13 May 2019

Pastor-Pastor Tidak Pakai Jubah

Foto di Jawa Pos halaman 17 Senin ini (13/5/2019) cukup menarik. Para pemuka agama berdoa bersama di Mapolrestabes Surabaya. Mengenang tragedi bom di 3 gereja di Surabaya tahun lalu.

Dari busananya kelihatan agamanya. Rohaniwan Hindu dan Khonghucu sangat jelas. Ulama Islam pakai sarung, songkok, ada sorban. Yang Nasrani? Gak jelas. Sebab tidak ada penanda. Tidak ada kekhasan.

Pastor Katolik pakai kemeja hitam, bawahan celana jins. Pendeta Kristen Protestan pakai baju batik. Tidak ubahnya jemaat biasa. Tidak ada ciri khas busana pendeta atau pastor.

Dulu, sebelum 1990, para pater atau pastor Katolik pakai jubah ke mana-mana. Frater-frater pun pakai jubah. Saya sering lihat frater-frater BHK jalan kaki di Malang. Dari dan ke biaranya di Celaket 21 dekat RS Syaiful Anwar yang terkenal itu.

Entah mengapa, sejak 20an tahun ini pater-pater alias romo-romo sangat jarang pakai jubah. Pakai jubah kalau mau liturgi saja. Selepas misa langsung lepas. Pakaian biasa. Karena itu, umat yang baru tidak tahu kalau laki-laki itu seorang pastor. Tidak ada penanda seorang klerus.

Romo makin sekuler? Makin profan? Kalau dilihat dari pakaiannya sehari-hari iya. Beda dengan Pater Geurtz SVD dan Pater Van der Leur SVD di kampung saya di Lembata dulu yang lebih banyak pakai jubah putih. Pastor-pastor sekarang sangat jarang pakai jubah kalau tidak sedang liturgi.

Syukurlah, suster-suster alias biarawati masih konsisten pakai jubah dan kerudung setiap saat. Rasanya kok gak adil. Mengapa biarawan-biarawan bisa bebas pakai pakaian apa saja, sementara biarawati-biarawati tidak bebas? Untungnya para biarawati ini tidak protes.

10 comments:

  1. Mungkin krn takut dikira FPI. Krn Habib2 jaman sekarang yg bukan NU atau Muhammadiyah kan memakai jubah2 putih seperti pastor2.

    ReplyDelete
  2. Jubah para pastor katolik bukanlah jubah asal2-an, tetapi design-nya beragam, tergantung dari ordo mereka masing2.
    Demikian pula kerudung para biarawati katolik juga beragam, seperti halnya warna barett tentara. Anak-saya dulu pakai barett warna hijau, seperti barett-nya kesatuan Kostrad, sedangkan saya harus pakai barett warna biru muda, seperti barett-nya CPM.
    Dulu saya sering menjumpai biarawati katolik bangsa Eropa di gereja Celaket, sekolah Cor Jesu, pakai kerudung yang bentuknya seperti pangsit-goreng, entah Ordo apakah itu, yang pasti bukan ordo Ursulin, mungkin mereka itu dari ordo Karmel.
    Sekarang jaman di Indonesia telah berubah, Islam Nusantara pamornya sudah redup, kaum Nasrani di Indonesia lebih baik jangan menonjolkan diri, bisa gawat akibatnya.

    ReplyDelete
  3. Masukan yg bagus. Lebih baik jangan menonjolkan diri di tengah masyarakat yg makin intoleran.

    ReplyDelete
  4. Supaya lebih membaur.
    Orang cenderung menghargai orang lain ketika melihat apa yang disandangnya, ketika orang melihat seorang pakai jubah, orang akan lebih hormat. Tapi jika tidak banyak yang acuh tak acuh.

    Dengan berpakaian seperti biasa, ajakan untuk mengenal orang itu dengan baik, yak lagi melihat dari ciri fisik tertentu untuk bs atau mau menghormati. Apapun cover atau tampilan seseorang, kita harus berlaku yg sama, saling hormat menghormati dan menghargai, sapa salam sapa pada siapa sj. Mungkin itu sih alasannya

    ReplyDelete
  5. Sekularisasi klerus dimulai sejak KV2 tahun 65 dan berlanjut terus. Pastor2 yg lahir di atas tahun 70an tidak mengalami masa pra KV2. Regulasi juga tidak seketat dulu. Makanya hampir tidak ada lagi pastor yg pakai jubah di luar urusan liturgi. Di lingkungan gereja pun tidak berjubah, apalagi ke masyarakat umum.

    Bahkan uskup2 pengurus KWI pun pakai kemeja biasa saat bertemu Presiden Jokowi. Beda banget dengan Mgr Soegijapranata SJ saat bertemu dan ngobrol sama Presiden Sukarno. Pemandangan seperti itu yang hilang di lingkungan katolik khususnya sejak 80an.

