27 October 2018

Panas ekstrem, ingin hujan



Bulan Oktober 2018 mau habis. Tapi belum ada tanda-tanda akan hujan. Yang terjadi sekarang di Surabaya dan sekitarnya adalah ongkep alias sumuk.

Siang panas terik. Suhu 35-37 derajat Celsius. Bisa lebih kalau tengah hari.

Panas ekstrem ini membuat kita sulit tidur. Memang tidur tapi sama sekali tidak merasakan enaknya tidur. Ini membuat kondisi tubuh menurun. Gampang sakit karena daya tahan tubuh berkurang.

Perlukah doa minta hujan? Tidak dan ya. Sang penguasa alam punya rahasia sendiri. Kalau memang sudah saatnya hujan ya hujan. Kalau belum hujan ya belum. Alam jangan dipaksa-paksa. Begitu kata Saiful pengurus Candi Tawangalun yang kepanasan di Buncitan Sedati.

"Kita sebaiknya pasrah saja sama Sang Pencipta," kata Saiful sambil menyedot rokoknya.

Begitulah. Hujan dan panas adalah siklus alam yang niscaya. Saat ongkep, suhu dekat 40 celcius, kita ingin hujan deras biar segar sejuk lagi. Tapi kalau hujan ya banjir di mana-mana. Khususnya di Sidoarjo.

Saya jadi ingat warga Bungurasih, Kedungrejo, atau Tanggulangin tahun lalu. Kampung mereka tenggelam beberapa hari saat hujan. Mereka pun minta agar tidak ada lagi hujan.

Ebiet G. Ade sejak 1980an sudah mengingatkan kita semua bahwa alam sudah tidak bersahabat dengan manusia. Dan itu akibat ulah manusia sendiri.

Selamat Jalan Tabloid Bola



Akhirnya... akhirnya... tabloid Bola pamit. Berhenti terbit setelah 35 tahun menemani pembaca. Satu lagi media cetak di Indonesia harus tutup di era disrupsi. RIP.

Awalnya Bola hanya sisipan koran Kompas edisi Jumat. Lama-lama disukai pembaca. Kemudian terbit mandiri. Sukses besar. Bola pernah mencatat oplah 600 ribu eksemplar. Rekor oplah media cetak di Indonesia.

Berbeda dengan induknya, Kompas, yang kelewat serius dan standar, sejak awal Bola menampilkan liputan-liputan olahraga dengan gaya features. Ringan dan asyik. Banyak sisi lain yang diangkat para wartawannya. Inilah yang membuat Bola selalu ditunggu pembaca.

Saya sendiri rutin membeli tabloid Bola di kios koran di Klojen, Malang. Tidak jauh dari Terminal Patimura dan Stasiun KA Malang. Membaca Bola sambil menunggu jadwal Bioskop Mutiara yang tak jauh dari kios koran itu.

Asyik banget. Kita jadi kecanduan ingin terus mengikuti berita-berita galatama (liga sepak bola utama) dan perserikatan. Kemudian balbalan luar negeri. Tinju Mike Tyson, tenis Sabatini atau Graff atau Aggasi dsb.

Era itu belum terbayang bakal ada internet, ponsel pintar, media sosial dsb. Televisi hanya satu: TVRI. Sajian olahraga di televisi pun sangat terbatas. Maka media cetak jadi rujukan utama. Ingin tahu olahraga ya baca Bola.

Gara-gara sering baca Bola, saya yang bukan atlet jadi paham olahraga. Khususnya sepak bola. Bahkan pemain-pemain yang dulu hanya saya ikuti di tabloid itu di kemudian hari jadi teman saya. Biasa ngobrol atau ngopi bareng. Bambang Nurdiansyah si raja gol, Hermansyah kiper hebat yang pakai celana panjang, Alhadad, hingga Jamrawi dan Panus Korwa.

Saya pun sangat terbantu ketika harus membuat analisis sepak bola. Mengapa tim A kewalahan menahan gempuran B? Apa itu wall pass? Umpan terobosan atau through pass? dsb dsb.

Semua itu cerita lalu. Nostalgia. Sejak ada internet, khususnya smartphone, dunia benar-benar terhubung. Masyarakat tidak perlu lagi menunggu besok atau minggu depan untuk mengetahui hasil pertandingan MU vs Chelsea atau Real Madrid vs Barcelona. Sekarang orang bisa nonton pertandingan secara real time. Asalkan punya data, bisa streaming sepuas-puasnya.

Kalau tak punya waktu, bisa lihat highlight di Youtube. Atau rekaman pertandingan utuh. Asal itu tadi.. punya pulsa cukup atau wifi gratis. Stasiun televisi khusus olahraga pun tersedia di mana-mana.

Lalu, di mana ruang untuk pewarta mingguan macam Bola?

Selama ini saya perhatikan analisis dan ulasan olahraga di Indonesia sangat kedodoran. Kalah jauh sama analisis pengamat Barat di ESPN, Goal, Skysport, FourFourTwo, atau BBC Sport. Belum lagi lama-laman olahraga Inggris yang sangat dalam saat menurunkan analisis sepak bola.

Media-media kita--cetak, daring, televisi--cuma sekadar membuat terjemahan dari situs-situs tadi. Tidak ada wawancara langsung di lapangan. Bagaimana bisa asyik?

Bagaimanapun juga Bola sudah menjadi sejarah. Menjadi surat kabar mingguan yang usianya paling tua. Para pengekor Bola macam Tribun Olahraga, Kompetisi atau Soccer sudah mati lebih dulu. Bahkan, tabloid Tribun Olahraga dan Kompetisi tutup sebelum ada internet.

Selamat jalan Tabloid Bola!
Terima kasih!

