28 April 2019

Sepak bola Eropa kurang greget

Lupakan dulu pilpres yang panas! Prabowo yang klaim menang 62 persen! Jokowi yang menang hitung cepat!

Lebih baik jauhi politik yang ugal-ugalan. Menyepi ke pinggir kota. Ngombe degan ijo. Nonton bola di televisi. Liga Inggris atau Liga Spanyol juga panas, jegal-jegalan, pemain dapat kartu kuning atau kartu merah. Tapi panasnya bola jauh lebih enak dinikmati ketimbang ludruk politik pilpres.

Sayangnya, menurut saya, kualitas liga-liga di Eropa menurun jauh ketimbang beberapa tahun lalu. Khususnya ketika Alex Fergusson masih pegang MU. Wenger latih Arsenal. Jose Mourinho di Chelsea sesi pertama yang fenomenal itu.

MU kini bukan lagi MU yang perkasa. Setan Merah sudah berubah jadi klub biasa. Medioker. Sejak ditinggal Fergie MU kelimpungan. Baru saja dihajar Everton 4-0. Kemudian dihajar lagi dua gol tanpa balas oleh City.

Arsenal yang flamboyan pun kini kehilangan pesona. Meskipun tidak separah MU. Chelsea lumayan di tangan Sarri. Tapi belum bisa jadi serial winner kayak era Mourinho yang ada Drogba, Lampard, Terry, Malouda, atau Robben.

Bagaimana dengan Spanyol? Sama saja. Barcelona memang masih menangan. Messi masih hebat. Tapi Barca yang sekarang jauh di bawah Barca era Pep Guardiola. Ketika masih ada maestro dan seniman bola macam Xavi atau Iniesta. Ketika anak-anak La Masia masih sangat dominan.

Barca bisa sangat dominan hanya karena Real Madrid hancur parah. El Clasico tidak lagi ketat dan tegang. Tidak lagi ditunggu-tunggu seperti era Pep vs Mourinho. Dulu pertandingan klasik itu bikin kita deg-degan. Gaya operan pendek cepat ala tiki taka vs serangan balik mematikan ala Mourinho.

Sulit bagi Zidane (atau pelatih siapa pun) untuk mengembalikan kejayaan Madrid. Apalagi seperti era galacticos atau Ronaldo Brasil. Atau Ronaldo Portugal yang raja gol itu.

Sulit juga bagi Barcelona untuk mengembalikan tiki taka dan sepak bola tingkat dewa ala Pep. Atau Barcelona era Ronaldinho yang meliuk-liuk lincah itu.

Di sisi lain, penurunan mutu Liga Inggris, Liga Spanyol, apalagi Liga Italia ada positifnya. Saya tidak perlu lagi melekan untuk nonton Barcelona atau Real Madrid. Saya pun tidak merasa kehilangan kalau tidak nonton MU atau Chelsea atau Arsenal.

Beda dengan dulu. Ke mana-mana saya bawa HP yang ada televisinya agar bisa nonton Messi, Xavi, Iniesta, Ronaldo, Lampard dsb. Sekarang ada streaming sepak bola di televisi. TV berbayar pun ada di mana-mana.

Sayang, itu tadi, El Clasico sudah lama kehilangan greget. Bintang-bintang di Eropa mengalami inflasi luar biasa. Harganya di atas Ronaldo atau Messi tapi melempem. Contohnya Bale, Neymar, Coutinho, atau Pogba.

Bagaimana dengan Liga Indonesia?

Hancur total. Ketua PSSI Joko Driyono sudah ditahan polisi gara-gara terlibat mafia pengaturan skor. Beberapa exco juga sudah dibui.

Apa enaknya nonton pertandingan bola yang hasilnya sudah di-setting mafia ini? Bahkan juaranya pun sudah diketahui Rocky Poetiray jauh sebelum kompetisi Liga 1 berakhir?

27 April 2019

Misa Kudus di Gereja Digital





Lupakan dulu klaim kemenangan Prabowo yang 62 persen itu! Atau hitung cepat yang hasilnya Jokowi menang 9-10 persen. Saya lagi tertarik dengan misa kudus atau ekaristi digital.

Ini penting untuk orang Katolik di Jawa. Yang rata-rata rumahnya sangat jauh dari gereja paroki. Yang sangat jarang ikut misa harian. Yang pastornya sangat terbatas. Yang bahkan jarang misa hari Minggu (atau Sabtu malam) di gereja.

"Saya hanya bisa ke gereja saat Natal atau Paskah. Itu pun belum tentu," kata teman saya yang bekerja di daerah yang umat Katolik hanya nol koma nol nol sekian persen.

Saya sendiri sudah lama mengikuti misa harian di gereja. Durasinya 29 menit hingga 32 menit. Sama dengan misa harian di Surabaya atau Sidoarjo. Masalahnya itu tadi, misa pagi harian di Surabaya dan Sidoarjo dimulai pukul 05.00 atau 05.30. Harus bangun sangat pagi karena perjalanan ke gereja sekitar 30 menitan.

Nah, di gereja digital ini persoalan ruang, waktu, jarak dsb selesai. Kita bisa ikut ekaristi kapan saja. Mau misa harian biasa atau Misa Tridentina yang pakai bahasa Latin. Namun sejauh ini layanan misa harian berbahasa Indonesia belum ada. Adanya cuma English Daily Mass.

Misa berbahasa Inggris sangat mudah karena tata liturgi atau ekaristi sama persis dengan versi bahasa Indonesia. Bacaan-bacaannya juga sama persis dengan di Indonesia. Itulah salah satu kelebihan Gereja Katolik yang "satu, kudus, umum, apostolik" (istilah khas buku liturgi lawas di Flores).

Pagi tadi, setelah cuci muka dan memakai kemeja layaknya ke gereja beneran, saya menyetel YouTube. Masuk ke National Shrine. Milik Keuskupan Washington, Amerika Serikat. Perayaan Ekaristi 2nd Sunday of Easter.

Pater Richard Mullins yang memimpin misa didampingi seorang pater yang sudah sepuh. Paduan suaranya St. Mary Parish, Rockville, MD. Ternyata posisi kor di USA di samping altar, dekat imam. Beda di Indonesia yang biasanya di balkon belakang atau samping depan gereja tapi di bawah altar.

Khotbahnya Romo Richard yang fokus ke Thomas yang kurang percaya (John 20: 19-31) sangat padat dan enak. Tidak bertele-tele.

Keuskupan Washington ternyata sejak 1952 sudah membuat video perayaan ekarista atau Sancta Missa untuk umat Katolik yang tidak bisa pigi gereja karena sakit atau alasan-alasan lain.

