01 May 2018

Blokir Opa yang Doyan Share Video



Bapak ES ini tokoh senior yang terkenal di Surabaya. Sering jadi narasumber di televisi dan koran. Khususnya bicara tentang masa lalu. Sejarah. Nostalgia tempo dulu.

Tapi ya itu... hobinya mirip anak-anak muda jaman now. Bapak 70an tahun ini doyan banget share video, gambar, meme yang gak penting. Mungkin dia pikir saya suka video guyonan itu. Atau gambar berisi wejangan-wejangan yang pasti tidak ia buat sendiri.

Cukup lama saya bersabar. Langsung hapus. Tapi lama-lama bosan juga. Orang tua kok senang video-video lucu yang rada ngeres? Mungkin karena tempo dulu belum ada medsos. HP juga tidak ada. Kakek ES seperti jadi remaja belasan tahun.

Maka, kemarin, saya terpaksa 'menasihati' beliau. Nuwun sewu Pak, sebaiknya jenengan tidak perlu share-share lagi video dan meme-meme itu. Gak ada gunanya. Mendingan jenengan menulis catatan atau komentar terkait isu-isu aktual. Fokus ke cagar budaya saja.

Soalnya di Surabaya ini jarang ada pengamat cagar budaya. Apalagi yang bisa bahasa Belanda!

Siap! Begitu jawaban ES. Pendek dan tegas ala serdadu KNIL.

Eh... pagi ini ES kembali share video-video baru. Ukurannya cukup besar. Nyedot data, makan memori. Rupanya kakek ini sudah kecanduan medsos. Dia malah tidak pernah bahas cagar budaya yang bikin dia sangat terkenal. Kelihatannya dia senang menikmati ibu-ibu super gendut yang kesulitan pakai sempak.

Apa boleh buat. Saya terpaksa blokir tokoh lawas itu. Mungkin lebih bagus komunikasi tatap muka seperti dulu.

10 comments:

  1. Walau usia ku kepala 7, aku tidak pernah merasa sebagai generasi Opa, tetapi jelas merasa sebagai Generasi-68, yaitu generasi Hippies, generasi Flower Power dengan semboyan Make Love, Not War. Generasi yang suka ngobrol semalam suntuk sambil ngudut rokok.
    Karena sekarang di Indonesia sedang ramai diskusi masalah Kuli-Kuli China, aku jadi teringat kepada teman-ku, si Joseph orang Flores Bajawa yang suka ngobrol tentang Politik semalaman suntuk.
    Si Flores bercerita tentang pembangunan Tanzania-Zambia-Railway, dari Daressalam ke Lusaka, sepanjang 1860 Km, yang dibangun oleh 50000 Kuli China dan 60000 Kuli Afrika, seluruh biaya ditanggung oleh Tiongkok sebesar 988.000.000,- Renminbi, berupa pinjaman Tanpa Bunga, walaupun ketika itu rakyat Tiongkok sendiri kelaparan.
    Silahkan dibaca di Mbah Google.
    Tiongkok mengirim sekaligus 50000 orang cina, tanpa protes dari pihak Afrika, malahan mereka berterima kasih. Sekarang gara2 21 ribu Kuli China, Indonesia jadi heboh.
    Si Flores bercerita; dia, merasa geli tentang para buruh Afrika yang ngomel2, karena buruh2 cina kerjanya terlalu cepat, sedangkan orang Afrika mencangkul sambil menari dan menyanyi. Tidak ada perbedaan soal upah, makanan dan akomodasi. Semuanya sama rata dan sama rasa, sesuai dengan prisip komunis asli.
    Ketika Sambia merdeka tahun 1964, semua tambang milik Inggris dinasionalisasi, Inggris membalas memboikot Sambia mengexport tembaga nya melalui jalur kereta api via Afrika Selatan. Tahun 1967 Kenneth Kaunda, presiden Sambia, dan Julius Nyerere, presiden Tansania, datang ke Peking, minta tolong kepada Mao Tze-dong, agar dibuatkan jalur kereta api Lusaka - Daressalam, supaya Sambia bisa mengexport tembaga nya via pelabuhan Daressalam. Ketika proyek 1976 selesai, seluruh buruh cina pulang ke Tiongkok.
    Sekarang ini, setelah zaman Deng Xiao-ping, banyak orang China yang menetap di Sambia, tetapi bukan jadi Kuli, melainkan sebagai Investor, membangun pabrik disana, sebab upah buruh di Tiongkok sudah terlalu tinggi.
    Dimana logika para politisi yang badannya gemuk-gemuk, menyangka, menghoax tenaga kerja kasar Tiongkok akan tetap nguli di Indonesia jika proyek pesanan Pak Jokowi sudah selesai.
    Babu cina saya di Tiongkok, saya kasih tinggal di apartement luxus seluas 72 M2, pakai AC dan
    mandi pakai airpanas, kasih Scooter, dan gaji 2000 Yuan per bulan. Demikian pula halnya sopir cina saya, saya kasih tinggal di Bungalow 100 M2
    dengan perlengkapan luxus, untuk ditinggali dengan istri- dan anak-nya, saya sumbang sepeda motor dan digaji 3500 Yuan. Soal makanan semuanya saya tanggung, bahkan mereka yang menentukan masakan yang sesuai dengan selera lidah cina mereka. Saya dan istri-saya, justru makan sisa2 makanan mereka, sebab orang cina jam 7 pagi teng, jam 12 siang teng dan jam 6 sore teng, harus sudah makan, mereka bilang, kalau tidak tepat jam makan, perut mereka bisa rusak. Sedangkan kita yang sudah biasa hidup di Eropa, mau makan kalau sudah ada rasa lapar.
    Rumah saya di Tiongkok, luas bangunannya 1050 M2, luas tanahnya 4250 M2 dan tempat tidurnya 14 kamar , daripada kosong melompong, jadi saya beri para pegawai kenyamanan akomodasi. Saya membangun rumah sedemikian besar, padahal saya dan istri cuma pakai 1 kamar tidur, sebabnya untuk ber-jaga2, siapa tahu kalau ada pogrom terhadap warga Tionghoa di Indonesia, jadi para famili bisa menetap dirumah itu. Mungkin tulisan ini bisa dianggap sebagai provokasi, tetapi kenyataannya issuu SARA di Indonesia kian hari kian bertambah parah. Pokoknya asal jangan Ahok,
    Pokoknya asal jangan Jokowi, Pokoknya asal jangan Cina ! Terus penggantinya siapa ? Mboh ora wero, Dromedar pun bolehlah. Ibu Pertiwi telah cenderung menuju negara theokrasi.
    Dulu, zamannya ganyang Malaysia, aku pernah minta izin kepada ibu-ku, untuk masuk jadi KKO/ALRI, tetapi dilarang dan ditempeleng oleh engkoh-ku. Syukur Alhamdulillah, seandainya jadi KKO dengan bekal ijasah SMP, paling2 sekarang jadi pensiunan kopral. Seharusnya aku dulu ber-angan2 jadi Ustadz.