Pilpres Bikin Seniman Terpecah Belah

Tahun politik ini bikin rakyat terbelah. Gara-gara beda ideologi dan dukungan untuk calon presiden. Bambang Widodo, pelukis senior di Sidoarjo, mengaku kehilangan banyak teman offline.

"Sudah jarang kumpul-kumpul atau diskusi di sini. Kalaupun kumpul suasananya gak enak," ujarnya kepada saya kemarin.

Padahal, dulu studio Cak Bambang ini selalu ramai dengan seniman-seniman Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan dsb. Seniman Jakarta bahkan pernah bikin pameran sehari di halaman yang asri dengan rumpun bambu besar itu.

Bambang sendiri cenderung mendukung Jokowi. Ini terlihat dari tulisan-tulisannya di media sosial. Dia juga kerap menyoroti kiprah dan masa lalu Prabowo. "Saya pakai intuisi saja. Saya bukan orang partai," katanya.

Gayung bersambut, kata berjawab. Tulisan Bambang membuat teman-temannya meradang. Mereka balas menyerang Jokowi dengan tuduhan-tudihan antek asing, aseng, neolib dsb.

"Biarin aja. Saya sih gak ambil pusing. Saya kan cuma menyampaikan apa yang ada di hatiku," kata seniman yang terkenal dengan karya-karya beraliran primitivisme itu.

Beda dengan Bambang, seniwati lain justru pendukung fanatik Prabowo-Sandiaga. Khususnya Sandiaga yang dia nilai cemerlang. "Emak-emak pasti suka," tulis mbak ini di statusnya.

Repotnya, seniwati ini admin salah satu grup media sosial. Maka anggota yang beda aliran sudah pasti meradang. Lebih banyak yang menghilang diam-diam. Capek kalau tiap hari kita debat soal politik, kata anggota dari Gedangan.

Begitulah. Politik memang punya sisi gelap. Sangat efektif membelah bangsa besar ini. Apalagi di era media sosial yang membebaskan siapa saja untuk bicara apa saja tanpa sensor.

"Sudahlah... percuma bahas politik. Jokowi menang atau Prabowo menang tidak akan ada pengaruhnya untuk kita," kata Kris aktivis seni budaya di Sidoarjo.

Kris meminta para seniman Kota Petis ini agar tidak ikut larut dalam konflik politik elite di Jakarta. Lebih baik kita tetap rukun, guyub, berkarya... mancing. Bakar ikan lalu dinikmati bersama.

23 October 2018

Hidar Politisi Alumnus Mitreka Satata Pernah Mbeling

Baliho bergambar Hidar Assegaff sangat marak di Sidoarjo dalam dua bulan terakhir. Laki-laki bertubuh subur yang pengusaha ini belakangan memang kepincut politik. Hidar sempat daftar jadi calon bupati Sidoarjo. Tapi gagal.

"Saya ingin kontribusi untuk masyarakat. Sidoarjo perlu pemimpin muda yang visioner," kata Hidar khas politikus.

Sempat aktif di PKPI, Hidar kemudian pindah ke Gerindra. Tidak heran, dia tak lupa mempromosikan bosnya, Prabowo Subianto. Kalau baliho-baliho yang dipasang di Waru, Buduran, Sidoarjo dst lebih banyak wejangan untuk generasi muda. Jauhi narkoba dan miras!

Aha... Hidar ini alumnus Mitreka Satata - julukan khas SMAN 1 Malang yang terkenal itu. Saat sekolah di depan alun-alun bunder, Hidar lebih banyak guyon dan main-main. Kelihatan gak serius tapi otaknya cerdas. Danemnya tinggi.

Maka Sam Hidar bisa diterima di Akademi Angkatan Laut (AAL). Di sinilah Hidar berubah jadi disiplin. Khas tentara. Lulus jadi perwira. Punya masa depan cerah sebagai perwira tinggi alias laksamana.

Tapi Hidar tetaplah Hidar. Otak dan imajinasinya berputar keras. Dia harus jadi pengusaha sukses. Yang bisa mempekerjakaan ratusan orang. Bahkan ribuan orang. Maka dia minta pensiun dini. Jadilah dia pengusaha yang bisa dianggap sukses.

"Alhamdulillah... sekarang saya harus melayani masyarakat," katanya. Mulailah dia masuk jalur politik itu.

Iseng-iseng saya ajak ngobrol di media sosial. Nostalgia di Mitreka Satata alias SMAN 1 Malang di masa remaja yang rada mbeling dulu. "Saya sering disetrap Pak Supaat guru bahasa Indonesia. Soale aku gak lancar ngomong bahasa Indonesia. Disuruh maju dan pidato di depan teman-teman A1-3. Hehehe," kata saya memancing.

"Hahaha.... Kalau aku sempet dekat sama guru kimia Bu O. Orangnya lumayan cantik, single, dan perhatian. Hahaha...," tukas Hidar.

Ouw.... jadi ingat Bu O. Orangnya memang kalem dan teduh. Beda dengan seniornya, Pak Dayat, guru kimia paling kawakan di Mitreka Satata. Tapi seingat saya zaman itu jarang ada siswa yang diam-diam naksir bu guru.

"Saya deket aja sama Bu O. Lumayan buat tambah ilmu hehe," kata Hidar yang kali ini tidak lagi terkesan sangar ala politisi.

Guyonan nostalgia ini sejenak bisa melupakan isu-isu politik yang panas di media sosial tentang kampret, cebong, aseng, PKI, komunis, khilafah dsb. "Kapan-kapan kita bikin acara reunian ya?" tulisnya.

Ide bagus. Lebih bagus lagi kalau Bu O datang biar ketemu lagi sama bekas muridnya yang mbeling dan cerdas itu.

