31 July 2018

Orang miskin dilarang merokok

Orang miskin selalu ada di Indonesia. Bahkan di negara maju macam Eropa atau Amerika. Maka sejak dulu dibuat program pemberantasan kemiskinan. Ada hasilnya tapi kurang signifikan.

Contohnya raskin: beras untuk rakyat miskin. Di NTT penerimanya tetap banyak. Hampir semua keluarga antre terima raskin. Sebab orang di sana memang jarang yang punya beras. Kalau jagung, ketela, umbi-umbian sih banyak. Ikan laut segar banyak.

Orang miskin adalah orang yang tidak makan beras (nasi). Orang NTT yang makan jagung, orang Papua dan Maluku yang makan sagu plus telo rambat ya dianggap miskin. Lalu dikasih raskin. Beras apkiran hasil cuci gudang bulog di Jawa.

Pagi ini ada pernyataan Menteri Bambang dari bappenas yang menarik. Dia melarang orang miskin, penerima bantuan PKH, untuk merokok. Yang merokok bakal dicabut bantuannya. Sebab uang untuk membeli rokok itu cukup besar. Sekitar 10-11 persen dari penghasilan.

"Kita harus tegas. Kalau merokok ya bantuannya dihentikan," kata Bambang.

Rupanya pemerintah terlambat sadar. Bahwa orang miskin itu sebetulnya sangat doyan merokok. Orang kaya justru lebih sedikit yang merokok (karena takut mati). Orang miskin senang merokok agar bisa berlari sejenak dari kesulitan hidup.

Bos-bos kaya di Surabaya sudah lama memberlakukan larangan merokok untuk semua karyawan perusahaan mereka. Tidak ada ruang untuk merokok. Kalau ketahuan merokok, karyawan masuk daftar hitam. Asuransi kesehatannya hangus. Karena itu, biasanya karyawan hanya berani merokok di tempat yang jauh dari kantornya.

Saya juga sering kecewa dengan bapak-bapak pengurus cagar budaya di Jatim. Gaji resmi mereka tidak sampai separo UMK. Namun merokoknya luar biasa. Kalau disumbang duit Rp 20 ribu atau Rp 50 ribu biasanya langsung dibelikan rokok.

"Kalau gak rokokan aku gak iso kerjo. Rokok itu buat doping," kata kenalan akrab saya yang menjaga candi tua peninggalan Majapahit.

Maka biasanya donasi cagar budaya saya kasihkan ke anaknya. Tapi ya tetap saja ketahuan. Lalu disunat untuk beli rokok.

Di NTT, khususnya Flores Timur dan Lembata, yang dianggap miskin itu pun rakyatnya doyan merokok. Bahkan ada budaya merokok lintingan daun lontar alias siwalan. Semua laki-laki seperti diwajibkan untuk merokok. Dulu...

Tapi orang sana, dulu, menanam tembakau sendiri. Diolah sendiri, hingga jadi tembakau siap linting. Dulu... ketika saya masih berusia di bawah 18 tahun.

Sekarang sangat jarang orang kampung di NTT yang doyan rokok lintingan. Kecanduan rokok kretek buatan Kediri, Malang, dan Kudus. Maka, setiap kali orang NTT pulang kampung muncul pertanyaan, rokoknya mana? Di Jawa kan banyak rokok yang murah? Kok tidak bawa rokok?

Wuedaan tenan.... Seandainya kita kasih angpao 100 ribu bisa dipastikan bakal dipakai untuk membeli rokok. Bukan beli beras atau barang lain yang lebih penting menurut bappenas. Bagi orang miskin di desa, rokok itulah justru komoditas terpenting.

30 July 2018

Awal Bagus untuk Timnas U16

Semalam arek-arek timnas Indonesia U16 main ciamik di Sidoarjo. Menang telak 8-0. Filipina dibuat kelimpungan sejak menit awal. Rasanya baru kali ini saya melihat pertandingan sepak bola yang skornya gila-gilaan.

