30 November 2018

Oleh karena itu vs karena itu vs sebab itu vs maka dari itu



Selain Jawa Pos dan beberapa koran lokal, saya sering membaca Kompas. Koran terbitan Jakarta ini biasa dijadikan rujukan media-media di daerah.

Saya perhatikan gaya bahasa, pilihan kata, tata letak, foto, grafis dsb. Bahasanya lebih formal ketimbang koran-koran di Surabaya. Kata KETIMBANG tidak dipakai karena tidak baku. Kutipan langsung pun jarang pakai ENGGAK, NGGAK, GAK, NDAK tapi TIDAK.

Yang bikin saya heran (bakunya: yang membuat saya heran), Kompas memakai frase yang tidak seragam. Maka saya pun bertanya kepada editor bahasa Kompas. Manakah yang standar untuk Kompas:

Oleh karena itu....
Karena itu....
Oleh sebab itu....
Sebab itu....
Maka dari itu....

Iseng saja. Saya tidak menyangka pertanyaan ini dijawab Nur Adji, editor bahasa harian Kompas.

Begini penjelasan Nur Adji dari Kompas:

"Terima kasih atas pertanyaan yang Anda sampaikan kepada kami. Semua frasa hubung antarkalimat yang Anda berikan tersebut pasti tidak akan Anda temukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), padahal untuk menentukan baku tidaknya sebuah kata (atau frasa?) adalah kata (atau frasa?) tersebut ada dalam KBBI.

Namun, ada semacam konvensi umum yang menyatakan bahwa frasa hubung oleh karena itu dan oleh sebab itu lebih baku daripada karena itu dan sebab itu. Lazimnya, oleh karena itu dan oleh sebab itu lebih banyak dipergunakan dalam jurnal ilmiah atau tulisan akademik, atau tulisan-tulisan dalam berita negara.

Di Kompas, keempat frasa hubung tersebut dipergunakan dalam penulisan berita (keras) dan berita (ringan). Mengingat koran termasuk dalam ragam semiformal, dan karena ada pertimbangan tertentu (misalnya terkait ruang/spasi), keempatnya dipergunakan saling bergantian. Toh, makna karena itu dan oleh karena itu ataupun sebab itu dan oleh sebab itu tidak berbeda. 

Adapun frasa hubung maka dari itu mulai sering digunakan para penulis yang, mungkin saja, ingin membuat frasa hubung yang sama maknanya dengan (oleh) karena itu dan (oleh) sebab itu. Frasa hubung ini juga kadang dipergunakan di Kompas meski dalam jumlah yang tidak begitu banyak.

Demikian tanggapan kami. Kurang lebih minta maaf. Terima kasih.

Salam
Nur Adji
Language Editing Superintendent Harian Kompas

Reuni Sekolah vs Reuni 212

Yang paling sering bikin reuni itu para alumni sekolah-sekolah Tionghoa. Mulai tingkat SD hingga SMA. Ada reuni kecil, sedang, hingga besar. Reuni besar ini biasanya diadakan dua tahun hingga lima tahun sekali.

Biasanya peserta reuni adalah bos-bos atau pemilik perusahaan. Mulai perusahaan kecil (ukuran Tionghoa) hingga konglomerat raksasa. "Saya datang ke Surabaya dan Banyuwangi untuk reuni," kata James Chu yang sudah puluhan tahun tinggal di Hongkong.

Begitu pentingnya reuni, setidaknya bagi Chu, sehingga dia rela jauh-jauh datang dari luar negeri. Buat lepas kangen. Nostalgia katanya. Sebab pada masa orde baru tidak ada acara reuni sekolah Tionghoa. Bisa ditangkap aparat.

Minggu lalu ada reuni kecil sekolah Tionghoa di daerah Taman, Sidoarjo. Cuma 20an orang. Makan-makan, nyanyi... pulang. Reuni cilik macam ini bisa dilakukan setiap bulan. Teman-teman satu alumni senang kumpul bareng. Di masa tua.

Nah, sekarang ada lagi reuni model baru. Reuni 212. Alumni sekolah apa? Bukan sekolah. Tapi massa unjuk rasa menentang Ahok. Sukses besar. Ahok masuk penjara 2 tahun. Cagub pilihan 212 yang menang.

Berbeda dengan alumni sekolah yang bikin reuni setelah puluhan tahun tidak ketemu, massa 212 sangat cepat bikin reuni. Di lapangan luas. Bikin pengajian sejuta umat. Orasi-orasinya ya bisa ditebak. Di tahun politik ini.

