31 March 2019

Presenter TV rame-rame nyaleg

Sudah lama saya tidak melihat wajah Rahma Sarita di layar televisi. Khususnya setelah hengkang dari Metro TV. Alumnus Unair Surabaya ini jadi presenter Jak TV. Stasiun televisi yang tidak terjangkau di Jatim.

Mungkin Rahma sudah jadi politikus. Seperti temannya di Metro dulu: Meutya yang sudah jadi anggota DPR RI. Bisa juga Nasdem, partainya Surya Paloh, bos Metro TV. Itu dugaan saya jelang pemilu ini.

Akhirnya terjawab kemarin. Saya melihat wajah Rahma Sarita di pinggir jalan. Dekat Gereja Advent, Prigen, Kabupaten Pasuruan. Rupanya Rahma jadi caleg DPR RI dari Pasuruan-Probolinggo. Kampung halaman orang tuanya.

Arek Pasuruan asli! Begitu tulisan di atribut kampanye Rahma Sarita yang sangat menonjol.
Kelihatannya Rahma jadi andalan Nasdem di Pasuruan. Lumayan muda, cerdas, terkenal, dan putra daerah. Keturunan bangsawan berdarah Arab pula.

Di Surabaya dan Sidoarjo poster Indra Maulana juga lumayan banyak. Indra mantan presenter andalan Metro TV. Saya menilai Indra yang paling pas memandu program yang mengangkat isu-isu besar dan kontroversial. Sebab penguasaan masalahnya sangat bagus.

Mantan presenter yang paling fenomenal di ranah politik adalah Grace Natalie. Saat bekerja di tvOne, Grace tidak jauh berbeda dengan presenter-presenter lain. Kalah top dengan Tina Taliza. Sama sekali tidak ada isyarat Grace seorang politikus.

Eh... ternyata Grace jadi ketua PSI. Partai yang paling berani saat ini. Berani mengecam berbagai pelanggaran hak asasi manusia. Khususnya pemerintah atau aparat yang terkesan membiarkan gerombolan manusia main hakim sendiri. Padahal partai-partai lain biasanya memilih diam. Pura-pura tidak tahu.

Dibandingkan pimpinan 15 partai lain, Grace Natalie paling muda dan segar. PSI punya peluang besar untuk mengisi ruang politik yang selama ini didominasi para pensiunan. Kita tunggu saja hari H yang kurang dua minggu lagi.

Keterlibatan para presenter (dan mantan presenter) di bursa politik rupanya tidak lepas dari sepak terjang bosnya di televisi. Bos Metro TV Surya Paloh ketua umum Partai Nasdem. Ketua Partai Perindo Harry Tanoe punya banyak televisi. Maka para presenter dan reporter pun ikut terserap ke politik praktis.

Kondisi ini berbeda dengan di Jawa Pos Group. Wartawan-wartawan tidak diperbolehkan nyaleg. Pun tidak boleh jadi tim sukses capres, cagub, cabup dsb. Ketahuan nyaleg ya dianggap mengundurkan diri.

"Jauhi politik... kerja kerja kerja!" begitu filosofi Dahlan Iskan, mantan bos JP Group.

Jurnalis itu harus fokus, kata Dahlan. Tidak boleh nyambi di politik dsb. Kalau mau nyaleg ya keluar. Tidak bisa setengah-setengah di politik dan jurnalistik.

30 March 2019

Kak Mada Hidupkan Literasi dengan Mendongeng

Era digital ini membuat orang keranjingan media sosial. Makin sedikit orang yang membaca buku atau media cetak. Bahkan, sebelum ada medsos dan internet pun orang Indonesia tidak punya reading habit. Lebih suka bergunjing dan berbual.

Syukurlah, masih ada orang yang tak henti-hentinya kampanye literasi di Kabupaten Sidoarjo. Anak-anak diajak membaca buku. Itulah yang dilakukan Ahmadah Lukluil Maknun alias Kak Mada sejak 2012.

Kak Mada mendirikan Rumah Baca Alif Pewe di dekat Pabrik Gula Toelangan. Tepatnya di Desa Kemantren Gang I, dekat sebuah musala. Agar anak-anak lebih semangat dan terhibur, Kak Mada mendongeng bersama boneka kesayangannya.

"Rumah baca itu terdorong hobi masa kecil saya yang suka membaca," kata perempuan kelahiran 18 September 1988 itu.

Biasanya uang sakunya ditabung untuk beli buku. Kebiasaan itu berlanjut hingga kuliah di UINSA Surabaya. Koleksi bukunya jadi sangat banyak. Kemudian disumbangkan ke beberapa perpustakaan. Lama-lama dia berpikir untuk bikin taman baca masyarakat (TBM) atau semacam perpustakaan sederhana.

"Setiap buku itu punya sejarah. Walaupun hanya diam tapi mereka bicara dengan kata-kata yang cukup rapi dan indah," ujar Ahmadah yang biasa buka lapak literasi di Alun-Alun Sidoarjo pada Ahad pagi itu.

Kak Mada sadar bahwa mengajak anak-anak milenial untuk melek literasi, baca buku, tidak mudah. Medsos terlalu menarik dengan sajian audio visual yang interaktif. Maka dia bikin permainan, dongeng, untuk merayu anak-anak.

"Perlu hati baja.. Ikhlas karena Allah karena memang berjuang. Bagaimana cara membuat anak-anak hingga manula bisa melek literasi. Tidak semua orang suka baca. Baca hanya dianggap makanan sekolah yang menjemukan," ujar Kak Mada kepada saya pekan lalu di Sidoarjo.

Adapun kegiatan dongeng keliling yang dilakukan Kak Mada dianggap sebagai metode untuk memperkuat literasi. Medianya boneka cablak Kak Mada & Midi. Anak-anak biasanya sangat tertarik menyimak cerita dan petuah yang disampaikan Kak Mada lewat boneka lucu itu.

"Saya pernah mengajar TK dan MI dengan beberapa media ajar. Saya resign dan lebih suka hidup dengan beberapa hobi. Sebagai survivor kanker yang kadang kambuh tiba-tiba menyulitkan saya bila hrs kerja atas nama yayasan," ujar wanita yang mengaku punya sekitar 40 macam hobi itu.

Perjuangan hidup Ahmadah tidak mudah. Sejak lulus TK dia mengaku hidup nomaden. Tinggal di beberapa pesantren di Jatim. Lalu kuliah di Universitas Negeri Sunan Ampel, Tarbiyah Pendidikan Bahasa Arab.

"Tahun 2011 saya skripsi dengan kerja keras. Selain harus mengerjakan skripsi berbahasa Arab, pembina panti asuhan, saya juga divonis kanker. Waktu itu sempat lumpuh satu bulan... dan sakit itu ganas dan menyebar hingga kurus kering," tulis Ahmadah di pesan elektronik kepada saya.

Di saat kritis itu dia bernazar. Bila masih diberi kesempatan hidup lebih lama, Ahmadah ingin berjuang lewat taman bacaan. Bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan keagamaan.

"Setelah lulus, saya berjuang sendiri dengan dana sendiri. Merawat kitab-kitab dan buku-buku sejak awal 2012," tuturnya.

Selain taman bacaan dan mendongeng, Kak Mada juga mengembangkan Rumah Herbal Sidoarjo. Budidaya tanaman obat keluarga, sayur dan buah. "Saya ajak warga untuk menggalakkan cinta sayur, buah, dan memasak di rumah," katanya.

Wawacara santai di WA itu, lebih tepat ngobrol, pun makin gayeng. Kak Mada: "Seingat saya pernah baca di Google... Blog Hurek.. Itu artikel pean yg nulis ta?"

Saya: "Nggeh... nulis catatan enteng-entengan buat klangenan aja."

Kak Mada: "Untuk bisa jadi wartawati syaratnya apa?"

Saya: "Gak ada syarat. Pokoknya kalau dibuka lowongan ya ngelamar aja. Kalau belum ada lowongan ya piye?"

Kak Mada: "Dulu sempet pengen jdi wartawan tapi ndak tau prosesnya. Sekarang saya hanya bisa nulis di FB. Pengen sih punya kartu nama bertuliskan wartawati sebuah koran."

Wkwkwkwk....

Wartawan atau wartawati sudah terlalu banyak. Tapi aktivis literasi macam Kak Mada ini terlalu sedikit. Apalagi yang pintar mendongeng, menghibur anak-anak, fasih bahasa Arab dan Inggris masih terlalu sedikit. Biarlah Kak Mada menikmati dunia literasi yang penuh warna itu.

29 March 2019

Dispensasi Pencoblosan untuk Flores Timur - Semana Santa

Tak banyak yang tahu kalau pelaksanaan pemilu 2019 ini bersamaan dengan pekan suci. Semana Santa, begitu istilah populer di Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata, NTT. Semana Santa itu tradisi katolik lama peninggalan Portugis yang sangat dimuliakan di Flores Timur. Khususnya di Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur.