19 October 2018

Liem Ouyen Bawa Ulama ke Tiongkok



Tahun ini tahun ketujuh Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya (PMTS) mengajak ulama dan dosen perguruan tinggi Islam jalan-jalan ke Tiongkok. Ada 22 orang yang berangkat. Laki-laki semua. Kota yang dikunjungi antara lain Shanghai dan Nanjing.

'Biar ulama-ulama kita melihat sendiri kondisi Tiongkok. Khususnya kehidupan umat Islam di sana. Bagaimana hubungan umat beragama dengan pemerintah,' kata Liem Ouyen ketua PMTS.

Liem sejak dulu memang paling aktif mengurus paguyuban masyarakat Tionghoa. Cukup banyak organisasi yang dia motori. Sakit sedikit aja organisasi itu macet. Pria yang juga dikenal sebagai Djono Antowidjono itu juga sangat luwes bergaul dengan kelompok apa pun.

Liem alias Djono ini biasa berpidato di kalangan NU, Muhammadiyah, jamaah Masjid Cheng Hoo, hingga mahasiswa muslim. Gaya bahasanya yang kental Melayu Tionghoa terasa unik. Kalau menulis SMS atau WA selalu pakai huruf kapital semua. Biar mudah dimengerti katanya.

Saya biasa ngobrol panjang sama Baba Liem Ouyen di Kembang Jepung. Sambil main sempoa, hitung duit, dia monitor radio lokal yang bahas lalu lintas hingga sosial politik. Karena itu, isu apa pun selalu nyambung.

'Kalau nggak punya berita datang aja ke Kembang Jepun. Temui Pak Liem Ouyen. Pulangnya kamu bawa 8 berita,' kata Kusnomo, wartawan senior yang dulu memperkenalkan saya dengan pentolan Tionghoa Kembang Jepun yang dagang pipa dan besi itu.

Kembali ke Tiongkok. Liem mengaku prihatin karena masyarakat Indonesia menganggap RRT itu negara komunis yang anti agama. Ateis. Melarang ibadah dsb. Padahal para kritikus itu cuman asbun, asal bunyi. Belum pernah pigi Tiongkok. 'Kalau sudah pigi Tiongkok baru mereka tahu kondisi sebenarnya,' kata Baba Liem.

Itulah yang antara lain mendorong tokoh-tokoh Tionghoa untuk mengajak para ulama pigi Tiongkok. Studi banding di beberapa lokasi strategis. Termasuk ke makam tua penyebar Islam di Tiongkok. 'Saya juga bawa rombongan menemui ulama di Tiongkok, takmir masjid dsb. Biar bisa tukar pikiran,' katanya.

Baba Liem berperan sebagai penerjemah. Plus ketua rombongan, kasir, dsb. 'Di Tiongkok saya dikira orang Islam. Saya bilang Indonesia itu negara Pancasila yang punya Bhinneka Tunggal Ika,' kata Baba Liem yang biasa pigi sembahyang di kelenteng itu.

Selamat jalan-jalan dan makan angin di Tiongkok!

15 October 2018

Nonton Pacuan Kuda di Sidoarjo

Asyik juga nonton pacuan kuda. Di tengah cuaca yang sangat panas. Lahan sawah Desa Sarirogo, Kecamatan Sidoarjo, dimodifikasi jadi lapangan pacuan kuda. Meskipun belum standar nasional, kondisinya lebih baik ketimbang di Pilang Wonoayu.

Sangat jarang Pordasi bikin kejuaraan pacuan kuda di Sidoarjo. Sebab persatuan olahraga berkuda ini memang baru beberapa tahun lalu dibentuk. "Padahal kita punya potensi. Beberapa atlet Sidoarjo jadi juara nasional," kata Ketua Pordasi Sidoarjo Warlheiyono.

Tiba di arena balap kuda, Minggu 14 Oktober 2018, jelang lomba nomor utama. 2000 meter kelas bebas. Kelasnya kuda-kuda yang paling tangguh dan unggul di semua kelas. Mujur banget saya. Sudah lama saya tidak nonton pacuan kuda secara langsung.

Ada tiga peserta di final kelas utama ini. Kuda bernama Lokomotiv milik Kades Sarirogo Yunan selaku tuan rumah. King Fisal milik Fifi Sidoarjo. Kemudian Elisabet Indana milik Abu Amar dari Pasuruan.

Jokinya kecil-kecil, belasan tahun. Tiga kuda unggulan ini langsung melesat dari garis start. Memutar lapangan empat kali. Kuda milik pak kades bersaing ketat dengan King Fisal juga dari Sidoarjo. Sayang, kuda dari Pasuruan yang bodinya bagus kalah sejak start. Sang joki bernama Aji pun kesulitan mengejar dua kuda di depannya.

Sementara itu, Lokomotiv tetap mantap di posisi terdepan meskipun nyaris disalib King Fisal. Kudanya pak kades pun finis pertama. Ratusan penonton tentu saja bersorak menyambut kemenangan kuda tuan rumah. Mungkin karena lebih terbiasa dengan arena balapan sebagai tuan rumah.

"Olahraga berkuda ini cuma hobi saja. Sesekali ya diikutkan lomba. Alhamdulillah menang," kata Kades Yunan yang mendampingi Bupati Sidoarjo di arena pacuan kuda Sarirogo.

Race berikutnya tak kalah seru. Apalagi kuda milik Pak Bupati yang dinamai Kanjeng Jimat turun di kelas poni 1400 meter. Kuda jantan tinggi 148 cm itu memang dikenal sebagai salah satu unggulan. Sering menang di beberapa balapan sebelumnya.

