31 August 2018

Sayap Patah Pater Glinka SVD

Siang tadi saya melayat di Soverdi Surabaya. Pater Josef Glinka SVD, yang juga profesor antropologi Universitas Airlangga, itu meninggal dunia jelang 87 tahun.

Begitu banyak pelayat yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir di biara milik SVD itu. Tak hanya kalangan Katolik, saya lihat banyak pula yang pakai jilbab. Mahasiswa, dosen, alumni dsb. Maklum, Prof Glinka sejak 1985 mengabdi sebagai dosen Unair. Ia juga yang membuka jurusan antropologi.

Taksiah macam ini juga sekaligus jadi ajang reuni. Ketemu dengan Bernarda Rurit yang belum seminggu ini meluncurkan buku biografi Pater Glinka. Rurit mantan wartawati Tempo ini memang sangat dekat dengan Pater Glinka sejak kuliah di Unair.

"Opa Glinka itu pembimbing rohani saya," kata Rurit yang masih segar itu.

Dia seperti punya firasat bakal ditinggal sang opa asal Polandia untuk selamanya. Rurit pun begitu cepat menulis buku sebagai kado terindah buat opa yang juga mahagurunya itu.

Di samping jenazah Pater Glinka, saya juga berbincang dengan beberapa pater dan suster. Ada juga pengusaha dan wartawan. Pater Soni Keraf SVD, Pater Didik Tri Budi Utomo, Pater Fritz Meko SVD. Juga Suster Maria Goreti yang masih kerabat dekat saya asli Lembata NTT.

Isinya tentu seputar kenangan manis bersama Pater Glinka. Pater Fritz Meko SVD menunjukkan catatan kecilnya tentang almarhum. Puitis banget. Pater asal Belu NTT mengibaratkan kepergian Pater Glinka sebagai seekor burung yang patah sayapnya.

"Tapi beliau tetap hidup bersama kita. Sampai kapan pun," kata pater yang juga penyanyi dan pemusik itu.


Puisi Fritz Meko SVD

SAYAPNYA TELAH PATAH

Dia pernah terbang dengan sayap perkasa
menjangkau langit biru citanya

Kini sayap itu telah patah
"Terpanah" oleh tajamnya usia uzur
Ia jatuh membujur
Membiarkan nyawanya menyatu dengan semilir angin malam Jumat
Menjangkau semesta cinta
para sahabatnya

Sejuta pasang mata dukana
sontak mengintai mozaik hidupnya yang memukau
Ia telah melukis sejarahnya pada raut hati para sahabat segala benua

Kini sayapnya patah
Ia jatuh membujur dengan raga tanpa jiwa
Tapi ia tetap "hidup" sampai kapan pun.

Surabaya, 31 Agustus 2018

24 August 2018

Meiliana, siapa suruh jadi minoritas?

Mereka yang mendukung Ahok itu berarti mendukung penista agama. Begitu kira-kira omongan Dhani yang saya baca di internet. Rupanya argumentasi yang dibangun komposer pop ini diikuti banyak orang. Ahok kalah telak.

Bukan saja kalah pilgub, Ahok juga masuk penjara. Dua tahun. Dhani dan kawan-kawan sorak-sorak bergembira.

Di Tanjungbalai Karimun, ada juga kasus penistaan agama. Meiliana terdakwanya. Dianggap penista agama. Gara-gara minta tetangganya untuk mengecilkan volume azan di masjid. Ajaib, ribut-ribut dengan tetangga jadi masalah SARA yang panas. Wihara dibakar. Rumah Mei juga demikian.

Tapi waktu itu (hampir) tidak ada yang buka suara. Seakan membenarkan bahwa Mei menistakan agama Islam. Takut kalau menyuarakan opini yang nadanya membela Mei dianggap menista agama juga. Ngeri!

Sekarang baru ribut di media sosial, internet dsb. Menganggap vonis 18 bulan terhadap Mei terlalu berat. Ada yang bilang mestinya Mei tidak perlu sampai jadi terdakwa dan masuk penjara. Cukup musyawarah saja.

Yang ngomong begini justru tokoh partai atau ormas muslim. Kok dulu-dulu gak membela Mei? Membiarkan wanita Tionghoa itu didakwa menistakan agama? Kok baru bunyi sekarang? Kasihan banget Cik Mei ini.

Pagi ini Bos Dahlan Iskan menulis catatan yang bagus. Pengalaman mengikuti salat Idul Adha di Hongkong. Kutipannya:

"Di Hongkong, kata Lutfiana, ada hukum. Tidak boleh ada pengeras suara. Sebelum pukul 09.00 pagi. Agar tidak menganggu istirahat penduduk. Yang umumnya bangunnya siang. Sebagai minoritas mereka ikut saja. Tidak mau melanggar aturan. Yang dibuat mayoritas.
Konsekuensinya: aduh... panas sekali. Seperti dijemur di lapangan. Apalagi ini lagi musim panas."

Di mana-mana memang begitu. Yang namanya minoritas ya harus manut mayoritas. Tidak boleh melawan undang-undang atau regulasi yang dibuat mayoritas. Termasuk mempersoalkan volume azan seperti yang dilakukan Meiliana.

Mei ini tergolong minoritas yang sempurna. Sudah Tionghoa, agamanya pun minoritas pula. Beda dengan orang Batak Toba di Sumatera yang meskipun protestan masih dianggap pribumi. Maka, apa boleh buat, itulah putusan hukum pidana yang dijatuhkan majelis hakim yang memang mayoritas.