Yang pasti, suasana reuni 212 ini jauh berbeda dengan reuni-reuni sekolahan. Makna reuni hari ini sudah meluas sampai jauh.

Vigit Waluyo Sudah Buron Setahun



Di mana gerangan Vigit Waluyo? Bekas manajer Deltras Sidoarjo itu sudah lama hilang dari Sidoarjo. Kejaksaan pun kehilangan jejak.

Padahal, Vigit sudah lama ditetapkan sebagai terpidana kasus korupsi PDAM Delta Tirta Sidoarjo. Ihwal pinjaman uang Rp 3 miliar untuk Deltras. Vigit divonis 1,5 tahun penjara.

Upaya banding hingga MA alias kasasi sudah dilakukan Vigit yang dikenal sebagai orang bola sejak era Galatama itu. Tapi ditolak MA. Maka putusannya inkrah. Jaksa harus eksekusi.

Mengapa tidak segera dieksekusi? ''Sudah empat kali panggilan tapi tidak ada respons. Sejak 2 November 2017," kata Pak Adi Harsanto dari Kejari Sidoarjo.

Maka Vigit Waluyo pun berstatus buron. Masuk DPO: daftar pencarian orang. "Kalau ketemu ya dieksekusi," kata Adi.

Eksekusi Vigit ini sangat penting. Agar adil dan beradab. Sebab Djayadi mantan dirut PDAM Sidoarjo sudah lebih dulu menjalani hukuman di Lapas Sidoarjo. Kasusnya sama, vonisnya sama: 1 tahun 6 bulan.

Saya sering mampir ke Pondok Jati Sidoarjo. Lewat di depan rumah Vigit di blok AJ. Tapi rumahnya kosong terus. Mangkrak. Para tetangga pun tidak tahu ke mana gerangan Bung Vigit.

"Orangnya pasti tidak di Sidoarjo. Kalau di sini kan pasti dieksekusi," kata salah satu suporter bola yang paham gerak-gerik Vigit Waluyo.

Yang terbaik adalah menyerahkan diri ke Kejari Sidoarjo. Hukuman penjara 18 bulan sebetulnya tidak terlalu lama. Toh, dia tetap bisa mengurus sepak bola dari dalam lapas. Kayak ketua PSSI yang lama Nurdin Halid.

27 November 2018

Salah kaprah MERUBAH MEROBAH PEROBAHAN


Seorang profesor di Surabaya selalu menulis MERUBAH di media sosial. Saya beberapa kali koreksi di kolom komentar. Yang benar MENGUBAH, bukan MERUBAH.

Tapi ya.... namanya juga kebiasaan MERUBAH masih selalu muncul. MERUBAH MERUBAH MERUBAH.

Bukan hanya guru besar itu yang senang MERUBAH. Saya perhatikan salah satu media cetak lokal. Wartawannya selalu pakai MERUBAH. Dibiarkan saja. Padahal hampir semua redaktur atau editor di Surabaya, khususnya yang lama, sering ditatar pusat bahasa. Yang benar adalah MENGUBAH.

Sangat sederhana. Kata dasarnya UBAH. Bukan RUBAH. Rubah itu sejenis binatang buas. Dus, MERUBAH berarti menjadi rubah.

me + ubah = mengubah
me + usir = mengusir
me + urus = mengurus

Mengapa UBAH bisa menjadi MERUBAH?

Saya rasa ini salah kaprah. Kebiasaan keliru yang dilakukan berulang-ulang. Jadi kebiasaan. Ketika sudah dewasa sulit diubah (bukan dirubah). Seperti otomatis aja.

Prabowo dalam ujaran lisannya biasa menggunakan PEROBAHAN. Jarang pakai PEROBAHAN. Bisa jadi orang-orang lama lebih suka pakai OBAH - MEROBAH - BEROBAH - PEROBAHAN. Jarang kita dengar MENGOBAH.

Sebaiknya guru-guru bahasa Indonesia di SD dan SMP lebih tegas saat menjelaskan UBAH - BERUBAH - MENGUBAH - DIUBAH - PERUBAHAN. Kalau terlalu longgar ya sampai tua tetap MERUBAH atau MEROBAH atau PEROBAHAN.

22 November 2018

Timnas senior makin hancur

Sudah saya duga tim nasional Indonesia bakal tersingkir dari Piala AFF 2018. Di laga perdana melawan Singapura, timnas asuhan Bima Sakti itu terlihat kalah kelas. Organisasi permainan tidak jalan.

