31 December 2018

Apresiasi untuk Lion Air

Dulu saya sering mengkritik Lion Air karena pelayanannya kurang bagus. Beberapa pramugarinya juga terlihat kurang ikhlas melayani penumpang. Belum lagi molornya.

Sering saya alami delayed bersama Lion Air. Bahkan hampir tiga jam. Di media sosial kritik untuk manajemen Lion Air juga luar biasa. Apalagi setelah terjadi kecelakaan tragis beberapa waktu lalu.

Pagi tadi saya terbaik dari Bandara Eltari Kupang, NTT, ke Bandara Juanda Surabaya di Sidoarjo. Naik Lion Air. Maklum, tidak banyak maskapai lain yang melayani rute ke NTT.

Lion Air pula yang memperkenalkan tiket murah pada awal 2000an. Siapa saja bisa naik pesawat. Tidak hanya pengusaha, pejabat atau orang kaya. Gara-gara Lion Air, Kupang ibukota NTT terasa dekat. Cuma 100 atau 110 menit saja.

Nah, pagi tadi saya merasakan kualitas layanan Lion yang sangat baik. Benar-benar on time. Pramugarinya pun ramah dan murah senyum. Meskipun kalah ayu dengan pramugari-pramugari Lion lima atau tujuh tahun lalu.

Penerbangan mulus-mulus aja. Cuaca umumnya baik. Si pramugari beberapa kali bilang cuaca sedang kurang baik (bukan buruk atau jelek), kenakan sabuk pengaman Anda.

Saat turun mbak pramugari yang paling senior juga menyampaikan terima kasih kepada satu per satu penumpang. Di bawahnya sudah siap bus milik Lion Air yang mengangkut penumpang ke terminal kedatangan. Dus, tidak perlu jalan kaki seperti di Kupang.

Rupanya garbarata di Bandara Juanda rusak atau hanya dipakai untuk pesawat-pesawat kelas bisnis atau VIP.

Selamat Tahun Baru!

29 December 2018

Aku dikira orang hebat



Siang tadi saya mampir di dermaga Lewoleba, NTT. Nostalgia melihat pelabuhan yang dulu sangat sering saya singgahi. Untuk perjalanan ke Larantuka.

Kondisi pelabuhan pada akhir 2018 ini jauh lebih bagus. Bersih dan rapi. Tapi orangnya juga jauh lebih sedikit. Dermaga Lewoleba sangat sangat sepi. "Sedikit ramai kalau mau berangkat pagi," kata seorang bapak asal Lamahala.

"Anda dari mana?" tanya bapak itu dalam bahasa Lamaholot.

"Asli Lembata, tapi karatan di Jawa Timur."

"Oh... Surabaya?"

"Iya!"

Saya tidak bilang Sidoarjo karena pasti bingung dia. Ngaku Surabaya aja biar tidak disusul pertanyaan, Sidoarjo itu di mana?

"Wah.. Anda pasti hebat. Sudah lama di Surabaya!"

Hehehe...

Apanya yang hebat? Sama saja. Makanan di sini enak-enak. Ikan segarnya sangat nikmat. Bikin saya makan dua piring. Di Surabaya saya cuma makan satu piring. Itu pun sering tidak habis.

"Tapi menurut saya orang-orang NTT di Jawa mesti hebat. Tinggal di tanah orang tapi bisa bertahan. Tahan lama lagi," katanya.

Saya pun jelaskan apa adanya kepada Paman Lamahala ini. Orang Lembata atau Flores Timur di Surabaya atau Jakarta sebetulnya tidak hebat. Hampir semuanya kuli. Kuli pelabuhan, kuli pabrik, kuli gudang, hingga kuli tinta.

Ada juga yang jadi kuli gereja macam pastor atau suster.

"Yang hebat itu kulinya rakyat."

Maksud Anda?

Saya meminta Ama ini untuk melihat baliho-baliho caleg di dekat pelabuhan. Mulai caleg DPRD Lembata, DPRD NTT, hingga DPR RI. Mereka itu orang-orang hebat.

Kok bisa Ama?

Kerjanya tidak jelas tapi bayarannya (resmi) ratusan juta sebulan. Politisi itu kuli yang jauh lebih makmur ketimbang juragannya (rakyat).

"Silakan dihabiskan kopinya."

Kaget kerabat dekat bunuh diri

Aneh dan ngeri! Setiap kali membaca berita orang nekat bunuh diri di Surabaya Sidoarjo Gresik. Apalagi biasanya kita melihat foto-foto kendat alias gantung diri.

Kok bisa ya bunuh diri? Agamawan sering khotbah menolak tindakan bunuh diri. Apa pun alasannya.

Di Lembata, NTT, jenazah orang yang bunuh diri bahkan tidak boleh dimakamkan di makam umum. Mayat-mayat ini punya tempat khusus. Biasanya di tempat yang sulit diakses. Misalnya tebing atau jurang.

Adat asli Lamaholot memang mengucilkan orang yang bunuh diri. Bunuh diri adalah aib keluarga.

Karena itu, saya terkejut mendengar cerita tentang kerabat dekat di kampung halaman yang bunuh diri. Keduanya boleh dikata tokoh penting di kampung.

TB tokoh pendidikan dan tokoh agama. Dulu Pak TB sering khotbah di gereja stasi di pelosok NTT. Gayanya tidak kalah dengan pater beneran.

NH juga tokoh masyarakat. Mantan calon kepala desa. Dikenal ramah, murah senyum, senang bergaul dan bermasyarakat. Karena itu, dia maju pilkades meskipun kalah. "Kalah menang itu biasa. Sudah ditentukan Tuhan," katanya enteng.

Maka, saya tidak yakin dia stres atau depresi. Orang kampung terkejut saat mendengar kabar mengejutkan itu. NH gantung diri di rumahnya.

Saya sudah mendengar kabar selintas mengenai kematian TB dan NH. Berpulang ke pangkuan Tuhan! Saya tidak pernah bertanya lebih lanjut mengapa meninggal, sakit apa, dirawat di mana dsb. Beda kalau yang meninggal itu perlu diberitakan di media massa di Surabaya dan Sidoarjo.

"Kami semua prihatin. Tapi mau bagaimana lagi? Semoga Tuhan memberi ampun dan tempat yang bahagia di sana," kata Kak Lina yang memang sangat religius mirip biarawati.

28 December 2018

Gereja Protestan di Lembata

Dulu orang Lembata hanya mengenal dua agama: Katolik dan Katolik Protestan. Ditambah agama leluhur nenek moyang yang tanpa nama. Lama-lama agama asli ini hilang karena rakyat Indonesia diwajibkan menganut agama resmi yang diakui pemerintah.

Karena itu, sejak kecil orang Lembata, khususnya Kecamatan Ile Ape, hanya tahu dua agama di Lembata: Katolik dan Islam. Adakah gereja Protestan di Lembata? Tidak banyak orang kampung yang tahu. Orang Protestan pasti ada karena banyak pegawai atau karyawan yang bekerja di Lembata.

"Saya belum lihat ada gereja protestan di Lembata," kata teman saya yang rupanya kurang blusukan di kampung halamannya sendiri.

Yang pasti, para jemaat Protestan sudah merintis gereja sejak 1970an. Masih sebatas kebaktian dari rumah ke rumah. Para perintis berasal dari Timor dan sekitarnya. Gereja Masehi Injili Timor (GMIT), denominasi terbesar di NTT.

Seiring perkembangan Lembata dari segi ekonomi dan pemerintahan (pembantu bupati Flores Timur), pegawai dan jemaat kristiani non Katolik makin banyak yang datang ke Lembata. Mereka tentu membutuhkan gereja untuk kebaktian rutin. Sama dengan minoritas katolik yang migrasi ke Kupang, Sabu, Rote, Sumba dsb.

Maka, pada 15 September 1981 diresmikan GMIT di Lembata. Gereja kecil tapi cantik. Namanya Sola Fide. Di Lembata sering salah eja menjadi Sola Vide. Bahkan di Lewoleba ada Jalan Sola Vide di dekat gerejanya orang Timor itu.

Orang Lembata yang Katolik rupanya lupa dengan Fide yang artinya iman. Sola Fide, Sola Gratia, Sola Scriptura. Tiga sola itulah slogan awal gerakan protestanisme saat mereformasi Katolik di Eropa.