Siapa suruh jadi minoritas, Mei?

23 August 2018

Masih suka tangan di bawah

Mengapa antrean daging kurban begitu panjang? Apakah masyarakat memang sangat butuh daging gratis?
Setiap Idul Adha pemandangan seperti itu selalu berulang. Kemudian muncul di televisi dan koran. Ada yang berdesak-desakkan. Kisruh. Ada yang nekat antre meskipun tidak punya kupon.
"Saya juga ikut antre daging. Lumayan dapat satu kilogram," kata Sri di Pagerwojo, Buduran.
Ibu ini saya pastikan bukan orang miskin. Dia punya warung yang bagus. Ramai terus. Biasa dijadikan jujukan untuk nonton bareng sepak bola. Khususnya saat timnas U16 dan U19 berlaga di Sidoarjo belum lama ini.
"Sampeyan kan bukan orang miskin. Kok masih antre daging sih? Wong nasi rawon sampean itu enak banget," kata saya memancing ibu yang senang guyon ini.
"Namanya aja gratisan. Lumayanlah buat makan di rumah. Kalau daging untuk rawon itu beda sama daging kurban ini," katanya.
Begitulah mentalitas rakyat kita. Masih suka yang gratisan. Meskipun tahu bahwa yang berhak mendapat daging gratis itu adalah orang yang tidak mampu. Jika mendengar ada pembagian daging atau sembako, semua tiba-tiba merasa miskin.
Saat pendaftaran siswa baru pun orang ramai-ramai mengurus surat keterangan tidak mampu. Agar anaknya bisa diterima di sekolah negeri. Padahal banyak orang tua yang punya rumah dan mobil baru. "Kalau ada peluang jangan disia-siakan," kata Jebret yang anaknya selalu sekolah gratis di negeri hingga SMA. Padahal Jebret asli Sidoarjo ini ke mana-mana naik mobil sendiri.
Para tukang khotbah selalu mengutip ayat kitab suci. Lebih baik memberi daripada menerima! Lebih baik tangan di atas ketimbang tangan di bawah!
Tapi ya itu... masyarakat kita masih bermental tangan di bawah. Sepertinya sangat butuh makan daging gratisan setahun sekali itu.

16 August 2018

Kangen Melihat Latihan Timnas U-16

Yadi Mulyadi sedang dirawat saat latihan tim nasional Indonesia U-16 di Stadion Jenggolo Sidoarjo. Saya jepret saat menonton anak-anak muda hebat ini berlatih jelang turnamen Piala AFF U-16 di Sidoarjo.

Selama dua bulan timnas asuhan pelatih Fakhri Husaini itu mengadakan TC di Sidoarjo. Saya biasa menonton latihan mereka. Melihat langsung sistem latihan ala Fakhri dan asistennya. Dari dulu saya nonton latihan timnas jika ada TC di Sidoarjo. Saat pertandingan malah nonton di televisi.

Suasana latihan anak-anak timnas U-16 selalu riang. Cara ngosek bola, mengecoh lawan, menembak.. dilakukan dengan enjoy. Itu juga terlihat saat mereka melakukan uji coba lawan tim-tim lokal kayak Bligo Sidoarjo. Saya lihat Yadi Mulyadi menggiring bola dengan enak. Melewati beberapa pemain lawan. Lalu membuat final passing. Gol.

Saking banyaknya gol yang dilesakkan timnas, saya sampai lupa skornya. Maklum, tidak tercatat di papan skor. Kelihatannya timnas U-16 punya peluang jadi juara AFF Cup. Permainan mereka lebih meyakinkan ketimbang U-19 yang berlatih di tempat yang sama di Sidoarjo.

Benar saja. Timnas U-16 akhirnya jadi juara. Brylian, David, Bagas dan Bagus, Supriyadi dkk tampil sangat meyakinkan di fase grup. Sempat tegang di semifinal lawan Malaysia. Cuma menang 1-0. Gol penalti dari Bagus. Di final juga ketat. Akhirnya menang adu penalti.

Yadi Mulyadi, Bagas-Bagus, Brylian... semua pemain timnas U-16 jadi bintang baru. Semalam saya lihat di televisi Yadi Mulyadi dan empat pemain timnas U-16 diarak keliling kota Purwakarta. Ribuan orang turun ke jalan mengelu-elukan para pahlawan muda itu.

Saya ikut bahagia melihat anak-anak muda bakal bintang bola negeri ini. Apalagi mereka bisa memulangkan Malaysia, musuh bebuyutan yang baru saja mempermalukan timnas U-19 di Sidoarjo.

Perjalanan mereka masih panjang. Banyak rintangan di depan mata. Anak-anak kita itu hebat tapi biasanya kurang moncer di level senior, kata wartawan lawas spesialias balbalan.

Pejuang korban lumpur masuk penjara

Hukuman untuk Sunarto, bekas koordinator korban lumpur Desa Renokenongo, Porong, dilipat dua oleh Mahkamah Agung. Jadi 6 tahun penjara. Semula cuma kena 3 tahun di PN Sidoarjo dan PT Jatim.

Apes. Maksud hati ingin hukumannya dikurangi, malah ditambah. Persis kasusnya mantan bupati dulu. Ini juga bagus buat pelajaran. Agar terdakwa tidak sedikit-sedikit banding. Khususnya kasus korupsi.

Berita di koran tentang Sunarto ini membuat saya teringat ribuan pengungsi di Pasar Porong. Awal semburan lumpur Lapindo pertengahan tahun 2006. Warga Renokenongo, Siring, Jatirejo, dan Kedungbendo diungsikan di pasar baru yang memang masih kosong.