Jangankan KPU yang semua komisionernya muslim, orang-orang Katolik di Jawa pun tidak akrab dengan Semana Santa. Ada liturgi pekan suci: kamis putih, jumat agung, sabtu suci memang. Tapi liturginya hanya di gereja saja. Tidak sampai terasa di masyarakat. Maklum, orang Katolik di Jawa jumlahnya tidak sampai 2 persen. Super minoritas.

Nah, di Flores Timur, Semana Santa atau pekan suci ini dari dulu dijadikan hari libur resmi. Waktu sekolah di Larantuka, kami libur satu minggu lebih. Untuk persiapan Semana Santa, lamentasi, rabu trewa dsb.

Karena itu, tepat sekali KPU pusat memberikan dispensasi untuk Flores Timur. Agar tidak mengadakan pencoblosan pada Rabu 17 April 2019. Hari itu pas Rabu Trewa. Suasana Semana Santa akan rusak oleh hiruk pikuk pencoblosan.

Saat pemilu 2009 pun terjadi kasus yang sama. Pencoblosan bersamaan dengan Semana Santa. Akhirnya Pemkab Flores Timur membuat keputusan untuk menunda pencoblosan.

Mengapa KPU mengulangi keputusan yang sama? Menetapkan hari H pencoblosan saat pekan suci?

Pasti karena tidak tahu. Komisioner yang sekarang semuanya baru. Pasti tidak tahu semana santa. Tidak tahu paskah. Asing dengan kamis putih, jumat agung, sabtu suci, minggu paskah dsb.

Dan.. politik memang ditentukan oleh mayoritas. Kaum minoritas macam kita di bumi Lamaholot ya hanya bisa curhat.

Deo gratias!

Kali ini KPU memberikan dispensasi untuk Kabupaten Flores Timur. Mengapa Kabupaten Lembata tidak diberi dispensasi yang sama? Padahal sama-sama Keuskupan Larantuka yang punya tradisi khusus pekan suci?

Rombongan Turis Viking Orion Mampir di Kembang Jepun

Kamis 28 Maret 2019. Saat ngopi di Jalan Kembang Jepun tiba-tiba lewat rombongan turis asing. Bule. Bisa dikata semuanya pensiunan atau lansia. Cuma pemandu wisatanya yang masih di bawah 40 tahun.

Tak sampai lima menit, datang rombongan baru lagi. Jalan kaki dari Jembatan Merah, masuk ke Kembang Jepun dan sekitarnya. Melihat-lihat pusat perdagangan Kota Surabaya yang jaya sejak masa Hindia Belanda.

Tidak lupa rombongan turis oma dan opa ini berfoto bersama di depan bangunan tua di Jalan Kembang Jepun 167 Surabaya. Yang didirikan tahun 1880 (versi Dahlan Iskan, mantan bos Jawa Pos). Yang sekarang jadi kantor koran Radar Surabaya itu. Maka saya pun sempat ngobrol sejenak dengan satu dua wisatawan.

"Saya dari USA. Lagi berwisata dengan Viking Orion," kata seorang bule yang tinggi besar.

Obrolan tidak bisa lama karena jadwal rombongan turis ini sangat padat. Kapal Viking Orion sandar di Pelabuhan Tanjung Perak hanya sekitar 8 jam. Selanjutnya mereka lanjut ke Semarang dan Jakarta.

Berangkat dari Auckland, Selandia Baru, perjalanan wisata Viking Orion ini berlangsung selama 92 hari. Kalau tidak salah hitung, ada 16 negara yang disinggahi. Jadi 17 kalau Hongkong dianggap negara sendiri.

Ada 6 lokasi yang disinggahi di Indonesia: Pulau Komodo, Lombok, Bali, Surabaya, Semarang, dan Jakarta. Total penumpangnya 930 orang (kalau terisi semua). Total awak kapal 465 orang.

"Tapi tidak semua turis turun untuk jalan-jalan. Banyak yang istirahat di kapal. Mungkin capek, gak enak badan dsb," kata pemandu wisata yang hitam manis.

Wuedaan!

Sulit dibayangkan orang Indonesia bisa dapat izin dari tempat kerjanya untuk ngelencer selama tiga bulan. Karena itu, wisata pelesiran dengan kapal pesiar macam ini hanya cocok untuk para pensiunan atau purnawirawan. Yang duitnya buanyaaak.

Di Indonesia para pensiunan jarang yang suka berwisata. Lebih suka jadi caleg, pejabat, bikin ormas, partai dsb. Prabowo, Wiranto, dan jenderal-jenderal lain lebih asyik berpolitik. Begitu juga pengusaha-pengusaha kaya. Ikut kecemplung di politik.

Karena itu, tidak akan ada wisata kapal pesiar keliling Nusantara. Dari Sabang sampai Merauke. Menyinggahi pulau-pulau kecil, sedang, dan besar. Agar bisa melihat langsung saudara-saudari kita sesama bangsa Indonesia.

Toh, berputar-putar keliling Indonesia tidak butuh waktu tiga bulan. Tarif perjalanan wisatanya pun tidak akan semahal pesawat terbang. Lama tur bisa 7 hari, 10 hari, atau paling lama 14 hari.

Bisa dibuat paket hemat untuk jarak pendek. Misalnya khusus rute Jawa ke Sumatera, Jawa-Kalimantan, Jawa-Bali-NTB-NTT-Timor Leste. Paket lengkap ya keliling Sabang sampai Merauke.

"Orang Barat itu beda dengan orang Indonesia. Berwisata itu sudah jadi kebutuhan hidup mereka. Bukan cuma gaya hidup atau habisin uang. Mereka bekerja keras saat muda, menabung, dan menikmati di hari tua," kata Mbak Nanik pengurus Asosiasi Perjalanan Wisata (Asita) Jatim.

Yo... wesss!

28 March 2019

Gedung Tua nan Eksotik di Kembang Jepun 167



Kapan gedung ini dibangun? Aslinya untuk kantor perusahaan apa sih? Arsitekturnya gaya apa? Arsiteknya siapa?

Begitu antara lain pertanyaan tiga mahasiswa kepada saya pekan lalu. Anak-anak muda itu lagi tertarik mendalami sejumlah bangunan tua di kawasan kota tua Surabaya. Mulai Jalan Karet, Kembang Jepun, Jembatan Merah, dan seterusnya. Kawasan ini memang memiliki cukup banyak bangunan tempo doeloe. Dibangun pada era penjajahan Belanda.

Nah, para mahasiswa itu tertarik dengan bangunan antik di Jalan Kembang Jepun 167 Surabaya. Gedung milik Jawa Pos yang saat ini dipakai Radar Surabaya. Surat kabar lokal, anak perusahaan Jawa Pos.

"Kalau tidak salah, dulunya kantor bank pada masa Hindia Belanda," jawab saya kepada para mahasiswa yang kebetulan "memergoki" saya di bangunan tua di Kembang Jepun 167 itu.

Saya kemudian mempersilakan mereka mampir untuk melihat-lihat interior bangunannya. Masih asli dan kokoh. Lantai satu dan lantai dua. Di lantai atas masih ada pintu besi yang sangat kokoh. Ada juga bekas brankas. Khas kantor perbankan tempo doeloe di zaman Hindia Belanda.

"Sudah lama gedung ini masuk dalam daftar bangunan cagar budaya di Kota Surabaya. Jadi, harus dilestarikan. Dipertahankan keasliannya," ujarku kepada mahasiswa ala pemandu wisata.

Padahal, pengetahuan saya tentang sejarah gedung itu sangat minim. Padahal, saya sering berada di dalam gedung itu. Bekerja di koran yang kantornya di eks perusahaan bank era Hindia Belanda itu.

"Dulunya bank yang segmen nasabahnya untuk UKM. Usaha kecil dan menengah," ujar seorang wartawan senior yang sudah lama berkantor di situ.

Nah, gara-gara ditanya wisatawan yang mahasiswa itu, saya mencoba mencari tahu tahun berapa gedung di Kembang Jepun 167 dibangun. Tidak ada di Google. Cuma ada beberapa catatan kecil dari beberapa blogger. Itu pun selintas dan rada ngawur.

Wartawan-wartawan lawas eks Jawa Pos tahun 1980-an pun sama sekali tidak menulis catatan tentang asal muasal tempat kerja mereka itu. Wartawan-wartawan Jawa Pos sebelum diambil alih Tempo pada 1 April 1982 pun tidak meninggalkan catatannya.

Oh ya... Dahlan Iskan pertama kali ngantor di sini pada 5 April 1982. Setelah PT Grafiti Pers, penerbit majalah Tempo, mengambil alih kepemilikan Jawa Pos dari tangan The Chung Shen. Koran yang saat itu nyaris bangkrut itu didirikan The Chung Shen pada 1 Juli 1947.

