31 May 2018

Menu Vegetarian di Malam Waisak

Malam bulan purnama. Tepat Waisak. Saya mampir ke rumah almarhum Pandita Nugroho di Pondok Jati X Sidoarjo. Ikut merasakan berkat Sang Buddha bersama sekitar 100 umat Buddha di Sidoarjo.

Detik-detik Waisak tahun ini 21:19. Jam yang pas. Tidak kemalaman, kepagian, atau kesiangan. Kurang asyik kalau bulan purnama sempurna siang hari. Katakanlah pukul 12.00 atau 13.00. Bulan purnamanya gak kelihatan.

Makanya, saya suka Waisak yang detik-detiknya jatuh malam hari. Itulah pengalaman beberapa kali meliput Waisak di kawasan candi-candi. Meditasi trisuci di alam terbuka, diterangi purnama....asyik.

Pukul 21.00 saya tiba di rumah Pak Nugroho yang rangkap Wihara Dharma Bhakti. Banyak polisi yang berjaga. Jalan masuk ditutup. Saya pun sempat diperiksa sebelum diizinkan masuk.

Suasana sudah meriah. Puja bakti dan sebagainya sudah selesai. Meditasinya kapan? ''Sudah. Sekarang acara makan-makan. Monggo ada nasi pecel yang enak,'' ujar Nico Tri Sulistyo Budi, putra almarhum Pak Nugroho, yang kini jadi rohaniwan Buddha di wihara itu.

Loh... katanya Mbah Google detik-detik waisak jam 9:19?

''Betul. Tapi kita majukan. Biar gak kemaleman. Soalnya banyak anak-anak dan lansia,'' ujar Mas Nico seraya tersenyum.

Luar biasa. Orang Buddha ternyata sangat luwes. Sembahyangnya bisa dimajukan atau dimundurkan. Lihat sikon: situasi dan kondisi. Beberapa tahun lalu waisak jatuh pada pukul 03.00 lebih sekian menit. Pagi buta. Pandita Nugroho bersama jemaatnya melakukan meditasi pada pukul 10.00.

''Meditasi itu bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Kalau di wihara-wihara besar sih biasanya disesuaikan dengan detik-detik waisak. Di sini kan wihara kecil,'' kata Mas Nico yang ketiban sampur jadi pandita setelah ayahnya meninggal pada akhir 2015.

Apa boleh buat. Saya tidak bisa motret umat Buddha meditasi bersama. Mengenang tiga peristiwa penting dalam kehidupan Sang Buddha Gautama.
Saya langsung masuk acara utama: makan-makan. Menu vegetarian khas Buddhis Sidoarjo. Nasi pecel, mi, nasi goreng. Minumnya es garbis kayak buka puasa.

''Alhamdulillah... sueger,'' kata seorang polisi dari Polsek Buduran yang duduk di samping saya.

Selamat Waisak!
Semoga semua makhluk berbahagia!

30 May 2018

Rahman Tamin (1907-1960) Pendiri Ratatex di Balongbendo

Oleh ROSIHAN ANWAR

Rahman Tamin, 54 tahun, Presiden Direktur Ratatex dan NV Rahman Tamin, meninggal dunia Selasa jang lalu (11 Oktober 1960) dan kemarin dikebumikan itu adalah sebuah suri teladan dari ketjakapan dan ketekunan entrepreneur swasta membangunkan suatu usaha jang berharga untuk masjarakat.

Ia berasal dari keluarga saudagar, anak Hadji Tamin. Namun tidaklah berarti bahwa segala sesuatu tadinja telah dilemparkan begitu sadja ke dalam pangkuannja. Ia harus membangunkan usahanja dikit demi dikit mulai dari alasnja.

Alas itu adalah toko kain Jakarta di Pasar Senen, jang dimulainja tidak lama setelah zaman malaise. Dari pengetjer ia meningkat djadi grosir dan di tahun 1937 ia mulai bergerak djadi importir. Tempatnja sudah di Pintu Ketjil, dan perusahaannja telah bernama Firma Rahman Tamin.

Ber-sama2 dengan adiknja, Agus Tamin, ia mempunjai feeling jang tepat sekali untuk mengetahui kain2 tekstil tjorak apa jang digemari oleh publik. Meskipun pendidikan sekolahnja hanja sampai MULO kelas I di Padang, meskipun ia tidak pernah beladjar tentang survey dan research market, management dll, sebagaimana jang dipeladjari oleh doctorandi ekonomi sekarang. Namun perusahaannja madju terus dan di zaman kolonial Belanda itu pun sudah ia diakui dan dihormati oleh pihak Belanda sebagai importir dan ahli tekstil.

Kekuatannja terletak pula pada kemampuannja untuk memimpin Tamin Gebroeders. Semua saudaranja diikutsertakannja dan diberinja tempat jang serasi dalam perusahaannja. Dari satu jang satu itu, ia mempunjai 10 saudara lainnja, di antaranja 9 laki2.

Pada ketjakapannja mengatur uang jang tidak boleh diboroskan pada pengeluaran2 konsumtif jang tidak karuan belaka. Ia tidak memiliki sifat2 OW er OKB alias orang kaja baru. Dan pada pandangannja jang tepat untuk mengalihkan usahanja pada waktu jang tepat dari perdagangan tekstil ke bidang produksi tekstil.

Maka lahirlah konsepsinja untuk membangunkan sebuah pabrik tekstil jang achirnja berwudjud dalam Ratatex jang dibuka dengan resmi di bulan Mei 1958 di Sidoarjo, mesin 4 jasin.

Ratatex dengan produksinja 500.000 meter sehari dan konon mulai November 1960 jad. Ditingkatkan lagi dengan 80%, walaupun belum kerdja dengan sepenuh kapasiteitnja berhubung hambatan2 belum adanja tambahan mesin dan kapital bagi masjarakat, tak dapat disangkal adalah vital bagi masjarakat kita di dalam memenuhi keperluan sandang rakjat.

Hanja kurang lebih setengah tahun sesudah pembukaan resminja Rahman Tamin dapat aktif memimpin Ratatex. Kemudian mulailah ia sakit2an, dan keadaan ini berlanjut terus selama kurang lebih dua tahun. Ia telah diangkat djadi anggota Depernas, tapi di situ pun karena sakit2an, ia tidak kuasa memberikan sepenuh tenaganja.

Ia telah mengecap kegembiraan dan kebanggaan swasta melihat usahanja tumbuh dan dibangunkan atas kekuasaan dan keunggulan sendiri. Ia telah membuktikan bahwa tiada beralasan untuk mempertahankan pandangan rendah si prijaji terhadap saudagar bahwa sesungguhnja orang harus pula menaruh hormat dan respek kepada pengusaha swasta, jang djikalau sadja diberi kesempatan dapat mentjipakan usaha jang berguna bagi masjarakat.

Kini Rahman Tamin entrepreneur in optima forma sudah tak ada lagi. Usahanja diteruskan oleh saudara2nja dan anak2nja. Tapi seperti harimau meninggal meninggalkan belangnja, begitulah manusia meninggal meninggalkan namanja. Nistjaja nama Rahman Tamin dikenang terus. (*)

Sumber: Harian PEDOMAN, Kamis 13 Oktober 1960

26 May 2018

Sabun Sidoarjo Asing di Kampung Sendiri

Sabun produksi PT Megasurya Mas di Desa Tambaksawah, Kecamatan Waru, Sidoarjo, paling banyak diekspor ke luar negeri. Lebih dari 100 negara. Karena itu, perusahaan ini tiap tahun dapat penghargaan dari pemerintah pusat.