Ada juga sih dua minggu lalu. Tapi saat latihan atau pertandingan uji coba timnas U16 kontra tim internal Askab Sidoarjo. Di level internasional jarang ada skor besar 8-0. Sebab tim-tim junior punya kekuatan yang berimbang, kata Fakhri Husaini pelatih timnas U16.

Akankah tim Garuda Muda ini bisa juara Piala AFF 2018? Mengobati kekecewaan masyarakat setelah timnas U19 dipermalukan Malaysia dua pekan lalu? Di stadion yang sama?

Inilah yang harus dijawab coach Fakhri. Perjalanan masih jauh. Kemenangan atas Filipina jelas permulaan yang bagus. Tapi masih ada empat pertandingan lagi di grup A. Dan sudah pasti lebih berat ketimbang lawan Filipina. Negara yang rakyatnya tidak gila sepak bola.

Lawan timnas yang paling berat tentu Malaysia. Pasukan Harimau main di Gresik. Grup B. Kemungkinan Indonesia ketemu Malaysia di semifinal atau final. Itu skenario di kertas. Di lapangan bisa berbeda sama sekali.

Yang pasti, belajar dari pengalaman timnas U19, dukungan penuh 30 ribu penonton di Gelora Delta Sidoarjo ternyata tidak membuat Indonesia bermain bagus dan tenang. Malah grogi. Sering salah passing. Salah posisi. Kurang antisipasi lawan. Gugup saat adu penalti.

Sebaliknya, pemain-pemain Indonesia U19 yang justru tertekan. Akhirnya kalah. Cuma dapat medali perunggu aja.

Pelatih Fakhri bilang tidak membebani anak asuhnya dengan target juara. Cukup bermain bagus dan memanfaatkan semua peluang untuk bikin gol. Hanya dengan mencetak lebih banyak gol (ketimbang lawan), maka Indonesia pasti menang.

Logika dasar olahraga sepak bola yang sering dilupakan timnas. Juga Persebaya yang jago passing, kaki ke kaki, tapi sepertinya lupa untuk menyarangkan bola ke gawang lawan. Bagaimana bisa menang?

Kemarin saya kembali membeli kaos timnas Indonesia di luar stadion. Padahal kaos yang lama masih baru. Dibeli jelang laga timnas Indonesia U19 vs Malaysia. Sebagai dukungan untuk timnas + plus pedagang kaki lima. Khususnya Pak Dede Rosyidi dari Bandung yang jauh-jauh ke Sidoarjo untuk jualan kaos dan berbagai atribut timnas.

Doakan semoga timnas lolos sampai final, pesan Pak Dede yang bisnis atribut timnas sejak 2008. Kalau masuk final kan dagangan saya tambah laris.

29 July 2018

Tidak Balas Selamat Hari Minggu

Masih banyak ucapan selamat berhari minggu. Biasanya dari orang-orang NTT. Baik yang tinggal di NTT maupun di tanah perantauan.
Ama Paul paling rajin kirim gambar berisi ucapan selamat hari minggu. Sering diperkaya dengan video musik. Lagu rohani yang menyentuh. Kadang ada pertanyaan: sudah misakah? Misa di mana?
Begitulah kebiasaan di NTT. Khususnya Flores dan Lembata. Hari Minggu itu hari istirahat. Saat untuk sembahyang (tanpa imam) atau misa kudus. Petani-petani yang berladang jauh di luar desa pun kumpul di gereja. Ibadat sabda atau ekaristi.
Rupanya teman-teman NTT ini banyak yang tidak tahu bahwa misa kudus di Jawa itu tidak hanya hari Minggu. Banyak orang Katolik yang misa Sabtu sore kayak saya. Ada juga yang misa harian (di luar Sabtu dan Minggu).
Juga hari Minggu tidak wajib libur. Libur karyawan sering gantian. Ada yang libur senin selasa rabu kamis jumat sabtu. Saya sendiri tidak pernah libur hari Minggu. Pernah libur Senin, kemudian ganti Rabu, dan ganti lagi Sabtu. Sesuai kebutuhan kantor atau perusahaan.
Maka, apa boleh buat, ucapan selamat hari minggu tidak pernah saya jawab. Wong beban kerja justru meningkat pada hari Ahad itu. Malah capek.
Tapi, di sisi lain, ucapan selamat hari minggu + lagu rohani ada bagusnya. Mengingatkan kita untuk tidak lupa misa. Lah, di NTT yang lebih banyak ibadat sabda tanpa ekaristi (karena pastor harus keliling ke gereja-gereja stasi/desa) saja orang rajin pigi gereja. Apalagi di Jawa yang pastornya banyak dan ada misa kudus setiap hari.

