28 February 2019

Lapangan Perbakin Sidoarjo Dihajar Puting Beliung

Sidoarjo punya cukup banyak atlet dan penghobi olahraga menembak. Namun, sampai saat ini Perbakin Sidoarjo belum memiliki lapangan menembak untuk latihan dan pertandingan.

Karena itu, Perbakin Sidoarjo mencoba membangun sebuah lapangan menembak sederhana di Desa Banjarsari, Kecamatan Buduran. Lapangan yang berlokasi di dekat Kantor Desa Banjarsari itu sudah hampir selesai. Sayang, belum lama ini temboknya ambruk karena terjangan angin puting beliung.

"Ada beberapa bangunan di Banjarsari yang jadi korban puting beliung. Salah satunya lapangan tembak," kata Ketua Harian Perbakin Sidoarjo Sochibul Yanto.

Pria yang juga kepala Desa Banjarsari enggan membeberkan kerugian material yang diderita. Dia menerima kejadian ini sebagai musibah. Pihak Perbakin bakal melakukan pembangunan ulang sambil evaluasi.

"Semua kejadian pasti ada hikmahnya," kata Yanto.

Kades yang sangat hobi olahraga menembak ini mengaku sudah lama ingin memiliki lapangan tembak di Kota Delta. Sebab, selama ini para atlet maupun komunitas menembak selalu berlatih di Surabaya. Khususnya di lapangan tembak milik Kodam V Brawijaya.

Karena itu, Yanto pun bersedia menyumbang lahan miliknya untuk dibangun lapangan tembak. Dengan begitu, olahraga menembak bisa lebih memasyarakat di Kabupaten Sidoarjo. "Anak-anak bisa berlatih di sini," katanya.

Peletakan batu pertama dilakukan pada 15 Oktober 2017 setelah terbentuk pengurus Perbakin Sidoarjo yang baru. Meski tidak luas, proses pembangunan lapangan tembak itu tidak mudah. Ini karena tanah bekas sawah yang digunakan perlu diuruk lebih dahulu. Belum lagi persoalan material dan kesibukan pengurus di tempat kerja masing-masing.

Yudi Sumono, pengurus Perbakin Sidoarjo, menambahkan, lapangan tembak di Banjarsari, Buduran, itu bisa dimanfaatkan para atlet menembak di Kabupaten Sidoarjo. Khususnya tembak sasaran dan tembak reaksi.

"Mudah mudahan dari lapangan ini akan lahir atlet-atlet muda berbakat yang bisa mengharumkan nama Kabupaten Sidoarjo," katanya.

Lantas, kapan lapangan tembak di Banjarsari ini dibangun kembali?

Sochibul Yanto belum bisa memastikan. Sebab, saat ini masih musim hujan dan potensi angin puting beliung cukup tinggi di Kota Delta.
"Yang pasti, target kita di pekan olahraga provinsi (porprov) tidak berubah. Setidaknya dua medali emas untuk Sidoarjo," kata Yanto.

Taman Sekar Wangi - Tionghoa Sepanjang dan Karangpilang

Kelurahan Sepanjang, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, bertetangga dengan Kelurahan Karangpilang, Surabaya. Kedua kawasan itu hanya dipisahkan oleh Sungai Brantas kurang lebih 50 meter saja. Pemerintah Hindia Belanda membangun jembatan untuk menghubungkan Sepanjang dan Karangpilang.

Jembatan tua itu sempat ditutup karena keropos. Lalu dibangun jembatan baru. Tapi belakangan pemerintah mengganti jembatan lama peninggalan Belanda. Maka Sepanjang-Karangpilang kini punya dua jembatan yang kokoh.

Meskipun berbeda kabupaten/kota, hubungan masyarakat di Sepanjang dan Karangpilang sangat dekat. Orang Karangpilang lebih sering belanja di Pasar Sepanjang. Orang Sepanjang sendiri sangat jarang ke Sidoarjo karena terlalu jauh. "Kecuali ada urusan penting seperti SIM, BPKB, catatan sipil, dan perizinan lainnya," kata Arli warga Sepanjang.

Masyarakat keturunan Tionghoa di Sepanjang dan Karangpilang pun sering mengadakan kegiatan sosial. Mereka bikin perkumpulan Taman Sekar Wangi. Artinya, Taman Sepanjang Karangpilang.

Bingky Irawan, tokoh Tionghoa di Kecamatan Taman, adalah salah satu tokoh Taman Sekar Wangi. Dia bercerita, sejak dulu warga Tionghoa di wilayah Sepanjang selalu menjalin kerja sama yang erat dengan warga Tionghoa di Karangpilang, Kota Surabaya. Banyak yang bikin usaha bersama. Bahkan terjalin ikatan asmara hingga membentuk rumah tangga yang bahagia.

Setelah reformasi, khususnya di masa pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), warga Tionghoa makin antusias mendirikan organisasi atau perkumpulan di bidang sosial, budaya, pendidikan, dan sebagainya. Nah, kerja sama warga Tionghoa Sepanjang-Karangpilang yang terjalin sejak dulu itu kemudian diformalkan dalam bentuk organisasi sosial pada 2005.

"Namanya Taman Sekar Wangi. Taman itu karena markasnya di Kecamatan Taman, sedangkan Sekar singkatan dari Sepanjang-Karangpilang," tutur Bingky Irawan.

Pengusaha yang juga tokoh agama Khonghucu ini tak menyangka Taman Sekar Wangi ini disambut antusias warga Tionghoa di Sepanjang dan Karangpilang. Sebab, waktu itu para pengurus sangat aktif mengurusi kematian keluarga anggota perkumpulan.

"Makanya, sejak dulu Taman Sekar Wangi identik dengan rukun kematian. Perkumpulan yang sibuk kalau ada warga Tionghoa di Karangpilang dan Sepanjang yang meninggal dunia," ujarnya.

Dalam perjalanannya, menurut Bingky, para anggota sepakat agar Taman Sekar Wangi tak hanya melulu ke urusan kematian. Begitu juga lingkup wilayahnya diperluas, tak hanya di Sepanjang-Karangpilang, tapi juga di kawasan Sidoarjo yang lain.

"Akhirnya, Taman Sekar Wangi menjadi perkumpulan yang tidak eksklusif untuk warga Tionghoa, tapi multietnis. Lebih fleksibel," tutur Bingky.

Karena kesibukannya di Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin), Bingky Irawan tak lagi menangani Taman Sekar Wangi. Apalagi dia melihat perkumpulan ini makin lama makin berkembang dan diminati warga Tionghoa di kawasan lain.

Pengusaha HM Handoko yang tinggal di Sedati membenarkan keterangan Bingky Irawan. Handoko bahkan dipercaya menjadi ketua Taman Sekar Wangi hingga sekarang.

"Jadi, perkumpulan ini sudah lebih terbuka dan berkembang ke mana-mana. Tapi kami tetap fokus di kegiatan sosial," kata pria yang juga penasihat Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Kabupaten Sidoarjo itu.

Meskipun cikal bakalnya perkumpulan warga Tionghoa di Sepanjang-Karangpilang, bagi Handoko, Taman Sekar Wangi ini ibarat taman bunga yang indah karena ditumbuhi aneka macam kembang. Sebagai muslim Tionghoa, dia merasa bisa bergaul akrab dengan Bingky Irawan yang Khonghucu dan anggota Taman Sekar Wangi yang berbeda-beda agama.

"Orang Tionghoa itu sudah biasa kalau dalam satu keluarga agamanya macam-macam. Toh, bisa hidup rukun karena sama-sama saling menghormati," kata Handoko.

Handoko ingin agar Taman Sekar Wangi lebih banyak melakukan kegiatan sosial untuk warga kurang mampu di Kabupaten Sidoarjo. Bukan cuma sekadar membagi sembako atau bingkisan Lebaran, tapi juga memberikan beasiswa kepada anak-anak yang kurang mampu.

"Jadi pengusaha itu tidak melulu bisnis, cari duit, tapi ada kepedulian kepada kaum duafa. Itu yang selalu saya tekankan di Taman Sekar Wangi," tegasnya.

26 February 2019

Buta rute angkutan umum

Kalau ke Gresik dari Terminal Purabaya, Bungurasih, naik apa?

"Gampang. Gojek atau taksi online. Buanyaaak banget ojol yang antre di jalan raya sekitar Bungurasih," kata Pipin, warga Janti, Waru.

Bukan. Kenalan saya ini hanya mau naik angkutan umum. Bisa bus kota, damri, mikrolet, angkot dsb. Kalau ojek atau taksi online, siapa yang tidak tahu? Apalagi kenalan yang sangat melek internet?