"Our 30 minute Catholic Mass is broadcast from the Basilica's Crypt Church and is celebrated by priests from the Archdiocese of Washington and the Diocese of Arlington, with local parish and school choirs. The Christmas Mass and the Easter Mass are special one-hour broadcasts celebrated annually by the bishops of the Archdiocese of Washington and the Diocese of Arlington.

"Our mission is to bring Christ's presence and love, through The Sunday Mass, to the sick and those unable to leave their homes," begitu antara lain keterangan pihak Keuskupan Washington.

Selain misa harian USA, saya juga biasa mengikuti Daily TV Mass dari Toronta, Kanada. Sama-sama program misa bahasa Inggris 30 menit.

Bedanya, misa harian Kanada ini tidak pakai kor. Cuma solis untuk Mazmur Tanggapan, Alleluia, Kudus, dan Anak Domba Allah. Solis Kanada ini biasanya anak muda dengan kemampuan vokal setara penyanyi profesional. Beda dengan di Washington yang umat biasa macam di Indonesia.

Yang pasti, misa harian di gereja digital ini tidak akan bisa menggantikan misa sejati di gereja. Sebab kita tidak bisa komuni. Yang terima komuni cuma umat di dalam video itu saja.

"Kalau tidak ada komuni, maka misanya tidak sah," kata orang-orang Katolik senior di Flores.

24 April 2019

Ingat Kardinal Malcolm Ranjith di Sri Lanka



Lupakan dulu pilpres. Lupakan pileg. Lupakan dulu Prabowo yang mengklaim menang 62 persen. Sri Lanka lagi berduka. Lebih dari 300 orang tewas akibat bom bunuh diri.

Saat misa Minggu Paskah berlangsung di tiga gereja katolik. Bom juga menyasar hotel berbintang. Oh Tuhan!!!

Tak lama setelah teror bom di Sri Lanka, Kardinal Albert Malcolm Ranjith memberikan keterangan di televisi. Mengutuk aksi teroris yang sangat keji. Sulit dibayangkan ada manusia tega membunuh ratusan manusia. Yang sedang beribadah di dalam gereja.

"Aksi seperti itu hanya dilakukan oleh binatang," kata Kardinal Malcolm Ranjith.

Wajah Bapa Kardinal, pimpinan tertinggi umat Katolik ini sangat tegang. Menahan emosi di depan puluhan wartawan. Tidak menyangka kalau puncak Pekan Suci Paskah di negaranya bersimbah darah.

Saya masih ingat betul Kardinal Malcolm Ranjith. Sebab saya pernah wawancara beliau saat meresmikan Gereja Katolik Santo Paulus, Jalan Raya Juanda, Gedangan, Sidoarjo. Tahun 2005. Saat itu Monsinyur Malcolm Ranjith menjabat duta besar Vatikan di Indonesia.

Monsinyur yang murah senyum itu diminta Administrator Keuskupan Surabaya Romo Julius Haryanto CM (+) untuk meresmikan Gereja Santo Paulus di Gedangan Sidoarjo. Sebab saat itu Keuskupan Surabaya tidak punya uskup. Mgr Johannes Hadiwikarta meninggal tahun 2003.

Monsinyur Malcolm Ranjith mengapresiasi kehidupan yang harmonis dan toleran di Indonesia. Umat Katolik yang minoritas pun ternyata cukup dinamis. Baik urusan internal gereja, liturgi, maupun kemasyarakatan.

Setelah itu saya tak tahu ke mana Mgr Malcolm Ranjith ditugaskan. Eh, ternyata sudah jadi kardinal di Sri Lanka, negaranya. Beliau cukup dihormati meskipun umat Katolik minoritas kecil di negara yang mayoritas Buddhis itu.

Kita hanya bisa berdoa untuk ratusan korban teror bom yang meninggal dan luka.

Semoga tidak ada lagi aksi terorisme yang mengatasnamakan agama atau membawa-bawa nama Tuhan.

Semoga Kardinal Malcolm Ranjith diberi kekuatan untuk memimpin umat kristiani di Sri Lanka.

21 April 2019

Malam Paskah 3 Jam di Kenjeran

Inilah susahnya jadi pekerja malam. Yang harus menghadapi deadline setiap malam. Pulang kerja jam sembilanan. Paling cepat 20.30. Tidak bisa ikut misa pekan suci di parokinya sendiri. Harus jeli melihat jadwal misa gereja terdekat.

Begitulah. Saya pun ikut Kamis Putih di Gereja Marinus Yohanes, Kenjeran, Surabaya. Jumat Agung di Pandaan. Sabtu Paskah di Kenjeran lagi.

Misa Sabtu Malam Paskah di Kenjeran dimulai pukul 22.00. Paling malam ketimbang gereja-gereja lain di Surabaya dan Sidoarjo. Kelsapa Kepanjen pukul 21.30. Begitu juga Kristus Raja. Tiga gereja di kawasan kota lama, Surabaya Utara, memang jadi andalanku karena paling dekat dengan Kembang Jepun.

Malam Paskah adalah perayaan paling menarik dalam liturgi katolik. Tapi juga paling lama. Diawali upacara cahaya, exultet, bacaan-bacaan yang banyak, janji permandian, litani dst.

Durasi misa lazimnya kurang lebih 2,5 jam. Bisa 3 jam kalau ada baptisan baru. Karena itu, sebagian besar umat Katolik lebih memilih misa yang agak sore. Apalagi yang membawa anak-anak.

Awal misa jam 10 membuat saya bisa santai. Nonton bola dulu, City vs Spurs, dilanjutkan ngopi. Toh Gereja Katolik Kenjeran di kompleks AL itu hanya 15 menitan. Juga tidak perlu takut tempat soal duduk. Beda dengan misa sore yang wajib stand by di gereja minimal satu jam sebelum misa mulai.

Ouw... waktunya memang sangat cukup. Kor masih sempat pemanasan. Berlatih Dona Nobis Pacem. Dirigennya orang Flores pula. Pasti dirigen andalan paroki melihat teknik direksi dan vokalnya yang enak dan profesional.

Ekaristi Malam Paskah di Kenjeran ini memang lebih lama dari bayangan saya. Sebab ada upacara pembaptisan. Lebih dari 30 katekumen dipermandikan Romo Cahyo Kristianto CM didampingi dua pater rekan.

Pastor Paroki Romo Cahyo bertugas di Kenjeran sejak  29 Oktober 2017. Sang pater mampu membawakan Exultet dan Prefasi dengan sangat lancar. Homilinya juga enak, to the point. Membuat misa malam itu tidak molor.

