09 May 2018

Batasi kecepatan kendaraan di kota

Setiap hari ada kecelakaan di jalan raya. Mati satu, dua, tiga dst. Saking seringnya Laka MD, istilah polisi untuk kecelakaan yang menyebabkan korban meninggal dunia (MD), kita tidak lagi empati dengan orang yang meninggal. Biasa aja. Cuma soal angka. Takdir. Apes aja.

Saya perhatikan, penyebab kecelakaan di Sidoarjo, Surabaya, Gresik hampir sama. Pengendara motor menyalib truk lewat kiri atau kanan, lalu kesenggol. Jatuh. Selanjutnya... wassalam.

Kalau dipikir-pikir, akar utamanya adalah kecepatan. Baik motor, mobil, bus, selalu melaju dengan kecepatan tinggi. Dalam kota. Apalagi di luar kota. Jalan tol... bisa terbang. Seperti tidak ada aturan batas kecepatan di NKRI.

Berita di Jawa Pos hari ini, 9 Mei 2018, menunjukkan betapa jalan raya di dalam Kota Surabaya jadi ajang balapan. Kecepatan rata-rata di frontage road (FR) Ahmad Yani 75 km/jam. Artinya, banyak pengendara yang melaju di atas 90, 100, bahkan lebih. Biasanya di atas pukul 00.00.

Sudah bagus polisi mau mengukur kecepatan kendaraan di dalam kota. Kok selama ini cuek aja? Membiarkan pengendara seenaknya ngebut di Jalan Ahmad Yani? Padahal sudah banyak Laka MD. Bahkan pejalan kaki ditabrak mati saat menyeberang. Di zebra cross pula.

Berapa kecepatan maksimal di dalam kota? Polisi mestinya sudah hafal di luar kota. Sudah ditulis di Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan. Di dalam kota 50 km/jam. Bahkan ada peraturan menhub yang menyebut 40 km/jam.

Tapi aturan batas maksimal ini cenderung jadi macan kertas. Tidak diterapkan secara ketat. Ironis karena FR itu persis di depan markas Polda Jatim Jalan Ahmad Yani. Pengendara motor dan mobil bisa seenaknya melaju di atas 80 km/jam. Tanpa sanksi.

Sangat sulit membuat rakyat Indonesia disiplin hanya dengan imbauan. Spanduk, rambu-rambu, tidak mempan. Harus ada penegakan hukum secara tegas. Tanpa kompromi. Itu pun tidak akan langgeng karena orang Indonesia ini bermental kucing. Suka main kucing-kucingan dengan polisi. Dan takut menabrak kucing. Tapi tidak takut menabrak manusia.

Maka, ada baiknya jalan pendamping di Ahmad Yani itu direkayasa agar kendaraan tidak ngebut. Dibuat tidak mulus. Bikin speed trap yang banyak. Bila perlu bikin polisi tidur kayak di kampung-kampung. Sebab mustahil mengharap rakyat NKRI mau melaju dengan kecepatan di bawah 40 km.

Dulu saya pernah usul agar dibuat batas kecepatan maksimal sepeda motor. Langsung dari pabrik-pabriknya. Limitnya 80 km/jam. Lebih aman lagi kalau 60 km/jam. Dengan begitu, pengendara motor tidak seenaknya ngebut seperti sekarang.

Tapi usulan lama itu sudah tidak cocok lagi. Sepeda motor sekarang didesain dengan kecelakaan tinggi. Ada yang sampai 200 dan 250 km/jam. Malah dimodifikasi sendiri agak bisa lebih ngebut lagi. Honda, Yamaha, Suzuki dkk kelihatannya cenderung menambah kecepatan. Biar mirip Rossi, Marques, Dovi, Vinalles dkk.

No comments:

Post a Comment