Pipin tidak bisa jawab. Bahkan dia sudah bertahun-tahun tidak masuk ke Terminal Purabaya di Desa Bungurasih, Kecamatan Waru, itu. Sebab dia naik sepeda motor atau mobil ke mana-mana. Sesekali numpang taksi atau ojek online.

Pertanyaan sama saya ajukan ke 4 orang lain. Jawabannya sama: tidak tahu. "Pakai Grab aja. Ngapain pakai bus di Bungurasih yang jadwalnya gak jelas? Hari ini kok masih mau naik angkutan umum?" kata seorang bapak 50an tahun agak ketus.

Begitulah. Sudah lama warga Sidoarjo dan Surabaya tidak pakai angkutan masal. Sebagian besar punya kendaraan pribadi. Motor dan mobil memenuhi jalan raya. Kemacetan makin parah. Khususnya setelah Bundaran Waru, masuk Kabupaten Sidoarjo. Sebab, sampai sekarang Pemkab Sidoarjo belum berhasil membebaskan lahan untuk frontage road Waru-Jenggolo.

Kembali ke pertanyaan awal. Ke Gresik naik apa di Purabaya?

Mau tidak mau, kita berpaling ke Mbah Google. Lumayan, ada informasi meskipun sepotong. Kebetulan ada beberapa bloger (tidak sampai 5) yang berbagi pengalaman di internet.

Betul dugaan saya. Naik bus di Purabaya alias Bungurasih menuju ke Terminal Osowilangun. Lokasinya tidak seberapa jauh dari perbatasan Surabaya-Gresik.

"Di Osowilangun pasti ada angkot ke Gresik. Kalau gak ada ya pakai ojek aja," begitu saran saya kepada kenalan asal luar Jawa itu.

Naik lin apa di Osowilangun? Tidak tahun. Sudah tujuh tahun saya tidak mampir ke Osowilangun. Dulu mampir sejenak untuk meliput kunjungan pejabat dari Jakarta. Bukan mampir untuk menumpang angkutan publik.

Syukurlah, mbah Google punya jawaban. Ada 2 macam lin yang bisa ditumpangi ke Gresik. Tinggal pilih sesuai dengan tujuan terdekat di kota pudak itu. Biayanya mungkin tidak beda jauh dengan gojek atau ojek pangkalan.

Pertanyaan sederhana seorang kenalan ini bikin malu kita orang. Ternyata saya yang hampir tiap hari lewat di sekitar Terminal Purabaya, Bungurasih, tidak tahu sama sekali trayek-trayek dalam kota, antarkota tetangga, atau antarprovinsi.

"Pakai taksi aja. Banyak taksi lawas dan online yang mangkal di terminal, pelabuhan, atau bandara. Ngapain pakai bus kota atau angkot?"

Omongan Pipin dari Janti ini persis saya dengan omongan saya. Dari dulu saya tidak pernah rekomendasi naik bus di Bungurasih. Saya seperti lupa bahwa Terminal Purabaya sejatinya sudah menyediakan kendaraan umum ke berbagai jurusan. Apalagi kota tetangga seperti Gresik.

25 February 2019

Salah Kaprah Turis, Bule, Londo

Catatan Samsudin Adlawi di Jawa Pos Minggu, 24 Februari 2019, ini memang betul. Ada salah kaprah yang parah di masyarakat ihwal kata LONDO, BULE, dan TURIS.

Di pelosok NTT (Nusa Tenggara Timur, bukan Nusa Tetap Tertinggal), sejak saya anak-anak, kata TURIS identik dengan orang kulit putih. Orang Eropa yang pesiar atau jalan-jalan ke kampung di Flores atau Lembata disebut turis. Beda dengan pater atau pastor.

Para misionaris asal Eropa macam Pater Petrus M. Geurtz SVD dan Pater Willem Van der Leur SVD yang dulu bertugas di paroki kampung saya tidak pernah disebut turis. "Mereka itu pater, bukan turis. Kalau turis itu kan cuma pesiar beberapa hari saja," kata Frans orang Lembata.

Bagaimana dengan orang Malaysia atau Thailand, Tiongkok, India, Vietnam dsb yang pesiar ke NTT? Ternyata tidak disebut turis. Turis itu hanya orang Barat saja. Khususnya manusia-manusia putih.

Wisatawan asal Jawa atau Bali atau Kalimantan?

Juga tidak dianggap turis. Meskipun dia yang mendampingi orang Eropa jalan-jalan mengisi liburan di kampung pelosok dan tertinggal itu. "Orang Jawa ya orang Jawa. Bukan turis," kata Frans lagi.

Kata LONDO dan BULE tidak dikenal di NTT, khususnya di Pulau Flores dan Pulau Lembata. Bule ya turis putih itu tadi.

Di Rusunawa Puspa Agro, Jemundo, Sidoarjo, ada sekitar 300 imigran pencari suaka. Mereka berasal dari Afganistan, Pakistan, Somalia, Myanmar, dan beberapa negara Asia yang sedang dilanda konflik. Pengungsi asal Afrika kulitnya hitam legam. Persis air kopi.

"Itu bule dari Somalia. Coba kamu ajak bicara pakai bahasa Inggris," kata Mbak Sri, pemilik salah satu warkop di Rusunawa Puspa Agro.

Bule? Orang hitam legam macam itu kok disebut bule?

Bagi saya, istilah bule hanya cocok untuk kulit putih. Presiden Obama bukan bule. Presiden Trump bule tulen. Bintang timnas Inggris, Sterling, bukan bule karena kulitnya hitam. Ruud Gullit memang LONDO (Belanda) tapi bukan bule.

Mbak Sri dan banyak warga lain menggunakan BULE untuk semua warga negara asing. Padanannya LONDO. Jadi, LONDO itu tidak hanya untuk orang Belanda saja. Orang Prancis, Inggris, Swedia, Denmark, Jerman dsb juga disebut londo.

Ada juga istilah LONDO IRENG. Aslinya untuk menyebut orang Indonesia yang jadi kaki tangan Belanda tempo doeloe. Bisa orang Maluku, Manado, Jawa, dsb. Tapi saya tidak pernah mendengar Mbak Sri menyebut rombongan imigran hitam asal Afrika di Sidoarjo dengan londo ireng.

"Pokoknya mereka itu bule. Mau hitam, putih, kuning... ya bule," kata Sri.

Bagaimana dengan Zow Min, imigran asal Myanmar, yang potongan dan warna kulitnya persis orang Jawa? Bule juga? "Pokoke bule," katanya rada ketus.

Kesimpulan Samsudin Adlawi:

"Kreativitas berbahasa bangsa ini telah melahirkan banyak istilah baru. Namun, dalam praktiknya, penggunaan istilah-istilah baru itu sering menunjukkan kegagapan dalam berbahasa yang baik dan benar."

24 February 2019

Ketika gawai menjadi candu baru

Diet gawai. Isu ini kerap muncul di surat kabar dalam dua bulan terakhir. Gawai alias gadget sudah jadi candu baru di masyarakat.

Orang modern seakan tak bisa hidup tanpa gawai. Bangun tidur ambil ponsel. Mau tidur pun gawai jadi teman. Tidur sambil menikmati media sosial atau nonton youtube.

".. sebagian orang saat berhubungan suami istri, gawai sulit lepas dari tangan," tulis Kompas 6 Januari 2019.

Luar biasa memang gawai ini. Gereja-gereja bahkan sejak lama memasang pengumuman agar jemaat mematikan HP selama misa atau kebaktian. Itu ketika HP belum sepintar sekarang. Media sosial belum masif.

Gara-gara gawai pula saya makin sulit menyelesaikan baca buku. Novel Malaikat Lereng Tidar karya Remy Sylado belum juga tamat. Padahal saya mulai baca sejak tiga bulan lalu. Sekarang baru sampai 348 halaman. Novel ini tebalnya 542 halaman. Kurang 194 halaman.

Kapan tuntas ini novel? Entahlah. Tidak mudah karena kemampuan saya untuk membaca buku-buku tebal menurun drastis. Apalagi buku-buku yang isinya agak berat macam karya Remy Sylado atau Pramoedya atau STA.

Gawai juga membuat obrolan di warkop yang gayeng tak ada lagi. Begitu duduk, pesan kopi, tanya sandi wifi. Selanjutnya sibuk sendiri-sendiri main ponsel. Cuma pesan segelas kopi, tapi nongkrong bisa dua jam.

Gara-gara gawai tandon air itu lupa dibersihkan. Padahal tidak sulit. Kurang dari satu jam selesai. Tapi ya itu.. candu gawai membuat kerja fisik yang sebetulnya sederhana seperti menyapu, cabut rumput, ngepel, merapikan kursi pun jadi sangat berat.

