30 June 2018

Argentina 1986 vs Argentina 2018




Argentina sebetulnya sudah nyaris amblas. Untung masih dilindungi dewi fortuna di Russia. Messi dkk akhirnya lolos ke 16 besar Piala Dunia 2018.

Saya pendukung Argentina sejak sekolah dasar di pelosok utara NTT. Ketika belum ada televisi. Ketika masih "menonton" Maradona di radio. Membayangkan betapa hebatnya Maradona pada Piala Dunia 1986. Kok bisa cetak gol pakai tangan. Tangan Tuhan!

Siaran pandangan mata RRI waktu itu memang luar biasa... untuk saya yang anak-anak. Begitu hidup. Kita yang cuma nguping di depan radio seakan-akan berada di dalam stadion. Menonton langsung aksi Maradona.

Ketika menonton rekaman Maradona dan Argentina sekian tahun kemudian, di kota, wuih... ternyata Maradona jauh lebih hebat ketimbang bayangan saya. Di luar imajinasi anak-anak kampung di Pulau Lembata. Kok bisa ada pemain bola yang jenius luar biasa macam Maradona.

Sejak anak-anak pula saya pakai kaos Maradona. Argentina 1986. Maka sejak itu Argentina selalu nempel di hati saya. Meskipun penampilan Argentina tidak sedahsyat ketika Maradona di usia emasnya. Argentina masih bagus tapi jauh di bawah era Maradona, Valdano, Brown, Buruchaga dan kawan-kawan.

Di Rusia 2018 ini Argentina punya Messi. Pemain terbaik di dunia. Tapi Messi bukan Maradona. Usianya bukan usia emas macam Maradona di Argentina 1986. Karakter Messi juga beda banget dengan Maradona yang mampu menghidupkan teman-temannya yang kalah kelas.

Messi terbiasa dikelilingi pemain-pemain terbaik dunia di Barcelona. Skema permainan Barca juga dirancang untuk memaksimalkan kejeniusan Messi. Inilah yang bikin Messi begitu mudah mencetak gol saat memperkuat Barcelona.

Di Argentina Messi jarang dapat umpan yang bagus. Teman-temannya juga masih sering salah pengertian. Karena itu, jangan salahkan Messi kalau dia tidak bisa bermain sebagus di Barcelona.

Semoga saja Messi bisa meloloskan Argentina sejauh mungkin di Rusia 2018.

Argentina 1986.
Argentina 2018.

Tidak terasa sudah 32 tahun saya jadi pendukung Argentina.

3 comments:

  1. Baru 32 tahun? Berarti anda tidak mengalami 1978, ketika Mario Kempes dkk. mengalahkan 3-1 tim Belanda (yang tidak diperkuat Johan Cruyff, yg bersengketa dengan pelatih Belanda).

    ReplyDelete
  2. Saya sempat salaman sama Mario Kempes di ujung karirnya. Ketika jadi pemain Galatama memperkuat Pelita Jaya bermain di Gajayana Malang. Sudah ketuaan untuk pemain bola tapi gorengannya masih ciamik. Kalo gak salah Pelita yang jadi juara berkat Mario Kempes.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya bahkan gak tahu kalau Kempes pernah main di Galatama.

      Delete