09 May 2018

Prof. Karel Steenbrink Bahas Gereja Katolik di Indonesia


Cukup banyak pakar atau sejarawan asing yang menulis tentang Gereja Katolik di Indonesia. Sebagian besar misionaris Eropa yang berkarya di sini sejak Hindia Belanda sampai kemerdekaan. Tulisan-tulisan mereka sebagian dibukukan. Sebagian besar belum diterjemahkan.

Prof Karel Steenbrink dari Belanda belum lama ini menerbitkan tiga buku tentang Gereja Katolik. Karel bukan pastor, uskup, atau aktivis gereja. Dia ilmuwan, dosen, yang justru lebih banyak mengajar di IAIN ketika bertugas di Indonesia. Prof Karel malah agak asing dengan Katolik di Indonesia.

Yang menarik, di masa tuanya, di Belanda, Prof Karel Steenbrink ini punya energi berlimpah untuk mengkaji Gereja Katolik di Indonesia. Cari dokumen dan data di mana-mana. Untungnya, sebagai orang Belanda, dia punya akses ke sejumlah biara ordo-ordo yang punya karya pastoral di Indonesia.

Luar biasa! Dokumennya sangat lengkap. Prof Karel Steenbrink akhirnya mampu menerbitkan mahakarya berupa tiga volume tentang Gereja Katolik Indonesia itu. Kebetulan saya dikirimi volume ketiga soft copy-nya: CATHOLICS IN INDEPENDENT INDONESIA 1945-2010.

Terima kasih banyak, Prof Karel!

Mantan peneliti pondok pesantren itu memang sempat minta izin mengutip beberapa artikel saya. Saya juga kirim foto Gereja Sakramen Mahakudus di Pagesangan, Surabaya, yang bertetangga dengan Masjid Al Akbar. Gereja ini diresmikan oleh Presiden Abdurrahman Wahid bersamaan dengan peresmian masjid agung itu.

Namanya juga peneliti Barat, buku Karel Steenbrink ini sangat detail. Mendalam. Setiap potong informasi selalu ada rujukannya. Ini membuka wawasan pembacanya. Orang Katolik sekalipun belum tentu punya informasi sekomplet itu.

Yang mengesankan, sekaligus mencemaskan saya, adalah potret umat Katolik di Indonesia pada 1990an hingga reformasi. Kiprah orang Katolik di ruang publik, pentas politik nasional, makin sedikit. Beda dengan masa gerakan mahasiswa 65-66 ketika Cosmas Batubara bersama aktivis PMKRI punya kepercayaan diri dan berani tampil. PMKRI bersama ormas mahasiswa lain macam HMI, PMII, GMNI dsb berada di garis depan perjuangan di akhir kekuasaan Bung Karno.

Prof Karel Steenbrink menulis:

''In the 1990s there was a revival of the public presence of Islam. There were fewer opportunities for Christians in public positions. After the fall of Soeharto in 1998 there was even a growing call for the implementation of shari a rules in society. Starting in the 1970s the large number of primary and secondary Catholic schools was reduced, because the government had started a great programme for public schools and the Catholic community was not able to finance all their schools. Since then the Catholics more and more put the own parish and liturgical celebrations at the heart of their life as Catholics.''

Dia kemudian mengutip tulisan Dr. Kees de Jong yang ikut misa malam Paskah 2011 di Jogjakarta. Dr Kees de Jong juga peneliti asal Belanda.

''Last night we went to the Easter Vigils of 8.30 pm. In Saint Anthony Church in Yogyakarta the vigils are celebrated three times, because of the vast number of attendants. On common Sundays they have eight Masses with a total of 10,000 faithful.

The street next to the church has been turned into an extension of the church through tents and chairs, just like the public square in front of the church. We attended a very moving celebration, starting with the well known readings about the creation, the exodus from Egypt. There was the blessing of the new fire and the Paschal candle was lit. After the Paschal candle was put on the altar, a Javanese dance was performed, encircling the new light, the risen Christ who disperses darkness.

Thereafter was a reading from Ezekiel, followed by another dance when the water was brought to be blessed. After the renewal of the baptismal vows (with the concrete Indonesian condition of a renunciation of gambling and drinking alcohol) water was sprinkled over us and the resurrection story was read from Luke. After a short sermon the gifts (candles, bread and wine, the money of the collection) were brought to the altar with another Javanese dance.

During the service there were many hymns, sung by the community and by a choir of the Catholic Sanata Dharma University. Saint Anthony is a kind of a city church where many students come to Mass. Their choir sung the famous Hallelujah by Handel as the conclusion of a service of 2.5 hours that was never boring and very inspiring.''

Di mata Prof Karel, umat Katolik di Indonesia sekarang cenderung sibuk di seputar altar. Fokus ke liturgi. Rajin ekaristi di tengah mayoritas muslim. Makin jarang hadir di ruang publik di tengah tuntutan pemberlakuan hukum syariah di sejumlah daerah.

Fenomena yang digambarkan Prof Karel ini cukup akurat. Itu juga yang kita rasakan pada pertengahan 1990an. Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) kesulitan mencari anggota baru. Mahasiswa-mahasiswi Katolik lebih suka ikut KMK (Keluarga Mahasiswa Katolik) yang dianggap lebih asyik. Persekutuan doa pun lebih disukai.

PMKRI juga makin sulit merekrut mahasiswa-mahasiswi dari perguruan tinggi negeri atau swasta papan atas. Padahal di masa lalu, PMKRI selalu dipegang mahasiswa UI, UGM, Unair dsb. Sekarang saya lihat PMKRI lebih banyak diisi oleh mahasiswa dari kampus-kampus swasta yang akreditasinya bukan kelas A.

Semoga buku karya Prof Karel Steenbrink ini menjadi bahan refleksi bagi umat Katolik di Indonesia. Khususnya KWI, para uskup, komisi kerawan, Iska, PMKRI, hingga dewan paroki di seluruh Indonesia.

3 comments:

  1. Pak Lambertus, di thn 1960-an, PMKRI bisa naik ke panggung politik krn dukungan tentara. Angkatan Darat menggalang kekuatan di antara organisasi2 pemuda beragama, termasuk PMKRI, untuk menurunkan Sukarno. Setelah itu, pemimpin2 PMKRI macam Cosmas Batubara dan Sofjan Wanandi menjadi pemimpin2 tingkat nasional, seperti juga Abdul Gafur, Akbar Tanjung, dll. pemimpin organisasi pemuda binaan Angkatan Darat di masa itu. Setelah itu, PMKRI nggak ada bunyinya.

    ReplyDelete
  2. ada bunyi tapi tidak nyaring. cuman bikin statement sikit2 dan tidak banyak berkiprah di luar gereja. saya kira tidak hanya pmkri. ormas2 mahasiswa lain juga paceklik. mungkin karena zamannya sudah beda. aktor2nya juga beda.

    ReplyDelete
  3. memang ada analisis macam itu. bahwa mahasiswa2 66 itu cuma wayang yg digerakkan adri untuk menggulingkan bung karno. tapi secara kualitas mereka sangat mumpuni pada jamannya. akbar cosmas gafur harry chan silalahi sofjan + jusuf wanandi...

    bagaimanapun juga mereka punya nama sudah dicatet dalam kitab sejarah. sebuah era di mana politik adalah panglima.

    ReplyDelete