Nah, rupanya jemaat protestan terus bertambah. Pada 29 November 1983 GMIT Lembata dikukuhkan menjadi jemaat yang mandiri. Saat bersamaan Bupati Flores Timur Hamonangan Iskandar Munthe meresmikan gereja sebagai tempat kebaktian.

Sejak itulah orang Lembata mulai mengenal Gereja Kristen Protestan. Belakangan muncul juga beberapa gereja aliran pentakosta dan karismatik. Bahkan, kemarin saya melihat ada Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di kawasan Waikomo. Tidak jauh dari Rumah Sakit Damian dan Rumah Sakit Bukit.

"Lembata sekarang sudah berubah menjadi kota. Kalau dulu jarang ada orang Jawa, sekarang gampang sekali menjumpai orang Jawa di pasar, rumah sakit, dan sebagainya," kata Anton, tukang ojek di Lewoleba.

27 December 2018

Kampanye yang cair di Lembata

Propaganda politik di televisi dan media sosial begitu panas. Jokowi vs Prabowo. Politisi Gerindra dan koalisi Prabowo sering melontarkan kata-kata keras dan kasar. Menyerang sang petahana. Partai Berkarya dengan romantisme orde baru juga ikut-ikutan menghajar Jokowi.

Benarkah Gerindra, Berkarya, PAN, atau PKS pasti berada di belakang Prabowo? Habis-habisan mendukung capres nomor 02?

Aha, sekali-sekali Fadli Zon dkk perlu blusukan ke kampung-kampung di NTT. Saat ini para caleg dari 16 partai politik sibuk mengampanyekan dirinya sendiri. Cukup banyak strategi jitu tanpa perlu membayar konsultan atau lembaga survei.

Para caleg ini sepertinya tidak merasa perlu mengampanyekan capres yang didukung partainya di pusat. Para caleg koalisi Gerindra dkk di NTT sangat paham situasi di lapangan. Mereka tidak ikut-ikutan petinggi partainya yang sibuk menyerang Jokowi capres inkumben. Sebab, mereka tahu bahwa Presiden Jokowi sangat populer di NTT.

Presiden RI yang paling sering berkunjung ke NTT adalah Jokowi. Saat menjabat gubernur DKI Jakarta pun Jokowi beberapa kali datang ke NTT untuk kerja sama bidang peternakan. Presiden yang pertama kali bikin Natal bersama tingkat nasional di NTT adalah Jokowi.

Tentu saja Jokowi kalah jauh oleh Bung Karno yang empat tahun tinggal di Ende, Flores, 1934-1938. Tapi itu zaman Hindia Belanda. Sebelum Indonesia merdeka. Sebelum Bung Karno jadi presiden RI.

"Soal pilihan capres ya terserah suara rakyat. Capres mana yang dianggap cocok ya pasti dipilih," kata seorang caleg dari partai oposisi.

"Partai itu kan cuma kendaraan politik untuk bisa masuk ke DPRD. Untuk memperjuangkan aspirasi rakyat," kata salah satu caleg di Lembata.

Prinsip ini yang membuat suasana kampanye di NTT jauh dari gesekan antarpartai. Tidak ada perang antara pendukung Jokowi dan Prabowo. Yang ada cuma manuver para caleg untuk memperoleh dukungan dari kampung, RT RW, hingga keluarga besar marganya.

Yang jadi masalah adalah ketika di satu desa muncul 2 sampai 4 caleg. Dan semuanya punya hubungan kekerabatan dekat atau jauh. Suara pemilih di desa itu harus terpecah jadi tiga atau empat. Hasilnya pasti mbleset alias kalah. Beda jika warga di desa itu sepakat untuk memilih satu caleg yang peluang menangnya lebih besar.

Lantas, caleg mana yang mau mengalah? Ini yang susah. Sebab, para caleg itu sudah telanjur keluar modal dan pasang atribut kampanye di mana-mana.

Hidup tanpa medsos di kampung

Sinyal seluler di Pulau Lembata, NTT, masih lemah. Kecuali di Lewoleba, ibukota kabupaten, yang normal. Itu pun masih sebatas Simpati dari Telkomsel. XL baru masuk belakangan.

Begitu keluar dari Lewoleba, sekitar 8 km, sinyal terus melemah. Sinyal XL hilang. Simpati masih ada. Tapi hanya untuk SMS dan panggilan suara. Sinyal data nyaris habis. Makin jauh data internet terus meredup.

Maka, begitu tiba di kampung halaman Desa Bungamuda, Kecamatan Ile Ape, aplikasi WA menjadi lumpuh. Padahal, kita di Jatim sudah lama meninggalkan SMS dan panggilan suara seluler. Sekitar 90 persen panggilan suara di Surabaya dan sekitarnya pun sudah lama pakai WA. Gratis karena bisa nunut Wifi di kantor atau warkop atau di ruang publik macam taman atau alun-alun.

Awalnya agak aneh menjalani hidup offline. Tidak bisa browsing berita-berita sepak bola, politik, nasional dsb di internet. Informasi gempa bumi dan tsunami di Selat Sunda hanya bisa dipantau di televisi. Koran-koran sudah hilang sejak awal 2000. Radio pun sudah lama diabaikan di pelosok NTT.

Maka, mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus hidup offline. Bertemu orang, ngopi, ngobrol ngalor ngidul. Ditemani camilan khas kampung: jagung titi. Semacam emping jagung khas orang Lamaholot di Flores Timur dan Lembata.

Kita yang sudah terbiasa main internet, kecanduan online, chatting dengan banyak orang jauh yang tidak dikenal awalnya kurang enak dengan suasana percakapan offline yang temanya tidak jelas. Kadang tentang hujan terlambat, persiapan sambut baru, kebijakan desa, latihan kor, caleg-caleg cari dukungan, hingga Jokowi vs Prabowo.

Lama-lama asyik juga percakapan langsung ini. Dengan sesama orang kampung yang pasti sedikit banyak ada hubungan kekerabatan. Obrolan offline yang jauh dari hoaks atau informasi provokatif ala media sosial. Ada baiknya orang-orang desa di pelosok NTT tidak perlu mengenal media sosial.

26 December 2018

Natal sederhana di Lamahora

Libur Natal tahun berbeda dari biasanya. Tiket 23-24 Desember 2018 habis. Termasuk di jalur khusus WL (waiting list). Pihak Trans Nusa di Kupang tidak bisa jamin keberangkatan.

"WL itu sangat berisiko," kata Mbak Elly dari Trans Nusa, maskapai penerbangan yang melayani penerbangan lokal di NTT.

Apa boleh buat. Tahun ini saya tidak bisa ikut ekaristi malam Natal di kampung halaman di Lembata, NTT. Sedih banget karena saya tahu misa Natal tahun ini dipusatkan di Stasi Atawatung, gereja masa anak-anak saya.

Suasana Natal di Flores Timur, khususnya di Lembata, khususnya di Ile Ape, memang jauh berbeda dengan di kota-kota. Umat Katolik dari 8 desa berkumpul di Stasi (Desa) Atawatung. Tentu saja tuan rumah tergerak hatinya untuk menjamu para tamu dari 6 desa itu. Stasi Atawatung terdiri dari dua desa: Lamagute dan Waimatan.

Tahun depan tuan rumahnya giliran stasi lain. Selalu ada penyembelihan babi, kambing, ayam untuk makan bersama jemaat 8 desa itu. Makan besarnya pada 25 Desember setelah misa pagi. Inilah tradisi warga desa sejak dulu.

Nah, gara-gara tak dapat tiket itu saya pun ikut misa malam Natal di Sidoarjo. Gereja Santa Maria Annuntiata. Misa dipimpin Romo Didik yang sangat enak menyanyikan prefasi. Ekaristinya jadi panjang karena ada upacara baptisan baru.

Kor Tadeus malam itu bagus. Ordinarium Misa Pustardos ala Flores bikin kangen kampung. Misa selesai pukul 00.30. Saling jabat tangan selamat natal dan... pulang. Tidak ada makanan kecil, apalagi makanan besar.

Gereja-gereja di Jawa memang tidak punya tradisi makan-makan sesama jemaat. Lebih fokus ke makanan jasmani dan paduan suara yang bagus. Sesama jemaat pun jarang yang saling kenal akrab. Beda dengan gereja-gereja stasi (desa) di NTT yang semua jemaatnya saling kenal meskipun berbeda desa.

