12 May 2018

Dr Amien Rais Bisa Tiru Dr Mahathir

Obama pertama kali angkat sumpah sebagai presiden USA pada usia 44 tahun. Sangat muda untuk ukuran presiden. Apalagi negara kuat kuasa macam Amerika Serikat.

Naiknya Obama sempat jadi inspirasi bagi politisi muda di mana-mana. Bahwa sekaranglah eranya pemimpin muda. Yang paling cocok dengan era digital. Menjawab tantangan milenium baru.

Eh, setelah 8 tahun berkuasa di Gedung Putih, capres pengganti Obama malah jauh lebih tua. Trump 71 vs Hillary 70. Sama-sama remaja tempo doeloe. Donald Trump menang. Bapak tua yang (dulu) doyan lalapan daun-daun muda.

Orang pun tidak lagi bicara tentang pemimpin yang harus muda. Cuma partainya Grace eks penyiar televisi, PSI, yang doyan jualan kecap bahwa sekarang eranya politisi muda. Eranya wajah-wajah baru yang seger buger.

Tadinya saya kira cuma Presiden Trump ini yang tua yang menang. Tentu saja ada Paus Fransiskus, 81, di Vatikan. Tapi Sri Paus pemimpin agama. Bapa Suci. Tidak ada urusan politik praktis macam di negara-negara biasa.

Eh, Tun Mahathir Mohammad, 92, bikin kejutan. Menang pemilu di Malaysia. Jadi perdana menteri lagi. PM tertua di dunia.

Luar biasa Dr M ini!

Di usia yang sepuh beliau masih sangat kuat main politik. Bisa mengalahkan BN yang sangat kuat itu. Tidak terbayangkan bahwa pembangkang (oposisi) bisa menang di Malaysia. Sejak merdeka, 1957, pembangkang cuma sekadar aksesoris di Malaysia. Biar kelihatan demokrasi. Mirip PPP dan PDI di masa orde baru yang mustahil menang.

Beberapa menit lalu saya baca detiknews. Amien Rais marah-marah sama pemerintah. Pendiri PAN ini bilang Indonesia ini negara pekok (bodoh) karena UU-nya tidak memihak kepentingan rakyat. Khususnya migas. Freeport dikasih peluang untuk keruk hasil migas kita. Amien Rais kasih beberapa contoh lagi. Untuk menguatkan argumentasinya soal pekok itu.

Sambil nyeruput kopi putih (di Jatim lagi ngetop white coffee), saya pikir ada baiknya Amien Rais meniru Mahathir. Usia Pak Amien 74 tahun. Jauh lebih muda ketimbang Mahathir. Pak Amien punya partai: PAN. Basis dukungannya juga jelas.

Apa tidak sebaiknya maju pilpres saja? Amien Rais pernah ikut pilpres tapi kalah. Siapa tahu angin dari Malaysia berpihak kepadanya. Untuk memperbaiki situasi di NKRI yang dia anggap tidak karuan itu.

Ketimbang main politik muka dua, punya menteri di kabinet Jokowi, tapi kritikannya lebih keras (dan kasar) ketimbang Gerindra dan PKS, Amien Rais lebih baik menjadikan PAN sebagai lokomotif oposisi. Jadi pemimpin pembangkang -- istilah Malaysia. Melawan Jokowi dan koalisinya.

Bisa minta nasihat Dr Mahathir kiat-kiat untuk menumbangkan Jokowi.

4 comments:

  1. Gak iso krn beliau wes gak dianggep karo partaine dewe. Selain iku beliau wes tercemar terima 600 juta dari eks Menkes yg sekarang dipenjara. Kabinet SBY ialah kabinet bancakan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dicoba disek lah.. siapa tau hasil. Soale AR ini ben dino tereak2 kecam pemerintah. Malah dia bikin isu partai Allah vs partai setan. Kalimat2nya sarkas gak santun.

      Mending jadi pimpinan oposisi sekalian, PAN kasih tawaran bagus untuk dijual di pemilu. Siapa tau rakyat suka dengan tawaran2 pak AR.

      Demokrasi itu bagus karena ada ruang yg luas untuk ganti presiden dsb. Beda dengan sistem orde baru yg otoriter. Sistem khilafah juga saya rasa gak ada ruang untuk mengganti presiden dsb secara demokratis.

      Delete
    2. Krn dia pemilu gak pernah menang makanya frustrasi. Apalagi dgn bom di Surabaya dan kerusuhan di mako brimob yg suka jualan agama makin gak laku

      Delete
    3. haiya... ada benernya analisis macam itu. biasalah kalo orang lagi panas.. omongannya juga panas.. iya toh. mangkanya perlu pigi2 ke harbin biar ikut pesta salju.

      Delete