Benar saja. Di hadapan pemiliknya, Bupati Saiful, Kanjeng Jimat melesat dengan kecepatan tinggi. Kuda lain tertinggal cukup jauh. Bahkan kuda dari Pasuruan terpaksa meninggalkan gelanggang karena cedera kaki. Kanjeng Jimat pun dengan mudah meraih juara pertama.

"Saya ingin terlibat dalam pengembangan olahraga berkuda di Sidoarjo. Kita harus bisa jadi tuan rumah kejuaraan nasional dan internasional," kata Saiful.

Bupati yang akrab disapa Abah Ipul ini juga mengatakan akan berusaha membuat lapangan pacuan kuda yang layak di Sidoarjo. Sebab sampai sekarang belum ada lapangan pacuan kuda. Tempat istirahat kuda-kuda pacu pun masih sangat darurat. Tentu saja jauh dari standar internasional.

Masih ada satu nomor lagi yang dilombakan. Namun saya memutuskan pulang karena sudah ada janjian dengan teman di Buduran. Nonton pacuan kuda ternyata asyik. Jadi ingat kuda-kuda di NTT yang sering dibuat balapan anak-anak di padang yang berdebu.

14 October 2018

Akhir Bahagia Pendeta Gershom Sutopo

Pendeta Lukas Soetopo mengumumkan kematian papanya, Pendeta Dr. Gershom Soetopo. Pendeta senior yang sangat terkenal di Surabaya. Khususnya jemaat GBT: Gereja Bethel Tabernakel. Pendeta Gershom wafat pada usia 102 tahun. Lebih muda setahun dari Dr Mahathir Mohamad di Malaysia.

Pendeta Lukas yang juga sangat berpengaruh di GBT menulis:

"Telah mengakhiri tugas pelayanan dan kembali ke Rumah Bapa di Surga, Sang Pejuang Iman, pendiri dan perintis Gereja Bethel Tabernakel Bapak Pdt. Dr. Gershom Soetopo, Sabtu 6 October 2018. Disemayamkan di GBT Kristus Penebus, Jalan Mojopahit 43-45 Surabaya. Dimakamkan Senin 15 October 2018."

Ratusan jemaat pun berdatangan ke GBT di Jalan Mojopahit. Menyampaikan doa dan belasungkawa untuk anak-anak mendiang yang semuanya pendeta. Lima orang pendeta: Lois Soetopo, Paul Soetopo, Lukas Soetopo, Henoch Soetopo, dan Ruth Soetopo. Cucunya 11 orang pun semuanya jadi pendeta.

Pendeta Lukas Soetopo mengatakan, ayahnya, Gershom alias Poo Guan Sien lahir di Hokkian, Tiongkok, 102 tahun lalu. Di usia yang sangat belia, 10 tahun, Guan Sien berjuang sendiri ke Hindia Belanda. Tepatnya di Surabaya. Sempat foya-foya main judi sampai uangnya habis. Lalu diajak orang untuk pigi gereja.

"Beliau bertobat pada usia 23 tahun. Menjadi murid Guru Injil Rev FG van Gessel... kemudian menjadi Pemberita Injil, hingga akhir hidupnya," tutur Lukas yang terinspirasi perjuangan ayahnya dalam membina jemaat.

Pendeta Gershom merintis sekolah Alkitab sejak 1955. Hasilnya, "Puluhan ribu pemberita Injil di Indonesia. Beliau telah membangun ribuan tempat ibadah, dan telah mendidik lima anaknya, semuanya melayani bersama di tempat masing2 bersama keluarganya, bahkan menginspirasi cucu2nya Pst Hulda Budilestari, Pdt Jason Budiprasetya, Pdt Ezra Soetopo, Pdt Elijah Soetopo, Pdt Elisha Soetopo, Pst Elisheba Soetopo, Pdt Eleazar Soetopo, Pdt Elizabeth Rachel Soetopo. Semuanya berada dalam pelayanan bersama keluarganya.

"Sembilan cicit telah didoakan dan menunggu waktunya bertumbuh dan meneruskan API ROH KUDUS utk ada dalam pelayanan Injil," begitu antara lain tulisan Lukas mengenang ayahnya.

Di masa Hindia Belanda belum ada kendaraan umum dan pribadi yang memadai. Gershom Poo harus jalan kaki dari Surabaya ke Gresik. Pergi pulang. Untuk menyampaikan kabar baik dari Tuhan. Tiap hari dia juga mendatangi orang Tionghoa di toko-toko untuk menyampaikan berita Injil.

Sering ditolak karena wong Tenglang sibuk dagang. Cari uang. "Kita orang tidak punya waktu untuk dengar itu," kenang Pendeta Gershom.

Dia juga kerap mancal sepeda onthel Surabaya-Mojokerto. Cukup jauh. "Tapi tidak terasa capek," katanya.

Rupanya kerja keras yang dirintisnya dengan susah payah puluhan tahun lalu itu akhirnya berbuah. Jemaatnya mekar di mana-mana. Dan perjuangannya diteruskan anak hingga cicit. "Api roh kudus tak akan padam," kata Lukas.

Selamat jalan Pendeta Gershom!
Selamat bahagia bersama di sana!

13 October 2018

SSO rayakan pesta bulan purnama

Ada tiga kalender bulan yang populer di Indonesia. Tanggalan hijriah, almanak Jawa, dan tanggalan Tionghoa. Meski sama-sama mengacu ke peredaran bulan, biasanya ada selisih satu dua hari.

Tanggal 1 Muharam dan 1 Suro tahun ini misalnya selisih sehari. Libur nasional tahun baru Islam jatuh pada Selasa 11 September. Sedangkan tahun baru jawa 12 September. Ada penjelasan ilmiahnya di koran dan internet.

