Makan, kekenyangan, lalu tertidur di pondok sederhana di samping rumah. Oring dalam bahasa Lamaholot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oring merupakan rumah tradisional suku Lamaholot di Flores Timur, Lembata, dan Alor. Atapnya dari daun kelapa, daun lontar, atau alang-alang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pakai dinding. Karena itu, rasanya sejuk, tidak sumuk macam di rumah-rumah orang Lembata sekarang yang pakai seng. Oring sangat sederhana, tapi berkesan, khususnya buat orang-orang Lamaholot yang merantau lama di negeri orang macam saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam tahun baru sebetulnya cukup berkesan di Lembata. Hampir semua dusun bikin acara makan bersama. Bawa makanan sendiri-sendiri kemudian saling tukar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, berbagi kebahagiaan. semoga kehidupan di tahun baru lebih baik. Hujan turun menyirami tanaman jagung yang pucat kepanasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga para perantau yang tidak pulang-pulang selama puluhan tahun digerakkan hatinya untuk pulang. Menjenguk lewotanah. menemui keluarga yang kian menua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar jam dua anak-anak muda balapan liar di jalan. saya pun terbangun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, sudah 1 Januari 2012. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Happy new year. Semoga semua makhluk berbahagia!&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-8472424824844994966?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/8472424824844994966/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/tahun-baru-lagi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/8472424824844994966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/8472424824844994966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/tahun-baru-lagi.html' title='TAHUN BARU LAGI'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-66MyHCX-T6M/TwJDQbqvz3I/AAAAAAAAGpY/QTqgEUeNn1Q/s72-c/pantai%2Blamawara.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-6647811643425939946</id><published>2012-01-03T06:41:00.002+07:00</published><updated>2012-01-11T22:13:22.627+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembata'/><title type='text'>DI ATAS MAKAM MAMA TERCINTA</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-NBizoIPA3vY/TwJBX3AxYDI/AAAAAAAAGpA/kiD_Qqml6JQ/s1600/mama.JPG" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-NBizoIPA3vY/TwJBX3AxYDI/AAAAAAAAGpA/kiD_Qqml6JQ/s320/mama.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya duduk di atas makam mama tercinta, Maria Yuliana, di Bungamuda, Pulau Lembata, 1 Januari 2012. Makam yang berjejer dengan Nenek Ebong dan Kakek Samun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama Yuli meninggal dunia di Ohe, Ile Ape, 15 Februari 1998. Itulah kali pertama saya melihat tahapan-tahapan seorang manusia yang akan pergi untuk selamanya. Mama sempat dirawat di Kupang, tap rupanya dokter angkat tangan. Lalu saya bersama ayah dan tiga adik membawa ibunda ke kampung halaman dengan feri. Turun di Larantuka, selanjutnya ke Ohe untuk dirawat mama bidan Bernadette, istri Bapak Thomas Hurek (sekarang almarhum).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi rupanya Tuhan berkehendak lain. Mama akhirnya pergi untuk selamanya. Meninggalkan saya, Yus, Ernie, Is dan bapak. Mama pergi begitu cepat ketika saya belum bisa membalas jasa-jasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makam mama ini ibarat magnet tersendiri bagi saya. Setiap pulang kampung, saya selalu mampir. Bakar lilin, berdoa... atau hanya sekadar duduk-duduk melamun membayangkan masa kecil bersama mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk menulis catatan ini dengan ponsel. Maklum, sinyal di sini sangat lemah sehingga fungsi utama HP untuk menelepon atau sms tidak jalan sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak sisa lilin di makam mama pertanda ada banyak doa untuk beliau di alam sana. Saya juga pamit kembali ke Surabaya karena jatah cuti sudah habis. Harus masuk kerja lagi tanggal 2 Januari 2012. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi makam mama akan selalu jadi magnit untuk membawa saya kembali ke kampung halaman, lewotanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-6647811643425939946?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/6647811643425939946/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/di-atas-makam-mama-tercinta.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/6647811643425939946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/6647811643425939946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/di-atas-makam-mama-tercinta.html' title='DI ATAS MAKAM MAMA TERCINTA'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-NBizoIPA3vY/TwJBX3AxYDI/AAAAAAAAGpA/kiD_Qqml6JQ/s72-c/mama.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-1891069274752763968</id><published>2012-01-03T06:33:00.001+07:00</published><updated>2012-01-11T18:04:04.293+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembata'/><title type='text'>PULANG KAMPUNG NATALAN</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Ebpb6AOHj6U/TwJSvOHwS9I/AAAAAAAAGqg/5Id5cjEwdSE/s1600/watan%2Blolon.JPG" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ebpb6AOHj6U/TwJSvOHwS9I/AAAAAAAAGqg/5Id5cjEwdSE/s320/watan%2Blolon.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sabtu siang, 24 Desember 2011, saya duduk di pantai Lamawara, Pulau Lembata. Kampung halaman saya nun di pelosok NTT. Hanya beberapa jam sebelum misa malam Natal di kampung halaman bersama ayah, saudara, kerabat, dan orang-orang yang punya hubungan darah dengan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman berkesan karena selama bertahun-tahun saya bermalam Natal di Jawa atau Bali. Suasana di kampung sunyi, tapi asyik. Ada juga motor dan mobil yang lewat, tapi tidak banyak. Orang-orang saling menyapa dan berbasa-basi. Semua orang seperti saling kenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi suasana Natal di kampung sudah beda dengan sebelum tahun 1990-an. Dulu semua orang dari 15 desa di Kecamatan Ileape berkumpul di satu desa. Misa malam Natal ramai-ramai. Kita harus jalan kaki ke kampung lain yang jadi tuan rumah. Lalu menginap semalam. Makan minum layaknya keluarga sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang Ileape sudah dipecah jadi dua paroki dan dua kecamatan. Pastornya makin banyak. Jadi, 15 desa tidak perlu lagi kumpul sama-sama untuk natalan. Kurang efisien. Maklum, kampung-kampung yang dulu polos makin mengkota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tiga desa kumpul untuk natalan, tapi tidak perlu satu kecamatan. Atawatung dan Mawa natalan di Gereja Mawa. Bungamuda, Lamawara, Lewotolok, Waowala, Tanjungbatu natalan di Gereja Waowala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya baru pulang kerja bakti di Gereja Waowala," kata bapak saya yang terkejut melihat saya berada di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang sama sekali tidak menyampaikan kabar kalau akan ke kampung. Saya ingin bikin kejutan, tahu-tahu berada di kampung halaman. Juga tak ingin merepotkan mereka yang pasti akan ram-rame datang menjemput saya di Bandara Wunopito.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya juga kampung sederhana, tak ada pesta atau kemeriahan menyambut hari kelahiran Sang Kristus. Semua orang biasa-biasa saja. Anak-anak main di pantai. Ibu-ibu ke sumur menimba air. Tukang ojek cari penumpang. Yang nganggur luntang-lantung di pinggir jalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang penting, damai Natal tetap terasa di hati. &lt;br /&gt;______________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-1891069274752763968?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/1891069274752763968/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/pulang-kampung-natalan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/1891069274752763968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/1891069274752763968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/pulang-kampung-natalan.html' title='PULANG KAMPUNG NATALAN'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-Ebpb6AOHj6U/TwJSvOHwS9I/AAAAAAAAGqg/5Id5cjEwdSE/s72-c/watan%2Blolon.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-719353603411295251</id><published>2012-01-03T06:29:00.001+07:00</published><updated>2012-01-03T07:35:13.991+07:00</updated><title type='text'>PAKAI HP DI PESAWAT</title><content type='html'>ponsel alias hp sudah begitu melekatnya dengan manusia-manusia modern. maka, di dalam pesawat sekalipun orang indonesia rupanya sulit mengendalikan diri untuk tidak pakai hp barang 30-an menit saja.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kejadian nyata ini saya lihat di pesawat lion air surabaya - kupang, jumat 23 desember 2011. begitu banyak penumpang yang buru-buru menyalakan hp.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;padahal, sudah diumumkan bahwa hp hanya boleh dihidupkan setelah penumpang sampai di terminal bandara eltari kupang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mereka tak hirau meskipun si announcer mewanti-wanti bahwa sinyal ponsel bisa mengacaukan komunikasi kru pesawat.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"kita kan sudah landing, jadi tidak masalah. kecuali kalau kita menghidupkan hp selama penerbangan," kata penumpang di sebelah saya memberi alasan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya tidak tahu apakah argumentasi macam ini bisa diterima akal sehat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-719353603411295251?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/719353603411295251/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/pakai-hp-di-pesawat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/719353603411295251'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/719353603411295251'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/pakai-hp-di-pesawat.html' title='PAKAI HP DI PESAWAT'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-4216991949919887528</id><published>2012-01-01T09:37:00.000+07:00</published><updated>2012-01-11T22:14:38.239+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembata'/><title type='text'>Misa Tahun Baru di Lewotolok</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-hTzLZbCSEJQ/TwpTU1mIPpI/AAAAAAAAGt4/icX95HxTHjM/s1600/lewotolok%2Bchurch.JPG" imageanchor="1" style=""&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-hTzLZbCSEJQ/TwpTU1mIPpI/AAAAAAAAGt4/icX95HxTHjM/s400/lewotolok%2Bchurch.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Gereja Katolik Lewotolok, NTT, 1 Januari 2012. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ina ama kaka ari mulai berkumpul sejak jam 7 pagi. Misa tahun baru akan dipimpin Romo Yosef Kuben, pastor diosesan dari Keuskupan Larantuka. Romo Yosef 'dipinjam' untuk membantu perayaan ekaristi Natal dan Tahun Baru di Kecamatan Ile Ape.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap 1 Januari memang ada tradisi mengadakan misa besar di Flores. Momen untuk merenung dan berdoa semoga umat diberi kekuatan, jagung tidak mati, perantau kirim uang dsb. Juga perayaan Santa Maria Bunda Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antusiasme umat, sayang, tidak seperti tahun 80-an ketika saya masih SD. Waktu itu Lembata betul2 pulau tertinggal. Tak ada listrik. Tak ada aspal. Tak ada HP. Semua serba simpel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini lembata makin mengkota. Anak2 punkers menjamur, lontang-lantung di jalan. Sulit diatur, susah diajak ke gereja. Apalagi kerja di kebun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang tua tau apa?" begitu kata2 anak punk yang sempat saya dengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sulit mempertemukan jurang antara tua dan muda. Jurang makin lebar dengan loncatan teknologi yang luar biasa. Bayangkan, orang2 tua yang dulu tak kenal korek api, bikin api pakai bambu, kini harus berhadapan dengan anak2 muda yang pakai smartphone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara pastor, apalagi guru-guru di kampung, pun kurang didengar. Di mimbar pastor sering mengkritik anak-anak muda gaul yang malas ke gereja. Tapi siapa dengar? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling hanya orang2 tua yang ketawa2 dan ngelus dada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 8:18 misa belum dimulai. Padahal katanya misa mulai tepat 7:30.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, jam karet ala Lamaholot.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-4216991949919887528?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/4216991949919887528/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/misa-tahun-baru-di-lewotolok.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/4216991949919887528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/4216991949919887528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2012/01/misa-tahun-baru-di-lewotolok.html' title='Misa Tahun Baru di Lewotolok'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-hTzLZbCSEJQ/TwpTU1mIPpI/AAAAAAAAGt4/icX95HxTHjM/s72-c/lewotolok%2Bchurch.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-63418480432389807</id><published>2011-12-21T10:35:00.001+07:00</published><updated>2012-01-07T11:07:10.579+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tionghoa'/><title type='text'>TURIS JERMAN KE PECINAN SURABAYA</title><content type='html'>Kawasan pecinan atau china town di surabaya rupanya menarik perhatian turis Barat. Prof Susanne Altenburg dari Koeln, Jerman, Senin (19/12/2011), sengaja jalan-jalan ke kawasan Kembang Jepun dan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susanne Altenburg sebenarnya ingin ke Makassar dan Toraja. Namun karena harus transit sehari, dosen filsafat ini memanfaatkannya dengan mengunjungi pecinan. Ini juga dilakukan Susanne ketika berkunjung ke Myanmar, Vietnam, Malaysia, India, atau Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena China town itu unik dan beda. Banyak hal menarik yang bisa kita lihat," kata Susanne kepada saya yang jadi pemandu wisata dadakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Jerman, Susanne membekali diri dengan buku tentang informasi pariwisata di Asia Tenggara. Di situ tercantum tempat-tempat yang dianggap menarik di Surabaya. Sebagian besar justru berada di pecinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat melintas di Jagalan, Susanne tersenyum melihat toko-toko obat dan aneka aksesoris Tionghoa. Bau yosua atau hio cukup menyengat. Dia kemudian mampir ke pak kik bio, kelenteng terkenal di Jagalan. Sibuk memotret dan melihat dari dekat rupang-rupang di altar. Belasan umat sedang berdoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hallo," sapa susanne seraya menjabat tangan jemaat kelenteng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengaku belum mendalami filsafat timur sehingga kurang memahami dewa-dewi dalam tradisi Tionghoa. "Saya hanya tahu dewa perang," katanya lantas tertawa kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari jagalan, Susanna mampir di Kelenteng Dukuh. Saat itu Grup Lima Merpati sedang memainkan wayang potehi. Lagi-lagi dia surprise, tak menyangka kesenian Tiongkok Selatan ini dimainkan di Surabaya. Dalang, asisten dalang, dan semua pemusiknya bukan Tionghoa, melainkan Jawa asli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, baru pertama kali ini saya melihat pertunjukan boneka seperti ini," kata Susanne yang sibuk memotret adegan potehi dengan kamera sakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggemar kebudayaan asia ini kemudan masuk ke ruang kru potehi. Dia menyalami Eddy Sutrisno dan kawan-kawan dan melakukan percakapan singkat, dalam bahasa Inggris tentu saja. Susanne ini hanya ingat sekitar 10 kata bahasa Indonesia seperti 'terima kasih' atau 'apa kabar'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas menikmati wayang potehi, susanne melanjutkan pelancongannya ke Kembang Jepun. Pusat bisnis grosir utama di Kota Surabaya. Di gapura kya-kya profesor filsafat ini tertarik dengan ukiran naga yang khas Tionghoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu Kembang Jepun sedang sibuk-sibuknya. Jalanan padat meski tak sampai macet. Karena itu, dia bisa melihat sendiri geliat ekonomi di pecinan yang menjadi lokomotif ekonomi sebuah kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di mana-mana china town itu selalu bergairah. Aktivitas ekonominya luar biasa," kata dosen yang banyak mengkritik sisi gelap sistem kapitalisme itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunjungan dilanjutkan ke Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria di Jalan Kepanjen, sekitar Jembatan Merah. Gereja tua ini merupakan jujukan warga Tionghoa di kawasan pecinan yang beragama Katolik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susanne memperhatikan arsitektur gereja yang menjadi salah satu cagar budaya di Surabaya itu. Sayang, pintu gereja tertutup rapat karena tak ada kegiatan. Padahal, perempuan yang juga Katolik ini ingin melihat interior gereja dan... mungkin berdoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecewa, tapi tetap tersenyum. "Kalau di jerman, yang namanya Gereja Katolik itu tidak pernah tutup. Sebab, banyak pengunjung dan jemaat yang ingin masuk. Justru gereja-gereja Protestan yang sering tutup," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, dia mengaku lega karena sudah bisa menjelajahi Kota Surabaya, khususnya China town. Pengalaman yang memperkaya wawasannya sebagai intelektual sekaligus turis backpacker.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-63418480432389807?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/63418480432389807/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/12/turis-jerman-ke-pecinan-surabaya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/63418480432389807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/63418480432389807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/12/turis-jerman-ke-pecinan-surabaya.html' title='TURIS JERMAN KE PECINAN SURABAYA'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-9069676749574859388</id><published>2011-12-20T23:20:00.001+07:00</published><updated>2011-12-21T07:32:59.357+07:00</updated><title type='text'>LAN FANG DIRAWAT KE GUANGZHOU</title><content type='html'>lan fang, penulis hebat itu, tak berdaya. kondisi fisiknya drop. dia terbaring lemah di rumah sakit adi husada surabaya di kamar b 205.&lt;p&gt;saat saya besuk beberapa menit lalu, ada tulisan di pintu ruang perawatannya. pasien tak boleh diganggu karena perlu istirahat. maka, saya hanya bisa berdiri di depan pintu.&lt;p&gt;tak berapa lama kemudian seorang wanita keluar menemui saya. janet, adik kandung lan fang. janet dengan sopan mengatakan kakaknya tak bisa diganggu.&lt;p&gt;&amp;quot;maaf ya, mohon doanya,&amp;quot; kata janet ramah. sudah pasti kita semua agar lan fang segera sembuh, bisa beraktivitas lagi. bisa menulis lagi novel bagus macam CIUMAN DI BAWAH HUJAN.&lt;p&gt;saya memang telat mendengar kabar lan fang sakit. bukan sakit biasa karena musim pancaroba, tapi sakit serius. sangat sangat serius. &lt;p&gt;saya pun tak tega mengorek terlalu jauh penyakit lan fang dari janet. tahu sama tahulah.&lt;p&gt;yang jelas, lan fang mula-mula dirawat di RKZ sekitar dua minggu. dilanjutkan di undaan ini selama seminggu. dan akhirnya diputuskan perlu dirawat di guangzhou, tiongkok.&lt;p&gt;rabu pagi pukul enam harus takeoff ke singapura, kemudian ke guangzhou. janet menjadi pendamping pasienam ikut pula seorang dokter. sementara anak-anak lan fang tinggal di surabaya karena harus sekolah.&lt;p&gt;&amp;quot;mohon doanya. semoga lan fang bisa segera sembuh,&amp;quot; pinta janet berkali-kali.&lt;p&gt;tentu saja. saya ikut berdoa semoga kesehatan lan fang pulih kembali.&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-EsPDj-Qvfy0/TvEjtzvW6nI/AAAAAAAAGoc/yOUlPht_8JE/s1600/lam.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="185" src="http://1.bp.blogspot.com/-EsPDj-Qvfy0/TvEjtzvW6nI/AAAAAAAAGoc/yOUlPht_8JE/s320/lam.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-9069676749574859388?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/9069676749574859388/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/12/lan-fang-dirawat-ke-guangzhou.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/9069676749574859388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/9069676749574859388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/12/lan-fang-dirawat-ke-guangzhou.html' title='LAN FANG DIRAWAT KE GUANGZHOU'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-EsPDj-Qvfy0/TvEjtzvW6nI/AAAAAAAAGoc/yOUlPht_8JE/s72-c/lam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-5667258041774384748</id><published>2011-12-17T22:56:00.001+07:00</published><updated>2011-12-17T22:56:11.930+07:00</updated><title type='text'>natal di rutan medaeng</title><content type='html'>Tadi pagi saya ikut kebaktian Natal di Rumah Tahanan Negara Kelas Satu Surabaya di Medaeng, Sidoarjo. rumah tahanan ini populer dengan sebutan rutan medaeng. acara natal kali ini jauh lebih meriah dan menarik ketimbang tahun-tahun lalu.&lt;p&gt;warga binaan alias tahanan dan narapidana punya kor yang bagus. pujian bagus. band bagus. dan... sandiwara berjudul langkah terakhir pun oke. malah lebih ciamik dibanding acara natal di luar penjara.&lt;p&gt;biasanya natalan kayak begini diadakan di aula berukuran sedang. bukan di terop samping gereja emaus seperti ini. saya jadi gundah meski senang menikmati kor dan drama yang dipersiapkan selama dua bulan itu.&lt;p&gt;mengapa gundah? jumlah orang kristen yang menghuni penjara medaeng kini meningkat drastis. bisa tiga atau empat kali lipat. gereja emaus sudah tidak muat lagi.&lt;p&gt;berbeda dengan gereja-gereja di luar penjara yang terus bertumbuh, jemaat gereja emaus di rutan medaeng seharusnya makin lama makin kecil. seharusnya orang kristen (katolik, protestan, pentakosta, dsb) yang masuk penjara makin sedikit. bukan makin banyak seperti ini. tentu sulit berharap gereja emaus ditutup karena tak ada lagi napi kristiani.&lt;p&gt;dari pengamatan sekilas, kasus yang menimpa napi-napi kristen di medaeng ini pun hebat-hebat. paling banyak kasus narkoba alias dadah alias drugs. &lt;p&gt;bahkan, ada 8 orang malaysia jadi penghuni medaeng karena jadi penyelundup narkoba. dan 8 orang malaysia keturunan tionghoa dan india ini ternyata... kristen! dan semuanya rajin berdoa. si gannes malah ikut main drama, bagus sekali.&lt;p&gt;ada juga satu keluarga tan yang baru divonis gara-gara menyiksa pembantu di surabaya. kasus penipuan ratusan juta juga banyak.juga kasus pencurian kecil-kecil yang dilakukan napi kelas teri.&lt;p&gt;saya kaget melihat seorang tahanan muda yang wajahnya mirip orang flores. benar saja, dia asal kupang. hehehe... ternyata sejak dulu selalu ada orang ntt yang menghuni medaeng. &lt;p&gt;kasusnya ini; sabu-sabu alias narkoba. &lt;p&gt;wow, orang ntt sudah naik kelas. dulu biasanya mengeroyok atau memukul orang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-5667258041774384748?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/5667258041774384748/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/12/natal-di-rutan-medaeng.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5667258041774384748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5667258041774384748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/12/natal-di-rutan-medaeng.html' title='natal di rutan medaeng'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-5573520620547418865</id><published>2011-12-17T06:19:00.001+07:00</published><updated>2011-12-17T06:19:47.980+07:00</updated><title type='text'>kisruh sepak bola kita</title><content type='html'>sepak bola kita kisruh lagi. lebih tepat: pengurus pssi kisruh. eker-ekeran. kompetisi pecah dua. kedua-duanya mengklaim paling sah.&lt;p&gt;la nyala hampir tiap hari muncul di tv dengan argumentasi khasnya: kongres bali. pssi dinilai tidak becus. yang becus ya la nyala dkk. kompetisi ala pssi dianggap tidak sah.&lt;p&gt;kapan kisruh pengurus bola ini berakhir? rasanya masih lama. bahkan justru akan semakin parah. nyaris tidak ada chemistry antara kubu nyala, politikus ulung, dengan pssi sekarang.&lt;p&gt;akar kekisruhan sepak bola kita mulai terjadi ketika politisi rame-rame masuk bola. orang-orang politik ini tiba-tiba pintar bicara bola, padahal dari dulu tidak kenal bola. jangankan punya klub, orang-orang tukang kisruh ini tadinya tidak pernah ke stadion untuk lihat pertandingan bola.&lt;p&gt;ketika bisnis bola mulai menggiurkan, ada uangnya, orang-orang politik ini makin kerasan di bola. urusan bola dibuat sedemikian ala partai politik. bahasa-bahasa politik dipakai di bola. organisasi bola dipolitisasi.&lt;p&gt;konflik diciptakan dan dibuat makin parah. sebab, orang-orang politik yang bermain di organisasi bola ini memang hidup dari konflik. makin hebat konflik, maka makin senang dan eksislah mereka.&lt;p&gt;maka, jangan harap kisruh di pssi dan kompetisi kita akan selesai dalam waktu dekat. kasihat orang-orang bola sejati yang sejak zaman belanda sudah mengurus bola macam klub asyabaab, suryanaga, indonesia muda. &lt;p&gt;mungkin kisruh akan berakhir setelah la nyala mattaliti jadi ketua umum pssi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-5573520620547418865?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/5573520620547418865/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/12/kisruh-sepak-bola-kita.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5573520620547418865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5573520620547418865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/12/kisruh-sepak-bola-kita.html' title='kisruh sepak bola kita'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-5219512318003255961</id><published>2011-12-16T13:18:00.001+07:00</published><updated>2011-12-16T13:18:53.651+07:00</updated><title type='text'>pietche rilis album natal</title><content type='html'>lagu-lagu natal selalu (hampir) sama dari tahun ke tahun. tapi para penyanyi tetap antusias membuat album natal. pietche ranitoa pun tak mau ketinggalan.&lt;br&gt;penyanyi rohani asal flores ini baru saja merilis christmas album-nya. ada 11 lagu di album yang diproduksi sendiri. lagu-lagu natal yang sudah sangay akrab di kuping umat kristiani.&lt;p&gt;malam kudus, o holy night, hai mari berhimpun, gloria in excelsis deo. &amp;quot;tapi saya juga memasukkan lagu natal ciptaan saya sendiri untuk memperkaya khasanah lagu-lagu natal,&amp;quot; kata pietche yang dijumpai di gereja maria tak bercela, ngagel, surabaya, kemarin.&lt;p&gt;sebelum memproduksi album ini, pietche mengaku sempat melakukan survei selera jemaat. hasilnya, minat umat cukup bervariasi. kalangan menengah atas dan tionghoa lebih suka lagu-lagu natal yang bernuansa klasik seperti o holy night. &lt;br&gt;sementara di indonesia timur lebih suka yang bergaya country. &lt;p&gt;&amp;quot;maka, di album ini saya mencoba mengakomodasi selera yang berbeda itu,&amp;quot; kata pietche tentang album keempatnya ini.&lt;p&gt;namanya juga indie label, pietche harus pontang-panting memperkenalkan albumnya. keliling dari gereja ke gereja untuk menitipkan album di toko buku. juga memanfaatkan jaringan pertemanan yang sudah dibina selama 16 tahun menekuni kariernya sebagai gospel singer.&lt;p&gt;pietche mengaku hanya mencetak 2.000 keping vcd. ini angka rata-rata untuk album rohani independen. dia optimistis album natalnya bisa diterima umat kristiani di surabaya dan kawasan indonesia timur.&lt;p&gt;bukankah sudah terlalu banyak album natal dari penyanyi terkenal di pasar? &lt;p&gt;&amp;quot;betul. tapi yang karakternya macam saya kan belum ada. saya juga menggunakan studio yang bagus dengan aransemen musik yang berkualitas,&amp;quot; ujar pria yang murah senyum ini.