Laga kedua lawan Timor Leste pun sama saja. Meskipun menang 3-1, permainan Indonesia masih payah. Timtim yang menurunkan pemain muda sempat mendikte Indonesia. Bahkan unggul duluan lewat sepakan jarak jauh yang ciamik.

Laga ketiga versus Thailand di Bangkok mestinya must win game. Wajib menang. Tapi faktanya kita kalah telak 1-4. Timnas hancur. "Kita masih punya peluang di Jakarta," kata pengamat di televisi.

Pelatih Bima Sakti juga masih yakin lolos. Syaratnya menang atas Filipina di kandang. Plus Thailand mengalahkan Filipina.

Hasilnya justru meleset dari keinginan Bima dan beberapa pengamat yang senang berpikir positif itu. Indonesia tersingkir lebih awal. Sebab Thailand dan Filipina sama-sama punya modal 7 poin. Indonesia baru 3 mata. Maksimal 6 mata -- itu pun kalau bisa mengalahkan Filipina.

Ingat, timnas Filipina sekarang beda dengan dulu-dulu yang belum bisa bermain di level internasional. Saat ini Filipina dilatih Goran Eriksson, pelatih kawakan di Eropa. Permainan Filipina pun lebih tenang dan tajam. Beda dengan Indonesia yang grusa-grusu karena lini tengahnya mati.

Nasi sudah jadi bubur. PSSI sepertinya kurang serius mempersiapkan timnas untuk AFF 2018. Padahal inilah kejuaraan internasional yang ditunggu-tunggu penggemar bola. Sebab ada potensi juara, selain SEA Games. Jangan mimpi tingkat Asia karena kemampuan Indonesia masih kelas Asia Tenggara.

Lah, level ASEAN saja kita kalah kelas, ya jangan bicara kejuaraan tingkat Asia macam Piala AFC atau Asian Games. Apalagi bicara Piala Dunia. Jauh... masih terlalu jauh untuk Indonesia Raya.

Laga terakhir versus Filipina sudah tidak penting lagi. Menang atau kalah berapa pun tidak ada efeknya untuk Indonesia.

Mengenang Majapahit di Alas Trik Sidoarjo


Cikal bakal Kerajaan Majapahit bermula dari Alas Trik. Dyah Harsawijaya melakukan babat alas untuk merintis kerajaan yang bakal berkembang luas hingga kawasan Asia Tenggara.

Wilayah Alas Trik itu kini dikenal sebagai Desa Kedungbocok, Kecamatan Tarik, Kabupaten Sidoarjo. Tidak jauh dari aliran Sungai Porong yang memisahkan Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Mojokerto.

Warga setempat menemukan artefak-artefak kuno khas Majapahit di kawasan itu. Pada 3 Februari 2018 lalu ditemukan struktur bata kuno berusia ratusan tahun. Ini semacam penegasan bahwa Kedungbocok punya kaitan erat dengan Kerajaan Majapahit.

Atas inisiatif berbagai pihak, lembaga swadaya masyarakat, budayawan, aktivis pelestari cagar budaya, pemerintah desa dan warga Kedungbocok akhirnya menggelar kirab budaya. Untuk memeringati hari jadi ke-725 desa itu pada Minggu 18 November 2018. Sekaligus ulang tahun Kerajaan Majapahit.

"Kegiatannya dipusatkan di bekas Alas Trik," kata Abhisek Agus, pemerhati cagar budaya dari Garda Wilwatikta.

Agus mengaku terharu dengan antusiasme masyarakat Kedungbocok untuk memeriahkan momen istimewa ini. Mereka bangga karena wilayah desanya ternyata bekas Alas Trik yang menjadi cikal bakal Kerajaan Majapahit.

"Selama ini sebagian warga tidak tahu kalau Majapahit didirikan di Alas Trik yang kini berada di Desa Kedungbocok, Tarik," katanya.

Masyarakat Desa Kedungbocok, khususnya Dusun Kedhaton, akhirnya menerima fakta sejarah yang sangat penting itu setelah penemuan batu bata dan artefak-artefak lain pada 3 Februari 2018. Sejumlah arkeolog datang untuk melakukan analisis. Termasuk dari BPCB Jawa Timur di Trowulan, Mojokerto.

Pakar-pakar ini sepakat bahwa Alas Trik itu tak lain Desa Kedungbocok, Kecamatan Tarik. "Alhamdulillah, mimpi saya dan teman-teman akhirnya menjadi kenyataan," kata Agus.