Anehnya, tidak banyak warga Sidoarjo yang tahu sabun-sabun produksi PT Megasurya. Lebih dari 10 orang Sidoarjo yang saya tanya pun mengaku tidak tahu. Apalagi memakai sabun yang dibikin di Tambaksawah, desa langganan banjir di dekat Bandara Juanda itu.

Sudah lama saya mengecek toko-toko di Kabupaten Sidoarjo. Ternyata tidak ada sabun buatan Megasurya Mas. Bahkan di Tambaksawah, Tambakrejo, atau Tambaksumur yang satu kawasan dengan pabrik pengolahan kelapa sawit itu.

"Jarang ada orang yang pakai," kata Lita, mahasiswi asal Tambakrejo, tidak jauh dari pabrik sabun Megasurya Mas.

Aneh! Sabun yang katanya diekspor ke banyak negara tapi kurang dikenal di kampung halamannya sendiri. Bisa saja karena selera orang Sidoarjo memang beda dengan sabun-sabun made in Sidoarjo.

Akhirnya, pekan lalu saya menemukan sabun buatan Megasurya Mas Sidoarjo di kawasan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Ada beberapa merek: Harmony dan Medicare. "Penggemarnya lumayan banyak. Harmony itu sabun aroma buah-buahan," kata penjaga toko yang lebih suka sabun Lux.

Sabun-sabun hotel yang mungil itu ternyata buatan Megasurya Mas juga. Sebagian besar hotel di berbagai kota di tanah air menggunakan sabun itu. Bahkan sudah lama ekspor juga.

Mengapa sabun-sabun made in Sidoarjo kurang dikenal masyarakat? Asing di tanahnya sendiri? "Karena tidak ada iklannya. Mana ada iklan sabun-sabun Sidoarjo di televisi, koran, atau majalah?" ujar seorang teman.

22 May 2018

Bumi Surabaya Tolak Mayat Teroris

Senin siang, 21 Mei 2018. Saya mampir ke warkop di dekat Makam Ngagel Surabaya. Tempat cangkrukan lama saya ketika masih tinggal di Ngagel Jaya Selatan. Sekaligus nyekar.

Meskipun bulan puasa, ada saja warkop yang buka. Saya pun tertarik melihat spanduk di dekat makam Bung Tomo. Isinya menolak jenazah teroris. Tidak sudi teroris-teroris yang beraksi di Surabaya dan Sidoarjo 13-14 Mei 2018 itu dimakamkan di Ngagel.

''Itu komitmen warga,'' ujar seorang pria yang biasa dapat job membuat makam di Ngagel. ''Masak sih teroris dimakamkam di dekat makamnya Bung Tomo. Apa kata anak cucu kita,'' ujar kenalan lama yang mokel puasa ini.

Luar biasa arek-arek Suroboyo! Sikap tegas ini sebelumnya ditunjukkan warga Putat Jaya. Mereka bahkan menolak jenazah para teroris meskipun lubang sudah digali. Akhirnya mayat-mayat para pengantin bom bunuh diri itu batal dimakamkan di Surabaya.

Bumi Surabaya menolak teroris! Bahkan mayatnya pun tidak dapat tempat di tanah Surabaya. Tabik dan respek! Inilah bumi para pejuang 45 yang telah mempersembahkan jiwa raga untuk Indonesia.

Polisi sempat bingung. Sebab tidak mungkin mayat-mayat yang hancur itu dibiarkan terlalu lama. Untungnya ada makam milik Dinas Sosial Sidoarjo di dekat sungai kecil itu. Lahan khusus untuk menguburkan jenazah yang tidak dikenal.

Mayat-mayat teroris akhirnya dimakamkan di Sidoarjo. Total 14 mayat. ''Lah, wong keluarganya saja gak mau ngambil jenazah teroris. Mosok mau dimakamkan di sini,'' ujar kenalan lama di dekat Makam Ngagel itu.

Misa Pentakosta seminggu pascabom

Minggu 20 Mei 2018. Tepat seminggu setelah tragedi bom di tiga gereja di Surabaya, semua gereja di Surabaya, Sidoarjo, Gresik dsb dijaga ketat. Khawatir kecolongan teroris bom bunuh diri.

Begitu juga di Gereja Katolik Salib Suci, Wisma Tropodo, Waru, Sidoarjo. Saya ikut misa pagi di gereja yang dilayani imam-imam Societas Verbi Divini (SVD) asal Flores NTT itu. Banyak banget polisi yang berjaga di sekitar gereja. Ada tentara juga. Tidak ketinggalan teman-teman Banser NU.

Pintu pagar yang biasanya dibiarkan terbuka lebar pagi itu dibuka sedikit. Polisi dan petugas keamanan gereja mengecek tas dan barang bawaan umat. Tidak lama. Saya lihat banyak pula polisi-polisi yang pakai pakaian preman.

Ekaristi dipimpin Pater Gabriel Maja SVD. Hari Raya Pentakosta. Pater asal Ngada Flores itu pakai kasula merah. Sesuai dengan warna liturgi Pentakosta. Roh kudus turun untuk memberi kekuatan kepada para rasul.

''Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras....'' petikan Kisah Para Rasul 2:1-12. Bacaan pertama pagi itu.

Misa berjalan seperti biasa. Di dalam gereja tidak terasa kalau pekan lalu ada bom di gereja. Termasuk di Paroki Ngagel. Gereja penuh. Saya bahkan sampai tidak dapat tempat. Untung petugas tatib (istilah khas di paroki-paroki) mengantar saya ke posisi agak depan. Tidak jauh dari paduan suara.

Oh ya... kornya bagus. Ordinarium pakai Gregorian 1. Cukup sulit sehingga jarang dinyanyikan di gereja-gereja lain. Bapak yang jadi dirigen saya nilai sangat menguasai gregorian yang sulit.

Pater Gabriel dalam homilinya sempat menyinggung tragedi bom itu. Sambil geleng-geleng kepala. Kok ada orang tega menyerang sesama di tempat ibadah. Di mana hak asasi? Kewajiban asasi?

''Kita punya kewajiban asasi untuk menghormati kehidupan sesama manusia. Siapa saja!'' tegas pater dengan suara bergetar.

Di ujung ekaristi umat diajak bersama-sama membacakan doa untuk korban bom dan keselamatan bangsa Indonesia. Meminta perlindungan Bunda Maria. Lalu berkat penutup dan pengutusan.

Kor membawakan lagu Ave.. Ave.. Ave Maria. Lagu khas bulan Maria, bulan Mei, yang sudah lama tidak saya dengar. Maklum tidak ada di buku Puji Syukur. Haru. Enak sekali paduan suara membawakan lagu devosi yang sederhana itu. Lagu yang dulu biasa kami nyanyikan saat SD di pelosok NTT.

Di Lourdes di gua sunyi terpencil
Tampaklah Maria perawan murni
Ave... Ave... Ave Maria
Ave... Ave... Ave Maria

19 May 2018

Grup WA Penuh Khotbah

Grup WA sering bikin kesal. Tahu-tahu saya dimasukkan ke beberapa grup whatsapp. Tanpa permisi. Minggu lalu saya dimasukkan ke grup WA kumpulan wartawan-wartawan senior eks koran yang sudah lama tutup.