Tidak ada lagi dukun di Jolotundo

Luar biasa perubahan di Jolotundo Trawas Mojokerto. Kawasan sejuk, objek wisata heritage peninggalan Airlangga, ini sudah sangat modern. Saya jadi pangling.

Warung Mbok Jono kini punya wifi. Lesehannya tak beda dengan di Surabaya atau Sidoarjo. Saya perhatikan ada sekitar 10 orang muda yang nongkrong. Memanfaatkan fasilitas internet gratis.

Mbok Jono sendiri asyik nonton TV. Sinetron India. Cucu dan cicitnya sibuk main game. Lampu-lampu sangat terang. Rencana saya untuk istirahat menikmati sepi pun buyar. Pamit pulang. Musik dangdut koplo dari warung sebelah terlalu keras.

Sekitar 10 tahun lalu tidak ada listrik di Jolotundo. Bu Jono dan beberapa pemilik warung hanya pakai penerangan seadanya. Ublik alias pelita. Suasana selalu remang-remang. Bau dupa menyengat dari bapak-bapak yang bikin ritual budaya. 

Ada juga yang meditasi. Ngelaku. Tidak sedikit yang cari nomor togel. Mbok Jono sering ditanya angka berapa yang bakal keluar. Nenek penjaga hutan yang buta huruf ini biasanya asal njeplak aja. Tapi nomornya beberapa kali tembus. Mbok Jono sendiri malah selalu meleset.

Mbeleset satu angka. Minggu depan mungkin bisa, katanya enteng. Saya dan Mbah Thelo, pelukis almarhum, hanya ketawa. Mbok Jono dapat fee lumayan meski ramalannya jarang tembus.

Suasana yang rada mistik inilah yang perlahan-lahan mulai hilang. Orang-orang lama yang biasanya senang bicara dunia lain sudah tidak kelihatan. Sebagian meninggal, sebagian lagi mencari petilasan lain yang dianggap masih cocok untuk ritual.

Mbok Jono sendiri sudah sangat berubah. Jujukan mbah-mbah lawas ini malah kecanduan nonton film India dan dangdut di televisi. Ibu A juga sudah lama ngalih, kata Mbok Jono tentang bu dukun alias paranormal yang dulu punya banyak pasien dari Surabaya.

13 July 2018

Tidak Perlu Anak Pintar



''Sekarang tidak perlu anak pintar. Kalau punya SKTM ya gampang.''

Begitu keluhan Sigit di Jawa Pos. Pak Sigit kecewa berat karena anaknya gagal masuk SMA negeri. Padahal nilai reratanya di atas 90.

Sekolah-sekolah negeri tahun ini memang mengutamakan anak-anak yang orang tuanya miskin. Bukti miskinnya ya pakai surat keterangan tidak mampu alias SKTM. Maka surat miskin ini laku keras. Para orang tua berlomba-lomba jadi orang miskin. Agar anaknya bisa masuk negeri. Biarpun nilainya rendah.

Kebijakan menteri pendidikan sekarang ini niatnya baik. Biar kualitas pendidikan bisa merata. Tidak boleh lagi ada yang disebut sekolah favorit. Tidak boleh ada penumpukan anak-anak pintar di satu sekolah. Semua anak, berapa pun IQ-nya, dicampur di satu sekolah.

Ada juga kebijakan zonasi. Sekolah negeri wajib mengutamakan pelajar yang rumahnya di dekat sekolah. Tanpa perlu melihat hasil unasnya.