Maka, seruan untuk diet gawai sangat patut diperhatikan. Gawai yang sejatinya punya sisi manfaat begitu banyak bisa jadi bencana ketika kita sudah kecanduan.

23 February 2019

Menonton Wayang Kulit Ki Anom Suroto

Semalam saya nonton wayang kulit di Pendapa Delta Wibawa Sidoarjo. Ki Anom Subroto dan putranya, Ki Bayu Aji Pamungkas, ditanggap untuk memeriahkan hari jadi ke-160 Kabupaten Sidoarjo. Setiap tahun Ki Anom selalu mengisi pertunjukan di pendapa.

"Mengapa Ki Anom? Karena Ki Anom ini penggemarnya paling banyak di Sidoarjo," kata Bupati Saiful Ilah.

Selama lima tahun periode kebupatiannya, Abah Saiful selalu nanggap dalang berusia 70 tahun itu. Tiga tahun periode kedua juga begitu. Total delapan kali sudah Ki Anom menghibur penggemar wayang kulit di Sidoarjo dan sekitarnya.

Masyarakat Sidoarjo ini campuran santri dan tradisional Jawa. Penggemar wayang kulit ternyata sangat banyak. Penonton sampai meluber ke jalan raya. "Kami selalu usahakan nonton Ki Anom kalau ada kesempatan," ujar seorang bapak dari Lumajang yang datang berombongan.

Penggemar Ki Anom Suroto dari kota-kota lain pun berdatangan ke Sidoarjo. Tak ingin melewatkan pergelaran sang dalang kondang nomor satu di Indonesia itu. Ki Mantheb nomor berapa?

"Ki Anom memang nomor satu," kata Pak Ahmad dari Buduran. Suluk dan sabetannya istimewa. Beda dengan dalang lain yang terputus-putus dan rada fals. "Anaknya Ki Anom bagus di adegan perang," kata orang Buduran itu.

Pertunjukan diawali aksi dua dalang bocah asal Sidoarjo. Ki Dimika dari Magersari dan Ki Danes dari Krembung. Bocah-bocah Sidoarjo memang punya bakat mendalang. Sering menang di festival wayang bocah Jawa Timur.

Pukul 21.00 baru pembukaan wayang kulit Ki Anom Suroto. Sambutan panitia, sambutan Bupati Saiful Ilah dan penyerahan gunungan. Lalu Ki Anom Suroto mulai unjuk kebolehan olah suara. Suluk magis menghidupkan wayang-wayang yang ditancapkan di gedebog pisang.

Seperti biasa--dan ini jadi tren kesenian tradisional belakangan ini--adegan yang paling ditunggu penonton adalah dagelan. Pelawak-pelawak jadi bintang. Cak Tawar yang asli Sidoarjo mengocok perut penonton berkat kelihaiannya mempermainkan sinden genit Wiwid Hidayati dari Solo.

Banyolan lawas dan agak baru dioplos sukses membuat penonton terbahak-bahak. Sesekali bupati dan wakil bupati juga digojlok pelawak. Gayeng. Sampai lupa kalau sudah berganti hari.

Setelah goro-goro, dagelan, berganti adegan perang. Gantian Ki Bayu Aji menggantikan bapaknya. Bayu Aji sangat energetik. Perang berlangsung seru. Wayangnya jungkir balik.. ciahahaha....

Menonton wayang kulit, setidaknya bagi saya, tidak perlu memahami semua kata-kata ki dalang. Mulai bahasa ngaka yang kasar hingga bahasa super halus ala raja-raja dunia pewayangan. Dengan melihat gerak-gerik wayang saja, kita sudah bisa menebak pesan-pesan ki dalang.

Wahyu Katentreman! Begitu judul lakon yang dimainkan Ki Anom Suroto + Ki Bayu Aji. Ki dalang berharap Kabupaten Sidoarjo aman, tentram, dan terus maju di bawah pimpinan Bupati Saiful Ilah.

22 February 2019

PITI Sidoarjo Masih Adem Ayem

Cukup banyak warga Tionghoa di Sidoarjo yang beragama Islam. Angkanya cenderung naik dari tahun ke tahun. Maklum, begitu banyak perumahan yang ada di Kabupaten Sidoarjo. Warga dari luar kota petis pun akhirnya memilih menjadi warga Kabupaten Sidoarjo.

Namun, hingga saat ini belum banyak orang Tionghoa beragama Islam yang aktif di Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Kabupaten Sidoarjo. Akibatnya, ormas keagamaan yang eksis di Kota Delta sejak awal reformasi itu cenderung stagnan.

Poo Tjie Swie alias HM Handoko, penasihat sekaligus perintis PITI Sidoarjo, mengatakan pada tahun-tahun awal PITI Sidoarjo ini sering menggelar kegiatan sosial keagamaan di berbagai kawasan Sidoarjo. Mulai dari pengajian, bakti sosial, perayaan hari besar Islam, hingga buka puasa dan santunan kepada anak yatim setiap bulan Ramadan. Namun, lama kelamaan banyak anggota yang tidak aktif karena sibuk dengan bisnisnya. Bahkan, beberapa pengurus pun kurang aktif dalam kegiatan rutin organisasi.

"Maklum, PITI ini anggotanya para pengusaha yang memang sangat sibuk. Kalau kita bikin acara, ada beberapa anggota yang bisa, tapi lebih banyak yang tidak bisa," katanya.

Selain itu, sampai sekarang PITI Sidoarjo belum memiliki gedung untuk sekretariat atau kantor. Rumah kediaman salah satu pengurus terpaksa jadi sekretariat. Beda dengan PITI Surabaya yang punya kantor bagus di kompleks Masjid Cheng Hoo yang terkenal itu.

"Makanya, jadi pengurus PITI itu harus banyak pengorbanan. Mulai dari waktu, tenaga, pikiran, dan dana," kata pengusaha di kawasan Sedati, dekat Bandara Internasional Juanda, itu.

Karena belum punya gedung itulah, selama ini Handoko dan kawan-kawan lebih banyak mengikuti kegiatan PITI Jawa Timur yang bermarkas di Masjid Cheng Hoo Surabaya. Bimbingan untuk para mualaf, rapat organisasi, hingga silaturahmi pun dilakukan di Surabaya. Ini juga karena para pengusaha Sidoarjo lebih banyak membangun jaringan dengan sesama pengusaha di kota pahlawan itu.

"Kalau ada kegiatan di Masjid Cheng Hoo, kita selalu datang. Apalagi jarak Sidoarjo dengan Surabaya kan sangat dekat," katanya. Handoko sendiri lebih sering salat Jumat di Masjid Cheng Hoo Surabaya.

Saat melantik Handoko sebagai ketua umum DPD PITI Kabupaten Sidoarjo pada 2004, Bupati Sidoarjo Win Hendrarso sempat menjanjikan akan menyumbang lahan fasum untuk dikelola PITI. Dibuatkan masjid berarsitektur Tionghoa macam Masjid Cheng Hoo di Surabaya atau Pandaan. Handoko dkk juga sempat presentasi di pendapa kabupaten. Sayang, sampai Bupati Win Hendrarso lengser setelah berkuasa dua periode lahan untuk masjid dan sekretariat PITI Sidoarjo masih sebatas angan-angan belaka.

Bupati Win Hendrarso kemudian diganti wakilnya, Saiful Ilah. Pengusaha tambak asli Sawohan Buduran ini sahabat akrab Handoko. PITI pun berharap bisa mendapat bantuan lahan fasum yang pernah dijanjikan mantan bupati.

"Tapi ya sudahlah... terserah Pak Bupati dan Pemkab Sidoarjo. Kalau bisa terealisasi (Masjid Cheng Hoo), alhamdulilah. Kalau belum bisa ya alhamdulillah," kata Handoko dengan nada pasrah.

21 February 2019

Pelajaran dari Disway Dahlan Iskan

Bersamaan dengan Hari Pers Nasional, 9 Desember 2019, Dahlan Iskan mengadakan perayaan ulang tahun pertama Disway di Surabaya. Blog pribadi Dahlan Iskan. Setelah lengser jadi menteri BUMN dan tidak lagi mengurus koran, Dis (sapaan dan kode Pak Dahlan di Jawa Pos dulu) menjadi orang bebas.

Bebas melancong ke Tiongkok, USA, Taiwan, keliling Indonesia, menghadiri undangan seminar dan pengajian. Pria 67 tahun ini tetap gesit meskipun ganti hati di Tiongkok. Setiap hari disiplin minum obat agar liver baru itu tidak ditolak tubuhnya.