Paginya naik Lion Air JT 690 ke Bandara Eltari Kupang. Kali ini Lion tepat waktu. Cuma molor 10 menit saja. Bepergian pada 25 Desember membuat kita kehilangan suasana Natal khas kampung. Rasanya sama saja dengan hari biasa.

Bedanya, ada aksesoris pohon terang dan hiasan khas Natal di bandara. Tapi lalu lalang penumpang membuat atribut-atribut Natal menjadi hambar. Di Ile Ape suasana Natal sangat kental meskipun tidak ada pohon natal, santa claus, sinterklas dsb.

Tiba di Bandara Wunopito, Lewoleba, sekitar pukul 15.00. Acara natalan di kampung sudah selesai. Perjalanan dari bandara ke kampung hampir satu jam. Dus, tidak ada peluang bernatal ria di Lewotanah.

Syukurlah, di Lewoleba saya bisa bertemu keluarga setelah dua tahun tidak mudik. Bapak Niko dan dua adik kandung, Ernestina dan Kristofora. Adik yang satunya Vincentia tidak mudik. Tapi suasananya ramai karena jarang ada acara kumpul bareng keluarga.

Natal kali ini sangat sederhana meskipun lauknya cuma ikan asin. Selamat Natal dan Tahun Baru.





Dikirim dari ponsel cerdas Samsung Galaxy saya.

18 December 2018

Gebrakan Pelukis Lutfi Shakato di Balongbendo



Tidak banyak pameran seni lukis di Kabupaten Sidoarjo. Apalagi di kawasan barat seperti Krian, Balongbendo, Prambon hingga Tarik. Terakhir pameran lukisan di Gedung Lokaphala (sebelum renovasi) tiga tahun lalu. Itu pun digabung dengan pameran batu akik yang sedang booming saat itu.

Padahal, banyak perupa Sidoarjo yang tinggal di kawasan Krian dan sekitarnya. Salah satunya Lutfi Shakato. Seniman kelahiran 10 Juli 1975 ini sudah tak asing lagi di kalangan pelaku dan penikmat seni rupa. Maklum, Lutfi aktif menjadi panitia pameran lukisan di Kota Surabaya.

Lutfi pernah menjadi ketua komunitas seniman KeriS (Kearifan Insan Seni). Komunitas ini menggelar pameran lukisan di salah satu hotel berbintang di Surabaya.
Pria asal Krian ini juga tercatat sebagai koordinator pameran seni rupa Seni Selaras Bumi di Balai Pemuda Surabaya. Puluhan perupa dari berbagai kota di Jatim memeriahkan pameran ini.

Kini, di ujung tahun 2018, Lutfi Shakato dan kawan-kawan membuat terobosan yang berani. Yakni mengadakan pameran lukisan bersama di Hall Handayani, Jalan Raya Bypass Balongbendo. Pameran lukisan ini baru pertama kali diadakan di Balongbendo.

"Kami bentuk panitia kecil untuk gebrakan perdana Geliat Anak Negeri  Menggapai Warna. Atas nama komunitas Serumun Padi (pinjam istilah komunitas) untuk memudahkan acara," tutur Lutfi Shakato yang sejak dulu mengagumi etos kerja keras bangsa Jepang itu.

Lutfi dan kawan-kawan sangat terbantu dengan dukungan manajemen Hall Handayani di Balongbendo. Pantia pun segera bekerja untuk persiapan pameran bareng ini. Lutfi Shakato sebagai ketua panitia, S Hardiman (penasihat), Dodik Ndolit bendahara, Yudha beserta staf dipercaya sebagai sekretaris. "Sedangkan (pelukis) Bella Bello kami posisikan humas karena tinggal di Balongbendo," kata Lutfi.

Sarjana seni lulusan Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta, Surabaya, ini gembira karena gebrakan perdana di Balongbendo ini beroleh respons positif dari para pelukis di Jatim. Lebih dari 30 pelukis berpartisipasi dalam pameran yang dibuka oleh Ketua Dewan Kesenian Sidoarjo Ali Aspandi akhir pekan lalu.

Apakah bakal mengadakan pameran serupa di Gedung Lokaphala Krian yang baru direnovasi itu?

Lutfi belum bisa memastikan. "Nanti saya koordinasi dulu dengan teman-teman di komunitas. Kalau dulu Lokaphala gratis, sekarang sewanya mungkin mahal," ujar Lutfi.

Bioskop Tempo Dulu di Sidoarjo

Bioskop-bioskop yang berdiri sendiri sudah lama mati. Bioskop lawas di Kabupaten Sidoarjo yang terakhir gulung tikar adalah Bioskop Duta di Desa Wadungasri, Kecamatan Waru. Persisnya berhenti putar film pada 23 Februari 2009.

Dulu saya sering menonton film di Bioskop Duta ini. Meskipun film-filmnya lama tapi asyik. Penonton juga lumayan banyak karena kawasan perbatasan Sidoarjo dan Surabaya ini memang haus hiburan. Kalau mau nonton film-film bagus dan baru ya harus ke Surabaya.

Itu pun harus ke pusat perbelanjaan alias mall atau plaza. Sebab bioskop-bioskop mandiri juga sudah pada tutup di Surabaya. "Paling ramai kalau film India dan film Indonesia yang panas," kata Gatot, warga Wedoro yang biasa nonton di Bioskop Duta Wadungasri.

Lama-lama saya jadi dekat sama beberapa pekerja atau penjaga bioskop lawas di Sidoarjo. Salah satunya ya Bioskop Duta ini. Sekarang gedungnya masih ada tapi dipakai untuk lapangan futsal. Inilah bioskop tempo dulu di Kabupaten Sidoarjo yang bangunannya masih belum berubah. Plang Bioskop Duta pun masih terlihat pada pertengahan Desember 2018.

Saya pun sudah lama mengenal Ibu Minarsih, pemilik warung di pinggir Jalan Raya Waru. Dekat kantor imigrasi yang lama. Saya curiga dengan gedung tua yang mirip bioskop lawas. Tempat itu biasa dipakai untuk latihan bulutangkis.

Apakah bangunan lawas yang mangkrak sejak akhir 1990an itu dulunya bioskop?

"Nggeh... biyen bioskop. Saya dulu sering nonton film di sini. Tapi saya lupa nama bioskopnya," kata Minarsih yang asli Gedangan. Tidak seberapa jauh dari bioskop lawas itu.

Bioskop itu (namanya belum ketemu, mbah google belum tau) kemudian terbakar. Lalu pindah ke sebelah utara. Dekat kantor imigrasi lama. "Dulu ramai banget tiap hari. Tapi lama-lama bangkrut," kata Minarsih.

Bangunan bioskop yang lama kemudian berubah menjadi pabrik ikan sarden. Kemudian bangkrut. Dan mangkrak sampai sekarang. "Makanya, saya jualan di sini," katanya.

Pertanyaannya, berapa banyak bioskop lawas (mandiri) di Kabupaten Sidoarjo sebelum 2000? Tidak jelas. Orang asli Sidoarjo sendiri tidak menulis di blog atau laman berita atau media sosial. Mungkin tidak berminat membahas bioskop-bioskop masa lalu yang sudah ditelan zaman.

Karena itu, saya berusaha menelusuri bioskop-bioskop lawas di Kabupaten Sidoarjo sekenanya saja. Syukurlah, Mas Yasin, pelukis asal Krian, bisa memberi petunjuk. Akhirnya saya bertemu Susanto, bos Bioskop Irama Krian. Bioskopnya sih tutup sejak 1998.

Berikut beberapa bioskop lama di Kabupaten Sidoarjo

1. Bioskop Irama, belakang Pasar Krian

Tutup sejak 1998 karena bangkrut ditelan krismon. Maraknya VCD/DVD dan internet membuat penonton anjlok drastis. Saat ini gedung bioskop dijadikan gudang barang-barang bekas.

2. Bioskop Mutiara, Jalan Tambak Kemerakan, Krian

Pernah jadi bioskop favorit di Krian dan sekitarnya. Tutup awal 2000an. Gedungnya berubah jadi pertokoan. Kawasan itu masih sering disebut depan eks Bioskop Mutiara oleh warga asli Krian kayak Mas Yasin.