    ReplyDelete
  2. Engkong Jerman ini ceritanya ke-mana2. Sangat menarik. Saya juga ada cerita menyangkut Komando Ganyang Malaysia.

    Bapak mertua saya dulu waktu lulus dr perguruan tinggi teknik di Bandung pas jaman Sukarno. Krn ekonomi susah, tidak ada pekerjaan, dia ditarik oleh Oomnya (sepupu jauh ibunya) yang dokter pribadi Pangkostrad saat itu, untuk menjadi asisten pribadi alias gopher alias sopir. Jadilah dia menyopiri anak2 Pangkostrade ke-mana2, termasuk si bungsu yg kemudian hari menjadi playboy, buron, dan pembunuh hakim yang menghukumnya. Pas ganyang Malaysia, oleh panglima Kogam yg jg Pangkostrad dia dipanggil, disuruh ikut wamil. "Wes ta, enak enak", kata Pangkostrad. Jadilah dia masuk Angkatan Darat, berkeliaran di hutan Kalimantan yang belum ditebangi, dengan tugas menerima dan mendistribusi pasokan obat2an dari Jawa. Mengapa Pangkostrad bilang "Wes ta, enak2?" Krn, teman2 mertuaku di unit yang menerima barang itu tidak menyalurkan semuanya ke angkatan, sebagian dibawa ke kota, dijual ke apotik2 dan toko2 lokal. Mertuaku bilang "Aku goblok, gak ngerti dagang saat itu. Gak ikut2an jualan. Pulang dari Kalimantan, tetep melarat, mek enthuk pengalaman mangan duren liar di alas kobar dan adhus neng kali rimba Kalimantan."

    Itulah nasib orang naif.

    Tak lama kemudian, revolusi di Jawa. Sang Pangkostrad lompat dua tingkat, melampaui Menteri A.D. yg doet dan Panglima ABRI yang shocked karena anak perempuannya dibren oleh Tjakrabirawa. Revolusi di Jawa. Konfrontasi bubar. Wamil selesai. Mertuaku tahu diri, ga berani melapor ke mantan Pangkostrad yang sekarang penguasa negara di Istana. Dia membuka usaha jual beli cengkeh sampai menjadi makmur. Kira-kira 25 tahun kemudian, eh, anak kecil yang dulu disopiri, membuka usaha monopoli cengkeh, wkwkwkwk, dengan beking ayahnya, sebagai badan penyangga yang ditunjuk negara. Beli murah dan paksa dari petani, jual mahal dan paksa ke pabrik. Pedagang2 macam mertuaku gulung tikar. Petani2 tebangi pohon2 mereka krn ongkos tanam ga masuk. Mertuaku didatangi anak2 buahnya, disuruh jadi penasehat untuk mengklasifikasikan grade2 cengkeh. Tak usyah ya, kata mertuaku. Ngapain kerja dengan rombongan penyamun, dalam hatinya. Maka itu, kalau ada yang bilang, sek penak jamanku toh, aku hanya tersenyum kecut.