Hebatnya, di tengah kesibukannya, Dis justru makin produktif menulis. Kalau dulu seminggu sekali di koran, edisi Senin, sekarang setiap hari. Di blog pribadinya disway.id. Pukul 05.00 sudah ada tulisan baru. Dus, para penggemar Catatan Dahlan Iskan lebih puas karena tidak perlu beli koran dulu untuk membaca tulisan Dis yang khas itu.

Dis berbeda dengan bloger-bloger lama di tanah air. Bloger kita biasanya menulis suka-suka. Kadang sekali seminggu, dua kali seminggu, dua minggu sekali, atau sebulan sekali. Bahkan banyak bloger lama yang tidak lagi update tulisannya. Termasuk AH, wartawan senior, yang dulu aktif mendorong reporter-reporter muda untuk bikin blog.

Disiplin Dis memang luar biasa. Tiada hari tanpa tulisan baru. Sehari cukup satu artikel. Tapi rutin. Beda dengan blogger lain yang sehari kadang 4 atau 5 artikel, kemudian libur dua minggu atau dua bulan.

Mengapa disway bisa terbit tiap pagi? Dahlan Iskan menulis:

"Soal Disway terbit tiap pagi hari, rasanya akan saya pertahankan. Saya setuju: ini masih terbawa budaya cetak. Harus terbit pagi. Belum budaya digital. Yang bisa menulis kapan saja dan terbit saat itu juga.

"Tapi saya punya pertimbangan lain: ingin mendisiplinkan diri. Kadang orang harus 'dipaksa' untuk konsisten. Saya sengaja mengikatkan diri dengan komitmen itu. Saya yakin ini: orang yang biasa terikat dengan komitmen akan memperoleh kepercayaan.
Padahal kepercayaan adalah modal utama hidup. Bukan uang.

"Mungkin saja saya terlalu khawatir. Kalau saya boleh nulis kapan saja dan terbit kapan saja hasilnya bisa tidak menulis sama sekali. Merasa tidak terikat komitmen. Dan itu memang enak. Nyaman. Tidak ada pressure. Tidak stres. Tapi lantas untuk apa hidup?

"Saya masih belum bisa menemukan cara baru mengikatkan diri pada komitmen. Mungkin saja beda orang beda cara. Beda generasi beda perilaku."

Kata-kata Dis ini sungguh berkesan sekaligus menohok. Bagi bloger-bloger lama macam saya yang masih seenaknya. Tidak punya jadwal terbit yang pasti. Tidak punya komitmen. Tidak bisa memaksa diri untuk menulis secara rutin.

Menjaga komitmen menulis, disiplin deadline ala media cetak di platform digital ternyata tidak mudah. Setahu saya hanya Disway yang bisa.

Belajar Ilmu Rob di Pulau Dem

Sidoarjo punya Pulau Dem di dekat muara Sungai Porong. Pulau seluas 500an hektare yang isinya tambak-tambak melulu. Tidak ada kampung atau permukiman penduduk. Jalan pun hanya pematang tambak.

Penghuni Pulau Dem di Dusun Tlocor, Desa Kedungpandan, Kecamatan Jabon, itu hanya dua keluarga. Sukari dan Slamet. Pak Natun, sapaan akrab Sukari, tinggal di Dem sejak 1977. Jadi buruh tambak. Lama-lama tidak pulang ke kampung asalnya di Jember.

"Saya nikmati saja hidup di Pulau Dem. Jadi buruh tambak," katanya. Saat ini Pak Natun alias Sukari tinggal berdua bersama Bu Muji, istri keduanya. Pengganti istri tua yang meninggal dunia.

Dua minggu lalu saya mampir ke Pulau Dem. Langsung merapat ke rumah Pak Natun. Bu Muji lagi sibuk angon kambing. Saya disambut hangat karena sudah kenal baik. Langsung dibuatkan kopi setengah pahit. "Lagi sepi. Ikan-ikannya sedikit," kata Bu Muji.

Pak Natun pun tiba setelah mengurusi tambak milik juragan dari Sidoarjo. Lalu kami ngobrol ngalor ngidul. Mulai dari Santoso, orang Mindi Porong yang hilang setelah bunuh diri, hingga isu politik. Meskipun tinggal di pelosok terpencil, Sukari selalu mengikuti isu-isu politik lewat televisi.

"Internet yang susah di sini. Sinyalnya hilang timbul. Makanya saya tidak bisa pakai data. Cukup HP lawas aja," kata pria yang ramah ini.

Cukup lama dia bicara politik. Analisisnya tidak kalah dengan pengamat di televisi. Bahkan lebih jernih karena tidak punya kepentingan atau pamrih. "Apa lagi yang saya cari? Saya kan sudah tua," katanya.

Saya kemudian membelokkan percakapan tentang rob. Air laut pasang. Fenomena alam yang setiap tahun bikin Sidoarjo tenggelam. Hujan deras + rob = banjir dahsyat.

Orang-orang kota banyak yang tidak paham rob. Banyak wartawan juga salah persepsi. Seakan-akan setiap bulan terjadi rob. Bersamaan dengan bulan purnama. "Rob yang parah itu setahun cuma dua kali. Air laut biasa naik hampir satu meter," ujar Sukari.

Gara-gara rob itu pula, gubuk sederhana di depan rumahnya ambruk. Tersapu air laut. "Itu masih ada sisanya," katanya menunjuk bekas reruntuhan di dekat pohon kelor. Tanaman kelor sih makin subur dan hijau.

Sukari kemudian mengambil kalender yang ada tanggalan Jawa dan pasaran Pahing Legi Kliwon Pon Wage. Ini penting untuk mengetahui kapan bulan purnama dan kapan bulan mati. Rob atau air pasang memang akibat gaya tarik bulan. Saat purnama gaya tarik ini sangat kuat. Maka air laut ikut naik.

Berdasar pengalaman selama 40 tahun lebih menjaga tambak di Pulau Dem, Sukari membagi rob menjadi dua macam: rob malam dan rob siang. Rob malam terjadi pada bulan Oktober, November, Desember. Saat bulan purnama.

"Paling besar itu bulan 11. Biasa disebut penghulu," katanya. Rob bulan Desember tidak sebesar si penghulu itu. Namanya air labuh.

Lalu kapan rob siang? "Bulan 4, 5, dan 6," kata Sukari yang selalu menyebut bulan dengan angka. Bukan Januari Februari Maret dst.

Penghulunya rob siang ini terjadi pada bulan Mei. Meskipun musim kemarau, air pasang ini tingginya hampir sama dengan saat rob bulan Oktober-Desember. Rob malam yang lebih repot.

Biasanya, lagi-lagi berdasar pengalaman Sukari, siklus rob ini berubah delapan tahun sekali. Air pasang tidak terjadi saat purnama tapi bulan mati. "Saya ini orang tambak, tidak sekolah, tapi paham fenomena alam seperti rob. Kalau enggak percaya, silakan tanya BMKG di Juanda," katanya.

Masih banyak hal menarik yang mau saya gali di Pulau Dem. Sayang, jadwal perahu tambak sudah dekat. Dan saya harus segera meluncur balik ke kawasan Jenggolo, Sidoarjo Kota.

"Jangan kelornya dihabiskan," kata Bu Sukari yang tidak ikut nimbrung diskusi soal rob.

Banyak Pengusaha Tersesat ke Politik

Makin banyak pengusaha yang jadi politikus. Baik yang Tionghoa, Jawa, maupun etnis lain. Baliho dan spanduk-spanduk kampanye berseliweran di pinggir jalan.

Saat ngonthel sepeda lawas pagi ini, saya lihat spanduknya Angela, putri Harry Tanoe, kemudian Mbak Indah, Ronny, Kevin, hingga Hidar. Yang terakhir ini pengusaha keturunan Arab yang punya banyak bisnis di Sidoarjo.

Mengapa pengusaha terjun ke politik? Yang penuh risiko itu? Tidak khawatir di-Ahok-kan?

Tentu mereka sudah punya pertimbangan dan pertimbangan. Untung vs rugi. Cost and benefit. "Supaya bisa mewarnai kebijakan publik. Kehidupan kita tidak bisa lepas dari politik," kata Ronny, konsultan bisnis di Surabaya.

Hem... Saya jadi ingat kata-kata Dahlan Iskan, mantan menteri BUMN. Dulu dia sering mewanti-wanti pengusaha agar tidak tersedot dalam arus politik. "Jauhi politik! Kerja kerja kerja!" begitu slogan Dahlan Iskan yang dulu dipasang di halaman depan surat kabar di Sidoarjo.

