13 May 2018

Warga Flores Timur Kembali ke Sorgum?

Jarang ada berita positif tentang NTT, khususnya Flores, di media nasional. Biasanya lebih banyak memuat kelaparan, kurang gizi, atau bencana alam. Makanya, orang NTT di luar NTT umumnya malas baca koran yang mengulas daerahnya.

Kemarin agak lain. Kompas edisi Sabtu 12 Mei 2018 memuat berita berjudul MASYARAKAT FLORES TIMUR KEMBALI KE SORGUM. Menarik. Saya langsung baca sepulang dari misa di Pandaan yang dipimpin Romo Stanis Beda CM, asal Flores Timur.

Judul berita, khas media, ya gebyah uyah. Generalisasi. Wartawannya cuma meliput kebun sorgum contoh di Desa Kimakamak, Adonara Barat. Dus, bukan seluruh Flores Timur yang luas dengan Pulau Solor dan Adonara itu. Tapi rupanya pemda setempat berencana menyebarluaskan sorgum.

Sorgum memang bukan tanaman asing di NTT. Di masa kecil saya melihat cukup banyak sorgum di kebun. Ada yang dibudidaya, tapi lebih banyak yang tumbuh sendiri. Setengah liar.

Enak dimakan. Lebih enak ketimbang jagung atau padi. Itu sih pengalaman lidah saya dulu. Yang sudah 20an tahun tidak makan sorgum. Sayang, tanaman sorgum ini perlahan-lahan hilang. Tidak ada lagi sorgum di Adonara atau Lembata tahun 1990an.

Jagung masih jadi andalan petani di lahan kering Flores Timur. Yang air hujannya cuma menetes paling lama tiga bulan. Itu pun tidak selalu berhasil. Tanaman jagung sering mati karena musim hujan yang makin sulit ditebak. Lalu paceklik. Rawan pangan istilah resmi orde baru. Lalu masuk koran-koran dan TVRI.

Lalu digelontorlah beras dari Jawa. Biasanya diambil beras kualitas terjelek dari gudang Bulog. Tapi beras is beras. Derajatnya dianggap lebih tinggi ketimbang jagung atau singkong. Apalagi sorgum.

Politik beras ini berlanjut dengan raskin (beras untuk keluarga miskin) yang masif. Satu kilogram cuma Rp 1.000. Jauh lebih murah ketimbang jagung.

Maka, pelan-pelan orang Flores Timur jadi terbiasa makan padi (nasi). Kalau tahun 80an sekira 80 persen orang makan jagung, sekarang terbalik. Bahkan, saya baca di Media Indonesia warga yang makan nasi (beras) di NTT saat ini (2018) sudah di atas 90 persen. Orang NTT juga makin jarang yang kurus. Kecuali yang kurang gizi itu.

Nah, apakah bisa Flores Timur dan Lembata kembali makan sorgum? Hem... saya kok ragu. Sebab sampai sekarang image beras masih jauh di atas jagung, sorgum, jewawut, umbi-umbian dsb. Pemda sendiri pun kurang serius menggalakkan tanaman pangan asli daerah.

Setiap kali mudik ke Flores Timur dan Lembata, saya selalu minta nasi jagung. Ternyata sulit. Hampir tidak ada stok. Yang ada ya beras itu. Kebanyakan kelas raskin. Beras merah dari padi gogo hampir tidak ada lagi. Apalagi cari jagung titi, cemilan khas sejenis emping jagung khas Lamaholot. Kadang harus beli jauh di Lewoleba.

''Sorgum ini bisa bertahan meskipun jagung mati. Rasanya juga lebih enak,'' ujar Lambertus Laga dari Desa Kimakamak.

Pemuda 21 tahun ini salah satu warga yang serius membudidayakan sorgum di Adonara Barat. Omongannya cukup optimistis.

Mudah-mudahan semakin banyak petani yang mau menanam sorgum seperti Ama Laga ini. Dan itu berarti ladang-ladang yang biasanya ditanami jagung perlu dialihkan ke sorgum. Tidak perlu semuanya dikonversi. Cukup 25 persen dulu untuk uji coba. Siapa tahu berhasil.

6 comments:

  1. Bung Hurek, ternyata orang Adonara kuno jauh lebih pandai daripada yang sekarang penggenggam handphone. Di China sorgum disebut 小米,xiao-mi,
    sedangkan beras disebut 大米, da-mi.
    Tiap minggu saya ke pasar untuk membeli sorgum dan gabah untuk pakan burung2 gelatik. Harganya sorgum 4 kali lipat lebih mahal daripada gabah.
    Menurut orang China, sorgum sangat cocok untuk dikonsumsi didaerah yang iklimnya panas dan kering, sebab sorgum memiliki sifat dingin, Yin.
    Sorgum, menurut orang cina, sangat baik untuk lambung dan ginjal. Arak China Maotai yang terkenal mahal, bahan bakunya adalah sorgum.
    Sorgum bisa diolah menjadi tepung untuk bikin bubur, kue atau roti. Orang Lomblen bisa bikin arak Maotai KW untuk diexport atau dijual kepada bangsa sendiri yang bukan muslim. Hanya orang2 kaya dan pejabat di Tiongkok yang bisa mabuk maotai. Rakyat jelata kalau minum maotai hanya satu sloki, setelah makan. Di-eman2, disayang, hanya disuguhkan kepada tamu terhormat.
    Ya betullah anjuran Bung Hurek, daripada makan beras bulog yang apek dan kapangen, lebih baik menanam sorgum sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wow luar biasa ilmu anyar nih. sorgum ada unsur Yin yg bagus utk daerah panas macam NTT. berarti bagus untuk NTT.. iya toh.

      saya juga baru tau kalo di zhongguo ada tanaman sorgum. yg mahal harganya. bagus untuk kesehatan.
      semoga derajatnya sorgum bisa naek biar orang seneng makan sorgum.. iya toh.

      iki gayane wong NTT lawas. sedikit2 ada iya toh di buntut kalimat hehe

      Delete
  2. Maaf, dalam suasana duka dan berkabung, tidak sepatutnya saya ngoceh tentang xiaomi.
    Requiem aeternam dona eis Domine.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ndak apa2 Xiansheng. masalah terorisme tentu sudah ada yg ngurusin. Yang penting kita berharap dan berdoa semoga ndak ada lagi teroris di NKRI. Iya toh..

      Delete
    2. Insya Allah, Semoga harapan dan doa Anda terkabuli. Lacurnya, seperti kita ketahui, sifat bangsa kita condong reaktif, bukannya preventif.
      Principiis obsta. Sero medicina parata, cum mala per longas convaluere moras.

      What We Need : Facta non verba !

      Delete
    3. Setelah ada korban lagi, achirnya terkabuli, facta, non verba. Principiis obsta.
      Deo gratias. Proficiat ad salutem in aeternum. Amen.

      Delete