12 May 2018

Orang Flores Timur Menemukan Kampungnya

Tulisan ringan di blog ini ternyata ada manfaatnya. Setidaknya buat Alamsyah di Jambi. Almarhum bapaknya asli Adonara Flores Timur, mualaf, tidak pernah pulang kampung. Alamsyah ingin melacak sanak keluarga ayahnya.

Dia bertanya ke sejumlah orang Flores tapi minim informasi. Maka dia minta bantuan Google. Eh, diantar ke blog ini. Dia baca artikel tata nama orang Flores Timur. Saya memang gunakan tradisi Lamaholot alias Flores Timur untuk menjelaskan pola penamaan orang Flores. Main gebyah uyah atau generalisasi saja.

Adonara, Lembata, Solor, Pulau Flores bagian timur itu sama-sama etnis Lamaholot. Bahasa, adat istiadat, makanan dsb sama. Dulu sama-sama Kabupaten Flores Timur. Kemudian Lembata dijadikan kabupaten sendiri setelah reformasi. Karena itu, tulisan saya nyambung dengan yang diinginkan Alamsyah.

Percakapan di jagat maya ternyata sangat membantu Alamsyah. Apalagi Redontena, kampung asal bapaknya, sangat terkenal di Flores Timur. Silakan datang ke sana. Pasti orang-orang kampung tahu siapa gerangan ayahmu. Lengkap dengan silsilahnya. Begitu jawaban saya.

Lama tak ada kabar, Alamsyah ternyata sudah pulang dari Adonara. Berhasil menemukan apa yang dia cari selama bertahun-tahun.

Berikut tulisan Alamsyah:

Saudaraku Lambertus Hurek,
Puji syukur saya panjatkan kpd Tuhan YME, karena atas rahmatNya lah saya akhirnya menemukan Asal Usul serta garis keturunan almarhum Ayah saya.

Pada tgl 20 april 2017 lalu saya putuskan berangkat ke Lewotanah dengan berbekal info pencarian di Group FB "KBLW". Melalui info dari Kak Agnes Kewa Daton di Kupang dan abang Yovin di Redontena.

Tgl 20 tiba di Kupang dan menginap 1 malam di rumah Kak Agnes utk kemudian besok sorenya terbang lagi dari Kupang ke Larantuka.

Tgl 21 saya tiba di Larantuka dan disambut oleh keluarga yaitu anak Rahmat anak abang Yovin dan Abang Bahrun Wuran TNI Kodim Larantuka.

Kemudian kami pergi utk menyebrang melalui Tobilota dan melalui perjalanan Motor abang Bahrun. Akhirnya kami sampai di Redontena.. di rumah Abang Anton Sabon. Saya disambut oleh haru biru kegembiraan dan kesedihan.

Ana Kide.. Ina Aman Take.. Perhoro.... Oremio...

Entah apa yg saya rasakan saat itu. Mimpikah tapi bahagia yg tak terhingga karena tak percaya saya si anak Bungsu berhasil dan menemukan asal dan keluarga almarhum ayah saya.

Mereka juga tak menyangka jika anak hilang itu telah kembali... peluk hangat dari mereka membuat saya yg tak pernah kenal dan tau siapa mereka membuat saya larut dgn kesedihan dan dlm hati saya berkata, "Papa... aku telah menemukan keluarga dan kampung halaman tmpat engkau dilahirkan. Semoga engkau bisa tersenyum di Alam sana."

Singkat cerita akhirnya saya pun mendapatkan nama kampung dengan adat BUA OREK dan nama saya menjadi ALAMSYAH MADO BAYO LAMAWURAN.

Dan saya pun melakukan gelar adat IKIT KENATEN untuk orang tua yg sudah meninggal. akhirnya saya tau :

Nama ayah saya : Yohanes Komak Liat Lamawuran
Nama Kakek saya : Dore Bayo
Nama Nenek saya : Prada Pahma
Nama Kampung saya : Redontena

dan saya tau semua nama keluarga ayah saya di sana... dan bertemu dgn adik kandung ayah saya yg masih hidup bapa Wangun Ola.

Sungguh kisah ini tak kan pernah saya lupakan selama hidup saya... dan tak terasa satu tahun semenjak kedatangan saya di Lewotanah pada tanggal 21 April 2017.

Semoga suatu saat saya bisa kembali lagi dan bisa membawa seluruh kakak saya semua dari yang sulung laki2 sampai ke 6 saudara kami bisa ke Lewotanah.

LEWOTANAH MO MOLO GO DORE.

Demikian kisah yg dapat saya sampaikan. Salam hangat utk semua org2 NTT di mana pun kalian berada.''

2 comments:

  1. Lho, lhak bener tho, jarene Evangelium Mattheus, Kapitel 1. Nur wenn du weisst, woher du kommst, kannst du auch wissen, wohin du gehst.
    Ojo lali karo asal usul mu.
    Ojo niru wong Amerika atawa wong Australia ! Sejak kapan Gusti Allah menciptakan benua Amerika dan Australia untuk orang kulit putih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. luar biasa.. xiansheng paham injil bahasa latin. khas orang katolik tempo doeloe pra konsili vatikan kedua.
      ojo lali asal usulmu. wong tenglang punya budaya sangat kuat untuk eling asal usul leluhur etc. kelenteng2 itu seperti suaka budaya tionghoa yg bagus.

      dua minggu lalu saya ngobrol sama wong tenglang lao ren di sidoarjo. dia seneng banget karena tahun lalu sudah pigi lihat dia punya kota leluhur di tiongkok. plong. rasanya sudah siap pigi ke nirwana.. iya toh

      Delete