30 June 2018

Argentina 1986 vs Argentina 2018




Argentina sebetulnya sudah nyaris amblas. Untung masih dilindungi dewi fortuna di Russia. Messi dkk akhirnya lolos ke 16 besar Piala Dunia 2018.

Saya pendukung Argentina sejak sekolah dasar di pelosok utara NTT. Ketika belum ada televisi. Ketika masih "menonton" Maradona di radio. Membayangkan betapa hebatnya Maradona pada Piala Dunia 1986. Kok bisa cetak gol pakai tangan. Tangan Tuhan!

Siaran pandangan mata RRI waktu itu memang luar biasa... untuk saya yang anak-anak. Begitu hidup. Kita yang cuma nguping di depan radio seakan-akan berada di dalam stadion. Menonton langsung aksi Maradona.

Ketika menonton rekaman Maradona dan Argentina sekian tahun kemudian, di kota, wuih... ternyata Maradona jauh lebih hebat ketimbang bayangan saya. Di luar imajinasi anak-anak kampung di Pulau Lembata. Kok bisa ada pemain bola yang jenius luar biasa macam Maradona.

Sejak anak-anak pula saya pakai kaos Maradona. Argentina 1986. Maka sejak itu Argentina selalu nempel di hati saya. Meskipun penampilan Argentina tidak sedahsyat ketika Maradona di usia emasnya. Argentina masih bagus tapi jauh di bawah era Maradona, Valdano, Brown, Buruchaga dan kawan-kawan.

Di Rusia 2018 ini Argentina punya Messi. Pemain terbaik di dunia. Tapi Messi bukan Maradona. Usianya bukan usia emas macam Maradona di Argentina 1986. Karakter Messi juga beda banget dengan Maradona yang mampu menghidupkan teman-temannya yang kalah kelas.

Messi terbiasa dikelilingi pemain-pemain terbaik dunia di Barcelona. Skema permainan Barca juga dirancang untuk memaksimalkan kejeniusan Messi. Inilah yang bikin Messi begitu mudah mencetak gol saat memperkuat Barcelona.

Di Argentina Messi jarang dapat umpan yang bagus. Teman-temannya juga masih sering salah pengertian. Karena itu, jangan salahkan Messi kalau dia tidak bisa bermain sebagus di Barcelona.

Semoga saja Messi bisa meloloskan Argentina sejauh mungkin di Rusia 2018.

Argentina 1986.
Argentina 2018.

Tidak terasa sudah 32 tahun saya jadi pendukung Argentina.

27 June 2018

Mengenang kejayaan Ratatex di Balongbendo Sidoarjo



Sofjan R. Tamin beberapa waktu lalu menerbitkan buku memoar berjudul Character First: Berbisnis dengan Jalan Lurus. Pemilik pabrik mur dan baut ternama ini juga menceritakan pabrik tekstil Ratatex di Desa Balongbendo, Kecamatan Balongbendo, yang kini tinggal sejarah. Padahal Ratatex pernah menjadi salah satu pabrik tekstil terbesar di tanah air pada era 1960-an.

Ratatex sendiri merupakan akronim dari Rahman Tamin Textile. Rahman Tamin, pengusaha plus pejuang asal Sumatera Barat, itu tidak lain ayah kandung Sofjan Rahman Tamin. Almarhum Rahman Tamin dikenal sebagai sahabat dekat Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta. Karena itu, pabrik Ratatex di Balongbendo itu diresmikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada 17 Mei 1958.

"Bung Karno datang terlambat sekitar 30 menit. Beliau dengan tulus meminta maaf kepada Bung Hatta dan semua yang hadir karena terlambat," ujar Yoyok Widoyoko, penulis buku memoar Sofjan R. Tamin.

Menurut Yoyok, kehadiran Bung Karno dan Bung Hatta saat grand opening pabrik Ratatex di Balongbendo ini merupakan peristiwa bersejarah yang langka. Betapa tidak. Duet proklamator ini berpisah sejak Bung Hatta mengundurkan diri sebagai wakil presiden pada 1 Desember 1956. Berbagai upaya untuk menyatukan kembali dwitunggal ini pun gagal. Hanya Rahman Tamin yang mampu mengajak keduanya datang ke Balongbendo.

Prasasti peresmian pabrik Ratatex oleh Bung Karno dan Bung Hatta masih terlihat di kompleks pabrik seluas 12 hektare yang kini ditumbuhi rumput-rumput liar itu.
Selain Bung Karno dan Bung Hatta, teman karib Rahman Tamin semasa perjuangan, peresmian Ratatex juga dihadiri sejumlah menteri Kabinet Djuanda yang disebut Kabinet Karya. Di antaranya, Menteri Perindustrian Inkiriwang, Menteri Perdagangan Soenarjo, dan Menteri Keuangan Sutikno Slamet. Tak ketinggalan Gubernur Jatim R. Samadikun dan Bupati Sidoarjo.

Kehadiran Bung Karno, Bung Hatta, dan para pejabat penting itu menunjukkan betapa luasnya pergaulan dan jaringan Rahman Tamin yang lahir pada 1907 di Padang, Sumatera Barat, itu. "Rahman Tamin punya visi dan misi memproduksi tekstil yang murah dan layak bagi masyarakat Indonesia," ujar Yoyok yang melakukan riset cukup lama untuk menulis buku tentang Sofjan Rahman Tamin dan pernak-pernik Ratatex di Balongbendo.

Sejak awal Rahman Tamin ingin menjadikan Ratatex di Balongbendo sebagai kawasan industri terpadu (integrated industry) berbasis tekstil. Karena itu, lahan yang dipakai sangat luas. Total 12 hektare. Tujuh hektare untuk pabrik benang dan pabrik tenun dengan 500 mesin. Sisanya lima hektare untuk perumahan karyawan tetap.

"Saat itu pabrik pemintalan benang skala besar hanya dua buah, yakni di Cilacap dan Semarang. Sedangkan pabrik tenun baru ada di daerah Tegal dan Pasuruan," papar Yoyok yang kelahiran Surabaya.

Sebelum mendirikan Ratatex di Balongbendo, Rahman Tamin melakukan semacam studi banding di Belanda dan Jerman. Di situ ia melihat bahwa kain-kain berkualitas yang diimpor dari Belanda pada tahun 1950-an ternyata bahan bakunya didatangkan dari Jepang.

