08 May 2018

Libur Lebaran kurang lama

Jumlah hari libur + cuti bersama terus bertambah di NKRI. Lebaran tahun ini bakal libur 12 hari nonstop. Tepatnya dua minggu. Para pegawai pemerintah tentu saja senang tak terkira. Bisa mudik dan pesiar ke mana-mana.

Bagaimana dengan karyawan swasta? Ada efeknya juga. Sebagian besar perusahaan tentu manut hari libur pemerintah. Sebab berbagai urusan, transaksi dsb pasti melibatkan dinas-dinas atau kantor pemerintah.

Yang pasti tidak bisa libur panjang adalah polisi, perawat, pegawai bandara atau terminal atau stasiun sepur, karyawan pusat perbelanjaan, bioskop dsb. Termasuk pekerja media.

''Kami justru kerja superberat. Ketika orang lain mudik, kami harus standby di lapangan. Bikin liputan arus mudik dsb,'' ujar teman yang bekerja di televisi swasta.

Agak menyesal juga dia jadi reporter. Mengapa dulu tidak jadi PNS atau guru? Yang liburnya panjaaaang dan buanyaaaak? Yang tidak perlu deadline? Yang tanpa target?

''Mau gimana lagi? Sudah kadung basah di sini. Ya dilakoni ae. Kalo gak kuat ya ditinggal ngopi,'' ujar si reporter mengutip lagu dangdut koplo Via Vallen yang lagi ngetop itu.

Pemerintah selalu punya alasan untuk memperlama libur Lebaran. Semuanya masuk akal. Biar mudik lancar, gak macet, ekonomi rakyat terangkat, silaturahmi dsb. Tapi rupanya dia lupa bahwa NKRI sekarang sudah tertinggal jauh. Kalah dengan Tiongkok yang tahun 80an masih negara miskin dan kumuh.

''Di Tiongkok nggak ada karyawan yang malas-malasan. Ada libur Sincia atau hari nasional. Tapi tidak sebanyak di sini,'' kata Baba Liem, pengusaha yang juga koordinator pengusaha Tionghoa di Surabaya.

Kerja kerja kerja... kata baba yang logatnya masih berbau totok ini bukan cuma slogan di bibir. Orang Tiongkok bekerjanya seperti mesin saja. Itu yang bikin Tiongkok cepat maju. Jadi kekuatan utama ekonomi dunia.

''Satu buruh di Tiongkok bisa melakukan pekerjaan lima buruh di Indonesia,'' ujar Liem yang pengusaha bahan bangunan.

Baba ini sering sambat karena buruh-buruh kita doyan minta kenaikan upah. UMK selalu naik tiap tahun. Cukup signifikan. Padahal tidak semua perusahaan untung. ''Kok yang menetapkan upah pemerintah? Memangnya pemerintah yang bayar gaji karyawan?'' protesnya tiap tahun.

Tapi omongan Baba Liem dan para pengusaha lain sering dianggap angin lalu. Pemerintah rupanya lebih suka mendengar masukan dari PNS, polisi tentara dsb. Bahwa libur Idulfitri yang panjang sangat bagus untuk melancarkan arus mudik.

Karena itu, mungkin tahun depan cutinya diperpanjang lagi menjadi tiga minggu. Atau empat minggu. Gak ngurus balapan ekonomi dengan negara-negara lain seperti Malaysia, Singapura, Thailand dsb. Terlalu jauh kalau dibandingkan dengan Tiongkok.

''Lah, Cina itu kan komunis. Ateis. Tidak punya agama. Mereka kan gak punya Lebaran. Makanya gak libur,'' ujar kenalan di Waru yang girang banget dengan cuti dua minggu ini.

9 comments:

  1. "Kira-kira, kita libur berapa hari, Bang?"

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo sing tanglet bu rudi.. aku ra wani njawab. monggo langsung aja ke pihak yg berwajib hehe

      Delete
  2. Gak apa-apa, Pak Lambertus. Alon alon asal kelakon. Maju pelan pelan, okay. Yg penting jangan korupsi. Kerja tidak perlu terus menerus. Untuk apa maju luar biasa tetapi polusi udara dan air, hutan rusak, dll bencana lingkungan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. dui dui.. maju pelan2. joss.. alon2 waton klakon.
      korupsinya yo sami mawon hehehe