Warga Kedhaton, sekitar situs Alas Trik, berbondong-bondong mengumpulkan hasil bumi seperti palawija, beras, sayur mayur dan buah-buahan untuk keperluan kirab budaya. Bukan hanya syukuran hari jadi desa ke-725, tapi juga perayaan ulang tahun Kerajaan Majapahit.

Kepala Desa Kedungbocok Muchammad Ali Ridho berharap situs Alas Trik segera ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh BPCB Jatim. Dengan begitu, Desa Kedungbocok bisa menjadi destinasi wisata sejarah dan budaya di Kabupaten Sidoarjo.

"Para pelajar bisa belajar sejarah Kerajaan Majapahit di Alas Trik, Desa Kedungbocok," katanya.

Pemerintah Desa Kedungbocok, menurut Ali Ridho, sudah bersurat kepada pemerintah agar segera mengakui situs Alas Trik. Permintaan itu dilakukan sejak 2016. Namun, sampai tahun 2018 ini belum ada realisasi.

"Makanya, kami lindungi lewat peraturan desa biar terjaga," katanya.

21 November 2018

Situs Nyai Ratu Rondo Kuning di Pulungan Sedati

Cukup banyak petilasan atau cagar budaya di Kabupaten Sidoarjo. Ada Candi Pari dan Candi Sumur di Desa Candipari, Porong, yang paling dikenal masyarakat. Ada juga Candi Tawangalun di Desa Buncitan, Sedati.

Nah, tidak jauh dari Buncitan, tepatnya di Desa Pulungan, ada pula situs lawas. Makam Nyai Ratu Rondo Kuning alias Nyai Ratu Sekarsari. Sesuai catatan di dinding, Mbah Rondo Kuning ini selir Prabu Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit.

"Kalau tidak salah kira-kira tahun 1535 M," kata Iriyanto, pengurus situs.

Batu-batu merah yang dipakai untuk membuat situs ini konon asli peninggalan Majapahit. Awalnya cuma lahan kosong, dekat Bandara Juanda. Kemudian Dulsahid yang punya kemampuan spiritual mendapat semacam petunjuk untuk membuat situs ini.

Ada foto peletakan batu pertama pada 1973 dipasang di pendapa nan asri. Di bawah naungan pohon asam jawa terdapat sendang berusia ratusan tahun. Sayang, sendang atau kolam tua di depan sudah diuruk untuk lahan parkir.

Tinggal sendang kecil di samping musala. "Sendang ini asli. Sejak dulu sudah ada," kata Iriyanto yang asli Kepanjen, Malang.

Saya kemudian minta sang juru kunci ini membuka pintu makam Nyai Rondo Kuning. Wow... ada sumur di sampingnya. Airnya ya dari sendang tua sejak zaman Majapahit. Sering diambil pengunjung untuk berbagai keperluan. Konon bisa menyembuhkan penyakit dsb.

Seperti umumnya petilasan-petilasan lain di Jawa Timur, makam Nyai Ratu Rondo Kuning ini dibuat layaknya makam muslim. Sejumlah perlengkapan salat dan kitab suci Alquran terlihat di sekitar makam itu.

Pak Yanto, mengutip cerita yang beredar dari mulut ke mulut, menyebutkan bahwa dulu Presiden Sukarno pernah mampir ke sini. Tentu saja situsnya belum sebagus sekarang. "Tahun 60an kan Presiden Sukarno meresmikan Bandara Juanda. Mungkin beliau sempat mampir," kata Yanto.

Belakangan ada penambahan dua makam baru. Yakni makam Nyi Anggraeni dan Eyan Aria Dwipa. Siapa gerangan keduanya? "Mbah Said yang paham. Beliau tinggal di dekat Lapangan Albatros Juanda," ujar Yanto.

Meskipun belum tercatat Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim di Trowulan, Mojokerto, menurut saya, situs di Pulungan ini jauh lebih terawat ketimbang situs-situs lain di Sidoarjo. Pengunjungnya tidak sebanyak di Candi Pari atau Candi Tawangalun. "Tapi ada saja yang mampir," kata Yanto.

Biasanya paling ramai pada malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon. Para penghayat kepercayaan atau aliran kebatinan biasanya datang untuk bersemadi. Mungkin juga untuk ngalap berkah.

"Ayem rasanya tinggal di sini. Ada saja rezeki dari Yang Mahakuasa," kata Iriyanto.

Rahayu... rahayu... rahayu....

Hujan pertama, bonus puting beliung

Hujan akhirnya turun juga di Sidoarjo. Hawa yang gerah, sumuk, sedikit berkurang. Sayang, hujan pertama ini disertai bonus angin puting beliung. Kali ini giliran Kecamatan Tulangan yang diterjang angin ribut itu.