    Sejak mantan Pangkostrad itu lengser, memang pelan2 TNI dan angkatan darat turun pamor. Yang naik daun ialah ustad2, polisi dan politisi2 partai. Sering2 mereka berkolusi. Politisi membuat barang jualan, ustad yang jualan, polisi mengamankan.

    Ibaratnya negara ini seorang gadis cantik yang diculik satu gerombolan penyamun satu, lalu direbut oleh gerombolan lainnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dui dui dui...
      Ibarat gadis cantik yg diculik gerombolan penjahat. Jadi mainan mafia2 itu. Perumpamaan yg bagus.

      Delete
    2. Dui dui dui.. Boro-boro gadis cantik diculik penjahat, malahan sebaliknya aku lah, si Benang Sari, yang diculik disandera dan disekap di kos-kosan nya si gadis cantik. Tetapi aku sukarela dan senang.
      Fenomena aneh itu hanya bisa terjadi pada 68-er Generation.
      Generasi-68 adalah zaman edannya para mahasiswa diseluruh eropa barat.
      Diskusi, ngobrol, lupa jam.
      Ngumbe Wein dan ngerokok koyo spoor kluthuk, yo buktine ora matek.
      Setiap ada kesempatan selalu demonstrasi
      sambil teriak2, Che Che Che Guevara !, Ho Ho Ho Chi Minh ! Shah Pahlevi datang didemo. Soeharto datang didemo.
      Ketika disekap 2 hari 3 malam, terpaksa aku harus ikut mendengarkan lagu2 dari Band2 T.Rex, Deep Purple, Black Sabbath, Led Zeppelin, yang diputar oleh si gadis cantik dengan Tape Recorder nya, sampai kuping-ku brebeken. Untungnya ada selingan dua lagu yang merdu, yaitu :
      As tears go bay - Marianne Faithfull dan
      A Whiter Shade of Pale - Procol Harum.
      Dua lagu itu akibatnya menjadi lagu kenangan ku seumur hidup.
      Si Cantik bertanya, lagu2 apa yang kau senangi ? Aku bilang, lagu2-nya Everly Brothers, Skeeter Davis, Bee Gees.
      Si Cantik tertawa ter-pingkal2, lalu mengolok; kamu ini kok ndeso nemen !
      Memang zaman itu zaman edan tenan; anak gadis usia 17, kalau masih perawan, di-olok2 oleh teman2-nya sesama wanita.
      Kalau perempuan pakai kutang, ditertawai.
      Perempuan yang keleknya dikuris, ditertawai.
      Sungguh edan, kumpul kebo 2 hari 3 malam tidak tahu nama masing2, berkomunikasi cuma dengan Ich und Du.
      Senin pagi si Benang sari dan si Putik harus berpisah, karena masing2 harus pergi kuliah. Detik itulah si Putik bertanya sambil memberi kecupan mesra,
      siapa sih sebenarnya nama-mu ?
      Walaupun Zaman e Zaman edan, tetapi masa yang tak terlupakan oleh opa-opa dan oma-oma yang sekarang sok2 suci menasehati anak dan cucu masing2.
      Mau ketemu lagi susah zaman itu, sebab tidak ada Handy. Kalau mau nelpon harus ke gerdu telpon, dan lagi di kos-kosan mana punya telpon.

      Delete
  3. Beliau cerita ke mana2.. bahas sana sini tapi sangat menarik dan genuine. Asli keluar dari pengalaman dan pikirannya.
    Beda dengan Opa Indo di surabaya yg malas menulis pikiran sendiri dan lebih suka share apa saja kepada siapa saja. Khas orang Indonesia di media sosial.

    Tulisan Opa Jerman ini juga muncul setelah membaca catatan2 ringan saya di blog ini. Menggoda orang untuk urun rembug. Itu yg saya suka. Joss tenan.

    ReplyDelete
  4. Mantab! Bung,kalau berkenan tolong bahas ttg kya-kya kembang jepun Surabaya. Sejarah berdirinya,pada masa kejayaannya sampai penyebab penutupannya. Terima kasih bung,sukses untuk anda..

    ReplyDelete
    Replies
    1. sudah dibahas pak freddy di bukunya beberapa tahun lalu. beliau salah satu pengurus harian kya kya. pak dahlan iskan chairman-nya.

      mengapa kya kya tutup? saya lupa detailnya. tapi gampangannya:

      1. kontrak dengan JP selaku pengelola sudah habis. tidak diperpanjang lagi.
      2. pengunjung makin lama makin sedikit. beda dengan di awal keberadaannya si kya kya ini.