Rahman pun berpikir mengapa tidak membuat pabrik serupa di Indonesia. Harga kain pasti lebih murah. Pabrik itu juga bisa menyerap ratusan tenaga kerja. Sekaligus mendorong industrialisasi yang mulai didorong pemerintahan Presiden Soekarno setelah penjajah Belanda hengkang dari tanah air. Kita harus bisa berdikari: berdiri di atas kaki sendiri.

"Pemikiran Rahman Tamin sudah melampaui zamannya. Sudah menerapkan kaidah bisnis dan manajemen modern," ujar Yoyok.

Begitulah. Roda mesin Ratatex di Balongbendo berputar untuk mulai produksi pada Februari 1958. Awalnya pabrik ini menghasilkan 600 yard sehari. Kemudian berangsur naik jadi 30 ribu yard sehari. Kapasitas maksimum pabrik 50 ribu yard sehari. Sistem kerja dua shift. Ratatex memproduksi kain kembang yang selama ini diimpor dari Eropa.

Saat itu Ratatex mempekerjakan 200 karyawan tetap. Rahman Tamin juga mendatangkan lima orang dari Jerman sebagai konsultan atau expert. Ditambah tiga pakar tekstil asli Indonesia, yakni Rahmaniar (putri Rahman Tamin), R. Achmad Soerianata Djoemena (suami Rahmaniar), dan Kersim. Ratatex juga bekerja sama dengan sekolah-sekolah teknik di Sidoarjo dan sekitarnya sebagai sumber daya manusia (SDM) di masa depan.

Beroperasinya pabrik Ratatex di Balongbendo, menurut Yoyok, membuat Rahman Tamin layak disebut konglomerat pada masa itu. Sebab, pengusaha yang hanya menikmati pendidikan sampai kelas dua MULO ini sebelumnya lebih dikenal sebagai pedagang (trader) di bidang ekspor dan impor, perkebunan dan percetakan.

"Rahman Tamin hendak menjadikan Ratatex sebagai motor yang andal bagi Grup Rahman Tamin. Harapannya, Ratatex menjadi industri terpadu berbasis tekstil sehingga harga sandang dapat ditekan semakin murah namun berkualitas tinggi. Lebih dari itu, harapannya Indonesia tidak lagi bergantung kepada produk impor yang menyedot banyak devisa negara," tulis Yoyok Widoyoko dalam buku setebal 448 halaman ini.

Tidak salah kalau Rahman Tamin pernah mendapat julukan sebagai Raja Tekstil Murah di Indonesia. (rek)

23 June 2018

Selamat Jalan Mas Totok Pudjianto! Maestro Musik Liturgi



Minggu, 17 Juni 2018, umat Katolik Indonesia kembali kehilangan komposer musik liturgi. Y. Totok Pudjianto kembali ke pangkuan-Nya. Adik kandung almarhum A. Riyanto ini disemayamkan di Gereja Santo Leo Agung, Bekasi, sebelum dikebumikan.

Selamat jalan Mas Totok!
Resquescat in pace!

Umat Katolik di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, niscaya tidak asing dengan Y. Totok Pudjianto. Mas Totok menciptakan lagu-lagu liturgi Katolik gaya baru yang lebih segar. Ada nuansa klasik, pop, dengan syair yang puitis dan melodius.

Lagu-lagu ciptaan Mas Totok berbeda dengan lagu liturgi ala Pusat Musik Liturgi (PML) yang inkulturatif. Juga beda dengan lagu-lagu liturgi di Flores NTT yang sederhana dan pendek. Musik Mas Totok agak bernuansa praise and worship. Tapi liriknya sangat Katolik.

Dalam setiap perayaan ekaristi penerimaan sakramen pernikahan.. wuih... karya Mas Totok sudah seperti lagu wajib nikahan. Yakni BERKATILAH, dinyanyikan saat sungkeman. Bisa dipastikan kedua mempelai, orang tua, sanak kerabat berlinang air mata. Saking indahnya melodi dan syair lagunya Mas Totok.

BAPA YANG DI SURGA
KAMI BERDUA
BERSUJUD DI DEPANMU
DI ALTAR MULIA

SALING MENGUCAP KATA
BERJANJI SETIA
.......

Selain BERKATILAH, lagu Mas Totok yang paling terkenal di gereja adalah Bapa Kami. Biasa disebut Bapa Kami Totok Pudjianto. Lagunya enak, megah, membuat umat menyanyi dengan syahdu. Saingannya Bapa Kami versi Linus Putut Pudyantoro. Mas Putut lebih dahulu menghadap Bapa di surga pada 27 November 2017.

Begitu banyak orang yang mengarang lagu liturgi. Apalagi lagu pop cinta-cintaan. Tapi menurut saya tidak sekuat karya-karya Mas Totok (dan Mas Putut). Mungkin inilah yang disebut bakat. Talenta khusus. Mas Totok tidak syak lagi memiliki bakat musikal tingkat tinggi macam kakaknya, Aloysius Riyanto. Legenda musik pop Indonesia itu.

"Om Totok sedang merekam lagu Mari Bersyukur. Tapi beliau keburu dipanggil Tuhan," ujar Lisa A. Riyanto, keponakan Mas Totok. Lisa berjanji segera menyelesaikan rekaman itu. Agar bisa dinikmati umat kristiani di tanah air.

Tadinya saya pikir Mas Totok Pudjianto hanya kondang di kalangan Katolik. Khususnya anggota kor stasi, kring, lingkungan, paroki, hingga kategorial. Ternyata koran umum Kompas sempat menulis berita kepergian Mas Totok.

"Totok adalah pencipta lagu-lagu rohani yang bermelodi indah tetapi mudah dinyanyikan," tulis Kompas.

Mas Totok memang rajanya melodi indah. Tapi mudah dinyanyikan?

Berdasarkan kajian saya sejak era Jubilate, Syukur Kepada Bapa, Madah Bakti, Puji Syukur, Kidung Jemaat dan partitur liturgi lainnya, lagu-lagu Mas Totok tidak bisa dibilang mudah. Biasanya ada nada kromatis, chord yang variatif, hingga modulasi. Nada tertingginya juga tidak bisa dianggap ringan.

Contohnya: lagu Kasih (berdasar 1 Korintus 13). Di setiap bait atau verse ada perubahan nuansa. Modulasi atau perubahan tangga nada beberapa kali. Karena itu, tidak bisa masuk Puji Syukur. Biasanya dinyanyikan kor-kor yang sering berlatih dengan kemampuan di atas rata-rata.