Menurut Dahlan, yang mengutip taipan Ciputra kalau tidak salah, sebuah negara akan maju kalau jumlah pengusahanya minimal 5 persen populasi. Indonesia belum ada 1 persen.

Karena itu, pengusaha-pengusaha yang sudah mapan berkewajiban menularkan virus entrepreneurship kepada sesama anak bangsa. Khususnya yang muda-muda. Agar mereka merintis bisnis setelah tamat sekolah. Bukan melamar jadi PNS atau karyawan. Apalagi jadi politisi.

Mengapa demikian? Dahlan Iskan menulis:

"Sebab, menjadikan seseorang jadi pengusaha atau menjadi
orang marketing itu sulitnya
bukan main. Perlu telaten, kerja sungguh-sungguh, jujur, konsisten dan merambat pelan. Sedang untuk menjadi politikus: tidak perlu telaten, bahkan boleh hanya hit and run. Juga tidak perlu kerja sungguh-sungguh karena cukup modal mulut. Juga tidak perlu jujur. Bahkan kian pandai menipu kian baik. Tidak perlu konsisten. Bahkan loncat partai sana, loncat partai sini sah-sah saja. Kapan-kapan koalisi dengan A, lain kali koalisi dengan B."

Itu kutipan Dahlan Iskan di koran Radar Surabaya edisi 2008. Hampir sembilan tahun lalu. Kata-kata itu selalu saya ingat.

Jadi politisi cukup bermodal cangkem alias mulut. Jadi pengusaha, apalagi pemilik pabrik, harus telaten dan sabar hingga dua tiga generasi. Baru bisa jadi pabrik Kopi Kapal Api atau sepeda Polygon di Sidoarjo.

"Jadi anggota DPR RI itu bisa bebas ngomong apa aja, maki-maki menteri... pendapatannya melebihi menteri," kata Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo. Kader PDI Perjuangan ini puluhan tahun jadi anggota parlemen di Senayan.

17 February 2019

Hilangnya cerpen dan puisi di koran

Cerita pendek (cerpen) biasa dimuat koran-koran edisi Minggu. Itu dulu... ketika koran-koran masih tebal. Harga kertas masih relatif murah. Maka edisi Minggu selalu ada ruang sastra dan budaya.

Seiring perjalanan waktu, cerpen + puisi mulai sulit ditemui di surat kabar edisi minggu. Ketika koran makin tipis, maka beberapa rubrik harus dikorbankan. Dan korban pertama adalah cerpen dan puisi.

Minggu pagi tadi saya perhatikan beberapa koran di lapak perbatasan Sidoarjo dan Surabaya di Kecamatan Waru. Dari 6 koran harian yang dijajakan di situ, hanya 2 yang muat cerpen. Jawa Pos dan Kompas. Koran-koran lain lebih suka muat sepak terjang penjahat-penjahat tengik.

Cerpen, puisi, kolom budaya dianggap mubazir. Jarang ada orang yang baca cerpen. "Kalau bisa muat berita-berita kriminal sebanyak mungkin. Berita-berita seremoni pejabat dsb dikurangi," kata Mas Joko pentolan pedagang koran di Sidoarjo.

Cerpen bagaimana?

"Hehe... gak payu. Hari gini siapa yang baca cerpen? Orang lebih suka baca medsos. Tapi kalau kriminal masih disukai orang," katanya.

Bagaimana dengan artis yang jadi pelacur kelas atas kayak Vannesa? "Gak bagus. Soalnya Vanessa bukan orang Surabaya atau Sidoarjo," kata mas pedagang koran kawakan itu.

Hilangnya cerpen dan puisi di koran membuat Amelia sedih. Maklum, gadis asal Sidoarjo ini sedang semangat-semangatnya menggauli sastra. Menulis cerpen dan puisi. Dia juga aktif mengajak anak-anak muda untuk aktif dalam kegiatan sastra.

Amelia yang tergolong generasi milenial ini menilai koran masih punya wibawa di bidang sastra dsb. Cerpen dan puisi yang dimuat di koran itu punya nilai kelas tersendiri ketimbang karya sastra di media sosial, blog, atau laman-laman sastra daring.

"Makanya, rubrik sastra jangan dihilangkan," pinta Amelia.

16 February 2019

Pantun Dolo-Dolo Lamaholot

Masyarakat etnis Lamaholot di Kabupaten Flores Timur dan Lembata, NTT, punya kebiasaan berbalas pantun. Pantun dolo-dolo. Pakai bahasa Lamaholot, bahasa daerah di sana.

Dolo-dolo itu musik rakyat yang sederhana. Bagian tetapnya adalah refren atau ulangan atau chorus. Kemudian solis bergantian menyanyikan pantun. Gantian laki-laki dan perempuan. Tarian dolo-dolo ini dulu biasa dimainkan sampai jelang matahari terbit.

Itu dulu... ketika saya masih SD. Ketika belum ada listrik. Tidak ada televisi. Apalagi telepon dan HP. Karena itu, anak-anak dulu sangat terbiasa mendengar pantun dolo-dolo ini.

Tapi sekarang kelihatannya sudah berubah. Dolo-dolo masih ada tapi tidak seramai dulu. Anak-anak muda di tanah Lamaholot sekarang sudah jarang yang bisa merangkai kata-kata Lamaholot menjadi pantun yang berkesan.

"Ada yang bisa dolo-dolo tapi tidak banyak," kata Kak Paulina akhir tahun 2018 lalu di kampung Bungamuda, Lembata.

Saya justru lebih banyak mendapat kiriman pantun dolo-dolo dari Ama Paulus Latera. Guru SMA Kristen Petra yang asli Botung, Adonara Barat. Biasanya dua kali seminggu ada kiriman pantun Lamaholot. Pendek, sederhana, berkesan. Bikin kangen kampung halaman alias Lewotanah.

Nah, ini dia beberapa pantun dolo-dolo goresan Ama Paulus:

Teti belang lewo tolok
Tobo doan ata lewo
Tobo doanek ata lewo
Lohuk teti goka lodo

Lite rae lite
Mete soron rae lite
Sapu tangan sulam bunga
Mete soron rae lite

Hede bo kehede
Herin lodo bokehede
Nonin kame nimun take
Herin lodo bokehede

Kire inak kire
Tuen Tena inak kire
Inak rae lango tobo
Tuen tena inak kire

Wai lali wai
Gelu kila lali wai
Kete kaan tanda mata
Gelu kila lali wai

Ama Tena bera dai
dai hule suku lango
Ama Tena bera dai

Teti Ambon ro Menado
Moi heku nadon moe
Lali tokan Surabaya
Moi heku mete baya moe

12 February 2019

Ahok Keluar, Dhani Masuk

Kemarin Mulan besuk suaminya, Ahmad Dhani, di Rutan Medaeng, Kecamatan Waru, Sidoarjo. Pentolan Dewa 19 lagi kesandung kasus ujaran kebencian. Lagi disidang di PN Surabaya gara-gara ngoceh di media sosial.

Dhani yang musisi, komposer, memang beda dengan Dhani politikus. Di jagat politik arek Surabaya asli ini perlu belajar bijaksana dan arif. Tidak bisa ngomong seenaknya kayak BTP alias Ahok.

Ahok baru saja keluar penjara. Dua tahun kurang sedikit. Kasusnya sama saja: ujaran kebencian. Tidak tenggang rasa. Menyinggung agama mayoritas. Maka terjadilah unjuk rasa serial di Jakarta.

Ahok alias BHT terpuruk habis. Kalah pilgub, masuk penjara 2 tahun... dan hilang istrinya. Meskipun sekarang lagi mesra dengan wanita muda mantan pengawal mantan istrinya.

Sejak awal sudah saya bahas kasus Ahok alias BTP di sini. Bahwa omongan ember bocor khas Ahok dulu sejatinya masuk ranah sosial. Sanksinya ya sanksi sosial. Misalnya tidak dipilih di pemilihan gubernur. Juga dianggap orang kasar yang tidak tahu tata krama.

Tapi ya begitulah.... Politik memang dunia yang penuh trik dan intrik. Blunder Ahok ditarik ke norma positif. Dijerat pidana. Majelis hakim justru memvonis Ahok 2 tahun. Padahal jaksa penuntut umum terkesan ragu mendakwa Ahok.

Di sisi lain, Ahok yang sudah putus asa malah menerima vonis itu. Takut diperberat 5 tahun di MA. Klop sudah.

Maka vonis 2 tahun BTP ini jadi yurispredensi. Jadi preseden hukum di Indonesia. Bahwa siapa pun yang ngaco di medsos, ngomong ngawur, ember bocor... bakal dijebloskan ke penjara. Vonisnya kurang lebih 2 tahun.

