24 June 2019

Jadi Malu sama Bu Risma



Bu Risma ini wali kota yang unik. Sedikit bicara, banyak kerja. Spontanitasnya tinggi. Langsung bertindak ketika melihat ada yang tidak beres di Surabaya. Dan itu selalu dia lakukan sejak jadi wali kota pada 2015.

Bahkan, saat masih kepala dinas pun Risma sudah terkenal dengan aksi-aksi spontannya. Gak ngomong thok! Khususnya yang terkait dengan kebersihan, keindahan, dan kehijauan kota.

Minggu 23 Juni 2019, Bu Risma bikin gebrakan di Jalan Pahlawan. Samping Tugu Pahlawan. Ratusan pedagang kaki lima berjualan di pinggir jalan. Bikin macet, ruwet, kotor jalan. Setelah jualan, para PKL ini biasanya membiarkan sampah-sampah berserakan.

Risma pasti gregetan. Marah. Tapi tidak dengan kata-kata. Bu Wali langsung bersih-bersih jalan raya di kantor gubernur itu. Menyemprotkan air di trotoar yang kotor dan berdebu. Para pedagang pun kelabakan. Nyengir kuda.

"Ayo Rek jaga kebersihan kota kita. Aku gak larang sampean jualan. Tapi yo jaga kebersihan. Jangan biarkan sampah tercecer seperti ini," kata Bu Risma yang kakinya baru sembuh itu.

Orang Surabaya sudah tidak kaget dengan gaya perempuan wali kota pertama di Surabaya itu. Saya pun sama. Gak kaget. Tapi semalam saya sempat refleksi di warkop pinggir jalan. Malu sama Bu Risma.

Begitu sering saya (kita) melihat sampah-sampah, sarang laba-laba, debu di sekitar kita. Mungkin di kantor, kamar mandi dan toilet, gudang, dsb. Tapi saya tidak langsung turun tangan macam Bu Risma. Ambil sapu untuk bersih-bersih. Atau sekadar memunguti plastik, kertas, daun kering dsb, kemudian memasukkan ke kotak sampah.

Biasanya kita cuma memotret dan unggah ke grup media sosial. Ditambah caption yang mempertanyakan komitmen petugas kebersihan atau office boy. Ke mana saja Mas X? Sampean kan dibayar untuk bersih-bersih?

Wali Kota Risma jelas sangat paham siapa yang bertugas untuk menjaga kebersihan di Jalan Pahlawan dan segala sudut Kota Surabaya. Ada dinas terkait hingga satpol PP yang tugasnya menertibkan pedagang-pedagang nakal itu.

Tapi Bu Risma tidak menelepon dinas kebersihan dan satpol PP ketika melihat sampah-sampah bertebaran di Jalan Pahlawan. Bu Risma juga tidak menjepret lalu mengunggah ke grup pemkot dsb. Bu Risma langsung bertindak. 

Bu Risma langsung kasih contoh kepada ratusan pedagang itu. Teladan untuk kita semua. Bahwa bersih-bersih atau menyapu halaman sesungguhnya tidak sulit. Siapa saja bisa melakukannya asal mau. Itu saja.

22 June 2019

Gubes Tidak Lagi Baca Koran

Mulai bulan puasa lalu Pak Prof sepertinya puasa baca koran. Tidak ada lagi koran di depan pintu rumahnya di kawasan Surabaya selatan-timur. Padahal guru besar di Unair ini sudah puluhan tahun melanggan koran.

Baca koran pagi, ngopi.. jadi gaya hidup para dosen, birokrat, atau kaum priyayi. Serasa hampa kalau tidak baca koran. Beberapa isu bahkan jadi bahan obrolan di kampus dan kampung.

Tapi rupanya kebiasaan itu berubah di era milenial. Bapak Gubes tak lagi marah-marah kalau koran terlambat kirim. Bahkan pernah telat tiga hari. Pak Prof biasa-biasa aja.

 "Sekarang berita-berita sudah banyak di televisi. Kita juga bisa baca berita-berita di HP. Online. Jauh lebih cepat," begitu antara lain omongan bapak gubes dan kawan-kawan.

Sebagai orang luring, offline, saya resah juga. Jadi saksi mata kehilangan pamor surat kabar. Justru di kalangan pemikir senior. Bukan hanya anak milenial, orang-orang sepuh pun mulai merambah ke jalur daring.

Tadinya saya pikir puasa koran ini hanya sampai akhir Ramadan. Setelah libur panjang Lebaran koran pagi dikirim lagi ke rumah.

 Eh... sudah seminggu ini tidak ada koran di dekat pintu teras depan. Berhenti berlangganan?

"Sudah stop (langganan). Bapak sudah tidak baca koran," kata asisten rumah tangga. Wanita 30an tahun ini tidak tahu alasan majikannya, bapak gubes, tidak lagi baca koran.

Zaman memang berubah. Masa kejayaan surat kabar sudah berlalu. Koran-koran kertas makin tipis. "Mutunya juga sangat menurun. Liputan yang mendalam sangat jarang," kata Slamet, pensiunan wartawan yang tinggal di Kabupaten Sidoarjo.

Sampean masih langganan koran?

"Gak langganan maneh. Sudah tahunan berhenti (langganan). Saya bisa baca berita-berita di hape atau laptop," katanya.

Miris rasanya mendengar omongan Slamet. Sebab pria ini dikenal sebagai gurunya wartawan-wartawan di Surabaya pada 1990an hingga pertengahan 2000an. "Era digital ini menjadi tantangan berat untuk media cetak," katanya.

Sampai kapan koran-koran cetak bisa bertahan?

 "Kalau bisa sih selama mungkin. Selama masih ada orang yang membeli, membaca, dan memasang iklan di koran," katanya.

21 June 2019

Mampir di Kelenteng Eng An Bio Bangkalan



Sidang perselisihan hasil pilpres di Mahkamah Konstitusi (MK) berlangsung sangat lama. 18 hingga 20 jam. Sampai subuh pun masih sidang. Mendengarkan saksi-saksi dari paslon 02.

Sayang, saksi-saksi dari kubu Prabowo-Sandi kurang meyakinkan. Mulai saksi pertama Agus dari Sidoarjo hingga saksi ahli yang bicara bahasa Malaysia itu. Maka saya pun memutuskan jalan-jalan ke Bangkalan, Madura. Sia-sia menghabiskan terlalu banyak waktu untuk nonton sidang di MK itu.

Ibu Yuyun alias Kho Yoe Nio sendiri di pelataran Kelenteng Eng An Bio. Menyaksikan televisi. 

"Ni hao ma?" saya menyapa bio kong asal Salatiga itu.

"Selamat pagi. Ndak usah ni hao ma... Aku ndak bisa bahasa Mandarin," ujar Bu Yuyun lantas ketawa renyah.

Cukup lama saya tidak mampir ke kelenteng-kelenteng. Padahal dulu sangat sering. Eng An Bio di Jalan PB Sudirman Bangkalan ini termasuk favorit saya. Tempatnya luas dan bersih. Bio kong alias pengurus hariannya, Yuyun Kho, pun sangat terbuka. Akrab layaknya konco lawas.

"Saya bertugas di Eng An Bio Bangkalan ini sejak 1992," ujar Yuyun yang bahasa Indonesianya medhok Jawa Tengahan.

Saat itu Yuyun diminta pengurus TITD Bangkalan, Margono alias Sing Hien, untuk jadi bio kong. Sebab, kelenteng di kawasan pecinan ini tidak punya bio kong yang paham seluk beluk tradisi Tionghoa. Apalagi Yuyun ternyata seorang pelukis spesialias figur dewa-dewi Tionghoa.

"Yah... bekerja di kelenteng itu pengabdian saya untuk Yang di Atas. Bukan untuk cari uang dsb," kata Kho Yoe Nio yang dijawakan menjadi Yuyun.

Semula Yuyun bertugas di TITD Lawang pada 1984-1992. Mengurusi kelenteng milik Ong Kie Tjay, pengusaha Surabaya, yang dikenal sebagai Bapak Tridharma Indonesia. Mendiang yang juga pimpinan Kelenteng Dukuh Surabaya ini merupakan ketua Majelis Rohaniwan Tridharma Seluruh Indonesia.

Anda masih ingat almarhum Ong Kie Tjay?

"Lupa," kata saya. "Saya tahu Ong Kie Kiong yang di Kelenteng Dukuh."

"Itu putranya. Keluarga mereka yang ngopeni kelenteng-kelenteng Tridharma," kata Yuyun.

Lalu, Yuyun masuk mengambil foto mendiang Ong Kie Tjay. Lahir di Tiongkok tahun 1917, meninggal 1985.

Berarti Tionghoa totok? 

"Totok banget. Kata-kata bahasa Indonesianya tidak jelas. Saya aja yang Tionghoa kesulitan nangkap. Yoe Nio dibilang Yuyun. Akhirnya saya dipanggil Yuyun sampai sekarang," tutur perempuan yang rajin mengikuti berbagai hajatan di kelenteng-kelenteng di Jawa itu.

Sudah 27 tahun lamanya Yuyun bertugas di TITD Bangkalan. Dibantu seorang bapak asli Madura yang menangani kebersihan kelenteng. Yuyun juga kerap ngobrol dengan beberapa tetangga asli Madura. 

"Tapi saya sama sekali tidak bisa bahasa Madura. Sulit banget. Sama sulitnya dengan bahasa Mandarin," katanya.

Banyak suka duka menjadi bio kong di Bangkalan. Pada 1996 kelenteng ini diserang sekelompok orang tak dikenal. Begitu juga beberapa gereja. Satu rangkaian dengan kasus penyerangan gereja-gereja di Situbondo. Saat itu Yuyun sedang nyenyak tidur di kamarnya di kompleks kelenteng. "

"Syukurlah, saya dilindungi sama Yang Kuasa," katanya.

Penyerangan itu dilakukan massa yang dikerahkan dari luar. Bukan warga Bangkalan. Apalagi yang tinggal di sekitar kelenteng. Sebab hubungan jemaat Eng An Bio dengan masyarakat setempat sangat baik. Pihak kelenteng juga rutin adakan bakti sosial.

"Kalau hubungan tidak baik pasti kelenteng ini tidak bisa bertahan. Buktinya, sekarang jadi lebih luas," katanya.

Namun, di sisi lain, Yuyun agak prihatin karena jemaat yang datang sembahyang atau mampir ke kelenteng berkurang. Khususnya setelah ada Jembatan Suramadu. 

"Sembahyangan tanggal 15 Imlek barusan hanya ada 4 atau 5 orang saja. Padahal dulu bisa 20 sampai 30 orang," katanya.

Tersambungnya Surabaya dan Bangkalan membuat kebanyakan orang Tionghoa di Madura lebih suka ke Surabaya. Jalan-jalan, rekreasi, belanja, hingga sembahyangan. Bahkan arisan bulanan pun di Surabaya.

"Latihan pingpong dan karaoke juga ndak ada lagi. Mereka lebih suka pigi ndek Surabaya," kata Yuyun.

13 June 2019

HP Jadul Tahir vs Ahmad Dhani



Siapa tak kenal Tahir alias Ang Tjoen Ming?

Pengusaha asal Surabaya ini disebut orang terkaya keenam di Indonesia versi Forbes 2018. Bus-bus bagus di Surabaya pun sumbangan sang taipan yang anak juragan becak itu.

Siapa sangka kalau Taher sampai sekarang masih pakai ponsel jadul. HP sebatas untuk bicara dan pesan pendek (SMS). Woi... siapa yang masih terima SMS hari ini? Yang bukan pesan-pesan promo dari rekanan operator seluler?

"HP saya juga bisa untuk WA. Tapi gak sering saya gunakan," katanya. "HP saya juga sering jatuh. Makanya kondisinya sudah gak karuan," tambahnya.

Tahir adalah bos Grup Mayapada dengan kekayaan senilai Rp 65,2 triliun tersebut. Dengan harta sebanyak itu, sang konglomerat tentu sangat mudah membeli ponsel paling baru dan canggih. Berapa pun harganya. Bahkan, bukan hanya ponsel, pabrik HP pun gampang dibeli.

Tapi mengapa Tahir bertahan dengan ponsel jadul? "Kan masih bisa dipakai. Aku gaptek. Gak iso medsos," ujarnya dengan logat Suroboyoan.

Sebetulnya cukup banyak orang super kaya yang mirip Tahir. Tidak tertarik smartphone yang super canggih. Saya selalu melihat Mr Fu pakai HP jadul yang tidak bisa internet. Benar-benar jadul dalam arti sebenarnya. Maka jangan harap bisa komunikasi dengan pengusaha keturunan Hokkian ini pakai WA.

"Gak perlu WA-WA-an. Aku kan wis tuwek. Ngapain main medsos dsb," kata pengusaha kaya ini. "Saya cuma perlu HP untuk nelepon dan terima telepon."

Karena itu, jangan harap pesan pendek (SMS) Anda dibalas Mr Fu ini. Dia hanya mau ngomong pakai suara di HP. "Sudah bisa kerja dan komunikasi pakai HP lawas. Gak perlu beli HP anyar," ujarnya.