&lt;p&gt;kalaupun tahun ini tidak terserap di pasar, pietche yakin tahun-tahun mendatang album natalnya bakal dicari orang. sebab, karakter album-album natal memang evergreen alias bisa bertahan dari masa ke masa. lagu malam kudus, misalnya, tetap dinyanyikan meski sudah berusia ratusan tahun.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-5219512318003255961?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/5219512318003255961/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/12/pietche-rilis-album-natal.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5219512318003255961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5219512318003255961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/12/pietche-rilis-album-natal.html' title='pietche rilis album natal'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-3089529228996050021</id><published>2011-12-16T10:04:00.001+07:00</published><updated>2011-12-16T10:04:41.250+07:00</updated><title type='text'>doa tukang tambal ban</title><content type='html'>apes. maksud hati ngontel ke suramadu, tiba-tiba ban sepedaku gembos. kena logam semacam paku. keapesan macam ini memang bisa dialami siapa saja, kapan saja.&lt;p&gt;untung, ada penambal ban sekitar 200 meter. &amp;quot;sampean pasien pertamaku,&amp;quot; kata si tukang tambal ban bernama cak ali. &amp;quot;doaku terkabul,&amp;quot; katanya cengengesan.&lt;p&gt;doa-doa harian cak ali dkk sederhana saja: &amp;quot;TUHAN, semoga hari ini banyak orang yang bannya gembos.&amp;quot; banyak ban gembos berarti banyak pasien. berarti banyak uang masuk.&lt;p&gt;saya pun menikmati jalan pikiran cak ali. akal sehatnya bagus. kalau ban saya tidak gembos, dia tak akan dapat uang. saya pun tertawa kecil. apes pun hilang meski gagal ke jembatan 5,4 km itu.&lt;p&gt;sambil baca berita di koran tentang kemenangan barcelona di piala toyota, saya mulai mengikuti cara berpikir cak ali. tak jauh dari situ ada tukang kunci. belum ada konsumen.&lt;p&gt;doa tukang kunci: semoga hari ini ada orang kehilangan kunci. tukang kunci itu senyam-senyum. dan... benar, lima menit kemudian ada pengendara motor datang. mengajak tukang kunci ke rumahnya karena beberapa kuncinya hilang.&lt;p&gt;rupanya, doa tukang kunci terkabul. hehehe... saya pun cabut setelah bayar 500 pada si penambal ban.&lt;p&gt;doa-doa ini saya kaitkan denhan dokter yang tempat praktiknya dekat kediaman saya. &amp;quot;semoga makin banyak orang surabaya yang sakit, Tuhan. biar pasien makin banyak, rezeki makin melimpah.&amp;quot;&lt;p&gt;doa dokter mungkin akan disambung para penggali kubur di permakaman ngagel. &amp;quot;Tuhan, semoga hari ini ada orang ngagel yang mati agar kami bisa dapat kerjaan menggali kubur.&amp;quot;&lt;p&gt;syukurlah, doa-doa dokter, pengusaha apotek, dan penggali makam dilawan oleh pengusaha asuransi. &amp;quot;Tuhan, semoga semua orang diberi sehat, tidak celaka, tidak ada bencana alam... sehingga tidak ada nasabah yang klaim.&amp;quot;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-3089529228996050021?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/3089529228996050021/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/12/doa-tukang-tambal-ban.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/3089529228996050021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/3089529228996050021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/12/doa-tukang-tambal-ban.html' title='doa tukang tambal ban'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-8247436342126705405</id><published>2011-12-15T09:43:00.001+07:00</published><updated>2011-12-15T09:43:55.685+07:00</updated><title type='text'>penerjemah mandarin di pengadilan</title><content type='html'>banyak orang di surabaya yang fasih berbahasa mandarin. namun belum banyak orang yang bisa dimintai jasanya menjadi penerjemah mandarin dalam urusan hukum.&lt;p&gt;karena itu, aparat penegak hukum sering kali kesulitan menghadapi tersangka atau terdakwa yang berasal dari taiwan atau tiongkok. seperti diketahui, orang-orang dari negeri naga itu juga tidak bisa berbahasa inggris.&lt;p&gt;karena itu, selama ini pihak kepolisian atau pengadilan biasanya memanfaatkan jasa &amp;#39;relawan&amp;#39; yang bersedia menjadi penerjemah. salah satunya liauw sin lan alias lanny candra dari yayasan pelita kasih.&lt;p&gt;&amp;quot;saya beberapa kali duduk di samping terdakwa di pengadilan negeri. mungkin orang mengira saya ini ikut jadi terdakwa. hehehe...,&amp;quot; kata,&amp;quot; kata lanny pekan lalu.&lt;p&gt;menurut lanny, menjadi penerjemah mandarin dalam kasus hukum agak berbeda dengan pemandu wisata atau sekadar penerjemahan biasa. sebab, adistem hukum di indonesia yang berbeda dengan negara asal si terdakwa. konsep itu harus bisa dijelaskan dengan baik. untungnya, lanny sendiri sudah 10 tahun lebih mendampingi para tahanan dan terdakwa di penjara-penjara di jatim.&lt;p&gt;&amp;quot;kita meskipun bukan ahli hukum, tapi harus mengerti hukum. itu akan memudahkan kita ketika mendampingi mereka di persidangan,&amp;quot; kata wanita yang aktif melakukan pelayanan rohani dan bakti sosial itu.&lt;p&gt;selain itu, menurut lanny, seorang penerjemah sebaiknya menguasai beberapa dialek bahasa tionghoa, tidak hanya mandarin sebagai bahasa nasional. ini karena banyak tersangka yang enggan berbahasa mandarin dan hanya mau bicara dalam dialek setempat. &lt;p&gt;&amp;quot;memang di dunia hukum itu liku-likunya banyak karena kita menghadapi jaringan internasional,&amp;quot; kata lanny yang fasih beberapa dialek tionghoa itu.&lt;p&gt;bagi orang tionghoa di indonesia, menurut dia, bahasanya orang-orang dari tiongkok bagian selatan seperti guangdong, fujian, taiwan, atau hongkong lebih mudah ditangkap ketimbang dialek orang-orang utara.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-8247436342126705405?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/8247436342126705405/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/12/penerjemah-mandarin-di-pengadilan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/8247436342126705405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/8247436342126705405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/12/penerjemah-mandarin-di-pengadilan.html' title='penerjemah mandarin di pengadilan'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-6513909303571362524</id><published>2011-12-14T13:38:00.001+07:00</published><updated>2011-12-14T13:38:57.694+07:00</updated><title type='text'>natal prematur di jawa</title><content type='html'>orang kristen di jatim tidak banyak. tapi suasana natal cukup terasa sejak awal desember. pusat belanja penuh hiasan natal. hotel berbintang. beberapa kantor swasta.&lt;p&gt;jawa pos juga bikin festival jingle bells setiap hari. hampir semua gereja di surabaya dan sekitar ikut lomba paduan suara, nyanyi, hingga band rohani itu. &lt;p&gt;dimuat tiap hari di koran, acara ini terkesan begitu hebatnya. orang-orang kristen di surabaya ingin menunjukkan bahwa mereka punya potensi besar di bidang musik.&lt;p&gt;menurut kalender liturgi, saat ini masih masa adven. bersiap diri menyambut natal. tapi suasana adven ini sejak dulu kurang terasa. ini juga karena orang-orang kristen di jawa sering mengadakan perayaan natal sebelum 25 desember. masa adven pun kabur.&lt;p&gt;sebetulnya masalah ini, natal yang prematur, sudah dibahas panjang lebar sejak puluhan tahun lalu. jadi debat teologis yang tak ada habisnya. &lt;p&gt;tapi mau bagaimana lagi? semua orang punya hak dan kebebasan untuk mengekspresikan imannya. mau natalan tanggal 24 desember atau 25 desember atau 10 desember, silakan. &lt;p&gt;saya sendiri menerima undangan perayaan natal sebelum 20 desember. sebagai orang flores dengan tradisi katolik yang konservatif inkulturatif, ini jadi dilema tersendiri. masih adven kok sudah natalan.&lt;p&gt;tapi kalau tidak pun kurang nyaman karena mereka teman-teman kita juga. yang paling penting moga-moga damai dan sukacita natal selalu bersama kita semua. amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-6513909303571362524?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/6513909303571362524/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/12/natal-prematur-di-jawa.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/6513909303571362524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/6513909303571362524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/12/natal-prematur-di-jawa.html' title='natal prematur di jawa'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-1102126012889778019</id><published>2011-12-14T09:28:00.000+07:00</published><updated>2011-12-14T12:24:55.552+07:00</updated><title type='text'>hp tiongkok di negara konsumen</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-nayqSpevKUI/TugzIOVmjKI/AAAAAAAAGoQ/Xrfw2B74qzw/s1600/hp.jpeg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="252" width="150" src="http://1.bp.blogspot.com/-nayqSpevKUI/TugzIOVmjKI/AAAAAAAAGoQ/Xrfw2B74qzw/s320/hp.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;apa boleh buat, rupanya kita sudah ditakdirkan sebagai bangsa konsumen. bukan produsen. lihat saja saat ini: berbagai barang di toko, mal, plaza, khususnya yang terkait gaya hidup sebagian besar impor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;telepon seluler (hp) impor. mobil. motor. laptop. komputer. bahkan barang kecil-kecil macam pisau, penitian bolpoin, gunting, mainan anak saat ini dikuasai made in china.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tiongkok memang piawai membuat barang-barang murah. apa saja dari peniti hingga motor, hp, komputer, hingga mesin pembangkit listrik. murahnya bukan main. mesin perahu nelayan di sidoarjo misalnya yang buatan cungkuo lima kali lebih murah ketimbang made in japan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;buatan lalu ada bursa hp china di kawasan waru, dekat bandara juanda. saya mampir. akhirnya, tergoda dengan huawei g6611. harganya cuma 200 ribu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;padahal, huawei ini punya fitur lengkap. internetnya bagus, bisa dipakai ngeblog seperti yang saya lakukan ketika menulis catatan ini. kekuatannya bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau anda banting ya pasti rusak. tergantung perawatannya aja, kata si nona spg huawei cengengesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;begitulah. barang-barang made in china memang terkenal dengan imejnya yang buruk. murah tapi mutu tidak dijamin. dipakai beberapa kali kemudian jadi sampah. kemudian beli lagi. toh murah meriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;huawei sendiri dirilis saat piala dunia 2010. waktu itu harganya 750-an ribu. kurang setahun kemudian tinggal 230-an di pasar kaki lima. ini makin memperburuk citra produk-produk tiongkok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya sering merenung sendiri: mengapa manusia-manusia indonesia tidak bisa bikin hp murah? laptop murah? komputer murah? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengapa kita selalu melecehkan produk2 tiongkok yang justru sangat menolong orang indonesia yang penghasilannya sedikit? kita sering terlalu pintar bicara, jago kecam, tapi lupa berproduksi. sementara di depan mata kita produk-produk asing berseliweran di jalan raya kayak toyota, daihatsu, honda, yamaha, suzuki, dan entah apa lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebuah bangsa yang mengabaikan produksi, begitu kira-kira kata pramoedya ananta tour, niscaya menjadi objek pasar bangsa-bangsa lain.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-1102126012889778019?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/1102126012889778019/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/12/hp-tiongkok-di-negara-konsumen.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/1102126012889778019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/1102126012889778019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/12/hp-tiongkok-di-negara-konsumen.html' title='hp tiongkok di negara konsumen'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-nayqSpevKUI/TugzIOVmjKI/AAAAAAAAGoQ/Xrfw2B74qzw/s72-c/hp.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-2540925931912681620</id><published>2011-12-14T08:29:00.001+07:00</published><updated>2011-12-14T12:23:19.521+07:00</updated><title type='text'>ngeblog pakai hp di suramadu</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-xfAOCy2cY34/Tugys6FoMBI/AAAAAAAAGoE/hAg4OGEi6ag/s1600/hp.jpeg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="252" width="150" src="http://2.bp.blogspot.com/-xfAOCy2cY34/Tugys6FoMBI/AAAAAAAAGoE/hAg4OGEi6ag/s320/hp.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;sambil ngopi di kaki suramadu, tambakwedi, saya tiba-tiba kepingin ngeblog pakai hp. kata beberapa bloger, ngeblog dengan ponsel tak kalah asyik ketimbang laptop atau komputer biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengetik pakai hp jelas tidak nyaman bagi orang macam saya yang sejak kecil sudah kenal mesin tik manual. papan kibod hp terlalu kecil. layar hp pun sangat kecil. tapi kalau sudah terbiasa akan asyik, kata beberapa bloger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ngeblog pakai hp memang unik. cuma persoalannya, sulit mengatur huruf besar. bisa saja tapi akan sangat lama. dan itu mengganggu aliran pikiran. ya sudah, pakai huruf kecil semua saja. tak usah huruf kapital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di tambakwedi ini tiap hari ada puluhan penggemar sepeda macam saya yang istirahat setelah mancal lima sampai 10 km. angin lautnya asyik. melihat jembatan 5,4 km dengan riak air laut, batu karang, bakau, pohon bidara... memang menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;warung-warung kopi, yang pemiliknya orang madura, berderet di pantai. jualan mi, kopi, teh, jajanan, rokok, air minum, juga nasi. tapi tidak ada makanan laut yang enak yang bisa dinikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau pagi hari didominasi orang dewasa, khususnya lansia, mulai petang suramadu dijubeli anak-anak muda remaja. berduaan laki perempuan. pacaran di atas motor di tepi pantai yang remang. adu hidung, adu bibir, saling membelai.... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ehm... dunia seakan milik berdua di suramadu. para laoren alias lansia atau setengah lansia selalu cemburu melihat kemesraan remaja di tepi pantai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yah, dunia remaja dan dunia lansia memang berbeda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-2540925931912681620?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/2540925931912681620/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/12/ngeblog-pakai-hp-di-suramadu.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/2540925931912681620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/2540925931912681620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/12/ngeblog-pakai-hp-di-suramadu.html' title='ngeblog pakai hp di suramadu'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-xfAOCy2cY34/Tugys6FoMBI/AAAAAAAAGoE/hAg4OGEi6ag/s72-c/hp.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-9151317217133100179</id><published>2011-12-11T20:10:00.001+07:00</published><updated>2011-12-11T20:20:34.230+07:00</updated><title type='text'>Real Madrid Kalah Kelas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-VkEkQ4J5Xeg/TuSuAG2mAiI/AAAAAAAAGng/L0cxHYJL71s/s1600/real%2Bmadrid.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 251px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-VkEkQ4J5Xeg/TuSuAG2mAiI/AAAAAAAAGng/L0cxHYJL71s/s320/real%2Bmadrid.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5684859946511237666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Real Madrid kalah lagi dari Barcelona tadi pagi. Cara mainnya masih sama dengan musim lalu.Kerja sama antarlini tak jalan. Jauh dibandingkan Barcelona yang makin mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang awalnya Barca dibuat terkejut oleh gol cepat Benzema. Tapi setelah itu gaya bermain Barca yang mengandalkan kerja tim kian muncul. Barca memang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salut buat Xavi Hernandez dkk yang berhasil membuat permainan Madrid tidak berkembang. Madrid dibuat kacau, mirip tim medioker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim lalu saya menulis bahwa Madrid akan sangat sulit mengalahkan Barca jika cara mainnya masih seperti sekarang. Main tanpa skema yang jelas. Terlalu lama bawa bola macam Ronaldo atau di Maria. Tak akurat umpan. Lini tengah mandek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begini terus, saya yakin Barcelona B pun akan sulit dikalahkan. Sungguh kasihan Real Madrid. Sudah terlalu banyak buang uang, tapi tidak bisa mengalahkan Barca yang efisien dan cerdas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira Jose Moreinho sebaiknya diganti. Makin lama dipegang Jose, Madrid akan tetap jadi juara tiga La Liga. Juara satu Barcelona A, juara dua Barcelona B.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pendapat Anda?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-9151317217133100179?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/9151317217133100179/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/12/real-madrid-kalah-kelas.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/9151317217133100179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/9151317217133100179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/12/real-madrid-kalah-kelas.html' title='Real Madrid Kalah Kelas'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-VkEkQ4J5Xeg/TuSuAG2mAiI/AAAAAAAAGng/L0cxHYJL71s/s72-c/real%2Bmadrid.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-5066954128011030340</id><published>2011-12-09T10:57:00.000+07:00</published><updated>2011-12-09T10:58:20.217+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sidoarjo'/><title type='text'>Intoleransi di Jalan Raya</title><content type='html'>Minggu pagi (4/12/2011), saya ikut 'mengawal' peserta jalan sehat Hari Jadi Korpri di Sidoarjo. Acara tahunan ini diikuti sekitar 2.000 orang, termasuk Wakil Bupati Sidoarjo Pak Hadi Sutjipto. Ada hiburan dangdut, undiah berhadiah sepeda pancal, sepeda motor, dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat biasanya senang dengan acara-acara macam ini karena ada iming-iming hadiah. Tapi banyak juga yang senang demi kesehatan. Asyik, jalan ramai-ramai! Jalan sehat pun bisa jadi ajang promosi yang efektif di Jawa Timur. Maka, saya lihat ada konter Axis, Teh Pucuk Harum, Anlene, Yamaha, Kopi Ya, koran, dan aneka produk kerajinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya juga jalan sehat, tentu saja rombongan menggunakan sebagian ruas jalan raya. Mulai dari alun-alun, Ahmad Yani, Gajah Mada, belok ke Salutan, Diponegoro, Sultan Agung, kembali ke alun-alun. Saya lihat peserta mulai anak-anak hingga lansia, termasuk anggota Taijiquan dan Ling Tien Kung berjalan dengan penuh semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita ingin sehat, Mas. Saya nggak pernah punya mimpi dapat hadiah," kata seorang aktivis taijiquan. Pria 70-an tahun ini memang semangatnya bukan main. Jalannya cepat dan terlihat segar meski usianya tidak lagi muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, pengguna jalan raya, khususnya pengendara mobil, rupanya kurang toleran. Mereka seperti terganggu dengan jalan sehat. Padahal, peserta hanya menggunakan beberapa meter saja badan jalan. Itu pun tidak lama. Acara jalan sehat tidak pernah lebih dari 60 menit karena rutenya memang pendek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jl Diponegoro, saya mengawal beberapa rombongan peserta untuk menyeberang. Tentu saja lewat zebra cross, bukan menyeberang secara ngawur. Sudah seharusnya pengguna mobil itu mengalah sesaat, kasih kesempatan kepada peserta jalan sehat untuk menyeberang. Tapi beberapa pengendara mobil tidak mau tahu. Nyelonong saja meskipun peserta ramai-ramai mengangkat tangan tanda meminta mobil berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun geleng-geleng kepala. Untungnya setiap hari Minggu lalu lintas tidak sepadat hari-hari biasa. Maka, peserta tetap bisa dapat celah untuk menyeberang untuk beralih ke Sultan Agung, kawasan kantor pos. Andaikan jalan sehat ini diadakan pada hari kerja, bisa jadi ada peserta yang tersenggol atau mendapat celaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Sudah sangat lama saya merasakan kian tipisnya toleransi di jalan raya. Orang-orang yang jalan kaki sering tidak direken oleh pengendara mobil atau motor. Sangat susah menyeberang, bahkan di zebracross sekalipun. Kita jadi malu ketika ada orang Barat, wisatawan, yang kebetulan datang ke Surabaya, Sidoarjo, atau kota-kota lain di Jawa Timur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya ngeri nyetir mobil di Surabaya dan Sidoarjo. Rasanya deg-degan," kata Christine, warga negara Swiss, yang sering berkunjung ke Sidoarjo. Yah, kita mau bilang apa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak salah, di negara-negara lain pejalan kaki sangat dihormati sebagai manusia. Pengendara mobil atau motor otomatis berhenti atau memperlambat laju kendaraan ketika melihat ada orang yang hendak menyeberang di zebracross.  Orang Barat atau Singapura atau Hongkong, yang sering dicap individualis oleh kita itu, justru lebih humanis di jalan raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terjadi di Surabaya atau Sidoarjo terbalik. Ketika melihat ada orang yang hendak menyeberang di zebracross, mereka justru mempercepat laju kendaraan. Sama sekali tidak memberi kesempatan sedikit pun kepada manusia untuk menyeberang. Orang-orang di Jawa bahkan lebih takut menabrak kucing ketimbang manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau menabrak kucing, bisa kualat, sementara menabrak manusia, ya, tabrak lari. Toh, tidak ada kamera yang merekam peristiwa semacam itu. Di jalan raya itulah, potret manusia Indonesia tergambar dengan sangat jelas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-5066954128011030340?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/5066954128011030340/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/12/intoleransi-di-jalan-raya.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5066954128011030340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5066954128011030340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/12/intoleransi-di-jalan-raya.html' title='Intoleransi di Jalan Raya'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-168799156707414269</id><published>2011-12-06T11:31:00.002+07:00</published><updated>2011-12-06T11:36:29.012+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tionghoa'/><title type='text'>Perpit Pecah, Kiki Barki Bikin Kongres</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-JANe7kyf8ps/Tt2bxqqjjGI/AAAAAAAAGm8/bo4AQfrk4qM/s1600/kiki%2Bperpit.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 225px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-JANe7kyf8ps/Tt2bxqqjjGI/AAAAAAAAGm8/bo4AQfrk4qM/s320/kiki%2Bperpit.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5682869582380108898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhimpunan Pengusaha Tionghoa Indonesia (Perpit) dilanda perpecahan. Konflik yang awalnya hanya sekadar bisik-bisik internal kini mencuat ke permukaan. Kedua kubu Perpit saling memasang iklan di media massa dan mengklaim sebagai paling sah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui kuasa hukumnya, Otto Cornelis Kaligis, Perpit versi Tahir memasang iklan besar-besar di koran pada Senin (5/12) lalu. OC Kaligis menilai kongres Perpit versi Kiki Barki di Jakarta pada 7 Desember 2011 di Sun City Restaurant, Jakarta, sebagai 'tidak sah dan ilegal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasannya: "kongres itu dibuat oleh pihak-pihak yang tidak berwenang secara hukum dan telah mengatasnamakan Perkumpulan Perpit yang sah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diketahui, kedua kubu Perpit yang diperkuat pengusaha-pengusaha besar keturunan Tionghoa terlibat sengketa kepengurusan sejak setahun terakhir. Baik kubu Tahir maupun Kiki Barki mengklaim sebagai pengurus Perpit ang sah. Sengketa pun sampai ke meja pengadilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gugatan perdata dilayangkan melalui Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan nomor perkara 339/Pdt.G/2010/PN.Jkt.Pst. Hingga saat ini, menurut OC Kaligis, sengketa perdata ini belum berkekuatan hukum tetap. "Perkara tersebut sedang dalam proses pemeriksaan di tingkat banding," tegas Kaligis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi kisruh Perpit di tingkat pusat, Liem Ouyen dari Perpit Jawa Timur menanggapinya dengan santai. Menurut dia, Perpit Jatim tetap mengikuti kongres yang diadakan kubu Kiki Barki pada 7 Desember 2011. "Sebab, yang melantik kepengurusan Perpit Jatim di Surabaya, ya, Kiki Barki. Jadi, kami tetap datang ke kongres karena diundang secara resmi," ujar Liem Ouyen kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpit Jatim, yang berkantor di markas Yayasan Bhakti Persatuan, Jl Kertajaya Indah Timur 31 Surabaya, ini bahkan mengirim tujuh delegasi ke kongres di Jakarta. Selain Liem Ouyen, terdapat nama-nama seperti Ridwan S Harjono (ketua), Budi Wijaya, Sutrisno Alim, Ming-Ming, dan Arief Harsono. Mereka tetap komit mendukung Kiki Barki sebagai ketua umum DPP Perpit periode 2012-2015.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cara berorganisasi orang-orang Jakarta itu memang beda dengan kita di Surabaya. Jadi, kelihatan seperti tegang terus. Kalau kita di Perpit Jatim sih sejak dulu selalu seia sekata," kata Liem Ouyen lantas tertawa kecil.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-168799156707414269?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/168799156707414269/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/12/perpit-pecah-kiki-barki-bikin-kongres.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/168799156707414269'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/168799156707414269'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/12/perpit-pecah-kiki-barki-bikin-kongres.html' title='Perpit Pecah, Kiki Barki Bikin Kongres'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-JANe7kyf8ps/Tt2bxqqjjGI/AAAAAAAAGm8/bo4AQfrk4qM/s72-c/kiki%2Bperpit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-2648291229938503078</id><published>2011-12-04T10:00:00.008+07:00</published><updated>2011-12-06T11:24:59.847+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sidoarjo'/><title type='text'>Rahady GM The Sun Hotel Sidoarjo</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-RZwbkYwrzls/TtzHWfsdR3I/AAAAAAAAGmk/pZBfqmqnNtU/s1600/IMG_8123.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-RZwbkYwrzls/TtzHWfsdR3I/AAAAAAAAGmk/pZBfqmqnNtU/s320/IMG_8123.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5682636019113740146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh LAMBERTUS HUREK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibandingkan lima atau 10 tahun lalu, wajah Sidoarjo saat ini sudah jauh berubah. Kini, Sidoarjo semakin kinclong dan 'metropolis'. Sudah punya hotel, mal, water park, hingga convention hall di tengah kota. The Sun Hotel tercatat sebagai hotel berbintang pertama di tengah kota Sidoarjo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlokasi di Jalan Pahlawan 1, hotel yang berada di dalam kompleks Sun City Mall ini sudah menjadi jujukan para pebisnis ketika berkunjung ke Sidoarjo. Begitu pesatnya perkembangan hotel ini, The Sun Hotel bahkan sedang mengembangkan sayap ke Madiun dan Bekasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, kemajuan hotel bintang tiga yang eksis sejak tahun 2008 ini tak lepas dari kerja keras Timotius Rahady (42), sang general manager, bersama staf dan karyawannya. Berikut petikan percakapan Radar Surabaya dengan Timotius Rahady di sela makan siang, Kamis (1/12/2011).