Inilah yang terjadi pada Dhani Ahmad. Argumentasi logis dan klasik (norma sosial vs norma positif) sudah patah 2 tahun lalu dalam kasus Ahok. Mau tidak mau ya dijerat delik yang sama. Hukumannya 2 tahun.

Tapi Dhani bukan Ahok. Dhani cuma politikus baru yang sedang menggebu mendukung jagonya Prabowo-Sandi. Dhani bukan calon gubernur atau calon presiden. Karena itu, penahanan Dhani tidak akan membuat Indonesia gonjang ganjing kayak kasus Ahok dulu.

Yang sedih barangkali Mulan Kwok. Harus ditinggal lama oleh sang suami. Tabahkan hatimu Mbak Mulan!

Renovasi Kelenteng Tjong Hok Kiong Sidoarjo Rampung

Perayaan Cap Go Meh sebagai penutup rangkaian tahun baru Imlek bakal menjadi momen istimewa bagi jemaat Tridharma di Sidoarjo. Ini karena Kelenteng Tjong Kiong di Jalan Hang Tuah yang baru direnovasi akan diresmikan oleh Bupati Sidoarjo Saiful Ilah.

Tatik Mulyani, pengurus Tempat Ibadat Tridharma (TITD) Tjong Hok Kiong, mengatakan, upacara peresmian ulang kelenteng yang terletak di bibir Sungai Karanggayam itu dilakukan pada Selasa malam (19/2/2019). Bertepatan dengan tanggal 15 bulan pertama penanggalan Tionghoa. Saat warga Tionghoa di tanah air menikmati lontong cap go meh yang lezat itu.

Selama satu tahun lebih kelenteng yang didirikan pada 1863 itu direnovasi total. Renovasi kali keempat. Kantainya ditinggikan 120 meter untuk mencegah genangan air saat musim hujan.

Selama bertahun-tahun halaman kelenteng selalu kebanjiran hingga 50-an sentimeter. Genangan air juga masuk ke ruang utama persembahyangan.

Nah, saat direnovasi total itu, tempat sembahyang dipindahkan sementara ke lantai atas GOR Basket Tridharma. Kim Sin atau patung Makco Thian Sang Seng Boo atau dewi laut dan dewa-dewa lain pun tentu saja ditempatkan di tempat sembahyang sementara itu.

Sehari sebelum Cap Go Meh, pengurus dan jemaat Kelenteng Tjong Hok Kiong ramai-ramai membersihkan Kim Sim tersebut. Esoknya, Selasa pagi umat bakal melakukan ritual pemindahkan Kim Sin ke meja sembahyang di kelenteng yang baru direnovasi.

"Tentu saja ada sembahyang bersama ucapan syukur dan Cap Go Meh," katanya.

Tatik bersama jemaat lain berharap setelah ditinggikan satu meter lebih pelataran Kelenteng Tjong Hok Kiong tidak lagi digenangi air. Kalaupun terjadi fenomena air pasang tahunan, tempat ibadah warisan leluhur Tionghoa di Kota Delta itu tidak akan terdampak.

Ketua Pengurus TITD Tjong Hok Kiong Arief Pujianto mengatakan, Kelenteng Tjong Hok Kiong dibangun pada 1863 oleh warga etnis Tionghoa yang bermukim di kawasan pecinan. Awalnya kelenteng itu hanya berbentuk rumah kecil. Biasa digunakan sebagai tempat ibadah warga Tionghoa yang menganut kepercayaan Buddha, Tao, dan Khonghucu.

Selama 155 tahun berdiri, Kelenteng Tjong Hok Kiong ternyata tidak sering mengalami renovasi besar. Dalam catatan Arief, hanya ada tiga kali renovasi. "Saat ini renovasi kali keempat," katanya.

09 February 2019

Gatot Hartoyo Menulis Buku Pakai Mesin Tik Lawas

Hari ini, 9 Februari 2019, ternyata masih ada orang yang pakai mesin ketik lawas. Salah satunya Gatot Hartojo. Budayawan Sidoarjo ini boleh dikata mengetik setiap hari di padepokan budaya berupa rumah panggung kayu di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Mojokerto. Tidak jauh dari situs petirtaan Jolotundo yang terkenal itu.

Mengetik di mesin ketik manual, merek Brother, bagi Gatot, ibarat senam jari + senam otak. Menuangkan begitu banyak ide dan memorinya ke dalam kata, kalimat, artikel, dan buku. "Biar tidak pikun," katanya.

Sudah tujuh buku yang diterbitkan Gatot Hartoyo. Semuanya tentang sejarah dan budaya. Gatot menganalisis Delta Sungai Brantas, Kerajaan Jenggolo yang sekarang jadi wilayah Kabupaten Sidoarjo, hingga sumber air di Jolotundo.

Referensi tentang situs Jolotundo ya dari tulisan Pak Gatot. Biasanya mantan panitera di PN Sidoarjo itu blusukan ke objek-objek penting terkait tema tulisannya. Dicatat, bikin sketsa, foto, lalu berimajinasi. Lalu berdoa dalam hati.

"Saya berusaha berdialog dan menyerap energi dari leluhur. Biar nyambung," kata Mbah Gatot, sapaan akrab sang budayawan yang kerap jadi jujukan politisi dan pejabat Sidoarjo itu.

Sebelum menulis tentang sungai yang mengalir di wilayah Kabupaten Sidoarjo, Gatot juga mendatangi sungai-sungai itu. Mulai sungai yang besar di Mlirip, Sungai Porong, Mengetan hingga anak-anak dan cucu cicit sungai. Semuanya dicatat di buku tulis dan otaknya.

"Saya tidak pernah pakai referensi di Google atau internet. Saya riset sendiri di lapangan. Baca buku-buku karya akademisi yang bisa dipertanggungjawabkan," kata pria yang merintis silat perisai diri di Kabupaten Sidoarjo itu.

Kapan saja Gatot menuangkan ide-idenya di mesin ketik. Bunyi tik tak tok tak.. ibarat irama musik yang selalu menemaninya di kawasan pegunungan yang sejuk itu. Bunyi tik tak tik tak juga membuat artikelnya tetap jadi.

Gatot yang punya beberapa rumah di Sidoarjo dan Jolotundo tentu sangat mampu membeli komputer, laptop, tablet dan sejenisnya. Dia pernah mencoba mengetik di komputer dan laptop. "Ide-idenya mampet. Buntu. Tulisan pendek pun gak jadi," katanya.

Saat ini Gatot sedang menulis naskah untuk buku kedelapannya. Judulnya? "Belum ada. Tentang kerajaan-kerajaan di Jawa Timur. Kalau sudah jadi, Anda pasti saya kasih bukunya untuk diulas," ujarnya.

Gatot tidak punya target atau deadline untuk menyelesaikan buku. Mengalir saja, katanya. Apalagi dia selalu siap menerima tamu selama 24 jam. Saat asyik mengetik, misalnya pukul 00.00, ada saja tamu dari Sidoarjo. Acara tik tak tok pun berhenti.

Mbak Nur dibangunkan untuk menyiapkan kopi panas. Lalu diskusi atau ngobrol sampai pagi. Sang tamu biasanya tidur di rumah panggung itu. Syukurlah, Gatot tidak pernah merasa terganggu meskipun kegiatan menulisnya mandek.

"Sekarang ini susah mencari pita mesin ketik di Sidoarjo, Surabaya, atau Mojokerto. Ada tapi stok lama. Tintanya sudah memudar," katanya.

Saya sendiri sungkan mengganggu aliran ide-ide Pak Gatot yang asyik bermain mesin ketik tuanya. Maka biasanya saya memilih istirahat di gazebo luar. Eh, rupanya Pak Gatot tahu saya sedang istirahat menikmati hawa sejuk di kaki Gunung Penanggungan itu.

"Mas Hurek... masuk aja. Tidur di atas (rumah panggung," pintanya sangat halus.

Waduh... matur nuwun sanget Pak!

Panjar dan Persekot Sudah Mati

"DP-nya 500 dulu ya? Sisanya besok."

Begitu antara lain kata-kata YA kepada pedagang nasi soto di Sidoarjo. "Siap, Mbak! Matur suwun," jawab penjual soto ayam khas Lamongan.

DP. Istilah yang sangat populer di Indonesia. Dipakai untuk transaksi soto, rawon, sepeda motor, apalagi mobil atau rumah. Reklame di pinggir jalan atau media massa selalu ada DP-nya.

Orang Indonesia, khususnya Jawa Timur, paham betul DP meskipun banyak yang tidak tahu kepanjangannya. Down payment. Sering dipelesetkan jadi dodholan pecel.

