23 June 2018

Selamat Jalan Mas Totok Pudjianto! Maestro Musik Liturgi



Minggu, 17 Juni 2018, umat Katolik Indonesia kembali kehilangan komposer musik liturgi. Y. Totok Pudjianto kembali ke pangkuan-Nya. Adik kandung almarhum A. Riyanto ini disemayamkan di Gereja Santo Leo Agung, Bekasi, sebelum dikebumikan.

Selamat jalan Mas Totok!
Resquescat in pace!

Umat Katolik di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, niscaya tidak asing dengan Y. Totok Pudjianto. Mas Totok menciptakan lagu-lagu liturgi Katolik gaya baru yang lebih segar. Ada nuansa klasik, pop, dengan syair yang puitis dan melodius.

Lagu-lagu ciptaan Mas Totok berbeda dengan lagu liturgi ala Pusat Musik Liturgi (PML) yang inkulturatif. Juga beda dengan lagu-lagu liturgi di Flores NTT yang sederhana dan pendek. Musik Mas Totok agak bernuansa praise and worship. Tapi liriknya sangat Katolik.

Dalam setiap perayaan ekaristi penerimaan sakramen pernikahan.. wuih... karya Mas Totok sudah seperti lagu wajib nikahan. Yakni BERKATILAH, dinyanyikan saat sungkeman. Bisa dipastikan kedua mempelai, orang tua, sanak kerabat berlinang air mata. Saking indahnya melodi dan syair lagunya Mas Totok.

BAPA YANG DI SURGA
KAMI BERDUA
BERSUJUD DI DEPANMU
DI ALTAR MULIA

SALING MENGUCAP KATA
BERJANJI SETIA
.......

Selain BERKATILAH, lagu Mas Totok yang paling terkenal di gereja adalah Bapa Kami. Biasa disebut Bapa Kami Totok Pudjianto. Lagunya enak, megah, membuat umat menyanyi dengan syahdu. Saingannya Bapa Kami versi Linus Putut Pudyantoro. Mas Putut lebih dahulu menghadap Bapa di surga pada 27 November 2017.

Begitu banyak orang yang mengarang lagu liturgi. Apalagi lagu pop cinta-cintaan. Tapi menurut saya tidak sekuat karya-karya Mas Totok (dan Mas Putut). Mungkin inilah yang disebut bakat. Talenta khusus. Mas Totok tidak syak lagi memiliki bakat musikal tingkat tinggi macam kakaknya, Aloysius Riyanto. Legenda musik pop Indonesia itu.

"Om Totok sedang merekam lagu Mari Bersyukur. Tapi beliau keburu dipanggil Tuhan," ujar Lisa A. Riyanto, keponakan Mas Totok. Lisa berjanji segera menyelesaikan rekaman itu. Agar bisa dinikmati umat kristiani di tanah air.

Tadinya saya pikir Mas Totok Pudjianto hanya kondang di kalangan Katolik. Khususnya anggota kor stasi, kring, lingkungan, paroki, hingga kategorial. Ternyata koran umum Kompas sempat menulis berita kepergian Mas Totok.

"Totok adalah pencipta lagu-lagu rohani yang bermelodi indah tetapi mudah dinyanyikan," tulis Kompas.

Mas Totok memang rajanya melodi indah. Tapi mudah dinyanyikan?

Berdasarkan kajian saya sejak era Jubilate, Syukur Kepada Bapa, Madah Bakti, Puji Syukur, Kidung Jemaat dan partitur liturgi lainnya, lagu-lagu Mas Totok tidak bisa dibilang mudah. Biasanya ada nada kromatis, chord yang variatif, hingga modulasi. Nada tertingginya juga tidak bisa dianggap ringan.

Contohnya: lagu Kasih (berdasar 1 Korintus 13). Di setiap bait atau verse ada perubahan nuansa. Modulasi atau perubahan tangga nada beberapa kali. Karena itu, tidak bisa masuk Puji Syukur. Biasanya dinyanyikan kor-kor yang sering berlatih dengan kemampuan di atas rata-rata.

Hidup itu singkat, seni itu abadi! Mas Totok dan Mas Putut sudah tiada. Tapi lagu-lagu kedua komposer hebat era 90an dan 2000an ini akan tetap abadi.

No comments:

Post a Comment