Pengusaha ini sangat sering mentraktir makan relasi dan bikin bakti sosial. Biaya yang dihabiskan bisa dipakai untuk membeli puluhan ponsel terbaru dan tercanggih.

Bisa jadi Tahir, Fu Xiansheng dan pengusaha-pengusaha super tajir ini terlalu sibuk mengurus perusahaan. Mengelola bisnis di berbagai tempat. Mereka nyaris tidak punya waktu untuk main-main ponsel atau media sosial.
Karena itu, para wartawan sering kesulitan mendapatkan foto taipan-taipan raksasa itu.

 Mbah Google yang dianggap tahu segalanya pun tidak punya simpanan foto. Kalau cari di Google, saya sering ketawa sendiri karena yang muncul justru tulisan di foto (ala kadarnya) di blog saya sendiri.

Sebuah majalah berita paling top di NKRI pun bahkan (beberapa tahun lalu) minta izin saya untuk menggunakan foto orang terkaya, bos rokok, di blog ini. Kebetulan sang taipan saya jepret saat ada kejuaraan olahraga taiji di Surabaya.

Ahmad Dhani, pentolan Dewa 19, juga kerap memperlihatkan hape jadulnya kepada wartawan. Itu dulu. Ketika Dhani masih fokus di industri musik, produktif bikin lagu dan aktif mengorbitkan artis-artis atau band baru. "Pengusaha-pengusaha besar itu hapenya jadul," katanya.

Namun, belakangan Dhani berubah setelah jadi politikus. Ponselnya pasti makin canggih. Mulailah dia aktif di medsos. Bikin vlog, komentar macam-macam. Lupalah dia dengan hape jadul yang bikin dia sangat hebat di industri musik sejak 90an itu.

Kemarin, Ahmad Dhani divonis satu tahun penjara di PN Surabaya. Gara-gara main medsos. Bikin vlog yang ada kata "idiot" itu. Sebelumnya Dhani juga sudah divonis 1,5 tahun di Jakarta. Gara-gara medsos juga. Gara-gara ponsel pintar dan canggih.

10 June 2019

Soesijanto, GM Luminor Sidoarjo Penikmat Golf



Dulu saya sering mampir di Luminor Hotel, Jalan Jemursari Surabaya, kalau ada live music. Kebetulan GM-nya, Soesijanto Tjokrodisastro, senang musik. Sesekali dia bikin jazz night. Yang paling saya ingat, Ucok, saksofonis terkenal di Surabaya, mengajak anggota komunitas jazz-nya ke Luminor.

"Asyik banget kalau di hotel ada event jazz secara rutin. Apalagi tamu-tamu kami banyak yang suka," ujar Soesijanto.

Tak banyak percakapan tentang jazz, musik, okupansi dsb saat menikmati live music di Luminor Jemursari. Maklum, general manager yang satu ini sibuk meladeni tamunya yang sangat banyak. Diajak bicara satu per satu. "Kalau ada live music, silakan datang lagi," kata arek Suroboyo itu.

Eh, tak berapa lama kemudian Soesijanto pindah ke Sidoarjo. Jadi GM Luminor Hotel di Jalan Pahlawan. Tak jauh dari mulut jalan tol, Stadion Gelora Delta, dan RS Delta Surya. Lokasi Hotel bintang 3 milik Waringin Hospitality itu memang sangat strategis. Membuat wajah Sidoarjo lebih modern.

Maka, diskusi atau lebih tepat ngobrol bareng GM Soesijanto jadi lebih sering. Ada-ada saja idenya untuk memeriahkan hari jadi Kabupaten Sidoarjo yang jatuh pada 31 Januari itu.

"Kita bikin semacam pesta kuliner khas Sidoarjo. Libatkan semua hotel yang ada di Sidoarjo. Kita harus ciptakan event untuk menarik wisatawan," katanya.

Ide ini kemungkinan baru bisa dieksekusi tahun depan. Saat hari jadi Sidoarjo kemarin Luminor Hotel bikin event sepeda sehat ke sejumlah objek wisata di Kabupaten Sidoarjo. Di antaranya candi-candi lawas, cagar budaya, dan Pabrik Gula Toelangan (yang sudah dua tahun tidak beroperasi). Peserta sepeda sehat ini umumnya pengusaha dan relasi Luminor Hotel di Surabaya.

Soesijanto menilai Kabupaten Sidoarjo sebetulnya punya banyak potensi yang bisa diangkat ke tingkat nasional. Bandara Internasional Juanda berada di Sidoarjo. Terminal Purabaya di Bungurasih, Kecamatan Waru. Hotel-hotel berbintang juga mulai banyak. Tidak lagi terkonsentrasi di kawasan Bandara Juanda, tapi sudah masuk ke tengah kota.

Selain Luminor Hotel di Jalan Pahlawan, belakangan ada Favehotel di Jalan Jenggolo dan Neo+ di Jalan Raya Waru. Ada pula The Sun Hotel yang lebih dulu beroperasi pada 2005. Tamu-tamu hotel ini perlu "ditahan" agar bisa jalan-jalan dan berwisata di Kota Delta.

"Makanya, belum lama ini kami juga support acara jambore sepeda tua nasional di Gelora Delta. Kami tampilkan menu-menu khas Sidoarjo yang lezat," katanya.

Omong punya omong, akhirnya saya tahu kalau GM Soesijanto ini penggemar berat golf. Bukan cuma hobi, golf sudah jadi kebutuhan hidupnya. "Saya sudah coba hampir semua olahraga. Sampai sekarang masih main bulutangkis. Tapi tidak ada olahraga yang nikmatnya melebihi golf," ujarnya seraya tersenyum.

Golf? Apanya yang nikmat?

 "Wuihhh... sulit diceritakan. Kenikmatan golf itu hanya bisa dirasakan. Sekali merasakan nikmatnya golf, kita akan jatuh cinta selamanya," tuturnya.

Kalau sudah bicara golf... GM Soesijanto tampak sangat bahagia. Wajahnya berseri-seri. Soesijanto kemudian memberi semacam kursus kilat cara memukul bola golf. Kuliah golfnya sangat detail dan menarik.

 "Mukulnya gak asal. Gak boleh pakai power. Ada seni dan teknik khusus. Kalau Anda memakai power, ya pasti gagal."

Soesijanto kemudian memperlihatkan video di ponselnya. Hampir semuanya tentang permainan golf kelas dunia. Padang golf dengan rumput hijau yang sangat terawat. 

"Coba Anda perhatikan orang tua ini. Teknik memukulnya luar biasa. Gerakannya seperti hipnotis," katanya merujuk instruktur senior yang sedang mengayunkan stiknya.

Sebagai orang yang sangat awam golf, saya sulit memahami permainan golf. Olahraga yang mirip klangenan pengusaha-pengusaha dan para veteran yang purnatugas. 

Nikmatnya di mana?

"Waduh, luar biasa golf itu. Kapan-kapan kita bikin turnamen golf biar Anda bisa melihat langsung di lapangan," ujar sang GM lantas tertawa kecil.

Soesijanto juga menyebut golf ini punya banyak filosofi. Salah satunya adalah bagaimana melawan diri sendiri. Musuh terbesar golfer itu sejatinya bukan pemain lain tapi dirinya sendiri. Dia harus bisa kontrol emosi, tetap tenang menghadapi berbagai handicap dsb dsb.

"Jadi, kita tidak gampang stres. Beban pekerjaan seberat apa pun bisa kita hadapi dengan tenang," kata GM Soes ala motivator Mario Teguh yang hebat itu.

Sebetulnya saya masih ingin mendengarkan kuliah golf dari Pak GM. Agar bisa menemukan titik-titik kenikmatan golf yang bikin bos-bos ketagihan itu. Tapi hari beranjak petang. Saya pun pamit.

09 June 2019

Lagu Religi vs Lagu Rohani


Iseng-iseng saya ketik "lagu rohani" di YouTube. Dan keluarlah lagu-lagu gospel kristiani. Mulai lagu rohani lawas ala Ade Manuhutu, Victor Hutabarat, Grace Simon, hingga lagu-lagu praise and worship terbaru.
Lagu-lagu liturgi untuk misa rupanya tidak masuk kriteria lagu rohani YouTube. Apalagi yang pakai paduan suara atau kor atau koor atau choir.

Lalu, saya iseng lagi mengetik "lagu religi". Maka YouTube langsung memamerkan ratusan hingga ribuan lagu-lagu islami. Lagu-lagu yang menggunakan syair atau lirik islami. Tidak ada pujian khas Kristiani. Mungkin ada tapi sangat jauh di urutan belakang.

Rupanya lagu-lagu religi ini tidak termasuk kasidah atau gambus. Lagu-lagu Nasida Ria, grup kasidah lawas yang sangat terkenal itu, sepertinya tidak masuk kriteria lagu religi. Apalagi lagu-lagu gambus yang berbahasa Arab.

Di zaman now, rupanya lagu-lagu religi itu yang ngepop, bisa jazzy.. dan islami. Band-band terkenal biasanya merilis single religi jelang bulan Ramadan. Dulu Ungu bikin album religi yang sangat sukses di pasaran. 

Penyanyi-penyanyi koplo yang biasanya tampil seksi dengan goyangan hot pun berubah religius di panggung. Nyanyikan lagu-lagu religi, busana muslimah, pakai hijab dsb.

Surat kabar sekelas Kompas pun menggunakan istilah lagu rohani untuk liputan khusus edisi Minggu. Kompas memberi judul liputannya Lagu Religi Pelemas Ketegangan. Wartawan menulis tentang penyanyi-penyanyi pop dan jazz kita yang mengisi bulan Ramadan dengan lagu-lagu religi. Tentu lagu-lagu yang bernuansa Islam.

Menarik juga perkembangan bahasa Indonesia hari ini. Kata rohani yang berasal dari bahasa Arab justru lebih banyak dipakai di kalangan kristiani. Ekaristi atau misa di Gereja Katolik selalu ada istilah "santapan rohani". Para romo, frater, dan bruder juga biasa disebut rohaniwan. Suster-suster disebut biarawati. Saya belum pernah dengar rohaniwati.

Kalau rohani atau ruhani (roh/ruh) berasal dari bahasa Arab, kata religi jelas dari bahasa Latin. Religi, religare, religio, religium... Kata Latin ini kemudian diserap semua bahasa Eropa. Juga dipungut bahasa Indonesia menjadi religi dan religius.

Yang menarik dari lagu rohani vs lagu religi ya di sini. Orang Nasrani memakai bahasa Arab untuk istilah "lagu rohani", sementara orang Islam menyebut "lagu religi" yang notabene dari bahasa Latin. 

Seperti diketahui, bahasa Latin adalah bahasa resmi Gereja Katolik. Misa atau ekaristi sebelum 1979 selalu dan wajib pakai bahasa Latin.

06 June 2019

Menengok Gereja Persekutuan Kristen (Gepekris) Prigen


Di kawasan Prigen, Kabupaten Pasuruan, ada beberapa gereja, biara, hingga tempat retret. Hawa sejuk dan alam nan hijau memang cocok untuk rekreasi dan refreshing rohani. Karena itu, sejak zaman Hindia Belanda sudah ada beberapa gereja di kawasan Prigen dan Trawas.

Mulai dari Griya Samadhi Vincentius (Katolik), Bukit Doa (Pentakosta), Bukit Doa Immanuel (Mawar Sharon), Gereja Advent Prigen, Gereja Advent Sumberwekas, hingga Graha Wacana SVD di Ledug yang dirintis Pater Paul Klein SVD asal Jerman itu. Nah, sebelum turunan ke Graha SVD itu ada gereja di pojok Jalan Raya Ledug 9 Prigen. Gereja Persekutuan Kristen (Gepekris) Tretes.

Dibandingkan Gereja Advent Prigen yang dibangun pada 1967, Gepekris ini kalah tua setahun. Yang pasti, Gepekris jelas jauh lebih tua ketimbang beberapa rumah retret atau pembinaan yang dibangun di atas 2000. Termasuk Graha SVD itu.

Tidak heran, Gepekris sudah menjadi semacam tetenger atau landmark di Prigen. "Jemaatnya ya dari kawasan Prigen dan sekitarnya. Banyak juga wisatawan yang ikut ibadah Hari Minggu," kata seorang jemaat.

Cukup lama Gepekris Prigen ini digembalakan oleh Pendeta Paulus Supangat. Dia punya kedekatan dengan tokoh masyarakat maupun Forpimka Prigen. Karena itu, setiap perayaan Natal pihaknya selalu mengundang camat, kapolsek, danramil, dan tokoh-tokoh masyarakat.

"Masyarakat di sini sangat guyub dan kekeluargaan," kata Pendeta Supangat beberapa waktu lalu.

Pada 14 Maret 2018, Pendeta Paulus Supangat memasuki masa emeritus. Pendeta Nonik Yulia Liem pun ditahbiskan sebagai gembala yang baru. Gepekris Prigen memasuki babak baru dalam pergumulan di era milenial.