Gak salah sih. Sebab saya sempat bekerja di situ meskipun tidak lama. "Anda harus ikut grup. Banyak info bagus," ujar Pak Bambang wartawan senior asli Malang.

Saya tolak. Sudah kebanyakan grup. Lagi pula ponsel saya tidak kuat. Kapasitasnya kecil. Eh, jurnalis lawas ini rupanya lupa. Saya dimasukkan ke grup sama admin yang tidak saya kenal. Waduh...

Sudah seminggu ini saya ikuti tulisan, foto, video di grup itu. Ternyata 95 persen ceramah agama Islam. Khotbah-khotbah. Ada juga motivator yang eks wartawan yang juga penuh pesan islami. Bahkan ada juga yang kelihatannya pendukung HTI.

Saya malas baca postingan-postingan para pensiunan wartawan itu. Terlalu banyak khotbah agama. Pagi siang malam.. selalu muncul siraman rohani. Ironisnya, bukan tulisan sendiri tapi share dari mana-mana. Kreativitas wartawan senior itu lumpuh.

Di usia senja. Kalau cuma share tulisan, foto, video... apa bedanya dengan anak kecil? Padahal para senior itu dulu sering ceramah agar reporter-reporter muda harus rajin meliput. Wawancara tatap muka. Turun ke lapangan. Banyak deskripsi. Pancaindra dipakai, kata wartawan senior yang juga anggota grup. Total anggota 100 lebih.

Saya pun mau left group. Cabut. Tapi gak enak sama beberapa senior yang akrab. WA ini memang beda dengan FB. Keluar grup WA akan terlihat semua anggota.

Kalau grup wartawan-wartawan lawas penuh khotbah Islam, sebaliknya salah satu grup orang NTT penuh khotbah-khotbah kristiani. Ada gambar, video dsb. Setelah terjadi bom di gereja, maraklah khotbah macam di gereja.
Malah lebih lebay di media sosial. Kalau di gereja cuma sekali seminggu, di grup medsos ini setiap saat. Apalagi beberapa anggota yang aktif luar biasa. Kapan kerja kalau khotbah terus? Pastor yang kerjanya (antara lain) berkhotbah pun tak bicara sebanyak ini.

Apa boleh buat, saya harus hapus grup-grup khotbah ini. Ketimbang capek membersihkan postingan tiap hari. Kesel Cak!

15 May 2018

Mampir ke Gereja Katolik Ngagel Surabaya

Sudah tiga tahunan saya tidak masuk ke Gereja Santa Maria Tak Bercela, Ngagel Surabaya. Setelah tidak tinggal di Ngagel Jaya Selatan. Dulu tiap Minggu saya misa di sini. Duduk di pinggir kiri. Biasanya ketemu Mbak Jeane PR salah satu hotel bintang lima di Surabaya.

Maka ada rasa haru saat mampir lagi ke paroki lamaku ini. Masih banyak serpihan sisa-sisa bom yang meledak hari Minggu pagi 13 Mei 2018. Sejumlah pekerja dikirim Ibu Wali Kota Bu Risma untuk membersihkan sisa-sisa reruntuhan di depan.

Masih banyak polisi, tentara, dan satpol pp yang berjaga. Siaga penuh. Siapa pun tak boleh masuk ke halaman tanpa izin. Termasuk umat paroki. Termasuk wartawan media apa pun.

Karena itu, saya pun disilakan menunggu lama di luar pagar. Bersama beberapa wartawan lokal dan internasional. Saya jadi tahu Mbak Sitepu dari BBC yang tulisannya sering saya baca. Hem... mirip artis sinetron.

''Tiap hari saya baca BBC,'' kata saya, siapa tahu nona dari Jakarta berdarah Batak Karo ini senang.

''Oh ya...,'' balasnya tersenyum.

''Iya. BBC Football paling saya suka. Saya senang mengikuti analisis Liga Inggris. Sangat lengkap. Mendalam. Pakai data-data akurat. Nggak asal nulis thok,'' kata saya.

Sekitar 30 menit kemudian Sitepu dkk disilakan masuk. Ngopi dulu. Ibu-ibu paroki menyiapkan kopi, teh, nasi bungkus berlimpah di meja dekat toko buku. Untuk bapak-bapak keamanan.

Setelah wartawan bule Amerika selesai wawancara, kami masuk ke gereja Katolik terkenal itu. Oh, ada Romo Nanglek yang masih rajin pelihara brewok. Dulu sering jadi teman diskusi di markas PMKRI Surabaya. Sekarang pastor yang nama aslinya RD Petrus Canisius Eddy Laksito itu jadi direktur Seminari Tinggi Providentia Dei Surabaya. Kampusnya calon-calon imam diosesan alias RD di Keuskupan Surabaya.

Senang banget ketemu Romo Nanglek yang memang hebat itu. Sayang, di dalam gereja yang baru dibom oleh dua remaja teroris muda. Mas Aloysius Bayu Rendra yang jadi relawan jaga gereja tewas karena mencegah teroris masuk dan ngebom di dalam gereja yang umatnya sudah banyak itu.

Sitepu BBC dan wartawan lain sibuk wawancara Romo Aloysius Widyawan, pastor rekan. Cerita tentang kejadian bom dua hari lalu. Saya cuma nguping karena sudah dimuat di koran-koran. Di televisi juga sudah diulas besar-besar.

Romo Widyawan banyak menyinggung Mas Bayu. Seorang relawan yang mengorbankan diri untuk keselamatan orang lain. Pengorbanan yang tak sia-sia. Paroki mengadakan misa requiem sore harinya. Solidaritas muncul usai peristiwa tragis ini.

Romo Widyawan merasa terharu. Betapa banyak saudara-saudari yang datang untuk memberikan dukungan moral. Baik yang Katolik, Islam dsb. Semua sama-sama mengutuk peristiwa ini.

Apakah Romo sudah mengampuni pelaku (teroris)? Begitu kira-kira pertanyaan BBC.

Romo Widyawan tersenyum. Mengambil napas panjang. Lalu bilang bahwa pelaku bom ini sejatinya juga korban. Dua anak remaja yang nekat melakukan perbuatan keji ini karena mendapat didikan atau indoktrinasi dari orang lain. ''Tentu kita sudah memaafkan. Kita juga mendoakan agar tidak ada lagi peristiwa seperti ini,'' katanya.

Apakah hari Minggu nanti ada misa seperti biasa? tanya BBC lagi.

Romo Widyawan sih maunya begitu. Namun, dalam kondisi siaga satu ini, pihak gereja tentu tidak bisa membuat keputusan sendiri. Harus koordinasi dengan kepolisian dsb. ''Mudah-mudahan diizinkan,'' katanya.

13 May 2018

Warga Flores Timur Kembali ke Sorgum?

Jarang ada berita positif tentang NTT, khususnya Flores, di media nasional. Biasanya lebih banyak memuat kelaparan, kurang gizi, atau bencana alam. Makanya, orang NTT di luar NTT umumnya malas baca koran yang mengulas daerahnya.

Kemarin agak lain. Kompas edisi Sabtu 12 Mei 2018 memuat berita berjudul MASYARAKAT FLORES TIMUR KEMBALI KE SORGUM. Menarik. Saya langsung baca sepulang dari misa di Pandaan yang dipimpin Romo Stanis Beda CM, asal Flores Timur.