Memangnya sekolah-sekolah negeri sudah merata? Jangankan di luar Jawa, di Sidoarjo sekalipun sekolah negeri yang bagus (sekolah favorit, istilah warga) ada di tengah kota. Ada empat SMA negeri.

Maka berbahagialah warga Sidoarjo yang tinggal di Kelurahan Pucang dan Siwalanpanji. Sebab merekalah yang paling berhak masuk SMAN 1 Sidoarjo yang sangat favorit (dulu) itu. Sebab sekolah elite itu berlokasi di kampung halaman mereka.

Sebaliknya, warga Kecamatan Sukodono atau Balongbendo atau Wonoayu tidak akan bisa masuk SMA negeri. Begitu juga warga Kecamatan Sedati yang wilayahnya ada Bandara Internasional Juanda. Wilayah kecamatan-kecamatan ini tidak punya SMA dan SMK negeri.

Dari 18 kecamatan di Sidoarjo, masih banyak kecamatan yang tidak punya SMA negeri. Sekolah-sekolah negeri yang bagus justru numpuk di tengah kota. Beginikah zonasi pendidikan itu?

Kebijakan menteri pendidikan saat ini jelas mengubah filosofi persekolahan yang sudah bertahun-tahun dianut di Indonesia. Model rekrutmen berdasar nilai unas (dulu ebtanas) atau seleksi sepertinya tidak berlaku lagi.

Tidak ada lagi istilah anak pintar, sedang, atau lambat menangkap pelajaran. Semua murid dianggap punya kemampuan yang sama untuk mengikuti pelajaran. Filsafat yang sudah sering ditolak pakar-pakar pendidikan macam Pater Drost SJ.

''Kami khawatir siswa yang nilainya rendah tidak mampu mengikuti pelajaran dengan baik seperti teman-temannya yang nilainya tinggi,'' ujar Yuniarto, guru salah satu SMA negeri.

Syukur-syukur anak yang nilainya rendah itu ketularan temannya yang pintar. ''Kalau gurunya bagus, anak-anak yang nilainya jelek itu bisa dibuat pintar. Salahnya guru kalau ada anak yang nilainya di bawah 70,'' ujar Sugianto, teman saya yang guru bahasa Mandarin dan punya sekolah bisnis berbahasa Mandarin.

Mr Su ini tergolong aliran sama rata sama rasa khas Tiongkok. Dia sejak dulu menolak dikotomi sekolah favorit dan nonfavorit. Karena itu, dia sangat senang dengan kebijakan Menteri Muhadjir dalam penerimaan siswa baru.

''Sekolah swasta juga mestinya gitu. Semua pendaftar harus diterima selama kursinya cukup. Lan iso mbayar hehe,'' kata saya disambut tawa Mr Su.

Sepertinya Tuhan Memihak Malaysia



Akhirnya terulang lagi dan lagi dan lagi. Timnas Indonesia U-19 gagal ke final. Kalah adu penalti. Malaysia lagi-lagi menang. Padahal bermain di Gelora Delta Sidoarjo.

Semua penonton, 30 ribu orang, jelas pendukung Indonesia. Suporter Malaysia boleh dikata nihil. Tapi justru yang tertekan pemain-pemain Indonesia. Anak-anak Malaysia memang tangguh mentalnya. Tenang dan meyakinkan. Teriakan ribuan penonton Indonesia dianggap angin segar pembawa oksigen.

Dua tendangan Indonesia meleset. Sebaliknya, semua tendangan Malaysia masuk. Indonesia gagal ke final. Dipermalukan Malaysia si harimau malaya.

Saya sepertinya punya trauma dengan Malaysia. Betapa tidak. Sejak nonton bola di era hitam putih rasanya timnas Indonesia kalah melulu dari Malaysia. Sebagus apa pun timnas kita, ada saja halangan untuk mengatasi Malaysia. Sulit juara.