Hidup itu singkat, seni itu abadi! Mas Totok dan Mas Putut sudah tiada. Tapi lagu-lagu kedua komposer hebat era 90an dan 2000an ini akan tetap abadi.

Hindari kucing, tabrak manusia

Tiada hari tanpa kecelakaan lalu lintas (polisi: laka lantas) di Surabaya dan sekitarnya. Saya sampai bosan membaca berita laka lantas di koran. Penyebabnya hampir sama. Ugal-ugalan.

Di Krian, minggu lalu, ada laka lantas yang menarik. Seorang sopir yang ngebut kaget melihat kucing lewat. Takut menabrak binatang sakti itu. Mobilnya digeser ke kanan. Brakkk! Sepeda motor pun dihantam begitu saja.

Pengendara motor langsung wassalam. Tewas di jalan. Sopir menyesal tapi telat.

Di Pepelegi, Waru, kemarin lain lagi. Ada orang menyeberang jalan di jalur yang benar. Zebra cross depan Giant Waru. Sudah lampu hijau. Tanda penyeberang jalan boleh melintas.

Tapi pengendara sepeda motor dari selatan alias Sidoarjo tidak mau tahu dengan pejalan kaki yang sedang menyeberang di zebra cross. Bukannya dipelankan malah digas. Si pejalan kaki pun dihantam. Ambruk. Dibawa ke rumah sakit. Koma.

Sudah terlalu sering saya membahas perilaku pengendara kita yang ugal-ugalan. Tidak ada adab atau tata laku di jalan raya. Tidak punya respek pada pejalan kaki. Jangankan berhenti, pengemudi mobil dan motor di sini selalu mempercepat laju kendaraan. 

Bulan lalu pejalan kaki di depan Royal Wonokromo juga ditabrak. Justru di zebra cross. Mati. Entah sudah berapa banyak yang melayang sia-sia di jalan raya.

Rupanya orang Indonesia ini makin kehilangan unggah-ungguh di jalan raya. Bangsa yang katanya ramah, murah senyum, suka mengalah, ternyata begitu sadis di jalan raya. Kurang menghargai nyawa orang lain. Khususnya pejalan kaki. 

Pengendara mobil dan motor justru lebih takut sama kucing.

Banyak gereja tapi bukan Katolik

Di depan vila tua ini ada gereja. GMAHK: Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Bangunan lawas yang antik. Halamannya luas.

Di sebelah timur ada Bukit Doa. Lengkap dengan gereja. Aliran karismatik. Biasa jadi tempat retret orang Kristen dari Surabaya.

Tidak jauh dari Bukit Doa, cuma 10 meteran, juga ada GPDI: Gereja Pentakosta di Indonesia. Tidak setua gereja advent. Tapi kelihatannya lebih ramai.

Di bawah, 40an meter, ada Yayasan Bakti Oekumene Sosial. Pasti ada gerejanya. Juga aliran karismatik atau pentakosta.

"Gereja Katoliknya mana?" tanya saya. Cuma ngetes saja.

Bapak pengurus vila itu tidak tahu. Tahunya ya di dekat sini ada beberapa gereja. Dus, tidak perlu jauh-jauh kalau mau beribadat. "Kan sama-sama Nasrani," katanya.

Klise banget. Sangat sulit bagi orang non-Kristiani di Indonesia, khususnya Jawa, yang bisa membedakan aliran atau denominasi gereja. Semua gereja disebut Nasrani. Titik. Orang Advent disamakan dengan Katolik atau Protestan. Dianggap sama dengan Protestan atau Pentakosta.

Karena itu, bapak pengurus vila ini heran mengapa saya harus turun jauh (30an menit) untuk misa. Istilah misa pun asing bagi dia. "Di sini buanyaak gereja kok sampean cari yang jauh," ujarnya dalam bahasa Jawa ngoko.

Di perjalanan saya refleksi percakapan singkat dengan bapak tua tadi. Dia tidak sepenuhnya salah. Gereja ikut membuat situasi seperti ini. Terlalu banyak aliran. Denominasi. Kitab sucinya sama, doktrin sama (tidak beda jauh), tapi tidak bisa beribadat bersama. Kecuali saat Natal bersama. Itu pun lebih ke seremonial.

Beda banget dengan saudara-saudari kita yang muslim. Apa pun aliran atau ormasnya - Muhammadiyah, Nahdliyin, dsb - bisa dengan asyik salat berjamaah di masjid yang sama. Tak peduli masjid milik NU, Muhammadiyah, dsb. Kecuali jumlah rakaat salat tarawih yang tidak sama.

Saya dengan ada jamaah aliran tertentu yang rada eksklusif. Umatnya tidak mau beribadat di masjid mainstream. Sebaliknya, mereka juga tidak suka jamaah yang bukan alirannya salat di masjid mereka. Tapi aliran yang agak eksklusif macam ini tidak banyak di Indonesia.

Mungkinkah suatu ketika jemaat kristiani dari berbagai aliran bisa bersatu? Itu sih harapan lawas. Gerakan ekumene sudah tua umurnya. Tapi belum ada tanda-tanda terwujud. 

Yang ada justru gereja-gereja terus membelah diri. Bikin gereja baru meskipun alirannya sama. Beda banget dengan perpecahan Katolik dan Protestan pada era Luther yang dipicu masalah doktrin + politik. Sekarang makin banyak orang yang senang jadi pendeta dan ingin punya gereja sendiri.

15 June 2018

Makin atau Semakin atau Semangkin?

Apa bedanya MAKIN dan SEMAKIN?

Kayaknya sih sama saja. Biasa dipakai di media massa dan percakapan sehari-hari. Bisa ditukar karena dianggap identik. Sami mawon.

Pakai saja MAKIN. Lebih pendek. Hemat karakter. Begitu jawaban saya kepada mahasiswa magang jurusan Bahasa Indonesia, Universitas Negeri Surabaya.

Jawaban yang asal-asalan. Sekenanya saja. Sebab, makin dan semakin ini dianggap sinonim. Sama saja.

Benarkah begitu?

Solusi terbaik adalah buka kamus. Cukup mengecek KBBI daring (dalam jaring, online) di internet. Pasti ketemu jawabannya.

Memang betul KBBI sering tidak konsisten seperti dikritik beberapa kolumnis di majalah Tempo. Tapi secara umum penjelasan KBBI bisa dipertanggungjawabkan. Bisa jadi rujukan. Bukankah KBBI itu kamus baku bahasa Indonesia yang resmi?

Nah, penjelasan KBBI sangat sederhana.