Saya perhatikan jam di ponsel. Misa selesai pukul 00.55. Artinya misa berlangsung selama tiga jam kurang lima menit.

Sayang, lagu Halellujah Handel yang jadi penutup misa tidak disimak umat dengan baik. Selesai berkat dan pengutusan, umat tampak tak sabar pulang ke rumah masing-masing. Ada yang berlutut dan berdoa, salaman, atau foto-foto dengan para baptisan baru.

Saya yang dulu sering liput konser musik klasik tetap berdiri menyimak nada-nada polifonik Hallelujah Handel yang luar biasa itu. "Kalau Hallelujah Handel dimainkan, semua audiens harus berdiri. Sampai selesai," pesan Solomon Tong, pendiri dan dirigen Surabaya Symphony Orchestra.

Rupanya orang Katolik di Kenjeran belum tahu tata tertib mendengarkan Hallelujah Handel yang berlaku di Eropa dan Amerika itu. Paduan suara dibiarkan bernyanyi sendiri.

Padahal komposisi Handel inilah yang paling sulit dan rumit ketimbang lagu-lagu misa lainnya. Butuh waktu sangat lama untuk latihan. Beda dengan ordinarium Misa Te Deum yang cuma suara itu.

Selamat Paskah 2019!

19 April 2019

Orang Indonesia Mabuk Politik

Politik kembali jadi panglima di Republik Indonesia. Ketika negara-negara lain yang jauh lebih maju makin fokus menggenjot ekonomi macam Tiongkok. Indonesia masih saja berkubang dalam pusaran politik.

Kampanye pemilu kali ini terlalu panjang. Sekitar delapan bulan. Itu yang resmi. Kampanye tidak resminya lebih panjang lagi. Apalagi hiruk pikuk dan caci maki di media sosial.

Setelah pencoblosan, 17 April 2019, kita berharap suhu politik pelan-pelan turun. Kembali ke titik normal. Tinggal penghitungan suara, bukan?

Nyatanya tidak. Suhu politik justru dipanaskan lagi oleh politikus. Capres Prabowo langsung klaim kemenangan. Dasarnya hitung cepat sendiri, real count sendiri! Padahal 9 atau 10 lembaga survei sudah rilis hasil quick count. Hasilnya Jokowi unggul 8-10 persen.

Prabowo malah menuduh lembaga-lembaga survei diarahkan untuk mendukung pihak lain. Bahkan hasil quick count mau digugat segala. Waduh!

Mengapa tidak menunggu hasil hitungan resmi KPU? Nanti bisa dibandingkan hasil quick count yang diumumkan di televisi dengan klaim Prabowo itu. Kalau punya bukti pelanggaran atau kecurangan ya gugat saja lewat jalur hukum yang sudah disediakan.

Yang jadi masalah sejak dulu di Indonesia adalah proses pemilu yang terlalu lama. Hasil coblosan baru dirilis resmi satu bulan kemudian. Beda dengan di USA yang hasil resminya langsung diumumkan besok. Atau di Malaysia yang bisa diketahui hari itu juga.

Bahkan, di Malaysia perdana menterinya hasil pemilu pun langsung dilantik minggu depannya. Di Indonesia harus tunggu 6 bulan atau 7 bulan. Lama banget.

Mengapa tidak dibuat pemilu yang cepat dan efisien? Di era digital ini mestinya pakai komputer atau e-voting. Hasil akhirnya pasti bisa diketahui secara nasional paling lama 2 hari. Dus, tidak perlu lagi quick count ala lembaga-lembaga survei itu.

Masalah yang mestinya sangat mudah di era digital itu ternyata tidak mudah diterapkan di Indonesia. Sebab sebagian rakyatnya sudah termakan prasangka konspirasi. Politisinya pun tidak siap kalah.

Jumat Agung di Pandaan

Jumat Agung yang dianggap afdal itu mulai pukul 15.00. Biar lebih pas dengan kisah sengsara. Begitu omongan orang-orang tua Katolik zaman dulu. Tradisi ini pun masih berlaku di Jawa Timur.

Tidak heran, Gereja Santa Theresia di Pandaan, Kabupaten Pasuruan, sudah penuh sesak. Empat puluh menit sebelum ibadat Jumat Agung dimulai. "Sudah full semua," kata petugas tatib yang juga panitia Paskah.

Saya pun naik ke balkon belakang. Siapa tahu ada tempat kosong. Penuh juga. Turun lagi ke bagian samping. Penuh.

Tinggal beberapa kursi kosong di terop halaman gereja. Apa boleh buat, saya terpaksa duduk di tempat yang panas itu. Maka kursinya saya ambil, pindah ke emperan sekolah. Kebetulan Gereja Santa Theresia ini satu kompleks dengan sekolah Katolik.

Upacara Jumat Agung dipimpin Pater Aloysius Didik Setyawan CM. Pastor Kongregasi Misi yang lama bertugas di Surabaya. Suasana liturgi syahdu, reflektif, khas Jumat Agung.

Seperti paroki-paroki lain di Keuskupan Malang, umat Paroki Pandaan terlihat sangat serius mempersiapkan liturgi. Lektor, paduan suara, passio, hingga aksesoris lainnya.

Umat Katolik di Pandaan juga jauh lebih guyub dan kompak ketimbang paroki-paroki di Surabaya. Mereka seperti saling kenal satu sama lain. Bisa ngobrol enak layaknya keluarga sendiri. Beda dengan di Surabaya atau Jakarta yang umatnya cenderung anonim dan asing satu sama lain.

Yang paling khas dari Jumat Agung adalah Passio Domini Nostri Iesu Christi Secundum Ioanem. Biasa kita kenal dengan Kisah Sengsara.

Bagus banget Passio di Pandaan ini. Para solisnya hampir tidak melakukan kesalahan. Tidak fals. Kelemahannya cuma satu: kornya kurang tenor dan bas. Sopran dan alto yang terdengar di luar.

Ciri khas kedua Jumat Agung adalah Ecce Lignum Crucis. Lagu antiponnya sangat terkenal dan klasik. "Kalian harus hafal dan menguasainya sampai tua," kata Ama Tueng, guru SD saya di pelosok NTT.

Sayang, sore tadi Romo Didik membawakan Lihat Kayu Salib dengan lagu versi lain. Jauh berbeda dengan versi gregorian yang sudah dihafal umat itu. Versi baru ini kayaknya lebih sulit.

Maka puluhan jemaat yang berada di halaman hanya bisa membisu. Lalu berlutut tiga kali seperti biasa.

Mudah-mudahan Sabtu Paskah besok lagu Lumen Christi... Deo gratias yang klasik versi gregorian itu tetap dibawakan para pastor di Indonesia. Biar liturgi pekan suci kita tidak terlalu berbeda dengan di Vatikan.