Judul berita, khas media, ya gebyah uyah. Generalisasi. Wartawannya cuma meliput kebun sorgum contoh di Desa Kimakamak, Adonara Barat. Dus, bukan seluruh Flores Timur yang luas dengan Pulau Solor dan Adonara itu. Tapi rupanya pemda setempat berencana menyebarluaskan sorgum.

Sorgum memang bukan tanaman asing di NTT. Di masa kecil saya melihat cukup banyak sorgum di kebun. Ada yang dibudidaya, tapi lebih banyak yang tumbuh sendiri. Setengah liar.

Enak dimakan. Lebih enak ketimbang jagung atau padi. Itu sih pengalaman lidah saya dulu. Yang sudah 20an tahun tidak makan sorgum. Sayang, tanaman sorgum ini perlahan-lahan hilang. Tidak ada lagi sorgum di Adonara atau Lembata tahun 1990an.

Jagung masih jadi andalan petani di lahan kering Flores Timur. Yang air hujannya cuma menetes paling lama tiga bulan. Itu pun tidak selalu berhasil. Tanaman jagung sering mati karena musim hujan yang makin sulit ditebak. Lalu paceklik. Rawan pangan istilah resmi orde baru. Lalu masuk koran-koran dan TVRI.

Lalu digelontorlah beras dari Jawa. Biasanya diambil beras kualitas terjelek dari gudang Bulog. Tapi beras is beras. Derajatnya dianggap lebih tinggi ketimbang jagung atau singkong. Apalagi sorgum.

Politik beras ini berlanjut dengan raskin (beras untuk keluarga miskin) yang masif. Satu kilogram cuma Rp 1.000. Jauh lebih murah ketimbang jagung.

Maka, pelan-pelan orang Flores Timur jadi terbiasa makan padi (nasi). Kalau tahun 80an sekira 80 persen orang makan jagung, sekarang terbalik. Bahkan, saya baca di Media Indonesia warga yang makan nasi (beras) di NTT saat ini (2018) sudah di atas 90 persen. Orang NTT juga makin jarang yang kurus. Kecuali yang kurang gizi itu.

Nah, apakah bisa Flores Timur dan Lembata kembali makan sorgum? Hem... saya kok ragu. Sebab sampai sekarang image beras masih jauh di atas jagung, sorgum, jewawut, umbi-umbian dsb. Pemda sendiri pun kurang serius menggalakkan tanaman pangan asli daerah.

Setiap kali mudik ke Flores Timur dan Lembata, saya selalu minta nasi jagung. Ternyata sulit. Hampir tidak ada stok. Yang ada ya beras itu. Kebanyakan kelas raskin. Beras merah dari padi gogo hampir tidak ada lagi. Apalagi cari jagung titi, cemilan khas sejenis emping jagung khas Lamaholot. Kadang harus beli jauh di Lewoleba.

''Sorgum ini bisa bertahan meskipun jagung mati. Rasanya juga lebih enak,'' ujar Lambertus Laga dari Desa Kimakamak.

Pemuda 21 tahun ini salah satu warga yang serius membudidayakan sorgum di Adonara Barat. Omongannya cukup optimistis.

Mudah-mudahan semakin banyak petani yang mau menanam sorgum seperti Ama Laga ini. Dan itu berarti ladang-ladang yang biasanya ditanami jagung perlu dialihkan ke sorgum. Tidak perlu semuanya dikonversi. Cukup 25 persen dulu untuk uji coba. Siapa tahu berhasil.

12 May 2018

Orang Flores Timur Menemukan Kampungnya

Tulisan ringan di blog ini ternyata ada manfaatnya. Setidaknya buat Alamsyah di Jambi. Almarhum bapaknya asli Adonara Flores Timur, mualaf, tidak pernah pulang kampung. Alamsyah ingin melacak sanak keluarga ayahnya.

Dia bertanya ke sejumlah orang Flores tapi minim informasi. Maka dia minta bantuan Google. Eh, diantar ke blog ini. Dia baca artikel tata nama orang Flores Timur. Saya memang gunakan tradisi Lamaholot alias Flores Timur untuk menjelaskan pola penamaan orang Flores. Main gebyah uyah atau generalisasi saja.

Adonara, Lembata, Solor, Pulau Flores bagian timur itu sama-sama etnis Lamaholot. Bahasa, adat istiadat, makanan dsb sama. Dulu sama-sama Kabupaten Flores Timur. Kemudian Lembata dijadikan kabupaten sendiri setelah reformasi. Karena itu, tulisan saya nyambung dengan yang diinginkan Alamsyah.

Percakapan di jagat maya ternyata sangat membantu Alamsyah. Apalagi Redontena, kampung asal bapaknya, sangat terkenal di Flores Timur. Silakan datang ke sana. Pasti orang-orang kampung tahu siapa gerangan ayahmu. Lengkap dengan silsilahnya. Begitu jawaban saya.

Lama tak ada kabar, Alamsyah ternyata sudah pulang dari Adonara. Berhasil menemukan apa yang dia cari selama bertahun-tahun.

Berikut tulisan Alamsyah:

Saudaraku Lambertus Hurek,
Puji syukur saya panjatkan kpd Tuhan YME, karena atas rahmatNya lah saya akhirnya menemukan Asal Usul serta garis keturunan almarhum Ayah saya.

Pada tgl 20 april 2017 lalu saya putuskan berangkat ke Lewotanah dengan berbekal info pencarian di Group FB "KBLW". Melalui info dari Kak Agnes Kewa Daton di Kupang dan abang Yovin di Redontena.

Tgl 20 tiba di Kupang dan menginap 1 malam di rumah Kak Agnes utk kemudian besok sorenya terbang lagi dari Kupang ke Larantuka.

Tgl 21 saya tiba di Larantuka dan disambut oleh keluarga yaitu anak Rahmat anak abang Yovin dan Abang Bahrun Wuran TNI Kodim Larantuka.

Kemudian kami pergi utk menyebrang melalui Tobilota dan melalui perjalanan Motor abang Bahrun. Akhirnya kami sampai di Redontena.. di rumah Abang Anton Sabon. Saya disambut oleh haru biru kegembiraan dan kesedihan.

Ana Kide.. Ina Aman Take.. Perhoro.... Oremio...

Entah apa yg saya rasakan saat itu. Mimpikah tapi bahagia yg tak terhingga karena tak percaya saya si anak Bungsu berhasil dan menemukan asal dan keluarga almarhum ayah saya.

Mereka juga tak menyangka jika anak hilang itu telah kembali... peluk hangat dari mereka membuat saya yg tak pernah kenal dan tau siapa mereka membuat saya larut dgn kesedihan dan dlm hati saya berkata, "Papa... aku telah menemukan keluarga dan kampung halaman tmpat engkau dilahirkan. Semoga engkau bisa tersenyum di Alam sana."

Singkat cerita akhirnya saya pun mendapatkan nama kampung dengan adat BUA OREK dan nama saya menjadi ALAMSYAH MADO BAYO LAMAWURAN.

Dan saya pun melakukan gelar adat IKIT KENATEN untuk orang tua yg sudah meninggal. akhirnya saya tau :

Nama ayah saya : Yohanes Komak Liat Lamawuran
Nama Kakek saya : Dore Bayo
Nama Nenek saya : Prada Pahma
Nama Kampung saya : Redontena

dan saya tau semua nama keluarga ayah saya di sana... dan bertemu dgn adik kandung ayah saya yg masih hidup bapa Wangun Ola.

