09 May 2018

Merajut Persaudaraan di Kelenteng Sidoarjo


Kelenteng Tjong Hok Kiong Sidoarjo kemarin merayakan sejit. Ulang tahun. Tepatnya HUT ke-1.058 Makco Thian Siang Sen Bo. Dewi Laut asal negeri Tiongkok itu memang yang empunya rumah persembahyangan di Jalan Hang Tuah Sidoarjo itu.

''Yang penting itu Makco. Tanggal kelahiran beliau selalu dirayakan secara khusus. Yang hadir hampir semua perwakilan kelenteng di Jatim,'' ujar salah seorang tokoh Tionghoa di Sidoarjo.

Makco Thian Siang Sen Bo ini memang tokoh istimewa bagi orang Tionghoa di tanah air. Bahkan di seluruh dunia. Karena itu, sejitnya selalu dirayakan dengan meriah. Selain sembahyang biasa, ada bakti sosial, wayang potehi, wayang kulit, tari-tarian, pesta kuliner di kawasan kelenteng dsb.

Bupati Sidoarjo sejak dulu selalu hadir. Setiap tahun. Itu yang saya lihat sejak zaman Bupati Win Hendrarso dua periode. Kemudian Bupati Saiful Ilah yang sekarang. Ini juga menunjukkan bahwa komunitas Tionghoa di Sidoarjo punya hubungan yang bagus dengan pemerintah daerah.

Yang menarik lagi, Makco Day ini jauh lebih meriah ketimbang tahun baru Imlek alias Sincia dan Cap Go Meh. Tidak banyak umat yang datang ke kelenteng untuk Sincia. Tapi kalau Makco Day, pagi sampai larut malam begitu banyak warga Tionghoa yang datang. Dari berbagai kota.

Bahkan, kata beberapa orang tua di kawasan pecinan, Hari Makco selalu dirayakan selama satu minggu. Panitia mendatangkan wayang kulit, ludruk, tarian tradisional dsb. Tapi pesta meriah ini hilang pada masa Orde Baru. Acara tetap ada tapi cuma di dalam kompleks kelenteng. Sederhana saja.

Tidak heran, selama ini banyak warga Tionghoa yang lahir di masa Orde Baru tidak tahu tradisi di Kelenteng Tjong Hok Kiong. Bahkan banyak juga yang tidak tahu bahwa di Sidoarjo ada kelenteng tua. Yang sangat terkenal di kalangan Tionghoa se-Jatim.

Selama ini orang lebih tahu GOR Basket Tridharma di Jalan Hang Tuah Sidoarjo. Tidak tahu kalau ada kelenteng besar di sampingnya. Tridharma merupakan klub basket terkuat di Kabupaten Sidoarjo. Dari dulu sampai sekarang.

Syukurlah, di era reformasi, kekangan terhadap Tionghoa sedikit demi sedikit mulai lepas. Pesta hari jadi Makco marak lagi. Kecurigaan terhadap segala hal yang berbau Tionghoa mulai berkurang. Meskipun sentimen itu sewaktu-waktu muncul kembali ketika ada pertandingan politik macam pilkada di Jakarta atau pilpres.

Bupati Sidoarjo Saiful Ilah, yang juga ketua DPC PKB Sidoarjo, tokoh senior NU, dalam sambutannya menekankan pentingnya persaudaraan yang sejati di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Persaudaraan yang sejati itu penting sebagai alat pemersatu bangsa. ''Bukan persahabatan yang pura-pura,'' kata bupati yang akrab disapa Abah Ipul ini.

Seperti biasa, Abah Ipul tak lupa sumbang suara untuk menghibur hadirin yang memenuhi GOR Tridharma samping kelenteng. Lagunya... apalagi kalau bukan.. Jangan Ada Dusta di Antara Kita. Abah berduet dengan penyanyi pop Mandarin Surabaya yang bersuara renyah.

Semua terserah padamu
Aku begini adanya
Kuhormati keputusanmu
Apa pun yang akan kau katakan....

5 comments:

  1. Aduh, Aduhai Bung Hurek, Anda kok lebih paham tentang Kelenteng dan Dewa-Dewi nya orang Tiongkok, bahkan tahu nama2 mereka pakai bahasa Min-nan-hua, daripada aku si cino.
    Sejak kecil aku diajak Mama sembahyang di kelenteng Kuta / Bali, atau di kelenteng Kampung Dukuh / Surabaya, tetapi aku sejak dulu sampai sekarang tidak tahu apa namanya kelenteng2 itu.
    Ketika kekota Quanzhou-Fujian, aku membeli beberapa Pat-Kwa untuk digantungkan didepan pintu masuk rumah2 ku. Seperti halnya Rosario, sebelum dipakai, harus diberkati terlebih dahulu oleh seorang Pastor, kalau tidak diisi guna2, maka kasiatnya nol putul.
    Setelah membeli Pat-Kwa, saya ajak saudara sepupu ke Kuan-ti-bio di Quanzhou, minta tolong kepadanya, agar dia meminta berkat, atau memberi isi, untuk Pat-Kwa 2 tsb., supaya barang2 itu bukannya hiasan belaka. Po atau Fu 傅, saudara sepupu-ku itu berkata : Kenapa tidak lu lakukan sendiri ! Gua bilang: Koh, mana gua tahu caranya ritual macam itu, mama-ku (taciknya mama-lu) tidak pernah ngajari tentang agama kepada ku, dia tahunya cuma ngajari kita; belajar, belajar, belajar yang giat !
    Po tersenyum, menerima Pat-Kwa2 itu, lalu dia memutar-mutar Pat-kwa, satu per satu, diatas asap dupa yang mengepul dari Hio-lou yang sangat besar didepan pintu kelenteng, sambil mulutnya komat-kamit membaca Mantra atau doa.
    Didalam kelenteng dia menunjuki aku patung2 dewa satu persatu, sambil menyebut namanya dan fungsinya masing2. Kalau tidak salah yang memegang kecapi adalah dewa hujan, namanya pun masuk dari kuping kanan keluar lagi dari kuping kiri ku.
    Lha wong Tole Blambangan diajari tentang dewa-dewi pakai coro cino, yo ora mudheng. Tole tahunya Dewi Kunti, Subadra, Arimbi, Ratna Sari Dewi. Dewa tahunya, Batara Siwa, Indra, Surya, Baruna. Hampir seluruh tempat2 ibadah di Quanzhou telah aku kunjungi bersama Po, termasuk Mesjid tua yang dibangun tahun 1009.
    Aku yakin saudara Hurek lebih paham tentang kelenteng daripada satu milliard orang China di Tiongkok. Orang Tiongkok dijamin kebebasan beragama oleh Undang2 Dasar, yang berarti pula dia bebas tidak memiliki agama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. masuk kuping kiri tembus kanan. gak nyantol. kerna gak minat dan beda keyakinan atawa ideologi.
      wayang kulit yo sami mawon. gak semua wong jowo mudheng dewi kunti, arimbi, anoman, petruk gareng bimo dsb.
      pokoke dibuat enak aja.. ben asyik sambil ngopi. kalo wong tenglang ngombe teh sepet hehehe

      Delete
  2. haiya.. kita orang ndak tau banyak lah hal ihwal adat istiadat atawa agama tionghoa. kita kan cuma denger, liat dan mencatet secara ringkas. ndak bisa ngelotok kayak bapak2 suhu atawa umat kelenteng. kita ambil garis besarnya aja. dibuat sederhana biar gampang dipahami orang2 kebanyakan yg bukan tionghoa.

    soal Makco sempat disinggung profesor dari singapura dalem bukunya tentang cheng ho. dia bilang kelenteng2 di asia tenggara buanyaak yg dibangun untuk kasih penghormatan kepada ibunda makco sang dewi laut itu. saya cek di jatim ternyata bener juga. pantesan acara2 makco selalu rame banget. iya toh...

    ReplyDelete
  3. Tujuh tahun silam, anak perempuan saya diutus oleh perusahaan nya ke Changchun, Manchuria, untuk membimbing para pegawai di Tiongkok.
    Saya kesana untuk menjenguk nya. Kesempatan untuk mengenal Manchukuo, tempat bertahtanya Kaisar Tiongkok terachir, Aisin Gioro Puyi.
    Belum pernah sebelumnya saya melihat disebuah kota yang memiliki trotoar sedemikian lebarnya, bersih dan rindang.
    Dari Changchun kami naik kereta cepat, bullet train, ke kota Jilin.
    Di Jilin ada satu kelenteng Buddha yang sangat besar, Beishan-si, dimana kaisar Kangxi dan Qianlong pernah sembahyang disana.
    Engkoh saya kelima sukanya di Jakarta sembahyang Buddha, Liam Keng, pakai tasbih sambil membaca Sutra dirumahnya, tetapi dia tidak punya kentongan, mu-yu, 木鱼. Saya punya idee memberikan dia oleh-oleh sebuah mu-yu, yang saya beli di toko Souvenir di kelenteng Beishan, salah satu paling keramat di Tiongkok Utara. Kulo getun, lali sak plengan, meminta berkat untuk kentongan itu.
    Sekarang engkoh liam-keng sambil memukul kentongan, tok..tok..tok..... dengan tangan kanan dan tangan kirinya memegang tasbih.
    Apakah tok..tok..tok... nya bisa didengar oleh sang Buddha, sebab 木鱼 nya tidak berpetuah, atau kosong tak berisi guna2. Semoga Buddha tidak berpikiran picik. Mea culpa, mea culpa, mea maxima culpa.

    ReplyDelete
  4. mea culpa mea culpa...
    iku doane wong katolik lawas. pake bahasa latin yg liturgis.
    saya berdosa saya berdosa... saya sungguh berdosa...

    mungkin inilah hasilnya xiansheng sekolah di sekolah katolik elite yg punya standar tinggi. makanya bisa inget kata2 doa tobat meskipun xiansheng bukan katolik. mantap tenan.

    ReplyDelete