Jangan dilupakan tanggalan Tionghoa alias Imlek. Tanggalan ini justru paling fungsional karena jadi rujukan orang Tionghoa untuk pigi sembahyang di kelenteng-kelenteng. Tanggal 1 dan 15 tiap bulan. Maka orang Tionghoa pasti punya tanggalan Imlek di rumah atau ponselnya. Khususnya wong Tenglang yang masih setia pada tradisi budaya leluhur dari Tiongkok.

Solomon Tong, dirigen Surabaya Symphony Orchestra (SSO) dan guru musik senior pasti tidak pigi kelenteng. Pria kelahiran Xiamen Tiongkok ini justru mendirikan banyak gereja Tionghoa di Surabaya. Yakni gereja-gereja aliran reformed yang kebaktiannya pakai bahasa Tionghoa. Saudara-saudara Pak Tong pun pendeta kalvinis terkenal di Indonesia. Salah satunya Pendeta Dr Stephen Tong.

Meski kekristenan Solomon Tong boleh dikata 22 sampai 24 karat, tradisi Tionghoanya tidak hilang sama sekali. Setiap bulan 8 imlek Pak Tong bersama SSO bikin konser spesial. Temanya tahun ini MID AUTUMN - CHINESE SONG CONCERT. Dilaksanakan di Auditorium SSO Jalan Manyar Rejo I/4 Surabaya, Senin, 24 September 2018.

Cocok banget. Mid Autum Festival atau pesta kue bulan tahun ini memang jatuh pada 24 September 2018. Tepat tanggal 15 bulan 8 Imlek. Saat ukuran bulan purnama dipercaya orang Tionghoa paling sempurna. Saat yang tepat untuk bikin pesta seni budaya. Begitu yang sering saya dengar dari sejumlah tokoh Tionghoa di Surabaya.

Sekadar perbandingan, tanggal 15 Muharam jatuh pada 25 September. Tanggal 15 bulan Suro jatuh pada 26 September. Yang pasti, bulan purnama terjadi di kisaran ketiga tanggal itu.

Kembali ke Solomon Tong dan SSO yang ia dirikan pada konser Natal Desember 1996. Pesta bulan purnama alias mid autumn ini dimeriahkan dengan konser lagu-lagu dan musik Tionghoa. Tapi dimainkan dengan alat musik Barat ala orkes simfoni.

Bu Tong alias Esther Magawe main piano seperti biasa. Pak Tong dirigen. Anak-anak didiknya di SSO main violin solo, nyanyi tunggal dsb. Repertoarnya dari Tiongkok. Pak Tong yang bikin orkestrasi sendiri. Ia maestro untuk urusan aransemen dan orkestrasi.

"SSO ini sejak awal memang didukung banyak penggemar yang senang lagu-lagu Tiongkok. Kita mesti akomodasi," kata Solomon Tong yang masih trengginas di usia 79 tahun itu.

Karena itu, setiap kali konser selalu ada nomor-nomor dari negeri panda yang dimainkan. Bahkan sejumlah penyanyi dan pemusik asal Tiongkok dijadikan bintang tamu. Lagu-lagu Tiongkok dengan karakter yang beda dengan Eropa punya keindahan tersendiri.

Begitulah. Para penonton bisa menikmati suasana romantis bulan purnama di negeri Tiongkok lewat nada-nada khas tirai bambu yang menusuk sukma. Pulang ke rumah mencicipi manisnya kue bulan bersama keluarga. Jangan sekali-kali makan atau minum atau bicara saat Solomon Tong memimpin orkestra. Pasti distop!


Tiongkok super power olahraga

Tiongkok memang luar biasa. Tidak hanya di bidang ekonomi, tapi juga olahraga. Sejak dulu saya melihat negara Zhongguo ini sangat serius mempersiapkan atlet-atletnya untuk kejuaraan dunia hingga olimpiade.

Dulu, ketika Indonesia masih punya generasi emas badminton macam Rudi Hartono, Christian, Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Ardi BW, Alan Budi Kusumah... hingga Susi Susanti, saya sudah bisa menilai betapa ciamiknya pemain-pemain Tiongkok. Teknik, fisik, taktik hingga gairahnya luar biasa.

Rupanya sampai sekarang masih stabil di bulutangkis. Apalagi olahraga yang lain. Ada gap yang terlalu lebar antara Tiongkok dengan negara-negara lain di Asia. Mungkin tidak lama lagi Tiongkok pun bakal menggeser USA di olimpiade. Kalau Amerika tidak antisipasi.

Di Asian Games 2018, dibuka sehari setelah hari kemerdekaan 17 Agustus, Tiongkok sangat dominan. Padahal sebagian atletnya masih dalam tahap uji coba. Tiongkok meraih 132 medali emas. Nomor 2 Jepang dengan 75 emas. Korea Selatan nomor 3 dengan 49 emas. Indonesia tuan rumah dapat 31 emas.

Indonesia juga luar biasa di Asian Games 2018. Tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan Tiongkok sang naga dari utara. Luar biasanya Indonesia dikomparasikan dengan perolehan medali di semua Asian Games sebelumnya.

Sayangnya, 14 emas dari pencak silat. Cabang olahraga asli Indonesia yang negara-negara lain masih asing. Tiongkok tidak bisa silat nusantara. Kalau mau sih Indonesia bisa sapu bersih 16 emas di pencak silat. Olahraga yang sengaja dimasukkan Indonesia sebagai tuan rumah untuk panen medali.

Pagi ini saya cermati perolehan medali Asian Para Games 2018 di Jakarta. Wuih... Tiongkok nomor 1 dengan 162 emas. Korsel 50 emas peringkat kedua. Iran juga 50 emas. Indonesia peringkat keenam 33 emas.

