15 June 2018

Makin atau Semakin atau Semangkin?

Apa bedanya MAKIN dan SEMAKIN?

Kayaknya sih sama saja. Biasa dipakai di media massa dan percakapan sehari-hari. Bisa ditukar karena dianggap identik. Sami mawon.

Pakai saja MAKIN. Lebih pendek. Hemat karakter. Begitu jawaban saya kepada mahasiswa magang jurusan Bahasa Indonesia, Universitas Negeri Surabaya.

Jawaban yang asal-asalan. Sekenanya saja. Sebab, makin dan semakin ini dianggap sinonim. Sama saja.

Benarkah begitu?

Solusi terbaik adalah buka kamus. Cukup mengecek KBBI daring (dalam jaring, online) di internet. Pasti ketemu jawabannya.

Memang betul KBBI sering tidak konsisten seperti dikritik beberapa kolumnis di majalah Tempo. Tapi secara umum penjelasan KBBI bisa dipertanggungjawabkan. Bisa jadi rujukan. Bukankah KBBI itu kamus baku bahasa Indonesia yang resmi?

Nah, penjelasan KBBI sangat sederhana.

SEMAKIN: bentuk tidak baku dari MAKIN.

MAKIN: kian bertambah.

Dulu, era Orde Baru, Presiden Soeharto selalu menggunakan MANGKIN dan SEMANGKIN. Ini juga bentuk yang tidak baku. Tapi diikuti banyak pejabat masa lalu. Agar mirip Pak Harto.

Begitulah. Persoalan kronis di Indonesia memang jarang buka kamus. Kata-kata baku, setengah baku, pasaran, prokem, slank... campur aduk. Bahkan para penulis buku + editor pun kurang cermat dalam memilih kata.

4 comments:

  1. Ketika orang Indonesia kewalahan mengartikan makna sebuah kata, maka dia akan mengecek di KBBI.
    Demikian pula ketika orang Jerman, Austria dan Swiss tidak mengerti makna sebuah kata, dia akan mengecek-nya di DUDEN.
    Likuidasi istilah Bahasa Indonesia = Liquidieren dalam bahasa Jerman. Umum nya likuidasi atau liquidieren dipakai dalam bidang usaha perekonomian.
    Contohnya: melikuidasi sebuah perusahaan, berarti menutup total atau membubarkan perusahaan tersebut.
    Tetapi jika dipakai dalam arti melikuidasi seorang manusia, maka artinya MEMBUNUH MANUSIA YANG DIMAKSUD.
    Kivlan Zein berpidato didepan umum : Likuidasi Jokowi ! Artinya Jelas : Bunuh Jokowi !
    Menghasut untuk membunuh seorang Kepala Negara yang dipilih rakyat secara sah, adalah Kejahatan yang sangat keterlaluan. Tidak ada alasan apa-pun yang dapat membenarkan ucapan-nya itu ! Kecuali si Kivlan Zein adalah orang-gila. Orang gila harus dikurung di Rumah Sakit Jiwa.
    Duden : jemanden liquidieren = an jemanden das Todesurteil vollstrecken.
    Tanya Bapak Habibie apakah kata2 saya ada yang salah.

    ReplyDelete
  2. Wong londo bilang PPS. Post power syndrome. Dokter bilang ODGJ.
    Orang kalau sudah kalap memang aneh2. Makin lama makin bablas angine. Makanya perlu obat yg manjur dari Jerman. Obat2an dari Tiongkok kurang sakti.
    Kamsia Xiansheng yg selalu mengamati perilaku politukus2 negeri ini.

    ReplyDelete
  3. Likuidasi itu maksudnya dibubarkan. Diganti yg baru. Soalnya dia merasa menang 62 persen. Mungkin logikanya begitu.

    ReplyDelete
  4. Tahun tahun terakhir ini, karena terlalu sering nya saya mendengarkan kata Allahu Akbar, Allahu Akbar, telinga saya jadi terbiasa. Bahkan saya merasa betapa merdu-nya kata tersebut, sangat tepat untuk mengobarkan semangat kaum Muslimin. Cocok, jos tenan, irama nya singkat tepat, bersemangat.
    Terus saya berimajinasi, bagaimana caranya mengobarkan semangat kaum katolik, semboyan apa yang harus dipakai.
    Nobiscum Deus, Nobiscum Deus ! Lha koq kedengaran-nya janggal tenan ! Gak cocok blass.
    Mungkin harus sering-sering diucapkan, didengungkan, agar juga kedengaran merdu.
    Seperti kamar kerja saya yang basin berbau asap rokok menyengat, istri dan anak-anak paling lama hanya tahan 30 detik masuk di ruangan itu, tetapi bagi saya pribadi, kamar kerja saya harum bak wangi-nya bau after shave Chanel.

    ReplyDelete