      Delete
  3. Ini daftar akurat hari libur nasional di Tiongkok :
    1 Januari, Tahun Baru Masehi, 1 hari.
    Sincia libur 7 hari.
    Cengbeng libur 3 hari.
    Hari Buruh libur 3 hari.
    Sembahyang Bakcang libur 1 hari.
    Sembahyang Tongjiu libur 1 hari.
    Hari Kemerdekaan libur 7 hari.
    Seluruhnya 23 hari.
    Kecuali itu ada libur fakultatif bagi pemeluk agama masing2, sesuai mufakat dan izin dari atasan atau bos perusahaan.
    Bagi PNS ya offiziell cuma 23 hari !
    Siapa pun yang mengejek orang China adalah Atheis, silahkan membaca, menyimak Undang-undang Dasar Republik Rakyat Tiongkok, Artikel 36 Tahun 1982, tentang Kebebasan Beragama bagi seluruh rakyat Tiongkok.
    Yang sungguh dilarang bukannya beragama, tetapi menghujat, memfitnah, mengadudomba, menjelekkan agama lain, menyebar kebencian SARA dengan kedok Khotbah Agama di mesjid, gereja dan kelenteng.
    Pemerintah Tiongkok dan kebanyakan orang Cina, lebih mengutamakan nasionalisme, patriotisme, keutuhan negara daripada Agama atau Kepercayaan. Apakah itu SALAH ?
    Bagi cina2 yang tidak setuju, dipersilahkan untuk meninggalkan Tiongkok, menetap di USA, Eropa atau Australia. Banyak kok yang hijrah, tetapi Tiongkok tidak bubar, hanya karena segelitir orang2 yang hijrah.
    Apakah ingin mengekor orang Yaman yang tidak bisa bersatu, cekcok melulu, aggressif karena kebanyakan nyusur, mengunyah Kath ( Catha edulis ), tumbuhan yang mengandung narkoba Amphetamin, padahal mereka sama2 etnis arab dan sama2 muslim. Silahkan pilih sendiri.
    Setahu saya, yang hidup dan menetap di Tiongkok sudah 18 tahun, para buruh- dan pedagang-cina cuti hanya 2 hari setahun, yaitu Sincia dan Cengbeng, kecuali buruh2 dari luar daerah yang mudik bersilaturahmi kekampungnya. Toko2 swalayan besar, buka setahun 365 hari.
    dui dui...maju pelan2. joss.. alon2 waton klakon. Piye tho, mesake pak presiden sing berok2 : kerjo kerjo kerjo, cepetan cepet cepet, ojo membuang waktu, ngeko ketinggalan spoor. Pak presiden terlalu progressif untuk rakyat nya yang sejak lahir selalu dimomong dan dibuai bunda; alon2 asal kelakon, takkan lari gunung dikejar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau memang budaya rakyatnya begitu, ngapain digesu-gesu? Seperti cerita orang kaya yg mengunjungi pantai. Ada orang santai2. Lho kok kamu gak kerja , kamu kan miskin?! Si santai tanya, emang kalau kerja kenapa? Si kaya: Lo bisa ngumpulin duit, bisa kaya, lalu bisa leha2 kayak aku di pantai. Si santai : Lha lu pikir gua ngapain sekarang?

      Setelah kaya suatu negara akan mencapai batas tertentu. Setelah itu problemnya ialah redistribusi kekayaan, demi keadilan sosial. Indonesia pelan pelan pun akan ke arah sana. Ga perlu ngebut ngebut, nanti pun akan sampai menjadi negara maju. Asalkan tidak menjadi Daesh. Kl itu dijamin hingga kiamat pun ga akan maju.

      Delete
    2. haiya...kamsia atas penjelasan yg lengkap dari bapa profesor di zhongguo. bisa buka kita orang punya wawasan en tambah pengetahuan kita tentang tiongkok. tentang komunisme ateisme hari libur yg 23 hari dsb. cukup lama juga hari liburnya. bagus untuk refreshing orang2 tiongkok yg kerja keras seperti mesin pabrik gula.

      Delete
  4. haiya.. kamsia atas xiansheng punya komentar yg ciamik. kita hargaken setiap kata yg sudah xiansheng tulis di kolom kecil ini.

    kita orang jadi ketawa sendiri baca Daesh.. itu memang sanget gawat utk kita punya negara yg punya banyak agama suku ras dsb dsb. itu orang daesh tidak punya perikemanusiaan dan main gorok saja seperti di timur tengah itu.

    alon2 waton klakon ada benernya. tapi rasanya sudah lama hilang d jalan raya. cepet cepet cepet ngebut ngebut ngebit benjuut

    ReplyDelete
  5. libur terlalu lama, mudik terlalu lama juga tidak asyik. coba rasakan sendiri ketika tuan dan nyonya mudik di kampung halaman. satu dua hari masih manis kayak madu. basa basi, cerita enak.. makan2 ngopi dsb. hari ketiga aslinya mulai keluar. mulai muncul banyak cerita kasus2 skandal dsb yg bikin sakit kepala. hidup di kota besar yg biasanya menghormati privasi orang lain, di desa semua ikut campur. kemudian bicara utang piutang dsb.

    makanya selama ini saya perhatikan orang tidak mudik lama2 di satu tempat. biasanya hari ini di tempat suami, lusa istri, muter lagi ke sahabat, tempat wisata, kuliner dsb.

    bagus juga kalo libur panjang lebaran dipake untuk piknik di tempat2 wisata.

    ReplyDelete