Luar biasa Tiongkok! Negara komunis yang dulu sering jadi bahan ejekan itu selalu unggul di semua kejuaraan olahraga (kecuali sepak bola hehe...). Bukan saja atlet-atlet normal. Atlet-atlet para games alias penyandang cacat pun diperhatikan betul oleh pemerintahan yang dicap diktator antidemokrasi dan ateistik.

Atlet-atlet Tiongkok begitu mudah mendapat medali emas. Semudah memungut ikan-ikan yang mati lemas di Sungai Brantas di Krian atau Sepanjang, Sidoarjo.

"Pembinaan olahraga di Tiongkok itu sangat sistematis dan modern. Mulai dari anak-anak TK dan SD. Gak ujug-ujug jadi juara dunia," kata Gunawan, pelatih bola basket dari Buduran Sidoarjo kepada saya.

"Kapan-kapan kita ngobrol yang agak panjang soal ini. Penting kalau kita mau kompetitif di kejuaraan internasional," kata coach yang banyak mencetak pemain bola basket di Surabaya dan Sidoarjo itu.

Sudah saatnya kita belajar ke Tiongkok. Khususnya pembinaan olahraga prestasi. Selama ini kita terlalu banyak menghabiskan uang untuk berguru ke negara-negara yang prestasinya jauh di bawah Tiongkok.

12 October 2018

Susahnya Mengurus NPC Sidoarjo

Achmad Muzayin lagi sibuk di Jakarta. Ikut mengurus atlet-atlet para games Indonesia. Ketua National Paralympic Committee (NPC) Sidoarjo jadi pelatih sekaligus ofisial lawn balls. Sejenis boling untuk atlet diabilitas.

Pak Ayik, sapaan akrabnya, bahagia karena tim Indonesia tampil meyakinkan di Asian Para Games 2018. "Kita sudah dapat 4 emas, 3 perak, dan 1 perunggu. Masih bisa nambah," katanya.

Sayang, tahun ini tidak ada atlet disabilitas dari Kabupaten Sidoarjo yang mewakili Indonesia di Asian Para Games 2018. Padahal selama ini prestasi arek-arek Sidoarjo cukup bagus di cabang olahraga panahan, catur, boling. "Nggak lolos seleksi," katanya.

Berbeda dengan olahraga biasa, yang ditangani KONI, olahraga disabilitas ini dari dulu kurang mendapat perhatian. Pemerintah, swasta, bahkan media massa pun sangat jarang memberitakan atlet-atlet berkebutuhan khusus. Jika tidak ada Asian Para Games di Jakarta, masyarakat pasti tidak tahu bahwa para games ternyata punya bobot sendiri.

Para atlet difabel pun tidak kalah dengan atlet-atlet normal.
Bahkan, saya sendiri pun tidak tahu NPC. Organisasi yang membina atlet-atlet para games.
"KONI tidak ngurus para games. Mereka punya organisasi sendiri," kata Ketua KONI Sidoarjo Franki Efendi saat saya kontak via telepon.

Lalu, siapa yang ngurus di Sidoarjo?

Tidak ada teman atau kenalan yang tahu. Termasuk beberapa tokoh terkenal yang biasa ngurus olahraga. Syukurlah, Google memberi petunjuk penting: NPC.

Tanya ke sana sini, akhirnya ketemu nomor Pak Ayik. "Tunggu saya pulang ke Sidoarjo baru kita ngobrol banyak. Atlet-atlet disabilitas memang perlu dapat perhatian," ujarnya.

Lagi-lagi, berbeda dengan 39 cabang olahraga di KONI Sidoarjo, NPC Sidoarjo belum pernah mengadakan kejuaraan. Apalagi yang skala besar macam kejurkab atau porkab.

Maka, NPC Sidoarjo (plus semua kabupaten) di Jawa Timur hanya bisa nunut di Surabaya. Kebetulan setiap tahun NPC Surabaya bikin kejuaraan. Itulah yang memunculkan atlet-atlet difabel berkualitas di Jawa Timur.

Apakah ke depan NPC Sidoarjo bakal membuat kejuaraan reguler?

"Kita upayakan. Tentu membutuhkan bantuan pemerintah dan pihak lain. Sebab kejuaraan apa pun perlu banyak biaya.
Kalau cabor beregu itu butuh biaya banyak dan atlet banyak.
Contoh bola basket. Kita harus beli kursi roda yang khusus. Dan harganya mahal mas. Ini ada atlet bulu tangkis saya suruh beli kursi roda gak mampu."

Pak Ayik alias ACHMAD MUZAYIN ini dulunya atlet sepak bola disabilitas. Tahun 1980 sampai 1992. Karena itu, dia punya kepedulian yang sangat tinggi terhadap olahraga disabilitas di Sidoarjo dan Indonesia umumnya.

"Sampean tolong geser ke GOR Sidoarjo. Sekarang!!! Ada apresiasi dari kantor pajak untuk atlet-atlet disabilitas di Kabupaten Sidoarjo. Tolong diangkat agar makin banyak yang peduli," ujar Pak Ayik via telepon semalam.

Saya pun geser ke GOR Sidoarjo. Di sela turnamen futsal pegawai pajak memang ada pemberian tali asih untuk lima atlet disabilitas berprestasi dari Sidoarjo.

Asian Para Games perlahan-lahan membuka mata kita semua.

07 October 2018

Diceramahi di Gereja Advent Prigen

Sudah sering saya lewat di depan Gereja Advent di Prigen, Kabupaten Pasuruan. Tempat wisata sejuk yang disukai warga Surabaya dan sekitarnya. Namun belum pernah sekalipun saya mampir ke halaman. Apalagi melihat kondisi di dalam gereja yang memuliakan hari Sabat itu.

