02 June 2018

Sidoarjo Kecolongan Banyak Teroris

Inilah makam 17 teroris di Sidoarjo. Mereka terlibat teror bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya pada 13-14 Mei 2018. Hari Minggu pagi. Saat jemaat sedang kebaktian atau jelang ekaristi.

Dedengkot bomber ini adalah Dita yang dulu pelajar berotak encer. Dita menjadi guru terorisme untuk istri dan empat anaknya. Satu keluarga, enak anak, sama-sama pelaku bom bunuh diri.

Sebelas kubur yang lain untuk pelaku bom di markas Polwiltabes Surabaya, Senin 14 Mei 2018. Pagi saat kantor baru buka.

Mayat-mayat lain adalah jaringan teroris anak buah Dita di Sidoarjo. Mulai dari Rusunawa Wonocolo, Urangagung, hingga Sukodono. Dua hari lalu polisi menangkap lagi seorang terduga teroris di Wisma Tropodo, Waru, Sidoarjo.

Ngeriiii! Bukan apa-apa. Imam Bahri, yang ditangkap densus 88 antiteror itu, sehari-hari ketua RT. Tokoh masyarakat. Rumahnya tidak jauh dari gereja tempat saya biasa ikut misa: Paroki Salib Suci, Wisma Tropodo, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Mengapa begitu banyak teroris yang bersarang di Sidoarjo? Kota kita yang lagi gencar memodernkan diri? Ingin mengimbangi tetangganya Surabaya?

Sudah banyak analisis di media massa. Sebagai warga pendatang di Sidoarjo, saya melihat masyarakat dan pemerintah Sidoarjo sangat welcome untuk siapa saja. Urusan apa saja dipermudah. Sulit urus kendaraan di Surabaya? Tenang. Bisa ke Sidoarjo.

Sidoarjo memang kota industri. pabrik-pabriknya banyak sejak zaman Belanda. Pabrik gulanya saja ada 16 biji. Meskipun yang masih beroperasi tahun 2018 ini hanya DUA: PG Kremboong dan PG Candi Baru. Masih ada ribuan pabrik kecil hingga raksasa macam Maspion, Kapal Api, Megasurya, Tjiwi Kimia, Sekar Laut, hingga pabrik sepatu mahal kelas dunia Ecco Indonesia.

Karena itu, sejak dulu sudah banyak pendatang di Sidoarjo. Bekerja di pabrik-pabrik. Kemudian pindah penduduk. Sangat mudah mengurus KTP di Sidoarjo. Khususnya ketika belum ada KTP elektronik alias e-KTP. Makanya ada saja orang yang punya KTP lebih dari dua. Dulu.

Nah, rupanya kebaikan masyarakat dan Pemkab Sidoarjo ini dimanfaatkan teroris untuk mengembangkan selnya. Bahkan bisa tinggal di Rusunawa Ngelom. Rumah susun yang aslinya dibuat pemkab hanya untuk warga Sidoarjo yang berpenghasilan rendah. Kok bisa lolos ke rusunawa di perbatasan Sidoarjo-Surabaya?

Nasi sudah jadi bubur. Bom sudah meledak. Menghancurkan sekian banyak orang. Termasuk menewaskan wong cilik Sidoarjo yang kebetulan pada Ahad pagi melintas di Jalan Arjuna Surabaya. Derrr! Dita meledakkan diri dan mobilnya (lebih tepat mobil istrinya) di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya.

Apakah masih ada teroris-teroris yang bersembunyi di Sidoarjo? Tentu polisi yang paling tahu. Khususnya densus. Tapi beberapa pengamat yakin teman-teman Dita JAD masih banyak di Sidoarjo, Surabaya, dan kota-kota lain di Jatim. Sel-sel tidur itu sewaktu-waktu akan tumbuh ibarat suket teki disiram air hujan.

1 comment:

  1. Ya ya Bung Hurek, orang kafir tidak akan bisa mengerti motivasi mereka, bisanya cuma berdoa, Ya Tuhan ampunilah dosa2 mereka, sebab mereka tidak tahu, apa yang telah mereka perbuat, Amin.
    Bacalah Al Kitab: 114 Surah dengan 6236 Ayat2 Nya, maka orang kafir akan bisa mengerti; apapun yang dia perbuat selalu bisa dipertanggungjawabkan sesuai ayat suci.

    ReplyDelete