Sekitar 500 rumah warga rusak. Ada yang ambruk total. Ada yang atapnya hilang. Ada yang rusak sebagian. ''Sembilan desa yang kena,'' kata Ketua BPBD Sidoarjo Dwijo.

Selain Tulangan, beberapa kawasan lain di Kabupaten Sidoarjo juga digoyang angin puting beliung. Pohon-pohon besar di pinggir jalan tumbang. Ada kendaraan yang kena.

Bahkan, ada seorang karyawan pabrik yang meninggal tertimpa tembok yang ambruk di Balongbendo. Tapi BPBD menganggap kejadian di Balongbendo itu bukan angin puting beliung.

Dilematis memang. Kita membutuhkan hujan karena sudah akhir November 2018. Sebab suhu sudah jauh di atas normal. Rata-rata 34 derajat celcius. Pohon-pohon kekeringan. Sumur atau air tanah mengering. Banyak kawasan yang sulit mendapatkan air sekadar untuk mandi atau cuci pakaian, piring, dan sebagainya.

Tapi begitu dikasih hujan... bonusnya bencana. Kali ini angin ribut. Biasanya selalu ada bonus banjir di berbagai kawasan. Airnya sangat sulit mengering karena lahan resapan yang minim. Sungai-sungai pun kurang dalam. Kapasitas untuk menyimpan air sangat rendah.

"Pemerintah perlu melakukan mitigasi bencana. Mitigasi harus dilakukan terus-menerus. Jangan tunggu ada bencana," kata Prof Amien Widodo dari ITS Surabaya.

Amien mengingatkan bahwa Kabupaten Sidoarjo sangat rawan angin puting beliung dan banjir. Pada akhir musim hujan lalu angin ribut menghantam kawasan Tambakrejo dan Tambaksawah di Kecamatan Waru. Kerusakan bangunan lebih banyak dan parah ketimbang di Tulangan.

Angin ribut juga biasa lewat di kawasan Krian. Titik-titik banjir sudah sangat jelas. Prof Amien mengatakan, mitigasi itu perintah undang-undang. Hanya dengan begitu, potensi kerusakan akibat bencana alam bisa diminimalkan.

09 November 2018

Timnas senior sangat keropos

Tak banyak yang bisa diharap dari timnas Indonesia di Piala AFF 2018 ini. Baru satu pertandingan. Masih banyak laga di fase grup. Tapi kesan pertama lawan Singapura yang baru berakhir beberapa menit lalu sangat mengerikan.

Indonesia memang cuma kalah 0-1. Tapi secara permainan, kerja sama tim, dsb kalah total. Pemain-pemain kita juga emosian. Main kasar, tidak bisa kontrol emosi. Makanya kena kartu kuning dan kartu merah.

Apakah faktor pelatih Bima Sakti yang masih hijau? Kurang persiapan? Materi pemain yang jelek?

Rasanya semuanya. Di stadion negara Singapura itu tahulah kita bahwa timnas sepak bola kita memang masih jalan di tempat. Bahkan kalah level dari Singapura, Malaysia, atau Thailand. Kita hanya sedikit lebih baik daripada Timor Leste dan Brunei Darussalam.

Perjalanan Indonesia di Piala AFF masih panjang. Timnas masih punya peluang untuk lolos ke fase berikut. Syaratnya gampang: menang menang menang menang. Tak boleh seri atau kalah.

Dan syarat untuk menang juga gampang: bikin gol lebih banyak ketimbang lawan. Gampang diucapkan tapi betapa sulitnya di lapangan.

Penyerang kita Beto dan Lilipaly sepertinya tidak punya banyak imajinasi menghadapi bek-bek Singapura. Evan Dimas yang dulu sangat gemilang bersama Indonesia U19 kini tak lagi dominan di lapangan. Visi bermain dan umpan-umpannya tak lagi enak.

Kita sempat terbang ke langit ketika Indonesia U23 tampil sangat bagus di Asian Games 2018 yang lalu. Tim kuat dari Timur Tengah pun bisa kita bikin kewalahan. Kok di timnas senior kita masih seperti yang dulu?

Semoga pelatih Bima Sakti dkk bisa membenahi timnas yang lagi keropos ini.

08 November 2018

Minum air es tidak dianjurkan?