3. Mahkota Theatre di Jalan Ahmad Yani Sidoarjo

Pernah jadi bioskop jujukan masyarakat Sidoarjo. Lokasinya strategis di dekat alun-alun. Bangunannya sudah lama rata dengan tanah. Kemudian dibangun tempat PKL.

4. Plaza Theatre di Jalan Thamrin Sidoarjo

Bioskop lawas yang masih eksis hingga 2004-2005. Bioskop mandiri yang paling lama bertahan di dalam kota. Tutup seiring dengan hancurnya bioskop-bioskop mandiri di seluruh Indonesia. Gedungnya berubah jadi toko atau kantor.

5. Bioskop ....  di Jalan Pahlawan Sidoarjo. 

Kompleks bioskop ini sudah lama berubah menjadi Ramayana Dept Store. Di masa lalu bioskop ini juga sering dipakai untuk pertunjukan teater. Begitu cerita Cak Mulyono seniman teater dan pengurus Dewan Kesenian Sidoarjo

 6. Bioskop Dayu Theatre di Babalayar, Sidoarjo. 

Tidak banyak informasi yang diperoleh tentang bioskop ini

 7. Bioskop Delta, Jalan Ahmad Yani Sidoarjo, persis sebelah timur Alun-Alun Sidoarjo  

Bioskop di pusat kota ini pernah berjaya pada masanya. Bahkan sering dipakai untuk pertunjukan teater. Tutup jauh sebelum krismon. Gedung bioskop Delta kemudian dibongkar kemudian dibangun kantor Bank BTPN. Tidak banyak orang yang tahu bahwa dulu pernah ada dua bioskop di dekat alun-alun: Delta dan Mahkota.

 8. Bioskop .... di Jalan Raya Waru, dekat kantor imigrasi yang lama. 

Eks gedung bioskop lawas ini (namanya belum jelas) masih ada. Mangkrak puluhan tahun. Setelah terbakar, bioskopnya digeser ke sebelah utara. Kemudian tutup seterusnya.

9. Bioskop Duta di Desa Wadungasri, Kecamatan Waru. Tutup pada 23 Februari 2009. Pernah jadi jujukan warga Sidoarjo yang berbatasan dengan Surabaya. Film-film laga, India, dan film Indonesia yang panas jadi menu utama. Apalagi kalau show tengah malam. Midnight show.

16 December 2018

Pater Frans SVD Gantikan Pater Servas SVD di Salib Suci

Pagi ini seperti ada bisikan halus agar saya misa di Paroki Salib Suci, Wisma Tropodo, Kecamatan Waru, Sidoarjo. Biasanya sih misa di gereja katolik yang lain. Minggu ketiga Advent jangan sampai lewat begitu saja.

Syukurlah, cuaca cerah setelah semalam hujan deras merata di Sidoarjo dan Surabaya. Makanya umat katolik sangat antusias ikut ekaristi Minggu pagi. Setengah jam sebelum misa, gereja sudah penuh. Tak ada satu pun tempat yang kosong.

Apa boleh buat, jemaat pun harus geser ke aula paroki. Samping gereja. Lima menit sebelum dimulai penuh juga. Maka panitia pontang-panting memasang kursi tambahan di ruang antara gereja dan aula. Bukan main semangatnya umat Paroki Salib Suci Sidoarjo ini.

Misa pagi ini dipimpin Pater Servatius Dange SVD. Pastor paroki asli Flores yang suaranya keras dan lantang. Tapi sesekali diselipi joke segar. Pater Servas ditemani seorang romo baru. Pasti Flores juga dilihat dari tampangnya.

Pater siapa itu? "Saya tidak tahu. Mungkin romo tamu," ujar pria asal Flores menjawab pertanyaan saya.

Di akhir misa barulah terjawab. Pater Servas meminta pater anyar ini untuk memperkenalkan diri. "Nama saya Pater Fransiskus Xaverius Sidok Utapara SVD. Biasa disapa Romo Frans atau Pater Frans. Saya berasal dari Pulau Seribu Bunga," ujar Pater Frans yang suaranya juga lantang.

Gaya bahasa pater baru ini sedikit puitis. Tidak to the point. Ditahbiskan 1991, beliau ditugaskan ke berbagai tempat di tanah air. Antara lain ke pulau seribu sungai (Kalimantan), pulau seribu marga (Sumatera), hingga pulau seribu masjid (Lombok).

"Sekarang saya berada di kota seribu buaya," ujar Pater Frans disambut tawa dan tepuk tangan jemaat.

Pater Servas kemudian mengumumkan bahwa Pater Frans yang suka seribuan ini bakal menggantikan dirinya. Sebagai Pastor Kepala Paroki Salib Suci.

"SK-nya belum ada tapi sudah diajukan provinsial SVD. Biasanya selalu disetujui Bapak Uskup Surabaya," kata Pater Servas yang juga berasal dari pulau seribu bunga alias Flores.

Umat Paroki Salib Suci saat ini berjumlah 6.060 jiwa. Pater Servas mengajak umat untuk mendukung karya pastoral yang bakal diemban oleh Pater Frans. "Umat Paroki Salib Suci ini sangat dinamis," katanya.

15 December 2018

Bumi Perkemahan Pramuka di Pulungan Sedati

Hujan deras sore ini memaksa saya berteduh di bumi perkemahan pramuka di kompleks TNI Angkatan Laut. Lokasinya di Desa Pulungan, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo. Dekat Bandara Internasional Juanda.

Pendapanya bagus. Pilar-pilarnya dari kayu jati yang bulat utuh. Tempatnya cocok untuk ngobrol atau diskusi lesehan ala pramuka. Pohon-pohonnya juga rindang nan hijau. Ibarat hutan kota di kawasan Sidoarjo dan Surabaya yang terkenal sumuk.

Sayang, bangunan-bangunan di bumi perkemahan ini telantar. Dibiarkan lapuk dimakan usia. Hanya satu dua bangunan yang rupanya dijadikan rumah tinggal. Bisa dipastikan anggota TNI AL.

Masih ada perkemahan pramuka di sini? "Masih. Tapi belakangan agak jarang," kata seorang pria berambut cepak. Dia juga berteduh bersama dua anaknya yang masih bocah cilik.

Lapangan perkemahannya memang lumayan bagus. Rumput-rumput hijau agak liar. Tapi tidak seliar rumput di bumi perkemahan milik Perhutani di Jolotundo Trawas yang lebih parah.

Bumi perkemahan di Pulungan ini saya nilai masih layak dipakai pramuka-pramuka siaga dan penggalang di Kabupaten Sidoarjo dan Kota Surabaya. Khususnya kawasan Sedati, Buduran, Taman, Sidoarjo, atau Sukodono. Juga kawasan Surabaya Timur dan Selatan macam Rungkut, Wonokromo, Menanggal, dan seterusnya.

Mengapa harus jauh-jauh berkemah di Trawas, Prigen, atau Pacet? Bumi Perkemahan Pramuka Pulungan ini boleh dikata masih di dalam kota. Orang tua biasanya wawas melepas anaknya camping jauh di pegunungan.

Tapi ya.. selera pramuka-pramuka di Sidoarjo ini lebih suka ke kawasan sejuk di Prigen, Trawas, atau Pacet. Sekalian rekreasi dan ngadem. "Surabaya itu panas. Ngapain camping di Sedati?" ujar Kak Ardi, pembina pramuka.

Selain itu, bumi perkemahan di Pulungan ini milik TNI AL. Berada di kompleks militer. Jalan masuknya pun bukan jalan umum. Ada portal yang selalu dijaga tentara. Kalau naik motor ya harus dituntun di depan pos jaga. Ini yang membuat pramuka-pramuka merasa kurang bebas.

Karena itu, Pemkab Sidoarjo merasa perlu membangun bumi perkemahan sendiri. Lokasinya di Desa Tanjekwagir, Kecamatan Krembung. Bulan lalu sudah dipakai untuk jambore pemuda Kabupaten Sidoarjo.

Ini berarti bumi perkemahan di Pulungan ini bakal semakin merana. Kecuali pihak TNI AL melakukan renovasi dan inovasi agar tempat perkemahan ini diminati pramuka-pramuka zaman now.