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Berapa kamar yang Anda miliki dan bagaimana tingkat huniannya?&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Total, kami punya 129 kamar, mulai kelas superior, de luxe, executive, dan suite. Yang suite ini hanya ada dua kamar dengan tarif sekitar Rp 2 juta semalam. Syukurlah, okupansinya (tingkat hunian, Red) sangat bagus. Sekarang ini hampir semua kamar yang ada di sini penuh. Jadi, tugas kami sekarang adalah bagaimana mempertahankan okupansi yang sudah baik itu serta terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada para tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagaimana dengan pendapat bahwa para pebisnis yang punya urusan di Sidoarjo lebih suka menginap di Surabaya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, anggapan seperti ini memang ada benarnya. Sebab, waktu itu belum ada hotel berbintang di Sidoarjo. Kalaupun ada, hotel-hotel itu terkonsentrasi di dekat kawasan Bandara Juanda. Sehingga, tentu saja pengusaha-pengusaha atau tamu-tamu dari luar memilih menginap di hotel-hotel yang ada di Surabaya. Apalagi, sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya punya berbagai fasilitas hiburan, belanja, rekreasi, dan sebagainya yang komplet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, dalam perkembangannya, tamu-tamu dari luar memilih menginap di tempat kami (The Sun Hotel) ketika melakukan kunjungan kerja atau acara-acara bisnis di Kabupaten Sidoarjo. Buktinya, okupansi hotel ini justru lebih tinggi daripada di kawasan Juanda yang masih sekitar 55 persen. Di Surabaya sekitar 77 persen. Jadi, so far, kondisi Sidoarjo ini cukup prospektif untuk bisnis perhotelan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Boleh tahu tamu-tamu Anda dari kalangan mana saja?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir 80 persen berasal dari Jakarta dan sekitarnya. Sebagian besar tamu adalah pebisnis yang punya urusan dengan pabrik-pabrik di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Karena itu, karakter tamu-tamu kami agak berbeda dengan tamu-tamu di hotel-hotel berbintang yang lain.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Bisa diperjelas?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini. Karena tamu-tamu kami ini kebanyakan businessman, maka okupansi yang tinggi itu justru terjadi pada saat hari kerja. Saat weekend justru berkurang karena mereka kembali ke rumahnya masing-masing. Pada hari Senin sampai Jumat, tingkat hunian melonjak lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi yang menarik. Biasanya, tamu-tamu yang sebagian besar dari Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) ini datang lewat Bandara Juanda pada first flight atau penerbangan awal. Dari bandara, mereka langsung berangkat ke tempat kerja, menemui rekanan bisnis dan sebagainya, dan baru check-in pada malam hari setelah selesai bertugas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artinya, tamu-tamu The Sun ini umumnya tidak hanya menginap satu dua malam saja?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Betul. Bahkan, ada tamu kami, pebisnis, yang tinggal di sini sampai enam bulan bersama enam rekannya. Karena itu, kami selalu berusaha memperlakukan tamu-tamu The Sun sebagai keluarga sendiri. Kami, misalnya, menanyakan makanan-makanan kesukaan mereka, dan kami siap membuatkannya. Mau sambal yang spesial, ya, kami buatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, saat weekend pun kami sengaja mengajak mancing bareng di kawasan Lingkar Timur bersama beberapa staf dan manajemen hotel. Atau, jalan-jalan melihat dari dekat kondisi semburan lumpur di kawasan Porong. Sebagai hotel yang berada di Sidoarjo, kami juga ikut memperkenalkan objek-objek wisata Sidoarjo, termasuk kulinernya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Servis spesial ini apakah hanya untuk tamu yang menginapnya lama?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh tidak. Tamu yang hanya nginap tiga minggu pun kita kasih layanan spesial. Selama ini kami juga menawarkan jasa mengantar tamu gratis ke tempat kerja. Misalnya, si tamu ingin agar jam delapan sudah sampai di pabrik di daerah Buduran, ya, kami siap antar. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Apa pertimbangan memberikan layanan seperti itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simpel saja. Bagi kami, hotel itu ibarat sebuah rumah. Ketika orang kedatangan tamu di rumahnya, wong iku wani repote. Kita nggak punya ayam, dicari ayam untuk dihidangkan untuk tamu. Nggak punya kambing dicarikan kambing. Hehehe.... Lha, kalau tamunya senang, merasa enak, maka otomatis dia akan cerita ke keluarga atau teman-temannya. Sehingga, suatu saat, ketika ada urusan di Sidoarjo, dia akan menginap lagi. Sebab, hotel itu sudah seperti rumahnya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Lantas, bagaimana Anda melihat potensi perhotelan di Sidoarjo?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat baik. Di wilayah Kabupaten Sidoarjo ini ada sekitar 450 pabrik besar baik itu PMA (penanaman modal asing) maupun PMDN (penanaman modal dalam negeri). Ini merupakan potensi besar yang perlu kita garap. Sebab, ratusan pabrik itu punya rekanan bisnis yang tersebar di seluruh Indonesia maupun luar negeri. Kalau berkunjung untuk urusan bisnis di Sidoarjo, ya, jelas mereka perlu menginap di hotel. Lha, kalau di Sidoarjo sudah ada hotel berbintang, mengapa harus stay di Surabaya? (rek)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-wsBGRN5f7Mg/TtzHm_v-bbI/AAAAAAAAGmw/SgdCmlACTBM/s1600/IMG_8111.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-wsBGRN5f7Mg/TtzHm_v-bbI/AAAAAAAAGmw/SgdCmlACTBM/s320/IMG_8111.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5682636302596337074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Main Musik untuk Tamu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEJAK kecil Timotius Rahady sudah senang bernyanyi dan main musik. Hobi yang bikin awet muda ini semakin ditekuni Rahady ketika kuliah di Semarang. Di ibu kota Provinsi Jawa Tengah itu, Rahady menimba ilmu di Sekolah Tinggu Ilmu Ekonomi Pariwisata. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mahasiswa Rahady bahkan aktif sebagai pemain band. "Yah, ngeben itu sebenarnya hanya sekadar hobi. Tapi ternyata bisa juga untuk sekadar cari uang di sela-sela kuliah," kenang Rahady seraya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai aliran musik ditekuni Rahady bersama teman-teman band-nya. Tapi, sesuai dengan 'keinginan pasar' saat itu, Rahady dan kawan-kawan lebih banyak memainkan lagu-lagu dari band legendaris. "Kayak lagu-lagu tahun 1960-an, sixties, band-band legendaris. Lagu-lagunya terkenal dan lebih mudah dimainkan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski aktif main band, kuliah Rahady lancar-lancar saja. Lulus dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata itu, ayah dua anak ini mulai merintis karier di dunia perhotelan. Jadi pelayan alias waiter di sebuah hotel di kawasan Malioboro, Jogjakarta. Rupanya, Rahady cukup menikmati pekerjaan awalnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman selama dua dasawarsa di perhotelan membuat Rahady sangat paham lika-liku dan manajemen sebuah hotel berbintang. Karena itu, pria berkacamata ini kemudian dengan mudah diterima sebagai sales marketing di Hotel Graha Santika Semarang. "Tujuh tahun saya kerja di Graha Santika," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Semarang, Rahady pun 'digeser' ke Surabaya lantaran Santika tengah merintis hotel baru di Kota Pahlawan. Kembali Rahady memperlihatkan totalitasnya sebagai 'orang hotel' tulen. Begitulah. Sebagian besar usia Rahady, yang kini sudah 42 tahun, didekasikan dari hotel ke hotel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, bagaimana dengan hobi bermusiknya yang sudah mendarah daging itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, terus berlanjut meski wujudnya yang berbeda. Sebagai mantan anak band, tentu saja Rahady punya teman dan relasi yang erat dengan pemusik-pemusik ternama di tanah air. Khususnya musisi-musisi aliran jazz mainstream. Sebut saja Embong Rahardjo (almarhum), Arief Setiadi, Bintang Indrianto, atau Didiek SSS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ketika konco-konco lawas ini kebetulan bertandang ke Surabaya, Rahady mengajak mereka untuk main bareng alias bikin jam session. Jadilah semacam 'festival' jazz kecil-kecilan di dalam hotel. "Saya memang ingin agar tamu-tamu hotel kerasan, kayak tinggal di rumah sendiri," katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Sun Hotel Sidoarjo sendiri, Rahady sekali-sekali memperlihatkan bakatnya dengan memainkan piano klasik. Saat hendak difoto Radar Surabaya, misalnya, jari-jemari Rahady terlihat lincah di depan piano. Lalu, meluncurlah melodi Balada Pelaut, lagu pop daerah Manado, Sulawesi Utara. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;"Siapa bilang pelaut mata keranjang. &lt;br /&gt;Kapal bastom lapas tali, lapas cinta&lt;br /&gt;Siapa bilang pelaut pamba tunangan &lt;br /&gt;Jangan percaya mulut rica-rica...."&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BIODATA SINGKAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama : Timotius Rahady&lt;br /&gt;Lahir : Rembang, 19 Mei 1969&lt;br /&gt;Istri : Listiowati &lt;br /&gt;Anak : dua orang &lt;br /&gt;Jabatan : GM The Sun Hotel Sidoarjo &lt;br /&gt;Hobi : Musik, khususnya piano&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alamat : Jl Pahlawan 1 Sidoarjo&lt;br /&gt;E-mail : timotius_rahady@yahoo.co.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan &lt;br /&gt;- SD di Rembang&lt;br /&gt;- SMPN 2 Rembang  &lt;br /&gt;SMAN 2 Semarang&lt;br /&gt;Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata, Semarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat Karier&lt;br /&gt;- Hotel Mutiara Jogjakarta sebagai waiter&lt;br /&gt;- Hotel Graha Santika Semarang, sales marketing&lt;br /&gt;- Hotel Santika Surabaya&lt;br /&gt;- Hotel Insumo Kediri&lt;br /&gt;- MX Plaza Malang&lt;br /&gt;- The Sun Hotel Sidoarjo sejak 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dimuat RADAR SURABAYA edisi Minggu 4 Desember 2011&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-2648291229938503078?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/2648291229938503078/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/12/rahady-gm-sun-hotel-sidoarjo.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/2648291229938503078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/2648291229938503078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/12/rahady-gm-sun-hotel-sidoarjo.html' title='Rahady GM The Sun Hotel Sidoarjo'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-RZwbkYwrzls/TtzHWfsdR3I/AAAAAAAAGmk/pZBfqmqnNtU/s72-c/IMG_8123.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-5261433912334654444</id><published>2011-12-03T16:25:00.020+07:00</published><updated>2011-12-04T09:56:34.052+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tionghoa'/><title type='text'>Tionghoa Makin Berkurang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-TH7LQ_20bcA/TtnrFwqz7tI/AAAAAAAAGmM/NaEHc_RrphM/s1600/meili.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 268px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-TH7LQ_20bcA/TtnrFwqz7tI/AAAAAAAAGmM/NaEHc_RrphM/s320/meili.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5681830889100930770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;MEILI CIAMIK: Yenny Wijayanti, mahasiswi UK Petra Surabaya, 21 tahun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Berapa jumlah warga negara Indonesia (WNI) keturunan Tionghoa? Angkanya masih simpang siur. Ada pengamat yang menyebut lima juta jiwa. Ada yang bilang tujuh juta. Ada lagi yang menyebut muslim Tionghoa mencapai 1,5 juta. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau yang muslim saja 1,5 juta, jika digabungkan dengan penganut agama-agama lain (Katolik, Kristen Protestan, Buddha, Konghucu, Tao), populasi Tionghoa tentu jauh lebih besar. Tapi, yang menarik, hasil sensus penduduk 2010 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, saat ini penduduk Indonesia yang mengaku keturunan Tionghoa hanya 2,8 juta jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun total penduduk Indonesia mencapai 237 juta jiwa. Dus, persentase Tionghoa sekarang 1,2 persen. Mengapa jumlah dan persentase Tionghoa menurun? Dan apakah penurunan ini akan berlangsung terus-menerus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sejumlah analis, penurunan ini merupakan bukti suksesnya upaya pembauran dan akulturasi budaya di kalangan warga Tionghoa dengan penduduk setempat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu membaurnya dengan warga lokal, ketika ditanya petugas sensus, orang-orang Tionghoa generasi baru itu mengaku sebagai bukan lagi 'orang Tionghoa', melainkan orang Bangka, Belitung, Singkawang, Pontianak, Flores, Timor, Jawa, Madura, dan sebagainya. Apalagi, banyak generasi muda Tionghoa yang sudah lama 'hilang' ketionghoaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Jousairi Hasbullah, analis statistik BPS, seorang imigran yang telah menetap lama di sebuah daerah, dari generasi ke generasi, niscaya dipengaruhi tradisi, bahasa, budaya, dan norma setempat. Akhirnya, dia mengaku sebagai anggota suku tempat dia berada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Petugas sensus akan mencatat sesuai pengakuan orang itu," kata Hasballah tentang pendekatan etnodemografis yang lazim dipakai BPS saat sensus penduduk di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor lain adalah kawin campur. Ketika orang Tionghoa menikah dengan penduduk setempat, maka keturunannya biasanya cenderung masuk kategori pribumi. Asimilasi tuntas ini, menurut mendiang Dr Ong Hok Ham, banyak terjadi di Pulau Madura, khususnya Sumenep. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, populasi Tionghoa yang cukup signifikan di Sumenep sejak tahun 1790, ketika Raja Sumenep mendatangkan tukang-tukang dari Tiongkok untuk membuat keraton dan masjid, lama-lama berkurang... dan akhirnya tinggal sedikit saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika imigran Tiongkok generasi awal, yang semuanya laki-laki itu, ingin menikah dengan perempuan lokal, harus lebih dulu masuk Islam. Keturunan mereka kian melebur dalam budaya, agama, dan bahasa setempat, dan tak lagi mengenal tradisi, bahasa, atau agama leluhurnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, bisa dipahami jika Hasbullah dalam tulisannya di KOMPAS edisi 2 Desember 2011 menyebutkan bahwa populasi Tionghoa saat ini (sensus tahun 2010) menurun drastis dibandingkan sensus penduduk tahun 1930. Saat sensus di era Hindia Belanda itu populasi Tionghoa mencapai 2,04 persen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, menurut saya, penurunan persentase Tionghoa di Indonesia ini juga akibat represi rezim Orde Baru yang berkuasa sejak 1966 hingga 1998. Selama 32 tahun orang-orang Tionghoa dipaksa MENJADI INDONESIA dengan kewajiban ganti nama, ganti agama, dan tidak boleh melestarikan atau mengembangkan budaya leluhur. Ekspresi budaya Tionghoa hanya dilakukan di dalam rumah atau komunitas khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32 tahun jelas bukan masa yang pendek. Suka tidak suka, Tionghoa generasi Orde Baru yang lahir setelah tahun 1966 ini, sudah berbeda dengan orang tua mereka yang rata-rata bersekolah di sekolah-sekolah Tionghoa. Tionghoa Orba ini umumnya sekolah di sekolah-sekolah Katolik, Protestan, negeri, atau sekolah swasta umum. Bahasa Tionghoa generasi Tionghoa Orba pun tidak sefasih orang tua, apalagi kakek-neneknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Tionghoa Orba ini, yang sekarang berusia di bawah 45 tahun, pun tidak begitu tersinggung, apalagi marah, ketika kita menggunakan istilah CINA (tanpa H) dan bukan TIONGHOA.  Yenny Wijayanti, mahasiswi Universitas Kristen Petra Surabaya, misalnya, selalu menulis CINA dan bukan TIONGHOA seperti dianjurkan oleh bapak-bapak dan ibu-ibu aktivis masyarakat Tionghoa di Kota Surabaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yenny alias Huang Meili ini mengaku tidak bisa mengerti mengapa saya selalu mengubah istilah CINA yang dia tulis dengan TIONGHOA atau TIONGKOK. Begitulah. Tionghoa Orba ini rata-rata kurang membaca sejarah dan asyik-asyik aja mau disebut CINA, CHINA, CHINESE, TIONGHOA, atau apa saja... terserah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jangan coba-coba menyebut CINA, apalagi CINO, atau menulis CINA (tanpa H) di depan Pak Lim yang Tionghoa golongan totok. Beliau pasti marah dan akan memberi kuliah khusus tentang masalah ini secara panjang lebar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wartawan itu harus tahu sejarah dan banyak baca. Kalau Saudara males baca, tidak mau tahu sejarah, sebaiknya pulang saja ke kampung halamanmu. Pasti tulisanmu akan kacau!" begitu antara lain kata-kata Pak Lim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya setuju pendapat beliau. Kita harus banyak baca, belajar sejarah, tenggang rasa, sensitif memilih kata atau istilah agar orang lain tidak tersinggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena berkali-kali dapat 'kuliah' macam ini di Surabaya, sejak delapan tahun lalu saya tidak pernah menggunakan kata CINA dalam semua tulisan saya. Saya selalu pakai TIONGHOA atau TIONGKOK, dan belakangan ini ZHONGGUO (baca: Cungkuo) setelah saya mulai sedikit-sedikit paham karakter hanzhi di komputer atau telepon seluler.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-5261433912334654444?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/5261433912334654444/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/12/tionghoa-makin-berkurang.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5261433912334654444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5261433912334654444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/12/tionghoa-makin-berkurang.html' title='Tionghoa Makin Berkurang'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-TH7LQ_20bcA/TtnrFwqz7tI/AAAAAAAAGmM/NaEHc_RrphM/s72-c/meili.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-6360529610314769533</id><published>2011-12-01T08:45:00.001+07:00</published><updated>2011-12-01T08:51:51.955+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tionghoa'/><title type='text'>Lanny Chandra - Pelita Kasih</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-CCwT40PfISc/TtbdgTuK2XI/AAAAAAAAGmA/6cIO-zEdmq0/s1600/pelita.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-CCwT40PfISc/TtbdgTuK2XI/AAAAAAAAGmA/6cIO-zEdmq0/s320/pelita.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5680971527093934450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Selain aktif dalam kegiatan bakti sosial sejak 1997, Lanny Chandra akhir-akhir ini kerap diminta menjadi penerjemah bahasa Mandarin untuk tahanan dan narapidana asal Tiongkok dan Taiwan. Bahkan, ketua Yayasan Pelita Kasih ini diminta menjadi 'konsultan' kesehatan bagi teman-teman dan kerabat dekatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maklum, Lanny Chandra yang pernah diopname cukup lama di Singapura kini terlihat segar-bugar. Gara-gara sakit cukup lama itu, dia menjadi sangat memahami obat-obatan hingga diet untuk penderita diabetes dan gangguan kesehatan serius lainnya. Saat baksos, Lanny pun ikut mengecek gula darah pasien. Tak heran, perempuan yang kerap disapa Sin Lan ini sering dijuluki sebagai 'dokter Lanny' oleh teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya selalu ingatkan agar masyarakat selalu mengontrol kadar gula darah, kolesterol, dan sebagainya. Periksa kesehatan secara rutin agar kita bisa antisipasi," ujar Lanny Chandra kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sekadar memberi masukan kepada orang-orang yang mengalami hiperkolesterol, asam urat, gula darah..., Lanny biasanya menyimpan makanan kesehatan dan obat-obatan herbal. Sebagian obat-obatan itu dia peroleh dari Tiongkok. Ketika ada sejumlah pendeta atau evangelis yang mengalami gangguan kesehatan gara-gara kolesterol, Lanny pun menawarkan herbal khas Tiongkok itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya punya teh khusus dari Tiongkok. Ada tiga pendeta yang sudah merasakan khasiat teh ini. Mereka yang tadinya selalu kesemutan karena kolesterol tinggi sekarang jadi segar," ujar Lanny lantas tersenyum lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Lanny, sejak dulu teh yang diproduksi di negara tirai bambu itu memang punya kelebihan dibandingkan teh-teh lain di mana pun. Selain kondisi iklimnya yang berbeda, orang-orang Tiongkok punya 'budaya teh' yang sudah berlangsung selama ribuan tahun. Karena itu, daun-daun teh yang dipakai pun benar-benar pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-AizFal2CrT0/TtbdNbHcl0I/AAAAAAAAGl0/jIe8mvMfJjw/s1600/Lanny.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-AizFal2CrT0/TtbdNbHcl0I/AAAAAAAAGl0/jIe8mvMfJjw/s320/Lanny.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5680971202661488450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman adalah guru yang terbaik. Pepatah ini dihayati benar oleh Lanny Chandra. Di usia kepala enam, ketua Yayasan Pelita Kasih Surabaya ini sangat ketat menjaga pola dan asupan makannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa menderitanya menjadi pasien diabetes yang harus dirawat intensif selama berbulan-bulan di Singapura. Biaya perawatan jelas mahal, belum lagi komplikasi yang ditimbulkan akibat kada gula darah yang tidak normal itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tante pernah kena stroke. Tapi, puji Tuhan, Tante bisa aktif melakukan bakti sosial, kunjungan ke penjara, dan sebagainya karena sudah sehat," ujar Lanny Chandra alias Liauw Sin Lan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak menjadi penderita diabetes itu, Lanny semakin peduli dengan kesehatannya sendiri, juga kesehatan orang lain. Salah satu caranya adalah membeli alat untuk mengecek gula darah. Alat yang mungil ini selalu disimpan di dalam tasnya dan dibawa Lanny ke mana-mana. Dengan begitu, setiap saat dia bisa dengan mudah mengukur kadar gula darahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Lanny, semua orang harus mengantisipasi penyakitnya sejak dini. Jangan sampai terlambat ketika kadar gula darah atau indikator kesehatan lain seperti kolesterol total, kolesterol jahat (LDL), kolesterol baik (HDL), trigliserida, atau asam urat sudah berada di luar batas normal. Lanny selalu menggunakan istilah 'rapor merah' untuk orang-orang yang hasil check-up-nya mengkhawatirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kondisi Anda sudah sangat mengkhawatirkan, bukan lampu kuning, tapi sudah lampu merah. Kalau Anda tidak mengontrol makanan, tidak mau olahraga, beberapa tahun lagi Anda akan jadi pasien jantung koroner. Tante serius lho," ujar Lanny kepada seorang rekannya yang kadar kolesterolnya mengkhawatirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wejangan-wejangan kesehatan ala Lanny Chandra memang lebih keras ketimbang dokter beneran. Bukannya menakut-nakuti, perempuan yang aktif dalam pelayanan bersama Pelita Kasih sejak 1997 ini agar masyarakat tidak main-main dengan kesehatannya. Sebab, selama ini dia melihat banyak orang yang tidak mau mengubah pola hidup dan pola makannya meski sudah tahu kalau hasil cek kesehatannya kuning atau merah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau pola makanan Anda tidak dijaga, tidak mau cari obat-obatan, cuek saja, ya, Tante tidak bisa apa-apa. Toh, keputusan ada di tangan Anda sendiri," kata mantan pengusaha yang terkenal jago memasak ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya kepada relawan Pelita Kasih, aktivis gereja, masyarakat kelas bawah, Lanny Chandra pun kerap 'mengkhotbahi' kalangan kepolisian, petugas penjara, pejabat, atau pengusaha besar tentang pentingnya menjaga kesehatan. Khususnya selalu menjaga kadar gula darah, kolesterol, atau asam urat agar berada di dalam batas normal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biar tidak seperti Tante yang sampai dirawat di Singapura," katanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-6360529610314769533?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/6360529610314769533/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/12/lanny-chandra-pelita-kasih.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/6360529610314769533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/6360529610314769533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/12/lanny-chandra-pelita-kasih.html' title='Lanny Chandra - Pelita Kasih'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-CCwT40PfISc/TtbdgTuK2XI/AAAAAAAAGmA/6cIO-zEdmq0/s72-c/pelita.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-7805036558955267056</id><published>2011-11-30T22:30:00.001+07:00</published><updated>2011-11-30T22:37:39.535+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wisata'/><title type='text'>Wisata Lokal yang Sepi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_19j87EQervM/SWJHjAZ9VXI/AAAAAAAADQY/VdLbA0SKclc/s1600-h/PC240624.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_19j87EQervM/SWJHjAZ9VXI/AAAAAAAADQY/VdLbA0SKclc/s320/PC240624.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5287867579216254322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Pantai wisata Parangtritis, Jogjakarta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak bulan lalu, hampir setiap hari, banyak iklan di surat kabar yang mempromosikan wisata akhir tahun. Setelah saya cek, hampir 100% iklan itu mengajak orang Indonesui untuk melancong ke luar negeri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eropa, Amerika, dan negara-negara Asia, khususnya Tiongkok, Taiwan, Hongkong, atau Makau, masih jadi favorit. Timur Tengah laris dengan wisata rohani, khususnya tempat-tempat ziarah yang dianggap penting untuk umat kristiani. Misalnya, Yerusalem, Bethlehem, Mesir, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, adakah iklan-iklan yang mempromosikan tempat-tempat wisata dalam negeri? Tidak ada. Biro-biro perjalanan wisata sejak dulu memang sangat jarang mempromosikan destinasi lokal atau nasional. Orang Indonesia selalu dikondisikan untuk jalan-jalan ke luar negeri, kemudian membagikan pengalaman lewat tulisan atau foto-foto di media massa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan-akan destinasi asing itu begitu hebatnya. Tulisan-tulisan tentang perjalanan pun ibarat iklan pariwisata yang lebih hebat ketimbang iklan asli yang dibuat negara tersebut. Karena itu, saya tidak pernah membaca tulisan-tulisan macam itu. Saya lebih suka membaca tulisan-tulisan Agustinus Wibowo, yang juga doyan jalan-jalan ke negara yang 'tidak lazim' macam Afghanistan, Pakistan, Tajikistan, Turkmenistan, dan negara-negara lain yang 'sangat menantang'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taman Nasional Komodo di Kabupaten Manggarai Barat, NTT, sempat mencuat gara-gara polemik seputar New7Wonder yang kontroversial itu. Tiba-tiba saja orang rajin bicara binatang purba yang memang sangat langka itu. Sayang, seperti biasa, semuanya 'omdo': omong doang. Tak ada usaha yang sistematis dan serius untuk menggairahkan pariwisata di dalam negeri. Padahal, kata orang-orang Barat, Indonesia ini punya kekayaan alam, kekayaan budaya... yang bisa menghidupkan bisnis pariwisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sulit Bung, fasilitas pendukung wisata di dalam negeri belum memadai," kata Bung Eddy, pelaku bisnis pariwisata. Fasilitas itu macam-macam: penerbangan reguler, kemudahan transportasi, akomodasi, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah semua provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia sudah punya Dinas Pariwisata? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hehehe... Dinas Pariwisata di mana-mana cuma sekadar pajangan. Bahkan, jadi semacam dinas untuk menampung pejabat-pejabat di daerah yang sengaja 'dibuang'. Dinas Pariwisata tidak pernah dikelola secara profesional. Anda ini kayak nggak tahu aja," tukas Bung Eddy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar Bung Eddy tidak memang tidak mengada-ada. Saya melihat sendiri suasana kerja di dinas-dinas pariwisata di Jawa Timur. Benar-benar jauh dari profesional. Kantornya tidak menarik, pegawai-pegawai dan pejabat-pejabatnya kurang kompeten di bidang pariwisata. Belum bicara alokasi anggaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anggaran untuk pariwisata itu di mana-mana paling rendah di semua kabupaten," kata seorang mantan pejabat di Surabaya. "Bagaimana kita mau mengangkat pariwisata di dalam neger?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kementerian Pariwisata, ketika menterinya masih Jero Wacik, memperkenalkan jargon KENALI NEGERIMU, CINTAIMU NEGERIMU. Tapi, seperti biasa, jargon pejabat tetap saja jargon. Tanpa ada perbaikan infrastuktur dan fasilitas-fasilitas pendukung, kita akan sulit menandingi arus kunjungan wisatawan ke Singapura, misalnya. Negara tetangga superkecil yang sebenarnya tidak punya kekayaan alam sehebat Indonesia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-7805036558955267056?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/7805036558955267056/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/11/wisata-lokal-yang-sepi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/7805036558955267056'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/7805036558955267056'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/11/wisata-lokal-yang-sepi.html' title='Wisata Lokal yang Sepi'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_19j87EQervM/SWJHjAZ9VXI/AAAAAAAADQY/VdLbA0SKclc/s72-c/PC240624.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-5051684519535436564</id><published>2011-11-26T19:47:00.002+07:00</published><updated>2011-11-28T16:09:42.105+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seni rupa'/><title type='text'>Cak Ugeng Pelukis Sembur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-M-ZHawM7_n4/TtDiZ_m9DeI/AAAAAAAAGlc/tis5rirE5ms/s1600/cak%2BUgeng%2B%25283%2529.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-M-ZHawM7_n4/TtDiZ_m9DeI/AAAAAAAAGlc/tis5rirE5ms/s320/cak%2BUgeng%2B%25283%2529.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5679288066313620962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Pelukis yang satu ini, Sugeng Prajitno (50 tahun)--- yang lebih suka disapa Cak Ugeng --- memang nyeleneh. Kalau biasanya pelukis-pelukis lain menorehkan cat minyak ke atas kanvas dengan kuas, Cak Ugeng justru pakai mulut. Cat minyak itu dimasukkan ke dalam mulut, dikumur sebentar, kemudian disemburkan ke atas kanvas atau papan yang sudah disediakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 30 menit kemudian jadilah lukisan-lukisan abstrak dengan tema tertentu. Aksi teatrikal Cak Ugeng kian 'menyeramkan' karena pria kelahiran Perak Timur, Surabaya, ini biasanya bermain-main api di kedua belah tangannya, menempel-nempelkan api di tubuhnya, menyemburkan bensin ke arah api, sehingga terlihat membesar di udara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diiringi permainan musik dari beberapa rekannya, Cak Ugeng kemudian mengadakan demo melukis abstrak dengan menyemburkan cat dari mulutnya. Berikut petikan percakapan santai Radar Surabaya dengan Cak Ugeng di studionya, Kampung Seni Pondok Mutiara Sidoarjo, kemarin.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Sejak kapan Anda mulai bikin 'ulah' dengan metode melukis yang tidak umum itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mulai sejak 2003. Awalnya sih coba-coba saja, sekadar mencari perhatian. Sebab, saya kan tergolong pelukis pemula yang belum punya nama di Jawa Timur. Saya harus melakukan sesuatu yang tidak umum agar orang mengenal saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ini kan seniman yang otodidak. Saya nggak punya background pendidikan seni rupa, ikut sanggar lukis, kursus, dan sebagainya. Sementara pelukis-pelukis lain kan sudah eksis dan punya nama. Maka, saya perlu melakukan sesuatu yang berbeda agar bisa dikenal banyak orang. Eh, ternyata lama-kelamaan kok asyik, dan keterusan sampai sekarang. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Bisa dikatakan Anda mau mencari sensasi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya sih ada unsur sensasi. Sebab, bagaimanapun juga setahu saya di Indonesia (mungkin juga di negara-negara lain) belum ada seniman yang melukis dengan menyemburkan cat dari mulutnya. Kemudian aksi ini saya perkaya dengan performance art sehingga bisa menjadi sebuah tontonan yang bisa dinikmati banyak orang. Tapi, setelah berjalan selama beberapa tahun, tidak ada lagi unsur cari sensasi. Sekarang sudah sampai ke taraf spiritual karena apa yang saya lakukan ini seperti sebuah laku spiritual bagi saya. Makanya, saya selalu menyembut pertunjukan saya sebagai spiritual painting.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Barangkali Anda menggunakan unsur magic atau ilmu-ilmu tertentu mengingat Anda berkumur cat dan bermain-main api segala?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, tidak ada sama sekali. Ini murni kesenian. Siapa pun bisa melakukannya kalau mau belajar dan mencoba. Saya sendiri pun awalnya hanya coba-coba saja, tapi ternyata bisa dilakukan dengan mudah. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Tapi penampilan Anda yang gondrong, bertelanjang dada, dan sangar saat performance terkesan seperti dukun?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehe.... Itu kan cuma penampilan luar saja. Namanya juga atraksi teratrikal, ya, harus dikemas sedemikian rupa sebagai sebuah tontonan. Tidak ada magic, tidak ada perdukunan. Makanya, saya sudah lama berjuang agar apa yang saya lakukan ini bisa diakui masyarakat, kritisi, dan sesama seniman sebagai bagian dari kesenian. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Artinya, lukisan sembur Anda belum diakui sebagai karya seni?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih butuh proses karena apa yang saya lakoni ini memang hal baru. Jangankan masyarakat biasa, seniman-seniman pun banyak yang menganggap lukisan-lukisan hasil semburan itu sebagai karya main-main. Nggak gampang memang meyakinkan orang yang sudah punya ideologi atau paham tertentu tentang kesenian. Tapi saya percaya, suatu ketika masyarakat bisa menerima karya-karya saya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, kapan Anda membuat lukisan dengan teknik semburan ini? Apakah setiap saat atau hanya pada momen-momen tertentu di depan publik saja?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sehari-hari sih saya bikin lukisan seperti biasa. Memahat, bikin patung, kelola taman, menulis puisi, teater, dan berkomunitas. Sebab, kesenian yang saya tekuni ini memang bermacam-macam. Tapi khusus untuk semburan, biasanya saya lakukan kalau ada even-even khusus seperti Hari Bumi, Hari Lingkungan Hidup, atau East Java Shopping and Culture Carnival seperti di Royal Plaza kemarin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan membuat lukisan biasa yang dilakukan di studio atau tempat-tempat yang membutuhkan ketenangan, melukis sembur ini saya kemas sebagai sebuah pertunjukan. Karena itu, saya lakukan di depan banyak orang agar bisa diapresiasi sekaligus jadi alternatif hiburan untuk masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Gambar yang muncul di kanvas itu sudah dibayangkan sejak awal?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak. Biasanya, saya hanya punya tema tertentu, misalnya lingkungan hidup. Saya main sembur saja, dan hasilnya baru akan kelihatan setelah lukisannya jadi. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Berapa banyak lukisan sembur yang sudah Anda buat?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, sudah banyak sekali. Sejak muncul ke publik tahun 2003 itu, saya selalu diajak untuk mengisi berbagai acara baik di Surabaya, Sidoarjo, dan beberapa kota lain.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Apa ada kolektor yang membeli lukisan-lukisan sembur itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ini yang belum ada. Karena orang masih banyak orang beranggapan bahwa lukisan yang saya buat dengan semburan itu bukan karya seni. Ini menjadi tantangan bagi saya agar karya-karya spiritual painting ini pun bisa diterima masyarakat. Makanya, untuk kehidupan sehari-hari, saya membuat lukisan yang konvensional. (Lambertus Hurek) &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Radar Surabaya edisi Minggu, 20 November 2011&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-5051684519535436564?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/5051684519535436564/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/11/cak-ugeng-pelukis-sembur.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5051684519535436564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5051684519535436564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/11/cak-ugeng-pelukis-sembur.html' title='Cak Ugeng Pelukis Sembur'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-M-ZHawM7_n4/TtDiZ_m9DeI/AAAAAAAAGlc/tis5rirE5ms/s72-c/cak%2BUgeng%2B%25283%2529.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-5441954610121842176</id><published>2011-11-25T11:56:00.002+07:00</published><updated>2011-12-08T10:34:56.497+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teater-tari'/><title type='text'>Swandayani sang Penata Tari</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-ij2t0xG98zY/TuAwJQwLs0I/AAAAAAAAGnU/zIY9qrNUWCw/s1600/DSCN1056.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 382px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-ij2t0xG98zY/TuAwJQwLs0I/AAAAAAAAGnU/zIY9qrNUWCw/s400/DSCN1056.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5683595665415582530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Pepatah lama ini rupanya berlaku untuk dua putri Tedja Suminar, pelukis senior asal Surabaya. Natalini menekuni seni rupa, sedangkan Swandayani dikenal sebagai penari sekaligus koreografer tari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEJAK dua pekan lalu, Swandayani banyak menghabiskan waktunya di Sanggar Merah Merdeka di Bendul Merisi Permai B-23 Surabaya. Di rumah singgah sekaligus sanggar seni anak jalanan yang didirikan romo-romo Kongregasi Misi itu putri kedua Tedja Suminar ini aktif berdiskusi, bergaul, serta mendengarkan isi hati anak-anak jalanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya juga anak-anak yang terbiasa dengan kerasnya kehidupan di jalanan untuk sekadar mencari sesuap nasi, karakter mereka pun macam-macam. Namun, Swandayani mengaku terkesan dengan mereka. Anak-anak dari berbagai daerah, dengan berbagai latar belakang keluarga itu, sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga besarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jujur, saya justru mendapat banyak inspirasi dari mereka. Apa yang mereka ceritakan, pengalaman-pengalaman mereka, makin memacu saya untuk membuat karya seni," tuturnya seraya tersenyum lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dalam rangka merayakan ulang tahun ke-12 Sanggar Merah Merdeka, Swandayani bersama beberapa pengurus mempersiapkan sebuah pertunjukan tari dan operet di halaman sanggar, Minggu (27/11/2011). Lagi-lagi, operet yang dibuat secara spontan ini pun terinspirasi dari pengalaman anak-anak penghuni rumah singgah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, Swandayani mengaku menyiapkan tarian khusus yang akan dibawakan anak-anak usia sekolah itu. Tapi, setelah berdiskusi dengan beberapa pengurus, dia mengembangkannya menjadi sebuah operet sederhana. Dengan begitu, keseharian sekitar 80 anak Merah Merdeka bisa lebih dieksplorasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Syukurlah, anak-anak ini bisa menangkap arahan kami dengan sangat cepat. Sebab, ceritanya memang tidak jauh-jauh dengan dunia mereka sehari-hari."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterlibatan Swandayani di sanggar yang dipimpin Romo Rudy Hermawan CM ini mulai terlihat sejak persiapan Hari Anak Nasional lalu. Begitu melihat potensi anak-anak, Swandayani mulai mencoba mengajak mereka berlatih tari bersama. Dari sekadar coba-coba, hasil olah gerak anak-anak ini kemudian dipentaskan di panggung gembira. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya puas melihat anak-anak itu bisa menari dengan bagus di atas panggung," katanya. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-5441954610121842176?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/5441954610121842176/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/11/swandayani-sang-penata-tari.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5441954610121842176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5441954610121842176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/11/swandayani-sang-penata-tari.html' title='Swandayani sang Penata Tari'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-ij2t0xG98zY/TuAwJQwLs0I/AAAAAAAAGnU/zIY9qrNUWCw/s72-c/DSCN1056.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-3770973937734382361</id><published>2011-11-23T22:29:00.004+07:00</published><updated>2011-11-30T22:50:01.994+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musik klasik'/><title type='text'>Pauline Poegoeh Resital Vokal Ke-3</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-NjnwMNnbgaw/TtZQnm33L1I/AAAAAAAAGlo/51SdoKqMOz8/s1600/pauline.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 206px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-NjnwMNnbgaw/TtZQnm33L1I/AAAAAAAAGlo/51SdoKqMOz8/s320/pauline.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5680816621354430290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 300 penggemar musik klasik, Rabu (16/11/2011) malam, menikmati suara emas Fu Huaxia alias Pauline Poegoeh di ballroom Hotel Shangri-La Surabaya. Tampil selama hampir dua jam, stamina dan kualitas vokal Fu tetap terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pukul 19.00 resital vokal bertajuk Amazing Songs ini dumulai. Meski kursi penonton belum terisi semua, Solomon Tong, dirigen Surabaya Symphony Orchestra (SSO), bersama Fu Huaxia naik ke atas panggung. Mengenakan busana atasa berwarna pink dan rok hitam, Fu Huaxia terlihat anggun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya ingin resital malam ini kita mulai tepat waktu. Sekaligus belajar disiplin untuk masyarakat Surabaya, yang biasanya suka molor kalau bikin acara," ujar Solomon Tong dalam kata pengantarnya. Dan, resital vokal yang diiringi SSO ini pun dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibuka dengan I Will Extol Thee O Lord (karya M Costa), Fu Huaxia langsung memperlihatkan kualitas suaranya yang lantang, powerful, dan bisa leluasa membawakan nada-nada tinggi. Lagu dengan aneka macam gaya dan irama dibawakan gadis 27 tahun yang juga dikenal dengan nama Pauline Poegoeh itu. Total, Nona Fu membawakan 15 lagu, termasuk satu encore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagu seriosa Indonesia, Cintaku Jauh di Pulau (FX Sutopo), tiga lagu Tiongkok (Ran Hong, Chun Thian Lai Le, Nia Ciu Se Wo), empat petikan opera WA Mozart, hingga petikan opera Giuseppe Verdi. Solomon Tong berkali-kali memuji anak asuhnya ini sebagai seorang soprano yang komplet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Fu Huaxia ini sudah 35 kali tampil dalam konser-konser SSO. Jadi, dia memang sudah berpengalaman di dunia seni suara klasik," ujar Tong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, Fu Huaxia membawakan ke-15 lagu itu tanpa teks atau alat bantu apa pun. Semua dihafal di luar kepala. Padahal, lirik lagu-lagu klasik ini umumnya panjang-panjang. Selain satu lagu berbahasa Indonesia, Cintaku Jauh di Pulau, lagu-lagu lain bersyair bahasa Inggris, Italia, Jerman, dan Mandarin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara mempersiapkan konser vokal klasik yang sangat langka di Surabaya ini? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fu Huaxia mengaku biasa-biasa saja. "Persiapan saya sih sekitar tiga bulan. Saya lakukan di sela-sela kesibukan saya yang lain separti mengajar," kata Fu Huaxia yang juga guru vokal itu. (rek)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-3770973937734382361?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/3770973937734382361/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/11/pauline-poegoeh-resital-vokal-ke-3.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/3770973937734382361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/3770973937734382361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/11/pauline-poegoeh-resital-vokal-ke-3.html' title='Pauline Poegoeh Resital Vokal Ke-3'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-NjnwMNnbgaw/TtZQnm33L1I/AAAAAAAAGlo/51SdoKqMOz8/s72-c/pauline.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-6238664714595885811</id><published>2011-11-23T22:22:00.001+07:00</published><updated>2011-11-23T22:24:20.901+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sidoarjo'/><title type='text'>Pendidikan Penerbangan Juanda</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-B_d4qi4GCV8/Ts0QGXXkxFI/AAAAAAAAGkg/tYWE440r3Jc/s1600/ppj.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 180px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-B_d4qi4GCV8/Ts0QGXXkxFI/AAAAAAAAGkg/tYWE440r3Jc/s320/ppj.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678212406722217042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Penerbangan, tak jauh dari kawasan Bandara Juanda terdapat Pendidikan Penerbangan Juanda (PPJ). Lembaga pendidikan ini menyiapkan para mahasiswanya menjadi teknisi pesawat terbang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didirikan pada 2007, saat ini PPJ memiliki sekitar 50 mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di tanah air. Kampus PPJ berada satu kompleks dengan SMK Penerbangan di Jalan Abdul Rahman Saleh 49 Sedati, Sidoarjo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perkuliahan di PPJ ini sudah berlangsung sejak 2008, tapi memang belum begitu dikenal luas oleh masyarakat," ujar Maulana Sani, kepala seksi bimbingan taruna PPJ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan pertumbuhan industri penerbangan yang kian pesat di tanah air, menurut Maulana, Indonesia membutuhkan banyak tenaga profesional untuk menangani mesin pesawat terbang. Kehadiran mereka sangat diperlukan mengingat moda angkutan udara sangat menekankan keselamatan (safety first). Sayang, sampai sekarang kita masih kekurangan teknisi-teknisi pesawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari seribu tenaga profesional yang dibutuhkan industri penerbangan, saat ini masih hanya sekitar 400 orang yang tersedia. Jadi, sebenarnya para alumni PPJ punya prospek yang cerah," kata Maulana seraya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan karyawan sebuah maskapai penerbangan ini menjelaskan, masa pendidikan di PPJ hanya berlangsung selama 20 bulan alias kurang dari dua tahun. Para mahasiswa mendapat berbagai teori tentang pesawat terbang, aerodinamika, konstruksi pesawat, listrik pesawat, mesin turbin, hingga manajemen perawatan. Total, seorang mahasiswa harus menyelesaikan 90 satuan kredit semester (SKS).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain teori, menurut Maulana, para mahasiswa wajib mengikuti praktik hingga 30 persen. Praktik kerja lapangan ini antara lain dilakukan di sekolah penerbangan terkemuka di Curug, Jawa Barat. Maulana optimistis para lulusan PPJ akan mudah terserap ke industri penerbangan di tanah air. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebab, lembaga pendidikan seperti ini memang masih sangat langka di Indonesia. Keberadaannya masih terkonsentrasi di Pulau Jawa," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan mahasiswa di kampus-kampus biasa, penampilan para mahasiswa PPJ tak ubahnya taruna akademi militer. Rambut cepak, bodi atletis, hingga cara berjalan dan berbicara pun sangat khas. Bahkan, para mahasiswa PPJ juga disebut taruna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sistem pendidikan yang semimiliter itu sangat penting untuk melatih kedisiplinan. Sebab, mereka dipersiapkan untuk menangani pesawat terbang yang menempatkan keselamatan di atas segala-galanya. Bisa dibayangkan apa jadinya kalau teknisi-teknisi pesawat terbang tidak disiplin," tegas Maulana. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-6238664714595885811?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/6238664714595885811/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/11/pendidikan-penerbangan-juanda.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/6238664714595885811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/6238664714595885811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/11/pendidikan-penerbangan-juanda.html' title='Pendidikan Penerbangan Juanda'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-B_d4qi4GCV8/Ts0QGXXkxFI/AAAAAAAAGkg/tYWE440r3Jc/s72-c/ppj.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-7726682783647518437</id><published>2011-11-18T21:39:00.003+07:00</published><updated>2011-11-26T18:13:53.216+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Surabaya Raya'/><title type='text'>Gelar Dr HC Alim Markus Dicopot</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-hz7N0ToU0lg/TsZvBQJCJBI/AAAAAAAAGkI/3wQObfP98OA/s1600/Alim%2Bmarkus%2B%252810%2529.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 294px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-hz7N0ToU0lg/TsZvBQJCJBI/AAAAAAAAGkI/3wQObfP98OA/s320/Alim%2Bmarkus%2B%252810%2529.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676346447650497554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal gelar doktor kehormatan (honoris causa) yang diberikan Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) Surabaya untuk pengusaha Alim Markus memang dipersoalkan kalangan internal Untag sendiri. Beberapa alumni menganggap bos Grup Maspion ini tidak pantas dapat gelar doktor HC karena tidak tamat SMP. Padahal, ada syarat pendidikan formal minimal bagi seorang calon penerima doktor HC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, pihak rektorat Untag menganggap Alim Markus sangat pantas dapat gelar kehormatan itu. Siapa sih yang tidak tahu kehebatan Pak Markus di dunia usaha? Maspion punya sekitar 50 ribu karyawan yang tersebar di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, dan kota-kota lain. Pengusaha yang bekerja keras dari bawah ini sukses menghidupi begitu banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak pertimbangan lain mengapa manajemen Untag memutuskan untuk memberikan doktor honoris causa untuk Alim Markus. Tampaknya Alim Markus sendiri pun 'senang' dengan gelar itu. Meski dikelilingi banyak lawyer hebat, punya jaringan kuat dengan ahli-ahli hukum di Surabaya, Jakarta, dan kota-kota lain, rupanya Alim Markus tidak berpikir akan digugat justru oleh orang-orang Untag sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alim Markus pun rupanya tak tahu bahwa di manajemen Untag Surabaya sejak lama terjadi konflik internal. Manuver-manuver sering dilakukan para elite Untag untuk menggapai kepentingannya. Maka, pemberian gelar untuk Alim Markus menjadi pintu masuk untuk menggoyang manajemen Untag. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang digugat memang Rektor Untag Surabaya, tapi yang kena getah adalah Alim Markus. Bos Maspion, yang sering muncul di televisi sebagai bintang iklan produk-produk Maspion itu, pun masuk koran dengan berita yang tidak enak. "Gelar doktor honoris causa Alim Markus dibatalkan oleh PTUN Surabaya," begitu antara lain berita Jawa Pos halaman depan, Jumat (18/11/2011).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama saya heran dengan pengusaha-pengusaha besar di Indonesia, tak hanya Alim Markus, yang tertarik dengan gelar-gelar akademik instan. Untuk apa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah tanpa gelar pun mereka sudah sangat berprestasi di dunia usaha? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah mereka jauh lebih makmur, kaya-raya, punya segalanya ketimbang doktor-doktor dan profesor-profesor lulusan luar negeri sekalipun? Baru-baru ini koran terbitan Jakarta membahas kehidupan peneliti Indonesia, yang gelarnya profesor doktor, yang sangat memprihatinkan. Jangankan membeli mobil-mobil atau rumah mewah, sekadar untuk hidup saja sulit mengandalkan gaji peneliti yang tidak seberapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin pengusaha-pengusaha, yang mau-maunya dikasih gelar itu (kemungkinan besar tidak gratis), melihat DOKTOR HONORIS CAUSA sebagai gelar yang sangat penting. Semacam alat untuk aktualisasi diri. Sebaliknya, kampus-kampus macam Untag Surabaya melihat Alim Markus sebagai pengusaha yang bisa dijadikan aset untuk memajukan universitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, setelah diberi gelar doktor HC, Alim Markus menyatakan keinginannya untuk membangun Alim Markus Entrepreneur Center di kampus Untag Surabaya. Setelah gelar doktor HC ini dicabut PTUN Surabaya, akankah Alim Markus masih tetap mau membangun center itu? Kita lihat saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-7726682783647518437?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/7726682783647518437/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/11/gelar-dr-hc-alim-markus-dicopot.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/7726682783647518437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/7726682783647518437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/11/gelar-dr-hc-alim-markus-dicopot.html' title='Gelar Dr HC Alim Markus Dicopot'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-hz7N0ToU0lg/TsZvBQJCJBI/AAAAAAAAGkI/3wQObfP98OA/s72-c/Alim%2Bmarkus%2B%252810%2529.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-4441680416101398546</id><published>2011-11-18T21:37:00.001+07:00</published><updated>2011-11-18T21:45:49.712+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><title type='text'>Pak Krisnadi Bahas Pulau Buru</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-isutEmPPPeI/TsZvhzxNDyI/AAAAAAAAGkU/Soy_-Ffj17c/s1600/krisnadi%2Bbook.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 209px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-isutEmPPPeI/TsZvhzxNDyI/AAAAAAAAGkU/Soy_-Ffj17c/s320/krisnadi%2Bbook.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676347006970040098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis (17/11/2011), saya mampir ke sebuah toko buku bekas di kawasan Baliwerti, Surabaya. Begitu banyak buku-buku bagus yang gak laku, kemudian diobral habis-habisan, di situ. Diskon bisa sampai 60-70 persen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau gak obral, gak akan ada yang beli. Kalau dikilokan, kasihan, gak ada harga sama sekali. Maklum, kami kalah saingan sama toko-toko buku baru dan bermodal kuat," kata seorang ibu 50-an tahun, pengurus toko buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toko buku ini terletak di samping konter kaus sepak bola dan alat-alat musik itu. Hanya 200-an meter dari Jalan Tunjungan, pusat bisnis utama di Kota Surabaya. Para pemburu buku-buku bekas ini umumnya mahasiswa dan orang-orang berkantong tipis macam saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tertegun menyaksikan sebuah buku bersampul gelap berjudul TAHANAN POLITIK PULAU BURU (1969-1979). Terbitan LP3ES Jakarta, tahun 2000. Buku yang terbilang lama, tapi saya belum pernah baca. Nama pengarangnya: I.G. Krisnadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.G. Krisnadi? Kayaknya saya pernah kenal nama ini di Jember. Saya pun lekas membaca biodata pengarang di sampul belakang. Oh Tuhan, ternyata Pak Krisnadi, dosen Fakultas Sastra Universitas Jember. Di fotonya, Pak Krisnadi berkumis dengan pandangan mata menerawang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak nyangka kalau Pak Krisnadi berhasil menulis buku sejarah tahanan politik di Pulau Buru dengan dukungan literatur yang sangat kaya. Begitu banyak bahan yang membuat pembaca bisa mengetahui pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang dilakukan rezim Orde Baru dengan membuang begitu banyak intelektual, wartawan, budayawan, sastrawan, komponis macam Subronto Kusumo Atmadjo, pelukis, novelis Pramoedya Ananta Tour... ke Pulau Buru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana para tapol ini dipaksa kerja roda membuka jalan raya, bikin sawah, mencari ikan, hingga pekerjaan-pekerjaan khas petani, nelayan, atau tukang. Kutipan tulisan Pramoedya memperkaya buku karya Pak Krisnadi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengenal Pak Krisnadi di Jember bukan sebagai seorang penulis buku sejarah atau intelektual di Fakultas Sastra Unej. Saya hanya tahu pria kelahiran Klaten, 28 Februari 1962, ini hanyalah dosen biasa di Unej. Yang saya tahu, Pak Krisnadi bersama istri (Mbak Dwi) dan anak-anaknya rajin ikut doa lingkungan dan pendalaman iman di Wilayah I Paroki Santu Yusuf Jember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa-mahasiswi dan dosen Unej, yang beragama Katolik, memang sejak dulu aktif dalam kegiatan gerejawi. Latihan kor atau paduan suara sehderhana, bikin acara natalan, pendalaman iman, hingga sembahyang untuk merayakan ulang tahun kelahiran atau pernikahan seseorang. Guyub banget! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Pak Krisnadi, juga Pak Sudjarwadi, yang profesor, kemudian Pak Yoseph Suparjana yang dosen senior, aktif di dalamnya. Hubungan di antara kami, jemaat lingkungan, begitu guyub layaknya sebuah keluarga besar. Saya yang mahasiswa, yang bacaanku masih sangat sedikit, bisa bicara panjang lebar dengan Pak Prof Sudjarwadi atau Pak Krisnadi tentang berbagai isu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, masa-masa muda yang sulit dilupakan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, ternyata Pak Krisnadi, yang dulu saya anggap biasa-biasa saja di Wilayah I Paroki Jember itu, ternyata cendekiawan yang luar biasa. Mampu menghasilkan sebuah buku bermutu yang layak dibaca siapa saja yang ingin tahu sejarah tahanan politik di Pulau Buru di masa Orde Baru itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat yakin Pak Krisnadi akan sukses di dunia akademik yang tengah digelutinya di Fakultas Sastra Universitas Jember. Mudah-mudahan segera jadi doktor dan profesor, Pak! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga terkesan dengan informasi di buku ini bahwa Pak Krisnadi sedang menekuni studi tentang kebudayaan Jawa. Saya dukung 100 persen. Rahayu! Berkah Dalem!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-4441680416101398546?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/4441680416101398546/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/11/pak-krisnadi-bahas-pulau-buru.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/4441680416101398546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/4441680416101398546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/11/pak-krisnadi-bahas-pulau-buru.html' title='Pak Krisnadi Bahas Pulau Buru'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-isutEmPPPeI/TsZvhzxNDyI/AAAAAAAAGkU/Soy_-Ffj17c/s72-c/krisnadi%2Bbook.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-8090962444269647407</id><published>2011-11-16T17:33:00.002+07:00</published><updated>2011-11-16T17:36:05.328+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sidoarjo'/><title type='text'>Sanggar Clarissa Gedangan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-DmY_ZKvwzec/TsOR9wuyy_I/AAAAAAAAGj8/3chR-U6NYMI/s1600/devi%252BClarrisa.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 340px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-DmY_ZKvwzec/TsOR9wuyy_I/AAAAAAAAGj8/3chR-U6NYMI/s400/devi%252BClarrisa.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5675540445656173554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Lambertus Hurek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Setelah tiga tahun absen, karena harus mengurus anaknya yang masih balita, Afrisia Syarah Devi kembali menghidupkan Sanggar Clarissa. Sanggar yang bermarkas di Gedangan ini tetap fokus di dunia tari dan modeling.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapa Kecamatan Gedangan setiap akhir pekan, Sabtu dan Minggu, kini lebih meriah dari biasanya. Sekitar 20 anak dan remaja terlihat antusias berlatih aneka jenis tarian. Kadang diselingi dengan latihan lenggang-lenggok layaknya model profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya menghidupkan kembali Sanggar Clarissa karena permintaan dari anak-anak dan orangtua mereka. Katanya, sudah kangen berlatih lagi bersama saya," tutur Devi, sapaan akrab Afrisia Syarah Devi, kepada saya di sela latihan, pekan lalu (13/11/2011).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Devi, yang berdarah Aceh ini, sebetulnya tak asing lagi di kalangan pembina seni tari di Kabupaten Sidoarjo. Sempat menjadi anggota Sanggar Delta Tivikrama, Devi kemudian berguru 'ilmu menari' di Padepokan Bagong Kusudiardjo (almarhum) di Jogjakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah merasa cukup mampu, Devi kemudian merintis sanggar tari di kawasan Gedangan. Misinya sederhana saja: ingin memberikan kesibukan yang positif kepada anak-anak dan remaja di kawasan Gedangan dan sekitarnya. Apalagi, di tahu kalau banyak remaja kita yang punya bakat menari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi, karena tidak punya modal, ya, saya minta izin menggunakan pendapa kecamatan untuk latihan. Alhamdulillah, ternyata anak-anak antusias mengikuti latihan-latihan yang saya adakan," kenang Devi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimulai dengan beberapa gelintir siswa, Sanggar Clarissa tumbuh dengan cepat. Devi mengaku sempat kewalahan karena siswanya pernah menembus angka 80 orang. Jumlah yang tidak sedikit untuk ukuran sanggar berusia muda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya memang sengaja membidik anak-anak dari keluarga kelas menengah ke bawah. Makanya, latihan di pendapa sehingga biayanya bisa sangat murah. Beda kalau saya buka sanggar di ruko atau perumahan," kata ibu lima anak ini seraya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, perjalanan Sanggar Clarissa sempat terhenti gara-gara Devi harus mengurus anaknya yang masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Awalnya, dia ingin sanggar tetap jalan meski dibimbing oleh instruktur-instruktur lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi rupanya anak-anak itu maunya saya yang terjun langsung. Tentu saja sangat sulit karena anak saya kan masih kecil banget," kata wanita yang pernah terpilih menjadi Pemuda Pelopor tingkat Jawa Timur ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang yang bertahun-tahun bergelut dengan dunia tari, Devi sendiri pun mengaku kangen dengan dunia yang asyik ini. Maka, ketika sang buah hati sudah mulai agak besar, dia kembali menghidupkan sanggarnya. Mantan anak-anak asuhnya di Clarissa, yang sempat vakum latihan, pun berdatangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang kami lagi persiapan untuk mengisi sebuah acara di luar kota," katanya. Meski siswa-siswanya tak sebanyak tiga tahun silam, Devi optimistis sanggarnya akan kembali dijubeli anak-anak dan remaja di Gedangan dan sekitarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini dia tengah mengembangkan aneka jenis tarian yang dipetik langsung dari kampung halamannya di Aceh. Tarian dari provinsi paling timur ini sangat rancak, dinamis, dan sedang diminati berbagai kalangan. Devi bahkan ingin agar Sidoarjo, khususnya Gedangan, menjadi pusat pembinaan tarian Aceh di Jawa Timur. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-8090962444269647407?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/8090962444269647407/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/11/sanggar-clarissa-gedangan.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/8090962444269647407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/8090962444269647407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/11/sanggar-clarissa-gedangan.html' title='Sanggar Clarissa Gedangan'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-DmY_ZKvwzec/TsOR9wuyy_I/AAAAAAAAGj8/3chR-U6NYMI/s72-c/devi%252BClarrisa.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-6620701653518863221</id><published>2011-11-13T11:11:00.002+07:00</published><updated>2011-11-13T11:19:28.163+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flores'/><title type='text'>Peter Rohi Bikin Ulah Lagi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-jfHb_xAWZ3o/TfYddAuYo9I/AAAAAAAAGEE/n8h50w58uZA/s1600/DSCF4297.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-jfHb_xAWZ3o/TfYddAuYo9I/AAAAAAAAGEE/n8h50w58uZA/s400/DSCF4297.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5617709969439237074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa orang NTT yang paling terkenal di Surabaya? Sudah pasti Peter A. Rohi. Aktivis, wartawan, pencinta sejarah, dan pengagum Bung Karno itu selalu bikin 'heboh' pada peringatan Hari Pahlawan, Hari Pancasila, dan momentum-momentum sejarah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang Hari Pahlawan ini, Peter Rohi bersama beberapa temannya di Sukarno Institute mengajak Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini untuk memasang prasasti di kantor pos besar Kebonrojo. Prasasti yang ditandatangani Bu Wali Kota itu bertuliskan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di Sini Tempat Bersekolah Dr Ir Soekarno, Penggali Pancasila, Proklamator, Presiden Pertama RI."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang baru dengan informasi itu. Bung Karno memang dulu bersekolah di HBS (Hogere Burger School) Surabaya. Gedung HBS itu sekarang jadi kantor pos besar. Namun, yang jadi menarik, kemudian diliput puluhan wartawan koran dan televisi adalah gerakan Peter Rohi dan kawan-kawan yang berinisiatif membuat prasasti, kemudian minta tanda tangan wali kota, kemudian dipasang menjelang Hari Pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya itu kota pahlawan. Karena itu, menurut Peter Rohi, tempat-tempat yang ada kaitan erat dengan para pahlawan atau pelaku sejarah harus dikenal warga. Jangan sampai generasi mendatang kehilangan jejak-jejak sejarah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat itu pula yang dilakukan Peter Rohi dkk saat 'menemukan' rumah masa kecil Bung Karno di kawasan Pandean. Ini untuk membuktikan bahwa Bung Karno itu memang lahir di Kota Surabaya, bukan Blitar seperti yang ditulis sejumlah buku. Gebrakan kecil Peter Rohi akhirnya sukses menarik perhatian masyarakat Surabaya, dan Jawa Timur umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Syukurlah, apa yang kami lakukan ini sudah mulai diakui oleh negara. Bu Risma, wali kota Surabaya, sangat antusias mendukung setiap langkah kami," kata Peter Rohi yang berasal dari Pulau Sabu di selatan Kupang, NTT, itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, mengapa hanya aktif mengangkat situs-situs yang ada kaitan dengan Bung Karno?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena saya kan direktur Sukarno Institute. Hehehe. Tentu saja, kami fokus bergerak untuk mengangkat tempat-tempat yang ada kaitannya dengan Bung Karno," ujar Peter Rohi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun mengirim SMS kepada Pak Peter Rohi: "Wah, hebat sekali Angalai ini. Orang Sabu, tapi bisa bikin geger Surabaya. Sukarno Institute makin ngetop saja!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu karena orang Sabu suka minum tuak... berpikir dan bertindak lebih cepat. Soekarno Institute ini sudah diundang dalam konferensi-konferensi dunia," jawab Peter Rohi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kirim SMS lagi: "Tuak Lembata bikin mabuk, tuak Sabu bikin pintar. Hehehe."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peter Rohi: "Soalnya orang Lembata kalau minum tuak overdosis na." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehe.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peter Rohi sejak dulu memang sangat bangga dengan kampung halamannya di Pulau Sabu. Pulau di bagian selatan yang masyarakatnya mengandalkan hidup dari tanaman lontar alias siwalan. Nira tanaman ini dijadikan gula, tuak, dikonsumsi sehari-hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang Sabu itu tidak perlu makan nasi. Cukup dikasih minum tuak (manis) saja sudah kenyang," kata Pak Peter.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-6620701653518863221?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/6620701653518863221/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/11/peter-rohi-bikin-ulah-lagi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/6620701653518863221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/6620701653518863221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/11/peter-rohi-bikin-ulah-lagi.html' title='Peter Rohi Bikin Ulah Lagi'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-jfHb_xAWZ3o/TfYddAuYo9I/AAAAAAAAGEE/n8h50w58uZA/s72-c/DSCF4297.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-838777392322070507</id><published>2011-11-13T11:09:00.001+07:00</published><updated>2011-11-13T11:22:46.791+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jurnalisme'/><title type='text'>Laptop dan Produktivitas Wartawan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-QBDwGnf5zrI/Tr9GDrvZGUI/AAAAAAAAGjw/x5_qhOBZkxM/s1600/laptop.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 318px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-QBDwGnf5zrI/Tr9GDrvZGUI/AAAAAAAAGjw/x5_qhOBZkxM/s400/laptop.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5674331084605167938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman laptop ini seharusnya orang lebih produktif menulis. Menulis apa saja entah itu di media massa, blog, atau media apa saja. Dengan komputer jinjing nan mungil itu, orang bisa menulis di mana saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, anehnya, teman-teman penyunting belakangan ini sering mengeluh kekurangan tulisan. Setoran naskah seret. "Sudah punya laptop kok gak menulis? Laptopmu diapakan saja?" ujar seorang teman penyunting kepada anak buahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluhan macam ini, saya kira, makin biasa akhir-akhir ini. Laptop makin massal, murah, jadi 'mainan' orang ramai, tapi produktivitas menulis menurun. Blog-blog yang pada tahun 2004, 2005, 2006... sangat ramai, selalu diisi dengan tulisan-tulisan baru dan segar kini makin sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tengok blog seorang wartawan senior, yang dulu aktif mendorong wartawan-wartawan muda, agar punya blog. Ah, isinya tidak ada yang baru. Belum karuan ada satu dua tulisan per bulan. Padahal, ketika abang ini belum punya laptop, masih mengetik di warnet atau kantor, produktivitasnya luar biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, ke mana saja si abang? "Saya lagi sibuk," kata blogger senior. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sibuk? Bisa saja. Tapi silakan tengok akun Facebook atau Twitter-nya. Ramainya bukan main. Ada masalah sedikit dikomentari dan dikomentari terus sampai bosan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, laptop memang tetap dipakai, cuma bukan untuk menulis artikel, berita, fiksi, dan sebagainya, tapi buat kepentingan pergaulan di jejaring sosial. Syukurlah, masih ada orang yang bisa memanfaatkan laptop sebagai alat bantu untuk menulis di mana saja dan kapan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh paling bagus Dahlan Iskan. Mantan wartawan yang sekarang menjadi menteri BUMN ini semakin produktif menulis justru setelah ganti hati dan sibuk mengurus PLN dari Sabang sampai Merauke. Selain produktif, kualitas tulisan-tulisan Dahlan Iskan tetap stabil dan enak dinikmati. Pak Dahlan memanfaatkan laptop untuk menulis di ruang tunggu bandara, di lobi hotel, kafe, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira kita perlu belajar banyak dari Pak Dahlan Iskan mengenai pentingnya menjaga produktivitas dan kualitas menulis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-838777392322070507?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/838777392322070507/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/11/laptop-dan-produktivitas-wartawan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/838777392322070507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/838777392322070507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/11/laptop-dan-produktivitas-wartawan.html' title='Laptop dan Produktivitas Wartawan'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-QBDwGnf5zrI/Tr9GDrvZGUI/AAAAAAAAGjw/x5_qhOBZkxM/s72-c/laptop.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-5398708503682287439</id><published>2011-11-10T09:47:00.001+07:00</published><updated>2011-11-10T09:50:25.360+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Surabaya Raya'/><title type='text'>Hujan Langsung Banjir</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-MpFlXjpWPPs/Trs76ElokxI/AAAAAAAAGis/c4h1jivhOcY/s1600/banjir.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 270px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-MpFlXjpWPPs/Trs76ElokxI/AAAAAAAAGis/c4h1jivhOcY/s400/banjir.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5673194024453313298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, hujan turun juga di Surabaya dan sekitarnya. Setelah tiga bulan terakhir panas ektrem, kita dibakar panas 37-40 derajat Celcius, dalam beberapa hari terakhir kita bisa menikmati air dari langit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadinya saya pikir hujan baru datang akhir Desember atau Januari. Eh, ternyata muncul lebih cepat. Sudah selayaknya kita berterima kasih kepada Tuhan. Surabaya masih dianugerahi hujan, sehingga panas ekstrem perlahan-lahan hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya perhatikan saat ini suhu di Surabaya siang berkisar 33-35 Celcius, sementara malam hari 30-an celcius. Ini suhu yang 'normal' untuk Surabaya. Maka, keluhan-keluhan warga tentang panas yang terlalu ekstrem, ditambah kelembaban yang parah, sudah tidak terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Repornya, hujan yang tak seberapa deras itu ternyata sudah menimbulkan genangan air di beberapa titik. Orang Surabaya bilang 'banjir'. waktu melintas di depan RSI Wonokromo, Selasa (8/11/2011) malam, genangan air kira-kira 30 sentimeter. Arus lalu lintas pun macet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawasan Ngagel yang biasanya tidak ada genangan air, malam itu banjir juga. Tapi saya tetap senang melintas di jalan dalam suasana hujan ketimbang panas terik 41 Celcius. Ibarat anak-anak, kita bisa 'main-main' hujan di sepanjang jalan di Kota Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan Pemerintah Kota Surabaya, yang dipimpin Bu Risma, bisa mengatasi masalah banjir tahunan ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-5398708503682287439?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/5398708503682287439/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/11/hujan-langsung-banjir.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5398708503682287439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5398708503682287439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/11/hujan-langsung-banjir.html' title='Hujan Langsung Banjir'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-MpFlXjpWPPs/Trs76ElokxI/AAAAAAAAGis/c4h1jivhOcY/s72-c/banjir.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-2917266373451190698</id><published>2011-10-31T10:45:00.002+07:00</published><updated>2011-10-31T10:47:24.530+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musik'/><title type='text'>David Foster Tak Pernah ke Surabaya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-t_5Vd32BQjE/Tq4aMW5a-0I/AAAAAAAAGhM/aF-2B5kCCFk/s1600/hitmAn.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-t_5Vd32BQjE/Tq4aMW5a-0I/AAAAAAAAGhM/aF-2B5kCCFk/s320/hitmAn.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5669497780513209154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang hitman, David Foster, datang lagi dan lagi ke Jakarta. Bikin konser, Tuan Foster membawa serta penyanyi-penyanyi kawakan dunia. Siapa tak kenal David Foster, salah satu maestro musik pop dunia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, kiat di Surabaya tak pernah dapat kesempatan untuk menyaksikan langsung konser The Hitman. Paling hanya 'mengintip' sejenak lewat liputan sekelebat di televisi atau tulisan singkat di koran. Apakah musik yang ditawarkan Foster di konser sama persis dengan di kaset/CD atau ada banyak improvisasi? Kita yang di Surabaya tak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pokoknya, dahsyat banget deh. Namanya aja David David Foster," ujar seorang penggemar David Foster yang pernah menyaksikan konser Hitman di Jakarta beberapa bulan silam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahsyat! Keren abis! Begitulah kata-kata pujian yang sering kita dengar tentang David Foster. Termasuk ketika kita membaca reportase atau catatan wartawan Kompas, yang rupanya pengagum berat David Foster.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa David Foster tak pernah konser di Surabaya? &lt;br /&gt;Bukankah Surabaya disebut-sebut kota nomor dua setelah Jakarta? &lt;br /&gt;Mengapa hanya Jakarta yang jadi kota persinggahan penyanyi-penyanyi kelas dunia? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, harus diakui, ini semua karena hitung-hitungan bisnis pertunjukan musik. Sampai saat ini hanya Jakarta yang punya daya beli tiket yang memang tidak murah... untuk ukuran mayoritas orang Indonesia itu. Memang tidak mudah menjual tiket konser musik seharga $50 (sekitar Rp 500.000), $100, $200... di Kota Surabaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, beberapa promotor musik pernah mengeluh karena sangat sulit menjual tiket Rp 100.000 di Surabaya. Surabaya Symphony Orchestra (SSO) pimpinan Solomon Tong pun sejak didirikan pada 1996 selalu kesulitan menjual tiket VIP yang 'hanya' Rp 200.000. Apalagi harus menjual tiket pertunjukan David Foster yang di atas Rp 1 juta, nilai yang lebih tinggi ketimbang gaji buruh pabrik di Jawa Timur yang rata-rata masih di bawah $100 per bulan.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Log Zhelebour, promotor musik rock terkenal asal Surabaya, dalam beberapa percakapan dengan saya juga menyoroti masalah daya beli tiket di kota-kota luar Jakarta, termasuk Sishui. Log harus kerja sama dengan perusahaan rokok agar bisa menyubsidi penonton. Selama ini saya amati harga tiket yang dijual Mr Ong (nama lain Log Zhelebour alias Ong Oen Log) rata-rata di bawah Rp 20.000 alias hanya $2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, kapan orang Surabaya (dan Jawa Timur) dapat kesempatan untuk menyaksikan langsung David Foster dan musisi-musisi kelas dunia lain? Ya, tunggu sampai daya beli masyarakat sudah mendekati Jakarta. Yang pasti, kata orang pintar, sampai sekarang 80% uang yang beredar di Indonesia menumpuk di Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, Surabaya bukan lagi kota nomor dua, tapi kota nomor 10.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-2917266373451190698?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/2917266373451190698/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/david-foster-tak-pernah-ke-surabaya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/2917266373451190698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/2917266373451190698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/david-foster-tak-pernah-ke-surabaya.html' title='David Foster Tak Pernah ke Surabaya'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-t_5Vd32BQjE/Tq4aMW5a-0I/AAAAAAAAGhM/aF-2B5kCCFk/s72-c/hitmAn.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-5365608146373205415</id><published>2011-10-31T10:30:00.004+07:00</published><updated>2011-10-31T10:44:15.041+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tionghoa'/><title type='text'>Fu Long Swie Pencipta Ling Tien Kung</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-Ze-NViroIkE/Tq4YnjOKDlI/AAAAAAAAGg0/ucX98je17wo/s1600/fu.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 163px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ze-NViroIkE/Tq4YnjOKDlI/AAAAAAAAGg0/ucX98je17wo/s320/fu.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5669496048654618194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Di usia 76 tahun, Fu Long Swie masih segar dan kuat. Setiap hari mantan atlet nasional pada era 1960-an ini aktif berkeliling ke mana-mana untuk memimpin latihan Ling Tien Kung yang kini diikuti ribuan peserta. Fu Long Swie merupakan pencipta gerakan 'senam' yang menekankan empet-empet anus ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh LAMBERTUS HUREK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara soal Ling Tien Kung dengan kakek 10 cucu ini seakan tak ada habis-habisnya. Dan, Fu Long Swie tak pernah kehabisan bahan dan analogi untuk menjelaskan manfaat Ling Tien Kung untuk menjaga kebugaran serta meremajakan tubuh. Maklum, sebelum memperkenalkan Ling Tien Kung kepada masyarakat pada 2005, Fu telah lebih dulu membuktikan khasiat 'senam' yang banyak menyerap filosofi dan ilmu kesehatan ala Tiongkok kuno itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut petikan percakapan Fu Long Swie dengan Radar Surabaya usai memimpin latihan di Lapangan Ole-Ole, Jalan Raya Ngagel Surabaya, Jumat (28/10/2011) pagi. Didampingi sang istri dan sejumlah instrukturnya, Fu mengaku tak pernah menyangka gerakan Ling Tien Kung ciptaannya bisa berkembang luas ke berbagai kota, bahkan hingga ke luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anda dulu dikenal sebagai atlet nasional. Bagaimana Anda akhir bisa menemukan senam Ling Tien Kung?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya koreksi ya. Salah kalau Ling Tien Kung disebut senam. Beda sekali dengan senam-senam lain. Ini metode yang saya ciptakan untuk terapi kesehatan dan penyembuhan penyakit. Maka, orang-orang yang ikut Ling Tien Kung itu datang sambil membawa penyakit. Macam-macam penyakit itu. Tapi setelah mengikuti Ling Tien Kung secara rutin, syukurlah, penyakit-penyakit bawaan mereka perlahan-lahan sembuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, saya dulu atlet sprint dan lompat jauh. Saat PON (Pekan Olahraga Nasional) tahun 1961, saya benar-benar memaksakan diri agar melompat sejauh mungkin. Saya harus juara! Tapi pada lompatan terakhir, kaki saya mengalami benturan yang sangat keras. Kaki saya retak sangat parah. Saya tidak bisa apa-apa lagi. Sejak itu saya pensiun sebagai atlet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lantas, Anda menekuni pengobatan tradisional?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, tidak. Saya justru jadi guru matematika di SMA Sin Chung Surabaya. Saya memang sangat gemar matematika, khususnya aljabar dan geometri. Tapi sambil mengajar, saya terus berusaha untuk menyembuhkan kaki saya yang sakit parah itu. Saya datang ke banyak dokter, entah sudah berapa orang, tapi tidak ada kemajuan. Ya, sudah, saya kemudian membaca berbagai buku, khususnya buku-buku klasik Tiongkok yang kiranya bermanfaat dan bisa memberikan inspirasi bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apakah Anda kemudian menemukan terapi kesehatan di buku-buku itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di salah satu buku disebutkan bahwa tubuh manusia itu sebetulnya punya sumber energi yang tak pernah padam. Sumber energi itu disebut ku sen bu se. Saya lantas teringat aki di mobil. Mobil kalau akinya lemah atau habis, mana bisa jalan? Saya menganalogikan tubuh manusia itu seperti mobil yang punya semacam 'aki'. Semua organ tubuh manusia dan sistem koordinasinya menerima suplai energi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti aki mobil, manusia pun menghasilkan arus listrik atau setrum. Arus itu terjadi karena terjadi tegangan pada kutub positif (anoda) dan negatif (katoda). Nah, yang positif ada di anus dan negatif di pusar. Seperti halnya mobil, kalau aki soak, mesin tidak jalan. Kalau aki tubuh rusak, tubuh manusia akan ringkih. Kalau dicas, tubuh kembali penuh energi. Ngecasnya itu dengan empet-empet anus. Ling Tien Kung berasal dari situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengapa gerakan yang Anda ciptakan didominasi empet-empet anus?