Saat melintas di depan Gepekris, Minggu pagi, sering saya dengar lagu pujian dari Kidung Jemaat khas Protestan. Salah satunya Ku Berbahagia Yakin Teguh. Tapi kadang lagu-lagu khas pentakosta atau karismatik dengan iringan gitar. Sepertinya Gepekris ini bisa merangkul jemaat kristiani dari berbagai aliran atau denominasi.

Yang menarik, cikal bakal Gepekris ini berasal dari negeri Tiongkok. Chinese Foreign Missionary Union (CFMU) di Guangxi, Tiongkok mengirim misionaris untuk melakukan pekabaran Injil di kalangan orang Tionghoa perantauan. Salah satunya di Indonesia yang saat itu dikenal sebagai Hindia Belanda.

Upaya ini perlahan-lahan menuai hasil meskipun CFMU menemui banyak tantangan dan rintangan. Kawasan Bangka Belitung yang paling sukses. Khususnya di kalangan Tionghoa Hakka. Maka di masa lalu kebaktian pakai bahasa Hakka.

Kemudian menyebar ke Jawa Timur dan daerah-daerah lain. Dalam perjalanan waktu CFMU ini pecah jadi 3 sinode: Gereja Persekutuan Kristen (Gepekris), Gereja Kebangunan Kalam Allah (GKKA), dan Gereja Persekutuan Misi Injil Indonesia (GPMII).

Meskipun asal usulnya dari Tiongkok, jemaat Gepekris Prigen ini sangat heterogen. Selain Tionghoa, ada Jawa, Batak, NTT, Kalimantan dsb. Belum lama ini Pendeta Nova dari Nias yang memimpin kebaktian.

05 June 2019

Lafal BBC, ABC, HP, WA, KPI



Ada kawan yang jadi bahan tertawaan di sebuah seminar. Gara-gara bilang Ka-Pe-I untuk Key Performance Index. Yang benar, menurut pakar dan para peserta yang tertawa ngakak itu, adalah Kei-Pi-Ai. Lafal khas abjad bahasa Inggris: ei bi si di....

Saya tidak ikut tertawa. Sebab, saya satu aliran dengan kawan itu. Bahwa singkatan harus dibaca sesuai dengan lafal ejaan bahasa Indonesia meskipun asalnya dari bahasa asing. Itulah yang diajarkan Prof Dr JS Badudu di kolom bahasanya tahun 1980-an.

JS Badudu kemudian membukukannya dalam Inilah Bahasa Indonesia yang Benar, Gramedia Jakarta, 1983. Buku lama itu kebetulan saya jumpai di lapak buku bekas.

Di halaman 28, JS Badudu menulis topik Bagaimana Kata Singkatan Dilafalkan. Guru besar Universitas Padjadjaran, Bandung, itu menulis:

"Singkatan kata yang mengambil huruf-huruf awal kata di dalam suatu bahasa haruslah dilafalkan sesuai dengan nama-nama huruf di dalam abjad bahasa yang bersangkutan."

Karena itu, singkatan BBC dibaca Be-Be-Ce, bukan Bi-Bi-Si sesuai dengan pelafalan abjad dalam bahasa Indonesia. ABC dibaca A-Be-Ce, bukan Ei-Bi-Si untuk Radio Australia. Kecap A-Be-Ce, bukan Kecap A-Be-Se (lafal bahasa Belanda dan bahasa Indonesia ejaan Suwandi).

AC pengatur suhu ruangan dibaca A-Ce, bukan A-Se atau Ei-Si. Orang Malaysia menyebut Es-Bi-Wai untuk SBY (presiden keenam) dan Kei-Pi-Kei untuk KPK Komisi Pemberantasan Korupsi. Menhan Malaysia Mat Sabu sering merujuk SBY dan KPK dalam ceramah-ceramahnya di negara jiran itu.

Maka, teman itu tidak salah menyebut Ka-Pe-I: key performance index. Komisi Penyiaran Indonesia pun sama saja lafalnya: Ka-Pe-I.

Barangkali banyak orang Indonesia yang lupa pelajaran bahasa Indonesia tingkat SD dan SMP. Bisa juga karena terkena virus nginggris yang memang sangat akut.

Yang menarik, semua orang Indonesia melafalkan HP dan WA sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang benar. Ha-Pe bukan Eich-Pi. We-A bukan Dabelyu-Ei. Corporate Social Responsibility (CSR) juga disebut Ce-Es-Er bukan Si-As-Ar.

Nama stasiun televisi RCTI juga dilafalkan dengan benar: Er-Ce-Te-I. Tapi MNCTV yang satu pemilik diucapkan ala English Em-En-Si-Ti-Vi. Saya tidak pernah dengar Em-En-Ce-Te-Ve.

GSJS Gelar 18 Sesi Kebaktian Minggu

Ada saja pesan dari Pendeta Samuel Gunawan, pimpinan Gereja Satu Jam Saja (GSJS) di Surabaya. Hampir tiap hari. Isinya mengajak siapa saja untuk ikut kebaktian atau ibadah raya di gerejanya. Cukup satu jam saja. Sangat efisien untuk orang kota yang sibuk.

"Doakan supaya sewa gedung GC & CW disediakan oleh Tuhan," tulis Samuel Gunawan.

Gereja Satu Jam Saja ini memang tidak punya gedung gereja. Dan tidak butuh bangunan gereja macam gereja-gereja denominasi lawas. Segmen pasar GSJS memang orang modern yang senang suasana modern khas zaman now. Ala ballroom hotel bintang lima.

"Biar lebih nyaman, sejuk. Firman Tuhan lebih mudah dibayati. Gereja-gereja lama kan banyak yang cuma pakai kipas angin. Surabaya kan panas," kata Tante Tenglang, jemaat GSJS.

Tante ini tidak kerasan di gereja lama yang dianggap kurang hidup dan kebaktiannya terlalu lama. Setelah mencoba ibadah di GSJS kok rasanya cocok. Lalu meninggalkan gereja masa kecilnya yang dianggap old school.

"Anda kelihatannya masih old school. Sekali-sekali coba yang kekinian," kata tante yang juga aktivis sosial itu.

Begitulah. GSJS ini menggunakan Grand City Mall untuk kebaktian mingguan. 10 sesi. Pukul 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19. Luar biasa! GSJS minimal menyewa Grand City selama 10 sampai 11 jam.

Sukses di Grand City Mall, Samuel Gunawan membuka cabang baru di Ciputra World XXI Lounge. Juga sukses. Kebaktiannya 8 kali. Pukul 11, 12, 13, 14 + 16, 17, 18, 19.

Pendeta Samuel Gunawan pun sukses mengader anaknya, Michael Gunawan, menjadi pendeta. Tentu lebih memudahkan tata kelola GSJS. Gereja-gereja bercorak macam ini memang sangat mengandalkan manajemen keluarga. Tidak bisa sembarangan memasukkan orang luar (sehebat apa pun) ke ring 1.

Samuel Gunawan memang pandai membaca tanda zaman. Membaca selera umat kristiani di perkotaan zaman now. Karena itu, gerejanya sangat cepat berkembang dalam tempo singkat. Bayangkan, 18 kali kebaktian Minggu! Dan, melihat trennya, bakal ada cabang baru lagi di mal besar di Surabaya.

Pendeta Samuel Gunawan menulis:

"Jadilah orang Kristen yang punya KUASA. Bukan "sok berkuasa". Kuasa untuk menang! Kisah 1:8. Kuasa untuk bersaksi! Psam (Pak Samuel) doakan jemaat GSJS diberkati, dilindungi ke mana pun berlibur."

04 June 2019

Bukber di Hotel 88 Embong Malang



Buka bersama (bukber) selalu menyenangkan. Sayang, tahun ini saya tak punya banyak kesempatan untuk bukber di Surabaya. Beda dengan beberapa tahun lalu.

Yah.. selama bulan puasa 2019 ini saya hanya dua kali bukber. Minggu pertama di Sidoarjo dan minggu terakhir di Surabaya. Hari ke-29 di Hotel 88 Embong Malang. 

"Saya tunggu lho," pesan Devy Widya Pertiwi, marcomm Hotel 88, Senin siang (3 Juni 2019).

Setengah jam jelang bedug magrib, saya tiba di parkiran Hotel 88 Embong Malang. Baru kali ini mampir ke hotel milik jaringan Waringin Hospitality itu. Di Surabaya ada tiga Hotel 88. Selain di Embong Malang, dekat belokan Jalan Blauran, juga di Embong Kenongo dan Kendangsari. Bintang 3.

Mbak Devy yang alumnus Sinlui ini menjemput saya di lobi. Langsung ke tempat bukber di lantai 10. Suasananya dikemas ala rumahan. Sesuai dengan slogannya: Feel at home for business. Menunya khas rumahan: soto, penyetan, bandeng goreng, tempe tahu, terong, martabak, dawet dsb. 

"Biar tamu gak jenuh dengan makanan hotel. Tamu-tamu yang nginap lama memang suka makanan rumahan," kata Devy.

Saya pun dikenalkan dengan Didik Sakti Abadi, hotel manager. Orangnya ramah dan bersahabat. Dia mempersilakan saya mengambil makanan dan minuman. Es dawetnya josss! Hawa siang yang panas langsung hilang.

Suasana bukber di Hotel 88 Embong Malang ini memang unik. Kita bisa menikmati lalu lalang kendaraan di tengah kota dari lantai 10. Ngeri-ngeri sedap! Maklum, saya agak takut ketinggian duduk dekat dinding kaca itu.

Para tamu juga dihibur musik ringan. Seorang gadis penyanyi diiringi pemain kibod. Nuansa jazzy sangat terasa. Setelah membawakan lagu Dengan Menyebut Nama Allah... disambung ke pop jazz 90an. Arti Kehidupan (Mus Mudjiono) lalu Ermy Kullit. Sang biduanita rupanya bisa membaca selera pengunjung yang rata-rata di atas telo lema (35).

Mendengar lagu Pertama dan Terakhir, hitnya Ermy Kullit, saya pun tergerak untuk sumbang suara. Saya minta mikrofon dan meneruskan lagu jazz lawas itu sampai selesai.

"... jangan kau ulangi...
aku yang pertama....
berjanjilah sayang
bahwa dia kasih yang terakhir."

"Tambah satu lagi Pak! Tadi kan baru separo," pinta sang vokalis. Strategi khas penyanyi untuk hemat suara. 

"Pance atau Broery atau Panbers?"

"Waduh... gak hafal Mbak. Sudah lama gak nyanyi!"

"Gampang... ada liriknya di HP."

Penyanyi berhijab ini kemudian menunjukkan syair lagu di ponselnya:

"Sepanjang kita masih terus begini
Tak kan pernah ada damai bersenandung
Kemesraan antara kita berdua
Sesungguhnya keterpaksaan saja..."

Devy Widya yang duduk di dekat dinding kaca bergeser ke tengah. Merekam aksi nyanyi amatiran saya di Hotel 88 Embong Malang. Hadew! Malu ah!!!

"Biasanya bukber setiap sore sangat ramai. Tamu-tamu sampai antre panjang. Cuma sekarang yang sepi karena masyarakat kan sudah pada mudik," kata Devy yang lulusan Universitas Widya Kartika Surabaya.

Ramai atau sepi, menurut Devy, pihaknya selalu menghadirkan live music. Genre-nya apa saja sesuai permintaan pengunjung.

 "Puji Tuhan, libur panjang Lebaran ini okupansi hotel kami naik. Apalagi Hotel 88 ini berlokasi di tengah Kota Surabaya. Masyarakat yang berlibur di Surabaya biasanya mencari hotel di tengah kota. Selama ini point attraction-nya orang luar kota masih dekat TP (Tunjungan Plaza)," kata Devy.

Sampean kapan mudik?

"Hahaha... Gak ada mudik untuk orang hotel. Saya cuma libur pas Idul Fitri aja," ujarnya.

31 May 2019

Quo Vadis Bulutangkis Indonesia?

Gara-gara pilpres, kampret vs cebong, people power dan sejenisnya, kita lupa bulutangkis. Satu-satunya olahraga yang memungkinkan Indonesia juara dunia atau dapat emas olimpiade. Satu-satunya olahraga yang membuat Indonesia (pernah) sangat terkenal berkat Rudy Hartono, Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Allan dan Susi Susanti, Haryanto Arbi, Taufik Hidayat dsb.

Satu-satunya tokoh olahraga Indonesia yang namanya diabadikan jadi piala kejuaraan resmi bulutangkis beregu dunia ya Sudirman. Piala Sudirman. Saking hebatnya kontribusi mantan ketua PBSI itu untuk mengembangkan badminton di seluruh dunia.

Sayang, Indonesia gagal dan gagal lagi di Piala Sudirman 2019. Kalah telak 1-3 oleh Jepang. Prestasi Thailand bahkan lebih bagus. Padahal dari dulu pemain-pemain Gajah Putih itu kalah level dengan Indonesia. Jauuuh.

Tiongkok kembali unjuk kekuatan. Dominasinya di bulutangkis sangat stabil. Regenerasi pemain-pemainnya sangat bagus. Beda dengan Indonesia yang masih bergulat dengan persoalan regenerasi. Apalagi di sektor putri. Setelah eranya Ivana dan Susi, nyaris tidak ada pemain putri kita yang sangat tangguh.