Suasananya benar-benar gak enak. Para pengungsi ini unjuk rasa hampir tiap hari. Mulai soal makanan, air, hingga ganti rugi. Koordinator lapangan demonstrasi ini banyak sekali. Salah satunya ya Sunarto ini.

Inti tuntutannya sama tapi skemanya berbeda. Yang paling kenceng adalah cash and carry. Lapindo kasih duit tunai untuk korban lumpur, beres. Tentu saja Lapindo kelimpungan menyediakan uang tunai sekian miliar atau triliun.

Ada juga skema cash and resettlement. Dan beberapa skema lagi. Nah, Sunarto ini yang dulu paling keras memimpin warga Renokenongo untuk unjuk rasa. Ketika sebagian besar pengungsi sudah keluar dari penampungan di pasar, Sunarto dan warganya masih bertahan. Idealis benar orang ini, kata wartawan lawas.

Lama-lama capek juga unjuk rasa. Stamina habis.

Sejak itu suara Sunarto hilang dari koran dan televisi. Warga Renokenongo pun keluar dari pasar. Pasti karena sudah ada solusi atau deal dengan Lapindo atau pemerintah (BPLS).

Sejak itu saya kehilangan kontak dengan Sunarto. Nomor ponselnya sudah ganti. Isu lumpur sudah tidak menarik lagi. Orang sudah malas membaca berita-berita tanggul jebol, rel terendam, jalan raya ditutup, atau unjuk rasa korban lumpur.

Belakangan saya terkejut membaca koran. Sunarto ditangkap. Kasus penyelewengan dana korban lumpur Lapindo. Sunarto tidak sendiri. Ada beberapa oknum aparat desa yang bermain patgulipat uang besar nan panas ini.

Tanah sekian hektare yang berstatus TKD dipakai untuk bikin perkampungan sebagian warga korban lumpur asal Renokenongo. Dijadikan perumahan di Desa Kedungsolo, masih di Kecamatan Porong.

Model bedol desa atau relokasi ala Renokenongo ini sebetulnya sangat bagus. Masyarakat yang kampungnya sudah jadi danau lumpur bisa tinggal bersama di lokasi baru. Beda dengan ribuan warga Siring, Jatirejo, atau Kedungbendo yang sekarang sudah jadi diaspora ke mana-mana.

Sayang, cara yang ditempuh Sunarto dkk ini melanggar hukum. Ada unsur memperkaya diri. Alias korupsi.

Sejak itulah suara Sunarto tenggelam. Jauh berbeda dengan ketika Cak Narto ini memimpin unjuk rasa korban lumpur di pasar porong, jalan raya, kantor bupati, alun-alun hingga DPRD Sidoarjo dan DPRD Jatim.

Seorang pejuang yang dulunya idealis seperti Sunarto akhirnya tumbang oleh uang. Semoga Sunarto yang sekarang tinggal di Rutan Medaeng bisa melakukan refleksi dan meditasi di penjara.

11 August 2018

Jokowi gandeng kiai sepuh

Bisa jadi ini efek Mahathir Mohammad di Malaysia. Yang baru terpilih menjadi perdana menteri pada usia 93 tahun. Bisa juga efek Trump di Amerika. Presiden Amerika Serikat yang usianya jauh lebih tua ketimbang Obama yang digantikannya.

Joko Widodo justru memilih Kiai Maruf Amin, 75 tahun. Masih lebih muda ketimbang Tun Mahathir. Tapi jauh lebih tua daripada Jokowi. Inikah tren pemerintahan kaum lansia?

Jokowi memang berada dalam posisi sulit. Khususnya setelah ada kasus pilkada Jakarta yang membuat Ahok masuk penjara. Ketua MUI Kiai Maruf jadi saksi yang memberatkan Ahok. Sebelumnya MUI bikin fatwa tentang penistaan agama yang dilakukan Ahok. 

Kemudian lahirlah gelombang unjuk rasa 212 dan seterusnya. Ada pula gerakan untuk mengawal fatwa soal Ahok itu. Kini Ahok masih di penjara, sementara Kiai Maruf jadi calon wakil presiden.

Politik memang selalu begitu. Sulit diprediksi. Hampir tidak ada yang mengira Jokowi menggandeng seorang kiai sepuh. Bukan tokoh yang energetik untuk membantunya mengurus negara besar yang sangat kompleks itu.

Kelihatannya Jokowi trauma dengan politik SARA yang luar biasa sejak pilpres 2014. Kemudian makin dahsyat di pilkada Jakarta. Bangsa Indonesia terlibat perang kata-kata kasar, fitnah, hoaks di media sosial. Bahkan media massa arus utama pun sering jadi corong ujaran kebencian.

Kiai Maruf Amin pun digandeng untuk meredam isu SARA. Pihak sebelah yang didukung barisan 212 pun tidak bisa lagi menembak Jokowi dengan tuduhan antimuslim, mempersulit ulama, dsb. Lah, Kiai Maruf itu mbahnya ulama.

Namun, di sisi lain, masuknya ulama ke gelanggang politik praktis tentu tidak sehat untuk demokrasi modern. Yang di Barat sana punya prinsip pemisahan agama dan negara. Agamawan tidak cocok kalau jadi pemerintah. Sebaliknya pemerintah pun bukan agamawan.

