01 June 2018

Piala Thomas Dikalahkan Persebaya

Bulutangkis Indonesia sedang terpuruk. Baru saja keok dalam perebutan Piala Thomas dan Piala Uber di Bangkok. Kedigdayaan bulutangkis kita sepertinya tinggal nostalgia.

Bukan hanya atlet-atletnya yang kurang bakat, apresiasi penonton juga makin rendah. Demam Piala Thomas dan Piala Uber tidak ada lagi. Beda dengan di masa kecil saya dulu. Piala Thomas dan Piala Uber jadi bahan obrolan di kampung yang tidak ada listriknya.

Berbekal sepotong cerita dari koran bekas, plus rajin nguping warta berita RRI, orang-orang di kampung saya bisa dengan fasih menceritakan kehebatan Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Hastomo, Christian Hadinata, Ivanna Lie, Imelda dsb. Tanpa pernah melihat bintang-bintang badminton ini bermain. Sebab televisi cuma ada di kota. Sekitar 25 kilometer dari kampungku.

Ketika pindah ke Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur, demam badminton memang luar biasa. Kejuaraan apa saja pasti ditonton banyak orang. Padahal televisinya hitam putih. TV warna masih beberapa biji punyanya baba-baba Tionghoa.

Ketika ada siaran Piala Thomas... wuih heboh. Indonesia menang. Warga ramai-ramai bersorak gembira usai pertandingan yang menegangkan lawan Tiongkok. Berhari-hari warga membahas kehebatan pemain-pemain Indonesia. Lius Pongoh yang ulet. King dengan smash lompatnya yang mematikan. Hastomo yang napas kuda dsb.

Minggu lalu, saya sengaja mencari kafe-kafe yang biasa menayangkan siaran langsung olahraga untuk nobar (nonton bareng). Lebih asyik menonton semifinal Piala Thomas 2018. Indonesia vs Tiongkok. Pertandingan hidup mati. Pasti seru.

Eh... saya ternyata keliru. Dari lima kafe di Sidoarjo, mulai Buduran sampai Porong, tidak ada satu pun yang menayangkan Piala Thomas. Nobarnya sih ada dan ramai. Tapi siaran langsung Persebaya vs Madura United. Kebetuan jamnya bersamaan dengan Piala Thomas.
''Di sini nggak ada yang suka Piala Thomas. Mintanya Persebaya,'' ujar pelayan kafe di pinggir jalan raya Candi. Di kafe-kafe lain pun jawabannya sama.

Apa boleh buat. Malam itu saya terpaksa nonton siaran Piala Thomas sendirian. Di HP. Sambil mendengarkan sorakan pengunjung lain yang semuanya penggemar Persebaya.

Media-media di Indonesia juga sudah lama meninggalkan bulutangkis. Beritanya cuma sekadarnya di halaman dalam. Bukan di halaman depan.

Televisi swasta juga lebih suka menyiarkan pertandingan sepak bola uji coba ketimbang Piala Thomas. Masih lumayan TVRI mau siaran langsung Piala Thomas dan Piala Uber.

Kelesuan bulutangkis ini tentu tak lepas dari prestasi yang jeblok. Nama-nama pemain bulutangkis saat ini makin asing di telinga masyarakat. Sebab prestasinya juga pas-pasan. Dus, sulit menarik masyarakat untuk demam bulutangkis seperti pada masa lalu.

Menpora Imam Nahrawi meminta para pemain tidak terlalu bersedih dengan kekalahan di Bangkok itu. Berlatih lagi yang keras. Balas di Asian Games di Jakarta. Apa bisa? Saya kok ragu.

2 comments:

  1. Mosok seh... Kevin Sanjaya Sukomulyo Sing arek Tionghoa Banyuwangi itu kan sik menangan. Masalahnya Indonesia gak kuat di single. Sejak Taufik lengser 10 thn lalu ga ada yg menggantikan.

    ReplyDelete
  2. icuk sugiarto:
    1. fisik pemain2 lemah. cepat habis.
    2. anaknya, tommy sugiarto, dicoret. padahal tommy sangat kuat. icuk anggap diskriminasi karena anaknya tidak ikut pelatnas.
    3. persiapan kurang.
    4. dll

    ReplyDelete