Hiruk pikuk Piala Sudirman, juga Piala Thomas dan Piala Uber, sudah tak ada lagi di Indonesia. Makin jarang orang Indonesia yang nonton bulutangkis di televisi. Lebih sedikit lagi yang nonton langsung ke GOR. 

Beda banget dengan Persebaya yang selalu disaksikan 50 ribu penonton di stadion. Ditambah ratusan ribu pasang mata lewat televisi. Meskipun Persebaya tidak pernah menang di tiga pertandingan awal Liga 1. Kemarin ditahan 1-1 oleh musuh lawas PSIS.

Sudah banyak legenda-legenda bulutangkis yang turun gunung untuk menggembleng pemain-pemain bulutangkis kita. Salah satunya Susy Susanti. Bukan pelatih tapi pengurus PBSI. Tapi talenta super istri Alan Budikusuma ini tidak bisa ditransfer ke pemain-pemain muda.

Kualitas pelatih-pelatih kita pun rasanya tidak beda jauh dengan Tiongkok. Begitu juga fasilitas latihan, arena pertandingan, hingga roda kompetisi. Termasuk apresiasi atau hadiah bagi sang juara. Jauh lebih tinggi ketimbang pada masa keemasan bulutangkis kita di era Rudy Hartono, Icuk, Alan, Haryanto, Taufik dsb.

Lantas, mengapa prestasi bulutangkis kita tak kunjung membaik? Berubah dari negara super badminton ke medioker?

Tugas PBSI untuk melakukan pembenahan secara menyeluruh. Sebab olimpiade sudah di depan mata. Tiongkok, Jepang, Inggris, Malaysia, bahkan Thailand sudah bersiap untuk merebut medali emas olimpiade. Kita masih berkutat pada masalah yang itu-itu saja.

Andaikan bulutangkis kita masih super, menang Piala Sudirman, saya yakin orang akan malas membahas kampret, cebong, pilpres, makar, hoax dan seterusnya.

30 May 2019

Masih Ada Keroncong di Gereja



Libur nasional di bulan Mei ini cukup banyak. Setelah Waisak (sayang hari Minggu), rakyat Indonesia bisa menikmati tanggal merah pada 30 Mei 2019. Hari Kenaikan Yesus Kristus.

Pasti hari Kamis! Bukan Senin, Selasa, Rabu, Jumat, Sabtu, atau Minggu. Kalau Yesus wafat pasti hari Jumat. Jumat Agung. Itu pelajaran agama Katolik tingkat sekolah dasar di Flores, NTT, yang saya terima di kampung tempo dulu.

Nah, karena negara sudah kasih libur nasional, maka orang Katolik harus misa. Ekaristi di gereja terdekat. Pagi tadi saya misa di Gereja Salib Suci, Tropodo, Kecamatan Waru, Sidoarjo. Gereja penuh tapi tidak sesesak pekan suci yang lalu.

Pater Yosef SVD asli Flores yang pimpin misa. Homilinya enak juga. Sempat menyinggung peristiwa merusuhan pada bulan Mei 1998. Pada hari Kamis, 13 Mei 1998, bertepatan dengan Kenaikan Yesus Kristus, Pak Harto turun. Lengser karena desakan mahasiswa dan rakyat.

Yang paling berkesan dari misa tadi adalah pemazmur. Gadis Tionghoa 20an tahun. Suara soprannya benar-benar bagus. Tak berbeda dengan penyanyi-penyanyi klasik ternama di Indonesia. Kelihatannya anak itu pernah kursus vokal (seriosa) atau punya bakat alam yang hebat.

Sangat jarang saya temukan penyanyi Mazmur Tanggapan dan Alleluia punya sebagus itu di gereja-gereja katolik di seluruh Indonesia. Luar biasa anak-anak muda Sidoarjo. Punya Via Vallen yang lagi ngetop di musik dangdut koplo. Kini ada lagi gadis Tionghoa di Kecamatan Waru yang vokal seriosanya dahsyat.

Paduan suaranya sih lumayan. Mereka menampilkan lagu keroncong Bawalah Persembahan yang dulu sangat populer. Keroncong ciptaan Paul Widyawan ini sudah lama tidak saya dengar saat misa di Jawa Timur. Begitu juga lagu keroncong yang lain macam Ingin Kami Sesaji Sembah, Teruntai Sulur Niat Suci, dan sejenisnya.

Lagu-lagu liturgi inkulturatif ala Paul Widyawan memang surut sejak buku Madah Bakti diganti Puji Syukur. Tim Puji Syukur yang dimotori Pater Antonius Sutanta SJ dkk rupanya menganggap keroncong kurang cocok untuk liturgi ekaristi di gereja. Terlalu membuai khas tembang-tembang klangenan.

Jangankan di gereja, di masyarakat luas pun musik keroncong sudah lama tenggelam. Berapa jumlah orkes keroncong di Kabupaten Sidoarjo? Tidak sampai lima. Itu pun tidak semuanya aktif. Musisinya kebanyakan di atas 55 tahun.

"Cari anak-anak muda yang mau main keroncong itu susah banget," kata Mas Teguh, seniman keroncong di Sidoarjo.

Ada baiknya muda-mudi katolik (mudika) alias OMK (orang muda katolik) kembali nguri-uri musik keroncong seperti pada era 80an dan 90an. Di masa lalu hampir semua gereja katolik punya orkes keroncong. Bahkan ada yang punya kelompok karawitan dengan gamelan yang lengkap.

Selamat libur!
Selamat mudik!

Devy Widya Tidak Bisa Mudik


Ketika sebagian besar masyarakat ramai-ramai mudik ke kampung halamannya, Devy Widya Permata justru lebih sibuk saat liburan panjang Lebaran. Sebagai marketing hotel yang punya jaringan luas di tanah air, Devy harus mengantisipasi lonjakan tamu pada masa liburan panjang itu.

"Dibilang kerja keras banget sih enggak juga. Tapi kalau saya cuma libur pas tanggal merahnya aja," ujar Devy Widya Permata, marketing and communication Waringin Hospitality, di Surabaya pekan lalu.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, menurut Devy, tingkat hunian hotel-hotel di Kota Surabaya meningkat tajam. Sebab, banyak tamu dari luar kota yang memilih berlibur di Kota Surabaya. Tentu saja beban kerja para staf dan karyawan lebih berat dari biasanya.

Selain tamu dari luar kota, lonjakan okupansi hotel-hotel selama libur dan cuti bersama Lebaran ini juga karena kehadiran tamu-tamu dari dalam Kota Surabaya dan sekitarnya. Bisa jadi karena para asisten rumah tangga mudik ke kampung halaman selama dua hingga tiga pekan. Mereka pun memilih menginap di hotel agar bisa menikmati suasana yang baru.

"Hotel yang ramai itu biasanya hotel di tengah kota. Mungkin karena point attraction-nya orang luar kota masih dekat-dekat kawasan Tunjungan Plaza dan sekitarnya," kata Devy.

Di Surabaya ada tiga Hotel 88. Yakni Hotel 88 Embong Malang, Hotel 88 Embong Kenongo, dan Hotel 88 Kedungsari. Devy tidak hanya bertugas di Jalan Embong Malang Nomor 84, tapi juga di Kedungsari dan Embong Kenongo.

"Jadi, saya harus bisa me-manage waktu dengan baik. Untung, jarak antara hotel-hotel ini tidak jauh," katanya.

Tahun sebelumnya, alumnus Universitas Widya Kartika ini lebih sering berada di Luminor Hotel, Jalan Jemursari. Masih satu grup dengan Waringin Hospitality. "Tapi sekarang saya fokus di Hotel 88 saja," katanya.

Selama bulan Ramadan 1440, menurut Devy, Hotel 88 mengadakan acara buka bersama (bukber). Setiap hari. Selain para tamu, bukber ini diikuti sejumlah komunitas dan masyarakat umum. Devy juga tidak lupa mengundang awak media di Surabaya.

"Biar bisa ikut menikmati kuliner rumahan yang menjadi ciri khas 88," katanya.

Tentu saja acara bukber setiap hari ini membuat jam kerja Devy dan kawan-kawan pun berubah. Lebih panjang dari biasanya. Sebab, Devy harus menemani sejumlah relasi hingga wartawan yang berbuka puasa.

"Biasanya jam delapanan baru bisa pulang," katanya seraya tersenyum.

29 May 2019

Mayoritas ASN Tidak Suka Jokowi

Akhirnya terbukti. Mayoritas aparatur sipil negara (ASN) memang tidak suka Jokowi. Para pegawai negeri ini lebih suka capres Prabowo.

Moeldoko, tim pemenangan Jokowi-Amin, kemarin merilis data hasil pilpres. Sebanyak 78% pegawai BUMN mencoblos Prabowo-Sandi. Kemudian 72% ASN juga memilih paslon nomor 02 itu. Jokowi juga kalah telak di kompleks perumahan militer dan BUMN.

Data ini makin memperkuat kecurigaan saya selama ini. Bukan apa-apa. Status para ASN di media sosial umumnya sangat negatif terhadap pemerintahan Jokowi. Banyak ASN yang ternyata simpatisan ormas yang dibubarkan pemerintah itu.

Bahkan, ada (oknum) dokter (PNS) yang saya perhatikan sering mengecam Jokowi di grup media sosial. Sebaliknya memuji lawannya Jokowi.

Ada dokter juga dokter di Sidoarjo yang ditangkap karena menulis ujaran kebencian di medsos. Menghajar PDI Perjuangan dengan tuduhan palsu. Dokter senior ini kemudian minta maaf. Kasusnya tidak diteruskan ke pengadilan.

Ada apa dengan ASN alias PNS? Mungkin inilah era demokrasi yang sebenarnya. Bahwa ASN kini bukan lagi ASN di masa Orde Baru yang jadi alat politik pemerintah dan Golkar. Dulu Korpri (organisasinya ASN) adalah onderbouw Golkar. Dus, semua PNS wajib coblos Golkar. Loyalitasnya kepada pemerintah (Pak Harto) dan Golkar.

ASN yang ketahuan jadi simpatisan PPP atau PDIP berarti tamat. Dipecat. "Saya pilih jadi swasta karena keluarga saya Soekarnois," kata Totok di Porong, Sidoarjo.

ASN di era reformasi memang lain. Awalnya masih jadi orang Golkar, tapi lama-lama mengambil jarak dengan kekuasaan. ASN bisa ikut partai apa saja. Tidak bisa lagi dimobilisasi untuk pemenangan partai atau capres tertentu.

Lantas, mengapa Presiden Jokowi tidak disukai ASN?

Belum ada penelitian ilmiah dari kalangan kampus. Namun, bisa diduga, zona nyaman ASN hilang di era Jokowi. Pegawai negeri tidak bisa lagi santai-santai, ongkang-angkang, gaji dan tunjangan selalu naik, dapat pensiun bagus.

Kebijakan Jokowi membuat para ASN makin mirip karyawan swasta. Kinerjanya dinilai. Ada target. Evaluasi. Sistem pensiunnya diubah. Dan masih banyak lagi kebijakan yang memaksa ASN untuk bekerja beneran. Peluang untuk dapat ceperan atau uang pelicin dipersempit.

Zona integritas dibangun di mana-mana. Dan itu membuat para ASN tidak bisa lagi pesta pora. Sudah begitu banyak bupati, wali kota, gubernur, dan para kepala dinas ditangkap karena korupsi atau suap.

Di sisi lain, Prabowo-Subianto memberikan angin surga untuk para ASN. Gaji mereka akan dinaikkan banya kalau mantan menantu Pak Harto ini menang pilpres. Orasi-orasi Prabowo yang berapi-api rupanya sangat meyakinkan para ASN. Setidaknya kebijakan kepegawaian Prabowo nanti beda dengan Jokowi.

Maka, tidak heran bahwa Prabowo jadi capres impian para ASN. Tapi rupanya jutaan rakyat yang bukan ASN lebih suka Jokowi. Lebih suka postur ASN yang ramping, efisien, dan benar-benar bekerja. Bukan cuma apel pagi, isi daftar hadir, main medsos, baca koran (sekarang sudah jarang orang membaca koran di kantor), main catur, ngopi, ngobrol, tapi terima gaji penuh di akhir bulan.

Reformasi birokrasi memang tidak gampang. Apalagi melakukan revolusi mental ASN yang sudah terbiasa santai dan manja. Untungnya, mayoritas rakyat Indonesia bukan ASN.

28 May 2019

Dari Low Trust ke Distrust Society

Indonesia itu low trust society. Masyarakatnya sulit percaya satu sama lain. Dulu. Ketika belum ada media sosial. Belum ada HP yang pintar. Ketika belum ada pemilihan presiden dan kepala daerah secara langsung.

Sekarang Indonesia naik kelas. Dari low trust society ke distrust society. Bukan saja sulit percaya, tapi tidak saling percaya. Apa pun yang dikatakan kampret pasti dianggap bohong oleh cebong. Penjelasan kaum cebong, seilmiah apa pun, akan ditolak kaum kampret.