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, kutub positif manusia itu terdapat pada anus. Sedangkan kutub negatif di pusar. Otot-otot di sekitar anus memegang peran penting karena dia yang jadi pengikat energi. Semakin tua, otot-otot itu akan mengendur. Kalau kendur, maka energi yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi organ tubuh menjadi drop. Maka, mulai masuk berbagai penyakit. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Berapa lama Anda akhirnya mendapat kesimpulan seperti itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, saya mulai mencari sejak 1961 dan baru ketemu tahun 1985. Dua puluh tahun lebih, tepatnya 24 tahun. Tahun 1985 saya mulai menyusun gerakan-gerakan berdasarkan prinsip anoda dan katoda atau cas aki itu. Tentu saja melalui proses revisi dan sebagainya sampai tercipta Ling Tien Kung yang kita kenal sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengapa disebut Ling Tien Kung?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu dari bahasa Tionghoa yang berarti ilmu titik nol. Fisolofinya panjang kalau dijelaskan. Tapi kira-kira ini merupakan ilmu titik awal. Titik awal menuju kesehatan dan kehidupan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Uji cobanya di mana?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri yang pertama kali mencoba ilmu ini. Kebetulan waktu itu saya terserang penyakit yang sangat parah. Saya kolaps. Nah, kesempatan itu saya gunakan untuk mempraktikkan Ling Tien Kung. Syukurlah, penyakit-penyakit di dalam badan saya ini akhirnya hilang. Bahkan, saya yang bertahun-tahun tidak bisa berlari, sekarang bisa lari kembali. Saya bersedia uji lari dengan anak-anak muda. Hehehe... Istri saya juga ikut Ling Tien Kung, dan akhirnya semakin sehat.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Sejak kapan Ling Tien Kung diperkenalkan kepada masyarakat?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya tahun 2003 sudah siap. Tapi ada beberapa  gerakan yang perlu disempurnakan, termasuk membuat musik pengiring latihan. Kemudian tahun 2005 saya mulai mengadakan latihan di halaman Central Park Mulyosari. Pesertanya sangat sedikit, hanya beberapa orang saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lantas, bagaimana Ling Tien Kung bisa menyebar luas ke mana-mana seperti sekarang?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga tidak pernah membayangkan perkembangan Ling Tien Kung seperti ini. Saya tidak pernah hitung berapa ribu orang yang melakukan latihan rutin di berbagai daerah. Saya tidak pernah promosi, tidak pernah mengajak orang untuk ikut. Mereka datang sendiri karena dikasih tahu temannya. Nah, sebagian besar orang yang datang latihan itu membawa penyakitnya sendiri-sendiri. Tapi, setelah rajin berlatih, gerakan-gerakannya benar, saya optmistis penyakitnya akan hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa syarat mengikuti Lien Tien Kung?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak pakai syarat macam-macam. Cukup datang ke tempat latihan Ling Tien Kung. Tidak pakai iuran, tidak pakai bayar, dan pungutan apa pun. Semuanya gratis. Ilmu ini saya peroleh dari Tuhan secara cuma-cuma, maka saya pun membagikannya secara cuma-cuma pula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling setelah latihan beberapa kali Anda diminta membeli kaos dan training supaya latihan terlihat lebih rapi dan bagus. Yang jelas, kita terbuka untuk siapa saja dari semua suku, etnis, agama, ras, dan sebagainya. Siapa yang ingin sehat, silakan datang. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-z_24bLNvgoA/Tq4ZdCTJMOI/AAAAAAAAGhA/xrsL1sLjF2Q/s1600/Fu%2B3.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 247px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-z_24bLNvgoA/Tq4ZdCTJMOI/AAAAAAAAGhA/xrsL1sLjF2Q/s320/Fu%2B3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5669496967530098914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama : Fu Long Swie &lt;br /&gt;Nama lain : Full Long Sweet&lt;br /&gt;Lahir : Singaraja, Bali, 25 Oktober 1935&lt;br /&gt;Istri : Elia Bestari&lt;br /&gt;Anak : 5 orang&lt;br /&gt;Cucu : 10 orang&lt;br /&gt;Hobi : Membaca, mengajar  &lt;br /&gt;Moto : Usia senja, badan sehat bahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesi : Guru Ling Tien Kung  &lt;br /&gt;Sekretariat : Kendangsari M/4 Surabaya&lt;br /&gt;Tempat Latihan : Lapangan Ole-Ole, Jalan Raya Ngagel Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat Karier :&lt;br /&gt;Atlet lari dan lompat jauh 1960-an&lt;br /&gt;Guru Matematika SMA Sin Chung Surabaya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-5365608146373205415?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/5365608146373205415/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/fu-long-swie-pencipta-ling-tien-kung.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5365608146373205415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5365608146373205415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/fu-long-swie-pencipta-ling-tien-kung.html' title='Fu Long Swie Pencipta Ling Tien Kung'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-Ze-NViroIkE/Tq4YnjOKDlI/AAAAAAAAGg0/ucX98je17wo/s72-c/fu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-4632572454443803615</id><published>2011-10-29T09:43:00.003+07:00</published><updated>2011-10-31T10:29:42.546+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sidoarjo'/><title type='text'>Pribumi vs Pendatang Konflik Makam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-3o4P8l2yH0w/TqvdU8kNV6I/AAAAAAAAGgc/p9eWBQ_up5o/s1600/makam%2Bsumput.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-3o4P8l2yH0w/TqvdU8kNV6I/AAAAAAAAGgc/p9eWBQ_up5o/s320/makam%2Bsumput.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5668867907901020066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;TRAGEDI: Jenazah almarhum Pak Bambang, warga Perumahan Taman Sarirogo, Sidoarjo, dibawa pulang setelah ditolak rame-rame oleh penduduk lokal Desa Sumput. Padahal, tanah makam itu sudah dibeli oleh warga empat perumahan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era Orde Baru, istilah pribumi dan pendatang (alias nonpribumi) laku keras. Orang Indonesia sangat mahfum maksud istilah ini: nonpribumi itu mengacu pada orang Tionghoa. Warga negara Indonesia keturunan India, Arab, Eropa, atau Amerika... jarang disebut-sebut 'nonpri' alias pendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, setelah Orde Baru bubar pada 20 Mei 1998, dikotomi pribumi vs nonpribumi (pendatang) ini sudah kurang terdengar. Apalagi, budaya, bahasa, dan adat-istiadat warga keturunan Tionghoa sudah dianggap sebagai bagian dari Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahad, 23 Oktober 2011, terjadi lagi kasus yang mengingatkan saya pada dikotomi pribumi vs nonpribumi (lebih tepat: pendatang) dalam bentuk lain di Sidoarjo. Jenazah almarhum Bambang, yang beragama Islam, etnis Jawa, ditolak ramai-ramai oleh warga Desa Sumput, Kecamatan Sidoarjo, ketika hendak dimakamkan. Warga desa (pribumi) yang juga Islam dan Jawa itu menolak jenazah Bambang karena almarhum adalah penghuni Perumahan Wahyu Taman Sarirogo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tinggal di desa yang sama, punya hak dan kewajiban sebagai warga negara Indonesia, sejak lama memang terjadi konflik laten antara warga pribumi dan pendatang (perumahan). Penghuni perumahan masih tetap dianggap 'orang lain' (liyan), beda status dengan orang-orang kampung yang nenek moyangnya lebih dulu tinggal di Sumput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus lahan makam antara warga Sumput dan penghuni Taman Sarirogo ini bukan hal baru. Sejak 1980-an, lebih-lebih 1990-an, ketika perumahan-perumahan tumbuh pesat di Kabupaten Sidoarjo (mulai perumahan kelas sederhana, perumnas, hingga regency dan kelas atas), konflik macam ini sering terjadi. Penghuni perumahan masih tetap dianggap orang luar, pendatang, meskipun sudah bertahun-tahun tinggal di situ. Bahkan, tak sedikit warga perumahan yang jadi pengurus kelurahan/desa atau ketua RT/RW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat api dalam sekam, konflik laten ini muncul ke permukaan ketika ada warga perumahan yang meninggal dunia. Kalaupun pihak pengembang sudah membeli tanah makam di desa, belum tentu jalannya mulus. Dalam kasus Taman Sarirogo, misalnya, lahan untuk makam perumahan sudah dibeli. Tapi warga setempat yang pribumi ini tetap saja menolak jenazah yang sudah tinggal masuk ke liang lahat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya kasus warga perumahan-perumahan di Kabupaten Sidoarjo kesulitan lahan makam di desa memang disadari pemerintah kabupaten (pemkab) dan Real Estat Indonesia (REI) sebagai organisasi pengembang. Pada awal 2000-an, ketika bupati Sidoarjo dijabat Win Hendrarso, dibuatlah proyek makam estat yang dikenal sebagai Delta Praloyo Asri di kawasan Lingkar Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembang-pengembang di Sidoarjo urunan dana partisipasi untuk pengadaan tanah makam bersama di Lingkar Timur. Dengan begitu, ketika ada warga perumahan meninggal dunia, bisa dimakamkan di makam estat. Proyek makam estat memang terwujud, tapi warga perumahan-perumahan di 18 kecamatan itu (sebagian besar) tidak mau menggunakan makam estat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia ini hanya orang Tionghoa yang sudah turun-temurun memakamkan keluarganya di kompleks makam khusus yang jaraknya jauh, bahkan sangat jauh, dari tempat tinggalnya. Banyak orang Tionghoa Surabaya atau Sidoarjo yang memilih memakamkan keluarganya di Pasuruan atau Malang. Dus, konsep makam estat ini lebih cocok, bahkan sudah biasa dijalani warga Tionghoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda dengan penghuni perumahan-perumahan yang mayoritas etnis Jawa, Madura, Sunda, Betawi, Tapanuli, dan sebagainya. Orang-orang Jawa, misalnya, tidak biasa memakamkan keluarganya jauh dari tempat tinggalnya. Karena itu, beberapa waktu lalu warga sebuah perumahan di Krian pun menolak memakamkan salah satu jenazah warga perumahan di makam estat Lingkar Timur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus-kasus yang kembali mencuat di Sidoarjo ini semakin membuka mata kita bahwa integrasi antara kaum pribumi dan pendatang memang bukan perkara gampang. Belum lagi ada masalah kecemburuan sosial ketika warga perumahan dianggap 'lebih punya' ketimbang warga pribumi. Belum lagi anggapan bahwa warga perumahan sekadar 'numpang tidur', tak punya ikatan emosional dengan kampung atau desa setempat. Belum lagi ada perbedaan karakter penghuni perumahan meskipun punya kesamaan agama, suku, ras, atau etnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari geger tanah makam yang terus berulang, pengembang bersama warga perumahan dan pemkab harus menyediakan lahan khusus untuk warga perumahan yang berlokasi di sekitar perumahan. Lahan milik desa harus dibeli dan disertifikasi. Proyek makam estat di Lingkar Timur terbukti tidak efektif karena tidak sesuai dengan kultur dan keinginan warga perumahan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-4632572454443803615?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/4632572454443803615/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/pribumi-vs-pendatang-konflik-makam.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/4632572454443803615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/4632572454443803615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/pribumi-vs-pendatang-konflik-makam.html' title='Pribumi vs Pendatang Konflik Makam'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-3o4P8l2yH0w/TqvdU8kNV6I/AAAAAAAAGgc/p9eWBQ_up5o/s72-c/makam%2Bsumput.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-9144448684226684209</id><published>2011-10-27T09:33:00.002+07:00</published><updated>2011-10-27T09:37:35.023+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gereja'/><title type='text'>Lomba Mocopat Antargereja</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-92U5oUfP5Vk/TqjD358ZaqI/AAAAAAAAGf4/TLzHsmAbuHg/s1600/mocopat.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-92U5oUfP5Vk/TqjD358ZaqI/AAAAAAAAGf4/TLzHsmAbuHg/s320/mocopat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5667995496260135586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya tradisional sudah lama tergusur, termasuk di lingkungan gereja. Wajah gereja-gereja kita dalam 20 tahun terakhir makin Barat, makin Amerika. Nama-nama gereja yang dulu pakai bahasa Indonesia, belakangan diubah jadi bahasa Inggris. Makin Inggris, Anda dianggap makin modern dan hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurlah, di Surabaya, saya lihat gereja-gereja Katolik masih aktif nguri-uri budaya Jawa. Tiap minggu kelima (setahun empat kali) diadakan misa dalam bahasa Jawa. Tak hanya bahasanya, misa inkulturasi itu juga menampilkan tembang-tembang Jawa, karawitan, busana, dan sebagainya dalam nuansa Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini penting. Sebab, komunitas Katolik pertama di tanah Jawa pada 1904, tepatnya di Sendangsono, Kabupaten Kulonprogo, Jogjakarta, memang menggunakan liturgi Jawa. Sampai sekarang pun saya masih sekali-sekali aktif berkunjung ke Gereja Katolik Promasan, di dekat Senandangsono, untuk ikut misa raya dalam bahasa dan budaya Jawa. Jauh lebih berkesan ketimbang pakai bahasa Indonesia, Inggris, atau Latin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali ikut perayaan ekaristi inkulturasi Jawa, meski bahasa krama inggil saya sangat lemah, saya selalu merasa terharu. Saya merasa bahasa Katolik bukanlah 'agama Londo' (agamanya orang Belanda), agama Barat, tapi sudah meresap ke dalam hati jemaat yang berasal dari etnis Jawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, saya sedih melihat begitu banyak gereja (non-Katolik) yang dalam 20 tahun terakhir makin nginggris, makin kebarat-baratan. Makin jauh dari akar budaya asalnya dan ingin memfoto kopi Barat, khususnya Amerika, agar kelihatan lebih hebat dan modern. Dan gembala-gembala alias pendeta-pendeta, yang banyak di antaranya tidak studi teologi dan sejarah gereja secara matang, ikut larut dalam arus globalisasi gereja yang salah kaprah itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama ini, 14 Oktober 2011, diadakan lomba mocopat dan gending di halaman Gereja Katolik Redemptor Mundi, Dukuh Kupang, Surabaya. Ada 44 peserta mocopat dan 12 grup karawitan dari tiga macam gereja: Katolik, Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), dan Gereja Pentakosta Pusat Surabaya (GPPS). Mereka berasal dari 22 kabupaten/kota di Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita ingin nguri-uri budaya. Dan itu harus kita mulai dari lingkungan Gereja Katolik," kata Romo Eko Budi Susilo, penasihat panitia, yang juga Pastor Paroki Katedral Surabaya, kepada saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Romo kelahiran Karanganyar, Jawa Tengah, ini memang pecinta budaya Jawa kelas berat. Saat kuliah di STFT Widya Sasana Malang, dia kerap mengantar temannya, sesama frater, yang sering main wayang kulit. Setelah jadi pastor, Romo Eko aktif nanggap wayang kulit untuk memeriahkan ulang tahun paroki dan acara-acara besar di gereja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Romo Eko jugalah yang membeli seperangkat gamelan komplet untuk inventaris Paroki Redemptor Mundi Surabaya. Jangan heran, Romo Eko sangat 'disayangi' komunitas pedalangan di Kota Surabaya. Bahkan, dia diangkat jadi penasihat Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Surabaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lomba mocopat yang disaksikan ratusan orang ini terasa sejuk. Para peserta unjuk kebolehan melantunkan tembang wajib Katresnan Tanpa Wates atau Kasih Tanpa Batas, karya GP Sindhunata SJ, pastor yang juga wartawan, budayawan, dan seniman terkemuka di Jogjakarta. Tembang-tembang ini dipetik dari kitab suci alias Alkitab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, mendengar tembang-tembang mocopat yang dilantunkan para seniman gerejawi ini ibarat mendengar sabda Tuhan sendiri. Sabda Tuhan yang disampaikan dalan sentuhan seni tembang Jawa yang sangat dalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurlah, tak sedikit peserta mocopat dan gending rohani ini berasal dari kalangan generasi muda di bawah 20 tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"ORA ANA KANG LUWIH LUHUR &lt;br /&gt;TINIMBANG TRESNANING WONG &lt;br /&gt;KANG MASRAHAKE NYAWANE KANGGO MITRA-MITRANE" (Yoh 15:37)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahayu!&lt;br /&gt;Berkah Dalem!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-9144448684226684209?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/9144448684226684209/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/lomba-mocopat-antargereja.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/9144448684226684209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/9144448684226684209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/lomba-mocopat-antargereja.html' title='Lomba Mocopat Antargereja'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-92U5oUfP5Vk/TqjD358ZaqI/AAAAAAAAGf4/TLzHsmAbuHg/s72-c/mocopat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-884652642489136445</id><published>2011-10-24T08:55:00.005+07:00</published><updated>2011-10-31T10:54:53.143+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flores'/><title type='text'>Komodo Masih Jauh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-rXPzXnfr4RI/TqTGawc_ZzI/AAAAAAAAGfg/boWAfKgSM3c/s1600/komo.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 210px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-rXPzXnfr4RI/TqTGawc_ZzI/AAAAAAAAGfg/boWAfKgSM3c/s320/komo.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5666872394124322610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama komodo semakin banyak dibicarakan akhir-akhir ini. Ada kampanye yang masif agar binatang purba di kawasan pulau-pulau kecil di Flores Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), ini dijadikan salah satu keajaiban dunia. Sebegitu pentingkah status atau predikat komodo sebagai keajaiban dunia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa penting karena komodo dan pulau-pulau sekitar, khususnya Flores dan NTT, bakal jadi jujukan wisatawan dunia. Makin banyak turis, tentu saja ekonomi di NTT bisa meningkat. Angka kemiskinan yang tinggi, predikat NTT sebagai Nusa Tetap Tertinggal atau Nasib Tidak Tentu, bisa perlahan-lahan hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya, Pulau Komodo, Rinca, dan pulau-pulau kecil yang jadi habitat varanus komodoensis bisa dilirik oranglah. Jangan hanya Bali atau Lombok saja yang dapat kue pariwisata. Mudah-mudahan kampanye gencar, yang didukung penuh Jusuf Kalla, ini berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, andaikata tidak berhasil, si komodo ini tetap saja binatang purba yang hanya ada di bumi Indonesia. Dan itu sudah suatu keajaiban dunia, tanpa perlu pemungutan suara, polling SMS, mobilisasi e-mail, dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak cara untuk mempromosikan komodo tanpa harus terjebak permainan pihak-pihak tertentu di luar negeri yang punya kepentingan bisnis di balik proyek 'keajaiban dunia' itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucu juga kalau status 'keajaiban dunia' diperoleh dari SMS. Kalau SMS-nya kurang, status 'keajaiban' itu hilang, digeser daftar lain yang mungkin kalah bobot dibandingkan binatang purba bernama komodo itu. Aneh binti ajaib!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang NTT, saya tentu saja sangat bangga melihat kampanye besar-besaran untuk si komodo. Sejak jadi provinsi sendiri pada 20 Desember 1958, komodo menjadi lambang NTT. Tapi, anehnya, orang-orang NTT sendiri hampir tidak pernah melihat langsung binatang komodo itu. Kecuali tentu saja penduduk Pulau Komodo, Rinca, Labuan Bajo, dan sebagian Kabupaten Manggarai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa begitu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena di NTT tidak ada kebun binatang. Komodo-komodo itu biasanya dikirim untuk koleksi kebun binatang di Jawa, Sumatera, atau luar negeri. Saya sendiri, yang asli NTT, pertama kali melihat komodo justru di Kebun Binatang Surabaya, Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun punya banyak kelebihan dan keunikan sebagai satwa langka, bagaimanapun juga komodo adalah binatang buas yang sangat berbahaya. Kalau tidak diawasi, ditempatkan di ruang khusus, si komodo bisa mengamuk dan memangsa manusia. Saya kira, itu yang jadi pertimbangan mengapa pemerintah daerah di NTT tidak pernah 'mensosialisasikan' komodo kepada warga NTT sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, warga NTT sendiri asing dengan komodo karena biaya perjalanan ke Labuan Bajo dan Pulau Komodo memang sangat mahal. Belum lagi biaya konsumsi, penginapan, dan sebagainya. Jauh lebih mahal biaya transportasi dari Lembata atau Flores Timur atau Kupang ke Komodo ketimbang ke Jawa. Bahkan, lebih mahal ketimbang ongkos merantau ke Malaysia Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, ketimbang buang-buang uang hanya untuk melihat binatang komodo, orang-orang NTT lebih suka buang-buang uang untuk bayar calo TKI ke Sabah dan Sarawak di Malaysia Timur. Merantau ke Malaysia dianggap punya prospek ekonomi yang jelas ketimbang jalan-jalan ke Pulau Komodo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini memang pikiran khas orang melarat di kampung-kampung NTT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemda NTT sendiri setahu saya sejak dulu kurang optimal menjadikan Pulau Komodo dan sekitarnya sebagai pusat wisata unggulan NTT. Baru-baru ini saja setelah ada proyek 'keajaiban dunia' baru ada geliat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagaimana dengan infrastruktur pendukung? Jadwal pesawat reguler? Akomodasi atau perhotelan? Kesiapan warga Manggarai Barat dan kepulauan menjadi tuan rumah bagi wisatawan dalam dan luar negeri? Ini masih harus digarap betul oleh pemda NTT, Manggarai Barat, dan pemkab-pemkab di Pulau Flores. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stagnannya pariwisata di Pulau Komodo sebetulnya bukan salah pemda-pemda di Flores dan NTT semata. Ini juga tak lepas dari karakternya sebagai wisata petualangan [saya biasa sebut wisata uji nyali] dengan konsumen yang memang terbatas. Sangat berbeda dengan karakter pariwisata di Pulau Bali atau Singapura yang fun dan rekreatif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang di Surabaya, juga kota-kota lain di Jawa, misalnya, lebih suka melancong ke Bali atau Singapura. Selain transportasinya lebih lancar, pasti, dan murah, objek wisata yang bisa dinikmati pun lebih menghibur dan aman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Indonesia juga cenderung lebih suka menikmati suasana kota yang jauh lebih modern ketimbang yang ada di Indonesia. Itu pula sebabnya arus pelancong Indonesia ke Tiongkok, Taiwan, Eropa, dan Amerika Serikat kian meningkat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, jangan heran turis yang datang ke Pulau Komodo kebanyakan orang Eropa, Amerika, atau Jepang yang memang suka petualangan dan sudah bosan dengan suasana kota yang modern, canggih, dan artifisial.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-884652642489136445?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/884652642489136445/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/komodo-masih-jauh.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/884652642489136445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/884652642489136445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/komodo-masih-jauh.html' title='Komodo Masih Jauh'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-rXPzXnfr4RI/TqTGawc_ZzI/AAAAAAAAGfg/boWAfKgSM3c/s72-c/komo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-6510638044248336131</id><published>2011-10-21T09:32:00.003+07:00</published><updated>2011-10-21T09:36:46.888+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jurnalisme'/><title type='text'>Bos Dahlan Jadi Menteri BUMN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-1YAuXcTvDjo/TqDatenkyRI/AAAAAAAAGfU/HivRGJfTK4A/s1600/dis.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-1YAuXcTvDjo/TqDatenkyRI/AAAAAAAAGfU/HivRGJfTK4A/s320/dis.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5665768806080104722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahlan Iskan memang luar biasa. Dia baru saja dilantik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai menteri BUMN. Menteri yang mengurus 141 badan usaha milik negara dengan aset sekitar 3.600 triliun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SBY tentu tahu benar kapasitas seorang Dahlan Iskan, yang sebelumnya menjabat direktur utama PLN. SBY pun tahu persis Pak Dahlan menjalani operasi ganti hati di Tianjin, Tiongkok, 2007. SBY pun tahu kondisi kesehatan Pak Bos, sapaan akrab Dahlan Iskan di lingkungan Jawa Pos Group, yang semakin prima setelah ganti hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap minggu Pak Bos keliling dari daerah ke daerah untuk meninjau langsung proyek-proyek PLN. Termasuk jalan kaki ke pegunungan di kawasan Papua. Orang sehat sekalipun, maksudnya yang tidak ganti hati, pun belum tentu bisa melakukan jelajah alam sebanyak Pak Bos. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hebatnya, seperti biasa, Dahlan Iskan menulis catatan perjalanannya dengan detail, hidup, dan menarik. Jauh lebih menarik ketimbang tulisan wartawan-wartawan mana pun di Jawa Timur. Bahkan, Indonesia. Dahlan Iskan memang jurnalis tulen. Maestro jurnalisme tutur yang belum ada tandingannya di Indonesia, menurut saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat upacara pelantikan Pak Dahlan Iskan di televisi, saya langsung ingat tulisan beliau tentang masa ketika merintis karier sebagai koresponden majalah TEMPO di Surabaya. Cerita tentang kegigihannya mencari berita, jalan kaki, menolak amplop, itu bisa dibaca di buku GANTI HATI halaman 188. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petikannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"Saya ingat, meski waktu itu sudah menyandang gelar wartawan majalah TEMPO yang begitu ternama, saya belum punya sepeda, apalagi sepeda motor. Rumah pun masih menyewa di satu gang sempit di belakang pasar Kertajaya, Surabaya. Tidak jauh dari rel kereta api. Rumah separo tembok separo kayu. Yang kamar mandinya dipakai bersama beberapa rumah tangga. Yang airnya dari sumur yang harus ditimba sendiri. Yang kasur tipisnya harus dihampar di lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Waktu harus wawancara ke daerah industri di Tandes Margomulyo, saya hanya punya uang Rp 75 di saku. Hanya cukup untuk naik bemo berangkatnya saja. Dari Kertajaya ke Jembatan Merah Rp 25, lalu dari Jembatan Merah ke Tandes Rp 50. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selesai wawancara saya diberi amplop. Saya tahu isinya pasti uang. Saya menolaknya meski di saku tidak ada lagi uang sepeser pun. Meski Tandes-Kertajaya begitu jauhnya. Saya pulang dengan jalan kaki. Hampir dua jam. Karena beberapa kali harus berhenti untuk menghindar dari panasnya Surabaya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan pengalaman Dahlan Iskan ketika menjadi wartawan TEMPO ini saya ingat di luar kepala. Saya juga memberikan tanda khusus di buku GANTI HATI karena sangat membekas di hati saya. Sangat sulit membayangkan orang jalan kaki dari Kertajaya ke Tandes yang sekitar 10 km itu di tengah panasnya Surabaya. Saat ini saya hampir tidak menemukan lagi orang Surabaya yang mau jalan kaki barang satu dua kilometer. Kecuali kalau ada lomba gerak jalan Mojokerto-Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang Dahlan Iskan, wartawan sejati yang jalan kaki dua jam karena tak punya uang di saku itu, akhirnya beroleh kemuliaan. Bersakit-sakit dulu, bersenang-senang kemudian. Kemarin (19/10/2011), Pak Bos dipercaya Presiden SBY untuk mengelola uang negara yang begitu banyak: 3.600 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai saja dulu, ketika wawancara di Tandes, Dahlan Iskan menggadaikan idealisme, terima amplop untuk sekadar uang transpor, mungkin Dahlan Iskan tak akan bisa menjadi orang besar. Maestro yang sukses menangani badan usaha milik daerah Jatim, kemudian PT Perusahaan Listrik Negara, setelah sebelumnya sukses membenahi Jawa Pos yang hampir bangkrut pada 1982.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran moral: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bersakit-sakit dulu, bersenang-senang kemudian.&lt;br /&gt;2. Jangan terima amplop kalau ingin jadi orang besar.&lt;br /&gt;3. Yang sudah terima amplop, tidak akan jadi orang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Bos, selamat bertugas! &lt;br /&gt;Zhu nin haoyun!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-6510638044248336131?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/6510638044248336131/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/bos-dahlan-jadi-menteri-bumn.html#comment-form' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/6510638044248336131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/6510638044248336131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/bos-dahlan-jadi-menteri-bumn.html' title='Bos Dahlan Jadi Menteri BUMN'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-1YAuXcTvDjo/TqDatenkyRI/AAAAAAAAGfU/HivRGJfTK4A/s72-c/dis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-8072641164187062982</id><published>2011-10-20T10:40:00.014+07:00</published><updated>2011-10-27T09:45:15.067+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gereja'/><title type='text'>Saksi Yehuwa Open House</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-Ivafy7qmavY/TqjFtoWFqVI/AAAAAAAAGgE/aRrv3hb2WmQ/s1600/saksi.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 159px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Ivafy7qmavY/TqjFtoWFqVI/AAAAAAAAGgE/aRrv3hb2WmQ/s320/saksi.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5667997518760618322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saksi Yehuwa baru saja mengadakan open house di Jalan Jemursari 20 Surabaya. Di kawasan Surabaya selatan ini terdapat balai kerajaan, semacam gereja atau rumah ibadat untuk denominasi yang berpusat di Amerika Serikat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit dibayangkan acara open house atau pameran itu bisa dilakukan Saksi Yehuwa di era Orde Baru. Sebab, gereja yang satu ini dilarang pemerintah sejak 1976. Tentu saja, atas desakan gereja-gereja arus utama (mainstream) yang dianut rakyat Indonesia yang kristiani. Saksi Yehuwa dulu dianggap ‘gereja sesat’, ‘berbahaya’, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi berkat reformasi, khususnya setelah Abdurrahman Wahid menjadi presiden, Saksi Yehuwa tak lagi ilegal. Pada 2001 Saksi Yehuwa dinyatakan sebagai institusi legal. Punya hak hidup di negara Pancasila. Status Saksi Yehuwa dengan demikian menjadi sama dengan Katolik Roma, Katolik Bebas, Protestan, Baptis, Pentakosta, Karismatik, Adven Hari Ketujuh, Bala Keselamatan, Mormon, Anglikan, Ortodoks Siria, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai gereja yang terus bergerak di bawah tanah selama 25 tahun, dengan gaya dakwahnya yang khas di bawah arahan Menara Pengawal di USA, jemaat Saksi Yehuwa tentu saja sudah bisa bernapas lagi. Tidak perlu lagi main kucing-kucingan. Tidak perlu takut berurusan dengan hamba hukum karena Saksi Yehuwa memang sah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja-gereja lain (Katolik, Protestan, Pentakosta Karismatik, Baptis, Advent, dll) bakal kehilangan jemaat gara-gara menyeberang ke Saksi Yehuwa? Rasanya kok berlebihan. Buktinya, di Amerika Serikat sekalipun, yang sangat bebas dalam dakwah agama, Saksi Yehuwa tak pernah jadi mayoritas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saksi Yehuwa tetap saja sekte kecil, tapi pedas. Kecil-kecil cabai rawit! Selalu  bikin pedas gereja-gereja arus utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 10 tahun diakui di Indonesia, Saksi Yehuwa pun tak serta-merta menarik domba-domba dari gereja lain. Yang justru terus berebut domba, dilanda perpecahan, justru gereja-gereja yang mainstream, khususnya aliran ‘Haleluya’. Pendeta Anu yang kecewa di Gereja A memboyong jemaat dari mana-mana untuk bikin Gereja B. Gereja B pecah lagi jadi C, D, E, sampai Z, dan seterusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja-gereja tumbuh sangat pesat di Indonesia, sementara pertumbuhan jemaat (kuantitas) stagnan. Buktinya, dari dulu persentase orang Kristen di Indonesia rata-rata kurang dari 10 persen. Persentase umat kristiani pun ada kemungkinan berkurang karena terjadi kebangkitan kembali Tionghoa setelah reformasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Tionghoa yang sejak Orde Baru ramai-ramai ke gereja, akhir-akhir ini kembali ke kelenteng atau vihara. Contohnya Bu Yuli, yang dulu aktif di Gereja Katedral Surabaya, kini malah jadi bos sebuah kelenteng besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, begitulah, roda kehidupan keagamaan pun sering naik turun kayak roda pedati. Saksi Yehuwa yang dulu di bawah tanah sekarang bergerak ke atas mengikuti roda reformasi. Itulah gunanya reformasi dan demokrasi. Semua aliran dan keyakinan dapat tempat dan punya hak hidup.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-8072641164187062982?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/8072641164187062982/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/saksi-yehuwa-open-house.html#comment-form' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/8072641164187062982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/8072641164187062982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/saksi-yehuwa-open-house.html' title='Saksi Yehuwa Open House'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Ivafy7qmavY/TqjFtoWFqVI/AAAAAAAAGgE/aRrv3hb2WmQ/s72-c/saksi.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-7069070638177911062</id><published>2011-10-19T20:29:00.002+07:00</published><updated>2011-10-20T10:06:55.117+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musik'/><title type='text'>Bisnis Curang RBT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-X4G2kvC4JaA/Tp-QSmtd-RI/AAAAAAAAGek/wu01CfUFN9g/s1600/nsp.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 268px; height: 161px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-X4G2kvC4JaA/Tp-QSmtd-RI/AAAAAAAAGek/wu01CfUFN9g/s400/nsp.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5665405505558673682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sangat terlambat, pemerintah akhirnya menindak mafia penyedot pulsa. Bisnis haram yang telah merugikan jutaan pengguna ponsel di Indonesia. Bisnis curang bekerja sama dengan operator yang tidak bertanggung jawab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pengguna setia Telkomsel, saya sendiri sudah lama dirugikan dengan bisnis tuyul pulsa ini. Tapi saya diam saja. Repot kalau harus melawan mafia pulsa ini. Bisa-bisa kita tidak bisa kerja. Maka, saya sangat senang ketika kasus lawas ini akhirnya diperhatikan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika saya iseng mencoba RBT alias NSP (nada sambung pribadi) yang ditawarkan Telkomsel via internet. Saya pilih lagu lawas, tahun 1980-an, yang saya nilai bagus dan cocok di hati. Apa yang terjadi? Ternyata si mafia yang bekerja dengan Telkomsel ini malah mengaktifkan lagu dangdut koplo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun mengetik UNREG, tapi tidak bisa langsung nonaktif. Sementara pulsa sudah tersedot banyak. Beberapa hari kemudian barulah UNREG itu berhasil. Sebagai konsumen setia Telkomsel, saya jelas-jelas dirugikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisnis musik ala RBT memang fenomenal, tapi juga aneh. Di masa lalu, orang membeli kaset atau CD atau VCD untuk menikmati lagu-lagu dari artis favoritnya. Lha, RBT ini membeli cuplikan musik atau lagu, tapi tidak didengar sendiri. Yang dengar justru orang lain yang akan menelepon kita. Belum tentu si penelepon itu senang dengan RBT di ponsel kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin inilah yang disebut wolak-walike jaman. Zaman di mana akal sehat sudah jungkir balik tak karuan. Masyarakat diiming-imingi dengan tawaran SMS premium, RBT, sayembara ini-itu… padahal ujung-ujungnya pulsa tersedot habis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, pemerintah terkesan membiarkan saja praktik bisnis jahat ini berlangsung selama bertahun-tahun. Anehnya, para operator seperti Telkomsel merasa tak terlibat permainan curang ini. Anehnya, rakyat Indonesia pengguna HP pun membiarkan diri dicurangi selama bertahun-tahun.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-7069070638177911062?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/7069070638177911062/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/bisnis-curang-rbt.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/7069070638177911062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/7069070638177911062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/bisnis-curang-rbt.html' title='Bisnis Curang RBT'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-X4G2kvC4JaA/Tp-QSmtd-RI/AAAAAAAAGek/wu01CfUFN9g/s72-c/nsp.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-6581763717578099232</id><published>2011-10-18T17:05:00.001+07:00</published><updated>2011-10-20T10:11:25.447+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Surabaya Raya'/><title type='text'>Surabaya 40 Celcius</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-qcrH6F6X7_g/Tp-RVeS5EII/AAAAAAAAGew/tenvMPqQ3_0/s1600/40%2Bsby.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-qcrH6F6X7_g/Tp-RVeS5EII/AAAAAAAAGew/tenvMPqQ3_0/s320/40%2Bsby.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5665406654350954626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini (18/10/2011), saya merasa Surabaya lebih panas dari biasanya. Maka, saya pun cepat-cepat melihat angka di termometer saya yang buatan Tiongkok itu. Wow, benar saja. Suhu udara 40 Celcius! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua pekan lalu, temperatur di luar sempat menembus 41 Celcius. Angka 40 atau 41 jelas sangat berbicara. Bahwa Surabaya yang dikenal sebagai ‘kota panas’ itu makin panas saja. Kalau dulu suhu paling panas hanya berkisar 36-37 Celcius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, mengapa bisa sepanas ini? Jawaban akhirnya diperoleh dari Badan Meteorologi, Kimatologi, dan Geofisika (BMKG) Surabaya. Katanya, kenaikan suhu ini gara-gara posisi matahari yang saat ini tepat berada di atas Kota Surabaya dan sekitarnya. Sang surya sedang bergerak ke selatan khatulistiwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, perlahan-lahan suhu di Surabaya bakal kembali panas seperti biasanya, bukan panas ekstrem ala Afrika macam sekarang. Perjalanan matahari ke selatan itu butuh waktu tiga minggu atau satu bulan atau dua bulan. Maka, kita yang tinggal di Surabaya, Sidoarjo, Bangkalan, dan sekitarnya diminta sabar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan November mendatang, masih menurut BMKG, diharapkan hujan mulai mengguyur Surabaya meskipun musim hujan belum bisa dipastikan kapan. Terus terang saja, saat ini masyarakat Jawa Timur sangat merindukan hujan. Kekeringan di mana-mana. Air bersih susah. Waduk-waduk kering. Sungai tinggal sampah-sampah di dasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini koran KOMPAS memuat foto Waduk Dawuhan di Madiun yang kering-kerontang. Padahal, waduk ini harus mengairi sekitar 3.000 hektare sawah. Bayangkan jika kekeringan dan kepnasan semacam ini terus berlanjut sampai berbulan-bulan ke depan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat tulisan Cak Anis, wartawan senior, yang pada 1990-an sempat berkunjung ke Hadramaut di Yaman Selatan. Tempat asal masyarakat keturunan Arab di Indonesia. Menurut Cak Anis, kondisi di Hadramaut jauh lebih ekstrem ketimbang Surabaya. Hujan hanya turun dua kali setahun. Wow!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-6581763717578099232?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/6581763717578099232/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/surabaya-40-celcius.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/6581763717578099232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/6581763717578099232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/surabaya-40-celcius.html' title='Surabaya 40 Celcius'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-qcrH6F6X7_g/Tp-RVeS5EII/AAAAAAAAGew/tenvMPqQ3_0/s72-c/40%2Bsby.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-3541389287489944220</id><published>2011-10-17T12:53:00.002+07:00</published><updated>2012-01-11T22:16:02.342+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembata'/><title type='text'>Budaya Merokok di Flores Timur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-oZbjl5mspZg/TpvEP4cDhcI/AAAAAAAAGeM/maEMmg5xqdw/s1600/lontar.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 340px; height: 278px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-oZbjl5mspZg/TpvEP4cDhcI/AAAAAAAAGeM/maEMmg5xqdw/s400/lontar.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5664336733475669442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat bungkus rokok Commodore secara tak sengaja, saya jadi ingat kampung. Tepatnya budaya merokok di Nusa Tenggara Timur, khususnya Flores dan pulau-pulau sekitarnya. Seperti di tempat-tempat lain di tanah air, orang Flores, khususnya laki-laki, memang sangat doyan merokok. Bahkan, merokok sudah jadi salah satu budaya di Flores.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ada bapak-bapak lewat di depan rumah, maka orang-orang di kampung saya di Lembata 'diwajibkan' untuk menyapa. Tak hanya menyapa, juga mengajak mampir untuk GOLO BAKO. Ungkapan bahasa Lamaholot ini berarti 'menggulung daun lontar/siwalan' untuk merokok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ama, mo pai golo bako ki," begitu ungkapan basa-basi ala etnis Lamaholot di Flores Timur dan Lembata. Artinya, "Bapak, mari mampir dulu untuk melinting rokok!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dilinting bukan daun jagung, tapi daun lontar alias siwalan. Seperti diketahui, lontar merupakan tanaman khas di daerah kering macam NTT yang juga menjadi ciri khas bumi Lamaholot. Orang Lamaholot seperti saya sering menyebut dirinya sebagai 'orang-orang lontar'. Bahasa daerahnya: "Tite ata koli lolon hena!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Kita sama-sama berasal dari kebudayaan lontar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon lontar memang serbaguna. Bisa untuk bahan bangunan karena sangat kuat. Daunnya untuk bikin timba. Niranya untuk gula dan minuman tradisional bernama tuak dan arak. Karena punya kultur lontar, jangan heran bila orang-orang Lamaholot di kawasan Flores Timur sangat doyan minum tuak, yang kemudian berlanjut dengan arak atau miras-miras buatan pabrik macam bir, wiski, dan sebangsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daun lontar dipakai untuk atap rumah. Bisa juga untuk tikar. Bisa untuk bakul dan sejenisnya. Dan, yang paling penting bagi laki-laki Lamaholot, daun lontar jadi klobot untuk melinting tembakau. Budaya merokok pakai daun koli (lontar) ini sudah berlangsung dari generasi ke generasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rokok buatan sendiri. Tembakaunya pun tak usah beli karena bisa dipetik dari pekarangan atau kebun sendiri. Pada tahun 1980-an dan 1990-an kita bisa dengan mudah melihat bapak-bapak dan kakek-kakek membawa kotak khusus berisi tembakau plus daun koli. Bagian dalam daun siwalan alias lontar alias koli itu digaruk sehingga gampang digulung. Kalau sudah merokok, suasana sangat gayeng. Orang bisa bicara panjang lebar, bahkan sampai lupa waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu kuatnya budaya merokok, orang-orang tua di kampung kurang percaya dengan peringatan pemerintah bahwa 'merokok itu merugikan kesehatan'. Kalau ada ceramah-ceramah kesehatan tentang bahaya rokok, bapak-bapak dan kakek-kakek itu mendengarkan dengan sabar sambil senyam-senyum. Tapi kebanyakan tidak percaya bahwa rokok, atau tepatnya tembakau, itu mengandung begitu banyak bahan kimia berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kurang yakin? Mereka belum melihat bukti orang-orang yang merokok itu cepat mati atau terkena penyakit-penyakit yang disebutkan dokter. Apalagi usia kakek-kakek yang 'melestarikan' budaya merokok itu selama ini panjang-panjang. Baru meninggal dunia di atas 80 tahun. Hampir tidak ada yang sakit parah kemudian dirawat berbulan-bulan di rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bapak Dokter malah lebih dulu meninggal daripada kita-kita. Padahal, Bapak Dokter itu tidak pernah merokok," begitu guyonan yang beredar di kampung-kampung pelosok Flores Timur pada era 1990-an. Tulisan 'peringatan pemerintah' di bungkus rokok pun diangap angin lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah orang Flores banyak merantau ke Malaysia, khususnya Sabah dan Serawak, sejak 1960-an, budaya GOLO BAKO alias ngelinting rokok ini mulai sedikit bergeser. Muncul kebiasaan baru, yang dianggap lebih maju, yakni mengisap rokok lawas merek COMMODORE. Rokok putih ini rasanya kurang populer di Jawa, tapi sangat digilai di pelosok Flores Timur. Warung-warung kecil yang jualan Commodore biasanya laris manis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Commodore, rokok kretek merek Bentoel sangat digandrungi generasi muda yang mulai makan sekolahan dan terpengaruh gaya hidup perkotaan. Beda dengan di Jawa Timur yang lebih suka rokok Gudang Garam atau Djarum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tahun 2000, kakek-kakek penggemar rokok klobot ala Lamaholot dari daun lontar itu satu per satu meninggalkan dunia fana ini. Bukan karena kanker atau penyakit-penyakit berbahaya, tapi karena memang sudah terlalu tua. Budaya merokok masih dilestarikan di kampung, tapi kebanyakan bukan lagi rokok klobot, melainkan rokok-rokok buatan pabrik besar di Jawa Timur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sapaan ramah 'AMA, GOLO BAKO KI' pun sudah jarang terdengar di kampung saya. Selain penggemar rokok klobot tinggal sedikit, rokok-rokok pabrikan ini cukup mahal. Harus punya uang baru bisa membeli Bentoel atau Gudang Garam. Beda dengan rokok klobot yang memang gratisan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-3541389287489944220?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/3541389287489944220/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/budaya-merokok-di-flores-timur.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/3541389287489944220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/3541389287489944220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/budaya-merokok-di-flores-timur.html' title='Budaya Merokok di Flores Timur'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-oZbjl5mspZg/TpvEP4cDhcI/AAAAAAAAGeM/maEMmg5xqdw/s72-c/lontar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-5544434343285570349</id><published>2011-10-16T09:14:00.001+07:00</published><updated>2011-10-16T09:23:34.551+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paduan suara'/><title type='text'>Gita Smala Konser Die Jahreszeiten</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-0yimR8zdfjk/TppAH4kicYI/AAAAAAAAGcs/CdX93OHlvJo/s1600/gita%2Bsman%2B5.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 120px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-0yimR8zdfjk/TppAH4kicYI/AAAAAAAAGcs/CdX93OHlvJo/s400/gita%2Bsman%2B5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5663909985560719746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya Paduan Suara Mahasiswa ITS Surabaya yang hebat. Pekan lalu, Paduan Suara SMAN 5 Surabaya yang dikenal dengan Gita Smala bikin konser hebat di auditorium SMA Kristen Petra 1 Surabaya. Konser Gita Smala ini ‘hebat’ karena mereka sudah bisa membawakan repertoar-repertoar berat sekelas Die Jahreszeiten karya Joseph Haydn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebanyak 47 penyanyi Gita Smala membawakan 38 komposisi yang tingkat kesulitannya tinggi itu. Mereka konser bareng Coro Semplice (19 orang) dan Lista Symphony Orchestra (45 orang). Setahu saya sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah ada, paduan suara tingkat SMA bikin koser diiringi orkes simfoni. Apalagi pakai repertoar kelas berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salut buat Gita Smala! Salut buat para pembina! Salut buat kepala sekolah dan guru-guru yang memberi ruang kepada para siswa untuk mengembangkan ekstrakurikuler paduan suara di sekolah. Sebab, di SMA-SMA lain---yang prestasi akademiknya kalah jauh dengan SMAN 5 Surabaya---para siswa sulit mendapat peluang untuk ikut paduan suara. Apalagi dapat dukungan dana dan materi untuk memajukan kor sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Die Jahreszeiten memang tema yang fenomenal di dunia paduan suara dan simfoni. Penonton biasanya punya kesan mendalam setelah melihat konser. Kesan yang tak akan hilang selama bertahun-tahun, bahkan sepanjang hayat. Anggota kor dan musisi tentu punya pengalaman yang lebih mendalam lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang hanya tahu komposisi MUSIM BERGANTI, salah satu nomor Die Jahreszeiten, yang diindonesikan untuk lagu wajib lomba paduan suara mahasiswa di Jawa Timur pada 1990-an, masih teringat lagu ini. Komposisi panjang yang asyik. Tapi juga rawan salah bila kurang konsentrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara Die Jahreszeiten pula, Solomon Tong akhirnya bertekad mendirikan sebuah orkes simfoni di Surabaya. Tekad, atau lebih tepat dendam bertahun-tahun, yang baru terwujud pada akhir Desember 1996. Ada apa dengan Die Jahreszeiten dan Solomon Tong?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirigen dan guru musik terkenal ini beberapa kali bercerita kepada saya. Ketika masih muda, Solomon Tong bersama dua saudaranya diajak memperkuat paduan suara yang akan konser bersama orkes simfoni di THR (Taman Hiburan Rakyat). Orkes simfoni itu dipimpin Tino Kerdejk, pemusik asal Belanda yang sangat terkenal di Jawa Timur, bahkan Indonesia, pada era 1950-an hingga 1970-an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meneer Tino ini seorang maestro musik klasik. Komposer hebat. Pelatih paduan suara yang hebat. Pemusik hebat. Dirigen hebat. Semua yang hebat-hebat di bidang musik disandang Tino. Juga hebat dalam memikat nona-nona cakep tempo doeloe! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konser Die Jahreszeiten bersama Meneer Tino itu, menurut Solomon Tong, sangat dahsyat. Itulah pertama kali Pak Tong merasakan hebatnya paduan suara bila main bersama symphony orchestra. “Saya ingin suatu ketika punya symphony orchestra dan paduan suara berkualitas,” kata Pak Tong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin para anggota Gita Smala pun punya kesan mendalam dengan Die Jahreszeiten. Siapa tahu kelak ada yang jadi dirigen, komposer, atau pembina musik klasik di Surabaya. Paling tidak di tangan anak-anak muda inilah kita masih percaya bahwa musik klasik tak akan pernah mati. Selalu tumbuh generasi baru dari masa ke masa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-5544434343285570349?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/5544434343285570349/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/gita-smala-konser-die-jahreszeiten.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5544434343285570349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/5544434343285570349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/gita-smala-konser-die-jahreszeiten.html' title='Gita Smala Konser Die Jahreszeiten'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-0yimR8zdfjk/TppAH4kicYI/AAAAAAAAGcs/CdX93OHlvJo/s72-c/gita%2Bsman%2B5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-6945008181406602021</id><published>2011-10-14T09:31:00.003+07:00</published><updated>2011-10-16T09:13:15.617+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paduan suara'/><title type='text'>PSM ITS Menang di Italia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-BXPFduXKDvQ/Tpo9qaw1L0I/AAAAAAAAGcg/byQ_msBYCio/s1600/PSM%2BITS.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 268px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-BXPFduXKDvQ/Tpo9qaw1L0I/AAAAAAAAGcg/byQ_msBYCio/s400/PSM%2BITS.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5663907280319754050" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paduan suara mahasiswa dan pelajar di Jawa Timur dalam beberapa tahun terakhir makin berprestasi. Bahkan, kor-kor ini menang dalam festival di luar negeri. Jelas prestasi yang harus kita apresiasi karena persaingan paduan suara di level dunia sangat ketat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibandingkan era 1980-an dan 1990-an, ketika saya masih aktif di paduan suara mahasiswa (PSM), kor-kor di era 2000-an benar-benar dahsyat. Kalau dulu, di zaman Orde Baru, PSM-PSM hanya berkutat di lomba atau festival regional atau nasional, atau sekadar nyanyi di Cintaku Negeriku TVRI setiap tanggal 17, sekarang orientasinya tingkat dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, komposisi atau repertoar yang disiapkan pun jauh lebih sulit. Butuh latihan intensif dan didukung penyanyi-penyanyi berkualitas. Juga butuh pemusik dan pelatih berkualitas tinggi. Bukan sekadar pelatih kor kelas acara wisuda atau dies natalis perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama ini PSM ITS Surabaya alias ITS Student Choir meraih golden diploma di ajang The Rimini International Choral Competition, Italia, 6-9 Oktober 2011. Menampilkan empat komposisi nusantara, ITS mendapat poin 94,6. Lagu-lagu yang dinyanyikan diaransemen rancak, tingkat kesulitan tinggi: Marencong-rencong (Bugis), Lu Lumbu (Banyuwangi), Ugo-Ugo (Banyuwangi), Trading Dangdo (Batak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah biasa kor mahasiswa membawakan lagu-lagu daerah dengan aneka gaya. Tapi saya lihat akhir-akhir ini bobot aransemen SATB (sopran, alto, tenor, bas) yang dibuat pendekar-pendekar kor Jawa Timur jauh lebih sulit ketimbang era 1990-an. Apalagi kor-kor sekarang tak hanya bernyanyi, tapi juga membawakan aneka gerak tarian dengan dinamika yang variatif. Ini tentu tidak mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, PSM ITS kembali membuktikan diri sebagai salah satu paduan suara mahasiswa papan atas di Indonesia. Bahkan, di Asia Tenggara dan dunia. Salut buat ITS yang sukses melakukan regenerasi dan kaderisasi paduan suara. Bukan apa-apa, masalah terbesar kor-kor di sekolah atau kampus adalah regenerasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tahun ini kita punya 40-60 anggota yang kualitasnya di atas rata-rata, belum tentu tahun depan kita bisa mendapat sumber daya yang sama. Sebab, seleksi masuk ITS, misalnya, tidak menuntut calon mahasiswa bisa membaca notasi atau punya suara bagus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat buat PSM ITS Surabaya!