Syukurlah, kita di Indonesia sudah punya contoh bagus setelah reformasi. Kiai Haji Abdurrahman Wahid, ulama yang juga ketua PB Nahdlatul Ulama, pernah menjabat presiden. Meskipun tidak sampai lima tahun, almarhum Gus Dur meninggalkan banyak warisan berharga untuk bangsa ini.

09 August 2018

Dicari KARYAWAN PUTRI

Makin banyak saja istilah seperti ini: KARYAWAN PUTRI. Pagi tadi saya membaca pengumuman lowongan kerja di Kureksari, Waru, Sidoarjo. Dicari karyawan putri!

Karyawan putri!

Hem... aneh menurut saya tapi makin biasa. Dulu, waktu di SMP, pak guru bahasa Indonesia yang saya anggap hebat (nyambi penyiar radio lokal milik pemda di Larantuka) selalu bilang -wan itu akhiran untuk menunjukkan laki-laki. Lawannya -wati untuk perempuan.

Dus, KARYAWAN berarti pekerja atau pegawai atau buruh yang berjenis kelamin laki-laki. Sebaliknya, KARYAWATI untuk perempuan. Tidak ada istilah karyawan wanita atau karyawan laki-laki.

Wartawan juga pasti jurnalis yang laki-laki. Jurnalis atau reporter perempuan ya wartawati.

Seniman vs seniwati. Rohaniwan vs rohaniwati. Mahasiswa vs mahasiswi. Biarawan vs biarawati. Sukarelawan vs sukarelawati.

Itu sih pedoman bahasa era 80an dan 90an. Di atas tahun 2000 rupanya ada perubahan di masyarakat. Koran-koran menulis ratusan karyawan perusahaan X melakukan unjuk rasa. Padahal banyak wanita yang juga ikut unjuk rasa. Puluhan mahasiswa universitas A demonstrasi. Meskipun cewek-cewek pun banyak yang ikut long march, orasi dsb.

Istilah wartawati pun sudah jarang saya baca atau dengar. Semua jurnalis baik pria maupun wanita disebut wartawan. Lama-lama ada istilah wartawan perempuan atau perempuan wartawan.

Saya pun sempat menggunakan SISWA untuk merujuk pelajar sebuah sekolah yang melakukan darmawisata dalam berita di surat kabar. Besoknya diprotes. "Mestinya ditulis SISWA-SISWI karena yang ikut study tour itu bukan hanya laki-laki," kata seorang bu guru.

Tak elok capres-cawapres last minute

Besok 10 Agustus 2018 hari terakhir pendaftaran pasangan calon presiden dan wakil presiden. Tapi sampai sekarang belum jelas calon-calonnya. Jokowi sudah jelas maju lagi. Prabowo pun ingin menuntaskan ambisinya.

Siapa tahu kali ini Prabowo menang. Apalagi katanya didukung barisan ulama 212 yang sukses menyingkirkan Ahok di Jakarta. Ada PKS pula yang katanya sangat militan dan islamis.

Yang muncul di media massa malah teka-teki. Cawapresnya Jokowi warga negara Indonesia dan beragama Islam, kata Asrul pengurus PPP. Cawapres Jokowi berinisial M. Berasal dari ormas Islam terbesar, kata Romi ketua umum PPP.

Di kubu Prabowo juga masih teka-teki. Ada yang bilang Sandiaga. Ada pula nama-nama lain. PKS sodorkan 9 nama. Prabowo kelihatannya bingung karena semuanya ingin jadi capres. Mungkin ke depan capres RI ditambah dua atau tiga lagi biar gak rebutan. Lima wakil presiden hehe...

Amien Rais tokoh PAN sangat anti Jokowi. Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan manuver kanan kiri. Tidak jelas mau ke mana. Menterinya ada di Jokowi, tapi senior dan kader PAN yang paling keras mengecam Jokowi.

Kelihatannya banyak elite politik kita sangat menikmati politik last minute pencapresan itu. Merekalah yang membuat undang-undang. Mereka lupa bahwa sistem macam ini sangat berbahaya bagi kematangan demokrasi. Kita seperti baru belajar berdemokrasi. Padahal reformasi sudah berjalan 20 tahun.

Wakil-wakil rakyat sudah saatnya membuat undang-undang baru. Agar pasangan capres dan cawapres sudah diketahui rakyat jauh-jauh hari. Bisa pakai model konvensi ala USA. Bisa juga model parlementer ala Malaysia. Kita pasti tidak kurang pakar-pakar tata negara yang nonpartisipan.

"Sudah waktunya dilakukan redesain konstitusi," kata Prof Sutanto dari Untag Surabaya.

08 August 2018

Yus Messakh Musisi Jalanan Sidoarjo

Namanya Yus Messakh. Biasa tidur di pendapa Candi Watutulis, Prambon, Sidoarjo. Semula saya kira bung ini pengamen atau musisi jalanan. Mampir di pendapa untuk sekadar istirahat.

Yus Messakh selalu membawa gitar, harmonika, dan alat musik lain ke mana-mana. Sesekali dia memetik gitar lawasnya itu. Ouw.. lain rasanya. Saya terkejut mendengar petikan gitarnya yang berbeda dengan pengamen biasa. Bahkan lebih bagus ketimbang pemain-pemain orkes dangdut yang biasa saya temui.

Maka saya pun berkenalan. "Yus... Yus Messakh," katanya halus. Suaranya selalu rendah. Ditingkahi senyum tipis.

Ngobrol jadi asyik karena fam Messakh itu. Marga dari Pulau Rote NTT. "Bung masih ada hubungan famili dengan Obbie Messakh," tanya saya.