Bukan saja orang awam. Orang-orang terdidik, profesor doktor, pun terjangkit virus post truth. Hanya percaya pada apa yang dia sukai. Kajian akademis, riset, survei dsb akan ditolak kalau hasilnya tidak cocok dengan pikirannya.

Itulah yang terjadi saat pilpres kemarin. Meskipun 9 atau 10 lembaga survei merilis hasil hitung cepat, Prabowo dan pendukungnya tidak percaya. Malah lembaga-lembaga survei itu diserang habis. Dianggap pesanan petahana. Dibayar mahal untuk menggiring opini masyarakat.

Maka Prabowo dkk pun bikin perhitungan sendiri. Hasilnya menang 62 persen. Sujud syukurlah dia ke hadapan Yang Mahakuasa. Merasa sudah menang.

KPU pekan lalu mengumumkan hasil Pemilu 2019. Hasilnya ya hampir sama dengan quick count yang diumumkan di televisi pada 17 April itu. Kecuali hitung cepat dan real count versi Prabowo dkk. Lagi-lagi tidak dipercaya. Bikin aksi jalanan yang berujung kerusuhan itu. Disusupi teroris pula.

Lalu majulah ke Mahkamah Konstitusi. Sebelumnya MK dianggap sia-sia. Dianggap mahkamah kalkulator. Kita tunggu saja putusan MK yang final dan mengikat itu. Kalau tidak dipercaya juga ya... bablas angine. Demokrasi dalam bahaya. Kalau people power jadi pilihan untuk menggapai kekuasaan.

Malang nian bangsa ini. Fukuyama bilang negara-negara yang low trust society sulit maju. Kerja sama atau team work tidak jalan. Bukannya saling mendukung, malah saling cuek. Akan lebih parah lagi kalau NKRI ini jadi distrust society.

Sudah lama narasi-narasi yang dikembangkan di media sosial berupa ujaran kebencian, permusuhan, bullying, fake news, hoax. Sesama anak bangsa diajak untuk saling curiga dan saling benci. Bahkan pejabat-pejabat negara, tokoh masyarakat, tokoh agama pun diserang. Bahkan ada orang yang main ancam penggal kepala segala.

Ngeri! Indonesia sudah gawat darurat. Kalau suasana distrust ini tidak disadari ya pilar-pilar bangunan besar negeri ini akan semakin keropos dari waktu ke waktu. Mau dibawa ke mana Persatuan Indonesia, sila ketiga itu?

23 May 2019

Nasdem Berjaya di Indonesia Timur

Peta politik di kawasan Indonesia Timur rupanya sudah berubah total. Khususnya di NTT, kampung asal saya. Golkar tidak lagi digdaya. Beda dengan dulu yang selalu menang di atas 90 persen. PDI Perjuangan pun tidak sehebat di awal reformasi.

Hasil rekapitulasi KPU pekan lalu menunjukkan fakta menarik. Nasdem ternyata juara di NTT. Ini di luar prediksi saya. Bisa jadi karena Gubernur NTT Victor Laiskodat pentolan Partai Nasdem, orang dekat Surya Paloh. Sekjen DPP Nasdem Johny Plate juga asli NTT.

Nasdem juga juara di Papua dan Papua Barat. Partai lawas macam Golkar dan PDI Perjuangan harus mengakui kemenangan Nasdem. Tanpa tuduhan kecurangan sistematis dan terstruktur. Gerindra juga diminati rakyat di timur.

Di Maluku dan Maluku Utara pun posisi Nasdem bagus meskipun bukan juara satu. Nasdem posisi kedua. Sulawesi Utara pun Nasdem juara kedua.

Mengapa Nasdem sangat diminati di timur? Khususnya NTT, Papua, Papua Barat, Maluku, dan Maluku Utara? Sementara di Aceh, kampung halaman Surya Paloh 0 kursi?

Perlu kajian dan analisis khusus. Dan itu tugas para akademisi atau mahasiswa di Kupang, Jayapura, Sorong dsb. Tapi secara selintas bisa dikatakan bahwa Nasdem merupakan partai yang ramah minoritas.

 Lihat saja pengurus inti Nasdem di pusat yang cukup banyak asal NTT. "Di Nasdem kita tidak lihat engkau orang mana, agama apa, suku apa dsb," kata Albert, pengurus Nasdem Jatim asal Manado, yang dulu aktivis PMKRI.

Nasdem punya corong utama Metro TV. Televisi berita milik Surya Paloh. Kebijakan pemberitaan, visi dan misi, bahkan editorialnya sangat tajam dan blakblakan. Beda dengan kebanyakan media yang memilih bermain aman dan diplomatis.

Dan, jangan lupa, Nasdem eh Metro TV merupakan satu-satunya televisi yang punya program berita bahasa Mandarin. Bahkan, televisi ini selalu ikut merayakan hari-hari raya minoritas macam natal, paskah, sincia, cap go meh, waisak, nyepi dsb.

Komitmen Nasdem ini rupanya mendapat tempat di hati warga provinsi-provinsi minoritas. Kecuali Bali. Di Pulau Dewata Nasdem tidak dapat kursi DPR RI. PDI Perjuangan memborong 6 dari 9 kursi yang tersedia.

Kuncinya di Prabowo

Masalahnya Prabowo tidak percaya KPU. Tidak percaya Bawaslu. Tidak percaya MK (meski belakangan mau gugat ke MK). Tidak percaya polisi, tentara, lembaga-lembaga negara lain yang dianggap tidak netral.

Prabowo hanya percaya BPN dan pikirannya sendiri. Percaya bahwa dirinya menang 62 persen. Belakangan dikoreksi jadi 54 persen. Versi KPU: Jokowi menang 55,55 persen.

Kalau versi KPU beda dengan BPN berarti curang. Kecurangan yang brutal, sistematis, masif, terstruktur. Begitu logika yang diyakini sungguh oleh Prabowo dan pendukungnya sejak malam hari setelah pencoblosan.

"Mestinya Pak Prabowo menelepon Pak Jokowi untuk mengucapkan selamat. Setelah pengumuman resmi dari KPU. Itulah yang saya lakukan dulu kepada Pak SBY yang menang pilpres," kata Jusuf Kalla, capres periode lalu, yang kalah dari SBY-Budiono.

Mestinya begitu. Bahkan seharusnya tidak perlu tunggu KPU. Sebab lembaga-lembaga survei sudah mengumumkan hitung cepat yang kredibel.

Tapi Prabowo bukan JK. Prabowo tidak percaya quick count. Kalau hasil hitung cepat dia yang menang ya percaya. Makanya dia hanya percaya perhitungan BPN itu tadi. Percaya kalau dirinya yang dimenangkan.

Nasi sudah jadi bubur. Api sudah menyala. Unjuk rasa sudah sangat membahayakan ketertiban umum. Bakar sana bakar sini. Teriak sana sini. Misinya apa lagi? Bilangnya mau ke MA tapi tetap memelihara aksi jalanan?

Mudah-mudahan Prabowo yang mengklaim sebagai patriot, nasionalis, cinta tanah air terketuk hatinya. Begitu juga para elite pembisik di sekitarnya.

Jangan ada korban lagi! Satu nyawa sudah terlalu banyak.

20 May 2019

Cebong vs Kampret Rusak Harmoni

Politik jadi panglima di NKRI pasca-Soeharto. Khususnya setelah ada pemilihan langsung. Khususnya setahun belakangan. Media sosial penuh dengan politik. Sebagian besar hoax. Ujaran kebencian merajalela.

"Tak ada lagi KITA. Pilihan cuma jadi KAMPRET atau CEBONG. Ekstrem vs ekstrem," tulis Ketua Umum Peradi Juniver Girsang di koran pagi ini.

Perhimpunan advokat itu gerah dengan kompetisi politik yang sangat melelahkan. Rasa persaudaraan antarwarga seperti hilang. Rakyat dibelah: kami vs mereka.

Pembelahan rakyat ini harus dihentikan. Saatnya kerja kerja kerja... membangun negara ini.

Kompetisi politik di era demokrasi liberal ini memang panas. Dan itu sudah terasa sejak 2014. Jokowi vs Prabowo jilid satu. Yang melahirkan cebong vs kampret. Ada Obor Rakyat segala.

Revans Jokowi vs Prabowo 2019 jauh lebih panas. Ini karena sebelumnya ada pilkada DKI Jakarta yang super panas. Ahok vs Anies. BTP bukan saja kalah tapi juga masuk penjara 2 tahun.

HTI kemudian dibubarkan pemerintah. Pimpinan FPI berlibur lama di Arab Saudi. Lalu pilpres dengan klaim kemenangan baik kubu cebong maupun kampret.

Akankah suhu politik bakal turun setelah 22 Mei 2019? Saat KPU secara resmi mengumumkan hasil pemilu?

Tergantung elite politik. Khususnya Prabowo. Kalau orasi-orasinya panas terus, menolak hasil pilpres, menafikan KPU, Bawaslu, MK dsb, ya panas terus. Bisa tambah panas negeri ini.

Yang senang justru teroris-teroris dan anasir-anasir yang ingin negara ini kaos. Sayang, sebagian elite politik tidak siap pemilihan langsung. Perolehan suaranya kalah banyak tapi merasa menang. Menuduh lawannya curang.

Studio Liem Keng Jadi Toko Listrik

Sejak sebulan ini hampir tiap hari saya melintas di Undaan Kulon. Menuju kota lama Surabaya. Finis persis di pojokan Jembatan Merah yang terkenal itu. Melihat sungai yang airnya keruh cokelat. Ruwet dan selalu macet. Apalagi di Jalan Karet. Tak jauh dari gapura pecinan Kya Kya Kembang Jepun.

Setiap kali lewat di Jalan Undaan Kulon 125, saya selalu ingat Liem Keng. Pelukis senior maestro sketsa yang meninggal 10 tahun lalu. Saya ikut mengantar jenazah seniman kelahiran Tanggulangin, Sidoarjo, 9 Maret 1934, ini ke krematorium di kawasan Juanda, Sedati. Ikut tabur bunga di atas peti jenazah sebelum mesin kremasi dihidupkan.

Liem Keng yang bersahaja. Saya selalu mampir ngobrol di rumah sekaligus toko pracangan di Undaan Kulon 125 itu. Seniman-seniman muda pun muncul untuk berguru. Minta masukan tentang sketsa, lukisan dsb. Liem Keng biasanya tersenyum. Lalu kasih masukan dengan suara halus.

Saya pun diajak ke lantas atas. Melihat koleksi sketsa-sketsa beliau yang ciamik. Banyak juga sketsa ciamik tapi dia anggap gagal. Gak ada nyawanya, kata lelaki kurus ini.

Bagaimana nasib koleksi-koleksi itu? Apakah rumah plus studio ini akan jadi museum seni rupa?

Saya ragu. Sebab dua putra Liem Keng tinggal di Papua dan Belu NTT. Tidak punya minat sama sekali ke seni rupa atau kesenian. Mereka sejak kecil diarahkan mamanya untuk menekuni dagang. Sebab seni lukis tidak bisa diandalkan untuk hidup.

"Soal lukisan-lukisan dan rumah akan kita pikirkan kemudian," kata Liem Ie Waliban, putra kedua Lim Keng yang tinggal di Papua.

Akhirnya, waktu jua yang menjawab. Studio sekaligus toko pracangan Liem Keng di Undaan Kulon itu sudah jadi toko alat-alat listrik. Saya selalu melirik ke arah toko itu setiap lewat di Undaan Kulon. Khususnya ketika lampu lalu lintas sedang merah. Rumah itu memang jaraknya tidak sampai 25 meter dari TL.

Suatu kali saya mampir ke toko itu. Pura-pura bertanya tentang rumah mendiang Liem Keng.

"Permisi, rumahnya pelukis Pak Liem Keng itu di mana ya?"

"Pelukis??? Di sekitar sini gak ada pelukis. Yang ada cuma toko-toko," kata seorang lelaki 30-an tahun.

Begitulah nasib seniman di NKRI. Terlalu cepat dilupakan orang. Tak ada museum atau sekadar tempat sederhana untuk memajang karya-karyanya. Di negeri yang masyarakatnya masih terus bergumul dengan urusan sembako.

19 May 2019

Homili di USA: Singkat Padat Lancar



Minggu pagi ini saya tidak pigi gereja. Kejauhan dan sudah terlambat. Perlu waktu 40an menit ke gereja paroki di kota kecil di Jatim. Tapi.. saya tetap bisa ikut misa pagi. Langsung dari Washington.

Teknologi informasi saat ini benar-benar membuat dunia jadi menyatu. Tanpa jarak. Kita yang berada di pegunungan Mojokerto bisa ikut The Sunday Mass yang dipimpin Mgr Raymond East, bapa uskup di Washington USA. Ekaristi pagi ini 5th Sunday of Easter - May 19, 2019.

Nyanyian pembukaan sudah sangat enak. Guest Choir: Members of the Theological College Seminarian Schola, The Catholic University of America, Washington, DC. Tidak sampai 10 orang tapi sangat profesional. Baik Gregorian Latin maupun Inggris.