Maka, begitu Indonesia gagal juara grup A di Sidoarjo saya cemas. Sambil melihat latihan timnas asuhan pelatih Indra Sjafri di dekat kantor saya, Jenggolo Sidoarjo. Sambil memantau hasil pertandingan terakhir grup B di Gresik.

Waduh... Malaysia juara grup. Jadi lawan Indonesia di semifinal. Trauma pun muncul. Kalau musuhnya Malaysia ya wassalam. Sebaiknya Garuda Muda jumpa Malaysia di final. Jangan di semifinal. Banyak tokoh yang bilang begitu di internet.

Tapi takdir sepak bola punya jalan sendiri. Indonesia vs Malaysia di semifinal. Bismillah... kata orang Indonesia yang benar-benar demam timnas U-19. Pemain-pemain dan pendukung Malaysia juga baca bismillah... sama-sama bismillah. Minta tolong Tuhan agar dimenangkan.

Penyiar Valentino Simanjuntak begitu sering mengajak bangsa Indonesia memanjatkan doa kepada Tuhan. Agar Indonesia diberi kemenangan. Berdoa berdoa berdoa.... Pasti di Malaysia juga orang-orang berdoa agar timnasnya dimenangkan.

Rupanya doa-doa orang Malaysia lebih manjur. Dari dulu. Indonesia kalah lagi. Mungkin doa-doa kita kurang banyak. Atau kurang tulus. Atau isinya keliru. Terlalu egoistis. Mau menang sendiri. Emangnya Tuhan itu cuma milik orang Indonesia.

11 July 2018

Matinya tiki-taka dan samba tango

Piala Dunia 2018 segera selesai. Prancis sudah dapat satu tiket ke final. Inggris vs Kroasia sebentar lagi.

Saya sih netral saja. Tidak memihak Prancis atau Inggris atau Kroasia. Sama aja. Sebab tim-tim Amerika Latin sudah lama tersingkir. Khususnya Argentina.

Apa asyiknya Piala Dunia tanpa Argentina? Dan Brasil? Bagaikan sayur tanpa garam. Begitulah pendapat om-om di NTT saat saya masih kecil di pelosok republik. Pendapat yang kemudian saya amini. Sampai sekarang.

Sepak bola Eropa memang ciamik. Industrinya luar biasa. Pemain-pemain Latin yang hebat pasti main di Eropa. Messi bahkan sejak anak-anak sudah belajar di akademi Barcelona. Sudah jadi orang Eropa meskipun paspornya Argentina.

Tapi gaya bermain bola ala Eropa terlalu tertib. Ibarat musik klasik yang sangat taat partitur. Semua ikut petunjuk dirigen. Tidak boleh menyimpang sedikit dari pakem. Inilah yang membedakan dengan gaya samba atau tango.

Gaya Argentina dan Brasil seperti musik jazz. Mereka punya bakat improvisasi sejak dari sononya. Maka seorang Maradona bisa meliuk-liuk sendiri melewati banyak pemain lawan untuk bikin gol. Gaya ini hanya bisa dimainkan seorang maestro jazz kelas wahid.

Messi juga punya talenta istimewa di bidang improvisasi. Sayang, teman-temannya kurang mendukung. Sehingga Argentina pulang terlalu awal.

Sepak bola toh pada akhirnya mencari menang. Bikin gol. Apa pun caranya. Efisiensi inilah yang dipunyai tim-tim Eropa. Kecuali Spanyol. Tim Matador bikin rekor dunia passing terbanyak tapi gagal bikin gol. Pasti kalah.

Sepak bola rupanya sudah jauh berubah. Ada VAR dsb. Gaya Latin yang samba atau tango sepertinya sudah tidak dapat tempat. Orang lebih suka balbalan yang simpel, kolektif, langsung ke tujuan. Bikin gol.

Maka Piala Dunia 2018 ini juga menandai akhir kejayaan tiki taka. Sepak bola ala Spanyol yang banyak passing, umpan pendek, muter-muter... jadi bahan tertawaan orang di warkop. Begitu juga gerakan meliuk-liuk Neymar + aktingnya yang aneh-aneh.