Selain Jawa Pos (aslinya Djava Post, kemudian jadi Djawa Post, Djawa Pos, dan terakhir Jawa Pos), The Chung Shen punya dua koran lagi. Kantornya juga di Kembang Jepun 167. Yakni Huaqiao Xinwen (bahasa Mandarin) dan de Vrije Pers (bahasa Belanda). Kedua surat kabar ini tidak bisa bertahan lama di pasar. Tinggallah Jawa Pos yang hidupnya senen kemis. Oplahnya kurang dari 6.000 eksemplar pada awal 1980an. Dan terus menurun.

Pada 5 April 1982, Eric Samola dari PT Grafiti Pers di hadapan karyawan dan wartawan  Jawa Pos (lama) mengumumkan bahwa sejak saat itu Dahlan Iskan, wartawan Tempo di Surabaya, sebagai SATGAS PELAKSANA.

"Sebuah jabatan yang namanya tidak penting. Istilahnya tidak biasa dan legalitasnya juga mengambang," tutur Dahlan Iskan, mantan bos Jawa Pos.

"Saya jadi ketuanya (satgas pelaksana). Imam Suroso yang bertanggung jawab atas pemasaran. Lanny Kusumawati di bidang keuangan. Indra Slamet Santoso di bidang iklan. Karmaun tetap untuk percetakan. Dan soal redaksi terserah saya," tulis Dahlan Iskan di buku Warisan Samola.

Eureka!!! Ternyata di buku Warisan Samola itu Dahlan Iskan sempat menyinggung gedung kantor Jawa Pos di Kembang Jepun 167 Surabaya. Gedung yang dulunya kantor bank pada masa Hindia Belanda.

Dahlan Iskan menulis:
"Gedung ini merupakan bangunan dua lantai yang sangat kuno. Dibangun tahun 1880. Semula bangunan ini menjadi kantor bank milik Belanda, namun kemudian dibeli oleh salah satu perusahaan The Chung Shen yang bergerak di bidang pengurusan administrasi."

Zaman itu memang ada perusahaan yang khusus mengurus administrasi perusahaan lain. Atau administrasinya perusahaan dalam grupnya sendiri. Demikian pula administrasi Jawa Pos saat didirikan The Chung Shen pada 1947 hingga 1982 sebelum dibeli oleh manajemen Tempo di Jakarta itu.

"Manajemen Jawa Pos saat itu diserahkan pengurusannya kepada PT Mustika. Perusahaan administrasi ini milik The Chung Shen juga. Bahkan Jawa Pos harus membayar sewa gedung itu kepada pemiliknya: PT Mustika juga," tutur Dahlan Iskan.

Nah, mulai sedikit jelas riwayat gedung Jawa Pos di Kembang Jepun 167 itu. Tapi bank apa? Pak Dahlan tidak menyebutkan dengan jelas.

Namun, berdasar foto lawas Soerabaia Tempo Doeloe, ada tulisan samar-samar: Uniebank. Caption foto itu:  Drukte in de Handelstraat in Soerabaja Oost-Java. Jalan Kembang Jepun dulu memang bernama Handelstraat. Pusat perdagangan utama di Surabaya dekat Jembatan Merah.

Ada catatan kecil yang menyebutkan bahwa Unie Bank yang berpusat di Amsterdam, Belanda, memiliki cabang di Batavia, Surabaya, Medan, Semarang, dan Bandung. Setelah mengalami krisis tahun 1921, akhirnya pada 30 Oktober 1925, de Unie Bank dilikuidasi.

Mudah-mudahan catatan singkat ini bisa menjawab pertanyaan pengunjung bangunan antik eks kolonial di Kembang Jepun 167 Surabaya. Kalau ditanya lagi, saya tidak perlu capek-capek menjawab. Cukup bilang silakan baca informasi singkatnya di blog saya. Kalau gak puas, ya tanya Mbah Google! Biasanya Mbah Google mengantar Anda ke sini juga.

Wkwkwkwkwk... cengengesan ala milenial.

27 March 2019

Menikmati Roti Paulus di Kampung Tambak

Tiap hari Paulus membagi video atau cerita lewat WA. Kadang bisa lima enam kali. Ada renungan, doa, pantun, hingga kampanye.

Ada doa khusus untuk kemenangan Jokowi. "Share sebanyak-banyaknya," begitu Paulus yang pasti bukan kreator konten-konten medsos itu.

Saya tidak pernah share apa pun di media sosial. Tidak pernah update status. Satu-satunya yang saya share ya catatan-catatan ringan di blog ini.

Biar jelek asal karya sendiri! Bukan karya atau tulisan orang lain. Itu prinsip saya sejak dulu. Maka saya tidak suka salin-tempel alias copas (copy paste).

Kembali ke Paulus. Pagi ini saya nikmati Roti Paulus di kawasan Sedati Sidoarjo. Kawasan tambak-tambak dekat pelelangan ikan di Banjarkemuning. Ada beberapa mas yang juga ngopi sambil ngemil roti berharga seribu rupiah itu.

Luar biasa!

Roti Paulus bisa tersebar luas ke mana-mana. Tidak ada merek roti lain yang populernya melebihi Paulus. "Rasanya khas dan pas," kata ontelis asal Gedangan. "Sejak anak-anak saya sudah makan Roti Paulus," pria 40an tahun itu menambahkan.

Saya jadi ingat Ibu Hj. Siti Rijati almarhumah di Ngagel Jaya Selatan Surabaya. Eyang pelukis itu setiap hari "wajib" sarapan roti. Ya.. Roti Paulus. Meskipun sudah sering mencoba roti-roti merek lain, lidahnya ternyata tidak cocok.

"Puluhan tahun saya cocoknya ya Roti Paulus. Namanya juga selera tiyang sepuh... orang tua," kata pelukis yang meninggalkan dunia pada usia 80 tahun itu.

Saya pun dapat tugas khusus untuk membeli Roti Paulus di pabriknya di Jalan Dinoyo 154 Surabaya. Tidak jauh dari Ngagel Jaya Selatan. Roti-roti yang masih baru keluar dari oven itu memang nikmat banget.

Gara-gara sering ke Roti Paulus -- juga disebut Pioneer -- saya jadi kenal roti tawar gandum. Kemudian kecanduan. Roti gandum buatan Paulus di Dinoyo ini lebih tebal dan padat. Bisa bikin kenyang. Meskipun tawar, setelah dikunyah terasa sedikit manisnya.

Dari sinilah saya paham mengapa orang Barat bisa kenyang makan roti. Tidak perlu nasi untuk kenyang.

Kalau makan roti tawar biasa, bukan roti gandum, saya tidak pernah bisa kenyang. Roti Paulus yang seribuan ini pun tidak bisa wareg. Sebab bukan gandum. Maka roti atau kue dari tepung terigu hanya dijadikan camilan di Indonesia. Bukan makanan pokok.

Sekarang sudah banyak roti tawar gandum di Surabaya dan Sidoarjo. Hampir semuanya sudah saya coba, kecuali di hotel-hotel berbintang. Tapi belum ada yang pas seperti merek Paulus.

Namanya juga selera.

26 March 2019

Separo NTT Masih Gelap


Sampai hari ini, akhir Maret 2019, sebagian Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih gelap. Belum menikmati listrik. Menteri ESDM Ignasius Jonan bilang elektrifikasi di NTT baru 62 persen.

Jonan ngotot ingin menyebarkan terang listrik di NTT. Dalam dua tahun bisa naik jadi 90 persen. Apa bisa Cak? Tergantung pemdanya. Siapkan lahan untuk pembangunan jaringan PLN.

Kita, orang NTT, memang sudah biasa hidup tanpa listrik. Penerangan pakai lampu pelita. Kaleng bekas diisi minyak tanah, dibuatkan sumbu, lalu dinyalakan. Bahkan sampai 1990an di Larantuka pun listrik PLN belum 24 jam.

Dulu, saat sekolah di Larantuka, listrik hanya menyala pukul 18.00 sampai 24.00. Masalah utama adalah bahan bakar. PLN di Flores Timur harus minum solar. Bukan air. Beda dengan di Jatim. Pembangkit listrik pakai air terjun di Karangkates.

Syukurlah, kampung saya di Lembata, kabupaten pemekaran Flores Timur, sudah bisa menikmati listrik. Sejak tahun 2002.. kalau tidak salah. Dimulai dengan jaringan yang tidak stabil, sering jeglek, tahun 2019 ini sudah lumayan bagus. Tentu masih kalah dengan di Jawa yang pakai PLTA.

Saya bisa membayangkan apa yang dirasakan oleh 40an persen warga NTT yang belum menikmati listrik. Irama hidup benar-benar alamiah. Setelah matahari terbenam, pelan-pelan gelap. Lalu berganti sinar bulan yang samar-samar. Bagus kalau lagi purnama.

Tidak ada kehidupan malam tanpa elektrifikasi. Jangan bayangkan HP, internet, media sosial dsb. Bahkan televisi tidak ada. Bukan karena tidak bisa membeli tapi karena tidak ada setrum. Dulu sempat pakai aki. Tapi harus jauh ke kota untuk ngecas di toko milik baba Tionghoa.