SEMAKIN: bentuk tidak baku dari MAKIN.

MAKIN: kian bertambah.

Dulu, era Orde Baru, Presiden Soeharto selalu menggunakan MANGKIN dan SEMANGKIN. Ini juga bentuk yang tidak baku. Tapi diikuti banyak pejabat masa lalu. Agar mirip Pak Harto.

Begitulah. Persoalan kronis di Indonesia memang jarang buka kamus. Kata-kata baku, setengah baku, pasaran, prokem, slank... campur aduk. Bahkan para penulis buku + editor pun kurang cermat dalam memilih kata.

14 June 2018

Untung Ada Piala Dunia 2018

Selamat mudik!
Selamat berlebaran!
Mohon maaf lahir batin!

Bulan puasa akhirnya berlalu. Lebaran tiba. Eh, kebetulan malam takbiran bersamaan dengan pembukaan Piala Dunia 2018 di Rusia.

Rusia vs Arab Saudi. Opening game.

Rupanya FIFA dan Rusia, yang bekas komunis, tidak tahu bahwa jadwal Piala Dunia ini bersamaan dengan Idul Fitri. Pemain-pemain Arab Saudi harus puasa saat persiapan. Tentu bukan persiapan yang bagus untuk menghadapi tuan rumah.

Rusia memang tidak setangguh Uni Sovyet dulu. Yang selalu main cepat, kompak, semangat, full energi. Tapi pemain-pemain Rusia tidak puasa. Pasti punya keunggulan fisik ketimbang pemain-pemain Saudi.

Begitu pula pemain-pemain Mesir. Mo Salah dkk tidak bisa berlebaran di kampung halamannya. Mesir harus tampil pada hari kedua menghadapi Uruguay. Tim kuat Amerika Latin. Yang punya Suarez.

Yang pasti, Piala Dunia 2018 datang di saat yang tepat. Membuat saya kembali menonton televisi. Setelah puasa sebulan karena acara-acaranya melulu tentang puasa, khotbah, ceramah, banyolan jelang sahur, artis-artis berpuasa dan sejenisnya.

Saya cuma sekali menonton program Ramadan di RCTI. Itu pun karena ada Via Vallen yang tampil di Lapangan Albatros Sedati Sidoarjo. Kebetulan malam itu saya melintas di kawasan Juanda Airport dan jalanan macet.
Oh... Via Vallen pulang kampung. Nyanyi lagu islami + ngaji ayat pendek. Via Vallen kini sudah jadi bintang paling top di Indonesia. Beda banget dengan ketika pertama kali saya liput dia semasa masih ikut orkes lokal di Sidoarjo.

Apa jadinya jika tidak ada Piala Dunia?

Semua televisi pasti ribut soal mudik. Macet panjang di sini, di sana, liputan di bandara, jalan tol dsb. Tradisi lama yang selalu berulang.

Kemudian hiburan yang nyaris klise tentang pernak-pernik hari raya. Liburan yang tahun ini sangat panjang, dua minggu, ikut memperpanjang program-program klise di televisi. Sampai bosan.

Satu bulan puasa + dua minggu Lebaran!

Syukurlah, ada Piala Dunia!
Syukurlah, Trans TV menyiarkan laga-laga Piala Dunia!

Tumben! Trans TV dari dulu tidak punya jejak sepak bola atau olahraga. Acaranya hiburan melulu. Yang tidak pernah saya tonton.

Mulai malam ini saya nonton Trans TV. Khusus balbalan Piala Dunia. Hidup Trans TV!

Tren Hotel Syariah di Sidoarjo

Orang Indonesia makin religius. Makin islami. Tengok saja televisi anda. Atau media sosial. Konten-konten islami berseliweran. Ceramah-ceramah ustad paling laku di Youtube.

Rupanya gaya hidup islami ini juga ditangkap kalangan pengusaha. Ada bisnis cuci pakaian syariah. Hotel syariah. Penginapan syariah. Ada lagi ojek syariah. Air minum syariah dsb.

Hampir setiap hari saya melintas di kawasan Juanda Kecamatan Sedati, Sidoarjo. Di situ ada Hotel Walan Syariah. Apa bedanya dengan hotel biasa? Tentu unsur syariahnya itu. Pasti lebih islami, pikir saya.

Haram hukumnya laki perempuan tidur di dalam satu kamar jika bukan suami istri. Surat nikah kudu ditunjukkan saat check-in. Tidak ada ruang untuk selingkuh. Apalagi membawa cewek nakal.

Benarkah demikian? Erisa Putri, Public Relations Hotel Walan Syariah Sidoarjo, membenarkannya.

"Dijamin bebas PSK. Makanan dan minuman dijamin halal," kata Erisa Putri.

Masih banyak lagi elemen yang harus dipenuhi agar sebuah hotel atau penginapan layak diberi predikat syariah. Namun, Erisa buru-buru menambahkan bahwa Walan Hotel tidak membeda-bedakan agama tamu. Siapa saja, apa pun agamanya, boleh menginap di hotel syariah di jalan raya Desa Betro, Sedati, dekat Bandara Juanda itu. Asalkan mengikuti ketentuan yang berlaku di hotel syariah.

Hotel Walan Syariah didirikan pada 24 Juni 2012. Ia menjadi hotel syariah pertama di Kabupaten Sidoarjo. Manajemen ingin menawarkan konsep hotel yang islami sesuai dengan kultur masyarakat Sidoarjo yang santri. Sekaligus menepis imaji yang berkembang selama ini seakan-akan hotel merupakan tempat yang aman dan bebas untuk selingkuh atau membawa cewek nakal dsb.

"Tak bisa dipungkiri, nama hotel lebih tendensius berkonotasi negatif lantaran kebebasan perilaku nakal para tamunya. Dulunya, seks bebas dan minuman keras serta narkoba adalah hal lazim yang bisa ditemui di hotel manapun. Insya Allah, itu tidak akan terjadi di Hotel Walan Syariah.

Pihak manajemen memiliki komitmen teguh untuk menjaga hotel dari hal berbau maksiat seperti tersebut di atas. Meski terkesan kolot dan menantang arus, penginapan dengan konsep syariah adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar," ujar Erisa.

SAYA: Setelah beroperasi selama enam tahun, bagaimana respons pasar?

ERISA: Menurut saya Mas, setelah enam tahun ini perkembangan hotel syariah makin bagus.. karena banyak tamu yang mulai mengenal konsep syariah di perhotelan. Dan mereka mengaku merasa lebih senang menginap di hotel syariah. Alasannya lebih tenang dan merasa aman.