Mampir di warkop di dekat Balai Bahasa, Siwalanpanji, Buduran, saya ketemu seorang ibu. Pensiunan dosen ternyata. Grapyak, cepat akrab. Enak diajak ngobrol karena ilmunya luas.
Melihat saya memesan es batu + joss, Bu Widya itu pun kasih wejangan. Mirip kuliah di kampus. "Sebaiknya hindari es Mas. Tidak bagus untuk kesehatan. Rasanya sih segar di mulut. Tapi di dalam perut?"

Hem... Saya mencoba mencerna kata-katanya. Saya pernah baca nasihat itu yang beredar luas di media sosial tahun lalu. Lebih baik minum yang hangat. Hindari es atau minuman yang disimpan di kulkas. Alasannya blablabla....

Ibu sendiri tidak minum es?

"Alhamdulillah, tidak pernah. Sudah bertahun-tahun Ibu tidak minum minuman dingin. Kulkas hanya untuk simpan sayur, ikan, daging dsb. Alhamdulillah, Ibu masih sehat, tidak pernah sakit di usia 70 tahun lebih," katanya mantap dengan bahasa Jawa campuran ngaka + krama.

Mungkin Ibu dulu dosen kesehatan atau ilmu gizi?

"Bukan. Tapi Ibu sering membaca dan ikut seminar-seminar kesehatan. Buat nambah wawasan," katanya.

Kampanye kesehatan ala Ibu Widya ini ternyata sangat manjur. Saya jadi ingat tulisan-tulisan di internet dan media sosial yang intinya sama: hindari es. Tapi sebetulnya banyak juga pendapat sebaliknya. 

Air es atau air yang sangat dingin tidak seberbahaya yang disebut pakar-pakar instan di medsos. Buktinya, sampai sekarang tidak pernah ada larangan minum es dari kementerian kesehatan. Masak, pemerintah membiarkan rakyatnya sakit gara-gara ngombe es batu dsb.

Tengah malam saya buka lagi buku Keajaiban Enzim karangan Dr Hiromi Shinya yang terkenal itu. Cukup banyak orang yang terpengaruh pendapat Hiromi yang cenderung anti mainstream. Misalnya, manusia seharusnya tidak minum susu sapi karena susu sapi itu sejatinya disediakan alam untuk anak-anak sapi.

Nah, soal air es ini, Dr Hiromi membahasnya cukup panjang. Pakar asal Jepang yang tinggal di USA ini bilang air yang paling bagus untuk diminum itu adalah "air yang suhunya lebih rendah daripada suhu tubuh Anda tetapi tidak sedingin es".

Suhu air yang bagus katanya sekitar 21 derajat Celcius. Kayaknya ibu pensiunan dosen di Buduran itu merujuk pendapat Dr Hiromi.

Gara-gara obrolan senja di warkop itu, saya mulai berhenti membeli es degan di lapaknya Bu Saiful di Jalan Jenggolo. Padahal hampir tiap hari saya membeli es degan di gelas besar. Es batunya dilebihkan, pesan saya.

"Kok lama gak mampir?" tanya Bu Saiful yang asli Jember.

"Hem... istirahat dulu. Barusan ngopi di kafe sebelah."

Saya tidak singgung Dr Hiromi atau kuliah kesehatan ala warkop di Buduran itu.

07 November 2018

Tandjoeng Poeri pun gersang

Sudah mendung tiga hari ini tapi belum hujan. Sidoarjo masih ongkep. Taman Tandjoeng Poeri yang didesain sebagai paru-paru kota pun gersang.

Saya ngopi sambil baca majalah Tempo terbaru. Membahas kapal terbang Lion Air yang nyungsep ke laut. Diiringi musik keroncong, suasana siang ini masih terasa terik. Untung ada semilir angin.

Saya perhatikan begitu banyak tanaman yang kering. Kok bisa begitu? Bukankah taman ini milik pemkab? Ada petugas yang merawat tiap hari? Tidak sempat disiram?

"Selalu disiram dan dirawat. Tapi kalau musim kemarau ya begitu," kata seorang pria di taman. Rupanya dia petugas di taman bekas tempat pembuangan sampah di Bluru Kidul, Sidoarjo, itu.

Tenang... hujan tak lama lagi datang. Begitu ramalan BMKG Juanda. Semoga tidak mbeleset lagi prakiraan cuacanya.

05 November 2018

Indomaret Sidoarjo Runner-up Livoli 2018

Luar biasa Indomaret Sidoarjo! Klub bola voli yang bermarkas di Wonoayu ini semalam keluar sebagai pemenang kedua (runner-up) Livoli 2018.

