30 July 2018

Awal Bagus untuk Timnas U16

Semalam arek-arek timnas Indonesia U16 main ciamik di Sidoarjo. Menang telak 8-0. Filipina dibuat kelimpungan sejak menit awal. Rasanya baru kali ini saya melihat pertandingan sepak bola yang skornya gila-gilaan.

Ada juga sih dua minggu lalu. Tapi saat latihan atau pertandingan uji coba timnas U16 kontra tim internal Askab Sidoarjo. Di level internasional jarang ada skor besar 8-0. Sebab tim-tim junior punya kekuatan yang berimbang, kata Fakhri Husaini pelatih timnas U16.

Akankah tim Garuda Muda ini bisa juara Piala AFF 2018? Mengobati kekecewaan masyarakat setelah timnas U19 dipermalukan Malaysia dua pekan lalu? Di stadion yang sama?

Inilah yang harus dijawab coach Fakhri. Perjalanan masih jauh. Kemenangan atas Filipina jelas permulaan yang bagus. Tapi masih ada empat pertandingan lagi di grup A. Dan sudah pasti lebih berat ketimbang lawan Filipina. Negara yang rakyatnya tidak gila sepak bola.

Lawan timnas yang paling berat tentu Malaysia. Pasukan Harimau main di Gresik. Grup B. Kemungkinan Indonesia ketemu Malaysia di semifinal atau final. Itu skenario di kertas. Di lapangan bisa berbeda sama sekali.

Yang pasti, belajar dari pengalaman timnas U19, dukungan penuh 30 ribu penonton di Gelora Delta Sidoarjo ternyata tidak membuat Indonesia bermain bagus dan tenang. Malah grogi. Sering salah passing. Salah posisi. Kurang antisipasi lawan. Gugup saat adu penalti.

Sebaliknya, pemain-pemain Indonesia U19 yang justru tertekan. Akhirnya kalah. Cuma dapat medali perunggu aja.

Pelatih Fakhri bilang tidak membebani anak asuhnya dengan target juara. Cukup bermain bagus dan memanfaatkan semua peluang untuk bikin gol. Hanya dengan mencetak lebih banyak gol (ketimbang lawan), maka Indonesia pasti menang.

Logika dasar olahraga sepak bola yang sering dilupakan timnas. Juga Persebaya yang jago passing, kaki ke kaki, tapi sepertinya lupa untuk menyarangkan bola ke gawang lawan. Bagaimana bisa menang?

Kemarin saya kembali membeli kaos timnas Indonesia di luar stadion. Padahal kaos yang lama masih baru. Dibeli jelang laga timnas Indonesia U19 vs Malaysia. Sebagai dukungan untuk timnas + plus pedagang kaki lima. Khususnya Pak Dede Rosyidi dari Bandung yang jauh-jauh ke Sidoarjo untuk jualan kaos dan berbagai atribut timnas.

Doakan semoga timnas lolos sampai final, pesan Pak Dede yang bisnis atribut timnas sejak 2008. Kalau masuk final kan dagangan saya tambah laris.

5 comments:

  1. Yang timnas dewasa kalahan, jadi dukung yang U19. U19 kalahan, dukung U16. Lama-lama U16 kalahan, dukung yang U12, wkwkwkwkwkwk. Kalau mau maju, harus ada kompetisi yang disiplin dan ada pemain asing, tetapi dibatasi. Seperti Galatama jaman Niac Mitra dulu. Atau bahkan jaman amatir sebelum 1970an, dengan Ronny Pasla, Andjas Asmara, Abdul Kadir, di tingkat Asia Tenggara menangan. Di tingkat Asia hampir lolos ke Olympiade Montreal. Karena kompetisi PSSI maju. Kompetisi amatir lokal juga ada dan diberitakan di koran. Di Surabaya ada Asyabaab, Hizbul Wathan, Suryanaga ... lha jaman sekarang apa masih ada?

    ReplyDelete
  2. betul banget mas. timnas yg senior memang kalahan. timnas junior makin ke bawah justru main ciamik. itu yg membuat orang indonesia paling gandrung timnas U19 jamannya evan dimas dkk. waktu piala aff di sidoarjo mereka juara. mainnya bagus banget.
    sayang... anak2 timnas u19 ini merosot ketika jadi timnas u21. gabung u23 atau senior ya kalahan lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitu senior mikirnya duit. Kalau ada kompetisi liga yang sehat, mereka bisa hidup tenang cari uang dan mengembangkan potensi. Wong jaman 1979 bisa, ketika pendapatan per kapita masih kecil, mosok sekarang ndak bisa. PSSI ini sangat memalukan. Begitulah kalau organisasi olahraga tidak dipimpin orang2 yg benar peduli tetapi oleh oportunis dan politisi.

      Delete
  3. kompetisi amatir lokal juga masih ada. di sidoarjo namanya kompetisi internal askab sidoarjo. di surabaya kompetisi internal askot surabaya. tapi daya tariknya tidak seperti pra 2000.

    dulu saya rutin nonton kompetisi internal di stadion gajayana malang. saya fan berat IM (indonesia muda) malang. lawan beratnya adalah gajayana yg pemainnya mayoritas ikut persema. nonton kompetisi internal itu sangat meriah. pakai bayar karcis segala. mainnya juga ciamik untuk standar saya jaman dulu.

    hasil kompetisi internal ini kemudian jadi inti perserikatan macam persema persebaya persija persib dsb. kualitasnya dulu gak kalah sama galatama. sekarang sudah berubah sama sekali.

    kompetisi internal dulu dimainkan di stadion bagus sekelas gajayana malang atau tambaksari surabaya. sekarang malah main di lapangan2 desa yg jelek.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lapangan dan stadion dialihfungsikan menjadi mal dan ruko. Walikota2 lupa bahwa lapangan2 olahraga itu ruang publik yg meleburkan rakyat tanpa memandang sekat2 ras, suku, dan agama.

      Delete