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-6945008181406602021?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/6945008181406602021/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/psm-its-menang-di-italia.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/6945008181406602021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/6945008181406602021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/psm-its-menang-di-italia.html' title='PSM ITS Menang di Italia'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-BXPFduXKDvQ/Tpo9qaw1L0I/AAAAAAAAGcg/byQ_msBYCio/s72-c/PSM%2BITS.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-1316168378884426484</id><published>2011-10-14T09:30:00.001+07:00</published><updated>2011-10-14T09:43:14.293+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Surabaya Raya'/><title type='text'>Trawas Yang Sejuk</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-vxeZ5vWyxJk/TpehuX_GeqI/AAAAAAAAGb8/_2IkRvnENjE/s1600/airjolo.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-vxeZ5vWyxJk/TpehuX_GeqI/AAAAAAAAGb8/_2IkRvnENjE/s320/airjolo.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5663172874526423714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya akhir-akhir ini menjadi kota terpanggang. Suhu udara siang hari mencapai 38-41 derajat Celcius. Betapa beratnya orang-orang yang kerjanya di lapangan seperti reporter, sales, pedagang kaki lima, atau tukang becak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena panasnya, ada kebutuhan untuk ‘mendinginkan’ diri sejenak di kawasan pegunungan. Orang-orang Surabaya yang kaya biasanya punya vila di Prigen, Tretes, Trawas, Pacet, atau Batu. Di tempat-tempat itu kita bisa menikmati cuaca yang jauh berbeda dengan Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan orang-orang yang tidak kaya seperti saya? Ada pilihan ke kawasan Trawas juga, tepatnya di Seloliman. Di situ ada Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PLLH), Sumur Jolotundo, atau bumi perkemahan di kompleks Narotama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pilih Narotama karena kawasan hutan milik Perhutani ini dihuni beberapa warga Desa Seloliman yang saya kenal akrab. Sudah seperti keluarga. Ada rumah panggung dari bambu, beratap alang-alang, dinaungi pohon-pohon tinggi. Ada aliran listrik mikrohidro yang dibuat PPLH, tapi jarang digunakan di bumi perkemahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang Surabaya minta supaya tetap gelap. Katanya, mereka ingin suasana ndeso, pakai lampu minyak tanah,” kata Mbak Gembuk, pemilik rumah panggung dan warung paling laris di dekat Jolotundo. Mbak Gembuk, putrinya Bu Jono ini, langganan tetap saya. Saya bahkan punya kamar spesial di bagian samping, bisa melihat pemandangan di jurang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin, saya berkesempatan mampir di Seloliman, di vila bambu alias rumah panggung itu. Masih suasana purnama, banyak sekali pengunjung dari Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Pasuruan…. Sebagian besar memang cari suasana sejuk, desa, alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu saya tidur di tempat tidur bambu di bagian tengah. Tengah malam, selepas pukul 00.00, dingin banget rasanya. Temperatur bergerak dari 24 derajat Celcius, kemudian 23, kemudian mendekati subuh ke 22. Saya pun kedinginan. Meski sudah pakai selimut, jaket, tetap saja tembus. Tapi saya senang karena bisa ‘balas dendam’ panasnya Kota Surabaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Surabaya, suhu bergerak cepat dari 32 derajat Celcius, 36, 37… kemudian 38 lagi. Cuaca yang begini inilah yang membuat Trawas, Tretes, dan Pacet selalu menjadi jujukan orang Surabaya untuk sekadar ngadem.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-1316168378884426484?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/1316168378884426484/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/trawas-yang-sejuk.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/1316168378884426484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/1316168378884426484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/trawas-yang-sejuk.html' title='Trawas Yang Sejuk'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-vxeZ5vWyxJk/TpehuX_GeqI/AAAAAAAAGb8/_2IkRvnENjE/s72-c/airjolo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-6925378753247291854</id><published>2011-10-13T09:11:00.002+07:00</published><updated>2011-10-13T09:20:54.050+07:00</updated><title type='text'>Lupakan Piala Dunia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-7SNHJ6HKEU0/TpZK2QJ_g2I/AAAAAAAAGbA/4-gu7TIIpbQ/s1600/qatar%2Bina.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-7SNHJ6HKEU0/TpZK2QJ_g2I/AAAAAAAAGbA/4-gu7TIIpbQ/s320/qatar%2Bina.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5662795877375247202" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia tidak perlu malu kalah dari Qatar. Jujur saja, level sepak bola kita masih kalah jauh dibandingkan Timur Tengah atau Arab. Boleh saja kita bermimpin tembus Piala Dunia. Tapi pemain-pemain kita sama sekali belum memenuhi kualitas minimal untuk bersaing dengan negara-negara langganan Piala Dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangankan dengan Qatar, Bahrain, atau Iran, tim nasional Indonesia belum bisa dikatakan hebat di Asia Tenggara. Saya masih ingat gaya permainan timnas ketika dikalahkan Malaysia pada akhir Desember 2010 di ajang tertinggi sepak bola Asia Tenggara. Pada leg pertama, pemain-pemain Indonesia terlihat seperti amatiran. Baru belajar main bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, jangan salahkan pemain, pelatih, manajer, atau PSSI ketika kita kandas di kualifikasi Piala Dunia. Alfred Riedl pun pasti tak sanggup membuat Indonesia bisa menang melawan Bahrain, Qatar, Iran, atau Malaysia atau Thailand. Omong kosong kalau Riedl bisa. Orang Indonesia tentu tak akan lupa dengan cara bermain timnas ketika melawan Malaysia di ajang AFF, ketika ditangani Riedl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira bukan hanya Indonesia yang sulit menembus Piala Dunia. Semua negara ASEAN pun sangat sulit, bahkan mustahil. Kekuatan sepak bola di Asia masih didominasi Timur Tengah serta Korea-Jepang. Belakangan ditambah Australia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bisa kita lakukan sekarang adalah membenahi pembinaan pemain-pemain muda. Bibit-bibit muda perlu dibentuk secara sistematis untuk kepentingan jangka panjang. Hasil pembinaan itu mungkin baru bisa dipetik 15 atau 20 tahun mendatang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lupakan Bambang Pamungkas, Ponario Astaman, Gonzales, Boaz, dan angkatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto: Yahoo Sport&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-6925378753247291854?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/6925378753247291854/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/lupakan-piala-dunia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/6925378753247291854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/6925378753247291854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/lupakan-piala-dunia.html' title='Lupakan Piala Dunia'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-7SNHJ6HKEU0/TpZK2QJ_g2I/AAAAAAAAGbA/4-gu7TIIpbQ/s72-c/qatar%2Bina.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-1516944911718782799</id><published>2011-10-08T18:29:00.002+07:00</published><updated>2011-10-09T09:31:33.137+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gereja'/><title type='text'>Pendeta Liem Ie Tjiauw 1939 - 2011</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-6VP5oT-cjwQ/TpEHcsX9qdI/AAAAAAAAGag/54AtNHjabiA/s1600/liem%2BGKI.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 246px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-6VP5oT-cjwQ/TpEHcsX9qdI/AAAAAAAAGag/54AtNHjabiA/s320/liem%2BGKI.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5661314396110825938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jasad Liem Ie Tjiauw (72) memang sudah kembali menjadi abu, setelah diperabukan di Krematorium Eka Praya, Kembang Kuning, Surabaya, Jumat (7/10) pagi. Namun, pendeta emeritus Gereja Kristen Indonesia (GKI) Pregolan Bunder ini tetap dikenal oleh ribuan jemaatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai gembala senior yang melayani jemaat GKI Pregbun (Pregolan Bunder) sejak 16 September 1969 hingga wafat pada Selasa (4/10/2011), Pendeta Liem Ie Tjiauw jelas punya ribuan jemaat. Tak hanya di Surabaya dan sekitarnya, jemaat GKI Pregbun kemudian tersebar di kota-kota lain, bahkan mancanegara. Maklum, Pendeta Liem sudah melayani dua tiga generasi selama 42 tahun penggembalaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jemaat GKI Pregbun mengaku terkesan dengan sikap almarhum yang ramah, tapi juga tegas dan disiplin. Memang, pendeta-pendeta ‘angkatan lama’ yang pernah mencicipi pendidikan Belanda dikenal punya karakter tegas dan disiplin. Karena itu, Pendeta Liem sangat disegani, tapi juga sangat disayangi umatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, rohaniwan kelahiran Magelang, 16 September 1939, ini punya kelebihan di bidang homilitika. Yakni, public speaking atau seni berkhotbah di depan jemaat. Sebagai pendeta kristiani yang bertugas menyampaikan firman Tuhan, Liem dikaruniai talenta berkhotbah. Begitu bicara di depan mimbar, jemaat seperti dibuat terpaku dengan gaya dan materi khotbah ayah tiga anak dan kakek empat cucu itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pendeta-pendeta itu kan sangat banyak dan selalu bertambah setiap saat. Tapi belum ada yang bisa menyamai, apalagi menandingi Pendeta Liem Ie Tjiauw,” ujar Markus Sajogo, pengacara senior, yang sejak 1951 menjadi jemaat GKI Pregbun Surabaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya rasa, kemampuan berkhotbah almarhum itu merupakan talenta atau bakat yang diberikan Tuhan sendiri. Tidak bisa dipelajari. Dan yang ngomong begini bukan hanya saya, tapi juga jemaat-jemaat lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Apa yang membuat khotbah Pendeta Liem sangat menarik? Markus mengibaratkan pengkhotbah dengan pilot pesawat terbang.  Seorang pilot harus bisa take-off dengan mulus, terbang dengan nyaman, dan landing dengan mulus pula. Di mata Markus Sajogo, pengkhotbah-pengkhotbah sekarang ini kebanyakan hanya mulus saat take-off, tapi tidak jelas landing-nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penumpang kadang-kadang bingung kapan landing-nya. Nah, Pendeta Liem ini memang sangat luar biasa. Landing-nya bagus, sehingga ada sesuatu yang dibawa jemaat ketika pulang ke rumah,” kata Markus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena bakat homilitika itulah, Pendeta Liem Ie Tjiauw kerap diundang oleh umat kristiani dari berbagai gereja di luar negeri. Di antaranya, Amerika Serikat, Australia, dan Selandia Baru. (rek)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-1516944911718782799?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/1516944911718782799/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/pendeta-liem-ie-tjiauw-1939-2011.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/1516944911718782799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/1516944911718782799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/pendeta-liem-ie-tjiauw-1939-2011.html' title='Pendeta Liem Ie Tjiauw 1939 - 2011'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-6VP5oT-cjwQ/TpEHcsX9qdI/AAAAAAAAGag/54AtNHjabiA/s72-c/liem%2BGKI.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-2556572131573279247</id><published>2011-10-08T18:25:00.001+07:00</published><updated>2011-10-09T09:35:03.316+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gereja'/><title type='text'>Low Trust di Gereja</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-MuJ5jroj900/TpEIP8Q5e1I/AAAAAAAAGao/TJX9KCEwAV8/s1600/gki.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 175px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-MuJ5jroj900/TpEIP8Q5e1I/AAAAAAAAGao/TJX9KCEwAV8/s320/gki.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5661315276549487442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin banyak penjahat di Surabaya---tiap hari kita baca di koran---sehingga masyarakat akhir-akhir ini makin paranoid. Makin sulit mempercayai orang lain. Bahkan, tetangga sendiri pun dicurigai. Kalau 10 tahun lalu Indonesia digolongkan low trust society, mungkin sekarang ini sudah mendekati distrust society. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetangga dicurigai. Teman segereja tidak dipercaya. Omongan presiden diragukan. Anggota parlemen apa lagi. Situasi yang kalau terus dibiarkan bisa sangat berbahaya. Low trust society berarti kita kehilangan modal sosial untuk maju dan berkembang lebih cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat low trust society, konsep Fukuyama ini, setelah datang ke Gereja Kristen Indonesia (GKI) Pregolan Bunder Surabaya, Sabtu pagi (8/10/2011). Saya hendak meminjam foto almarhum Pendeta Liem Ie Tjiauw yang jasadnya baru dikremasi kemarin di Kembang Kuning. Foto semasa hidup ini perlu untuk melengkapi tulisan obituari saya di surat kabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memperkenalkan diri, kemudian menyampaikan tujuan saya. Dan staf GKI Pregbun menerima saya dengan baik. Setelah membongkar dokumen selama 10 menit, pegawai perempuan itu menemukan sebuah buku yang ada foto Pendeta Liem bersama keluarga. “Puji Tuhan,” kata saya. Ini yang saya cari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku kecil itu semakin berbobot karena ada tulisan Pendeta Eka Darma Putra tentang sahabatnya, Pendeta Liem. Saya langsung minta pinjam buku kecil itu. “Buat memperkaya tulisan saya tentang almarhum,” kata saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Staf GKI Pregbun keberatan. Alasannya logis: buku itu hanya satu. Meski tidak mengatakannya, saya bisa meraba-raba apa yang dia pikirkan. “Bagaimana kalau hilang? Apakah saya bisa dipercaya? Apakah saya bisa mengembalikan buku itu?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun beberapa kali menjamin bahwa buku itu pasti akan segera saya kembalikan setelah membuat tulisan obituari Pendeta Liem Ie Tjiauw. Toh, untuk apa saya menyimpannya? Tetap saja Mbak Staf itu tidak mengizinkan. Saya menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun makin sadar bahwa tak ada gunanya lagi meyakinkan pengurus GKI itu. Mungkin tampang saya memang sangat meragukan, sehingga sulit dipercaya. Jangan-jangan dia mengira saya ini wartawan palsu yang hanya berpura-pura menulis obituari pendeta senior itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, saya pun mengambil langkah darurat. Empat halaman buku kecil itu saya potret dengan kamera digital. “Terima kasih, Mbak,” kata saya, lalu pulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kesekian kalinya, saya berhasil membuktikan konsep LOW TRUST SOCIETY itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-2556572131573279247?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/2556572131573279247/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/low-trust-di-gereja.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/2556572131573279247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/2556572131573279247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/low-trust-di-gereja.html' title='Low Trust di Gereja'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-MuJ5jroj900/TpEIP8Q5e1I/AAAAAAAAGao/TJX9KCEwAV8/s72-c/gki.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205026.post-4983699886939231257</id><published>2011-10-06T08:35:00.002+07:00</published><updated>2011-10-06T08:39:36.901+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dahlan iskan'/><title type='text'>Hidup Bahagia Jakob Oetama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-3G__RZYtWro/To0G0EJhcdI/AAAAAAAAGZw/Yib67RpxGTQ/s1600/kkg.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 220px; height: 248px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-3G__RZYtWro/To0G0EJhcdI/AAAAAAAAGZw/Yib67RpxGTQ/s400/kkg.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5660187798211228114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh DAHLAN ISKAN&lt;br /&gt;Sumber: Jawa Pos 3 Oktober 2011 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau hidup dimulai dari umur 40 tahun (life begins at fourty), Pak Jakob Utama, pemilik grup Kompas-Gramedia itu, baru mulai hidup lagi untuk yang kedua kalinya pada 27 September minggu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarang ada berita wartawan merayakan ulang tahun ke-80 seperti Pak Jakob Oetama. Yang sering adalah berita wartawan mati muda: sakit lever karena bekerja tidak teratur, terkena kanker karena tiap malam stres terkena deadline, terbunuh di medan pergolakan atau terlibat kecelakaan lalu lintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya kini tinggal tiga wartawan yang berusia di atas 80 tahun: Jakob Oetama dan Herawati Diah. Memang, ada tokoh seperti Harjoko Trisnadi yang juga lebih dari 80 tahun dan sangat sehat. Tapi, dia lebih dikenal sebagai pengusaha pers daripada wartawan, meski awalnya juga wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lumayan banyak adalah calon wartawan berumur 80 tahun: Fikri Jufri (75, Tempo), Rahman Arge Makassar (76), Lukman Setiawan (76, Tempo), Ja”far Assegaf (78, Media Indonesia), dan beberapa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berarti rekor usia wartawan terpanjang kini dipegang Ibu Herawati Diah. Beliau lahir pada 3 April 1917, yang berarti tahun ini berusia 94 tahun. Pak Rosihan Anwar sebenarnya juga hampir mencapai 90 tahun. Tapi, tak disangka-sangka dia meninggal mendadak pada usia 89 tahun, 14 April lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena beda generasi, saya tidak akrab dengan dua tokoh pers yang dikaruniai usia yang begitu panjang. Saya mengenal Ibu Herawati Diah karena sempat berhubungan bisnis sekitar lima tahun, tapi terbatas hanya bicara perusahaan. Yakni, ketika suaminya, B.M. Diah, pemilik harian Merdeka yang juga mantan Menteri Penerangan, menyerahkan pengelolaan harian Merdeka yang lagi pingsan kepada saya pada 1994.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah B.M. Diah meninggal dan saham Merdeka beralih ke putranya, kerja sama itu berakhir. Sebagian besar pengelolanya, di bawah pimpinan Margiono, kemudian mendirikan Rakyat Merdeka. Margiono, yang masih memimpin Rakyat Merdeka sampai sekarang menjadi ketua umum PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima tahun sering rapat bersama, saya bisa menarik kesimpulan mengapa Ibu Herawati Diah bisa berusia begitu panjang. Hatinya sangat baik, berpikirnya longgar, bicaranya sangat terkontrol, dan pembawaannya sangat tenang. Disiplinnya sangat tinggi, termasuk dalam hal makanan. Karena itu, Ibu Herawati terjaga langsing sampai sekarang. Ibu Herawati bisa mewakili sosok wanita intelektual yang bergaya elegan. Beliau tercatat sebagai wanita pertama Indonesia yang sekolah di luar negeri (Amerika Serikat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa saya juga tidak akrab dengan Pak Jakob Oetama? Di samping beda generasi, kami berbeda tempat tinggal. Pak Jakob di Jakarta, sedang saya berbasis di Surabaya. Tapi, penyebab utamanya adalah karena kami berdua termasuk orang yang sangat fokus ke perusahaan masing-masing. Kami berdua sama-sama lebih mementingkan sibuk memajukan perusahaan masing-masing daripada misalnya menghadiri pesta-pesta, atau bergentayangan di kafe atau rapat-rapat organisasi. Begitu sulit kami menemukan kesempatan berinteraksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau memang sangat lama menjadi ketua umum SPS (Serikat Penerbit Surat Kabar, kini bernama Serikat Perusahaan Pers), namun tidak pernah habis-habisan mempertaruhkan waktunya di situ. Beliau termasuk tokoh yang tidak mau menjadikan organisasi pers sebagai batu loncatan untuk berkarir di politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, beliau enak saja ketika akhirnya meminta saya agar mau dipilih sebagai ketua umum SPS untuk menggantikannya. Sikap saya juga mirip itu. Saya tidak akan mau dicalonkan sepanjang beliau masih mau menjadi ketua umumnya. Bahkan, ketika suatu saat saya dicalonkan menjadi ketua PWI Jatim, saya mengajukan syarat: asal PWI jangan terlalu aktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu saya maksudkan agar tugas wartawan yang utama tidak terganggu oleh gegap gempita organisasi. Saya tidak ingin PWI-nya maju, tapi mutu koran merosot. Saya juga tidak malu kalau kantor PWI menjadi sepi. Sebab, itu berarti mereka sibuk menggali berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Jakob adalah contoh dari sedikit orang yang bisa fokus. Sejak pikiran sampai tindakan. Godaan-godaan di luar pers tidak pernah meruntuhkan kefokusannya mengurus media. Padahal, sebagai pemimpin dan pemilik grup media nasional yang terbesar dan paling berpengaruh, pastilah begitu banyak rayuan dan iming-iming.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau tidak tergoda sama sekali. Beliau terus saja konsentrasi mengurus Kompas dan grupnya. Karena itu, kalau pada akhirnya kita menyaksikan Kompas-Gramedia begitu sukses, kita tidak boleh melupakan bahwa itulah hasil nyata dari karya orang yang sangat fokus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi yang lebih muda (meski sekarang saya sudah tergolong generasi tua) memberikan dua penilaian kepada Jakob Oetama. Beliau dikecam sebagai wartawan penakut. Bukan sosok wartawan pejuang yang gagah berani menantang maut, seperti Mochtar Lubis (Indonesia Raya), atau Rosihan Anwar (Pedoman), atau Tasrif (Abadi), Aristides Katoppo (Sinar Harapan), Nono Anwar Makarim (Kami), Goenawan Mohamad (Tempo), dan beberapa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pihak lain dia dipuji sebagai wartawan yang santun, mengurus anak buah (termasuk kesejahteraan wartawan) dengan baik, dan sosok yang sangat menonjol tepo seliro-nya. Beliau juga tokoh yang kalau berbicara di depan umum lebih mengedepankan filsafat daripada masalah-masalah yang praktis. Misalnya, filsafat kritik. Sampai-sampai di era Orba itu muncul berjenis-jenis filsafat kritik. Ada kritik pedas macam Mochtar Lubis, kritik manis model Jakob Oetama, atau kritik jenaka model Goenawan Mohamad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepribadian yang manis seperti itulah yang membuat pemerintah Orde Baru sangat percaya kepada Jakob Oetama. Sebuah kepercayaan yang ternyata juga tidak mutlak dan tulus. Pada suatu saat Kompas ikut dibredel juga, meski kemudian diizinkan terbit kembali. Tentu salah Orba juga mengapa memercayai Jakob Oetama. Padahal, di balik kehalusan dan kemanisannya itu tetaplah dia seorang wartawan yang asli. Manis hanyalah pembawaannya. Sikap batinnya tetaplah keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan yang begitu tinggi dari pemerintahan Orde Baru itu bukan tidak ada ruginya bagi Kompas. Setidaknya menurut saya. Akibat kepercayaan itu regenerasi di pucuk pimpinan Kompas menjadi terhambat. Umur 37 tahun saya sudah berhenti menjadi pemimpin redaksi Jawa Pos. Ini agar berganti kepada generasi yang lebih muda. Umur 39 tahun saya sudah berhenti menjadi pemimpin umum Jawa Pos. Pak Jakob Oetama terus menjadi pemimpin redaksi dan pemimpin umum sampai usia hampir 70 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu itu bukan kehendak beliau sendiri. Siapa pun tahu bahwa untuk mengganti pemimpin redaksi, saat itu, harus minta izin menteri penerangan. Pemerintah merasa lebih tenang kalau Kompas dipimpin Jakob Oetama daripada misalnya tokoh muda yang mungkin lebih radikal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya pribadi Jakob Oetama adalah “lawan” yang harus saya hormati, tapi juga harus saya kalahkan. Saya menempatkan diri sebagai “penantangnya”. Baik dalam bidang jurnalistik maupun dalam bidang bisnis pers. Sebagai penantang saya merasakan bukan main susahnya hidup di luar dominasi Kompas. Kompas sudah menjadi koran dan koran sudah menjadi Kompas. Semua minta agar koran itu harus seperti Kompas. Bahkan, kalau ada wartawan baru keinginannya menulis ternyata juga harus seperti gaya Kompas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saya tidak suka semua itu. Kalau hanya mengikuti Kompas, selamanya hanya akan menjadi ekornya. Tidak akan bisa menjajarinya. Karena itu, saya mengambil jalan yang sangat berbeda. Bukan dari ibu kota menguasai nusantara, tapi dari nusantara menguasai Indonesia. Di bidang jurnalistik juga harus berbeda. Jawa Pos memilih jurnalistik bertutur. Untuk wartawan baru saya langsung mencekokkan doktrin “jangan ketularan penyakit Kompas”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata “penyakit” di situ terpaksa saya pakai bukan karena gaya Kompas itu jelek, tapi hanya karena harus dihindari. Agar wartawan Jawa Pos benar-benar punya gaya yang berbeda. Maafkan saya pernah menggunakan kata penyakit itu, Pak Jakob. Tentu saya tidak akan tersinggung kalau ada pihak lain menggunakan istilah yang sama: penyakit Jawa Pos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang di kalangan pers sempat muncul istilah “perang total” Kompas-Jawa Pos. Tapi, itu hanya di permulaan. Pada akhirnya semua orang tahu bahwa Kompas dan Jawa Pos bergerak di medan yang berbeda. Kompas dengan majalah-majalahnya yang luar biasa, dengan toko bukunya yang the best dan biggest, dengan hotel-hotelnya yang meluas dan dengan bidang usaha yang meraksasa ternyata punya pasarnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga Jawa Pos dengan koran-koran daerahnya, pabrik kertasnya, dan jaringan TV lokalnya juga punya dunianya sendiri. Keduanya masih terus membesar tanpa ada salah satu yang kalah. Inilah dinamisnya persaingan yang sehat. “Pertempuran” itu telah berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya karena masing-masing sudah menempati makom-nya, tapi juga karena masing-masing sudah tua. Pak Jakob sudah 80 tahun. Sudah memilih dan memiliki CEO baru yang sangat andal, Agung Adiprasetyo. Saya sudah 60 tahun dan Jawa Pos juga sudah dipimpin Azrul Ananda yang berumur 34 tahun. Pak Jakob mungkin sudah tinggal menjadi pendetanya di Kompas dan bahkan saya sudah bukan siapa-siapa lagi di Jawa Pos, kecuali hanya pemegang sahamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil pertempuran itu sudah final: saya tidak mampu mengalahkan Pak Jakob Oetama. Kompas Group masih jauh lebih gede daripada Jawa Pos Group meski koran Jawa Pos sudah tidak kalah besar dari koran Kompas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih penting: saya melihat Pak Jakob sangat berbahagia dalam hidupnya. Dia mengerjakan bidang yang sangat disenanginya. Dia berhasil menjadi kaya raya. Dia diberi rahmat sangat panjang usianya. Belum tentu saya bisa sebahagia Pak Jakob Oetama. Belum tentu saya bisa membahagiakan orang lain sebesar dan sebanyak yang dilakukan Pak Jakob Oetama. Belum tentu juga saya bisa mencapai usia 80 tahun seperti Pak Jakob Oetama.(*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205026-4983699886939231257?l=hurek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hurek.blogspot.com/feeds/4983699886939231257/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/hidup-bahagia-jakob-oetama.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/4983699886939231257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19205026/posts/default/4983699886939231257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hurek.blogspot.com/2011/10/hidup-bahagia-jakob-oetama.html' title='Hidup Bahagia Jakob Oetama'/><author><name>Lambertus Hurek</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01378993923290942950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/-u0IT9tu6-LI/Trdlzv3Y0ZI/AAAAAAAAGh8/M7Zfql07wIE/s220/rek1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-3G__RZYtWro/To0G0EJhcdI/AAAAAAAAGZw/Yib67RpxGTQ/s72-c/kkg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