Pukul 19.00 hampir semua orang sudah terlelap. Sangat gampang dan nyenyak tidur di desa-desa pelosok. Lalu kita dibangunkan oleh kokok ayam. Saling bersahutan di kampung.

Tidak ada orang desa yang kesiangan alias mbangkong. Sebab tidurnya sangat awal. Badan juga lebih segar. Modal bagus untuk banting tulang di ladang yang minim siraman air hujan.

Semoga niat baik untuk melistrikkan NTT dari 60 persen menjadi 90 persen bisa terwujud. Siapa pun presidennya. Meskipun menterinya bukan Jonan.

Kaget dengan hipertensi

Sudah terlalu lama saya tidak checkup. Sebab pemeriksaan kesehatan secara kolektif sudah lama tidak dilakukan di kantor. Karyawan dianjurkan untuk periksa kesehatan sendiri-sendiri.

Saya hanya sesekali menimbang badan. Itu kebetulan kalau melihat timbangan yang nganggur di puskesmas atau pustu. Biasanya di kampung-kampung dekat tambak di Sidoarjo. Berat badan masih di atas normal: 75 sampai 78 kg. Sudah overweight. Normalnya di bawah 70 kg.

Nah, hari Minggu kemarin (25/3/2019) ada acara pawai budaya Delta Carnival di Alun-Alun Sidoarjo. Rombongan tidak kunjung diberangkatkan. Padahal sudah pukul 09.00. Undangan resminya sih 06.00. Jam lima pagi sudah banyak peserta yang kumpul di alun-alun.

Maklum, Sidoarjo termasuk salah satu juara jam karet di Jatim. Beda dengan Bu Risma, Wali Kota Surabaya, yang selalu tepat waktu. Peserta yang jumlahnya 22 kelompok baru dilepas pukul 10.15. Untung mendung dan sejuk udara pagi itu.

"Monggo periksa tensi Pak. Gratis. Kalau asam urat cuma Rp 5.000," kata adik-adik siswi SMK yang buka stan di dekat Monumen Jayandaru.

Awalnya sih malas. Tapi lama-lama tergoda juga. Maka saya mulai timbang berat badan. Masih 76 kg. Lumayan. Periksa asam urat. Normal juga. Di bawah 7.

Yang bikin kaget justru tekanan darah. Tensi sudah di atas 120/80. Tekanan darah tinggi?

"Belum parah Pak. Tapi perlu diturunkan dengan olahraga rutin dsb dsb," kata anak SMK yang ramah itu.

Waduh... gawat nih! Berkali-kali ukur tensi baru kali ini saya terkejut. Sebab biasanya selalu normal 120/80. Bahkan di bawah itu.

Rupanya Tuhan mengingatkan saya lewat adik-adik SMK itu. Bahwa di usia yang kian senior alias tua saya wajib lebih memperhatikan kesehatan. Olahraganya harus lebih rutin. Khususnya jalan kaki atau bersepeda jarak (agak) jauh.

Gara-gara checkup 5.000an itu, saya pun rajin minta pendapat Mbah Google. Mengerikan! Hipertensi ternyata sangat gawat. Bisa merembet ke mana-mana. Organ tubuh jerohan akan digerogoti perlahan-lahan.

Ayo... sepedaan lagi!!!

23 March 2019

Nginggris Ngawur: OUR SAVE STUDENT

Masih soal virus nginggris atau keminggiris. Bahkan instansi pemerintah pun sudah lama ikut latah. Pakai bahasa Inggris untuk nama kegiatan. Biar terlihat keren dan kekinian. Gak ndeso.

Polisi sebagai penegak hukum, undang-undang, pun sangat nginggris. Minggu lalu kepolisian bikin acara besar di Jembatan Suramadu. Diikuti ribuan orang. Nama kegiatannya Millenial Road Safety Festival. Keren banget. Masuk rekor MURI.

Tapi mengapa harus pakai English? Kegiatan itu toh bukan untuk orang asing? Tujuannya agar anak-anak muda, pelajar, tertib berlalu lintas. Pakai helm, tidak mengendarai sepeda motor kalau belum punya SIM dsb.

"Judul kegiatannya dari pusat Mas. Kita di daerah hanya mengikuti tema dari Jakarta itu. Kita tidak bisa mengubah judul dengan versi sendiri," kata seorang polisi di Surabaya.

Saya pun bertanya kepada Mustakim. Kepala Balai Bahasa Jatim yang kantornya di Buduran, Sidoarjo. Mengapa Balai Bahasa membiarkan instansi pemerintah melanggar UU tentang kebahasaan? Percuma Balai Bahasa kampanye gunakan bahasa yang baik dan benar jika pemerintah sendiri lebih suka nginggris.

Pak Mustakim juga mengaku prihatin dengan maraknya penggunaan istilah Inggris di ruang publik. Kalau iklan-iklan perumahan, perhotelan, properti atau perusahaan swasta sih masih bisa dimaklumi. Tapi kalau pemerintah? Kepolisian? Ketentaraan?

Kita seperti berteriak di padang pasir," kata Mustakim. Tim Balai Bahasa dua minggu ini gencar bikin seminar kebahasaan di Jatim. Minggu ini di Madura.

Eh... pagi ini ada foto yang menggelitik di koran. Iklan dari Pemkab Sidoarjo. Begini tulisannya:

BACK TO SCHOOL
OUR SAVE STUDENT
AYOOO... !!!

Papan reklame pemkab itu berada di pinggir jalan raya. Ada foto Bupati Sidoarjo Abah Saiful asli Sawohan dan Wabup Cak Nur yang asli Waru. Saya hanya bisa ngelus dada.

Gara-gara ingin keren, nginggris, malah konyol. OUR SAVE STUDENT. Mungkin maksudnya Save Our Student. Tapi kurang teliti. Atau memang kurang paham tata bahasa Inggris tingkat dasar banget.

Mengapa tidak pakai bahasa Indonesia saja? Atau bahasa Jawa? Mengapa memaksakan English yang tidak kita kuasai dengan baik? Mengapa pemerintah sendiri tidak menggunakan bahasa nasional seperti amanat undang-undang itu?

Koran masih laku di warkop

Libur akhir pekan ini diisi dengan nggowes jarak pendek. Tidak jauh dari Bandara Juanda. Lalu mampir ke warkop pinggir jalan. Nguping obrolan wong warkopan alias wong cilik.

Ada tema politik, dangdut koplo, hingga obat kuat. Ada bapak 70 tahun di Sidotopo ditangkap polisi karena nyabu. Obat kuat untuk melayani tiga istrinya. Kakek tua tapi kuat kawin.

"Wong lanang itu biasa lah," komentar pria asal Sedati.

Yang tidak biasa itu nyabu. Ketahuan ya ditangkap dan dibui. Tidak bisa lagi memberi nafkah lahir dan batin untuk tiga istri itu tadi. "Pusing dia di penjara. Wong nafsunya gede gitu," kata mas-mas yang lain.

Obrolan di warkop ini jadi hidup setelah mereka membaca Jawa Pos. Koran terkenal di Surabaya itu memang tersedia di sebagian besar warkop di Surabaya dan Sidoarjo. Meskipun pelanggan warkop kebanyakan lebih suka nebeng internet gratis.

Mengapa sampean langganan koran?

"Sampai sekarang masih dibaca langganan saya. Kalau mampir di warkop, mereka selalu tanya korannya mana," kata mas pemilik warkop.

Hidup warkop!
Hidup koran!
Ojo nyabu maneh!!!

22 March 2019

Artis Lawas Nyaleg di Sidoarjo

Anie Carera ternyata nama aslinya Tri Nuryani. Dua minggu ini gambarnya terpampang di pinggir jalan Sidoarjo. Tadi saya lewat Wonoayu, Krian, sampai Prambon. Tri Nuryani alias Anie Carera tampak tersenyum stabil. Menyapa pengendara yang lewat.

Tadinya saya pikir penyanyi top era 80an dan 90an ini caleg Partai Golkar. Sebab warna atribut kampanyenya dominan kuning. Setelah saya perhatikan dari dekat ternyata Partai Berkarya. Partai baru pimpinan Tommy Soeharto.

Anie Carera sempat nyalon wali kota tapi kalah, kata seorang teman. Rupanya naluri politiknya makin terasah. Kecanduan politik. Maka di nyaleg jadi calon anggota DPRD Jatim daerah pemilihan Kabupaten Sidoarjo.

"Tidak jelas apa pertimbangan Partai Berkarya menempatkan Anie di Sidoarjo. Anie justru lebih kuat di kawasan barat. Madiun, Magetan dsb," kata teman yang mantan politisi lokal.

Cukup banyak artis atau mantan artis yang nyaleg tahun ini. Beberapa maju lewat Sidoarjo. Anie Carera, Sundari Soekotjo ratu keroncong, kemudian Arzeti Bilbina top model 90an dan 2000an.

