07 May 2018

Lebih baik baca koran cetak

''... lebih baik lagi baca koran cetak saja!''

Begitu omongan seorang mama muda di Jawa Pos pagi ini. Dia bingung karena media sosial terlalu banyak berita palsu, hoaks, berita gorengan, pelintiran dsb.

Media sosial, internet, yang semua dirayakan di mana-mana kini menjadi masalah. Medsos jadi ajang caci maki. Perbedaan agama, suku, ras, afiliasi politik kini jadi masalah.

Indonesia rasanya mau kiamat saja. Ada seorang karyawan yang setiap hari meminta konfirmasi tentang isu panas di medsos. Apa betul begitu?

''Silakan anda baca koran saja. Nggak bener itu,'' ujar saya kepada kenalan di Buduran.

Teman ini ketawa ngakak. Dia sudah lama tidak langganan koran. Baca koran dan majalah sudah sangat jarang. Baca sebentar, tidak sampai lima menit, langsung main HP. Masuk medsos.

''Medsos itu asyik dan instan. Siapa saja bisa jadi reporter. Gak perlu editor. Gak perlu macam-macam. Berita langsung tersebar luas,'' katanya dulu.

Dia menganggap surat kabar adalah bisnis masa lalu. Generasi muda, lahir di atas 2000, sangat sedikit yang membaca koran. Mereka digital native. Karena itu, bekas wartawan cetak ini meminta pengurus media cetak untuk pandai-pandai berselancar di tengah gelombang perubahan yang dahsyat ini.

Syukurlah, tsunami fake news dan hoax membuat orang mulai berpaling lagi ke surat kabar. Paling tidak itu yang disampaikan Bupati Sidoarjo Saiful Ilah. Pejabat yang akrab disapa Abah Ipul ini terus-menerus diserang hoax dan ujaran kebencian di medsos.

''Saya harus bertindak. Saya bawa ke polisi agar jadi pelajaran untuk warga Sidoarjo. Bijaklah menggunakan media sosial,'' kata Abah Ipul.

Pak Bupati tidak lupa mengajak masyarakat untuk kembali membaca media cetak. Buku, majalah, surat kabar. Penulisnya jelas. Penanggung jawabnya jelas. Alamatnya jelas. Orang-orangnya bisa ditemui kapan saja.

Hem... Bener banget Abah! Semoga media cetak dipanjangkan umurnya!

4 comments:

  1. Di Amerika, sama problemnya. Berita hoax dan tidak benar tersebar oleh para pembuat video dan meme penuh kebencian. Akibatnya tenun kebangsaan menjadi tercabik cabik. Bahkan presiden Trump pun ikut menyiram minyak ke api yang membara. Ooh ... Mr Zuckerberg lakukanlah sesuatu!

    ReplyDelete
  2. nah.. menarik ini mr Trump. presiden ini kelihatannya sangat menikmati medsos twitter. presiden yg paling banyak ngetwit di dunia. apa saja dia twitt.

    itu sih bagus agar semua orang bisa mengetahui kebijakan2nya dsb. dari tangan pertama. gak perlu rilis. apalagi lewat media utama atau mainstream.

    masalahnya, pak trump ini mengunakan medsos untuk menyerang siapa saja yg tidak dia sukai. kasar pula. koran2 dan televisi juga diserang dan dilecehkan.

    saya baru baca kicauan mr trump ini:

    NBC NEWS is wrong again! They cite “sources” which are constantly wrong. Problem is, like so many others, the sources probably don’t exist, they are fabricated, fiction! NBC, my former home with the Apprentice, is now as bad as Fake News CNN. Sad!

    luar biasa tangguh mr trump menggunakan twitter untuk menembak lawan dan media. setiap hari.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Main medsos tiap hari krn otaknya tidak mampu berpikir dalam dan panjang untuk membuat kebijakan yang menimbang berbagai nuansa.

      Delete
  3. twitter facebook dkk sebetulnya medium yg luar biasa. penemuan yg merevolusi media, gaya hidup dsb. tapi medsos ternyata dimanfaatkan untuk menyebarkan kebencian, permusuhan, perang dsb. sebaliknya medsos juga menyebarkan hal2 yg positif.

    ReplyDelete