Kamis Putih di Kenjeran


Lupakan sejenak quick count pilpres! Abaikan dulu deklarasi kemenangan Prabowo yang ngaku menang 62 persen. Logika politisi rupanya tidak nyambung dengan metode statistik.

Kamis malam, 18 April 2019, Kamis Putih. Wajib hukumnya sembahyang misa untuk umat Katolik. Begitu pesan guru-guru SD di pelosok NTT dulu.

Maunya sih pigi ke Kepanjen 9. Gereja Kelsapa yang legendaris itu. Tapi sudah terlambat. Ekaristi kedua Kamis Putih dimulai 20.30. Maka, pilihan satu-satunya ke Kenjeran. Gereja Marinus Yohanes di kompleks TNI AL.

Gereja ini megah dengan arsitektur yang nyeni. Rasanya lapang dengan plafon yang tidak terlalu tinggi. Beda dengan gereja-gereja tua macam Kepanjen atau Katedral atau Kristus Raja yang memanjang.

Deo gratias!

Tiba di halaman parkir dekat GKA Gracia (Gereja Tionghoa Protestan) masih ada waktu 10 menit. Betapa lega hati ini. Maklum sudah lima tahun (mungkin lebih) saya tidak bisa ikut Kamis Putih. Selalu terlambat karena harus bikin koran sampai di atas pukul 9 malam.

Misa kedua di Gereja Katolik Kenjeran ini sangat ramai. Tapi tidak sepadat misa pertama. Petugas menunjuk bangku di bagian depan dekat kor untuk saya. Paduan suara pakai baju putih.

Ada 3 pater CM yang konselebrasi. Ketiganya belum saya kenal. Homilinya bagus, padat, dan enak. Membandingkan tradisi cuci kaki tamu di Kalimantan, orang Dayak, dengan masyarakat Palestina pada zaman Yesus Kristus.

Nah, saat pembasuhan kaki saya bayangkan kor dan umat membawakan lagu Ubi Caritas est Amor atau versi bahasa Indonesia. Setahu saya ini lagu wajib Kamis Putih sejak saya anak-anak di pelosok NTT sana. Orang kampung hafal betul antifon ini.

Eh... ternyata tidak ada. Kor lebih memilih lagu Perintah Baru Terimalah. Tidak salah memang. Tapi nuansa Kamis Putihnya gak dapat. Ibarat misa Malam Natal tanpa Malam Kudus atau Adeste Fideles.

Syukurlah, Pange Lingua Gloriosi tetap dinyanyikan saat perarakan sakramen mahakudus. Ini lagu wajib di ujung misa Kamis Putih. Lagu yang diajarkan di kalangan anak-anak SD di Flores, NTT.

Meski tidak ada satu pun umat yang saya kenal, lega rasanya hati ini. Bisa ikut ekaristi Trihari Suci yang diawali Kamis Putih. Selama bertahun-tahun hanya bisa ikut Jumat Agung dan Sabtu Suci (Paskah).

16 April 2019

Pemanasan Passio dan Exsultet Jelang Paskah


Lupakan dulu (sementara) pilpres dan pileg. Siapkan hati untuk pekan suci. Seperti biasa saya suka membuka buku liturgi lawas: Sembahjang Misa. Terbitan Obor Djakarta, 1958.

Sembahjang Misa ini sangat klasik dan langka di Indonesia. Saya yang asli NTT, Flores, yang mayoritas Katolik, pun tidak pernah menemukan saat anak-anak di kampung. Saya justru ketemu secara tidak sengaja di lapak buku bekas. Jalan Semarang, Surabaya, yang terkenal itu.

Berbeda dengan Madah Bakti atau Puji Syukur, buku Sembahjang Misa ini dua bahasa: Latin dan Indonesia. Sebab saat itu sembahyang misa atau ekaristi di seluruh dunia pakai bahasa Latin. Pater membelakangi umat. Lagu-lagunya dominan gregorian.

Kembali ke pekan suci. Biasanya saya memutar Praeconium Paschale atau lebih dikenal dengan Exsultet. Sudah lama saya undah dari Youtube dan disimpan di HP. Rekaman Exsultet dari Vatikan itu saya dengarkan sambil membaca teks Latin di buku Sembahjang Misa.

Deo gratias! Cocok 100 persen. 

Liturgi Latin sebelum Konsili Vatikan 2 ternyata menyatukan umat Katolik di seluruh dunia. Rasanya juga lebih klasik. Meskipun kata-katanya tidak kita pahami.. kecuali sambil membaca buku sembahyang lawas ini.

Semalam saya iseng mencari Kisah Sengsara atau Passio di Youtube dari Vatikan. Ouw... nada-nadanya sama saja dengan Passio yang dibawakan di Indonesia saat Jumat Agung. Beda bahasa doang. Vatikan pakai bahasa Latin, sedangkan kita di Indonesia ya bahasa Indonesia.

Saya pun mengecek buku Sembahjang Misa tadi. Wow.. ada versi lengkap bahasa Latin. Passio Domini nostri Jesu Christi secundum Joannem....

Passio di Vatikan itu dibawakan seorang pater (romo) yang agak sepuh. Tapi suara dan pernapasannya sangat bagus. Stabil menyanyikan kisah sengsara Kristus yang sangat panjang itu.

Anggap saja ini semacam pemanasan menjelang Kamis Putih, Jumat Agung, hingga Sabtu dan Minggu Paskah.

Saya jadi teringat Ama Tinus, guru SD saya di pelosok Lembata dulu. Setiap menjelang pekan suci bapak guru ini selalu latihan Passio dan Exsultet di rumahnya. Tetangga saya di kampung tanpa listrik itu.

Ama Tinus menyanyikan Exsultet versi buku Syukur Kepada Bapa yang berbahasa Indonesia. Juga panjang dan lengkap macam versi Latin dari Vatikan. Beda dengan versi Madah Bakti dan Puji Syukur yang sangat pendek.

Selamat pekan suci!
Selamat nyoblos!

15 April 2019

Gelar Pahlawan Nasional Secepat Kilat

Ada berita kecil di Kompas pagi ini. Senin 15 April 2019. Tentang Sutan Sjahrir ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Soekarno pada 9 April 1966.

Bung Kecil, julukan Sjahrir, pejuang dan diplomat ulung, meninggal dunia di Swiss pada 9 April 1966. Bung Kecil dinilai punya jasa luar biasa untuk bangsa dan negara.

Sangat menarik! Begitu meninggal langsung ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Itulah gaya Bung Karno pada masa lalu. Gesit, efektif, tidak bertele-tele.

