27 June 2018

Mengenang kejayaan Ratatex di Balongbendo Sidoarjo



Sofjan R. Tamin beberapa waktu lalu menerbitkan buku memoar berjudul Character First: Berbisnis dengan Jalan Lurus. Pemilik pabrik mur dan baut ternama ini juga menceritakan pabrik tekstil Ratatex di Desa Balongbendo, Kecamatan Balongbendo, yang kini tinggal sejarah. Padahal Ratatex pernah menjadi salah satu pabrik tekstil terbesar di tanah air pada era 1960-an.

Ratatex sendiri merupakan akronim dari Rahman Tamin Textile. Rahman Tamin, pengusaha plus pejuang asal Sumatera Barat, itu tidak lain ayah kandung Sofjan Rahman Tamin. Almarhum Rahman Tamin dikenal sebagai sahabat dekat Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta. Karena itu, pabrik Ratatex di Balongbendo itu diresmikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada 17 Mei 1958.

"Bung Karno datang terlambat sekitar 30 menit. Beliau dengan tulus meminta maaf kepada Bung Hatta dan semua yang hadir karena terlambat," ujar Yoyok Widoyoko, penulis buku memoar Sofjan R. Tamin.

Menurut Yoyok, kehadiran Bung Karno dan Bung Hatta saat grand opening pabrik Ratatex di Balongbendo ini merupakan peristiwa bersejarah yang langka. Betapa tidak. Duet proklamator ini berpisah sejak Bung Hatta mengundurkan diri sebagai wakil presiden pada 1 Desember 1956. Berbagai upaya untuk menyatukan kembali dwitunggal ini pun gagal. Hanya Rahman Tamin yang mampu mengajak keduanya datang ke Balongbendo.

Prasasti peresmian pabrik Ratatex oleh Bung Karno dan Bung Hatta masih terlihat di kompleks pabrik seluas 12 hektare yang kini ditumbuhi rumput-rumput liar itu.
Selain Bung Karno dan Bung Hatta, teman karib Rahman Tamin semasa perjuangan, peresmian Ratatex juga dihadiri sejumlah menteri Kabinet Djuanda yang disebut Kabinet Karya. Di antaranya, Menteri Perindustrian Inkiriwang, Menteri Perdagangan Soenarjo, dan Menteri Keuangan Sutikno Slamet. Tak ketinggalan Gubernur Jatim R. Samadikun dan Bupati Sidoarjo.

Kehadiran Bung Karno, Bung Hatta, dan para pejabat penting itu menunjukkan betapa luasnya pergaulan dan jaringan Rahman Tamin yang lahir pada 1907 di Padang, Sumatera Barat, itu. "Rahman Tamin punya visi dan misi memproduksi tekstil yang murah dan layak bagi masyarakat Indonesia," ujar Yoyok yang melakukan riset cukup lama untuk menulis buku tentang Sofjan Rahman Tamin dan pernak-pernik Ratatex di Balongbendo.

Sejak awal Rahman Tamin ingin menjadikan Ratatex di Balongbendo sebagai kawasan industri terpadu (integrated industry) berbasis tekstil. Karena itu, lahan yang dipakai sangat luas. Total 12 hektare. Tujuh hektare untuk pabrik benang dan pabrik tenun dengan 500 mesin. Sisanya lima hektare untuk perumahan karyawan tetap.

"Saat itu pabrik pemintalan benang skala besar hanya dua buah, yakni di Cilacap dan Semarang. Sedangkan pabrik tenun baru ada di daerah Tegal dan Pasuruan," papar Yoyok yang kelahiran Surabaya.

Sebelum mendirikan Ratatex di Balongbendo, Rahman Tamin melakukan semacam studi banding di Belanda dan Jerman. Di situ ia melihat bahwa kain-kain berkualitas yang diimpor dari Belanda pada tahun 1950-an ternyata bahan bakunya didatangkan dari Jepang.

Rahman pun berpikir mengapa tidak membuat pabrik serupa di Indonesia. Harga kain pasti lebih murah. Pabrik itu juga bisa menyerap ratusan tenaga kerja. Sekaligus mendorong industrialisasi yang mulai didorong pemerintahan Presiden Soekarno setelah penjajah Belanda hengkang dari tanah air. Kita harus bisa berdikari: berdiri di atas kaki sendiri.

"Pemikiran Rahman Tamin sudah melampaui zamannya. Sudah menerapkan kaidah bisnis dan manajemen modern," ujar Yoyok.

Begitulah. Roda mesin Ratatex di Balongbendo berputar untuk mulai produksi pada Februari 1958. Awalnya pabrik ini menghasilkan 600 yard sehari. Kemudian berangsur naik jadi 30 ribu yard sehari. Kapasitas maksimum pabrik 50 ribu yard sehari. Sistem kerja dua shift. Ratatex memproduksi kain kembang yang selama ini diimpor dari Eropa.

Saat itu Ratatex mempekerjakan 200 karyawan tetap. Rahman Tamin juga mendatangkan lima orang dari Jerman sebagai konsultan atau expert. Ditambah tiga pakar tekstil asli Indonesia, yakni Rahmaniar (putri Rahman Tamin), R. Achmad Soerianata Djoemena (suami Rahmaniar), dan Kersim. Ratatex juga bekerja sama dengan sekolah-sekolah teknik di Sidoarjo dan sekitarnya sebagai sumber daya manusia (SDM) di masa depan.

Beroperasinya pabrik Ratatex di Balongbendo, menurut Yoyok, membuat Rahman Tamin layak disebut konglomerat pada masa itu. Sebab, pengusaha yang hanya menikmati pendidikan sampai kelas dua MULO ini sebelumnya lebih dikenal sebagai pedagang (trader) di bidang ekspor dan impor, perkebunan dan percetakan.

"Rahman Tamin hendak menjadikan Ratatex sebagai motor yang andal bagi Grup Rahman Tamin. Harapannya, Ratatex menjadi industri terpadu berbasis tekstil sehingga harga sandang dapat ditekan semakin murah namun berkualitas tinggi. Lebih dari itu, harapannya Indonesia tidak lagi bergantung kepada produk impor yang menyedot banyak devisa negara," tulis Yoyok Widoyoko dalam buku setebal 448 halaman ini.

Tidak salah kalau Rahman Tamin pernah mendapat julukan sebagai Raja Tekstil Murah di Indonesia. (rek)

No comments:

Post a Comment