03 June 2018

Kebiasaan Misa Sabtu Sore di Jawa

Setiap hari Minggu pagi, pukul 04.00 sampai 05.00, Paul selalu mengirim pesan ini. Selamat hari Minggu, selamat beribadah dst. Beberapa orang asal NTT di Jawa pun suka mengirim pesan yang sama. Jangan lupa misa hari Minggu.

Ehm... biasanya pesan-pesan begini langsung saya hapus. Bikin memori penuh. Lagi pula gambar atau videonya bukan karya sendiri. Saya suka yang autentik meskipun jelek. Lebih baik mengetik pesan sendiri, huruf demi huruf, ketimbang cuman share dari sumber yang tidak jelas.

Saya sering tersenyum sendiri karena sudah lama tidak misa hari Minggu pagi. Biasanya malah sepedaan atau ikut ngurus Car Free Day di Alun-Alun Sidoarjo. Atau memperpanjang masa tidur. Memanjakan badan dan otak di kawasan pegunungan yang sejuk.

Lalu misanya kapan? SABTU sore. Atau Sabtu malam.

Sabtu 2 Juni 2018, kemarin, saya ikut misa di Pandaan. Romo Stanis Beda CM yang aksennya kental Flores Timur yang pimpin misa. Homili tentang tubuh dan darah Kristus.

Pater ini sempat guyon tentang kebiasaan orang yang suka antre makan enak di restoran. Padahal banyak kolesterolnya dan habis banyak duit. Makanan rohani yang justru lebih penting. Kira-kira itu yang saya ingat.

Awalnya memang aneh misa Sabtu sore untuk ekaristi hari Minggu. Sebab waktu masih anak-anak, di pelosok NTT, Lembata, tidak pernah ada misa Sabtu petang. Misa ya Minggu pagi. Misa Minggu sore juga tidak ada. Orang-orang kampung pasti sangat heran ada misa sore hari.

Setelah hijrah ke kota baru saya tahu ada misa Sabtu sore. Statusnya sama dengan misa hari Minggu. Awalnya saya rasa janggal. Sebab tidak sesuai dengan rumusan 5 Perintah Gereja yang saya hafal betul saat pelajaran agama Katolik di SD.

"Rayakanlah ekaristi kudus pada hari Minggu...," begitu antara lain bunyi perintah gereja. Bukan hari Sabtu.

Tapi lama-lama kok enak misa Sabtu sore. Hawanya lebih sejuk dan nyaman. Misa mulai pukul 17.00 jelang magrib. Selesai misa udara sejuk. Apalagi di Gereja Kayu Tangan, Malang. Pulang gereja bisa mampir ke Gramedia di depan gereja. Atau Sarinah, alun-alun, plaza, bioskop dsb. Kayu Tangan memang jantungnya Kota Malang.

Sejak itulah saya selalu berusaha untuk misa Sabtu sore. Apalagi di Surabaya dan Sidoarjo yang panas. Misa Minggu pagi biasanya mulai 07.30 atau 08.00 atau 09.00. Selepas misa selama 90 menit rasanya gerah. Sinar matahari makin membakar tubuh jemaat.

Iseng-iseng saya baca Warta Paroki Santa Theresia Pandaan, Keuskupan Malang. Gereja tua ini punya tiga sesi misa: Sabtu sore, Minggu pagi, dan Minggu sore. Umat yang misa Sabtu sore tergolong tinggi: 33%. Berarti 67% misa Minggu pagi dan sore.

Jemaat yang misa Minggu pagi di Pandaan 38%. Minggu sore hanya 28%.

Angka ini saya rasa hampir sama di gereja-gereja katolik di Jawa Timur. Di Surabaya persentase umat yang misa Sabtu sore kemungkinan lebih banyak lagi.

Data di Surabaya sih tidak ada. Tapi saya sering tidak dapat tempat di Gereja Roh Kudus, Puri Mas, Gununganyar, Surabaya. Padahal misa masih 30 menit lagi. Banyak sekali umat yang terpaksa duduk di luar gereja.

Bagaimana kalau umat Katolik lebih memilih misa Sabtu sore ketimbang Minggu? Bisa-bisa gereja justru sepi di hari Minggu yang sering dikatakan sebagai Hari Tuhan. Itu yang sempat saya pikirkan sejak lama.

Puji syukur, selama 30an tahun ini, sejak ada kebijakan alias diskresi, misa Sabtu sore, mayoritas umat Katolik di Indonesia jauh lebih banyak yang rajin misa hari Minggu. Khususnya Minggu pagi. Di Lembata, kampung asal saya, juga masih berlaku tradisi misa Minggu pagi. Bukan Minggu sore, apalagi Sabtu sore.

"Yang paling penting itu ya ke gereja. Mau hari Minggu, Sabtu, atau Senin Selasa Rabu Kamis Jumat ya sama saja. Ketimbang gak ke gereja sama sekali," ujar teman saya, bekas aktivis mahasiswa, yang agak liberal.

Paul yang asli Flores, yang rajin kirim ucapan selamat misa hari Minggu, itu rupanya orang Katolik konservatif. Orang-orang macam ini sangat dibutuhkan untuk mengawal liturgi dan tradisi gereja dari masa ke masa.

Apa jadinya kalau mayoritas orang Katolik memilih misa Sabtu sore? Bisa-bisa jadi Katolik Advent!

No comments:

Post a Comment