Semalam saya baca majalah Tempo lawas. Edisi 19 Juni 2011. Laporan tentang gonjang ganjing balbalan era PSSI lama. Ketika Nirwan Bakrie pentolan Lapindo Brantas itu disebut-sebut membeli Arema Malang dan Deltras Sidoarjo.

Majalah Tempo menulis:

"Iwan juga menyatakan telah membawa uang Rp 15 miliar sebagai uang panjar untuk Arema serta menyiapkan Rp 11 miliar untuk membeli Deltras Sidoarjo."

PANJAR. Kata ini sangat sering saya dengar di pelosok NTT ketika saya masih SD dan SMP. Tiap hari ada saja orang dewasa dan anak kecil bilang panjar. Artinya uang muka. Panjar dulu, sisanya belakangan. Sering sisanya ini tidak dibayar-bayar.

Di Jawa Timur saya tidak pernah dengar kata PANJAR. Saya ngetes 4 anak muda di bawah 20 tahun ternyata tidak mengerti panjar. Kalau DP pasti paham... meskipun itu tadi... kepanjangannya harus cari di Google dulu.

Virus nginggris yang makin merajalela di tanah air membuat kita lupa kosa kata sendiri. Ada panjar tapi kita lebih suka DP. Biar keren. Biar modern. Go international. Panjar dianggar ndeso atau kampungan.

Apakah PANJAR bukan kata baku bahasa Indonesia?

Aha, PANJAR ternyata ada di KBBI. "Uang muka; persekot; cengkeram."

Kamus Besar Bahasa Indonesia itu kasih contoh:

Sebagai tanda jadi, pihak penjual minta panjar 10% dari harga tanah itu.

Hem... PERSEKOT.

Kata ini dulu sering dipakai pelukis Bambang Thelo di Sidoarjo. Suatu ketika dia dapat duit Rp 2 juta dari kolektor lukisannya. "Ini persekotnya," kata almarhum pelukis berjuluk Eyang Tekek itu. "Sisanya enggak tahu dibayar kapan."

Eyang Tekek sudah lama tiada. Begitu juga panjar dan persekot. Di era milenial, jaman now, yang laku adalah DP alias Dewi Perssik.

08 February 2019

Berlomba Melarang Hari Valentine

Di Indonesia selalu ada berita yang berulang. Memasuki bulan Februari isu yang ramai adalah Hari Valentine. Sekolah-sekolah mengeluarkan surat untuk melarang acara valentinan.

Pagi ini, Jumat 8 Februari 2019, ada berita di koran lokal. Judulnya DISPENDIK LARANG VALENTINA. Ada foto Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik memegang surat edaran tentang larangan mengadakan Valentine's Day di Gresik.

Mahin berkata Hari Valentine itu budaya dari luar yang tidak mencerminkan karakter bangsa. "Konsep kasih sayang dalam pendidikan itu harus setiap hari," katanya.

Tidak hanya di Gresik. Di kota-kota lain di Jawa Timur juga ada surat edaran serupa. Bahkan ada razia khusus yang dilakukan polisi pamong praja. Sebab, di Indonesia Valentine selalu dikaitkan dengan seks bebas, narkoba, minuman keras. Valentine = maksiat.

Ada juga yang menganggap Hari Valentine terkait dengan gereja. Padahal di kalender liturgi tidak pernah ada perayaan Hari Valentine. Di kalender liturgi katolik, 14 Februari 2019, hanya disebut "Kamis minggu kelima masa biasa".

Semoga pemerintah-pemerintah daerah tidak terlalu sibuk bikin surat edaran tentang bahaya Valentine setiap tahun. Masih banyak program yang lebih urgen.

07 February 2019

Tun Mahathir Kurangi Pelajaran Agama

Untung Tun Mahathir Mohamad bukan orang Indonesia. Andaikan politisi 93 tahun itu orang Indonesia, di tahun politik ini, bisa riuh media massa dan media sosial. Bisa muncul aksi unjuk rasa berjilid-jilid selepas jumatan di Jakarta.

PM Malaysia Tun Mahathir belum lama ini menyatakan akan mengurangi porsi pendidikan agama di sekolah-sekolah Malaysia. Kurikulum agama di Malaysia dinilai terlalu banyak. Akibatnya para murid kurang tempo untuk mendalami pelajaran sains dan teknologi.

"Seseorang telah mengubah kurikulum di sekolah dan sekarang sekolah negara telah menjadi sekolah agama," kata Mahathir.

"Mereka belajar Islam dan tidak belajar yang lainnya. Akibatnya, mereka yang lulus tidak mahir dalam mata pelajaran yang dibutuhkan untuk mencari pekerjaan, tapi mereka menjadi ulama yang cakap."

Gara-gara terlalu banyak pelajaran agama, jumlah ulama di Malaysia menjadi terlalu banyak. Karena  terlalu banyak ulama, menurut PM Mahathir, "mereka selalu selalu berbeda pendapat satu sama lain, dan menyesatkan pengikut dan bertengkar satu sama lain."

Luar biasa Tun Mahathir! Blak-blakan, tanpa basa-basi. Mengangkat isu agama Islam yang sangat sensitif di Malaysia. Ketika banyak politisi di sana justru menilai porsi pendidikan agama di sekolah-sekolah masih kurang.

Indonesia tidak punya tokoh sekaliber Mahathir Mohamad. Apalagi yang berani melawan arus konservatisme dan ritualisme. Politisi di negeri ini bahkan cenderung memanfaatkan agama untuk mencari suara. Politisasi agama menjadi mainan lumrah di sini.

Ada politisi yang mengusulkan diadakan tes baca Alquran untuk calon kepala daerah atau calon presiden. Porsi agama diperbanyak di sekolah-sekolah. Di televisi porsi ceramah juga sudah lama overdosis.

Makin banyak program agama makin sedikit korupsi, begitu asumsinya. Karena itu, pelajaran ilmu alam, ilmu hayat, ilmu tumbuhan hingga matematika pun kalau bisa diagamakan.

Ah... seandainya Tun Mahathir orang Indonesia!

Nostalgia Bioskop Mutiara di Malang


Ngopi di warkop kampung seni, Pondok Mutiara Sidoarjo, menikmati hawa sejuk di bawah rumpun bambu. Amdo Brada, pelukis dan ketua kampung seni, telaten merawat bambu kuning itu sejak kampung seni diproklamasikan pada 2005.

Sayang, Cak Amdo yang asli Surabaya itu masih berada di Jakarta. Dia baru saja pameran tunggal di ibu kota selama sembilan hari. "Saya masih temu kangen teman-teman lama. Mampir ke Bengkel Teater Rendra dsb," kata Amdo via ponsel.

Syukurlah, ada seorang bapak yang sedang asyik main ponsel. Sambil ngisi baterai. "Saya yang dampingi Amdo di Jakarta. Mulai persiapan sampai selesai pameran," katanya.

Bapak yang selalu tampak serius, kurang guyon, ini bernama Sugiyono. Saya pun mulai ngobrol sekadar perintang waktu. Sebab anak-anak muda punkers di sebelah itu terlalu serius main HP. Pak Giyono yang bukan orang milenial tentu lebih muda diajak omong-omong ngalor ngidul.

Wow, ternyata Sugiyono ini bukan orang sembarangan. Dulu punya bioskop di Lawang dan Malang. "Saya berkecimpung di usaha bioskop mulai 1968 sampai 2005," katanya.

Tahun 2005 itulah akhir kejayaan bioskop-bioskop mandiri di Indonesia. Satu per satu tutup. Ditinggalkan penonton. Masa panen raya pada era 80an pun tidak bakal terulang lagi. Pahit rasanya bagi orang-orang bioskop macam Sugiyono ini.

Yang bikin saya terkejut, ternyata Sugiyono pemilik Bioskop Mutiara di Malang. Dia ambil alih dari pengusaha lain pada 1985.

Begitu menyebut Bioskop Mutiara, ingatan saya pun melayang ke masa lalu. Ketika hampir setiap minggu saya nonton film di Mutiara. Bahkan kadang dua kali seminggu.

Bioskop Mutiara terletak di dekat Terminal Patimura yang sekarang mangkrak itu. Juga dekat stasiun kereta api Malang. Dekat pula kompleks SMAN 1, SMAN 3, dan SMAN 4. Tidak jauh dari sekolah Kolese Santo Yusuf alias Hua Ing. Dekat studio Radio TT 77 yang dulu sangat terkenal.

Di Bioskop Mutiara inilah saya terpukau dengan film-film Amerika. Yang paling berkesan adalah Dirty Dancing. Film yang mirip pelajaran atau kursus dansa nan rumit. Lagu-lagu sound track-nya sangat indah dan asyik.