Bacaan-bacaan misa sama persis dengan di Indonesia.

First Reading: Acts 14: 21-27
Second Reading: Rev 21: 1-5A
Gospel: John 13: 31-33A, 34-35

Yang selalu bikin saya kagum adalah homilinya. Sudah lama saya perhatikan pater-pater Amerika dan Kanada sangat fasih bicara. Homili atau khotbah sangat lancar mengalir. Tidak perlu teks atau catatan. Homili kayak ngobrol dengan kawan lama.

Bisa jadi karena bahasa Inggris punya banyak kelebihan ketimbang bahasa Indonesia. English adalah bahasa ibu orang USA. Begitu lahir bayi-bayi USA sudah dengar English. Tidak ada bahasa daerah yang banyak kayak di Indonesia.

Beda dengan kita. Bahasa Indonesia bukanlah bahasa ibu. Kita baru belajar bahasa Indonesia setelah masuk sekolah. Itu pun tidak bisa lancar. Bahasa Indonesia formal dan informal sangat berbeda. Makanya pater-pater di NKRI tidak bisa berhomili secepat dan senatural pater-pater di Amerika atau Inggris sana.

Khotbah padat, misa juga demikian. Sunday Mass yang biasanya 70-90 menit di Surabaya atau Sidoarjo bisa diringkas jadi 30 menit di Amerika. Ini juga karena misa di gereja USA ini tidak banyak nyanyian. Lagunya cuma 4: pembukaan, mazmur tanggapan, sanctus, dan agnus dei. Beda dengan di misa di Surabaya/Sidoarjo yang lagunya ada 12 sampai 15.

17 May 2019

Arzeti Bilbina Lolos ke Senayan

Akhir 1990-an hingga pertengahan 2000-an Arzeti Bilbina jadi model top di negeri ini. Hampir setiap bulan dia dapat job di Surabaya. Paling sering di Shangri-La. Jadi peragawati aneka busana rancangan desainer-desainer Jakarta, Surabaya, dan kota-kota lain.

Sang peragawati ini pun kerap lenggak-lenggok di bridal show. Peragaan gaun pengantin di Surabaya. "Arzeti memang model papan atas. Teman-teman desainer lebih suka kalau dia yang jadi model busana mereka," kata pimpinan sebuah sekolah fashion terkenal di Surabaya.

Selain Arzeti, top model yang lagi berjaya saat itu adalah Karenina. Sama-sama cakep, sama-sama super sibuk. Sulit dimintai waktu 10 menit atau 5 menit untuk wawancara singkat.

Terus kita nulis apa? Mbak model gak mau ngomong?

"Bikin deskripsi aja saat Arzeti tampil di catwalk. Wawancara sama desainernya aja. Pasti gampang," kata Ika, teman reporter dari JP yang sekarang jadi dosen bahasa Inggris.

Saya geli sendiri saat ditugaskan jadi peliput selebriti, model kayak Arzeti, Inul si Ratu Ngebor, dan manusia-manusia ajaib lainnya. Sebab, dunia ini sangat asing bagi saya. Dunia gemerlap nan wangi di ballroom hotel berbintang internasional. Juga hampir tidak ada wawancara mendalam dengan si artis sebagai narasumber. Omongan seenaknya, gak fokus, dan tidak menarik.

Beda banget dengan musisi jazz, klasik, atau tradisi yang sangat enak diajak diskusi. Atau pelukis-pelukis yang bisa diajak ngobrol berjam-jam sampai pagi. Atau seniman teater yang suka mengajak reporter jalan-jalan ke luar kota untuk latihan alam dsb.

Untungnya saya tidak lama berurusan dengan dunia fashion, modeling, clubbing, atau life style. Tidak perlu lagi mengemis informasi dari Arzeti atau Karenina. Tidak perlu mencari-cari gosip pacaran, selingkuh, jalan bareng dan sejenisnya.

Eh, belakangan... sekian tahun kemudian Arzeti Bilbina sering blusukan ke Sidoarjo. Masuk kampung ke luar kampung. Jadi duta buku, pengurus KONI Sidoarjo dsb. Arzeti juga sering muncul di acara-acara pemkab. Bukan lagi sebagai model, tapi anggota DPR RI dapil Surabaya dan Sidoarjo.

Arzeti Bilbina menggantikan Imam Nahrawi yang ditunjuk sebagai menpora. Sejak itu Arzeti makin mudah ditemui. Diajak bicara enak. Sekarang kelihatannya dia membutuhkan wartawan agar kegiatan reses dan blusukannya bisa diberitakan.

Dandanan dan busananya masih khas peragawati. Tapi pakai hijab nan anggun. Maklum, politikus PKB mewakili Sidoarjo Kota Santri. Beda banget dengan masa kejayaan di catwalk dulu. Wanginya tetap semerbak di usia 45-an.

Saat kampanye lalu, April 2019, poster dan baliho Arzeti yang paling modis. Desainnya mirip cover majalah wanita macam Femina atau Kartini. Posternya tersebar di 18 kecamatan.

Rupanya wajah cantik Arzeti plus kiprahnya sebagai wakil rakyat petahana jadi sihir yang jitu. Arzeti berhasil mengumpulkan 30.729 suara di Sidoarjo. Di Surabaya dapat 22.456 suara. Total 53.185 suara. Sang mantan model top ini pun melenggang dengan mulus ke Senayan.

"Alhamdulillah, saya kembali mendapat amanah dari masyarakat Sidoarjo dan Surabaya," kata perempuan kelahiran Lampung dan besar di Jakarta itu.

Arzeti Bilbina merupakan 2 dari 16 caleg artis di dapil Jatim yang lolos ke DPR RI. Satu pesohor lagi yang lolos adalah Krisdayanti, penyanyi top segenerasi Arzeti. KD maju dari kampung halamannya di Malang Raya dari PDI Perjuangan.

Arzeti merupakan salah satu dari sedikit selebriti yang mampu beradaptasi dengan panggung politik. Panggung yang sebenarnya sama-sama penuh dengan sandiwara dan pencitraan.

15 May 2019

Ludruk pilpres masih panjang



Bulan puasa sudah masuk pekan kedua. Televisi-televisi berlomba bikin acara berbau Ramadan, sahur, dsb. Tapi tensi politik masih tinggi. Khususnya capres-cawapres 02 dan pendukungnya.

Kubu Prabowo kembali klaim kemenangan. Kalau dulu 62 persen, kemarin turun jadi 54 persen. "Kita telah mendapat mandat dari rakyat," ujar Prabowo di depan pendukungnya. Mandat opo?

"Kami tidak makar. Kami membela bangsa Indonesia. Jangan takut-takuti kami dengan senjata yang dibeli oleh uang rakyat," kata Prabowo. Tegas, keras, seperti biasa.

Bukankah rekapitulasi sedang dilakukan KPU? Pengumuman resminya 22 Mei 2019?

Rupanya Prabowo sudah tidak sabar jadi presiden. Malam setelah pencoblosan, 17 April lalu, bekas menantu Pak Harto dua kali deklarasi kemenangan. Berdasar angka-angka dari timnya sendiri. Hebat!

Di koran pagi ini ada berita berjudul: Prabowo-Sandi Tolak Penghitungan KPU. Alasannya, banyak kecurangan.

Ibarat sandiwara atau ludruk atau film, pertunjukan masih seru. Belum antiklimaks. Penonton masih penasaran dengan akhir cerita. Protagonis vs antagonis gak jelas.

Bahkan, setelah 22 Mei pun adegan ludruk pilpres ini masih berlanjut ke MK. Belum lagi ada pernyataan kubu Prabowo tentang people power, diskualifikasi Jokowi, dsb dst.

Monggo siapkan kopi dan gorengan! Ludruk pilpres masih panjang.

13 May 2019

Daniel Rohi Akhirnya Lolos ke DPRD Jatim

Kaget juga membaca nama-nama 100 caleg yang lolos ke DPRD Jatim. Ada nama Daniel Rohi. Dosen UK Petra asal Kupang NTT ini jadi caleg ke-11 yang lolos dari PDI Perjuangan. Mewakili Malang Raya.

Daniel Rohi. Lama tak bertemu bung yang suka bicara bahasa Melayu Kupang meskipun sudah karatan di Surabaya. Logat NTT sonde bisa hilang, katanya. Bae sonde bae tanah Timor lebeh bae!

Bung Daniel cukup lama kuliah lanjut di Malaysia. Di negara jiran itu dia banyak belajar sistem politik Malaysia. UMNO yang dominan, pembangkang (oposisi) yang galak, ADUN yang selalu turun menemui rakyat di dapilnya.

ADUN itu ahli undangan negeri. Macam anggota DPRD di sini. "Semua ADUN punya gelar YB di depan namanya. YB: Yang Berhormat," ujar Daniel Rohi kepada saya di kampus UK Petra Surabaya.

Sangat sering saya ngobrol sama orang Kupang ini. Ada saja isu yang bisa digoreng jadi berita. "Bung sangat cocok jadi ADUN di sini. Bung kan mantan ketua GMKI Surabaya," kata saya serius.

"Masalahnya, beta bukan anggota partai. Kalau bukan anggota partai, mana bisa jadi anggota dewan," katanya.

Tak lama kemudian saya baca di koran. Daniel Rohi jadi sekretaris Partai Demokrasi Kasih Bangsa (PDKB) Jatim. Tentu saja jadi caleg juga. Tapi gagal. PDKB bubar karena gagal di electoral threshold.

"PDKB itu sekolah politik saya. PDKB yang membentuk skill politik saya," kata Daniel Rohi.

Bung Daniel yang sudah kecemplung ke kolam politik pantang mundur. Masuklah dia ke PDI Perjuangan. Jadi caleg lagi. Gagal lagi. Sampai tiga kali.

"Puji Tuhan dan terima kasih atas dukungannya. Setelah antre 4 kali pemilu... akhirnya," tulis Daniel Rohi. Ada gambar hati warna merah muda.

Daniel Rohi menggarap suara umat Kristen Protestan di kawasan Malang Selatan. Di antaranya di Sitiarjo. Salah satu kampung kristiani yang punya GKJW legendaris. Begitu juga pasamuwan GKJW-GKJW lain.

"Suara dari Sumbermanjing Wetan ini lumayan. Itu salah satu basis massa saya. Tentu saja saya tidak hanya mengandalkan suara dari umat Kristiani. Kontribusi suara yang signifikan justru dari komunitas lain," katanya.

Apa program YB Daniel Rohi?

"Tunggu pengumuman dan penetapan resmi dari KPU dulu lah. Sekarang beta belum saatnya bicara," katanya.

Pastor-Pastor Tidak Pakai Jubah

Foto di Jawa Pos halaman 17 Senin ini (13/5/2019) cukup menarik. Para pemuka agama berdoa bersama di Mapolrestabes Surabaya. Mengenang tragedi bom di 3 gereja di Surabaya tahun lalu.

Dari busananya kelihatan agamanya. Rohaniwan Hindu dan Khonghucu sangat jelas. Ulama Islam pakai sarung, songkok, ada sorban. Yang Nasrani? Gak jelas. Sebab tidak ada penanda. Tidak ada kekhasan.

Pastor Katolik pakai kemeja hitam, bawahan celana jins. Pendeta Kristen Protestan pakai baju batik. Tidak ubahnya jemaat biasa. Tidak ada ciri khas busana pendeta atau pastor.

Dulu, sebelum 1990, para pater atau pastor Katolik pakai jubah ke mana-mana. Frater-frater pun pakai jubah. Saya sering lihat frater-frater BHK jalan kaki di Malang. Dari dan ke biaranya di Celaket 21 dekat RS Syaiful Anwar yang terkenal itu.

Entah mengapa, sejak 20an tahun ini pater-pater alias romo-romo sangat jarang pakai jubah. Pakai jubah kalau mau liturgi saja. Selepas misa langsung lepas. Pakaian biasa. Karena itu, umat yang baru tidak tahu kalau laki-laki itu seorang pastor. Tidak ada penanda seorang klerus.

Romo makin sekuler? Makin profan? Kalau dilihat dari pakaiannya sehari-hari iya. Beda dengan Pater Geurtz SVD dan Pater Van der Leur SVD di kampung saya di Lembata dulu yang lebih banyak pakai jubah putih. Pastor-pastor sekarang sangat jarang pakai jubah kalau tidak sedang liturgi.

Syukurlah, suster-suster alias biarawati masih konsisten pakai jubah dan kerudung setiap saat. Rasanya kok gak adil. Mengapa biarawan-biarawan bisa bebas pakai pakaian apa saja, sementara biarawati-biarawati tidak bebas? Untungnya para biarawati ini tidak protes.

11 May 2019

Kenjeran Park jadi hutan kota



Lupakan dulu setan gundul! Lupakan dulu klaim-klaiman hasil pilpres! Abaikan saja people power! Saatnya kita piknik akhir pekan. Cukup di dalam kota aja.

Ternyata sudah lama banget saya tidak piknik di Kenjeran. Pantai timur Surabaya. Hampir 4 tahun tidak mampir ke kawasan Ken Park milik Pak Soetiadji Yudho itu.