Arzeti yang juga anggota DPR RI dari PKB ini sangat sering ke Sidoarjo. Kemarin memberi motivasi kepada anak-anak untuk membaca buku. Zeti juga mengajari para duta wisata Sidoarjo.

Sundari Soekotjo juga belakangan rajin menyambangi komunitas musik keroncong. Minggu lalu ada acara keroncongan di Wunut Porong. Sanggarnya Mbah Soekarno sang budayawan dan pelukis senior.

"Puji Tuhan, Ibu Sundari Soekotjo bersedia menjadi pembina komunitas keroncong Sidoarjo, Kopirojo," kata Thomas Villanova, penggerak seni budaya Sidoarjo kepada saya.

"Kebetulan musim kampanye Pak Thomas... makanya Bu Sundari rajin dolan ke Sidoarjo. Cari suara lah," kata saya.

Sundari caleg DPR RI dari PKB. Sebelum nyemplung ke politik, pencalegan, Sundari Soekotjo tidak pernah aktif menghidupkan musik keroncong di Sidoarjo atau Surabaya atau Jawa Timur umumnya.

"Enggak masalah," kata Pak Thomas bos Omah Wayang Jenggolo Sidoarjo. "Bu Sundari itu penyanyi keroncong paling top di Indonesia. Kita ambil sisi positifnya saja," tambahnya.

Tidak mudah menang nyaleg di Sidoarjo yang masyarakatnya kawula Jenggolo yang kental nadiyin. Yang gampang menang adalah gus-gus anaknya kiai-kiai terkenal. Atau anaknya juragan tambak di pesisir timur yang ada 8 kecamatan. Dari Waru hingga Jabon di muara Sungai Porong.

Tapi bukan berarti orang luar tidak bisa menang. Buktinya Indah Kurnia dari PDI Perjuangan lima tahun lalu sukses melenggang ke Senayan dari dapil Surabaya-Sidoarjo. Padahal Indah Kurnia cuma penyanyi lokal Surabaya. Beda dengan Anie Carera yang dulu sangat beken di seluruh Indonesia.

Masalahnya, Anie Carera menggunakan Partai Berkarya sebagai kendaraan politiknya. Partai yang tidak punya massa di Sidoarjo.

Semoga artis-artis lawas ini lolos semua. Termasuk Ahmad Dhani yang lagi mondok di Rutan Medaeng, Waru.

20 March 2019

Tarif Via Vallen Rp 300 Juta?



Berapa biaya untuk mendatangkan Via Vallen?

Begitu pertanyaan seorang kenalan di Surabaya tahun lalu. Rupanya ada temannya kenalan itu yang serius mengundang penyanyi dangdut koplo dari Tanggulangin Sidoarjo itu.

"Kira-kira 100 juta lah. Via Vallen kan lagi di atas angin. Di puncak kejayaannya. Mungkin bayarannya paling mahal di Indonesia," jawab saya sekenanya.

Angka seratus itu sudah saya gelembungkan. Estimasi wajar 50an juta. Angka itu untuk Via Vallen thok! Belum biaya orkes atau band. Belum akomodasi, pesawat, dsb.

"Kalau gak salah honornya VV 150an," kata seorang teman.

Dia mengaku mendapat informasi A1 dari instansi penting di Sidoarjo. Mahal banget? Memang segitu honornya Via Vallen di tahun 2019 ini.

Akhirnya Rabu ini, 20 Maret 2019, ini saya baca koran Jawa Pos. Berita berjudul Gara-Gara Gagal Undang Via Vallen, Marketing Hotel Dilaporkan Manajemen. Ada Mas Ayu Rafdhian duduk di kursi terdakwa.

Ceritanya, manajemen Hotel Grand Surabaya berencana mendatangkan Via Vallen dan beberapa artis untuk pesta malam tahun baru lalu. Mas Ayu diberi uang Rp 298 untuk mendatangkan Via Vallen, Anji, dan DJ Yasmin.

Rinciannya honor Via Vellen Rp 100 juta, Anji 100, dan DJ Yasmin 25 juta. Hingga jelang acara tidak ada tanda-tanda ada deal dengan tiga artis itu. Ternyata tarif sesungguhnya lebih mahal, kata GM Grand Surabaya Agustinus Satriyo Utomo.

Khusus malam tahun baru honor artis-artis top melambung tinggi. Via Vallen 300 juta, Anji 200. "Saya baru bayar DP 65 juta," kata Mas Ayu yang didakwa menggelapkan uang perusahaan.

Gara-gara kasus ini kita sedikit banyak jadi tahu tarif artis papan atas. Khususnya Via Vallen. Kisarannya 100-300 juta.

Bisa jadi tarif penyanyi yang dikenal spesialis meng-cover lagu-lagu pop populer ini bisa naik terus hingga puncak piramida. Via Vallen kemungkinan masih bertahan sebagai artis koplo termahal. Paling tidak sampai dua tahun ke depan. Hingga muncul bintang baru yang lebih muda dan terang.

Pertanyaannya, apakah duit 300 juta atau 200 juta itu juga ditetesi juga ke komposer-komposer yang lagunya dinyanyikan saat pertunjukan? Hanya Via Vallen dan manajemennya yang tahu.

Yang pasti, Via Vallen saat ini jauh lebih makmur ketimbang artis-artis atau band yang di-cover. Hidup Via Vallen!

WFM Ananda Astri Harsono dari Sidoarjo

Olahraga yang satu ini jauh dari hiruk pikuk suporter. Sepi dari tepuk tangan. Tidak ada jegal-jegalan. Tidak ada tawuran. Atletnya tampak sangat serius. Berpikir, berpikir, dan berpikir.

Cogito ergo sum!

Ya... catur memang olahraga yang senyap. Karena itu, tidak banyak orang yang tahu nama-nama jawara catur di Indonesia. Apalagi juara catur tingkat provinsi atau kabupaten.

Bahkan, Mbah Google yang super sakti pun tak punya banyak informasi tentang jago-jago catur dari Sidoarjo. Kalau jagoan dangdut koplo Via Vallen yang rumahnya di Tanggulangin ada jutaan di Google.

Yang tahu nama-nama atlet catur hanyalah pengurus Percasi. Itu pun hanya pengurus yang murni orang catur. Bukan pejabat atau pengusaha yang "dipaksa" jadi pengurus agar cabang olahraga tidak kesulitan sponsor atau duit.

Nah, di Sidoarjo ini ada pemain catur putri yang prestasinya ciamik soro. Ananda Astri Harsono. Masih sangat muda. Siswi SMPN 1 Sidoarjo. Di depan namanya ada embel-embel WFM: Women Fide Master.

WFM bukan gelar sembarangan. Tidak sampai lima pecatur Jawa Timur yang berhak menyandang predikat ini. Gelar ini tidak diobral layaknya gelar-gelar akademik atau HC (honoris causa). Olahraga itu medan yang sportif... kecuali sepak bola Indonesia yang skornya bisa diatur oleh gerombolan mafia.

Akhir pekan lalu, Ananda Astri Harsono kembali melibas lawan-lawannya dalam kejuaraan catur Jatim. Ajang kualifikasi Pra Porprov 2019. WFM Ananda bahkan menumbangkan Nurul Afni Hanifah, pecatur andalan Percasi Jatim.

Dari 24 nama atlet catur yang lolos ke Porprov Jatim 2019, Sidoarjo hanya ada dua nama. Ananda Astri Harsono (peringkat 1 Jatim) dan Dziththaulya Ramadhani (peringkat 24).

"WFM Ananda ini memang andalan kita di porprov. Mudah-mudahan dia bisa dapat dua emas," kata Saiful Arif, pengurus Percasi Sidoarjo.

Berlaga di kelas U-16, Ananda kerap menumbangkan atlet-atlet yang usianya jauh lebih tua. Strategi bertanding dan ketenangannya pun sudah cukup matang. Itu yang membuat Ananda bisa dengan mudah mematikan langkah-langkah lawan.

Ananda pun sangat lihai di nomor catur cepat. Ini terlihat saat gadis periang ini menjadi juara turnamen catur cepat di GOR Sidoarjo. Turnamen yang diikuti jago-jago catur se-Jawa Timur.

"Ananda itu perlu terus dibina dan diberi kesempatan mengikuti kompetisi baik di dalam maupun luar negeri," kata Maruli Hutagalung. Mantan Kajati Jatim sering bikin kejuaraan catur di Surabaya dan Sidoarjo.

Usia Ananda masih sangat muda. Perjalanan karirnya di papan catur masih terbentang luas dan... panjaaaang. Ananda tetap bermimpi suatu saat bisa menjadi grand master.

Insya Allah!

Karunia Nur Gemilang Ratu Atletik Sidoarjo

Namanya bagus banget: Karunia Nur Gemilang. Cocok dengan prestasinya yang gemilang di cabang olahraga atletik. Karunia yang baru lulus SMAN Olahraga Jatim ini bakal menjadi andalan Kabupaten Sidoarjo di cabang atletik Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) pada Juli 2019.