Tidak ada yang menyangka Indomaret Sidoarjo bisa melangkah sejauh ini. Tampil di final bola voli putra melawan Bhayangkara Samator di GOR Magetan.

Samator memang terlalu tangguh. Diperkuat banyak pemain nasional, anak-anak Sidoarjo memang kewalahan. Tapi para senior itu juga sering dibuat kalang kabut dengan bola-bola kejutan.

Bhayangkara Samator menang 3-0. Skornya lumayan bersaing 25-22, 25-19 dan 25-20. Tidak terlalu jomplang. "Kita punya masa depan yang baik karena anak-anak masih sangat muda. Mereka perlu jam terbang," kata Sutono, pembina Indomaret Sidoarjo yang mantan pemain bola voli nasional.

Yah... Tim bola voli putra Sidoarjo ini punya beberapa pemain muda yang menonjol. Alfin Pratama 16 tahun, Viko Aditya 17, Tri Fauzan Maulana 18, dan libero Fahreza Abhinaya 19.

Anak-anak muda kota kupang ini memang baru kali ini ikut kompetisi bola voli antarklub tingkat nasional. Selama ini mereka hanya ikut kejuaraan remaja tingkat Jatim. Atau sekadar kejurkab atau porkab di Kabupaten Sidoarjo.

Tapi begitu diturunkan di kejuaraan bergengsi Livoli 2018, anak-anak Sidoarjo ini tampil taktis. Tidak hanya mengandalkan otot tapi otak. Tidak heran, tim-tim unggulan dibuat kelimpungan di fase grup hingga semifinal.
Indomaret Sidoarjo hanya kalah oleh Bhayangkara Samator. Baik di grup A maupun final.

"Samator memang berat. Mereka punya pemain-pemain berpengalaman di kompetisi level tinggi," kata Sutono.

Hasil Livoli 2018 ini juga menunjukkan bahwa Sidoarjo punya bibit-bibit pemain bola voli yang melimpah. Pembinaan yang dilakukan PBSI Sidoarjo maupun klub-klub di 18 kecamatan sudah memperlihatkan hasilnya. Atlet-atlet muda 16 hingga 19 tahun ini tinggal dipoles dan dikawal terus agar bisa menjadi bintang baru timnas Indonesia.

Dan itu tugas Sutono bersama pelatih Iwan Dedi Setiawan dan timnya di Wonoayu.
"Kita pernah jadi juara Livoli tahun 2008. Kita masih punya harapan untuk jadi juara lagi pada tahun-tahun ke depan," katanya.

Ketua PBSI Sidoarjo Djoko Supriyadi mengapresiasi hasil yang diraih Indomaret Sidoarjo pada kompetisi Livoli 2018 di Magetan. Pria yang juga ketua PAMMI Sidoarjo mengaku sangat yakin Sidoarjo selalu punya kemampuan untuk bersaing di cabang olahraga bola voli. Khususnya kelompok usia remaja hingga pratama.

"Makanya, saya selalu bilang cabor bola voli tidak boleh lepas putra-putrinya. Kita harus bisa pertahankan medali emas putra dan putri di Porprov Jatim 2019," katanya.

Djoko berharap sistem pembinaan yang sudah baik di Indomaret (putra) maupun Sparta (putri) bisa dipertahankan. Lebih bagus lagi jika bisa ditularkan ke klub-klub lain di Kabupaten Sidoarjo.

01 November 2018

Mengapa protes hukuman mati di Arab Saudi?

Tuti Tursilawati pekerja migran baru saja dieksekusi di Arab Saudi. Ramai banget suara-suara protes di media sosial. Media massa juga memberitakan peristiwa yang selalu berulang itu.

Ada aktivis yang minta pemerintah melakukan moratorium pengiriman TKI ke Arab Saudi. Sebab negara itu tidak mengindahkan notifikasi dari pemerintah Indonesia. Menlu Retno pun protes keras. Suaranya agak tercekat karena simpati pada perempuan yang sudah tidak ada lagi di dunia itu.

Ehem... sayang banget. Kasus Tuti ini tidak dikaitkan dengan praktik hukuman mati yang masih berlaku di Indonesia. Eksekusi mati terhadap terpidana kasus narkoba, terorisme, dan sebagainya terjadi terus menerus-menerus di Indonesia. Kejaksaan Agung sudah menyiapkan nama-nama yang bakal dieksekusi.