Padahal dulu sering banget ke sana. Begitu banyak kegiatan warga Tionghoa digelar di Pantai Ria Kenjeran. Ada Kelenteng Sanggar Agung dengan patung tinggi menjulang di pinggir laut. Patung Buddha Empat Muka. Kya Kya dengan 12 shio. Pagoda yang mirip dengan di Beijing.

Di depan Sanggar Agung ada pedagang burung-burung kecil. Untuk fang shen orang Tionghoa. Puluhan PKL berjajar menjual aneka makanan dan minuman. Tapi ironisnya sulit cari ikan laut di pinggir laut.

Mampir lagi ke Ken Park membuat saya rada kagok. Karcis masuknya naik di atas 200 persen. Sepeda motor dikarcis Rp 20 ribu. Mungkin ini pula yang membuat Ken Park tidak seramai dulu.

Yang baru hanya satu. Sekarang ada Atlantis arena bermain anak. Banyak wahana yang menarik. Ongkosnya Rp 100 ribu. Bisa menikmati semua wahana sepuas-puasnya.
Atlantis ini dibangun di atas lahan yang dulu dipakai balapan motor. Atau pacuan kuda. Rupanya lebih laba untuk Atlantis.

"Penggemarnya banyak. Setiap hari ada rombongan yang ke sini," kata mantan satpam yang sekarang jualan es degan.

Dibandingkan wahana-wahana lain, Atlantis ini yang paling terawat. Sebab operatornya dari Australia. Kalau wahana lain dikelola PT Granting Jaya. Sekadarnya saja. Maka pagoda itu kelihatan mangkrak. Tidak ada aktivitas di sana. Hanya beberapa anak muda selfi-selfian dan bercanda.

Padahal, dulu cukup banyak kegiatan digelar di pagoda itu. Salah satunya perayaan bulan purnama Tiong Chiu Pia. Ada artis dari Taiwan, Hongkong, atau Tiongkok. James Chu dari Hongkong pernah mengisi konser kecil-kecilan di situ.

Kejuaraan taichi tingkat nasional juga diadakan di sini. Ketua ATNI Pusat hadir di arena yang ciamik itu. Pentolan ATNI ini tak lain orang terkaya di Indonesia dari Djarum Kudus.

Saat bulan puasa juga ada acara buka bersama di situ. Ribuan orang hadir. Saya ikut motret.

Sayang... semuanya tinggal cerita masa lalu. Manajemen Ken Park rupanya kesulitan untuk mengemas kawasan pantai seluas puluhan hektare itu menjadi tempat wisata modern.

Namun, di sisi lain, saya gembira karena pohon-pohon yang ditanam empat atau lima tahun lalu kini sudah tinggi besar. Kawasan Ken Park yang dulu panas kini jadi sejuk. Benar-benar jadi hutan kota. Bahkan pohon-pohon di dekat gedung bulutangkis (mangkrak) itu lebih rimbun ketimbang di Trawas Mojokerto.

Saya yang senang wisata hutan, wanawisata, sangat menikmati suasana Ken Park sekarang. Jadi pemasok oksigen untuk warga Kenjeran dan Bulak.

Liga Inggris istirahat lamaaa

Liga Inggris pun selesai. Sepuluh pertandingan digelar bersamaan besok malam. Jam 9. Liverpool dan City bersaing untuk merebut trofi juara musim ini. Tapi sejak awal saya prediksi juaranya City.

Sebagai penganut umpan pendek, possesion football, atraksi individu ala Ronaldinho atau Maradona, saya lebih suka City atau Barca. Meskipun Barca baru saja dipermalukan Liverpool di Liga Juara. City dibesut Pep dengan gaya mendekati Barcelona.

Siapa pun juaranya bukan masalah. Yang pasti, Liga Inggris memberikan hiburan segar di saat Indonesia dilanda hiruk pikuk politik berkepanjangan. Ketika kedua capres dan pendukungnya sama-sama mengklaim menang. Kalau kalah berarti KPU, Bawaslu dsb curang!

Dibandingkan liga-liga yang lain, Liga Inggris paling menghibur. Sebab tidak ada tim yang sangat superior. Beda dengan Liga Italia yang dikuasai Juventus. Liga Jerman Bayern Munchen. Liga Spanyol Barcelona dan Real Madrid.

Di Inggris tim juru kunci alias peringkat ke-20 bisa mengalahkan MU. Padahal MU ini super kaya. Ada pemain bintang sekelas Pogba atau de Gea. City yang perkasa pun sulit menang lawan Leicester City. Chelsea yang punya Hazard sering jadi bulan-bulanan klub papan bawah.

Selain itu, jadwal Liga Inggris sangat ramah dengan pemirsa di Indonesia. Dimulai sebelum pukul 23.00. Beda dengan Liga Spanyol yang mulai pukul 01.00 atau 02.00 WIB. Bahkan banyak laga yang kickoff pukul 18.00 atau 19.00.

Sudah lama saya tidak lagi menonton televisi nasional yang programnya picisan. Hanya sepak bola itulah yang saya lihat. Sesekali diskusi sosial politik tapi bukan ILC. Sepak bola Inggris ibarat oase di tengah belantara politik kita yang panas.

Minggu malam Liga Inggris rampung. Hiburan gratis itu pun untuk sementara hilang. Menunggu musim baru yang biasanya dimulai pertengahan Agustus 2019. Saya ingat karena awal musim selalu diwarnai acara tujuh belasan di kampung-kampung.

Tanpa sepak bola, maka televisi-televisi kita dijejali acara berbau bulan puasa. Nyaris 24 jam. Tanpa sepak bola, talkshow politik tentang pilpres jadi sangat dominan. Bikin bosan.

Syukurlah, sekarang ada YouTube. Masyarakat tidak bisa lagi didikte pengelola televisi dengan acara-acara picisan dan pemesanan. Yang penting kuota cukup.

Kuota data saya hampir habis karena semalam dipakai nonton film lawas Cintaku di Rumah Susun. Jadi tahu kalau artis Jajang C. Noer itu saat berusia 20-an ternyata manis banget. Aktingnya bikin gemas.

09 May 2019

Ngobrol dengan Bro William Sekretaris PSI Surabaya

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bikin kejutan di Surabaya. Partainya Bro dan Sis ini sukses mengantar 4 calegnya ke DPRD Kota Surabaya periode 2019-2024.

Meskipun tidak punya pengalaman politik, PSI mampu mengalahkan partai lawas macam PAN, PPP, atau PBB pada Pemilu 2019. Partai anak muda pimpinan Grace Natalie ini bahkan setara dengan Demokrat atau Nasdem.

Rabu malam, 8 Mei 2019, saya coba ngobrol dengan William Wirakusuma via WA. Sambil ngopi di kawasan Wonokromo, persiapan nonton semifinal Liga Juara-Juara Ajax vs Spurs.

William lolos ke DPRD Surabaya dari Dapil 3 Surabaya Timur (Bulak, Gununganyar, Mulyorejo, Rungkut, Sukolilo, Tenggilis Mejoyo, Wonocolo). "Silakan tanya apa saja," katanya.

Bro William belajar dan bekerja di Universitas Teknologi (TU) Kaiserlautern, Jerman, selama 9 tahun itu. Karirnya sudah mapan dan enak. Namun dia merasa terpanggil untuk membangun bangsanya lewat PSI. Bro yang satu ini pun sangat antusias bertemu dan diskusi dengan berbagai kalangan masyarakat.

Apa rahasia sukses PSI di Surabaya? Partai baru tapi dapat 4 kursi?

Rahasianya turun ke bawah, blusukan Bro. Bener-bener door to door seperti saran Pak Jokowi. Juga dengan sosmed.
Kami juga blusukan ke rumah-rumah. Warga perumahan elite itu kan cenderung apatis dan golput. Ya kita datangi. Sekali blusukan minimal 200 rumah. Dua boks kartu nama harus habis.

Respons warga?

Sangat baik. Saya datangi perumahan di Pakuwon City ternyata diterima dengan baik. Kita ngobrol santai, kenalan.

Sebagai anggota dewan yang fresh, apa yang akan ditawarkan 4 legislator dari PSI? Paling tidak bisa mewarnai dewan selama lima tahun?

Profesionalisme kerja. Wakil rakyat yang bisa dinilai berdasar kinerja harian oleh rakyat.

Anda berlatar belakang peneliti. Orang kampus. Bagaimana persiapan Anda jadi anggota dewan?

Banyak baca, belajar tiap hari. Kami ingin bekerja sebagai politisi profesional Bro.

Sudah ada arahan dari Sis Grace atau DPP untuk caleg-caleg yang terpilih dari PSI?
Nantinya pasti ada arahan dari DPP. Akan disiapkan dan diberi pelatihan. Intinya, kami akan berpolitik cerdas dan jujur.. membawa gaya politik baru.

Ada kesan PSI ini galak. Kurang diplomatis. Bahkan sesama parpol koalisi Jokowi pun dikecam dalam kasus intoleransi atau perda-perda syariah?

Itulah gaya politik baru. Memang terkesan masih tabu di Indonesia. Kami akan galak pada hal-hal yangg perlu digalakin. Tapi juga menyesuaikan dengan masyarakat Indonesia. Koalisi bukan berarti tidak ada perbedaan pendapat.

Apa visi Anda tentang Surabaya ke depan?

Kota Surabaya harus makin nyaman huni. Kemacetan perlu diatasi. Maka diperlukan ketaatan masyarakat berkendara. Panthom driving adalah penyebab utama kemacetan di Surabaya.

Kemudian masalah banjir. Harus memaksimalkan pompa dan menjaga lancarnya aliran air.

Untuk tranportasi umum, dalam waktu dekat bus rapid adalah solusi tercepat. Dengan jadwal yang pasti dan juga sistem ticketing. single trip, grup trip, mingguan, bulanan dan semesteran.

Untuk para siswa dan mahasiswa, ada subsidi sehingga mereka bisa naik bus sepuasnya dengan biaya transpor masuk dalam biaya semesteran. Dan penggunaan kartu siswa atau mahasiswa sebagai ticket.

Bagaimana dengan pendidikan?

Saya akan pastikan anak-anak Bro dan Sis mendapat pendidikan di Surabaya dengan kualitas dan fasilitas terbaik. Pendidikan adalah senjata yang paling ampuh untuk mengubahkan dunia.

Kualitas sekolah negeri di Surabaya harus merata. Semua sekolah negeri menjadi sekolah favorit di Surabaya. Fasilitas dan kualitas sekolah negeri di Surabaya harus sama.

Mengapa Bro William pulang ke Surabaya? Padahal karir di Jerman sudah bagus?

Saya memang merelakan permanent resident-ku di Jerman. Pulang ke Indonesia, meninggalkan pekerjaanku untuk sesuatu yang lebih besar. Impianku bahwa bangsa Indonesia bisa seperti Jerman. Anak-anak bisa bermain dan belajar dan sekolah dengan baik. Tidak ada diskriminasi SARA. Gila?? Maybe.

Liga Juara-Juara di Malaysia

Akhirnya sepak bola Eropa mulai ada gregetnya. Saat Liverpool membungkam Barcelona 4-0 di Anfield. Besoknya Spurs juga membalikkan prediksi banyak orang. Ajax yang muda dan segar akhirnya gugur. Skor agregat 3-3. Tapi Spurs unggul gol tandang.

Setelah membaca analis di Goal dan ESPN yang sangat bernas, iseng-iseng saya pindah ke laman Malaysia. Masih terkait Champions League alias Liga Champions. Ternyata cuma sekilas aja. Tidak ada ulasan yang mendalam di Bernama atau Utusan atau Berita Harian.

Media-media di Indonesia jauh lebih detail membahas sepak bola Eropa. Meskipun bahannya hasil gorengan dari berbagai laman daring macam Goal atau ESPN atau BBC dsb.

Wartawan-wartawan bola kita sering terkesan sangat hebat meskipun tidak pernah nonton langsung pertandingan di Eropa. Juga tidak pernah mewawancarai Klopp, Mourinho, Sarri, Zidane dsb. Tapi ya itu tadi.. komentar-komentarnya seperti pemain atau pelatih kelas dunia.

Kembali ke Malaysia. Yang menarik bagi saya adalah padanan Champions League. Media di Malaysia menggunakan Liga Juara-Juara. Terjemahan Champions League. Juara-juara karena jamak.

Liga Juara-Juara? Hem... menarik. Orang Malaysia ternyata bisa dengan enteng me-Melayu-kan Champions. Tidak aneh atau janggal di sana. Offside pun jadi ofsaid. Di Indonesia istilah sepak bola offside atau handball tidak pernah diterjemahkan. Padahal kita punya istilah tendangan bebas, sepak pojok, atau lemparan ke dalam.

Media-media di Indonesia sampai sekarang masih menggunakan Liga Champions. Cuma terjemahkan separo. Mengapa Champions pakai bahasa Inggris? "Rasanya aneh kalau diterjemahkan. Liga Champions sudah sangat umum," kata seorang penyunting bahasa.