Hujan mulai reda. Saya pun bersiap pulang. Ternyata di dekat pendapa ada prasasti peresmian bumi perkemahan di Pulungan, Sedati. Tanda tangan khas Presiden Soeharto masih terbaca jelas dari kejauhan.

Nostalgia Bioskop Irama dan Mutiara Krian



Sebelum tahun 2000, hampir semua kota kecil di Pulau Jawa punya bioskop. Ada bioskop milik pengusaha Tionghoa, pengusaha lokal, kombinasi, bahkan setengah pemerintah. Bioskop-bioskop ini menjadi jujukan masyarakat untuk mencari hiburan.

Maklum, zaman dulu rakyat sangat haus hiburan. Belum ada internet. Media sosial belum ada. Belum terbayang ada VCD dan DVD pada tahun 1990an. Apalagi 1970an dan 1980an.

Televisi pun hanya satu: TVRI. Itu pun porsi hiburannya tidak sampai 20 persen. Konten TVRI saat itu pendidikan, penerangan, propaganda, siaran pedesaan dan sejenisnya. Beda dengan televisi-televisi sekarang yang isinya 95 persen hiburan. Porsi informasi dan edukasi sangat sedikit.

Nah, seperti di kota-kota kecil yang lain, Krian di kawasan Sidoarjo Barat dulu punya dua bioskop. Namanya Bioskop Irama dan Bioskop Mutiara. Kedua bioskop ini sudah lama gulung tikar. Bersamaan dengan krisis moneter 1997/1998. Ditambah kebijakan tata niaga film yang menghancurkan semua bioskop kecil di Indonesia.

Bioskop Mutiara terletak di Jalan Raya Tambak Kemerakan, Krian. Tidak jauh dari Pabrik Gula Krian yang juga sudah tutup pada 1998. Bekas gedung Bioskop Irama saat ini jadi pertokoan. "Waktu kecil saya biasa nonton di Mutiara," kata Yasin yang tinggal di Tambak Kemerakan.

Setiap malam Minggu, jalan raya Krian-Surabaya itu selalu ramai. Pedagang makanan dan minuman berseliweran di kawasan itu. Suasana tak ubahnya pasar malam.

"Kalau filmnya Rhoma Irama, wah, penontonnya membeludak. Pasti diputar berhari-hari," kata Nanang asli Krian. Pria 40an tahun ini dulu sering diajak ayahnya nonton film di Bioskop Mutiara Krian. Naik becak.

Bioskop Irama berada di belakang Pasar Krian saat ini. Kawasan yang sudah berubah jadi pasar loak. Gedungnya masih ada. Di depan ada tulisan DIJUAL. Rupanya belum laku.

"Sudah ada beberapa orang yang nawar tapi harganya belum cocok," kata Susanto, pemilik Bioskop Irama Krian, kepada saya.

Pria yang juga biasa disapa Pak Pongki ini tadinya saya kira warga biasa. Ngobrol santai dan berbaur dengan pedagang kaki lima di pasar loak. Persis depan bekas gedung bioskop. 

"Bapak yang baju merah itu yang punya Bioskop Irama ini," kata seorang pedagang barang bekas.

Selamat siang Pak! Saya ajak salaman. Pak Santo alias Pongki ini sangat ramah. Baru kenal langsung akrab. "Mau nanya sedikit tentang Bioskop Irama di Krian. Untuk nostalgia. Bahwa dulu di Krian ternyata ada bioskop," ujar saya.

"Hehehe... Itu masa lalu. Hidup dan bisnis itu seperti roda. Dulu di atas, sekarang di bawah. Usaha bioskop di Krian dan Sidoarjo ini hancur semua," katanya.

Lalu, Susanto mengajak saya melihat ruangan dalam gedung Bioskop Irama. Ruangan yang dulu dipenuhi penonton setiap sore dan malam. Tiga kali main film di Irama sebelum tutup total pada 1998.

Wow... ruangan itu penuh dengn barang-barang bekas. Besi tua, kertas, apa saja ditampung. Tidak ada bedanya dengan tempat pembuangan sampah sementara milik dinas lingkungan hidup. 

"Daripada kosong ya saya jadikan gudang," katanya. Susanto sempat bekerja di PG Krian dan PG Toelangan itu. Nasib kedua pabrik gula ini pun sama dengan Bioskop Irama. Sudah tutup total karena bangkrut.

Bioskop Irama Krian didirikan pada 1948. Saat Republik Indonesia masih berusia tiga tahun. Susanto sendiri lahir pada 1958. 

Selain Bioskop Irama di Krian, keluarga Susanto yang campuran Tionghoa dan Jawa ini punya tiga bioskop lain. Satu di Mojosari dan dua di Surabaya (Arjuna dan Karangpilang). Keempat bioskop ini sama-sama tinggal sejarah.

Dus, usia Bioskop Irama di Krian hanya 50 tahun. Setelah itu belum ada bioskop pengganti di Krian. Warga Krian dan sekitarnya harus pigi ke Surabaya atau Sidoarjo untuk nonton bioskop di plaza atau mal. Sebab, bioskop-bioskop rakyat macam Irama atau Mutiara di Surabaya dan Sidoarjo pun gulung tikar pada saat yang hampir bersamaan dengan ambruknya Orde Baru.

14 December 2018

Liem Evy Hernawati Mengais Serpihan Kuliner Nusantara

Konsumsi makanan berbahan dasar beras dan terigu terus meningkat dari waktu. Mi instan sudah nyaris menjadi makanan pokok sebagian orang Indonesia. Akibatnya, Indonesia terus mengimpor gandum dari luar negeri.

INILAH yang menjadi keprihatinan Liem Evy Hernawati. Perempuan yang tinggal di Desa Larangan, Kecamatan Candi, ini berusaha mengembangkan berbagai produk makanan nonberas dan nonterigu. Salah satunya olahan dari tepung singkong.

"Ini untuk bahan roti dan pastry pengganti terigu," ujar Evy kemarin. Aneka produk olahan berbasis singkong ini bahkan sudah dipamerkan pada beberapa festival makanan tingkat regional dan nasional.

Awalnya Evy mengaku hanya coba-coba mengolah makanan nonterigu dan nonberas di rumahnya. Namun, mulai 2016 lulusan Universitas Kristen Petra Surabaya ini makin serius saat mengikuti lomba cipta menu nonterigu dan nonberas. Ide-idenya pun muncul untuk mengolah umbi-umbian yang tersedia melimpah di bumi Nusantara ini.

Maka, lahirlah makanan olahan seperti tiwoy singkong (tiwul plus oyek singkong), nasi mbosi (nasi mbote plus singkong), dan gembot singgang (getuk mbote plus singkong panggang). Ada pula kue brownis dari singkong.

"Sekarang sedang saya kembangkan untuk produksi dan pemberdayaan masyarakat," kata Evy.

Meski beberapa kali memenangi festival cipta menu nonterigu dan nonberas, Evy mengaku masih terus belajar. Perempuan kelahiran 3 Oktober 1976 ini ingin masyarakat Indonesia, khususnya Sidoarjo, lebih menghargai makanan-makanan lokal.

"Indonesia itu hebat. Tanahnya kaya dan budayanya tinggi. Saya hanya mengumpulkan serpihan kejayaan Nusantara," katanya merendah.

Apakah Anda ingin agar singkong naik kelas sebagai salah satu makanan favorit masyarakat?

"Sebetulnya bukan masalah singkong naik kelas saja. Tapi memang sebetulnya riset tentang singkong itu sudah tua di Nusantara. Dari tiwul, gaplek, oyek, gatot, tape, dan sebagainya," katanya.

Evy mengaku kagum dengan kehebatan nenek moyang kita di Nusantara. Meskipun masih sederhana, belum ada teknologi yang canggih, mereka mampu mengolah singkong menjadi begitu banyak menu.

"Kalau ditelusuri kenapa mereka membuat seperti itu, kita akan merasa wow. Sebab, mereka sangat memahami nutrisi. Beda dengan kita sekarang ini makan hanya makanan yang kelihatan enak dan praktis," papar istri Dr Lintu Tulistyantoro itu.

Saat ini Evy tengah membuat tepung singkong yang berkonsep instan tapi melalui proses natural. Dia juga memberi sentuhan kekinian agar panganan dari singkong ini disukai anak-anak muda zaman now.
"Kalau saya mengeluarkan produk dengan bentuk seperti masa lalu, anak muda tidak pernah akan melirik. Apalagi bangga dengan singkong," katanya.