Sudah banyak banget terpidana yang dieksekusi di Indonesia. Khususnya sejak pemerintahan Presiden SBY dan Jokowi. Protes atau permohonan dari pemerintah asing yang warganya bakal dieksekusi dianggap angin lalu. Bahkan permintaan khusus Paus Benediktus XVI agar Fabianus Tibo dkk tidak dieksekusi pun diabaikan pemerintah.

Indonesia pun dikenal sebagai negara yang konsisten dengan hukuman mati. Di dalam negeri malah sering ada usulan agar para koruptor sebaiknya ditembak mati di lapangan monas. Boleh dikata pihak yang menolak hukuman mati di Indonesia tidak sampai 10 persen.

Mayoritas rakyat Indonesia senang hukuman mati agar ada efek jera. Bandar-bandar narkoba ditembaki agar tidak ada lagi penyalahgunaan narkoba di NKRI. Hasilnya? Narkoba malah beredar di dalam penjara. Padahal si Freddy Gemblung sudah ditembak dan dimakamkan di dekat Kelenteng Mbah Ratu, Surabaya.

Makanya, kalau ada protes hukuman mati atas WNI di luar negeri, saya hanya senyum kecut. Ketawa sendiri dalam hati. Lah, kota di Indonesia sudah biasa melakukan eksekusi mati kok malah protes negara lain yang punya sistem hukum serupa?

Yang berhak protes adalah negara-negara yang tidak memberlakukan hukuman mati. Aneh kalau Indonesia ikut protes. Apa pun alasannya selama hukuman mati masih diberlakukan di Indonesia.

Saya dengar pemerintahan Pakatan Harapan yang dipimpin PM Tun Mahathir baru saja menghapus hukuman mati di Malaysia. Ini luar biasa dan gak kebayang sebelumnya. Malaysia yang negara Islam dan sejak awal kemerdekaan kita anggap sering merujuk ke Timur Tengah ternyata bisa membuat perubahan kebijakan yang sangat drastis.

Dulu begitu banyak TKI yang digantung di Malaysia. Protes keras Indonesia pun biasanya cuma sekadar ditampung saja. Tapi ada beberapa TKI dilepas meski sudah ada jadwal eksekusi. Salah satunya wanita asal Krian, Sidoarjo, beberapa tahun lalu. Malaysia di era UMNO memang cenderung tanpa kompromi.

Tapi kini Malaysia sudah berubah. Benar-benar berubah sejak Pakatan Harapan menang pilihan raya pada awal Mei 2018. Tatanan politik berubah total. Bahkan sampai menyentuh hukuman mati segala. Luar biasa jiran kita itu.

Sayang, dalam hal hukuman mati, kita masih jalan di tempat. Masih terus reaktif, protes negara lain, tanpa mau mengubah kebijakan itu. Para politisi, 16 partai politik, capres-cawapres... dipastikan tidak akan berani mengangkat isu hukuman mati karena pasti kontraproduktif. Bisa kalah dalam pemilu karena... itu tadi... 90 persen rakyat menganggap hukuman mati itu sangat perlu di Indonesia.

Jannatun Korban Lion Air Asal Sidoarjo



Korban kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 mulai teridentifikasi. Jenazah pertama ternyata warga Sidoarjo. Tepatnya Desa Suruh, RT 01, Sukodono. Namanya Jannatun Cintya Dewi.

Gadis 24 tahun ini salah satu dari 189 penumpang dan awak Lion Air yang jatuh di Perairan Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10) pagi. Jannatun bekerja sebagai staf Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) di Jakarta. Jannatun berangkat ke Pangkal Pinang karena urusan dinas.

Korban merupakan anak sulung pasutri Bambang Supriyadi, 48, dengan Surtiyem, 45. Keduanya langsung ke Jakarta begitu mendengar berita Lion Air jatuh. Akhirnya jenazah bisa diidentifikasi paling awal.

Saat sekolah di SMAN 1 Sidoarjo, Jannatun tergolong sangat cerdas. Dia bahkan menyelesaikan sekolahnya dalam waktu dua tahun saja. Ada program akselerasi memang di sekolah favorit itu.

Kuliah di ITS pun Jannatun tetap moncer. IP-nya mendekati sempurna. Lalu bekerjalah dia di kementerian energi itu. "Kakak saya selalu sempatkan diri pulang ke Sidoarjo," kata Nadzir Ahmad Firdaus, adik kandung almarhumah Jannatun.

Pihak keluarga yang memang sangat religius menerima musibah ini sebagai takdir ilahi. Bahwa usia Jannatun ternyata tidak terlalu panjang. Meninggal dunia justru masih di periode awal membina karirnya di ESDN.

Semoga Jannatun berbahagia di sana!