Mengapa tidak pakai Liga Kampiun? Atau Liga Juara-Juara macam di Malaysia? Bukankah kita punya istilah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk United Nations? Sama-sama jamak sehingga kata bangsa dan juara diulang.

Yang menarik, Malaysia tidak mengenal Perserikatan Bangsa-Bangsa, tapi Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu.

04 May 2019

Trembesi yang mengubah Madura

Lupakan dulu pilpres! Abaikan dulu klaim kemenangan 62 persen Prabowo! Simpanlah usulan kubu Prabowo agar Jokowi-Maruf didiskualifikasi! Akhir pekan sebaiknya jalan-jalan ke luar Jawa. Tepatnya Pulau Madura.

Tak terasa sudah hampir 3 tahun saya tidak mampir ke Madura. Padahal ada jembatan Suramadu yang gratis. Madura sudah dempet dengan Surabaya meski beda pulau.

Tiba di kaki Suramadu, Bangkalan, suasananya masih seperti dulu. Tidak banyak berubah. Lapak-lapak PKL makin sedikit. Pengunjung pun jauh berkurang. Beda dengan tahun pertama jembatan sepanjang 5,4 km ini diresmikan. Artinya, UKM di Bangkalan tidak berkembang.

Yang berubah pesat cuma satu. Penghijauan. Kanan kiri jalan raya saat ini sangat teduh. Pohon-pohon trembesi dan tanaman peneduh sudah tumbuh membesar. Daunnya memberi keteduhan kepada pengendara yang melintas dari Suramadu hingga Bangkalan.

Kontras banget dengan empat lima tahun lalu yang gersang. Ternyata trembesi telah berhasil mengubah wajah Madura. Setidaknya di kawasan Suramadu sampai Bangkalan.

Trembesi ternyata tanaman penghijauan yang sakti mandraguna. Tak sampai 5 tahun sudah tinggi dan rimbun. Mampu memproduksi oksigen yang berlimpah. Tak heran banyak orang duduk-duduk ngopi di pinggir jalan. Leyeh-leyeh.

Di sepanjang jalan saya pun merenung. Andaikan 10 atau 20 atau 30 tahun lalu ada penanaman trembesi secara terstruktur, sistematif, dan masif di Madura! Andaikan penanaman trembesi atau angsana tidak hanya di kawasan Suramadu!

Penghijauan dengan trembesi (atau tanaman peneduh lain), meminjam ungkapan orang Barat, bukankah rocket science. Tidak membutuhkan ilmu tingkat tinggi seperti membuat kapal terbang atau roket atau mobil listrik.

Cukup cari bibit, ditanam, dirawat, selesai. Curahan air hujan akan membuat tanaman itu hidup dan membesar. Lebih bagus lagi kalau disiram setiap hari oleh petugas pemkab. Madura bakal mendapat pasokan oksigen yang melimpah.

Mudah-mudahan Pemkab Bangkalan, Pamekasan, Sampang, dan Sumenep bisa memetik pelajaran sederhana dari Suramadu. Bahwa alam yang tadinya gersang bisa diubah menjadi hijau dan sejuk hanya dalam tempo kurang dari 5 tahun.

Lebih baik nanam trembesi ketimbang ngurusin pilpres. Toh, Prabowo menang besar di Madura.

Akurasi! Akurasi! Akurasi!

Repot kalau wartawan menulis berita tanpa turun ke lapangan alias TKP. Informasinya bisa ngawur, salah fatal, kalau narasumbernya juga ngawur. Asal ngomong tanpa didukung fakta dan data. Apalagi narsum itu juga tidak melihat langsung kejadian.

Lebih fatal lagi kalau beritanya olahraga. Khususnya sepak bola. Yang disaksikan banyak orang. Tim A menang ditulis kalah. Striker X cetak gol ditulis mandul. Itulah bengkel jurnalistik dasar zaman dulu. Ketika belum ada internet. Media sosial apalagi.

Karena itu, saya hanya bisa ngelus dada membaca koran pagi. Wartawan olahraga keliru total menulis berita uji coba salah satu klub Liga 1. Striker X yang main penuh dua babak ditulis cuma main sebentar. X tidak cetak gol ditulis mencetak satu gol.

Kok bisa? Di zaman komunikasi digital yang super instan ini?

Begitulah akibatnya kalau reporter tidak turun ke lapangan. Bisa juga meliput di lapangan tapi tidak fokus. Sibuk ngopi dan main medsos.

Mengapa tidak bertanya ke manajer, pelatih, atau pemain? Bukankah orang-orang sport paling asyik diajak ngobrol? Beda dengan birokrat atau pejabat atau pengusaha besar yang cenderung menghindari wartawan.

Saya jadi ingat pesannya beberapa wartawan senior yang sudah almarhum. "Akurasi! Akurasi! Akurasi!"

Jangan pernah mengorbankan akurasi demi kecepatan! Lebih baik kalah cepat tapi akurat ketimbang cepat tapi ngawur. Disiplin verifikasi itu nomor satu! Begitu pesan mendiang pewarta senior.

Nah, supaya "akurasi akurasi akurasi" si pewarta wajib verifikasi ke TKP. Jangan cuma memantau lapangan via medsos atau mbah Google.

"Akurasi itu menimbulkan trust. Bisnis kita adalah bisnis kepercayaan," kata pewarta senior yang dulu doyan naik motor trail ke mana-mana itu.

28 April 2019

Sepak bola Eropa kurang greget

Lupakan dulu pilpres yang panas! Prabowo yang klaim menang 62 persen! Jokowi yang menang hitung cepat!

Lebih baik jauhi politik yang ugal-ugalan. Menyepi ke pinggir kota. Ngombe degan ijo. Nonton bola di televisi. Liga Inggris atau Liga Spanyol juga panas, jegal-jegalan, pemain dapat kartu kuning atau kartu merah. Tapi panasnya bola jauh lebih enak dinikmati ketimbang ludruk politik pilpres.

Sayangnya, menurut saya, kualitas liga-liga di Eropa menurun jauh ketimbang beberapa tahun lalu. Khususnya ketika Alex Fergusson masih pegang MU. Wenger latih Arsenal. Jose Mourinho di Chelsea sesi pertama yang fenomenal itu.

MU kini bukan lagi MU yang perkasa. Setan Merah sudah berubah jadi klub biasa. Medioker. Sejak ditinggal Fergie MU kelimpungan. Baru saja dihajar Everton 4-0. Kemudian dihajar lagi dua gol tanpa balas oleh City.

Arsenal yang flamboyan pun kini kehilangan pesona. Meskipun tidak separah MU. Chelsea lumayan di tangan Sarri. Tapi belum bisa jadi serial winner kayak era Mourinho yang ada Drogba, Lampard, Terry, Malouda, atau Robben.

Bagaimana dengan Spanyol? Sama saja. Barcelona memang masih menangan. Messi masih hebat. Tapi Barca yang sekarang jauh di bawah Barca era Pep Guardiola. Ketika masih ada maestro dan seniman bola macam Xavi atau Iniesta. Ketika anak-anak La Masia masih sangat dominan.

Barca bisa sangat dominan hanya karena Real Madrid hancur parah. El Clasico tidak lagi ketat dan tegang. Tidak lagi ditunggu-tunggu seperti era Pep vs Mourinho. Dulu pertandingan klasik itu bikin kita deg-degan. Gaya operan pendek cepat ala tiki taka vs serangan balik mematikan ala Mourinho.

Sulit bagi Zidane (atau pelatih siapa pun) untuk mengembalikan kejayaan Madrid. Apalagi seperti era galacticos atau Ronaldo Brasil. Atau Ronaldo Portugal yang raja gol itu.

Sulit juga bagi Barcelona untuk mengembalikan tiki taka dan sepak bola tingkat dewa ala Pep. Atau Barcelona era Ronaldinho yang meliuk-liuk lincah itu.

Di sisi lain, penurunan mutu Liga Inggris, Liga Spanyol, apalagi Liga Italia ada positifnya. Saya tidak perlu lagi melekan untuk nonton Barcelona atau Real Madrid. Saya pun tidak merasa kehilangan kalau tidak nonton MU atau Chelsea atau Arsenal.

Beda dengan dulu. Ke mana-mana saya bawa HP yang ada televisinya agar bisa nonton Messi, Xavi, Iniesta, Ronaldo, Lampard dsb. Sekarang ada streaming sepak bola di televisi. TV berbayar pun ada di mana-mana.

Sayang, itu tadi, El Clasico sudah lama kehilangan greget. Bintang-bintang di Eropa mengalami inflasi luar biasa. Harganya di atas Ronaldo atau Messi tapi melempem. Contohnya Bale, Neymar, Coutinho, atau Pogba.

Bagaimana dengan Liga Indonesia?

Hancur total. Ketua PSSI Joko Driyono sudah ditahan polisi gara-gara terlibat mafia pengaturan skor. Beberapa exco juga sudah dibui.

Apa enaknya nonton pertandingan bola yang hasilnya sudah di-setting mafia ini? Bahkan juaranya pun sudah diketahui Rocky Poetiray jauh sebelum kompetisi Liga 1 berakhir?

27 April 2019

Misa Kudus di Gereja Digital





Lupakan dulu klaim kemenangan Prabowo yang 62 persen itu! Atau hitung cepat yang hasilnya Jokowi menang 9-10 persen. Saya lagi tertarik dengan misa kudus atau ekaristi digital.

Ini penting untuk orang Katolik di Jawa. Yang rata-rata rumahnya sangat jauh dari gereja paroki. Yang sangat jarang ikut misa harian. Yang pastornya sangat terbatas. Yang bahkan jarang misa hari Minggu (atau Sabtu malam) di gereja.

"Saya hanya bisa ke gereja saat Natal atau Paskah. Itu pun belum tentu," kata teman saya yang bekerja di daerah yang umat Katolik hanya nol koma nol nol sekian persen.

Saya sendiri sudah lama mengikuti misa harian di gereja. Durasinya 29 menit hingga 32 menit. Sama dengan misa harian di Surabaya atau Sidoarjo. Masalahnya itu tadi, misa pagi harian di Surabaya dan Sidoarjo dimulai pukul 05.00 atau 05.30. Harus bangun sangat pagi karena perjalanan ke gereja sekitar 30 menitan.

Nah, di gereja digital ini persoalan ruang, waktu, jarak dsb selesai. Kita bisa ikut ekaristi kapan saja. Mau misa harian biasa atau Misa Tridentina yang pakai bahasa Latin. Namun sejauh ini layanan misa harian berbahasa Indonesia belum ada. Adanya cuma English Daily Mass.

Misa berbahasa Inggris sangat mudah karena tata liturgi atau ekaristi sama persis dengan versi bahasa Indonesia. Bacaan-bacaannya juga sama persis dengan di Indonesia. Itulah salah satu kelebihan Gereja Katolik yang "satu, kudus, umum, apostolik" (istilah khas buku liturgi lawas di Flores).

Pagi tadi, setelah cuci muka dan memakai kemeja layaknya ke gereja beneran, saya menyetel YouTube. Masuk ke National Shrine. Milik Keuskupan Washington, Amerika Serikat. Perayaan Ekaristi 2nd Sunday of Easter.

Pater Richard Mullins yang memimpin misa didampingi seorang pater yang sudah sepuh. Paduan suaranya St. Mary Parish, Rockville, MD. Ternyata posisi kor di USA di samping altar, dekat imam. Beda di Indonesia yang biasanya di balkon belakang atau samping depan gereja tapi di bawah altar.

Khotbahnya Romo Richard yang fokus ke Thomas yang kurang percaya (John 20: 19-31) sangat padat dan enak. Tidak bertele-tele.

Keuskupan Washington ternyata sejak 1952 sudah membuat video perayaan ekarista atau Sancta Missa untuk umat Katolik yang tidak bisa pigi gereja karena sakit atau alasan-alasan lain.

"Our 30 minute Catholic Mass is broadcast from the Basilica's Crypt Church and is celebrated by priests from the Archdiocese of Washington and the Diocese of Arlington, with local parish and school choirs. The Christmas Mass and the Easter Mass are special one-hour broadcasts celebrated annually by the bishops of the Archdiocese of Washington and the Diocese of Arlington.

"Our mission is to bring Christ's presence and love, through The Sunday Mass, to the sick and those unable to leave their homes," begitu antara lain keterangan pihak Keuskupan Washington.

Selain misa harian USA, saya juga biasa mengikuti Daily TV Mass dari Toronta, Kanada. Sama-sama program misa bahasa Inggris 30 menit.

Bedanya, misa harian Kanada ini tidak pakai kor. Cuma solis untuk Mazmur Tanggapan, Alleluia, Kudus, dan Anak Domba Allah. Solis Kanada ini biasanya anak muda dengan kemampuan vokal setara penyanyi profesional. Beda dengan di Washington yang umat biasa macam di Indonesia.

Yang pasti, misa harian di gereja digital ini tidak akan bisa menggantikan misa sejati di gereja. Sebab kita tidak bisa komuni. Yang terima komuni cuma umat di dalam video itu saja.

"Kalau tidak ada komuni, maka misanya tidak sah," kata orang-orang Katolik senior di Flores.