SAYA: Ada nilai tambah begitu?

ERISA: Brand syariah jelas punya nilai tambah Mas.. karena beda dengan hotel konvensional. Alhamdulillah, dalam dua tahun ini okupansinya jauh meningkat.

SAYA: Total ada berapa kamar? Ada rencana buka cabang?

ERISA: Sejauh ini ada 41 kamar. Memang ada rencana menambah hotel serupa.. tapi pastinya belum dalam waktu dekat.. doain ya mas.

SAYA: Aplikasi semacam Traveloka apakah membantu menambah okupansi Hotel Walan Syariah?

ERISA: Sangat membantu.. karena tipe traveller kita sekarang kan smart traveller Mas.. alias apa2 lewat smart phone.

08 June 2018

Selamat libur 17 hari

Lebaran sudah dekat. Pegawai negeri sipil mulai libur panjang Sabtu 9 Juni 2018. Selama dua minggu. Masuk lagi Senin 25 Juni 2018. Total 17 hari.

Luar biasa! Betapa enaknya jadi PNS. Libur panjang, cuti bersama, cuti perorangan, dsb. ''Kerjanyanya juga gak ngoyo. Gak pake target. Gaji pasti naik terus. Negara tidak akan bangkrut,'' ujar Cak Mamat di warkop Tambaksumur Sidoarjo.

Kebijakan libur panjang ini sudah pasti diikuti swasta. Di koran-koran pagi ini BCA merilis jadwal libur kantornya di seluruh Indonesia. Mulai 9 sampai 20 Juni 2018. Kantor-kantor BCA beroperasi normal pada 21 Juni. Artinya libur selama 12 hari.

Asyik memang Indonesia ini. Liburnya makin banyak dan panjang. Ada tanggal merah hari buruh, hari pancasila dsb. Libur Lebaran selalu bertambah dari tahun ke tahun. Demi kelancaran arus mudik dan arus balik.

Tahun depan akan dievaluasi. Jika arus mudik masih belum lancar juga ya liburnya akan ditambah lagi. Kalau tahun ini libur 17 hari, mungkin tahun depan libur 24 hari. Atau sekalian libur panjang satu bulan penuh.

Selamat libur panjang.
Selamat Lebaran!
Mohon maaf dan salam sejahtera!

03 June 2018

Lupakan mudik lewat laut

Dua pekan menjelang Lebaran, media-media membahas persiapan arus mudik. Bahkan ada koran yang sudah bahas mudik sejak awal puasa. Bikin liputan serial tentang jalan tol dari Jakarta hingga Jawa Timur.

Menteri PU Basuki Hadimuljono yakin arus mudik tahun 2018 ini lebih lancar. Sebab jalan tol sudah tembus ke Pasuruan. Panjangnya 1.167 km. Dari Jakarta hingga Pasuruan. Itulah buah pembangunan infrastruktur yang digalakkan Presiden Jokowi.

Luar biasa! Mudik tahun ini juga diyakini lebih lancar karena libur plus cuti bersama lebih panjang. Dua minggu. Dus, pemudik bisa memilih waktu yang longgar untuk mudik ke kota asalnya. Tidak numpuk pada ruang dan waktu yang sempit.

Sayang, pemerintah masih belum tertarik dengan mudik laut. Tanpa perlu bikin jalan tol yang mahal. Tolnya asli ciptaan Tuhan: laut yang sangat luas. Yang menghubungkan pulau-pulau. Cukup mengerahkan kapal-kapal penumpang dengan fasilitas standar. Tidak perlu terlalu mewah.

Begitulah. Mudik jalur laut memang tidak populer di Indonesia. Khususnya Pulau Jawa yang sangat berorientasi daratan. Silakan ngetes sendiri. Berapa banyak orang Jawa yang pernah naik kapal laut dari Surabaya ke Jakarta (dan sebaliknya)?

Bisa dipastikan tidak sampai dua orang (10 responden). Bahkan nol. Seperti yang saya survei di Sidoarjo beberapa hari lalu. "Gak enak naik kapal laut. Lama. Bisa mabuk di perjalanan," ujar Alfian di Sedati, dekat Bandara Juanda. "Pakai pesawat aja... biar sedikit mahal," katanya.

Tak lama setelah dilantik, Jokowi sering bicara poros maritim. Tol laut. Bikin kuis nama-nama ikan berhadiah sepeda pancal Polygon yang dibuat di Buduran, Sidoarjo. Tapi Jokowi kemudian fokus ke darat. Bikin tol trans Jawa. Untuk mengakomodasi jutaan pengendara mobil pribadi di Pulau Jawa.

Ya wis... lupakan saja mudik laut di Jawa. Itu sih cerita zaman nenek moyang kita yang orang pelaut... gemar mengarungi samudra yang luas. Mungkin saja nenek moyang orang pelaut itu berasal dari Tiongkok.

Haiya... haiya... kamsia!

Djaja Laksana Masih Yakin Tutup Semburan Lumpur

Semburan lumpur di Porong Sidoarjo sudah berlangsung selama 12 tahun. Persoalan ganti rugi, relokasi dsb, secara umum sudah selesai. Tinggal beberapa berkas yang tersisa yang terganjal administrasi. Duitnya sudah ditalangi negara sejak era Presiden Jokowi.

Yang jadi pertanyaan: kapan semburan lumpur itu berhenti? Masih mungkin ditutup? Apa masih ada teknologi untuk nyumbat lumpur?

PPLS yang ditugasi negara untuk menangani lumpur bilang tidak bisa. Sebab ada gunung alias mud volcano di bawahnya. Yang bisa dilakukan PPLS, sejak 2006, adalah mengendalikan lumpur. Dialirkan lewat Sungai Porong ke laut.

Satu-satunya orang yang sangat yakin bahwa semburan lumpur bisa ditutup adalah Djaja Laksana. Insinyur dari ITS ini datang lagi ke tanggul lumpur pada 29 Mei 2018. Peringatan 12 tahun Lumpur Sidoarjo seperti tahun-tahun lalu. Sambil menjelaskan metodologinya kepada wartawan.

Djaja Laksana pakai Teori Bernoulli. Dibuat bendungan besar keliling semburan itu. Sampai ketinggian tertentu tercapai titik keseimbangan. Saat itulah semburan akan berhenti.