Uskup Mgr. Soegijapranata juga langsung ditetapkan Presiden Soekarno sebagai pahlawan nasional. Empat hari setelah wafat di Belanda. Saat itu Uskup Soegija bersiap mengikuti Konsili Vatikan 2 yang fenomenal itu.

Bung Karno tidak ingin jenazah sang uskup pejuang itu dimakamkan di Belanda. Maka dikirimlah pesawat khusus untuk menerbangkan jenazah Uskup Soegija. Sebelum sampai di Indonesia keputusan presiden tentang gelar pahlawan nasional sudah turun. Tepatnya 26 Juli 1963.

Lain dulu lain sekarang. Saat ini proses penetapan pahlawan nasional sangat panjang dan berbelit-belit. Juga sering jadi polemik yang riuh. Gus Dur misalnya belum diresmikan sebagai pahlawan nasional. Begitu juga tokoh-tokoh hebat lainnya.

Presiden-presiden setelah Bung Karno rupanya tidak punya otoritas sehebat sang proklamator. Padahal konstitusi kita, UUD 1945, memberikan hak prerogatif kepada kepala negara untuk memberikan gelar pahlawan nasional, tanda jasa, dsb.

14 April 2019

Minggu Palma tanpa Perarakan

Pekan suci telah tiba. Minggu subuh, 14 April 2019, saya terjaga gara-gara kebelet pipis. Kebanyakan minum semalam. Ah.. pigi misa pertama aja! Di Gereja Roh Kudus, Purimas, Gununganyar, Surabaya. Dimulai 05.30.

Sudah setahun lebih saya tidak misa di Paroki RK. Lebih sering di Salib Suci, Wisma Tropodo, Waru, yang jalannya tidak berbelok-belok. Tapi misa Minggu Palma di Salib Suci biasanya pukul 07.30. Lengkap dengan perarakan sepanjang satu kilometer.

Nah, Misa Minggu Palma di Gereja RK Gununganyar ini tidak ada perarakan. Sama dengan misa biasa. Daun palma cukup diangkat di tempat duduk masing-masing. Lalu direciki air suci oleh pater dan asisten imam.

Umat menyanyikan lagu Hosana Putra Daud dan Yerusalem Lihatlah Rajamu. Lagu khas minggu palma (kata baku KBBI: palem) untuk perarakan. Tapi suasana khas minggu palem praktis hilang. Cuma kisah sengsara atau passio dan tata liturgi yang khas pekan suci.

Karena tanpa perarakan dan tanpa kor yang bagus -- cuma nyanyian jemaat lingkungan -- misa minggu palma alias palem ini berlangsung cepat. Tidak sampai 90 menit. Padahal biasanya minggu palma yang ada perarakannya bisa dua jam lebih. Di Flores bisa empat jam karena perarakannya saja sudah makan waktu dua jam. Jalan kaki hingga lima kilometer... di kampung saya. Dulu.

Tapi rupanya ada hikmah dari misa di Gereja Roh Kudus, Purimas Surabaya, yang dekat perbatasan Kabupaten Sidoarjo di dekat tambak-tambak pantai timur Surabaya itu. Saya jadi tahu bahwa Pastor Paroki Roh Kudus ini ternyata orang Lembata, NTT. Pater Dominikus Udjan SVD.

Oh Tuhan... Pater Domikus Udjan SVD! Adik kandung Pater Paulus Udjan SVD. Dua bersaudara sama-sama jadi pastor. Sama-sama kongregasi Societas Verbi Divina.

Saya pun teringat Ama Guru Yosef Nuba Udjan (almarhum). Kepala sekolah dan ketua Stasi Atawatung, gereja saya di kampung pelosok terpencil di pinggir laut itu. Saya tidak menyangka Kak Paulus dan Kak Domi jadi pastor. Tapi itulah karya Tuhan. Karya Roh Kudus!

Selamat pekan suci!

13 April 2019

Selamat Jalan Cak Mus Mulyadi!



Satu lagi seniman besar kita berpulang. Mus Mulyadi. Penyanyi serbabisa asal Surabaya. Mengawali karir sejak 1960-an dan terus menghibur masyarakat hingga jelang kepergiannya ke alam abadi.

"Mus Mulyadi itu guru besar keroncong yang kita miliki. Almarhum seniman yang luar biasa," kata Totok Widiarto, pimpinan orkes keroncong di Porong, Sidoarjo.

Totok mengenal dekat Mus Mulyadi sejak masih muda. Dus, paham betul talenta suara yang dipunyai penyanyi yang mempopulerkan Rek Ayo Rek.. Mlaku-Mlaku Nang Tunjungan itu.

Suaranya tetap empuk dan lantang. Nyaris tidak berubah hingga usia 70-an. Mus lahir di Surabaya tiga hari sebelum Republik Indonesia merdeka. "Kita semua kehilangan seniman besar sekaliber Cak Mus," kata Totok, korban lumpur Lapindo asal Desa Siring, Porong.

Mus Mulyadi memang luar biasa. Meskipun kena diabetes cukup lama, kedua matanya tidak berfungsi, dia tetap konser ke mana-mana. Satu paket dengan istrinya Helen Sparingga.

Sang istri yang kelahiran Porong ini sangat setia mendampingi Mus. Baik di atas panggung maupun dalam kehidupan sehari-hari. "Cak Mus itu suami tercinta pemberian Tuhan," kata Helen.

Tahun lalu sedikitnya Mus Mulyadi dua kali show di Sidoarjo. Diundang Bupati Saiful Ilah alias Abah Ipul. Bersama beberapa artis ibukota asal Sidoarjo. Mus Mulyadi lagi-lagi jadi bintang. Penyanyi 70an tahun, diabetes, buta, mampu membawakan lagu-lagu dengan lantang dan bening.

"Nyanyi iku wis kayak pangananku. Setiap hari nyanyi. Memuji kemuliaan Tuhan...," ujar Mus Mulyadi.

Bersama Helen Sparingga, Mus sejak awal 2000 kerap mengisi berbagai kebaktian kebangunan rohani di tanah air. Lagu-lagu rohani dibawakan dengan gaya keroncong. Tenang, sejuk, mengalun merdu.

Salah satu lagu keroncong rohani versi Mulyadi yang paling enak menurut saya adalah Bawalah Persembahan. Lagu lama di buku Madah Bakti ciptaan Paul Widyawan. Hampir semua orang Katolik tahu lagu ini. Tapi pembawaan kor-kor dan solis tidak seenak Mus Mulyadi.

Begitu pula lagu rohani lawas Betapa Hatiku Beterima Kasih... Lagu 'wajib' persekutuan-persekutuan doa itu jadi enak ketika dibawakan Mus Mulyadi.

