23 June 2018

Hindari kucing, tabrak manusia

Tiada hari tanpa kecelakaan lalu lintas (polisi: laka lantas) di Surabaya dan sekitarnya. Saya sampai bosan membaca berita laka lantas di koran. Penyebabnya hampir sama. Ugal-ugalan.

Di Krian, minggu lalu, ada laka lantas yang menarik. Seorang sopir yang ngebut kaget melihat kucing lewat. Takut menabrak binatang sakti itu. Mobilnya digeser ke kanan. Brakkk! Sepeda motor pun dihantam begitu saja.

Pengendara motor langsung wassalam. Tewas di jalan. Sopir menyesal tapi telat.

Di Pepelegi, Waru, kemarin lain lagi. Ada orang menyeberang jalan di jalur yang benar. Zebra cross depan Giant Waru. Sudah lampu hijau. Tanda penyeberang jalan boleh melintas.

Tapi pengendara sepeda motor dari selatan alias Sidoarjo tidak mau tahu dengan pejalan kaki yang sedang menyeberang di zebra cross. Bukannya dipelankan malah digas. Si pejalan kaki pun dihantam. Ambruk. Dibawa ke rumah sakit. Koma.

Sudah terlalu sering saya membahas perilaku pengendara kita yang ugal-ugalan. Tidak ada adab atau tata laku di jalan raya. Tidak punya respek pada pejalan kaki. Jangankan berhenti, pengemudi mobil dan motor di sini selalu mempercepat laju kendaraan. 

Bulan lalu pejalan kaki di depan Royal Wonokromo juga ditabrak. Justru di zebra cross. Mati. Entah sudah berapa banyak yang melayang sia-sia di jalan raya.

Rupanya orang Indonesia ini makin kehilangan unggah-ungguh di jalan raya. Bangsa yang katanya ramah, murah senyum, suka mengalah, ternyata begitu sadis di jalan raya. Kurang menghargai nyawa orang lain. Khususnya pejalan kaki. 

Pengendara mobil dan motor justru lebih takut sama kucing.

No comments:

Post a Comment