Djaja tidak asal ngecap. Sebelumnya dia demo menutup semburan-semburan kecil alias bubble di kawasan lumpur. Berhasil. Kemudian menutup semburan di Kalimantan. Sukses. Karena itu, Djaja sangat yakin bisa mengatasi semburan di Porong.

Biayanya kan banyak?

"Memang banyak. Tapi tidak seberapa dibandingkan kerusakan lingkungan akibat lumpur ini. Sudah berapa duit yang dipakai selama 12 tahun?" ujar insinyur yang doyan main golf dan main band ini.

Mengutip penelitian sejumlah ahli geologi, lumpur diperkirakan berhenti sendiri setelah 30 sampai 40 tahun. Masih sangat lamaaa. Saat ini volumenya memang mengecil tapi tetap stabil.

Djaja tidak yakin lumpur bisa stop sendiri. Perlu ada kerja nyata untuk menghentikannya. Djaja sangat yakin dengan metode Bernoulli itu.

Sayang, pemerintah dan PPLS tidak yakin dengan solusi ala Djaja Laksana. Selain mahal, belum tentu manjur. Apalagi PPLS, sejak masih diketuai Basuki Hadi Muljono (sekarang menteri PU), sudah mencoba berbagai metode. Termasuk cara-cara dukun dengan memasukkan ribuan bola beton ke pusat semburan.

Karena itu, pemerintah apatis dengan Djaja Laksana. Hopeless. Cukup mengendalikan lumpur saja. Siapa tahu bisa berhenti sendiri. Toh, lahan sekitar 700 hektare di Porong dan sekitarnya itu sudah kosong.

PPLS dan Pemkab Sidoarjo berencana menjadikan tempat wisata geologi. Geopark. Sebab lumpur itu sangat unik. Tidak ada duanya di dunia. "Lusi itu aset untuk Sidoarjo," kata Prof Hardi yang rajin meneliti fenomena lumpur di Sidoarjo.

Djaja Laksana sih tenang saja meskipun proposal Bernoulli-nya dianggap angin lalu. Dia tetap menikmati hidup dengan main musik bersama teman-temannya yang tergabung dalam Bernoulli Band. Suara Pak Djaja boleh juga. Besar dan empuk kayak Perry Como.

Wise man say....

Kebiasaan Misa Sabtu Sore di Jawa

Setiap hari Minggu pagi, pukul 04.00 sampai 05.00, Paul selalu mengirim pesan ini. Selamat hari Minggu, selamat beribadah dst. Beberapa orang asal NTT di Jawa pun suka mengirim pesan yang sama. Jangan lupa misa hari Minggu.

Ehm... biasanya pesan-pesan begini langsung saya hapus. Bikin memori penuh. Lagi pula gambar atau videonya bukan karya sendiri. Saya suka yang autentik meskipun jelek. Lebih baik mengetik pesan sendiri, huruf demi huruf, ketimbang cuman share dari sumber yang tidak jelas.

Saya sering tersenyum sendiri karena sudah lama tidak misa hari Minggu pagi. Biasanya malah sepedaan atau ikut ngurus Car Free Day di Alun-Alun Sidoarjo. Atau memperpanjang masa tidur. Memanjakan badan dan otak di kawasan pegunungan yang sejuk.

Lalu misanya kapan? SABTU sore. Atau Sabtu malam.

Sabtu 2 Juni 2018, kemarin, saya ikut misa di Pandaan. Romo Stanis Beda CM yang aksennya kental Flores Timur yang pimpin misa. Homili tentang tubuh dan darah Kristus.

Pater ini sempat guyon tentang kebiasaan orang yang suka antre makan enak di restoran. Padahal banyak kolesterolnya dan habis banyak duit. Makanan rohani yang justru lebih penting. Kira-kira itu yang saya ingat.

Awalnya memang aneh misa Sabtu sore untuk ekaristi hari Minggu. Sebab waktu masih anak-anak, di pelosok NTT, Lembata, tidak pernah ada misa Sabtu petang. Misa ya Minggu pagi. Misa Minggu sore juga tidak ada. Orang-orang kampung pasti sangat heran ada misa sore hari.

Setelah hijrah ke kota baru saya tahu ada misa Sabtu sore. Statusnya sama dengan misa hari Minggu. Awalnya saya rasa janggal. Sebab tidak sesuai dengan rumusan 5 Perintah Gereja yang saya hafal betul saat pelajaran agama Katolik di SD.

"Rayakanlah ekaristi kudus pada hari Minggu...," begitu antara lain bunyi perintah gereja. Bukan hari Sabtu.

Tapi lama-lama kok enak misa Sabtu sore. Hawanya lebih sejuk dan nyaman. Misa mulai pukul 17.00 jelang magrib. Selesai misa udara sejuk. Apalagi di Gereja Kayu Tangan, Malang. Pulang gereja bisa mampir ke Gramedia di depan gereja. Atau Sarinah, alun-alun, plaza, bioskop dsb. Kayu Tangan memang jantungnya Kota Malang.

Sejak itulah saya selalu berusaha untuk misa Sabtu sore. Apalagi di Surabaya dan Sidoarjo yang panas. Misa Minggu pagi biasanya mulai 07.30 atau 08.00 atau 09.00. Selepas misa selama 90 menit rasanya gerah. Sinar matahari makin membakar tubuh jemaat.

Iseng-iseng saya baca Warta Paroki Santa Theresia Pandaan, Keuskupan Malang. Gereja tua ini punya tiga sesi misa: Sabtu sore, Minggu pagi, dan Minggu sore. Umat yang misa Sabtu sore tergolong tinggi: 33%. Berarti 67% misa Minggu pagi dan sore.

Jemaat yang misa Minggu pagi di Pandaan 38%. Minggu sore hanya 28%.

Angka ini saya rasa hampir sama di gereja-gereja katolik di Jawa Timur. Di Surabaya persentase umat yang misa Sabtu sore kemungkinan lebih banyak lagi.

Data di Surabaya sih tidak ada. Tapi saya sering tidak dapat tempat di Gereja Roh Kudus, Puri Mas, Gununganyar, Surabaya. Padahal misa masih 30 menit lagi. Banyak sekali umat yang terpaksa duduk di luar gereja.

Bagaimana kalau umat Katolik lebih memilih misa Sabtu sore ketimbang Minggu? Bisa-bisa gereja justru sepi di hari Minggu yang sering dikatakan sebagai Hari Tuhan. Itu yang sempat saya pikirkan sejak lama.