Saat ini Nia terus berlatih, berlatih, dan berlatih. Hanya fokus untuk olahraga. Tidak lagi terbebani ujian nasional, ketinggalan pelajaran, dan urusan akademik lainnya.

Karunia Nur Gemilang atlet andalan Kabupaten Sidoarjo di cabang atletik. Pada Porprov 2015 di Banyuwangi, Karunia yang menyumbang medali emas pertama untuk Sidoarjo. Di nomor andalannya: lompat jangkit. Loncatannya sejauh 11,15 meter.

Saat itu Karunia masih atlet pemula. Belum duduk di bangku SMAN khusus atlet-atlet pelajar milik Pemprov Jatim di kawasan Buduran itu. Tapi cewek yang suka dengar musik ini sudah mampu mengalahkan atlet-atlet lain yang jauh lebih senior.

Saat ini Karunia yang lahir di Sidoarjo, 12 Februari 2001, sudah punya jam terbang cukup di lintasan atletik. Apalagi dia pernah mencatat prestasi membanggakan saat mewakili Indonesia di kejuaraan atletik remaja pada 2017 lalu.

"Saya dapat emas di Filipina dan Thailand," kata anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan Akhmad Nur Kholiq-Yunani Yusri ini.

Lantas, berapa targetmu di Porprov 2019 nanti? "Insya Allah, dua emas," ujar Karunia menjawab pertanyaan saya.

Dua emas itu dari lompat jangkit, nomor andalan, dan lompat jauh. Dan itu sudah dibuktikan dalam kejuaraan atletik Jatim Open di Surabaya akhir tahun lalu. Karunia menjadi yang terbaik di dua nomor itu.

Bahkan, ada peluang dapat tiga medali emas. Sebab Karunia juga kemungkinan ikut lari estafet 4x100 meter putri. "Kalau sprint, saya agak sedikit ketinggalan. Sidoarjo punya banyak sprinter bagus," katanya.

Bakat Karunia sebagai olahragawati memang sudah terlihat sejak anak-anak. Kemampuan larinya jauh di atas anak-anak normal. Maka Nia kemudian ditempa agar mengembangkan talenta di bidang olahraga. Kebetulan orang tuanya sangat mendukung.

Karunia Cilik pun giat berlatih. Bahkan dia biasa berlari dari rumahnya di Wonoayu ke Gelora Delta Sidoarjo untuk mengikuti latihan di lintasan atletik. Latihan fisik yang berat justru sangat dinikmati oleh gadis murah senyum itu.

Maka prestasi demi prestasi terus diukir sejak di bangku sekolah dasar dan berlanjut ke sekolah menengah pertama. Makin mantap lagi ketika Nia dapat kesempatan masuk Smanor Jatim. Sekolah berasrama yang menu utamanya adalah olahraga prestasi. Pelajaran, akademik, kisi-kisi unas bukanlah ranah Smanor.

Sejak itulah Karunia Nur Gemilang makin gemilang saja. Makin sering muncul di koran-koran. Jadi atlet andalan PASI pusat untuk kejuaraan junior.

Saya berharap Karunia bisa menyusul jejak Ifan Anugrah Setiawan. Rekannya di Smanor yang asli Buduran. Ifan sudah memperkuat Indonesia di SEA Games 2017 dan Asian Games 2018.

Meskipun belum dapat medali, Ifan Anugrah sudah bisa dipastikan bakal menjadi sprinter andalan merah putih beberapa tahun ke depan. Seperti Zohri dari NTB. Sesama atlet pelajar yang prestasinya sangat cepat melejit.

Karunia Nur Gemilang sudah berkorban banyak di lintasan atletik. Masa remajanya habis untuk olahraga. Memilih tidak kuliah dulu agar fokus di atletik.

"Mohon doanya semoga saya bisa lebih bagus lagi ke depannya," kata Karunia.

15 March 2019

Cak Sodiq Mantap di OM New Monata

Ada yang berbeda dari Sodiq. Dalam beberapa kali konser di Sidoarjo, gitaris dan vokalis dangdut koplo berambut gimbal itu membawa bendera OM New Monata. Personel orkes melayu (OM) yang dibawa Sodiq pun berbeda dengan OM Monata yang bermarkas di Desa Kandangan, Kecamatan Krembung.

 

Ada apa dengan Sodiq dan OM Monata?

 

Rupanya sudah enam bulan ini Sodiq cabut dari OM Monata. Pria asal Pandaan itu membentuk grup baru bernama OM New Monata.

 

"Yang penting, saya dan teman-teman masih bisa menghibur masyarakat. Dan tetap seduluran (dengan OM Monata)," ujar Sodiq yang punya karakter vokal khas itu.

 

Selama 23 tahun seniman yang akrab disapa Cak Sodiq itu identik dengan OM Monata. Dia kompak bekerja sama dengan Gatot Hariyanto membangun grup terkenal ini dari bawah hingga menjadi OM papan atas di Indonesia. Orkes ini melahirkan banyak penyanyi top di blantika dangdut koplo nasional. Sayang, kolaborasi selama 23 tahun itu harus berakhir.

 

Formasi lengkap OM Monata bersama Sodiq manggung terakhir kali pada 17 September 2018 di Subang, Jawa Barat. Pulang dari sana, mereka pamit lewat pesan pendek (SMS). "Show berikutnya yang tampil formasi baru," kata Gatot Hariyanto, manajer OM Monata.

 

Musisi yang hengkang dari Monata adalah Sodiq (vokal/gitar), Nono (gitar), Slamet (suling), dan Juri (kendang). Sedangkan tiga personel lainnya, Robi (kibor), Toni (bas) dan Hanafi (tamborin), memilih bertahan di OM Monata.

 

Apa penyebab utama Monata pecah?

 

Gatot enggan menjelaskan. Begitu juga Sodiq. Namun, sebagai manajer dan teman, Gatot mengaku sudah melakukan pendekatan dari hati ke hati. Termasuk mendatangi rumah Sodiq dan kawan-kawan. "Onok opo Rek, kok podo metu, kene kan wis gumbul 23 taun," kenangnya.

 

Apa boleh buat, keputusan Sodiq dkk sudah bulat. Setelah 23 tahun ngorkes bareng, akhirnya OM Monata benar-benar pecah. "Yang penting, kita tetap rukun, guyub, dan saling menghormati," kata Sodiq.

 

14 March 2019

Kangen main suling plastik


Siang tadi saya lihat anak-anak SD berlatih main recorder di kawasan Juanda Sidoarjo. Alat musik sejenis suling dari plastik. Recorder ini biasa dipakai untuk pengenalan nada-nada atau melodi.

Permainan anak-anak kampung ini masih jauh dari bagus. Nada-nadanya masih kacau. Pernapasan dan teknik meniupnya pun masih khas pemula. Tapi ada satu dua anak yang terlihat menonjol.

Aha... saya jadi kangen recorder. Dulu saya punya beberapa recorder. Ada yang plastik murahan, sedangan, hingga yang agak mahal. Buatan Jerman yang bagus. Tapi sudah tidak jelas keberadaannya kini.

Ternyata sudah lama banget saya tidak meniup suling londo itu. Gara-gara ada mainan baru yang bikin ketagihan. Youtube dan kawan-kawan di era digital. Jari-jariku pasti kaku kalau main recorder ala anak-anak sekolah itu.

"Latihan itu mutlak tiap saat. Ada atau tidak ada show ya harus nyebul," kata seorang pemain suling bambu di orkes dangdut Sidoarjo.

"Main musik atau melukis itu sama seperti makan, minum, kencing, berak...," kata Bambang Thelo, almarhum, pelukis yang juga pemain musik tiup - suling, harmonika, trumpet, saksofon.

Melihat anak-anak asyik main recorder, saya pun jadi kangen instrumen lawas itu. Ingin membeli lagi recorder murah. Lumayan untuk mengasah kepekaan meniti nada-nada, merangkai melodi, latihan pernapasan juga.

Setidaknya buat penawar candu modern di era digital.

09 March 2019

SD 9 Tahun, SMP Dihapus Saja

Isu yang lagi aktual sekarang adalah PPDB. Penerimaan peserta didik baru. Sudah dua minggu ini koran-koran di Surabaya membahas keresahan orang tua yang anaknya bakal masuk SMP dan SMA. Maklum, aturannya selalu berubah.

Posisi Mendikbud Muhadjir Efendy sudah jelas: menghapus sekolah favorit. Tidak mau anak-anak cerdas tumplek di segelintir sekolah. Semua sekolah (negeri) harus favorit. Maka nilai ujian nasional tidak lagi jadi kriteria PPDB.

"Sekolah terbaik itu sekolah dekat rumah. Seperti zaman saya SD dulu," kata Murpin Sembiring dari Dewan Pendidikan Jawa Timur yang dikutip koran pagi.

Aha... Bung Murpin Sembiring!