Maka, Sabtu 6 Oktober 2018, saya bertamu ke GMAHK Prigen. Di dekat pintu masuk tertulis: "Prigen 29 Oct 1967 Geredja Hadia dari Kaluwarga Sdr Liem Soen Hoo".

Kebetulan ada seorang kakek sepuh duduk di teras. Sendirian. Selamat pagi Pak! Lalu saya menyalaminya. Sang kakek tersenyum ramah.

"Kalau ngomong yang keras ya! Saya nggak bisa dengar. Sudah 92 tahun," katanya dalam nada keras.

Tidak mudah ngobrol dengan Mbah Karno, nama kakek yang masih semangat, kecuali indra pendengarannya itu. Kita harus berbisik di telinganya. "Kerajaan Allah sudah dekat. Saudara diundang untuk beribadah di sini. Sekarang hari Sabat," ujar kakek yang ternyata tukang khotbah itu.

Saya pun lebih banyak mendengar wejangan dari sesepuh Gereja Advent di Prigen itu. Isinya tentang pentingnya hari Sabat. Kitab Kejadian. "Saudara harus ingat... anam hari (bukan enam) kita pakai untuk bekerja dsb. Tapi hari ketujuh itu harus dikhususkan untuk Tuhan. Itulah Sabat, hari ketujuh! Paham???" ujarnya setengah membentak.

Hemm... Saya diam saja. Paham dalam hati saja. "Agamanya Saudara apa?" tanya Mbah Karno.

Waduh... bisa panjang buntutnya. Saya sudah bisa tebak kalimat-kalimat apa yang bakal keluar dari mulut kakek ini. Jika jawab agama A jadi begini, B begini, C begitu dst. Maklum, saya sudah banyak membaca buku-buku khas Advent yang hampir semuanya merujuk pada Ellen G. White dari USA.

"Saya beragama Katolik, Mbah," saya jawab di telinganya.

"Nah, Roma Katolik itu yang keliru. Tidak menghormati hari Sabat. Di Alkitab tidak ada yang namanya hari Minggu. Coba Saudara baca Alkitab!" kata Mbah Karno.

Wuihhh... salah sangka saya. Tadinya kukira dia lebih bersahabat setelah dia tahu saya Katolik. Sama-sama kristiani meskipun beda aliran atau denominasi. Eh, malah tambah diceramahi dan diserang. Saya pun santai aja. Anggap aja guyonan biasa sekadar berkenalan.


Lalu datanglah seorang ibu, jemaat kedua. Bu Hartini. Mendengar ceramah tentang Sabat, dia juga ikut menimpali. "Nggak ada itu ibadah hari Minggu. Yang benar itu hari Sabtu," katanya menimpali Mbah Karno.

Tak ingin larut dalam debat doktrin yang tak ada habisnya, saya pun mencoba mengalihkan pembicaraan.

Bu Har.. jemaat gereja ini rata-rata berapa orang yang rutin kebaktian hari Minggu, eh maaf, hari Sabat?
Nggak sampai 30 orang. Dulu sih agak banyak. Tapi sekarang sekitar 23 orang.

Kenapa kok berkurang?
Banyak yang pindah ke kota lain untuk bekerja dsb. Ada juga yang ikut suami atau istri setelah menikah. Khususnya Gereja Advent di Sumberwekas Trawas jemaatnya berkurang banyak.

Kenapa orang Advent gak bisa tarik orang luar untuk masuk?
Ada juga tapi gak banyak. Ibu ini dulu bukan Advent. Saya mulai ikut Advent setelah peristiwa 1965. Saya pelajari kitab suci beberapa agama. Saya pelajari beberapa gereja. Puji Tuhan, ternyata Advent ini yang paling benar. Kebaktian hari Minggu itu gak bener.

Saya pun minta diri. Pamit. Sebab jemaat yang datang untuk kebaktian makin banyak. "Mbah Karno, selamat beribadah semoga Tuhan selalu memberkati jenengan," kata saya sambil menjabat erat tangan sesepuh gereja itu.

"Loh, Saudara tidak ikut kebaktian Sabat? Saudara diundang sama Tuhan! Ingat, Kerajaan Allah sudah dekat!" kata Mbah Karno dengan suara keras.

"Saya ikut misa di Pandaan aja Mbah. Besok pagi," kata saya dengan suara lirih. Kakek ini pasti tidak bisa dengar.

06 October 2018

Ki Subur Main Potehi di Krian



Sudah sebulan ini Ki Subur bermain wayang potehi di Kelenteng Teng Swie Bio, Krian Sidoarjo. Lakonnya Bao Zheng alias Hakim Bao. Kisah klasik Tiongkok yang sering difilmkan itu.

Pertunjukan wayang potehi di Krian ini digelar setiap tahun. Mulai sembahyang rebutan selama satu bulan. Biasanya diperpanjang sesuai permintaan panitia. "Alhamdulillah, saya masih dipercaya untuk melestarikan wayang potehi di Krian dan Sidoarjo," katanya.

Seniman 56 tahun ini satu-satunya dalang potehi di Sidoarjo. Ada beberapa kader muda, termasuk anaknya, yang diharapkan menekuni kesenian Tionghoa ini. Setiap tahun Subur main di dua tempat. Kelenteng Tjong Hok Kiong Sidoarjo dan Kelenteng Teng Swie Bio Krian. Durasinya minimal satu bulan.

Meski bukan Tionghoa, Ki Subur yang asli Jawa dan beragama Islam ini terus berusaha menghidupkan kesenian tradisional Tionghoa ini. Dia juga optimistis potehi bisa menjadi sumber rezeki buat keluarganya. "Apa pun kalau kita tekuni, insyallah, pasti ada hokinya," katanya.