"Sedikit banyak pasti ada. Messakh itu marga yang besar. Beta sejak lahir sudah di Jawa. Beta punya orang tua campuran Jawa dan NTT. Tapi beta jarang ke NTT. Tidak punya uang," kata Yus yang mulai pakai beta (saya) begitu tahu saya juga berasal dari NTT.

Obrolan basa-basi dihentikan. Beta ingin menikmati permainan gitar plus harmonika plus sisir yang dimodifikasi Yus jadi alat musik. Sekaligus menilai kualitas dan stok repertoarnya. Mulai lagu-lagu lawas yang gampang kayak Panbers, Charles Hutagalung, Obbie Messakh. Kemudian lagu-lagu jazzy ala Ermy Kullit dan Margie Siegers.

Wow... bagus banget. Bung Yus mampu memainkannya dengan sangat baik. Juga lagu-lagu keroncong, sunda, campursari, hingga dangdut lawas dan koplo terkini. Terlalu enteng untuk Bung Yus. Saya pun minta maaf karena sempat menganggap Bung Yus pengamen jalanan yang biasa minta duit di warkop atau lapak pinggir jalan.

"Beta main musik sudah puluhan tahun. Musik itu sudah seperti makanan sehari-hari. Makanan untuk jasmani, musik untuk rohani," ujar Bung yang beralamat di Temu Prambon Sidoarjo itu.

Bung Yus pernah bergabung dengan banyak grup musik. Punya pengalaman manggung di mana-mana. Bahkan dia pernah keliling Pulau Flores hingga Manggarai. "Beta pernah main organ pipa yang pakai pancal di gereja di Manggarai," katanya.

Lagunya seperti ini.... Bung Yus bersenandung melodi lagu liturgi yang sangat akrab di kalangan umat Katolik di Flores. "Beta sudah lupa syair dan judulnya. Wong itu sudah 30an tahun lalu," katanya.

Saya pasti tahu lagu itu. Salam Ya Ratu... Bunda yang berbelas kasih! Lagu pujian untuk Bunda Maria. Bahasa Latinnya: Ave Regina, Mater Missericordia....

Lalu Bung Yus memainkan melodi Ave Regina itu beberapa kali. Syahdu. Rasanya seperti di kapel susteran aja. Padahal kami berada di bangunan cagar budaya yang dikelilingi sawah. "Seorang musisi harus bisa memainkan lagu apa saja. Sebab request pengunjung itu macam-macam. Kalau mereka kecewa ya habislah kita," katanya.

Bung Yus rupanya hidup dari musik. Meskipun tidak bisa kondang seperti Obbie Messakh dan artis-artis pop umumnya, ada saja rezeki untuknya. Jadwalnya gonta ganti tiap hari. Paling sering di Mojosari dan Trawas. "Beta main musik itu niat utamanya bukan untuk cari uang. Kalau cari duit mending jadi buruh di pabrik atau buka warkop," katanya.

Lantas, Bung Yus memainkan lagu pop lawas tahun 70an. Damai tapi Gersang. Komposisi yang cukup rumit dengan banyak akor dan modulasi. Bung Yus menyanyi dengan suara lirih.

".... rindu sayangi sesama...
hidupnya sebentar saja...."

Sayang, saya tidak bisa berlama-lama ngobrol dengan Bung Yus. Harus cepat-cepat balik ke Sidoarjo. Sementara Bung Yus melanjutkan tidurnya.

06 August 2018

Guyonan rekor dunia dan Muri

Sejak ada Museum Rekor Indonesia (Muri), banyak orang dan kelompok gandrung bikin kegiatan yang superlatif. Biar masuk Muri. Tumpeng terbanyak. Penari terbanyak. Kain terpanjang. Bu Indah di Pondok Candra Sidoarjo pegang rekor penyanyi yang show terlama di Indonesia tanpa baca teks.

Sidoarjo catat lumayan banyak rekor Muri. Ada yang sudah pecah, ada yang belum. Rekor kandang natal terbesar sudah lama pecah. Lukisan terpanjang karya mendiang Djoko Lelono mungkin sudah pecah.

"Saya baru sadar kalau masuk Muri atau tidak itu sama aja. Yang pasti, saya harus bayar biaya macam-macam agar dicatat di Muri," kata Guk Djoko yang seniman rupa kawakan.

Tapi gairah masuk Muri rupanya masih tinggi. Sudah tiga bulan ini Rizky dkk terus berlatih tari kupang kolosal. Nanti dimainkan di alun-alun. Lalu undang pengurus Muri untuk menghitung jumlah penari. Lalu resmi jadi rekor nasional penari kupang terbanyak di Indonesia.

Tanpa dicatat pun sebetulnya otomatis pegang rekor. Mengapa? Tari kupang ini kreasi baru. Dibuat Rizky yang memang koreografer berpengalaman di Sidoarjo. Dus, tarian yang menggambarkan kehidupan nelayan pencari kupang di Balongdowo Candi ini memang belum ada.

Lah, siapa pesaingnya?

Beda kalau yang dikompetisikan tarian yang sudah populer macam reog atau remo. Ada tingkat kesulitannya karena punya banyak lawan. Atau rekor jumlah tumpeng yang mudah dipatahkan. Lukisan anak terpanjang sangat gampang digusur. Panitia cukup memambah satu meter kain biar lebih panjang daripada rekor lama.