"Hanya ini Tuhan persembahanku...
segenap hidupku jiwa dan ragaku...
s'bab tak kumiliki harta kekayaan yang cukup berarti
'tuk ku persembahkan...."

Mus Mulyadi telah mempersembahkan segenap hidupnya, jiwa dan raganya, di bidang musik. Di usia senja, saat mengalami kebutaan total, Mus Mulyadi makin total melakukan pelayanan rohani. Mengajak jemaat untuk bersama-sama memuji dan memuliakan Tuhan!

Mus Mulyadi telah mengakhiri pertandingan.. dan memelihara iman. Selamat jalan Cak Mus!

10 April 2019

Kehilangan Pater Pikor SVD

Satu lagi misionaris sepuh berpulang. Pater Stanislaw Pikor SVD meninggal dunia di usia 83 tahun. Pater asal Polandia ini menyusul Pater Glinka SVD, sahabat dan kompatriotnya asal Polandia, pada akhir Agustus 2018.

Malam ini saya mampir di Soverdi Surabaya. Duduk di dekat jenazah Pater Pikor. Ada beberapa pater, suster, dan jemaat duduk bercengkrama. Mengenang dedikasi pater yang mulai bertugas di Indonesia pada 1965 itu.

Beberapa kali saya wawancara, lebih tepatnya ngobrol, dengan pater yang poliglot ini. Obrolan panjang dimuat satu halaman di koran ketika Pater Pikor berusia 75 tahun. Tangan sang romo tak pernah lepas dari rokok.

Bahasanya halus macam orang Jawa Tengah. "Tidak ada kata pensiun untuk saya. Jadwal saya tetap padat. Saya punya bengkel," kata Pater Glinka sambil tersenyum.

"Bengkel apa?" tanya saya.

Pater Pikor menjawab:

"Bengkel rohani. Hehehe.... Di bengkel rohani ini saya harus melayani orang-orang sakit baik yang membutuhkan perawatan rohani maupun jasmani. Saya juga membantu mengurus obat-obatan, mencarikan dokter, hingga memberikan Sakramen Minyak Suci.

Nah, di Surabaya ini ada begitu banyak orang yang perlu dilayani di bengkel rohani. Ada banyak orang NTT seperti Anda, orang Jawa, Kalimantan, Sumatera... dari mana saja yang membutuhkan pendampingan. Karena itu, saya banyak berada di rumah sakit baik diminta maupun tidak. Pekerjaan seperti ini tidak mengenal kata pensiun."

Bengkel rohani. Kata-kata beliau selalu lengket di kepala saya. Saya juga ingat koleksi botol-botol yang indah di kamarnya.

Sayang, saya tidak lagi bertemu Pater Pikor untuk ngobrol atau diskusi. Terakhir kali ketemu ya saat kematian Pater Glinka. Itu pun cuma salaman sejenak.

Kini... selesai sudah tugas sang pater! Requescat in pace!

Supardi Wartawan Xingzhou di Hongkong

Sudah 59 tahun Supardi tinggal di Hongkong. Negara Tiongkok. Tapi wartawan senior koran Xingzhou Ribao ini mengaku masih sangat cinta Indonesia. Tanah airnya tanah air Indonesia.

Bahasa Indonesianya pun masih oke. "Saya teman akrabnya Pak James Chu," kata Supardi lewat ponsel kepada saya.

James Chu seniman musik asal Banyuwangi tinggal di Hongkong. James aktif melestarikan musik keroncong dan campursari di Hongkong. James juga sudah bikin rekaman bersama artis top macam Waldjinah dan Ervinna.

Lagu-lagu Nusantara itu selalu diputar dan dimainkan di Hongkong. Bikin kangen kampung halaman.

"Saya wartawan HK asal Indonesia, dengan Supardi, saya teman akrab Pak James Chu. Maaf, saya beberapa hari di negeri Tiongkok. Whatsapp tidak bisa sambung. Gmail juga dihalang oleh pemeritah Tiongkok karena sering diserang oleh antek USA," begitu pesan Supardi tadi malam.
Oh... saya baru sadar bahwa Tiongkok punya kebijakan digital khusus yang sangat anti Barat. Mereka bikin aplikasi khusus agar penduduknya jadi konsumen teknologi informasi dari Amerika atau Eropa. Ini penting untuk mengawal ideologi komunisme dan kapitalisme ala Zhongguo.

Semula saya mengira Supardi orang Jawa. Atau Tionghoa yang leluhurnya dulu tinggal di Pulau Jawa. Eh, ternyata ia lahir di Pulau Bangka. Tetangganya Ahok di Pulau Belitung yang belakangan sangat kondang gara-gara novel Laskar Pelangi itu. Bangka dan Belitung memang banyak warga keturunan Tionghoanya.

"Saya lahir di Pulau Bangka pada tahun 1945. Tahun 1960 ke Beijing untuk mengejar kuliah. Sekarang menetap di HK. Tapi sudah 2 tahun belum pulang kampung. Kampung saya masih tetap di Nusantara. Biar jauh di mana, Indonesia tetap di lubuk hati saya," tulis Supardi di pesan elektronik.

Syukurlah, blokade internet Amerika belum berlaku di HK. Meskipun bekas jajahan Inggris itu sudah dikembalikan ke Tiongkok pada 1997. Orang HK masih bisa menikmati gaya hidup dan kebebasan yang lebih ketimbang di daratan Tiongkok sana.

Saya tidak mengorek lebih jauh soal kebijakan rezim Xi Jinping yang sangat ketat melindungi warganya dari anasir-anasir Amerika itu. Toh, orang Tiongkok sangat bangga dengan negaranya yang kian maju dan makmur. Tanpa perlu menjiplak habis gaya hidup dan ideologi USA.

Buat apa demokrasi kalau rakyatnya tetap miskin? Dan saling mengejek macam di Indonesia sekarang? Bebas maki-maki di media sosial?

Supardi sudah lama bekerja di Xingzhou Ribao. Surat kabar harian milik grup media asal Malaysia. Beberapa kali saya dikirimi klipingnya oleh James Chu, musisi Tionghoa itu, setelah konser lagu-lagu Nusantara di depan ratusan buruh migran alias TKI. Saya hanya bisa menikmati foto-fotonya karena tidak bisa membaca tulisan Mandarin.

"Koran Xingzhou di Malaysia pelanggannya nya 600 ribu. Xingzhou daily ada koran bahasa Mandarin di Jakarta," kata Supardi.

Wuih... 600 ribu! Banyak banget? Kalau angka pelanggan ini benar, Xingzhou benar-benar koran hebat di era digital dan media sosial ini.

