20 May 2019

Studio Liem Keng Jadi Toko Listrik

Sejak sebulan ini hampir tiap hari saya melintas di Undaan Kulon. Menuju kota lama Surabaya. Finis persis di pojokan Jembatan Merah yang terkenal itu. Melihat sungai yang airnya keruh cokelat. Ruwet dan selalu macet. Apalagi di Jalan Karet. Tak jauh dari gapura pecinan Kya Kya Kembang Jepun.

Setiap kali lewat di Jalan Undaan Kulon 125, saya selalu ingat Liem Keng. Pelukis senior maestro sketsa yang meninggal 10 tahun lalu. Saya ikut mengantar jenazah seniman kelahiran Tanggulangin, Sidoarjo, 9 Maret 1934, ini ke krematorium di kawasan Juanda, Sedati. Ikut tabur bunga di atas peti jenazah sebelum mesin kremasi dihidupkan.

Liem Keng yang bersahaja. Saya selalu mampir ngobrol di rumah sekaligus toko pracangan di Undaan Kulon 125 itu. Seniman-seniman muda pun muncul untuk berguru. Minta masukan tentang sketsa, lukisan dsb. Liem Keng biasanya tersenyum. Lalu kasih masukan dengan suara halus.

Saya pun diajak ke lantas atas. Melihat koleksi sketsa-sketsa beliau yang ciamik. Banyak juga sketsa ciamik tapi dia anggap gagal. Gak ada nyawanya, kata lelaki kurus ini.

Bagaimana nasib koleksi-koleksi itu? Apakah rumah plus studio ini akan jadi museum seni rupa?

Saya ragu. Sebab dua putra Liem Keng tinggal di Papua dan Belu NTT. Tidak punya minat sama sekali ke seni rupa atau kesenian. Mereka sejak kecil diarahkan mamanya untuk menekuni dagang. Sebab seni lukis tidak bisa diandalkan untuk hidup.

"Soal lukisan-lukisan dan rumah akan kita pikirkan kemudian," kata Liem Ie Waliban, putra kedua Lim Keng yang tinggal di Papua.

Akhirnya, waktu jua yang menjawab. Studio sekaligus toko pracangan Liem Keng di Undaan Kulon itu sudah jadi toko alat-alat listrik. Saya selalu melirik ke arah toko itu setiap lewat di Undaan Kulon. Khususnya ketika lampu lalu lintas sedang merah. Rumah itu memang jaraknya tidak sampai 25 meter dari TL.

Suatu kali saya mampir ke toko itu. Pura-pura bertanya tentang rumah mendiang Liem Keng.

"Permisi, rumahnya pelukis Pak Liem Keng itu di mana ya?"

"Pelukis??? Di sekitar sini gak ada pelukis. Yang ada cuma toko-toko," kata seorang lelaki 30-an tahun.

Begitulah nasib seniman di NKRI. Terlalu cepat dilupakan orang. Tak ada museum atau sekadar tempat sederhana untuk memajang karya-karyanya. Di negeri yang masyarakatnya masih terus bergumul dengan urusan sembako.

No comments:

Post a Comment