Guyonan pecah rekor ala Muri ini rupanya merembet ke rekor dunia. Kemarin pemerintah bikin senam poco-poco massal. Pesertanya 65 ribu orang. Biar masuk buku rekor dunia.

Ya.... jelas tembus. Lah, wong poco-poco cuma ada di Indonesia. Joget ala Manado dari lagu Poco-Poco yang dipopulerkan oleh Jopie Latul. Gerakan tarian yang sederhana kemudian dimodifikasi jadi senam kolosal. Di negara-negara lain pasti tidak ada poco-poco. Mereka punya gaya joget sendiri.

Tapi baguslah kalau misi utamanya adalah mengolahragakan masyarakat. Rakyat dibiasakan melakukan senam pagi ala orang Jepang dengan taiso itu. Kita pernah punya gerakan Senam Pagi Indonesia (SPI) seri A sampai seri D. Kemudian Senam Kesegaran Jasmani (SKJ).

Sayang, senam-senam lawas yang dulu gencar dilakukan di sekolah itu kini tak berbekas.

05 August 2018

Malas nulis traffic hancur

Konten blog harus sering diperbarui. Sebaiknya tiap hari ada naskah, foto, atau video. Kalau malas ngepos ya Mbah Google lamgsung kasih hukuman. Pengeklik atau traffic-nya hancur.

Inilah pelajaran yang baru saya alami. Bulan Juli 2018 traffic turun jauh. Pernah pengeklik tembus 15 ribu per minggu, lalu turun di bawah 9.000. Hampir 50 persen turunnya.

Google memang punya mekanisme super canggih. Dengan mudah si mbah ini bisa membedakan aktif tidaknya blog atau website. Begitu postingan seret, maka mesin pencari itu mengabaikan laman anda di algoritmanya.

Selain kuantitas, kualitas postingannya juga penting. Kualitas versi internet tentu beda dengan kualitas mahasiswa di kampus. Konten yang banyak diklik itulah yang disebut berkualitas. Naskah-naskahnya profesor senior yang sangat ilmiah malah dianggap tidak bermutu oleh Google.

Saya sendiri dari dulu tidak ambil pusing soal traffic. Klik banyak atau sedikit sama saja. Komentar banyak sedikit sami mawon. Yang lebih penting adalah membiasakan ngetik pakai jempol di ponsel. Bukan apa-apa, sampai sekarang masih banyak salah ketik di layar ponsel android. Beda dengan mengetik di Blackberry lawas yang kibodnya timbul itu.

Dokter-dokter makin fanatik

Baru saja saya baca status seorang dokter 40an tahun. Wow... masih tentang politik dan islamisme. Pak Dok ini tidak lupa mempromosikan duet Prabowo dan UAS (Ustad Abdul Somad) sebagai capres dan cawapres. Duet yang mantap katanya.

Kalau ditelusuri tulisan-tulisan lamanya pun sama saja. Cenderung antipemerintah. Sebab ideologinya memang berbeda. Selalu yang dipos kalimat-kalimat yang sama dengan pandangan gerakan 212. Beliau merasa perlu ganti presiden tahun depan.

Dokter penyakit dalam ini tidak sendiri. Salah satu wanita dokter di Jatim juga cenderung antipemerintah. Dia selalu ceramah agama Islam di media sosialnya. Tidak pernah bicara penyakit-penyakit atau kesehatan.

Dua dokter yang belum terlalu tua ini hanya sekadar contoh. Masih banyak lagi dokter-dokter yang fanatik. Sangat kental keislamannya. Apalagi kalau bicara halal haramnya vaksin tertentu. Seru banget.

Ada juga dokter di Surabaya yang selalu merayakan milad (pantang pakai istilah ulang tahun atau birthday) menurut penanggalan hijriah. Bukan hari lahir versi kalender umum atau masehi. Tentu agar lebih islami.

Dulu saya mengira para dokter itu paling humanis dan sekuler. Mengapa? Mereka setiap hari berhadapan dengan pasien. Tanpa pandang agama, ras, suku, sekte, partai, pandangan politik dsb. Sebab tubuh manusia itu sama saja. Darahnya merah dan putih. Kalau sakit sama-sama gak enak makan.

Eh, ternyata tidak demikian. Media sosial sangat bagus untuk melihat ideologi, religiositas hingga pandangan politik seseorang. Ada kecenderungan mahasiswa-mahasiswa eksakta (kedokteran, teknik, mipa, pertanian) di tanah air yang terpapar aliran radikal. Dosen-dosennya juga begitu.

Mungkin suatu ketika ada kebijakan baru di rumah sakit. Pasien laki-laki hanya boleh ditangani dokter laki-laki. Pasien perempuan hanya boleh ditangani dokter perempuan. Stok darah di PMI pun lama-lama dipisahkan agar halal haramnya lebih jelas.

Pohon kepuh alias gendruwo yang sakti

Akhir-akhir ini saya sering mampir ke Candi Watutulis di dekat Pabrik Gula Watoetoelis yang sudah tutup itu. Istirahat dan ngobrol sama Pak Buadi, pengurus bangunan cagar budaya tersebut. Meski namanya candi, situs ini cuma menyimpan batu-batu andesit purbakala.

"Umurnya lebih tua ketimbang Majapahit. Zaman Airlangga," kata Pak Buadi. Informasi lain tentang Watutulis alias batu tulis alias prasasti bisa dibaca di internet.

Bagi saya, Candi Watutulis ini tempat istirahat yang paling asyik. Ada pendapa luas. Tiga sumur tua. Bersih pula. Makanya setiap hari ada saja pengunjung yang cangkrukan sambil ngopi. Lumayan buat penghasilan Buadi dan istrinya.