Bisa jadi karena minat baca orang Tionghoa memang sangat tinggi. Beda dengan Yinni Ren yang sejak dulu tidak suka membaca. Lebih suka ngerumpi.

07 April 2019

Bukan Islam kok Fasih Bahasa Arab?

Dahlan Iskan baru saja blusukan di Oman. Pengalaman kedua setelah 40 tahun lalu berkunjung ke negara itu saat masih jadi wartawan Jawa Pos di Surabaya. Deskripsi mantan bos JP tentang Oman ini sangat menarik. Dan itu memang kelebihan sang mantan menteri BUMN itu.

Tapi yang menggelitik saya justru paragraf ini. Dahlan Iskan menulis:

"Saya juga malu dengan wartawan-wartawati bule dari Eropa. Yang bahasa Arabnya luar biasa. Padahal mereka bukan Islam."

Aha... bukan muslim kok bisa bahasa Arab? Fasih pula. Sefasih orang Islam. Bahkan mungkin orang Islam asal Indonesia atau Malaysia atau Australia kalah fasih bahasa Arabnya dengan reporter-reporter bule yang nonmuslim itu.

Beberapa tahun lalu ada seminar di salah satu gereja di Surabaya. Pembicaranya orang Mesir. Agamanya Kristen Koptik. Pakai bahasa Arab lalu diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Lancar banget bahasa Arabnya orang nasrani dari Mesir itu.

"Anda kok pintar bahasa Arab? Padahal Anda bukan Islam? Apakah orang Kristen di Mesir juga boleh berbahasa Arab?" tanya seorang jemaat setengah guyon.

Agamawan Koptik itu tersenyum. Tidak menyangka ada pendapat aneh tapi nyata itu. "Kami semua bicara dalam bahasa yang sama di Mesir. Apa pun agamanya ya bahasanya sama-sama Arab," katanya disambut tawa peserta seminar.

Begitulah. Sejak dulu bahasa Arab dicitrakan sebagai bahasa khusus untuk agama Islam. Pelajaran bahasa Arab di Indonesia pun tidak bisa dipisahkan dengan pelajaran ngaji Alquran. Mulai TPQ hingga madrasah sampai ke IAIN.

Saya belum pernah melihat kursus bahasa Arab yang tidak terkait pengajian kitab suci Alquran. Katakanlah kursus bahasa Arab untuk komunikasi sehari-hari. Yang seperti itu biasanya cuma di Balai Latihan Kerja (BLK). Itu pun sangat terbatas.

Beda dengan bahasa Inggris, Jerman, Prancis, Belanda, atau Spanyol yang ada kursusnya di Surabaya dan kota-kota besar lain. Bahasa Jepang dan Mandarin bahkan sudah lama masuk ke sekolah-sekolah dasar sampai perguruan tinggi di Indonesia. Pemerintah Tiongkok sudah lama membuka Confucius Institute di Surabaya dan berbagai kota di seluruh dunia.

Bahasa Arab kok tidak diajarkan di sekolah-sekolah? Di Indonesia memang diajarkan. Tapi di madrasah-madrasah dan sekolah-sekolah Islam. Dan tetap saja satu paket dengan ngaji Alquran. Bukan bahasa Arab dalam konteks bahasa internasional macam bahasa Inggris, Mandarin, Portugis, atau Prancis.

Karena itulah, citra bahasa Arab sebagai bahasa eksklusif untuk orang Islam masih tertanam kuat di Indonesia. Seperti keheranan Dahlan Iskan 40 tahun lalu di Oman: "Orang bule, bukan Islam, tapi kok bahasa Arabnya luar biasa!"

Lah, wong saya juga heran karena guru-guru bahasa Arab di YouTube justru banyak yang bule dan bukan Islam. Salah satu guru bahasa Arab yang hebat adalah perempuan muda asal Palestina beragama Kristen. Pelajarannya paling enak dan gaul.

06 April 2019

Pentas Lumba-Lumba di Sidoarjo

Pentas lumba-lumba sering disoroti kalangan aktivis pencinta satwa. Dianggap melanggar hak asasi binatang. Dianggap mengeksploitasi satwa untuk cari duit.

Para aktivis ini sering berunjuk rasa di arena pentas lumba-lumba dan aneka satwa unik itu. Dua tahun lalu, mereka bikin aksi unjuk rasa di menolak pertunjukan lumba-lumba di Lapangan Albatros Juanda, Kecamatan Sedati, Sidoarjo. Toh, pertunjukan jalan terus karena sudah punya izin resmi.

Tahun ini ada lagi pentas lumba-lumba di Sidoarjo. Tempatnya di halaman parkir Trans Mart, Desa Pagerwojo, Kecamatan Buduran. Mulai 29 Maret sampai 28 April 2019. Satu bulan penuh.

Sehari ada empat kali pentas: pukul 10.30, 15.00, 16.30, 19.30. Khusus Sabtu dan Minggu plus tanggal merah ditambah pukul 09.00 dan 13.00. Jadi enam kali pentas.

"Sidoarjo ini banyak penggemar atraksi lumba-lumba. Makanya kami datang lagi ke Sidoarjo," kata Ali Sodikin dari WSI yang jadi penyelenggara pertunjukan.

Ali membantah tuduhan bahwa pihaknya mengeksploitasi lumba-lumba dan satwa lain untuk pertunjukan. Isu miring yang diangkat para aktivis itu dianggap tidak benar. "Kami memperlakukan satwa dengan baik. Kami justru mencintai satwa," katanya.

Ukuran kolam, sirkulasi air, makanan dsb pun sudah dibuat sedemikian rupa sesuai dengan habitat asli lumba-lumba dkk. Begitu juga metode latihan dilakukan oleh para pelatih dan pawang profesional.

"Pentas lumba-luma ini juga untuk edukasi siswa agar lebih mengenal satwa," katanya.

Ali mengaku tidak asing lagi dengan polemik seputar pertunjukan lumba-lumba. Animal show di mana-mana selalu ada bumbu polemik. Itu karena cara pandang yang berbeda. Tapi tujuannya sama-sama untuk menyayangi satwa.

Yang pasti, pertunjukan lumba-lumba dkk di Sidoarjo ini tetap diminati masyarakat. Ibu-ibu yang dulu di masa kecil nonton pentas lumba-lumba ingin anaknya menikmati juga kelucuan binatang air yang sering diceritakan sebagai sahabat manusia itu.

"Mumpung ada pertunjukan di Sidoarjo. Belum tentu setiap tahun ada pentas lumba-lumba di sini," kata Mbak Wati yang nonton bersama dua anaknya.