Saya menyenandungkan Time of My Life... kalau tak salah judulnya. Pak Sugiyono langsung tanggap. Tak lagi murung karena sedang punya sengketa perdata.

"Oh ya... itu masa yang luar biasa di Malang. Bioskop-bioskop penuh dengan penonton. Zaman itu Malang jadi rajanya hiburan. Mulai hiburan yang sehat sampai yang gak sehat," katanya.

Lalu, obrolan pun mulai fokus ke bioskop-bioskop lawas di Kota Malang. Mutiara, Merdeka dekat Gereja Kayutangan, Ria dekat alun-alun, Mandala di Malang Plaza....

Jangan lupa Dulek alias Kelud Theatre? Pak Giyono tertawa kecil mendengar Kelud. Bioskop misbar yang sangat ramai dengan segmen wong cilik.

Pak Giyono menceritakan berbagai persoalan yang mencekik pengusaha bioskop pada 1980an. Tata niaga yang dikontrol anaknya penguasa orde baru. Sampai kemudian muncul grup 21 taipan Sudwikatwono.

Dan... tamatlah riwayat bioskop-bioskop mandiri di tanah air. Bioskop Mutiara kemudian jadi rumah biliar. Terakhir saya lihat jadi minimarket. "Bangunan itu milik PJKA. Kita hanya kontrak aja," katanya.

Sayang, saya harus pamit karena segera ngantor. Obrolan nostalgia bioskop lawas bakal disambung lagi suatu ketika. Malamnya saya mutar lagu-lagu OST Dirty Dancing di Youtube.

Ciamik tenan!

Sincia di Kelenteng Cokro tanpa Bu Juliani

Sincia di Kelenteng Hong San Ko Tee, Surabaya, kali ini tanpa Bu Juliani Pudjiastuti. Pimpinan yayasan kelenteng di Jalan Cokroaminoto Surabaya ini memang sudah berpulang ke pangkuan-Nya. Roda kepengurusan kelenteng dilanjutkan ke putra-putrinya.

Erwina Tedjaseputra yang ketiban sampur mengurusi tempat ibadah Tridarma yang padat kegiatan sosial dan keagamaan itu. "Yah.. sepeninggal Mama, mau tidak mau, kita yang bergerak. Bukan saya sendiri, tapi bareng-bareng," kata Erwina.

Perempuan berbadan subur ini kemudian mengajak saya menikmati nasi goreng yang sudah disediakan. Juga menu-menu lain seperti mi panjang umur atau sop. Sambil menunggu datangnya tahun babi.

Tapi tidak ada menu babi. Maklum, kelenteng ini punya banyak tamu para tetangga, relasi, dan wartawan yang kebanyakan muslim. Para tamu langsung menikmati hidangan yang sudah disiapkan di atas meja.

Kawan-kawan wartawan sudah berdatangan sejak pukul 21.00. Metro TV bahkan membawa mobil keliling untuk siaran langsung Sincia. "Saya baru pertama kali liputan Imlek di sini," kata gadis manis wartawati baru.

Kelihatan semangat banget reporter berkerudung itu. Rajin wawancara dan detail laporannya di media online. Ada pula wartawan lawas yang datang untuk silaturahmi. "Mengenang mendiang Ibu Juliani," katanya.

Acara puncak Sincia masih sama dengan tahun-tahun lalu. Jelang pukul 00.00 jemaat berkumpul di sekeliling altar. Lalu sembahyang bersama. Kombinasi bahasa Hokkian, Mandarin, dan Indonesia. Sembahyang untuk rezeki masing-masing jemaat dan bangsa Indonesia.

"Semoga Indonesia selalu rukun, damai, dijauhi dari bencana alam," kata Erwina.

Selamat tahun babi tanah!

03 February 2019

Selamat Sincia vs Imlek

Sabtu 2 Februari 2019, Jawa Pos menerbitkan edisi khusus SINCIA 2570. Liputan tentang kuliner Tionghoa di Nusantara. Termasuk kue keranjang yang sangat manis itu. Ternyata nian gao ini di Tiongkok justru tidak manis.

Istilah Sincia yang diambil dari bahasa Hokkian (Fujian) memang sangat tepat. Artinya tahun baru versi penanggalan Tionghoa. Kalender bulan alias Imlek. Maka, libur nasional 5 Februari 2019 adalah libur Sincia. Bukan libur Imlek.

Tapi salah kaprah sudah lama terjadi di Indonesia. Imlek dianggap tahun baru Tionghoa. Imlek dikira hari raya. Ironisnya, orang Tionghoa sendiri ikut larut dalam kengawuran masal itu.

Dr Endang Suryadina, peneliti yang etnis Tionghoa, menulis artikel opini berjudul Merayakan Imlek di Tengah Kampanye. Aneh, peneliti bergelar S3, keturunan Tionghoa, kok bisa begini?

Kalau orang Batak, Jawa, Flores, Dayak dsb bilan "merayakan imlek" bisa dimaklumi. Tapi orang Tionghoa sendiri? Seorang peneliti senior?

Ini kalimat pertama Dr Endang Suryadinata: "Imlek kembali tiba pada Selasa (5/2)."

Waduh.. waduh... waduh!

Bukankah imlek itu ada setiap hari? Sama dengan kalender matahari yang juga ada tiap hari. Dipakai untuk menentukan tanggal, bulan, tahun.

Sudah lama wartawan dan surat kabar di Indonesia belajar meluruskan salah kaprah tentang imlek dsb yang berhubungan dengan Tionghoa. Makanya, saya geli membaca tulisan seorang doktor peranakan Tionghoa yang menyamakan Imlek dengan Sincia.

Selamat Sincia!

Tante Tok Panen Kue Keranjang

Usianya sudah 78 tahun. Tapi Tante Tok masih produktif. Menjelang tahun baru Tionghoa alias Sincia ini, Tok Swie Giok sangat sibuk di dapur. Bikin nian gao. Kue keranjang khas Imlek.

"Sudah satu bulan ini saya bikin kue keranjang," ujar Tante Tok saat saya temui di rumahnya Jalan Raden Patah, Sidoarjo.

Kue keranjang memang kue khas Sincia. Khusus disajikan saat perayaan tahun baru di rumah atau komunitas. Tapi kebanyakan orang Tionghoa lebih memilih praktisnya saja. Cukup membeli di toko-toko.

Bikin sendiri? Capek. Mana sempat?

Tok Swie Giok beda. Ibu tiga anak ini setiap tahun melakoni kerja budaya bikin kue keranjang. Merawat tradisi yang dulu diajarkan papanya Tok Ek Sek. Laki-laki asli Fujian Tiongkok yang merantau dan meninggalkan keturunan di Sidoarjo.

"Saya pakai resep asli dari papa saya. Gak pakai campuran macam-macam. Eh, ternyata banyak orang yang suka dan pesan," kata Tante Tok yang dibantu Yuliawati putrinya dan Marjuki, pria asli Rangkah Kidul Sidoarjo.

Niat awalnya sih bikin kue keranjang atau nian gao untuk dinikmati sendiri di rumahnya. Juga mengirim sekadarnya ke rumah tetangga dan kerabatnya. Bukan untuk bisnis atau dijual di pasar.

Tapi rupanya orang Tionghoa juga punya kebiasaan getuk tular yang kuat. Mereka jadi tahu kebiasaan Tok Swie Giok bikin kue keranjang jelang Sincia. Pesanan pun berdatangan. Akhirnya Tante Tok pun melayani pesanan itu. Bukan hanya dari Sidoarjo dan Surabaya tapi juga Bali dan Kalimantan.

"Mereka bilang kue keranjang buatan saya rasanya enak," ujar tante yang dulu aktif di grup liang liong wanita Sidoarjo itu.

Haiya... dapat hoki sincia lah! Tahun ini Tante Tok bikin 300 kue per hari. Paling sedikit habisin 10 kg beras ketan. Seminggu jelang Sincia biasanya pesanan naik tajam. Bisa habis 30 kg beras ketan.

Tante Tok bilang bikin kue keranjang ini beda dengan bikin apem, donat, atau jajan pasar lainnya. Ada ritual sebelum memasak agar hasilnya sempurna. Jika diabaikan, kuenya lembek atau tidak jadi. "Kudu sembahyang disek ben lancar," katanya.

Perempuan yang sedang datang bulan pun tidak boleh ikut membuat kue keranjang ini. "Kue ini kan dipakai sembahyangan," katanya.

Selamat Sincia!
Selamat datang babi tanah!
Selamat makan kue keranjang!
Gong xi fa cai!