Sungguh kisah ini tak kan pernah saya lupakan selama hidup saya... dan tak terasa satu tahun semenjak kedatangan saya di Lewotanah pada tanggal 21 April 2017.

Semoga suatu saat saya bisa kembali lagi dan bisa membawa seluruh kakak saya semua dari yang sulung laki2 sampai ke 6 saudara kami bisa ke Lewotanah.

LEWOTANAH MO MOLO GO DORE.

Demikian kisah yg dapat saya sampaikan. Salam hangat utk semua org2 NTT di mana pun kalian berada.''

Dr Amien Rais Bisa Tiru Dr Mahathir

Obama pertama kali angkat sumpah sebagai presiden USA pada usia 44 tahun. Sangat muda untuk ukuran presiden. Apalagi negara kuat kuasa macam Amerika Serikat.

Naiknya Obama sempat jadi inspirasi bagi politisi muda di mana-mana. Bahwa sekaranglah eranya pemimpin muda. Yang paling cocok dengan era digital. Menjawab tantangan milenium baru.

Eh, setelah 8 tahun berkuasa di Gedung Putih, capres pengganti Obama malah jauh lebih tua. Trump 71 vs Hillary 70. Sama-sama remaja tempo doeloe. Donald Trump menang. Bapak tua yang (dulu) doyan lalapan daun-daun muda.

Orang pun tidak lagi bicara tentang pemimpin yang harus muda. Cuma partainya Grace eks penyiar televisi, PSI, yang doyan jualan kecap bahwa sekarang eranya politisi muda. Eranya wajah-wajah baru yang seger buger.

Tadinya saya kira cuma Presiden Trump ini yang tua yang menang. Tentu saja ada Paus Fransiskus, 81, di Vatikan. Tapi Sri Paus pemimpin agama. Bapa Suci. Tidak ada urusan politik praktis macam di negara-negara biasa.

Eh, Tun Mahathir Mohammad, 92, bikin kejutan. Menang pemilu di Malaysia. Jadi perdana menteri lagi. PM tertua di dunia.

Luar biasa Dr M ini!

Di usia yang sepuh beliau masih sangat kuat main politik. Bisa mengalahkan BN yang sangat kuat itu. Tidak terbayangkan bahwa pembangkang (oposisi) bisa menang di Malaysia. Sejak merdeka, 1957, pembangkang cuma sekadar aksesoris di Malaysia. Biar kelihatan demokrasi. Mirip PPP dan PDI di masa orde baru yang mustahil menang.

Beberapa menit lalu saya baca detiknews. Amien Rais marah-marah sama pemerintah. Pendiri PAN ini bilang Indonesia ini negara pekok (bodoh) karena UU-nya tidak memihak kepentingan rakyat. Khususnya migas. Freeport dikasih peluang untuk keruk hasil migas kita. Amien Rais kasih beberapa contoh lagi. Untuk menguatkan argumentasinya soal pekok itu.

Sambil nyeruput kopi putih (di Jatim lagi ngetop white coffee), saya pikir ada baiknya Amien Rais meniru Mahathir. Usia Pak Amien 74 tahun. Jauh lebih muda ketimbang Mahathir. Pak Amien punya partai: PAN. Basis dukungannya juga jelas.

Apa tidak sebaiknya maju pilpres saja? Amien Rais pernah ikut pilpres tapi kalah. Siapa tahu angin dari Malaysia berpihak kepadanya. Untuk memperbaiki situasi di NKRI yang dia anggap tidak karuan itu.

Ketimbang main politik muka dua, punya menteri di kabinet Jokowi, tapi kritikannya lebih keras (dan kasar) ketimbang Gerindra dan PKS, Amien Rais lebih baik menjadikan PAN sebagai lokomotif oposisi. Jadi pemimpin pembangkang -- istilah Malaysia. Melawan Jokowi dan koalisinya.

Bisa minta nasihat Dr Mahathir kiat-kiat untuk menumbangkan Jokowi.

11 May 2018

Pemilu super cepat di Malaysia

Luar biasa pemilu di Malaysia. Coblosan Rabu pagi, malamnya sudah ketahuan hasilnya. Resmi. Versi KPU. Bukan versi quick count kayak di Indonesia. Hitung cepat pun banyak yang salah. Prabowo malah dinyatakan menang di tvOne.

Besoknya, Kamis, perdana menteri baru sudah dilantik. Dr Mahathir resmi jadi PM Malaysia. Di usia 92 tahun.

Selamat untuk Dr M!
Selamat untuk rakyat Malaysia!
Tsunami politik terjadi di negara jiran. Mirip reformasi 98 yang menumbangkan orde barunya Pak Harto.

Pemilu yang luar biasa efisien, cepat, membuat saya kagum. Tidak percaya kok bisa secepat itu diumumkan hasilnya. Tidak perlu tunggu 6 bulan seperti di Indonesia.

Kemarin, 68 kepala desa dilantik di Sidoarjo. Pilkadesnya 25 Maret 2018. Hampir dua bulan setelah coblosan. Hasil coblosan kades pun tidak bisa diketahui secepat pilihan raya di Malaysia.

Begitulah. Orang Indonesia punya budaya alon-alon waton kelakon. Biar lambat asal selamat. Gak usah kesusu.

Tak lari gunung dikejar. Karena itu, pemilu kita lamaaa baru ketahuan hasilnya. Biasanya tiga empat bulan. Bahkan lima bulan. Di tingkat kabupaten saja perlu dua minggu. Belum provinsi. Kemudian nasional.

Anies Baswedan sempat curhat usai dinyatakan menang. Sebab jarak waktu dengan pelantikan sekitar 5 bulan. Ahok yang kalah tetap menjabat. Kemudian diganti Djarot karena Ahok dipindahkan ke hotel prodeo.

Mengapa budaya lambat masih dipertahankan? Di era yang bergegas ini?

Ah... sudahlah. Lain padang lain belalang, lain negara lain adat.

09 May 2018

Prof. Karel Steenbrink Bahas Gereja Katolik di Indonesia


Cukup banyak pakar atau sejarawan asing yang menulis tentang Gereja Katolik di Indonesia. Sebagian besar misionaris Eropa yang berkarya di sini sejak Hindia Belanda sampai kemerdekaan. Tulisan-tulisan mereka sebagian dibukukan. Sebagian besar belum diterjemahkan.

Prof Karel Steenbrink dari Belanda belum lama ini menerbitkan tiga buku tentang Gereja Katolik. Karel bukan pastor, uskup, atau aktivis gereja. Dia ilmuwan, dosen, yang justru lebih banyak mengajar di IAIN ketika bertugas di Indonesia. Prof Karel malah agak asing dengan Katolik di Indonesia.

Yang menarik, di masa tuanya, di Belanda, Prof Karel Steenbrink ini punya energi berlimpah untuk mengkaji Gereja Katolik di Indonesia. Cari dokumen dan data di mana-mana. Untungnya, sebagai orang Belanda, dia punya akses ke sejumlah biara ordo-ordo yang punya karya pastoral di Indonesia.

Luar biasa! Dokumennya sangat lengkap. Prof Karel Steenbrink akhirnya mampu menerbitkan mahakarya berupa tiga volume tentang Gereja Katolik Indonesia itu. Kebetulan saya dikirimi volume ketiga soft copy-nya: CATHOLICS IN INDEPENDENT INDONESIA 1945-2010.

Terima kasih banyak, Prof Karel!