Wanita asal Gedangan ini mengaku sering mengajak anaknya ke Kebun Binatang Surabaya. Tapi rasanya beda dengan menonton pentas lumba-lumba dkk. "Kalau pentas lumba-lumba ini benar-benar menghibur. Binatangnya pinter-pinter karena sudah terlatih," katanya.

Isu agama masih laku

Isu agama masih laku jelang pemilu 2019 ini. Khususnya pilpres. Kedua kubu sama-sama angkat isu lawas ini untuk jualan kecap kampanye.

Yusril minggu lalu membocorkan percakapannya dengan Rizieq Shihab. Isinya mempertanyakan keislaman PS. Islamnya nggak jelas, begitu antara lain yang disampaikan habib di Arab Saudi.

Calon petahana JW pun sangat sering diserang dengan isu agama. Bahkan sejak pilpres sebelumnya. Bahkan sejak maju pilkada Jakarta. Kadar keislaman JW dianggap masih jauh dari 24 karat.

Minggu lalu di Jogjakarta ada masalah SARA juga. Tepatnya di Bantul. Ada pelukis beragama Katolik yang "diusir baik-baik" dari karena kampung itu khusus untuk muslim. Ada peraturan desa sejak 2015. Warga nonmuslim dilarang tinggal di situ.

Syukurlah, masalah yang menimpa pelukis bernama Slamet ini viral di media sosial. Kemudian ramai juga di media arus utama. Pemerintah pusat angkat bicara. Perdes di Bantul itu akhirnya dicabut. Tapi kerusakan sudah terjadi.

Sultan Jogja yang dikenal arif bijaksana itu kecolongan lagi. Aparat-aparat di tingkat RT, RW, desa, kecamatan, hingga kabupaten ternyata tidak tahu ada aturan yang bertentangan dengan konstitusi. Mungkin Sultan terlalu sibuk ngurus isu-isu besar macam keistimewaan Jogja dsb.

Begitulah Indonesia hari ini. Ketika negara-negara lain sibuk membahas persoalan yang lebih subtantif, kita masih berkutat dengan gorengan isu-isu lawas soal SARA. Mirip perdebatan di konstituante tahun 1950-an yang tidak jelas juntrungannya itu. Sampai akhirnya Presiden Sukarno mengeluarkan dekrit yang terkenal itu.

Kita lupa bahwa persoalan utama di Indonesia sejatinya adalah ekonomi. Pengangguran banyak. Lapangan kerja sedikit. Upah buruh masih jauh di bawah normal. Jutaan orang terpaksa jadi TKI.

Isu-isu substantif ini rupanya tidak menarik di Indonesia. Tenggelam oleh isu agama atau SARA. Apalagi isu agama ternyata sukses mengantar Ahok ke penjara selama dua tahun.

03 April 2019

Tahun 2019 Koran Makin Tipis

Hari ini libur Isra Mikraj. Bagus untuk nggowes alias bersepeda. Ingin sepedaan agak jauh. Di kawasan Bandara Juanda, Betro, masuk tambak-tambak di Kalanganyar, Cemandi, Banjarkemuning, Segorotambak, Tambakoso, lalu masuk Gununganyar, Surabaya.

Sayang... ban depan gembos. Tukang tambal ban libur semua. Maka rencana nggowes pun berantakan. Belum sampai dua kilometer. Mampirlah ke warung kopi. Baca koran pagi. Ada juga koran kemarin.

Saya tertarik membaca klinik fotografi di Kompas. Asuhan Arbain Rambey pewarta foto terkenal. Ada klipingan koran Kompas 8 Juni 1999. Sehari setelah coblosan tak lama setelah reformasi yang fenomenal itu. Foto menarik saat perhitungan suara di TPS. Warga bersorak riang karena Golkar kalah.

Bagi saya, yang menarik justru tulisan di bawah logo Kompas. Harian Pagi Terbit 16 Halaman.

Ouw... pertengahan 1999 Kompas hanya punya 16 halaman. Padahal koran ini nomor satu di Indonesia. Iklannya paling buanyaaak. Tapi kok hanya 16 halaman?

Rupanya saat itu surat kabar di Indonesia belum bisa terbit puluhan atau ratusan halaman macam di USA atau Amerika. Sangat biasa koran-koran di Amerika terbit 100 halaman. Bahkan bisa 200 halaman. Di akhir pekan.

Koran-koran Indonesia? Nanti dulu. Rezim orde baru pimpinan Pak Harto sangat keras mengatur media massa. Begitu banyak aturan seperti SIT, SIUPP, izin cetak, hingga kriteria wartawan hingga pemred. Tidak ikut PWI tak boleh kerja di koran.

Nah, surat kabar pun dibatasi paling banyak 12 halaman. Sekian tahun kemudian baru dinaikkan jadi 16 halaman. Iklan pun maksimal 30 persen. Ketahuan melanggar dapat peringatan keras. Kemudian dicabut SIUPP-nya alias dibredel.

Setelah orba dan Pak Harto tumbang, pembatasan ini tidak ada lagi. Halaman koran-koran tidak lagi dibatasi. Mau 36 halaman, 48 halaman, atau 100 halaman terserah. Iklannya pun bisa 50 persen, 80 persen, 90 persen monggo. Mau bikin koran yang 100 persen iklan pun tidak dilarang. Tapi siapa yang mau baca koran yang tidak ada beritanya?

Di era reformasi yang serba bebas ini pemerintah tak lagi mengatur jumlah halaman koran. Atau porsi iklan. Mekanisme pasar yang menentukan. Itu jauh lebih kejam ketimbang Menpen Harmoko pada masa orde baru. Begitu juga selera pembaca. Di era media sosial dan teknologi informasi yang kian merajalela.

Tahun 2018, pertengahan, harga kertas melambung luar biasa. Hampir 100 persen. Maka biaya produksi naik tajam. Di sisi lain iklan yang masuk tidak sebanyak pada masa sebelum era digital. Maka koran-koran cetak terpaksa tampil lebih langsing. Efisiensi.

Sejak itulah koran-koran makin tipis. Kompas yang biasanya 48 halaman atau 36 halaman (plus 8 halaman advetorial) kini tinggal 24 halaman. Koran-koran di Surabaya pun hanya bisa terbit 16 halaman. Jawa Pos masih menang tebal: 32 halaman.

Gara-gara harga kertas yang terus melambung, rasanya kebiasaan koran-koran pascareformasi untuk bikin edisi khusus 100 atau 80 halaman kian sulit terulang. Kita seperti kembali ke era 90-an dan 80-an ketika koran-koran hanya bisa terbit 16 halaman atau 12 halaman doang!