Evy optimistis dalam 10 tahun ke depan orang tidak lagi memandang singkong sebagai makanan marginal atau kelas kampung. Image anak singkong yang inferior perlahan-lahan bakal terkikis. "Saya yakin singkong akan menjadi superior, tidak hanya di Indonesia tapi dicari dunia," ujarnya.

Liem Evy Hernawati tidak sekadar sesumbar. Warga RW 08, Desa Larangan, Kecamatan Candi, ini berhasil menciptakan makanan olahan singkong yang lezat dinikmati. Evy pun terpilih sebagai pemenang lomba cipta menu Provinsi Jawa Timur tahun 2018.

Evy juga ikut mengharumkan nama Kabupaten Sidoarjo dalam lomba kreasi cipta makanan nonberas dan nonterigu tingkat nasional di Banjarnegara pada pertengahan Oktober 2018. Saat itu PKK Sidoarjo yang mewakili Jawa Timur menjadi juara pertama mengungguli Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Riau.

Markas Besar Oelama Djatim di Kedungrejo, Waru

Peristiwa heroik 10 November 1945 memang terjadi di Surabaya. Namun, kontribusi warga Sidoarjo tempo doeloe tidak bisa dianggap remeh. Markas Besar Oelama Djawa Timoer (MBODT) di Desa Kedungrejo, Kecamatan Waru, menjadi saksi sejarah Resolusi Jihad yang fenomenal itu.


Gedung tua di sebelah timur pabrik paku, Desa Kedungrejo, Waru, itu masih berdiri kokoh. Sayang, gedung bersejarah itu tidak terawat. Setiap hari bangunan itu selalu tutup. Tembok-temboknya sudah keropos.

"Mestinya gedung ini dirawat dengan baik karena menjadi saksi sejarah perjuangan para ulama dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia," ujar Slamet Firmansyah, yang tinggal tak jauh dari gedung eks Markas Besar Oelama Djawa Timoer (MBODT), Desa Kedungrejo, Kecamatan Waru, Sidoarjo.

Sebagai warga Desa Kedungrejo, Slamet mengaku sedih karena bangunan bersejarah itu dibiarkan kosong selama bertahun-tahun. Tidak ada perawatan baik dari pemerintah, PWNU Jawa Timur, maupun PCNU Sidoarjo. Akibatnya, tidak banyak warga Sidoarjo dan sekitarnya yang tahu kalau gedung tua itu dulunya markas para ulama yang juga pejuang kemerdekaan.

"Memang ada beberapa orang yang berkunjung ke sini. Tapi secara umum tidak banyak warga Sidoarjo yang mengetahui sejarah gedung ini," kata Slamet.

Shuniyya Ruhama, dalam tulisannya yang berjudul Napak Tilas Hari Santri, menyebutkan bahwa di gedung MBODT inilah ultimatum tentara Sekutu dibahas dan dijawab dengan jiwa ksatria. "Menjadi Markas Besar Oelama Djawa Timoer (MBODT). Gedung ini sangat penting ketika para ulama yang dipimpin KH Bisri Syansuri melakukan penyatuan jaringan dari laskar-laskar yang sudah ada," ujar aktivis muda Nahdlatul Ulama (NU) itu.

Selepas proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, menurut Ruhama, banyak kesatuan yang bergabung di dalam laskar-laskar pejuang itu.
Di antaranya, Barisan Mujahidin pimpinan KH Wahab Hasbullah, Barisan Sabilillah pimpinan KH Masjkoer, dan tak ketinggalan Laskar Hizbullah pimpinan KH Zainul Arifin.

"Dari gedung MBODT inilah awal Resolusi Jihad dikumandangkan, teriakan jihad fisabilillah digaungkan, dan jihad bela negara digelorakan," tulisnya.

Sementara itu, pengamat sejarah Nahdlatul Ulama (NU) Choirul Anam meminta pengurus NU untuk melestarikan cagar budaya peninggalan Resolusi Jihad di Desa Kedungrejo, Kecamatan Waru. "Agar tetap bisa menjadi bukti untuk generasi yang akan datang tentang nasionalisme para ulama pada era perjuangan dulu," katanya.

Mantan ketua GP Ansor Jatim yang akrab disapa Cak Anam itu menjelaskan, bangunan cagar budaya Markas Besar Oelama Djawa Timoer di Kedungrejo itu dulu menjadi tempat berkumpulnya para ulama yang dipimpin KH Wahab Chasbullah untuk perjuangan 10 November 1945. "Mbah Wahab yang mengkoordinasikan para kiai sepuh di situ," ujarnya.

Ketika Wali Kota Surabaya dijabat almarhum Sunarto Sumoprawiro, Cak Anam meminta agar bangunan di Kedungrejo, Waru, tersebut dibeli. Agar dijadikan bukti sejarah. "Alhamdulillah, akhirnya dibeli, lalu diberikan kepada NU Surabaya. Sekarang nggak tahu bagaimana nasibnya. Saya berharap NU merawat gedung bersejarah tersebut," katanya.

Selain itu, Cak Anan berharap momentum Resolusi Jihad yang dicetuskan para kiai NU pada tahun 1945 hendaknya dijadikan semangat generasi muda untuk menghidupkan kembali berbagai kegiatan bernilai Ahlusunnah Wal Jamaah guna menumbuhkan kembali rasa nasionalisme.

"Nilai-nilai Aswaja harus ditumbuhkan lagi di kalangan generasi muda. Seperti kegiatan Manakiban atau Lailatul Ijtimak. Ini menjadi salah satu ciri khas NU. Dahulu para kiai memanfaatkan kegiatan tersebut untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air," ungkap Cak Anam.

09 December 2018

Terkenang Gus Luqman, Eyang Bete, Bambang Thelo

Lagi asyik menonton Persebaya vs PSIS di Indosiar petang kemarin, Hartono Aje mengirim foto lawas. Nostalgia sejumlah seniman di Sidoarjo. Saat kerja budaya merevitalisasi patung-patung pahlawan di beberapa taman di Sidoarjo.

Saya jadi terkenang beberapa almarhum seniman/budayawan yang saya anggap pejuang seni budaya di Sidoarjo. Gus Luqman Asis pelukis asli Siring, Porong. Pelukis nyentrik ini meninggal dunia tak lama sebelum lumpur Lapindo menyembur di dekat rumahnya.

Eyang Bete atau nama aslinya Bambang Trimuljono. Insinyur yang sangat aktif menjadi kolumnis dan pemerhati seni budaya. Sang eyang bikin beberapa forum dan paguyuban. Di antaranya, Forum Budayawan Sidoarjo, Malam Anggoro Kasih, hingga komunitas piring terbang.

Meskipun anggota aktifnya sedikit, forum-forum cangkrukan budaya ini selalu mendapat perhatian Pemkab Sidoarjo. Bupati Win Hendrarso saat itu bahkan merasa perlu untuk mengundang Eyang Bete, Hartono Aje, dan para seniman untuk dialog di pendapa kabupaten.

Bupati Win juga akhirnya membuka pendapa di dekat alun-alun itu untuk kegiatan seni budaya. Macapat, seni tari, seni rupa dsb. Beberapa kali para pelukis bikin pameran di pendapa. Itu tak lepas dari jasa para sesepuh macam Eyang Bete dan Hartono Aje, ketua Dewan Kesenian Sidoarjo, saat itu.

Yang duduk sebelah kanan itu almarhum Eyang Tekek. Nama aslinya Bambang Harryadjie alias Bambang Thelo. Perupa senior yang konsisten dengan green art hingga akhir hayatnya. Berkesenian itu kayak makan minum kencing dsb, kata Bambang Thelo.

Eyang Tekek ini menjadikan kesenian, seni rupa, sebagai ibadah. Kulit buah maja, pelepah kelapa, batang pisang, barang-barang buangan dibikin karya seni. Tidak peduli laku atau tidak. Seniman yang baik itu tidak peduli pasar, katanya.

Tak heran, Eyang Bete ini jarang pegang uang. Tapi asap rokoknya selalu lancar jaya. Dia juga biasa keliling berbagai kota tanpa banyak modal di dompet. Tahu-tahu dia sudah di Jogja, Solo, Banyuwangi, Jakarta dsb.