    Betul kata komentator di atas. Sekarang ini yang selalu pakai jubah ke mana2 dan kapan saja adalah anggota FPI atau jamaah tabligh.

    ReplyDelete
  6. Makanya saya sangat kagum melihat bhikku2 Buddha yg selalu memakai jubah kuning di mana pun. Bahkan jubah sederhana itulah satu2nya pakaian para biarawan buddhis itu.

    ReplyDelete
  7. Biar lebih membumi ...

    Kalau di beberapa aliran Kristen, Jubah digunakan hanya pada saat memimpin acara sakramentum dan acara khusus, seperti : Baptisan, Perjamuan Tuhan, Persembahan Anak dan lainnya.

    Kalau kebaktian rutin, pakai Jas biasa atau batik ....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang saya soroti cuma pater2 katolik. Kalau pendeta2 protestan pentakosta karismatik baptis dsb.. kita gak nyinggung. Di katolik ada tata liturgi dan tata busana yg perlu diperhatikan. Termasuk warnanya. Kapan pakai warna hijau, putih, merah, hitam dsb.

      Delete
    2. Yang mengatur dan menjadi Boss dirumah adalah istri-ku. Dia sejak kecil sudah dipermandikan oleh Pastor Mensvoort di Paroki Kristus Raja, Ketabang Surabaya.
      Di atas pintu masuk rumah-ku, tergantung Patkwa dari kelenteng Guandi-Bio di Quanzhou, Fujian, yang sudah didirikan pada era dinasti Tang. Selain itu tertempel kertas mantera Hu dari kelenteng Kampung Dukuh Surabaya. Di atas
      palang pintu juga ada tulisan 20-C+M+B-19, yang ditulis oleh para Tiga-Raja, yang datang setiap tanggal 6 Januari memberkati rumah ini.
      Dalam rumah banyak patung Buddha dan jilaihut, di kamar tidur digantungi Rosario. Setiap pagi kalau aku ke dapur, tercium semerbak wangi-nya dupa yang masih membara atau telah padam.
      Apakah istri-ku itu menurut ajaran agama yang ada di Indonesia adalah seorang katolik yang murtad, mushrikun, ataukah seorang yang toleran, sangat beriman, solehah ?
      Bagi ku, hal itu sih okey-okey saja, sebab menurut logika-ku, lebih banyak bolo-sakti lebih baik. Minggu depan kami bakalan kedatangan tamu-tamu dari Indonesia. Mereka adalah penganut2 katolik yang sangat taat, tak pernah lupa sembahyang sebelum dan sesudah makan. Pokoknya ke gereja dan sembahyang adalah rutinitas mereka. Semoga saja mereka tidak puyeng melihat rumah-tangga beragama gado-gado.

      Delete
    3. Ajaran Buddha yang murni sebenarnya tidak bertuhan, dan lebih merupakan filosofi hidup .. karena itu menurut saya pribadi tidak bertentangan dengan agama Kristen. Siddharta dan Yesus sama-sama merupakan dua orang grandmaster yang mengajarkan bahwa hakikat dan maksud suatu perbuatan itu lebih penting daripada yang kasat mata.

      Ajaran Yesus itu kadang-kadang terlalu sulit diikuti. Misalnya: jika kamu sampai melihat perempuan lain lalu menjadikan kamu punya keinginan dosa, lebih baik cungkil biji matamu dan buanglah. Apakah ada orang Kristen -- yang Sola Scriptura sekalipun -- yang mencungkil biji matanya sendiri setelah melihat perempuan / lelaki kinyis-kinyis lain yang bukan istrinya / suaminya?

      Ajaran Buddha memberikan jalan alternatif. Dengan latihan spiritual, seperti meditasi, manusia bisa mengakui bahwa selalu ada pikiran-pikiran menggoda. Manusia bisa belajar untuk membiarkan pikirang-pikiran negatif itu untuk keluar perlahan-lahan dengan nafas kita, bagaikan gunung kokoh yang membiarkan awan-awan berlewatan.

      Begitu juga contoh Yesus memporakporandakan meja-meja penukar uang di sinagoga. Itu sama dengan memprovokasi revolusi di tatanan masyarakat Yahudi yang sangat tradisional dan sedang dijajah kekuasaan besar Romawi. Akibatnya Yesus dituduh penistaan agama oleh pemuka2 agama Yahudi dan dihukum mati oleh Gubernur Pilatus. Kalau Orang Kristen mau sempurna, apakah semuanya harus mati konyol? Atau mati karier / masuk penjara seperti Ahok?

      Delete