Puji syukur, selama 30an tahun ini, sejak ada kebijakan alias diskresi, misa Sabtu sore, mayoritas umat Katolik di Indonesia jauh lebih banyak yang rajin misa hari Minggu. Khususnya Minggu pagi. Di Lembata, kampung asal saya, juga masih berlaku tradisi misa Minggu pagi. Bukan Minggu sore, apalagi Sabtu sore.

"Yang paling penting itu ya ke gereja. Mau hari Minggu, Sabtu, atau Senin Selasa Rabu Kamis Jumat ya sama saja. Ketimbang gak ke gereja sama sekali," ujar teman saya, bekas aktivis mahasiswa, yang agak liberal.

Paul yang asli Flores, yang rajin kirim ucapan selamat misa hari Minggu, itu rupanya orang Katolik konservatif. Orang-orang macam ini sangat dibutuhkan untuk mengawal liturgi dan tradisi gereja dari masa ke masa.

Apa jadinya kalau mayoritas orang Katolik memilih misa Sabtu sore? Bisa-bisa jadi Katolik Advent!

02 June 2018

Bella Bello Perupa Korban Lumpur


Sudah 12 tahun semburan lumpur terjadi di kawasan Porong bagian timur. Selama itu pula Mochammad Al-Insan Bella Bello kehilangan rumah dan kampung halamannya di Desa Siring. Namun, putra almarhum Luqman Azis, pelukis kawakan itu, tidak ingin larut dalam kesedihan.

Saat ini Bello pindah domisi ke Desa Penambangan, Kecamatan Balongbendo. Seperti ayahnya, Bello pun aktif menghidupi seni rupa. Jalan kesenian rupanya telah menjadi sumber nafkah bagi pria yang murah senyum ini. Tempat workshop-nya pun selalu jadi jujukan anak-anak hingga mahasiswa yang ingin melihat proses kreatifnya, diskusi, hingga mencari bahan-bahan untuk penulisan skripsi.

Bersamaan dengan 12 tahun tragedi semburan lumpur, 29 Mei 2018, Bello menulis catatan menarik. Dia ingin agar warga desa-desa terdampak lumpur tidak larut dalam kesedihan berkepanjangan.

Bello menulis:

''Fokus pada kehidupan yang baru adalah pilihan mutlak. Sementara ini yang bisa kami lakukan hanyalah melupakan kesedihannya saja biar kita tidak larut di sana. Sekarang waktunya kita songsong kehidupan yang baru dengan lebih gembira, karena sejatinya hajat hidup ini memang harus dirayakan.''

Perupa yang sudah beberapa kali mengadakan pameran di Sidoarjo, Surabaya, Jember, dan beberapa kota lain itu menambahkan:

''Kita terus bekerja, kita terus berkarya, dan sebisa mungkin kita lakukan hal-hal positif dengan cara kita masing-masing apa pun profesi kita. Semua itu kita lalukan sebagai bentuk kecintaan kita terhadap tempat asal kita. Kita hidup di tempat yang baru, tapi tetap selalu berusaha mengharumkan tempat asal kita yang sudah hilang. Sebab, cuma itu darma bhakti yang bisa kita lakukan. Desa sudah hilang, minimal baunya masih wangi dan menggema, suaranya tidak sumbang."

Dia bersyukur karena masalah ganti rugi tanah dan bangunan dari keluarganya, alhamdulillah, sudah beres semua. Namun, dia tidak menutup mata masih ada persoalan yang dialami sejumlah korban lumpur asal Siring, Jatirejo, Renokenongo, Kedungbendo, dan sebagainya. Ini karena proses pembayaran ganti rugi itu menggunakan beberapa skema. Ada cash and carry, cash and resettlement, hingga relokasi. Masing-masing skema punya kelebihan dan kekurangan.

''Jadi, tidak bisa digeneralisasi,'' kata mantan aktivis pemuda Desa Siring itu.

Lantas, ke mana saja ribuan warga Siring dan sekitarnya pascatragedi mud volvano itu?

Bello mengaku tidak punya data. Yang pasti, saat ini warga Siring dan desa-desa lain yang terdampar lumpur sudah tersebar ke mana-mana. Sebagian masih di wilayah Kabupaten Sidoarjo, seperti Bello dan keluarga, sebagian lagi di luar Sidoarjo. Mulai Pasuruan, Mojokerto, Surabaya, bahkan keluar Provinsi Jatim.

''Alhamdulillah, masih ada silaturahmi warga (eks Desa Siring) meskipun hanya sekadar bikin acara kumpul-kumpul reunian, ziarah makan yang tenggelam ke tanggul lumpur. Sanak saudara punya hajat, kami berusaha datang. Atau sekadar tidak sengaja ketemu di jalan,'' tuturnya.

Keberadaan media sosial dalam lima tahun terakhir juga dimanfaatkan warga eks Desa Siring untuk silaturahmi di jagat maya. Saling berbagi cerita tentang kondisi warga yang sudah tersebar ke mana-mana itu.

''Lusi atau Lumpur Sidoarjo bagi saya pribadi, dan mungkin seluruh korban baik yang terdampak langsung maupun tak langsung, merupakan suatu peradaban baru kehidupan warga Sidoarjo pada umumnya, dan Porong pada khususnya.

Kami tidak akan bisa melupakan tanah air kelahiran kami. Terlalu banyak cerita di sana baik suka maupun duka. tapi hidup harus terus berjalan,'' katanya.

Sebagai seniman muda yang lahir di Siring, hanya sekitar 500 meter dari pusat semburan, Bello mengaku ingin membuat karya seni rupa 'yang joss' di tanggul lumpur. Konsepnya karya instalasi dari plastik. "Tapi harus besar. Makanya, saya lagi nyiapkan power,'' katanya.

Sidoarjo Kecolongan Banyak Teroris

Inilah makam 17 teroris di Sidoarjo. Mereka terlibat teror bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya pada 13-14 Mei 2018. Hari Minggu pagi. Saat jemaat sedang kebaktian atau jelang ekaristi.

Dedengkot bomber ini adalah Dita yang dulu pelajar berotak encer. Dita menjadi guru terorisme untuk istri dan empat anaknya. Satu keluarga, enak anak, sama-sama pelaku bom bunuh diri.

Sebelas kubur yang lain untuk pelaku bom di markas Polwiltabes Surabaya, Senin 14 Mei 2018. Pagi saat kantor baru buka.

Mayat-mayat lain adalah jaringan teroris anak buah Dita di Sidoarjo. Mulai dari Rusunawa Wonocolo, Urangagung, hingga Sukodono. Dua hari lalu polisi menangkap lagi seorang terduga teroris di Wisma Tropodo, Waru, Sidoarjo.

