23 June 2018

Banyak gereja tapi bukan Katolik

Di depan vila tua ini ada gereja. GMAHK: Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Bangunan lawas yang antik. Halamannya luas.

Di sebelah timur ada Bukit Doa. Lengkap dengan gereja. Aliran karismatik. Biasa jadi tempat retret orang Kristen dari Surabaya.

Tidak jauh dari Bukit Doa, cuma 10 meteran, juga ada GPDI: Gereja Pentakosta di Indonesia. Tidak setua gereja advent. Tapi kelihatannya lebih ramai.

Di bawah, 40an meter, ada Yayasan Bakti Oekumene Sosial. Pasti ada gerejanya. Juga aliran karismatik atau pentakosta.

"Gereja Katoliknya mana?" tanya saya. Cuma ngetes saja.

Bapak pengurus vila itu tidak tahu. Tahunya ya di dekat sini ada beberapa gereja. Dus, tidak perlu jauh-jauh kalau mau beribadat. "Kan sama-sama Nasrani," katanya.

Klise banget. Sangat sulit bagi orang non-Kristiani di Indonesia, khususnya Jawa, yang bisa membedakan aliran atau denominasi gereja. Semua gereja disebut Nasrani. Titik. Orang Advent disamakan dengan Katolik atau Protestan. Dianggap sama dengan Protestan atau Pentakosta.

Karena itu, bapak pengurus vila ini heran mengapa saya harus turun jauh (30an menit) untuk misa. Istilah misa pun asing bagi dia. "Di sini buanyaak gereja kok sampean cari yang jauh," ujarnya dalam bahasa Jawa ngoko.

Di perjalanan saya refleksi percakapan singkat dengan bapak tua tadi. Dia tidak sepenuhnya salah. Gereja ikut membuat situasi seperti ini. Terlalu banyak aliran. Denominasi. Kitab sucinya sama, doktrin sama (tidak beda jauh), tapi tidak bisa beribadat bersama. Kecuali saat Natal bersama. Itu pun lebih ke seremonial.

Beda banget dengan saudara-saudari kita yang muslim. Apa pun aliran atau ormasnya - Muhammadiyah, Nahdliyin, dsb - bisa dengan asyik salat berjamaah di masjid yang sama. Tak peduli masjid milik NU, Muhammadiyah, dsb. Kecuali jumlah rakaat salat tarawih yang tidak sama.

Saya dengan ada jamaah aliran tertentu yang rada eksklusif. Umatnya tidak mau beribadat di masjid mainstream. Sebaliknya, mereka juga tidak suka jamaah yang bukan alirannya salat di masjid mereka. Tapi aliran yang agak eksklusif macam ini tidak banyak di Indonesia.

Mungkinkah suatu ketika jemaat kristiani dari berbagai aliran bisa bersatu? Itu sih harapan lawas. Gerakan ekumene sudah tua umurnya. Tapi belum ada tanda-tanda terwujud. 

Yang ada justru gereja-gereja terus membelah diri. Bikin gereja baru meskipun alirannya sama. Beda banget dengan perpecahan Katolik dan Protestan pada era Luther yang dipicu masalah doktrin + politik. Sekarang makin banyak orang yang senang jadi pendeta dan ingin punya gereja sendiri.

2 comments:

  1. Nama nama gereja yang di sebut dekat rumah saya.pandaan.

    ReplyDelete
  2. leres mas... kawasan air terjun putuk truno. depannya ada hotel miliknya pak jos sutomo taipan kayu pimpinan komunitas muslim tionghoa. menarik karena banyak tempat religius di lokasi yg adem. tidak terlalu jauh ada rumah retret punyanya mawar sharon dan kongregasi SVD (katolik) graha wacana di ledug. semuanya tempat bagus untuk istirahat setelah stres kerja di surabaya sidoarjo yg panas.

    ReplyDelete