Mantan peneliti pondok pesantren itu memang sempat minta izin mengutip beberapa artikel saya. Saya juga kirim foto Gereja Sakramen Mahakudus di Pagesangan, Surabaya, yang bertetangga dengan Masjid Al Akbar. Gereja ini diresmikan oleh Presiden Abdurrahman Wahid bersamaan dengan peresmian masjid agung itu.

Namanya juga peneliti Barat, buku Karel Steenbrink ini sangat detail. Mendalam. Setiap potong informasi selalu ada rujukannya. Ini membuka wawasan pembacanya. Orang Katolik sekalipun belum tentu punya informasi sekomplet itu.

Yang mengesankan, sekaligus mencemaskan saya, adalah potret umat Katolik di Indonesia pada 1990an hingga reformasi. Kiprah orang Katolik di ruang publik, pentas politik nasional, makin sedikit. Beda dengan masa gerakan mahasiswa 65-66 ketika Cosmas Batubara bersama aktivis PMKRI punya kepercayaan diri dan berani tampil. PMKRI bersama ormas mahasiswa lain macam HMI, PMII, GMNI dsb berada di garis depan perjuangan di akhir kekuasaan Bung Karno.

Prof Karel Steenbrink menulis:

''In the 1990s there was a revival of the public presence of Islam. There were fewer opportunities for Christians in public positions. After the fall of Soeharto in 1998 there was even a growing call for the implementation of shari a rules in society. Starting in the 1970s the large number of primary and secondary Catholic schools was reduced, because the government had started a great programme for public schools and the Catholic community was not able to finance all their schools. Since then the Catholics more and more put the own parish and liturgical celebrations at the heart of their life as Catholics.''

Dia kemudian mengutip tulisan Dr. Kees de Jong yang ikut misa malam Paskah 2011 di Jogjakarta. Dr Kees de Jong juga peneliti asal Belanda.

''Last night we went to the Easter Vigils of 8.30 pm. In Saint Anthony Church in Yogyakarta the vigils are celebrated three times, because of the vast number of attendants. On common Sundays they have eight Masses with a total of 10,000 faithful.

The street next to the church has been turned into an extension of the church through tents and chairs, just like the public square in front of the church. We attended a very moving celebration, starting with the well known readings about the creation, the exodus from Egypt. There was the blessing of the new fire and the Paschal candle was lit. After the Paschal candle was put on the altar, a Javanese dance was performed, encircling the new light, the risen Christ who disperses darkness.

Thereafter was a reading from Ezekiel, followed by another dance when the water was brought to be blessed. After the renewal of the baptismal vows (with the concrete Indonesian condition of a renunciation of gambling and drinking alcohol) water was sprinkled over us and the resurrection story was read from Luke. After a short sermon the gifts (candles, bread and wine, the money of the collection) were brought to the altar with another Javanese dance.

During the service there were many hymns, sung by the community and by a choir of the Catholic Sanata Dharma University. Saint Anthony is a kind of a city church where many students come to Mass. Their choir sung the famous Hallelujah by Handel as the conclusion of a service of 2.5 hours that was never boring and very inspiring.''

Di mata Prof Karel, umat Katolik di Indonesia sekarang cenderung sibuk di seputar altar. Fokus ke liturgi. Rajin ekaristi di tengah mayoritas muslim. Makin jarang hadir di ruang publik di tengah tuntutan pemberlakuan hukum syariah di sejumlah daerah.

Fenomena yang digambarkan Prof Karel ini cukup akurat. Itu juga yang kita rasakan pada pertengahan 1990an. Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) kesulitan mencari anggota baru. Mahasiswa-mahasiswi Katolik lebih suka ikut KMK (Keluarga Mahasiswa Katolik) yang dianggap lebih asyik. Persekutuan doa pun lebih disukai.

PMKRI juga makin sulit merekrut mahasiswa-mahasiswi dari perguruan tinggi negeri atau swasta papan atas. Padahal di masa lalu, PMKRI selalu dipegang mahasiswa UI, UGM, Unair dsb. Sekarang saya lihat PMKRI lebih banyak diisi oleh mahasiswa dari kampus-kampus swasta yang akreditasinya bukan kelas A.

Semoga buku karya Prof Karel Steenbrink ini menjadi bahan refleksi bagi umat Katolik di Indonesia. Khususnya KWI, para uskup, komisi kerawan, Iska, PMKRI, hingga dewan paroki di seluruh Indonesia.

Batasi kecepatan kendaraan di kota

Setiap hari ada kecelakaan di jalan raya. Mati satu, dua, tiga dst. Saking seringnya Laka MD, istilah polisi untuk kecelakaan yang menyebabkan korban meninggal dunia (MD), kita tidak lagi empati dengan orang yang meninggal. Biasa aja. Cuma soal angka. Takdir. Apes aja.

Saya perhatikan, penyebab kecelakaan di Sidoarjo, Surabaya, Gresik hampir sama. Pengendara motor menyalib truk lewat kiri atau kanan, lalu kesenggol. Jatuh. Selanjutnya... wassalam.

Kalau dipikir-pikir, akar utamanya adalah kecepatan. Baik motor, mobil, bus, selalu melaju dengan kecepatan tinggi. Dalam kota. Apalagi di luar kota. Jalan tol... bisa terbang. Seperti tidak ada aturan batas kecepatan di NKRI.

Berita di Jawa Pos hari ini, 9 Mei 2018, menunjukkan betapa jalan raya di dalam Kota Surabaya jadi ajang balapan. Kecepatan rata-rata di frontage road (FR) Ahmad Yani 75 km/jam. Artinya, banyak pengendara yang melaju di atas 90, 100, bahkan lebih. Biasanya di atas pukul 00.00.

Sudah bagus polisi mau mengukur kecepatan kendaraan di dalam kota. Kok selama ini cuek aja? Membiarkan pengendara seenaknya ngebut di Jalan Ahmad Yani? Padahal sudah banyak Laka MD. Bahkan pejalan kaki ditabrak mati saat menyeberang. Di zebra cross pula.

Berapa kecepatan maksimal di dalam kota? Polisi mestinya sudah hafal di luar kota. Sudah ditulis di Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan. Di dalam kota 50 km/jam. Bahkan ada peraturan menhub yang menyebut 40 km/jam.

Tapi aturan batas maksimal ini cenderung jadi macan kertas. Tidak diterapkan secara ketat. Ironis karena FR itu persis di depan markas Polda Jatim Jalan Ahmad Yani. Pengendara motor dan mobil bisa seenaknya melaju di atas 80 km/jam. Tanpa sanksi.

Sangat sulit membuat rakyat Indonesia disiplin hanya dengan imbauan. Spanduk, rambu-rambu, tidak mempan. Harus ada penegakan hukum secara tegas. Tanpa kompromi. Itu pun tidak akan langgeng karena orang Indonesia ini bermental kucing. Suka main kucing-kucingan dengan polisi. Dan takut menabrak kucing. Tapi tidak takut menabrak manusia.

Maka, ada baiknya jalan pendamping di Ahmad Yani itu direkayasa agar kendaraan tidak ngebut. Dibuat tidak mulus. Bikin speed trap yang banyak. Bila perlu bikin polisi tidur kayak di kampung-kampung. Sebab mustahil mengharap rakyat NKRI mau melaju dengan kecepatan di bawah 40 km.

Dulu saya pernah usul agar dibuat batas kecepatan maksimal sepeda motor. Langsung dari pabrik-pabriknya. Limitnya 80 km/jam. Lebih aman lagi kalau 60 km/jam. Dengan begitu, pengendara motor tidak seenaknya ngebut seperti sekarang.