      3. itu karena makanan yg disajikan tidak memuaskan pengunjung. tidak seenak yg dibayangkan. satu dua mencoba lalu kapok. gak datang lagi. itu biasa untuk bisnis restoran.

      4. kata pak freddy, sebagian besar yg buka stan makanan itu ternyata baru coba2. trial and error. bukan pedagang makanan yg punya jam terbang tinggi.

      5. tempat parkir juga masalah.

      6. banyak warga setempat, kembang jepun dan sekitarnya yg terganggu. mereka tidak bisa masukin mobilnya karena jalan kembang jepun ditutup. mereka juga gak bisa tidur karena bising musik dll sampai jelang pagi.

      7. kuncinya juga di pemkot surabaya. setelah uji coba kok dirasa gak perlu diteruskan. makanya sekarang pemkot lebih suka bikin acara sejenis di jalan tunjungan. tapi tidak tiap malem kayak di kembang jepun dulu.

      8. kata pengamat kota yg pernah saya tanyai: kembang jepun bukan jalan yg dilewati masyarakat ramai kayak tunjungan atau raya darmo sehingga sulit untuk bikin pujasera atau kya kya. kembang jepun itu punya posisi unik karena jadi arena grosir. orang surabaya sekalipun jarang lewat kalo gak punya urusan dagang.

      9. hiburan2nya juga gak menarik lagi.

      Delete
    2. Alasan nomer paling penting ialah yg nomer 8. Wong Cinane wis ngalih kabeh soko daerah downtown. Biyen akeh wong Cina sing tinggal cedhak kono. Panggung, Kalimas, Waspada, Saiki wis gak jarang, cak. Podho ngalih nang perumahan2 pinggir kota sing ono pusat kerameane dewek2. Nek arep golek panganan enak wayahe siang2 ae nang Pasar Atum.

      Delete
  5. Tulisan pak freddy handoko istanto dosen universitas ciputra, mantan pengurus kya kya kembang jepun:

    ''Harus diakui manajemen Kya Kya kecolongan tenen-tenen yang tidak qualified, tidak profesional, dan pebisnis coba-coba. Berbisnis kuliner di malam hari seperti di Kya Kya memang perlu strategi khusus. Harus profesional.

    Pebisnis coba-coba ini masakannya juga coba-coba. Sekali konsumen kecewa, konsekuensinya konsumen tidak datang lagi. Kalau jumlah konsumen yang kecewa ini makin besar, maka sikap pebisnis coba-coba ini sungguh menjadi ancaman buat keberadaan Kya Kya.''

    Kya Kya diresmikan 31 Mei 2003. Bertepatan dengan hari jadi ke-710 Kota Surabaya.

    ReplyDelete
  6. Soerabaia tempo doeloe, seluruh kota adalah Kya-kya. Yang kya-kya bukannya pembeli, tetapi penjual kuliner.
    Rumah2 di Surabaya dulunya dibangun sesuai IMB yang ditetapkan oleh pemerintah kolonial Belanda.
    Pagar depan rumah hanya boleh setinggi 1,2 M, setengahnya dari bahan tembok dan bagian atasnya dari bahan besi atau kayu. Jadi kalau kita duduk santai pakai kursi penjalin di veranda depan, bisa melihat orang2 kya-kya. Segala macam kuliner khas Jawa dan Cina mulai pagi sampai malam kya-kya didepan rumah. Tinggal panggil, mereka datang, harganya pun murah meriah.
    Kulinernya sedemikian banyak macamnya, tidak bisa menulis semuanya : gethuk, cenil, lemet, bikang, cakwe, kompiang, lik-to-tang, hua-sen-tang, tahua, rujak gobet, dawet, rujak cingur, kupang, lontong balap, soto, sate, tahu campur, tahu tek-tek, lumpia semarang, es lilin, bakmi,
    kacang asin, bakwan, tukang kolas dengan brem madiunnya, roti Tjwan bo, roti Petra,..... dll. Kalau ingin makan yang lebih spesial, bisa naik sepeda ke Jagalan, disamping Bioskop Nusantara makan bakwan kenyal sebesar bola pingpong, ke Genteng beli rujak cowek gede, ke Bioskop Indra beli Es Shanghai, ke Kranggan beli Es kacang ijo, makan rujak cingur didepan Toko Ie ( rumahnya Ratna Juwita, konon teman akrabnya Bung Karno ), Lontong Capgomeh di Depot atas jembatan perempatan undaan-ambengan-achmad jais, ngemplak.
    Sekarang rumah2 di Surabaya temboknya seperti penjara Kalisosok, jadi terpaksa keluar rumah untuk membeli makanan.










    ReplyDelete