Naik apa? Tidur di mana? Tiketnya? "Ada ajalah. Seniman itu gak perlu mikir tiket, makan minum, ngising dsb. Buktinya saya bisa ke mana-mana," kata seniman tua yang cukup lama merantau di Jerman itu.

Eyang Bete akhirnya terkena serangan jantung saat bersepeda pancal ke Buncitan Sedati. Menemui Saiful Munir, penjaga Candi Tawangalun yang juga murid setianya di seni rupa. Sempat dibawa ke rumah sakit tapi Tuhan punya kuasa.

Saya sudah lama kehilangan 3 eyang seniman Sidoarjo ini. Kepergian mereka membuat dunia kesenian kota petis jadi senen kemis. Omongan seniman pun tidak lagi diperhatikan pemerintah. Dianggap angin lalu.

Hartono Aje, mantan ketua dewan kesenian, pun kehilangan mitra diskusi, ngopi plus rokokan. Apalagi markas besar di Akar Jati Cafe n Gallery sudah lama terbakar. "Sekarang ini kondisinya seperti singa ompong," kata Hartono Aje yang dokter hewan.

Syukurlah, di tengah keompongan ini masih ada sedikit geliat. Bella Bello, putra Gus Luqman, sudah bergerak di Balongbendo. Seniman-seniman muda juga bergiat di beberapa komunitas. Komunitas Perupa Delta (Komperta) rajin blusukan ke kampung-kampung. Bikin lukisan on the spot.

Setiap era dan generasi memang punya tantangan berbeda. Salam budaya untuk Gus Luqman, Eyang Bete, dan Eyang Tekek di surga!

Pameran Lukisan Pertama di Balongbendo

Baru pertama kali ini ada pameran lukisan di Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo. Daerah pinggiran perbatasan Sidoarjo dan Mojokerto. Lebih dari 30 pelukis unjuk karya di Rumah Makan Handayani, Jalan Raya Bypass Balongbendo.

Pameran dibuka Sabtu petang 8 Desember 2018 oleh Ketua Dewan Kesenian Sidoarjo Ali Aspandi. Selama satu bulan rumah makan itu dipajangi lukisan-lukisan berbagai corak dan isme. Geliat Anak Negeri Menggapai Warna, begitu tema pameran seni rupa di Balongbendo ini.

Saya terkejut membaca undangan yang dikirim via ponsel. Gak salah nih? Pameran lukisan di Balongbendo? Di jalan raya bypass yang didominasi truk-truk tronton? Kawasan industri Krian-Balongbendo.

Maklum, selama tahun 2018 ini hampir tidak ada pameran lukisan di Sidoarjo. Cuma ada beberapa pameran insidentil di lingkar timur. Itu pun cuma satu atau dua hari. Pelukis-pelukis Sidoarjo lebih suka pameran di Surabaya dan kota-kota lain.

"Kita perlu menciptakan peradaban baru. Balongbendo harus kita ramaikan biar tanahnya tidak gersang dengan seni rupa," kata Muhammad Insan Bella Bello, pelukis muda yang tinggal di Desa Penambangan, Kecamatan Balongbendo.

Bella Bello ini putra almarhum Gus Luqman Azis. Asli Siring Porong. Setelah kampung halamannya di Siring hilang ditelan lumpur Lapindo, Bello pindah ke Balongbendo. Dia menyebut Balongbendo adalah kampung halaman baru. Siring adalah masa lalu.

Sudah lama Bella Bello dkk ingin bikin pameran seni rupa di pinggiran Sidoarjo. Tapi tidak mudah. Sebab pelukis-pelukis di kawasan barat tidak banyak. "Maka, saya minta bantuan teman-teman pelukis dari luar daerah untuk meramaikan kampung yangt gersang akan seni rupa ini.. wkwkwk," tulis seniman yang dikenal dengan lukisan di dalam kotak kaca itu.

Gayung bersambut. Para pelukis Sidoarjo dan kota-kota lain (Gresik, Surabaya, Mojokerto, Banyuwangi, Bojonegoro, Jombang, Bali hingga Cirebon) menyatakan siap gabung. Menjadi pelaku sejarah babat alas pameran lukisan di Balongbendo. Meminjam istilah Bella Bello: ikut menciptakan peradaban.

Kawasan Sidoarjo Barat seperti Krian, Balongbendo, Tarik, dan Prambon sejak dulu dikenal sebagai sentra pertanian. Maka, kesenian yang paling disukai rakyat adalah ludruk. Ludruk-ludruk yang berjaya di Jawa Timur umumnya dari wilayah ini. Plus Mojokerto hingga Jombang.

Seni lukis masih dianggap kesenian orang borjuis di kota besar. Mana ada petani yang memasang lukisan-lukisan di dinding rumahnya? Namun, seiring perjalanan waktu, Krian, Balongbendo, Prambon, hingga Tarik makin modern.

Sudah banyak perumahan yang berdiri. Sebaliknya, puluhan hingga ratusan hektare sawah sudah hilang. Pabrik Gula (PG) Balongbendo sudah lama tutup. PG Krian juga rata dengan tanah. Selera masyarakat pun sudah tidak lagi ke ludruk. Yang heboh justru orkes dangdut koplo.

Bella Bello dan para pelukis rupanya pandai membaca tanda-tanda zaman. Menciptakan peradaban baru di Balongbendo. Membuka sedikit ruang hidup untuk seni rupa di Sidoarjo Barat. (rek)

Pelukis Peserta Pameran di Balongbendo:

A. Juniarto Dwi Nugroho
Andik Eko
Bella Bello
Bence
Buggy
Cak Har
Cucun
Daniel de Quelyu
Dedi Aljawi
Dimas Vito

Dodik Ndolit
Edi Cahyono
Farid Firdaus
Hadi Juatmo
Heru Jetis
Heru B. Lakone
John Yanto
Kabul Teguh
Kak Hery
Karyanto

Kusdono Rastika
Lutfi Shakato
Mas Rony Babe
M. Nasruddin
Mpu Harris Purwo
M. Wahyudi
Nupral
Redi Hermanto
S. Hardiman
Sur J. Payros

Suyanto Almeri
Yangbo
Yuson Art

07 December 2018

Merindukan Harvey Malaiholo

Begitu banyak acara lomba menyanyi di televisi. Paling banyak pencarian bakat untuk penyanyi dangdut. Tiada hari tanpa kontes menyanyi.

Sayang, tak ada satu pun kontes di TV yang saya nonton. Tidak menarik bagi saya meskipun sangat menarik buat jutaan orang Indonesia hari ini. Tua muda suka lihat kontes dangdut di televisi.

Aneh, menurut saya, karena juri atau komentatornya terlalu banyak bicara dan tertawa dan teriak. Mirip ibu-ibu bertengkar di pasar tradisional. Porsi musik dan festivalnya terlalu minim. Porsi komentator dan pembawa acara kelewat besar. MC-nya saja bisa empat atau lima orang.

Beberapa waktu lalu saya mampir warung kawasan Menanggal, Surabaya. Pemilik cum pelayannya bapak tua. Usia 60an tahun. Eh, orang ini lebih gila dangdut, nonton variety show, ketimbang remaja belasan atau 20an tahun.

Melihat celometan para juri seperti Soimah yang teriak, saya minta bapak itu untuk pindah channel. Ada sepak bola di televisi lain, Pak! Ganti aja! Acaranya gak enak blasss!

Bapak warung itu rupanya marah. Tidak terima omongan saya yang dianggap mengejek kontes dangdut. "Loh, sampean gak punya hak untuk melarang. Ini kan tivinya saya," katanya ketus.

Saya pun minta maaf. Lalu cepat-cepat menghabiskan nasi kare ayam yang sebenarnya enak. Lalu pulang. Kapok. Saya tidak akan datang lagi di warung yang pemiliknya sangat gila kontes dangdut.

Hari-hari ini saya merindukan Harvey Malaiholo. Penyanyi bersuara emas asal Maluku. Macam festival era 80an dan 90an. Syukurlah, ada banyak banget video lawas di Youtube. Saya nikmati suasana festival masa lalu yang sangat akademis.

Benar-benar festival untuk mencari komposisi dan penyanyi bermutu. Sangat kontras dengan festival masa kini yang jadi ajang pamer artis-artis lawas yang jadi juri.