03 October 2018

Tidak lagi kenal tetangga terdekat

Dulu saya pikir hanya orang perumahan yang tidak kenal tetangga. Khususnya perumahan elite di kota besar. Maklum, kompleks perumahan kelas atas dihuni orang-orang sibuk. Tak ada waktu untuk sosialisasi.

Ternyata saya salah. Orang-orang kampung pun tidak selalu kenal tetangga. Jangankan sesama RT, tetangga selisih satu dua rumah pun tidak kenal. Bahkan tetangga rumah satu tembok. Wow... luar biasa!

Barusan saya mampir ke rumah Cak Bokir di Jagir Sidosermo Surabaya. Almarhum Bokir seniman senior yang cukup terkenal. Dulu sering masuk koran dan televisi lokal. Bokir juga yang membina pemusik-pemusik jalanan di Surabaya dan sekitarnya. Klantink yang ngetop di TV itu juga binaan almarhum.

Saya masuk ke gang 6 sesuai alamat yang pernah dikasih Cak Bokir beberapa tahun lalu. Saya coba bertanya ke lima orang di gang itu. Di mana rumahnya Cak Bokir yang seniman itu? Padahal saya sudah hafal nomornya.

Nomor berapa Mas? Kalau cuma gang aja ya sulit, kata seorang ibu.

Hehe... Kalau tahu nomornya ya saya tidak perlu bertanya Bu. Nomornya besar atau kecil? tanya ibu yang lain lagi. Waduh...

Orang keempat seorang bapak 50an tahun. Dia tahu persis rumahnya Bokir. Itu lho yang ada mobil di sebelahnya. Matur nuwun... bapak ini menunjuk rumah itu.

Tiba di nomor 96, sekali lagi saya ngetes seorang wanita di sebelah mobil itu. Usianya 30an, lumayan cakep.

Di manakah rumah Cak Bokir? "Gak tau. Gak kenal," ujarnya rada ketus. Yo wis... gak papa.

Saya pun ketawa sendiri. Dalam hati. Ternyata orang Indonesia saat ini sudah seperti orang barat yang diceritakan guru-guruku di sekolah dasar dan menengah dulu. Bahwa mereka begitu individualistisnya sehingga tidak kenal tetangga. Beda dengan orang Indonesia yang sangat kekeluargaan, tepa selira, gotong royong blablabla......

Mungkin inilah perjalanan masyarakat kita yang mulai memasuki era modernisasi. Tata nilai, budaya, gaya hidup dsb makin berubah. Sama dengan saya yang hampir tiap hari bertemu beberapa orang yang sama tanpa saling kenal atau menyapa. Sebab semuanya sibuk dengan ponsel sendiri-sendiri.

Kades Warlheiyono yang Orbitkan Inul Daratista




Di antara 353 kepala desa dan lurah di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Warlheiyono Al Machfud punya latar belakang yang unik. Dulunya ia dikenal sebagai pimpinan Orkes Melayu (OM) Mayora, salah satu orkes dangdut ternama di Sidoarjo.

Sebelum orkes-orkes dangdut menjamur, menurut dia, dulu tak banyak OM yang eksis di Sidoarjo maupun Jatim. Selain OM Mayora, ada dua orkes melayu (OM) lama, yakni OM Bujangga dan OM Rolista. "Sekarang di mana-mana ada orkes," kenang pria yang menjabat kepala desa Rangka Kidul, Sidoarjo, dua periode.

Warlheiyono gandrung musik sejak remaja. Karena itu, dia sangat enjoy mengurus OM Mayora. Orkes yang bermarkas di Rangkah Kidul ini menjadi wahana pembibitan artis-artis dangdut ternama. Di antaranya Inul Daratista dan Uut Permatasari.

"Waktu Inul belum terkenal, dia ikut orkes saya. Anaknya memang punya gaya panggung yang atraktif sejak dulu. Termasuk goyang ngebornya," tutur Warlheiyono kepada penulis.

Ketika Inul Daratista makin dikenal luas di kalangan penggemar dangdut, Warlheiyono pun legawa. Dia justru mendorong penyanyi asal Kejapanan, Pasuruan, itu untuk meraih karier yang lebih baik di tingkat nasional. "Alhamdulillah, Inul akhirnya sukses di Jakarta," katanya.

Meski sudah lama cabut dari OM Mayora, Warlheiyono mengaku masih sering melakukan komunikasi dengan Inul Daratista. Istri Adam Suseno itu dinilai sebagai selebriti yang tidak lupa asal usulnya. "Sekarang saya tidak lagi mengurus orkes karena mengurusi kepentingan warga desa saya. Jadi kepala desa itu berat," katanya.

Sebagai pentolan orkes dangdut, pria yang juga ketua Pordasi Sidoarjo ini mengaku kerap melakukan pendekatan ala seniman kepada warganya. Jika ada acara-acara besar, dia sering melibatkan orkes dangdut. Warga Rangkah Kidul yang memang penggemar dangdut pun bisa menikmati hiburan gratis. Di sisi lain pesan-pesan pembangunan, kebersihan, penghijauan, kesehatan, dan sebagainya bisa disampaikan dengan mudah.

"Di situlah seninya menjadi kepala desa," kata pria yang aktif di pemerintahan desa sejak 1988 itu.

Sejak dulu Sidoarjo dikenal sebagai gudangnya orkes dangdut. Begitu banyak orkes dan penyanyi asal Sidoarjo dan sekitarnya yang sukses di pentas nasional. Karena itu, kades yang satu ini sangat yakin artis-artis baru akan bermunculan di Sidoarjo.