Yang bikin kerasan adalah hawanya yang sejuk. Meskipun Sidoarjo dan Surabaya sedang sumuk, Candi Watutulis selalu sejuk. Ini karena ada pohon kepuh di dekat candi. Batangnya besar dan tinggi. Usianya sudah ratusan tahun, kata Buadi.

Kepuh atau pranajiwa atau Sterculia foetida Linn. Tanaman langka. Orang Jawa sering bilang tanaman gendruwo. Biasa ditemukan di tempat-tempat keramat. Cocok dengan Candi Watutulis yang juga dianggap tempat keramat. Candi ini juga biasa disebut Punden Sentono yang dikeramatkan oleh masyakat Desa Watutulis dan sekitarnya.

"Niat orang ke sini macam-macam. Ada yang ritual, ada yang cangkrukan, dan sebagainya," kata Buadi.

Saya sendiri kagum dengan pohon kepuh atau gendruwo. Bukan karena keramat atau angkernya. Tapi kebandelannya. Kepuh mampu hidup di tanah yang sangat kering dan gersang. Ketika tanaman-tanaman lain mati.

Di Candi Tawangalun, Desa Buncitan, Sedati, dekat Bandara Juanda, hanya tanaman kepuh, klampis, dan waru yang bertahan. Penghijauan seribu pohon yang dilakukan dinas kehutanan beberapa tahun lalu gagal total.

Saiful Munir, pengurus candi, yang paling paham kondisi tanah di Buncitan. Tanah paling gersang di Kabupaten Sidoarjo. Dia bikin pembibitan kepuh lalu tanam di sekeliling Candi Tawangalun. Alhamdulillah, ada beberapa batang kepuh yang hidup. Bahkan Saiful sempat panen buah kepuh.

Kepuh juga manfaatnya banyak, kata Saiful. Hampir semua bagian kepuh bisa dijadikan obat-obatan.

Politik dua kaki ala PAN

Sistem politik yang bukan-bukan ini dimanfaatkan dengan baik oleh PAN. Partai pimpinan Zulkifli Hasan ini punya wakil di kabinet kerja Jokowi. Tapi ketua umumnya terus bikin manuver gabung kubu oposisi (Prabowo dkk). Amien Rais, pendiri dan sesepuh PAN, malah jadi pengkritik pemerintah paling keras.

Pernyataan-pernyataan Amien Rais malah lebih keras ketimbang orang PKS atau Gerindra yang asli oposisi. Tiada hari tanpa serangan ke pemerintah. Ada saja isu panas yang dilontarkan. Kemudian diviralkan di media sosial. Tentu sudah digoreng plus ditambahi bumbu-bumbu panas.

Mengapa PAN sibuk manuver jelang pendaftaran capres? Ini kan komunikasi politik, kata Zulfiki ketua umumnya. Sudah lama dia mengambil jarak dengan koalisi Jokowi. Terus merapat dengan kubu Prabowo dkk.

Kok PAN tidak tarik saja orangnya di kabinet? Mau nikmati kursi kabinet tapi sibuk manuver bersama partai-partai pembangkang? Ketua PAN tidak menjawab.

Politik itu ada fatsoen-nya. Ada etikanya. Kalau ikut pemerintah ya jangan membangkang (oposan). Oposisi ya tidak memerintah. Kalau partai pemerintah malah jadi pembangkang? Itulah PAN. Mungkin cuma ada di Indonesia.

Di Malaysia yang sistemnya parlementer ala British, tidak ada ruang untuk main politik dua muka ala PAN. Pasti langsung keluar dari koalisi pemerintah. Otomatis kursi kabinetnya juga hilang. Sebab semua menteri di Malaysia harus wakil rakyat yang dipilih lewat pilihan raya.

Indonesia kan presidensial? Itu sih teorinya. Tapi Presiden Jokowi sangat paham bahwa presidensial ala Indonesia tidak sama dengan Amerika. Nuansa parlementer sangat kuat di Indonesia. Jokowi pasti tidak enak dengan PAN yang main politik dua kaki.

Tapi Jokowi pun tidak akan berani mencopot menteri dari PAN. Mengapa? PAN bukan partai biasa. PAN itu partai amanat Muhammadiyah. Yang punya puluhan atau ratusan juta jamaah. Militansinya pun sangat tinggi. Bisa jadi bumerang jika Jokowi dianggap mengabaikan aspirasi umat Muhammadiyah.

Sistem pilpres yang bikin bingung

Pendaftaran calon presiden dan calon wakil presiden sudah dibuka sejak 4 Agustus 2018. Tapi sampai sekarang belum jelas pasangan yang akan bertanding. Jokowi sudah pasti capres. Tapi siapa wakilnya? Belum jelas.

Cawapresnya Jokowi baru diketahui jelang deadline pendaftaran 10 Agustus. Prabowo nyapres lagi? Bisa ya bisa tidak. Kemungkinan sih iya. Lalu siapa wakilnya? Juga belum jelas. Sebab PKS, Demokrat, PAN sama-sama ingin tokohnya dijadikan pendamping Prabowo.

Inilah politik khas Indonesia. Sistem politik yang masih coba-coba meskipun NKRI sudah berusia 73 tahun. Katanya presidensial tapi kayak parlementer. Bukan parlementer kok nuansa koalisinya macam parlementer. Sistem yang masih bukan bukan. Bukan ini, bukan itu.