Hanya saja, festival pop masa lalu terlalu formal dan serius. Jangankan tertawa, sekadar tepuk tangan pun penonton sepertinya tidak berani. Suasana festival pada era Harvey lebih mirip konser musik klasik.

Harvey Malaiholo si macam festival kini berusia 56 tahun. Sudah lama tidak muncul di televisi. Industri musik pop kita tidak memberi ruang untuk penyanyi atau musisi di atas 30 tahun. Lebih suka yang di bawah 27 tahun.

Inilah bedanya dengan seniman wayang kulit Ki Anom dan Ki Mantheb yang makin laku di atas 60 tahun. Waldjinah ratu campursari dan langgam jawa juga tetap laris di usia senja.

Minggu lalu ada konser mini untuk Harvey Malaiholo di Jakarta. Pesona Cinta untuk Seorang Macan Festival di Jakarta. Persembahan khusus untuk Harvey yang mulai ikut festival sejak 1975 sampai 1999. Dan... jarang kalah. Makanya Harvey disebut si Macan Festival.

Saya hanya bisa membayangkan betapa dahsyatnya lagu-lagu ciptaan Elfa Secioria yang biasa dibawakan Harvey di berbagai festival. Saya hafal (hampir) semua lagu festival khas Harvey.

Seandainya Selalu Satu
Gempita Dalam Dada
Selamat Datang Cinta
Kusadari Hari-Hari kan Terus Berlalu
Ternyata
Indonesia Jaya

03 December 2018

Jawa Pos Konsisten Pakai Tiongkok

Presiden SBY mengeluarkan peraturan khusus tentang sebutan resmi TIONGKOK untuk China. People Republic of China menjadi Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Chinese yang ajektif menjadi Tionghoa. Istilah CINA sudah lama diprotes oleh tokoh-tokoh masyarakat Tionghoa di Indonesia. "Kata CINA itu sejak awal Orde Baru ada nuansa penghinaan. Orang-orang lama seperti kami merasa tersinggung," kata Liem Ouyen pengusaha di Kembang Jepun, Surabaya.

Liem alias Djono sering kasih kuliah soal istilah Tionghoa, Tiongkok, China, Cina, Zhongguo (Cungkuo), Zhonghua, dsb. Begitu banyak sejarah dan kepahitan di balik sebutan yang bagi kita (bumiputra) dianggap netral itu.

"Mengapa kok masih ada media yang pakai CINA? Bukankah sudah ada peraturan presiden sejak era Pak SBY?" tanya Liem Ouyen.

"Kebijakan redaksional setiap media berbeda-beda, Pak," kata saya. "Kata CINA dianggap netral. Tidak ada unsur menghina warga Tionghoa. Saya pastikan sebagian besar wartawan yang aktif tahun 2018 ini tidak paham bahwa kata CINA itu ada konotasi negatif," saya jelaskan sekenanya.

Begitulah. Perpres tentang Tiongkok dan Tionghoa ini rupanya tidak dipatuhi semua media massa. Jawa Pos dan 200an anak perusahaannya yang paling konsesten pakai Tiongkok dan Tionghoa. Kecuali beberapa redaktur yang kelolosan.

Kompas yang biasa pakai CHINA sempat pakai TIONGKOK dan TIONGHOA. Tapi rupanya tidak lama. Ada polemik keras di koran utama terbitan Jakarta itu. RLP, redaktur senior yang dianggap sinolog, beberapa kali bikin tulisan yang menentang istilah Tiongkok dan Tionghoa. Argumentasinya ada aja.

Maka, Kompas pun kembali ke CHINA (pakai H). Diikuti kompas.com dan anak-anak cucunya. Yang menarik, Kompas TV masih tetap menggunakan Tiongkok dan Tionghoa.

Metro TV pun konsisten dengan Tiongkok dan Tionghoa. tvOne pakai CINA dan CHINA.

Seperti sering saya bahas di sejumlah artikel sebelumnya, tidak banyak orang Indonesia yang paham latar belakang sejarah di balik istilah-istilah ini. Apalagi selama 32 tahun Orde Baru kita hanya mengenal CINA.

Bahkan, banyak orang Tionghoa pun ngotot pakai CINA dan menolak istilah Tionghoa dan Tiongkok.

02 December 2018

Nomofobi di Era Digital

Pagi ini saya baca di laman tempo tentang ponsel atau telepon genggam alias HP. Kamus Cambridge resmi memasukkan kata NOMOPHOBIA. Orang yang kecanduan ponsel. Takut jauh dari HP.

Luar biasa memang telepon genggam ini. Alat kecil yang telah mengubah perilaku umat manusia di awal abad ini. Nomofobia sudah lama menjalar ke mana-mana. Indonesia mungkin saat satu negara yang kadar nomofobianya sangat tinggi.

Dua bulan ini saya bikin riset sederhana. Mampir ke beberapa warkop di Buduran, Sidoarjo. Begitu duduk, si pengunjung pesan kopi atau teh atau makanan ringan. Lalu bertanya, password-nya apa?

Setelah itu para pengunjung khusyuk menatap HP masing-masing. Hampir tidak ada percakapan. Beda dengan warkop-warkop zaman old yang selalu hiruk pikuk dengan canda dan gelak tawa.

Saat ini hiruk pikuknya pindah ke media sosial. Di ponsel-ponsel itu. Ramai di dunia maya, senyap di alam nyata.

Siang ini saya mampir di warkop kawasan Prambon Sidoarjo. Tidak jauh dari Pabrik Gula Watoetoelis yang sudah tak lagi beroperasi. Wow... banyak banget pengunjung. Tua muda main hape. Memanfaatkan fasilitas internet gratis.

Ada koran Jawa Pos terserak di pojok. Tak ada yang membaca. Maka sayalah yang pertama membaca koran terbesar dari Surabaya itu. Bukan hanya generasi milenial, generasi lawas pun rupanya kurang tertarik membaca surat kabar.

01 December 2018

Sepak Bola vs Bola Basket

Pochettino :
"One thing I don't like in football is that rule. Maybe we need to change to rolling subs, like basketball, so you can go in and out."

Omongan pelatih Tottenham Hotspurs ini cocok dengan yang saya pikirkan sejak dulu. Aturan main sepak bola memang berbeda jauh dengan olahraga-olahraga permainan lainnya. Mengerikan!

Sepak bola itu olahraga yang makan tempo paling lama. 2x45 menit. Lalu ada tambahan waktu hingga 5 sampai 7 menit. Bahkan bisa 10 menit.

Kalau skor imbang, permainan dilanjutkan 2x15 menit. Plus extra time lagi.

Yang paling aneh itu aturan pergantian pemain. Paling banyak 3 orang. Pemain yang sudah diganti tidak boleh masuk lagi. Beda dengan bola basket atau futsal.

Jika pemain terkena kartu merah, fatal akibatnya. Satu tim harus bermain dengan 10 orang. Sementara lawannya 11 orang. Kalau dua kartu merah, ya 9 vs 11. Kalau tiga kartu merah? 8 vs 11.

Law of the game ini sudah lama saya kritik. Ketika Real Madrid bermain 9 orang vs 11 Barcelona. Jomplang! Puluhan ribu penonton pasti tidak bisa menikmati pertandingan yang seimbang. Meskipun kadang tim yang main dengan 10 atau 9 orang bisa menang. Bagus kalau seri.

Terlalu berat hukuman untuk pemain sepak bola. Bisa double or triple punishment. Pemain diusir karena kartu merah, lawan dapat penalti, ditambah denda yang besar.

Kartu merah dan kartu kuning memang perlu. Tapi menurut saya pemain yang dikeluarkan itu bisa diganti. Prinsipnya 11 vs 11. Kecuali jatah pergantian pemain sudah habis.

Lantas, berapa kuota pemain pengganti? Biarlah FIFA dan pakar-pakarnya melakukan kajian secara mendalam. Yang pasti, jatah 3 substitusi terlalu sedikit. Enam atau tujuh atau delapan lebih baik. Bila perlu 10 pemain.

Masih banyak lagi law of the game sepak bola yang perlu dievaluasi. Lama pertandingan, aturan offside, luas lapangan, dsb. Tapi yang paling mendesak adalah aturan pergantian pemain yang cuma 3 orang itu.