Ngeriiii! Bukan apa-apa. Imam Bahri, yang ditangkap densus 88 antiteror itu, sehari-hari ketua RT. Tokoh masyarakat. Rumahnya tidak jauh dari gereja tempat saya biasa ikut misa: Paroki Salib Suci, Wisma Tropodo, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Mengapa begitu banyak teroris yang bersarang di Sidoarjo? Kota kita yang lagi gencar memodernkan diri? Ingin mengimbangi tetangganya Surabaya?

Sudah banyak analisis di media massa. Sebagai warga pendatang di Sidoarjo, saya melihat masyarakat dan pemerintah Sidoarjo sangat welcome untuk siapa saja. Urusan apa saja dipermudah. Sulit urus kendaraan di Surabaya? Tenang. Bisa ke Sidoarjo.

Sidoarjo memang kota industri. pabrik-pabriknya banyak sejak zaman Belanda. Pabrik gulanya saja ada 16 biji. Meskipun yang masih beroperasi tahun 2018 ini hanya DUA: PG Kremboong dan PG Candi Baru. Masih ada ribuan pabrik kecil hingga raksasa macam Maspion, Kapal Api, Megasurya, Tjiwi Kimia, Sekar Laut, hingga pabrik sepatu mahal kelas dunia Ecco Indonesia.

Karena itu, sejak dulu sudah banyak pendatang di Sidoarjo. Bekerja di pabrik-pabrik. Kemudian pindah penduduk. Sangat mudah mengurus KTP di Sidoarjo. Khususnya ketika belum ada KTP elektronik alias e-KTP. Makanya ada saja orang yang punya KTP lebih dari dua. Dulu.

Nah, rupanya kebaikan masyarakat dan Pemkab Sidoarjo ini dimanfaatkan teroris untuk mengembangkan selnya. Bahkan bisa tinggal di Rusunawa Ngelom. Rumah susun yang aslinya dibuat pemkab hanya untuk warga Sidoarjo yang berpenghasilan rendah. Kok bisa lolos ke rusunawa di perbatasan Sidoarjo-Surabaya?

Nasi sudah jadi bubur. Bom sudah meledak. Menghancurkan sekian banyak orang. Termasuk menewaskan wong cilik Sidoarjo yang kebetulan pada Ahad pagi melintas di Jalan Arjuna Surabaya. Derrr! Dita meledakkan diri dan mobilnya (lebih tepat mobil istrinya) di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya.

Apakah masih ada teroris-teroris yang bersembunyi di Sidoarjo? Tentu polisi yang paling tahu. Khususnya densus. Tapi beberapa pengamat yakin teman-teman Dita JAD masih banyak di Sidoarjo, Surabaya, dan kota-kota lain di Jatim. Sel-sel tidur itu sewaktu-waktu akan tumbuh ibarat suket teki disiram air hujan.

01 June 2018

Piala Thomas Dikalahkan Persebaya

Bulutangkis Indonesia sedang terpuruk. Baru saja keok dalam perebutan Piala Thomas dan Piala Uber di Bangkok. Kedigdayaan bulutangkis kita sepertinya tinggal nostalgia.

Bukan hanya atlet-atletnya yang kurang bakat, apresiasi penonton juga makin rendah. Demam Piala Thomas dan Piala Uber tidak ada lagi. Beda dengan di masa kecil saya dulu. Piala Thomas dan Piala Uber jadi bahan obrolan di kampung yang tidak ada listriknya.

Berbekal sepotong cerita dari koran bekas, plus rajin nguping warta berita RRI, orang-orang di kampung saya bisa dengan fasih menceritakan kehebatan Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Hastomo, Christian Hadinata, Ivanna Lie, Imelda dsb. Tanpa pernah melihat bintang-bintang badminton ini bermain. Sebab televisi cuma ada di kota. Sekitar 25 kilometer dari kampungku.

Ketika pindah ke Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur, demam badminton memang luar biasa. Kejuaraan apa saja pasti ditonton banyak orang. Padahal televisinya hitam putih. TV warna masih beberapa biji punyanya baba-baba Tionghoa.

Ketika ada siaran Piala Thomas... wuih heboh. Indonesia menang. Warga ramai-ramai bersorak gembira usai pertandingan yang menegangkan lawan Tiongkok. Berhari-hari warga membahas kehebatan pemain-pemain Indonesia. Lius Pongoh yang ulet. King dengan smash lompatnya yang mematikan. Hastomo yang napas kuda dsb.

Minggu lalu, saya sengaja mencari kafe-kafe yang biasa menayangkan siaran langsung olahraga untuk nobar (nonton bareng). Lebih asyik menonton semifinal Piala Thomas 2018. Indonesia vs Tiongkok. Pertandingan hidup mati. Pasti seru.

Eh... saya ternyata keliru. Dari lima kafe di Sidoarjo, mulai Buduran sampai Porong, tidak ada satu pun yang menayangkan Piala Thomas. Nobarnya sih ada dan ramai. Tapi siaran langsung Persebaya vs Madura United. Kebetuan jamnya bersamaan dengan Piala Thomas.
''Di sini nggak ada yang suka Piala Thomas. Mintanya Persebaya,'' ujar pelayan kafe di pinggir jalan raya Candi. Di kafe-kafe lain pun jawabannya sama.

Apa boleh buat. Malam itu saya terpaksa nonton siaran Piala Thomas sendirian. Di HP. Sambil mendengarkan sorakan pengunjung lain yang semuanya penggemar Persebaya.

Media-media di Indonesia juga sudah lama meninggalkan bulutangkis. Beritanya cuma sekadarnya di halaman dalam. Bukan di halaman depan.

Televisi swasta juga lebih suka menyiarkan pertandingan sepak bola uji coba ketimbang Piala Thomas. Masih lumayan TVRI mau siaran langsung Piala Thomas dan Piala Uber.

Kelesuan bulutangkis ini tentu tak lepas dari prestasi yang jeblok. Nama-nama pemain bulutangkis saat ini makin asing di telinga masyarakat. Sebab prestasinya juga pas-pasan. Dus, sulit menarik masyarakat untuk demam bulutangkis seperti pada masa lalu.

Menpora Imam Nahrawi meminta para pemain tidak terlalu bersedih dengan kekalahan di Bangkok itu. Berlatih lagi yang keras. Balas di Asian Games di Jakarta. Apa bisa? Saya kok ragu.