22 May 2018

Bumi Surabaya Tolak Mayat Teroris

Senin siang, 21 Mei 2018. Saya mampir ke warkop di dekat Makam Ngagel Surabaya. Tempat cangkrukan lama saya ketika masih tinggal di Ngagel Jaya Selatan. Sekaligus nyekar.

Meskipun bulan puasa, ada saja warkop yang buka. Saya pun tertarik melihat spanduk di dekat makam Bung Tomo. Isinya menolak jenazah teroris. Tidak sudi teroris-teroris yang beraksi di Surabaya dan Sidoarjo 13-14 Mei 2018 itu dimakamkan di Ngagel.

''Itu komitmen warga,'' ujar seorang pria yang biasa dapat job membuat makam di Ngagel. ''Masak sih teroris dimakamkam di dekat makamnya Bung Tomo. Apa kata anak cucu kita,'' ujar kenalan lama yang mokel puasa ini.

Luar biasa arek-arek Suroboyo! Sikap tegas ini sebelumnya ditunjukkan warga Putat Jaya. Mereka bahkan menolak jenazah para teroris meskipun lubang sudah digali. Akhirnya mayat-mayat para pengantin bom bunuh diri itu batal dimakamkan di Surabaya.

Bumi Surabaya menolak teroris! Bahkan mayatnya pun tidak dapat tempat di tanah Surabaya. Tabik dan respek! Inilah bumi para pejuang 45 yang telah mempersembahkan jiwa raga untuk Indonesia.

Polisi sempat bingung. Sebab tidak mungkin mayat-mayat yang hancur itu dibiarkan terlalu lama. Untungnya ada makam milik Dinas Sosial Sidoarjo di dekat sungai kecil itu. Lahan khusus untuk menguburkan jenazah yang tidak dikenal.

Mayat-mayat teroris akhirnya dimakamkan di Sidoarjo. Total 14 mayat. ''Lah, wong keluarganya saja gak mau ngambil jenazah teroris. Mosok mau dimakamkan di sini,'' ujar kenalan lama di dekat Makam Ngagel itu.

2 comments:

  1. Doeloe Sidoardjo hanya dikenal karena petis dan kroepoek oedang njonja Siok.
    Tidak mungkinkah dikemudian hari, Sidoarjo akan menjadi tujuan pariwisata religi, tempat ziarah ke makam 14 martir ?
    Dilema seperti itu sedang dialami oleh Pemkot Braunau, tempat kelahiran Adolf Hitler. Sebagian politisi menganjurkan agar rumah kelahiran-nya dibongkar, sebagian lagi bersikukuh mempertahankan bangunan tersebut. Setiap bulan April rumah itu selalu dipenuhi pengunjung, ada yang pengagum2 setia-nya, ada pula turis2 yang hanya ingin tahu. Sebagian penduduk merasa malu, jika melihat turis2 berfoto didepan rumah itu. Sebagian lagi mendongkol, karena rumah pujaan-nya dijadikan bahan foto2 pariwisata.
    Mungkinkah suatu ketika kita bisa hidup rukun dan damai, karena tidak ada lagi masalah perbedaan kepercayaan, sesuai petuah orang2 tua,
    sing waras ngalah, sesuai asas demokrasi, sing sitik ngalah, sehingga kita hanya memeluk satu kepercayaan. Tunggal Ika !
    Bagi orang2 yang merasa galau, harus nurut kepada nasehat orang zaman kuno : Principiis obsta. Menyesal kemudian tak ada gunanya.
    Nasi telah menjadi bubur.

    ReplyDelete
  2. dui dui dui... dilema bagi pemerintah. mayat2 kudu dikubur. tapi di sisi lain bisa jadi jujukan anak buah dan orang2 yg sepaham.

    ReplyDelete