02 June 2018

Bella Bello Perupa Korban Lumpur


Sudah 12 tahun semburan lumpur terjadi di kawasan Porong bagian timur. Selama itu pula Mochammad Al-Insan Bella Bello kehilangan rumah dan kampung halamannya di Desa Siring. Namun, putra almarhum Luqman Azis, pelukis kawakan itu, tidak ingin larut dalam kesedihan.

Saat ini Bello pindah domisi ke Desa Penambangan, Kecamatan Balongbendo. Seperti ayahnya, Bello pun aktif menghidupi seni rupa. Jalan kesenian rupanya telah menjadi sumber nafkah bagi pria yang murah senyum ini. Tempat workshop-nya pun selalu jadi jujukan anak-anak hingga mahasiswa yang ingin melihat proses kreatifnya, diskusi, hingga mencari bahan-bahan untuk penulisan skripsi.

Bersamaan dengan 12 tahun tragedi semburan lumpur, 29 Mei 2018, Bello menulis catatan menarik. Dia ingin agar warga desa-desa terdampak lumpur tidak larut dalam kesedihan berkepanjangan.

Bello menulis:

''Fokus pada kehidupan yang baru adalah pilihan mutlak. Sementara ini yang bisa kami lakukan hanyalah melupakan kesedihannya saja biar kita tidak larut di sana. Sekarang waktunya kita songsong kehidupan yang baru dengan lebih gembira, karena sejatinya hajat hidup ini memang harus dirayakan.''

Perupa yang sudah beberapa kali mengadakan pameran di Sidoarjo, Surabaya, Jember, dan beberapa kota lain itu menambahkan:

''Kita terus bekerja, kita terus berkarya, dan sebisa mungkin kita lakukan hal-hal positif dengan cara kita masing-masing apa pun profesi kita. Semua itu kita lalukan sebagai bentuk kecintaan kita terhadap tempat asal kita. Kita hidup di tempat yang baru, tapi tetap selalu berusaha mengharumkan tempat asal kita yang sudah hilang. Sebab, cuma itu darma bhakti yang bisa kita lakukan. Desa sudah hilang, minimal baunya masih wangi dan menggema, suaranya tidak sumbang."

Dia bersyukur karena masalah ganti rugi tanah dan bangunan dari keluarganya, alhamdulillah, sudah beres semua. Namun, dia tidak menutup mata masih ada persoalan yang dialami sejumlah korban lumpur asal Siring, Jatirejo, Renokenongo, Kedungbendo, dan sebagainya. Ini karena proses pembayaran ganti rugi itu menggunakan beberapa skema. Ada cash and carry, cash and resettlement, hingga relokasi. Masing-masing skema punya kelebihan dan kekurangan.

''Jadi, tidak bisa digeneralisasi,'' kata mantan aktivis pemuda Desa Siring itu.

Lantas, ke mana saja ribuan warga Siring dan sekitarnya pascatragedi mud volvano itu?

Bello mengaku tidak punya data. Yang pasti, saat ini warga Siring dan desa-desa lain yang terdampar lumpur sudah tersebar ke mana-mana. Sebagian masih di wilayah Kabupaten Sidoarjo, seperti Bello dan keluarga, sebagian lagi di luar Sidoarjo. Mulai Pasuruan, Mojokerto, Surabaya, bahkan keluar Provinsi Jatim.

''Alhamdulillah, masih ada silaturahmi warga (eks Desa Siring) meskipun hanya sekadar bikin acara kumpul-kumpul reunian, ziarah makan yang tenggelam ke tanggul lumpur. Sanak saudara punya hajat, kami berusaha datang. Atau sekadar tidak sengaja ketemu di jalan,'' tuturnya.

Keberadaan media sosial dalam lima tahun terakhir juga dimanfaatkan warga eks Desa Siring untuk silaturahmi di jagat maya. Saling berbagi cerita tentang kondisi warga yang sudah tersebar ke mana-mana itu.

''Lusi atau Lumpur Sidoarjo bagi saya pribadi, dan mungkin seluruh korban baik yang terdampak langsung maupun tak langsung, merupakan suatu peradaban baru kehidupan warga Sidoarjo pada umumnya, dan Porong pada khususnya.

Kami tidak akan bisa melupakan tanah air kelahiran kami. Terlalu banyak cerita di sana baik suka maupun duka. tapi hidup harus terus berjalan,'' katanya.

Sebagai seniman muda yang lahir di Siring, hanya sekitar 500 meter dari pusat semburan, Bello mengaku ingin membuat karya seni rupa 'yang joss' di tanggul lumpur. Konsepnya karya instalasi dari plastik. "Tapi harus besar. Makanya, saya lagi nyiapkan power,'' katanya.

1 comment:

  1. Filosofi mas Bello seperti ajaran Siddhartha Gautama.

    ReplyDelete