Tapi usulan lama itu sudah tidak cocok lagi. Sepeda motor sekarang didesain dengan kecelakaan tinggi. Ada yang sampai 200 dan 250 km/jam. Malah dimodifikasi sendiri agak bisa lebih ngebut lagi. Honda, Yamaha, Suzuki dkk kelihatannya cenderung menambah kecepatan. Biar mirip Rossi, Marques, Dovi, Vinalles dkk.

Merajut Persaudaraan di Kelenteng Sidoarjo


Kelenteng Tjong Hok Kiong Sidoarjo kemarin merayakan sejit. Ulang tahun. Tepatnya HUT ke-1.058 Makco Thian Siang Sen Bo. Dewi Laut asal negeri Tiongkok itu memang yang empunya rumah persembahyangan di Jalan Hang Tuah Sidoarjo itu.

''Yang penting itu Makco. Tanggal kelahiran beliau selalu dirayakan secara khusus. Yang hadir hampir semua perwakilan kelenteng di Jatim,'' ujar salah seorang tokoh Tionghoa di Sidoarjo.

Makco Thian Siang Sen Bo ini memang tokoh istimewa bagi orang Tionghoa di tanah air. Bahkan di seluruh dunia. Karena itu, sejitnya selalu dirayakan dengan meriah. Selain sembahyang biasa, ada bakti sosial, wayang potehi, wayang kulit, tari-tarian, pesta kuliner di kawasan kelenteng dsb.

Bupati Sidoarjo sejak dulu selalu hadir. Setiap tahun. Itu yang saya lihat sejak zaman Bupati Win Hendrarso dua periode. Kemudian Bupati Saiful Ilah yang sekarang. Ini juga menunjukkan bahwa komunitas Tionghoa di Sidoarjo punya hubungan yang bagus dengan pemerintah daerah.

Yang menarik lagi, Makco Day ini jauh lebih meriah ketimbang tahun baru Imlek alias Sincia dan Cap Go Meh. Tidak banyak umat yang datang ke kelenteng untuk Sincia. Tapi kalau Makco Day, pagi sampai larut malam begitu banyak warga Tionghoa yang datang. Dari berbagai kota.

Bahkan, kata beberapa orang tua di kawasan pecinan, Hari Makco selalu dirayakan selama satu minggu. Panitia mendatangkan wayang kulit, ludruk, tarian tradisional dsb. Tapi pesta meriah ini hilang pada masa Orde Baru. Acara tetap ada tapi cuma di dalam kompleks kelenteng. Sederhana saja.

Tidak heran, selama ini banyak warga Tionghoa yang lahir di masa Orde Baru tidak tahu tradisi di Kelenteng Tjong Hok Kiong. Bahkan banyak juga yang tidak tahu bahwa di Sidoarjo ada kelenteng tua. Yang sangat terkenal di kalangan Tionghoa se-Jatim.

Selama ini orang lebih tahu GOR Basket Tridharma di Jalan Hang Tuah Sidoarjo. Tidak tahu kalau ada kelenteng besar di sampingnya. Tridharma merupakan klub basket terkuat di Kabupaten Sidoarjo. Dari dulu sampai sekarang.

Syukurlah, di era reformasi, kekangan terhadap Tionghoa sedikit demi sedikit mulai lepas. Pesta hari jadi Makco marak lagi. Kecurigaan terhadap segala hal yang berbau Tionghoa mulai berkurang. Meskipun sentimen itu sewaktu-waktu muncul kembali ketika ada pertandingan politik macam pilkada di Jakarta atau pilpres.

Bupati Sidoarjo Saiful Ilah, yang juga ketua DPC PKB Sidoarjo, tokoh senior NU, dalam sambutannya menekankan pentingnya persaudaraan yang sejati di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Persaudaraan yang sejati itu penting sebagai alat pemersatu bangsa. ''Bukan persahabatan yang pura-pura,'' kata bupati yang akrab disapa Abah Ipul ini.

Seperti biasa, Abah Ipul tak lupa sumbang suara untuk menghibur hadirin yang memenuhi GOR Tridharma samping kelenteng. Lagunya... apalagi kalau bukan.. Jangan Ada Dusta di Antara Kita. Abah berduet dengan penyanyi pop Mandarin Surabaya yang bersuara renyah.

Semua terserah padamu
Aku begini adanya
Kuhormati keputusanmu
Apa pun yang akan kau katakan....

08 May 2018

Libur Lebaran kurang lama

Jumlah hari libur + cuti bersama terus bertambah di NKRI. Lebaran tahun ini bakal libur 12 hari nonstop. Tepatnya dua minggu. Para pegawai pemerintah tentu saja senang tak terkira. Bisa mudik dan pesiar ke mana-mana.

Bagaimana dengan karyawan swasta? Ada efeknya juga. Sebagian besar perusahaan tentu manut hari libur pemerintah. Sebab berbagai urusan, transaksi dsb pasti melibatkan dinas-dinas atau kantor pemerintah.

Yang pasti tidak bisa libur panjang adalah polisi, perawat, pegawai bandara atau terminal atau stasiun sepur, karyawan pusat perbelanjaan, bioskop dsb. Termasuk pekerja media.

''Kami justru kerja superberat. Ketika orang lain mudik, kami harus standby di lapangan. Bikin liputan arus mudik dsb,'' ujar teman yang bekerja di televisi swasta.

Agak menyesal juga dia jadi reporter. Mengapa dulu tidak jadi PNS atau guru? Yang liburnya panjaaaang dan buanyaaaak? Yang tidak perlu deadline? Yang tanpa target?

''Mau gimana lagi? Sudah kadung basah di sini. Ya dilakoni ae. Kalo gak kuat ya ditinggal ngopi,'' ujar si reporter mengutip lagu dangdut koplo Via Vallen yang lagi ngetop itu.

Pemerintah selalu punya alasan untuk memperlama libur Lebaran. Semuanya masuk akal. Biar mudik lancar, gak macet, ekonomi rakyat terangkat, silaturahmi dsb. Tapi rupanya dia lupa bahwa NKRI sekarang sudah tertinggal jauh. Kalah dengan Tiongkok yang tahun 80an masih negara miskin dan kumuh.

''Di Tiongkok nggak ada karyawan yang malas-malasan. Ada libur Sincia atau hari nasional. Tapi tidak sebanyak di sini,'' kata Baba Liem, pengusaha yang juga koordinator pengusaha Tionghoa di Surabaya.

Kerja kerja kerja... kata baba yang logatnya masih berbau totok ini bukan cuma slogan di bibir. Orang Tiongkok bekerjanya seperti mesin saja. Itu yang bikin Tiongkok cepat maju. Jadi kekuatan utama ekonomi dunia.

''Satu buruh di Tiongkok bisa melakukan pekerjaan lima buruh di Indonesia,'' ujar Liem yang pengusaha bahan bangunan.

Baba ini sering sambat karena buruh-buruh kita doyan minta kenaikan upah. UMK selalu naik tiap tahun. Cukup signifikan. Padahal tidak semua perusahaan untung. ''Kok yang menetapkan upah pemerintah? Memangnya pemerintah yang bayar gaji karyawan?'' protesnya tiap tahun.