Rektor Universitas Widya Kartika Surabaya ini saya kenal baik. Lama tak ketemu. Dulu saya sering diajak blusukan ke sejumlah titik lampu merah di Surabaya. Advokasi dan penyuluhan HIV/AIDS.

Gara-gara ngurusin ODHA, Murpin sering diundang ke luar negeri. Paling sering ke Thailand. Negeri gajah putih itu paling banyak ODHA. "Banyak yang bisa kita pelajari di Thailand," katanya.

Setelah basa-basi sebentar, lalu kembali ke laptop. PPDB. Sekolah dekat rumah = sekolah terbaik. "Itu dulu Bung... dan cocok di luar Jawa. Khususnya NTT. Kalau di Surabaya atau Sidoarjo agak sulit. Masyarakatnya sangat kompleks," kataku.

Bung Murpin tetap sejalan dengan Menteri Muhadjir. Bahwa nilai unas atau NEM (istilah lawas) tidak bisa jadi rujukan. Dewan Pendidikan Jatim mendorong pemerataan mutu sekolah-sekolah. Kualitas sekolah di Benowo atau Kenjeran atau Gununganyar harus sama dengan di kompleks Wijaya Kusuma yang sangat kondang itu.

Pesan WA Bung Murpin:

"Semua yg dulu lebih baik... kembalikan seperti dolo.. spy murid tdk perlu bangun pagiii tanpa sarapan, tdk perlu kendaraan (bikin macet jln), resiko tabrakan, efisien, istirahat sekolah bs plg mkn dirmh. dolo..sedap bos... begitu hai anak domba yg hilang..wkk😃"

Waduh... tabrakan!

Pagi kemarin ada seorang siswi terlindas truk di jalan raya Dungus, Sukodono, Sidoarjo. Siswi MA itu buru-buru karena khawatir terlambat. Nabrak motor di depannya. Terlempar ke kanan. Disikat truk dari arah depan.

Saya lalu menyampaikan usulan lama kepada Bung Murpin. Saat saya masih mahasiswa. Sebaiknya SMP dibubarkan! SD dijadikan sembilan tahun. Kelas 1 sampai kelas 9 cukup di satu sekolah.

Jangan seperti sekarang. Anak SMP disebut kelas 7 sampai kelas 9, tapi esensinya sama seperti yang dulu. Tamat SD, orang tua pusing mencari SMP untuk anaknya. Kalau SD sistem 9 tahun, maka keruwetan PPDB tingkat SMP hilang dengan sendirinya.

Bagaimana dengan SMP-SMP yang ditutup itu? Gampang. Jadikan SMA atau SMK yang bagus. Eks guru-guru SMP disalurkan ke SD kelas 7 sampai 9.

Kurikulumnya perlu dipadatkan dan ditata ulang. Sehingga lulusan SD 9 tahun itu kualitasnya mendekati lulusan SMA yang sekarang.

Bagaimana Bung Murpin?

"Persis seperti di Malaysia dan negara-negara lain. Setuju," tulis pentolan Dewan Pendidikan Jatim ini.

Hehehe... Usulan iseng saya jaman old 90an ternyata direspons baik orang sekaliber Dr Murpin Joshua Sembiring. Padahal saya tidak punya konsep pendidikan, paedagogi, didaktik dsb.

Saya cuma prihatin dengan kondisi di NTT, khususnya Kabupaten Flores Timur dan Lembata dulu (dan rupanya masih berlaku sampai sekarang). Terlalu banyak orang yang berpendidikan terakhir SD. Lulus SD langsung merantau ke Malaysia. Khususnya Sabah di Malaysia Timur.

Anak usia 12 tahun sudah harus bergulat di dunia kerja. Berbekal ijazah sekolah dasar enam tahun. Bagaimana bisa bersaing dengan lulusan STM atau SMEA (istilah SMK zaman dulu)? Atau SMA?

Dulu, saya berpikir jika SD dijadikan sembilan tahun, maka anak-anak Flores yang PIGI MELARAT ke Malaysia usianya di atas 15 tahun. Meskipun tidak bisa masuk SMA, karena biaya dsb, wawasan dan pengetahuan remaja 15 tahun tentu lebih baik ketimbang 12 tahun.

Para orang tua di kampung pun bisa menemani anak-anaknya hingga 15 tahun. Bukan lulus SD langsung hilang. Dan peluang untuk pulang kampung cenderung tipis.

Betapa banyak rekan-rekan saya di SD dulu yang tidak pernah pulang ke kampung halamannya yang terpencil itu. Bekerja atau belajar, punya istri anak... dan adios.

"Saya titip aspirasi ke sampean. Agar diperjuangkan SD 9 tahun satu atap," kata saya kepada Dr Murpin Sembiring. "Biar PPDB-nya tidak ruwet macam sekarang."

Saya tidak sempat cerita tentang anak-anak SD di Nusa Tetap Tertinggal (NTT), maaf... Nusa Tenggara Timur, yang langsung cabut ke Malaysia karena tidak bisa lanjut ke SMP.

Bayangkan, di kecamatan saya (dulu) hanya ada dua SMP. Padahal, SD-nya ada 15. Jelas tidak mungkin bisa diserap semua lulusan SD di seluruh kecamatan. Makanya, sejak dulu saya mengusulkan lewat tulisan di surat kabar lokal agar semua SD dijadikan SD + SMP.

Sayang, kondisi pendidikan yang payah di luar Jawa, khususnya Indonesia Timur, ini tidak dipahami kemendikbud yang sangat Jawa-sentris. Apalagi menteri-menteri pendidikan era reformasi biasanya diisi politisi atau titipan ormas.

06 March 2019

Rabu Abu Tidak Terima Abu

Roh itu penurut tapi daging lemah. Ada niat untuk bangun subuh tapi gagal.

Badan atau daging ini terlalu capek. Baru terjaga pukul 05.20. Terlambat! Real Madrid baru saja dipermalukan Ajax Amsterdam 1-4.

Misa pagi Rabu Abu, 6 Maret 2019, dimulai pukul 05.30. Anjuran pater-pater Londo di NTT saat saya anak-anak: Setengah jam sebelum ekaristi kalian sudah ada di dalam gereja. Persiapan batin, berdoa, hening, lectio divina.

Apa boleh buat. Pagi ini tidak bisa ikut misa Rabu Abu. Awal masa puasa untuk Gereja Katolik sedunia. Masa pantang dan puasa selama 40 hari.

Gagal pigi gereja, saya membuka buku liturgi super lawas: Sembahjang Misa, edisi 1958. Liturgi dua bahasa: Latin dan Indonesia.

Dituliskan di buku klasik itu tentang pentingnya Rabu Abu. Memento homo, quia pulvis, et in pulverem reverteris!

Ingatlah hai manusia... bahwa engkau itu debu dan akan kembali menjadi debu!

"Waktu puasa adalah waktu penginsafan diri dan waktu bertobat," begitu pengantar tulisan tentang Rabu Abu.

Saya kemudian menghidupkan ponsel. Ama Paul yang asli Adonara NTT membagi renungan Paus Fransiskus tentang masa puasa dan pantang. Begini kata-kata Sri Paus:

Berpantanglah dari kata-kata yang menyakitkan.

Berpantanglah dari kesedihan dan penuhilah diri dengan rasa syukur.

Berpantanglah dari amarah dan penuhilah diri dengan kesabaran.

Berpantanglah dari rasa pesimis dan penuhilah diri dengan harapan.

Berpantanglah dari rasa khawatir dan percayalah pada Tuhan.

Berpantanglah dari komplain dan renungkanlah kesederhanaan.

Berpantanglah dari tekanan dan jadilah pendoa.

Berpantanglah dari kepahitan dan isilah hatimu dengan sukacita.

Berpantanglah dari mengutamakan diri dan jadi lebih memikirkan sesama.

Berpantanglah dari bersungut-sungut.

Berpantanglah bicara dan heninglah... agar anda bisa mendengarkan.

Hem... sama sekali tidak ada anjuran berpantang makan daging, ngopi, makan, nonton film, media sosial, nonton bola, dsb.

Selamat pantang dan puasa!

Hari Nyepi 2019 di Sidoarjo

Hiruk pikuk media sosial sering bikin kita lupa menghening. Sulit menemukan saat teduh di era medsos. Apalagi di tengah kegaduhan medsos yang dipenuhi hoaks dan ujaran kebencian.

Nah, di tengah hiruk pikuk itu, apalagi jelang pemilu legislatif dan pilpres, datanglah Nyepi. Hari tenang untuk menghayati keheningan. Manusia perlu menyepi. Menjauhkan diri dari hiruk pikuk media sosial, ujaran kebencian... meskipun hanya sesaat.

Rangkaian Nyepi di Sidoarjo dimulai dengan Melasti di petirtaan Jolotundo, Mojokerto, Minggu 3 Maret 2019. Sebagian umat Hindu di kawasan utara yang dekat Surabaya mengadakan ritual penyucian diri di pantai Tanjung Perak, Surabaya.

