22 May 2018

Misa Pentakosta seminggu pascabom

Minggu 20 Mei 2018. Tepat seminggu setelah tragedi bom di tiga gereja di Surabaya, semua gereja di Surabaya, Sidoarjo, Gresik dsb dijaga ketat. Khawatir kecolongan teroris bom bunuh diri.

Begitu juga di Gereja Katolik Salib Suci, Wisma Tropodo, Waru, Sidoarjo. Saya ikut misa pagi di gereja yang dilayani imam-imam Societas Verbi Divini (SVD) asal Flores NTT itu. Banyak banget polisi yang berjaga di sekitar gereja. Ada tentara juga. Tidak ketinggalan teman-teman Banser NU.

Pintu pagar yang biasanya dibiarkan terbuka lebar pagi itu dibuka sedikit. Polisi dan petugas keamanan gereja mengecek tas dan barang bawaan umat. Tidak lama. Saya lihat banyak pula polisi-polisi yang pakai pakaian preman.

Ekaristi dipimpin Pater Gabriel Maja SVD. Hari Raya Pentakosta. Pater asal Ngada Flores itu pakai kasula merah. Sesuai dengan warna liturgi Pentakosta. Roh kudus turun untuk memberi kekuatan kepada para rasul.

''Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras....'' petikan Kisah Para Rasul 2:1-12. Bacaan pertama pagi itu.

Misa berjalan seperti biasa. Di dalam gereja tidak terasa kalau pekan lalu ada bom di gereja. Termasuk di Paroki Ngagel. Gereja penuh. Saya bahkan sampai tidak dapat tempat. Untung petugas tatib (istilah khas di paroki-paroki) mengantar saya ke posisi agak depan. Tidak jauh dari paduan suara.

Oh ya... kornya bagus. Ordinarium pakai Gregorian 1. Cukup sulit sehingga jarang dinyanyikan di gereja-gereja lain. Bapak yang jadi dirigen saya nilai sangat menguasai gregorian yang sulit.

Pater Gabriel dalam homilinya sempat menyinggung tragedi bom itu. Sambil geleng-geleng kepala. Kok ada orang tega menyerang sesama di tempat ibadah. Di mana hak asasi? Kewajiban asasi?

''Kita punya kewajiban asasi untuk menghormati kehidupan sesama manusia. Siapa saja!'' tegas pater dengan suara bergetar.

Di ujung ekaristi umat diajak bersama-sama membacakan doa untuk korban bom dan keselamatan bangsa Indonesia. Meminta perlindungan Bunda Maria. Lalu berkat penutup dan pengutusan.

Kor membawakan lagu Ave.. Ave.. Ave Maria. Lagu khas bulan Maria, bulan Mei, yang sudah lama tidak saya dengar. Maklum tidak ada di buku Puji Syukur. Haru. Enak sekali paduan suara membawakan lagu devosi yang sederhana itu. Lagu yang dulu biasa kami nyanyikan saat SD di pelosok NTT.

Di Lourdes di gua sunyi terpencil
Tampaklah Maria perawan murni
Ave... Ave... Ave Maria
Ave... Ave... Ave Maria

No comments:

Post a Comment