Tapi omongan Baba Liem dan para pengusaha lain sering dianggap angin lalu. Pemerintah rupanya lebih suka mendengar masukan dari PNS, polisi tentara dsb. Bahwa libur Idulfitri yang panjang sangat bagus untuk melancarkan arus mudik.

Karena itu, mungkin tahun depan cutinya diperpanjang lagi menjadi tiga minggu. Atau empat minggu. Gak ngurus balapan ekonomi dengan negara-negara lain seperti Malaysia, Singapura, Thailand dsb. Terlalu jauh kalau dibandingkan dengan Tiongkok.

''Lah, Cina itu kan komunis. Ateis. Tidak punya agama. Mereka kan gak punya Lebaran. Makanya gak libur,'' ujar kenalan di Waru yang girang banget dengan cuti dua minggu ini.

07 May 2018

Lebih baik baca koran cetak

''... lebih baik lagi baca koran cetak saja!''

Begitu omongan seorang mama muda di Jawa Pos pagi ini. Dia bingung karena media sosial terlalu banyak berita palsu, hoaks, berita gorengan, pelintiran dsb.

Media sosial, internet, yang semua dirayakan di mana-mana kini menjadi masalah. Medsos jadi ajang caci maki. Perbedaan agama, suku, ras, afiliasi politik kini jadi masalah.

Indonesia rasanya mau kiamat saja. Ada seorang karyawan yang setiap hari meminta konfirmasi tentang isu panas di medsos. Apa betul begitu?

''Silakan anda baca koran saja. Nggak bener itu,'' ujar saya kepada kenalan di Buduran.

Teman ini ketawa ngakak. Dia sudah lama tidak langganan koran. Baca koran dan majalah sudah sangat jarang. Baca sebentar, tidak sampai lima menit, langsung main HP. Masuk medsos.

''Medsos itu asyik dan instan. Siapa saja bisa jadi reporter. Gak perlu editor. Gak perlu macam-macam. Berita langsung tersebar luas,'' katanya dulu.

Dia menganggap surat kabar adalah bisnis masa lalu. Generasi muda, lahir di atas 2000, sangat sedikit yang membaca koran. Mereka digital native. Karena itu, bekas wartawan cetak ini meminta pengurus media cetak untuk pandai-pandai berselancar di tengah gelombang perubahan yang dahsyat ini.

Syukurlah, tsunami fake news dan hoax membuat orang mulai berpaling lagi ke surat kabar. Paling tidak itu yang disampaikan Bupati Sidoarjo Saiful Ilah. Pejabat yang akrab disapa Abah Ipul ini terus-menerus diserang hoax dan ujaran kebencian di medsos.

''Saya harus bertindak. Saya bawa ke polisi agar jadi pelajaran untuk warga Sidoarjo. Bijaklah menggunakan media sosial,'' kata Abah Ipul.

Pak Bupati tidak lupa mengajak masyarakat untuk kembali membaca media cetak. Buku, majalah, surat kabar. Penulisnya jelas. Penanggung jawabnya jelas. Alamatnya jelas. Orang-orangnya bisa ditemui kapan saja.

Hem... Bener banget Abah! Semoga media cetak dipanjangkan umurnya!

01 May 2018

Blokir Opa yang Doyan Share Video



Bapak ES ini tokoh senior yang terkenal di Surabaya. Sering jadi narasumber di televisi dan koran. Khususnya bicara tentang masa lalu. Sejarah. Nostalgia tempo dulu.

Tapi ya itu... hobinya mirip anak-anak muda jaman now. Bapak 70an tahun ini doyan banget share video, gambar, meme yang gak penting. Mungkin dia pikir saya suka video guyonan itu. Atau gambar berisi wejangan-wejangan yang pasti tidak ia buat sendiri.

Cukup lama saya bersabar. Langsung hapus. Tapi lama-lama bosan juga. Orang tua kok senang video-video lucu yang rada ngeres? Mungkin karena tempo dulu belum ada medsos. HP juga tidak ada. Kakek ES seperti jadi remaja belasan tahun.

Maka, kemarin, saya terpaksa 'menasihati' beliau. Nuwun sewu Pak, sebaiknya jenengan tidak perlu share-share lagi video dan meme-meme itu. Gak ada gunanya. Mendingan jenengan menulis catatan atau komentar terkait isu-isu aktual. Fokus ke cagar budaya saja.

Soalnya di Surabaya ini jarang ada pengamat cagar budaya. Apalagi yang bisa bahasa Belanda!

Siap! Begitu jawaban ES. Pendek dan tegas ala serdadu KNIL.

Eh... pagi ini ES kembali share video-video baru. Ukurannya cukup besar. Nyedot data, makan memori. Rupanya kakek ini sudah kecanduan medsos. Dia malah tidak pernah bahas cagar budaya yang bikin dia sangat terkenal. Kelihatannya dia senang menikmati ibu-ibu super gendut yang kesulitan pakai sempak.

Apa boleh buat. Saya terpaksa blokir tokoh lawas itu. Mungkin lebih bagus komunikasi tatap muka seperti dulu.

Persebaya Belum Meyakinkan

Enam laga sudah dilakoni Persebaya di Liga 1. Hasilnya baru 8 poin. Kalau menangan pasti sudah 18 poin. Artinya Persebaya sudah kehilangan 10 poin.

Kemarin baru saja dikalahkan Mitra Kukar. Bahkan, saat tuan rumah bermain 10 orang, Persebaya gagal bikin gol. Skor 3-1 untuk tim asal Kaltim itu.

Kompetisi masih panjang. Putaran pertama pun kurang delapan pertandingan lagi. Masih banyak ruang bagi pelatih Alfredo untuk memperbaiki skuadnya. Khususnya mengembalikan kejayaan Persebaya yang (dulu) hobi menangan.

''Anak-anak sudah bermain dengan bagus. Cuma belum beruntung,'' kata Alfredo, pelatih jempolan asal Argentina.

Musim lalu, di Liga 2, Persebaya juga start buruk. Sampai pecat pelatih Iwan Setiawan. Tapi di tangan Alfredo, permainan Persebaya perlahan-lahan membaik. Menangan. Dan jadi juara.

Mampukah Alfredo kembali membuktikan kualitasnya sebagai pelatih bertangan dingin? Kita tunggu saja. Berbeda dengan pelatih-pelatih klub papan atas yang doyan memakai pemain jadi, timnas senior, Alfredo cenderung memanfaatkan pemain-pemain yang belum terkenal. Dia poles jadi bintang.

Itulah yang membuat Persebaya jadi juara Liga 2 musim lalu. Tanpa pemain bintang.

Tapi ini Liga 2. Ada 18 tim yang sebagian besar punya pemain kawakan. Pemain asing yang mutunya di atas rata-rata. Seperti Fernando dari Mitra Kukar yang berkali-kali mengancam gawang Persebaya. Atau Beto dari Sriwijaya FC.

Pelatih-pelatih Liga 1 juga sudah hafal gaya bermain Persebaya yang cepat, pendek, tapi suka terburu-buru. Skema ini kelihatannya mudah diredam coach lawan. Sebaliknya pelatih Persebaya kesulitan memainkan skema baru ketika plan A tidak jalan.

Minggu depan Persebaya menjamu Arema FC. Musuh bebuyutan dari Malang. Arema sekarang bukan lagi Singo Edan yang ganas dan menangan seperti masa lalu. Singo itu sudah tuay dan rada ompong. Keterlaluan kalau Persebaya tidak bisa ambil tiga poin di depan ribuan suporter setianya, Bonek.