Rabu 6 Maret 2019, upacara Tawur Kesanga di Pura Krembung, Sidoarjo. Dilanjutkan dengan arak-arakan ogoh-ogoh. "Ada juga pembagian sembako untuk warga sekitar," ujar Sekretaris PHDI Sidoarjo Wayan Ascaya.

Wayan menambahkan, kegiatan menjelang catur brata penyepian itu juga mengundang muspika dan para tokoh lintas agama yang tergabung dalam FKUB Sidoarjo.

"Kita ingin tunjukan bahwa Sidoarjo ini masyarakatnya rukun, damai, toleran," katanya.

Puncak Hari Nyepi pada Kamis 7 Maret 2019. Umat Hindu melakukan ritual penyepian, meditasi, catur brata di rumah masing-masing. Puasa sepanjang hari.

Selamat Hari Nyepi!
Om swasti astu!

04 March 2019

Fanatisme Caleg Putra Daerah di Lembata

Pemilu sudah dekat. Banyak orang di Surabaya atau Sidoarjo yang belum tahu caleg yang bakal dicoblos. Khususnya calon anggota DPRD Sidoarjo/Surabaya dan DPRD Jawa Timur. Maklum, caleg-caleg ini tidak punya kedekatan dengan warga di daerah pemilihannya.

Siapa saja caleg untuk dapil Sidoarjo-Buduran?

Enggak tau, kata seorang ibu di warkop Desa Sidokerto, Kecamatan Buduran. Padahal ada beberapa poster caleg di dekat warkop itu. Fatma, cewek asli Banjarkemantren, juga tidak tahu nama-nama caleg yang mewakili Kecamatan Buduran.

Yang tahu hanya politisi, tim sukses, partai-partai, dan si caleg sendiri. Tentu saja KPU dan bawaslu paling tahu karena punya daftar nama-nama caleg untuk 6 dapil di Kabupaten Sidoarjo.

Caleg-caleg di kota besar di Jawa memang tidak punya kedekatan dengan rakyat. Kecuali caleg-caleg berlatar santri atau ormas Islam yang pasti dekat di hati komunitasnya. Sebagian besar caleg justru tidak punya akar di dapilnya.

"Kita berjuang saja Bung! Siapa tahu beruntung," kata caleg asal NTT yang mewakili Buduran. "Orang Jawa itu pintar-pintar, kritis. Mereka tidak melihat kamu itu putra daerah atau bukan," tambahnya.

Bung Paul yang asli Maluku juga nekat nyaleg di Sidoarjo. Meskipun sudah kalah dua kali. Sebagai pentolan partai kecil, bung ini sangat yakin bisa tembus kursi dewan. "Kita pakai pendekatan langsung ke grassroot. Tidak perlu gembar-gembor di media massa," katanya.

Peta politik lokal Darjo ini beda banget di NTT, khususnya Flores Timur dan Lembata. Saya amati sejak pemilu era reformasi, fanatisme kedaerahan + kesukuan makin menguat. Yang diutamakan adalah TITE HENA atau ATA LEWO. Alias putra asli kampung itu.

Bila ada putra kampung yang nyaleg, mengapa harus memilih ATA RAEN alias orang lain? Meskipun ada politik uang, orang kampung lebih suka memilih orang yang dikenal betul asal usulnya hingga nenek moyangnya. Sulit bagi caleg asal Adonara untuk mendapatkan suara di Lembata. Kecuali si Adonara itu istrinya orang Lembata, misalnya dari Kecamatan Atadei.

Bagi warga Pulau/Kabupaten Lembata, begitu pengamatan saya saat mudik, pemilu legislatif merupakan ajang untuk memilih wakil-wakil daerah untuk duduk di DPRD. Bukan memilih wakil partai. Maka orang kampung tutup mata dengan partainya si caleg. Apa pun partainya bukan masalah. Asalkan ada orang asli kampung yang maju.

Karena itu, jauh sebelum pencoblosan, orang sudah bisa mengetahui berapa suara yang bakal diperoleh caleg A di desa X, Y, Z. Caleg A tidak mungkin menang di desa B karena ada putra daerah yang sangat kuat. Prediksi orang kampung ini lebih akurat ketimbang lembaga-lembaga survei papan atas.

Si caleg sendiri pun sudah punya daftar nama-nama pemilih yang bakal mencoblosnya pada 17 April 2019. "Lengkap dengan nomor KTP dan KK. Kemungkinan kecil untuk meleset," kata seorang caleg dari Partai Gerindra.

Orang-orang kampung di pelosok NTT juga ternyata sangat melek politik. Mereka ingin ada orangnya yang masuk parlemen. Ini penting agar proyek-proyek pembangunan bisa masuk ke wilayah kecamatannya.

Bagaimana kalau ada 12 putra daerah yang bertarung di dapil? Padahal kursi yang tersedia cuma 5 biji? Diperebutkan caleg-caleg dari 3 kecamatan?

Rupanya ada semacam kearifan lokal. Tua-tua adat, kepala suku, tokoh masyarakat turun tangan. Kasih penerangan bahwa tidak mungkin suara rakyat yang mahal itu diecer ke 12 caleg. Harus ada 3 caleg unggulan yang diperjuangkan untuk masuk parlemen.

"Caleg yang masih muda, 30an tahun, biasanya diminta mengalah dulu. Anggap saja pemilu kali ini untuk magang atau latihan. Dia disiapkan untuk satu atau dua pemilu lagi," kata teman saya yang melek politik di kampung.

Caleg-caleg juga diminta buka kartu. Berapa banyak sih jumlah dukungan yang sudah diperoleh? Kalau angkanya sangat kecil, jauh di bawah harga kursi, diminta mengalihkan dukungan ke caleg unggulan.

"Kalau tidak ada caleg yang mau mengalah, pasti semua caleg putra daerah akan kalah. Berarti kita tidak punya orang di DPRD," katanya.

01 March 2019

Stunting Itu TENGKES atau Kerdil

Kata stunting makin sering muncul di media cetak dan daring. Ibu-ibu PKK di Sidoarjo minggu lalu juga bicara tentang stunting. Jangan sampai ada anak stunting di Sidoarjo, pesan Bu Ani ketua PKK.

Stunting itu apa?

Ibu-ibu PKK pasti paham. Anak-anak yang mengalami gangguan pertumbuhan karena gizi buruk. Ibunya kurang gizi, anaknya jadi kerdil.

Orang-orang cebol itu juga stunting? Yang sering dilibatkan jadi pelawak di televisi itu? Enggak mesti, kata Ratna, bu dokter di salah satu puskesmas di Sidoarjo.

Saya lebih tertarik ke kata STUNTING?

Kata bahasa Inggris itu mestinya dicarikan padanan dalam bahasa Indonesia. Dulu saya pernah ganti dengan kerdil. Stunting: kekerdilan. Tapi ada pewarta senior yang bilang kurang pas. Stunting tidak sama persis dengan kekerdilan atau kecebolan.

"Pelawak-pelawak cebol itu bisa jadi karena faktor genetika. Bukan kurang gizi. Sebab banyak pelawak atau seniman cebol yang orang tuanya sangat mampu," kata bekas redaktur.

Lalu, apa kata Indonesia yang pas? "Belum ketemu," katanya.

Lama-lama kan ketemu juga. Contoh: gadget jadi gawai. Upload: unggah. Download: unduh.

Pagi ini ada berita kecil, satu kolom, di Kompas. "Peneliti LIPI mengembangkan varietas unggul singkong untuk menurunkan risiko stunting atau tengkes....," tulis Kompas.

Koran terbitan Jakarta ini memang paling sering menghidupkan kata-kata mati atau arkaik. Kompas yang pertama kali menggunakan PETAHANA sebagai pengganti incumbent. Atas masukan mendiang Dr Anton M. Moeljono, kepala Badan Bahasa.

Saya ingat-ingat TENGKES. Lalu buka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tengkes: kerdil, tidak dapat tumbuh menjadi besar.

Mudah-mudahan kata tengkes ini berterima dan lekas meluas. Sebab kata stunting sangat sulit diucapkan lidah nusantara. Jauh banget dari ucapan penutur asli English macam Mr Obama atau Mr Trump. Stunting dibaca seperti membaca kata-kata Indonesia kayak sinting atau sunting.

Kata atau frase lain yang tiap hari muncul di koran-koran Surabaya adalah frontage road (FR). Pernah ada yang pakai istilah jalan pendamping untuk FR. Tapi rupanya belum berterima.

Semoga pemerintah tidak lagi obral istilah-istilah asing yang tidak perlu. Mengapa harus stunting kalau ada tengkes dan kerdil? Orang-orang tempo doeloe yang fasih banyak bahasa justru lebih tertib berbahasa. Mereka bikin istilah yang sederhana: persatuan sepakbola, berat jenis, gaya tarik bumi, ilmu hayat, ilmu pasti, ilmu bumi, dsb.