Kalau model parlementer macam Malaysia, semuanya sangat jelas. Jauh sebelum pemilu. Tun Mahathir calon PM kalau Pakatan Harapan Menang. Wakil PM pasti Wan Azizah dari partainya Anwar Ibrahim yang suaranya besar. Sebaliknya Najib Razak yang jadi perdana menteri kalau Barisan Nasional yang menang pilihan raya.

Model presidensial ala USA lebih jelas lagi capres dan cawapresnya. Sebab Demokrat dan Republik jauh hari bikin konvensi. Tokoh yang menang konvensi di internal partai itulah yang bakal jadi calon presiden + cawapres. Rakyat pun sudah bisa menimbang tawaran dari kubu mana yang dianggap bagus.

Sayang, Indonesia masih pakai sistem dagang sapi. Tidak ada konvensi. Koalisi partai pun tidak jelas ala parlementer. Sebab hasil pemilu legislatif belum diketahui. Pemilunya baru diadakan bulan April 2019. Partai-partai yang sekarang dagang sapi bikin koalisi semua itu belum tentu lolos ke parlemen tahun depan.

Sayang, parlemen baik MPR, DPR, maupun DPD membiarkan sistem politik yang tidak karuan ini. Bahkan justru parlemen itu yang membuat undang-undang pemilu seperti ini. Mahkamah Konstitusi juga malah membenarkan model pemilu presiden yang rawan ini.

Masih banyak pekerjaan rumah kita di bidang ketatanegaraan.

Valentino Simanjuntak yang Lebay

Timnas Indonesia U16 semalam tampil bagus di Sidoarjo. Lolos ke semifinal Piala AFF 2018 setelah mengalahkan Timor Leste tiga gol tanpa balas.

Besar kemungkinan Indonesia kembali jumpa Malaysia. Pasti seru. Tapi juga rawan karena sejak dulu Indonesia punya masalah psikologi dengan Malaysia. Sulit menang. Biarpun pemain-pemain kita penuh gairah. Biarpun Malaysia tanpa suporter. Biarpun Malaysia diteror sepanjang 90 menit di lapangan.

Contohnya ya Indonesia U19 yang dipermalukan Malaysia di stadion yang sama, Sidoarjo. Malaysia akhirnya juara Piala AFF U19. Semoga saja anak-anak timnas U16 mampu menjaga kualitas permainan seperti di fase grup A.

Semalam saya tidak nonton langsung di stadion. Cukup lihat di Indosiar. Yang paling heboh justru penyiarnya: Valentino Simanjuntak. Terlalu lebay gaya reportase dan komentarnya. Lebih mirip juru kampanye (jurkam) ketimbang pelapor pertandingan sepak bola.

Siapa kita? Indonesia!!! Siapa kita? Indonesia!!!

Teriakan-teriakan Valentino, yang didampingi Yusuf, komentator bola, mengingatkan saya pada Bung Tomo. Pahlawan nasional yang menggelorakan semangat arek-arek Surabaya untuk berjuang melawan Belanda. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung!

Valentino ini memang sangat bombastis saat memandu pertandingan timnas usia muda: U19 dan U16. Tim junior yang permainannya memang harus diakui sangat bagus dibandingkan tim-tim negara tetangga di Asia Tenggara. Gaya Valentino yang khas jurkam dan penceramah ini sangat disukai sebagian orang Indonesia. (Valentino sering banget ajak penonton televisi berdoa agar Indonesia dimenangkan oleh Tuhan.)

Saya yang kurang suka gaya Valentino. Reportase yang sangat partisan model begitu menghilangkan objektivitas. Tidak lagi kritis. Hampir tidak ada analisis kritis untuk kemajuan anak-anak muda kita di lapangan. Khususnya kebiasaan menggoreng bola, ngotot bawa bola sendiri, tidak segera oper ke temannya yang bebas.

Kebiasaan lama ala timnas senior ini sangat berbahaya jika lawannya setara atau lebih kuat macam Jepang, Korea, atau negara-negara Timur Tengah. Pemain-pemain timnas justru perlu dibiasakan bermain kolektif. Bukan menonjolkan individu seperti saat melawan Timor Leste semalam.

Saat uji coba melawan Bligo Putra Sidoarjo dan beberapa klub lokal di Lapangan Jenggolo Sidoarjo, saya juga sering melihat kebiasaan pemain-pemain timnas U16 asyik membawa bola sendiri. Tidak segera passing. Pemain lain pun kurang cepat cari posisi yang enak.

Makanya, saya khawatir jika timnas asuhan pelatih Fakhri ini ketemu Malaysia. Tim jiran itu punya pertahanan yang solid. Dia sangat paham jurus untuk mematikan penyerang-penyerang Garuda Muda. Malaysia juga jago memprovokasi pemain kita agar naik pitam. Jurus itulah yang membuat Malaysia U19 jadi juara Piala AFF 2018 di Sidoarjo.

Kembali ke Valentino Simanjuntak. Capek mendengar teriakan-teriakannya, saya memutuskan untuk membisukan televisi. Cuma lihat gambarnya doang. Ternyata asyik juga. Bisa menonton pertandingan bola dengan lebih santai dan tenang. Nyaris tanpa emosi.

Menonton pertandingan sepak bola atau olahraga yang lain di televisi tanpa suara ini memang dianjurkan oleh Bhikku Brahma dari Inggris. Kita bisa membuat analisis sendiri tanpa terpengaruh oleh komentar-komentar provokatif dan sarat jargon ala Valentino Simanjuntak.