12 April 2018

Sastrawan Danarto Berpulang. Ditabrak Motor

Kecelakaan lalu lintas bisa menimpa siapa saja. Apalagi jalanan di NKRI makin padat, ugal-ugalan, nyaris tanpa tata krama. Maka, jangan kaget, setiap hari ada saja orang yang mati di jalan raya.

Saking seringnya tabrakan, berita-berita tentang kecelakaan lalu lintas yang fatal tidak lagi menarik. Dianggap biasa. ''Koran gak laku kalau sampean pasang berita kecelakaan di halaman depan,'' ujar seorang loper koran di Sidoarjo.

Saya baru terkejut ketika membaca koran + online tentang kematian penulis dan sastrawan besar Danarto. Gara-gara disantap sepeda motor di Jakarta. Cerpenis yang punya gaya unik, sufi, surealis ini memang hobi jalan kaki. Untuk kesehatan. Biar otot-otot tubuh yang tua itu tetap berfungsi.

Tapi begitulah... Pengendara motor di Jakarta juga ternyata ugal-ugalan. Bukannya perlahan, slow down, dia tetap kencang ketika Pak Danarto menyeberang. Sastrawan 77 tahun itu pun terkapar. Kemudian tutup usia di rumah sakit.

Mungkin penabrak bernama Surya Lesmana itu tidak kenal Danarto. Cuma sosok orang tua biasa. Tapi bagi dunia sastra Indonesia? Danarto. Nama besar di jagat sastra. Beliau ini punya banyak bakat yang sangat mumpuni.

Selain menulis prosa, puisi, kolom, drama, skenario film... Danarto mahir menggambar. Dia biasa bikin sketsa untuk ilustrasi cerpen-cerpennya yang dimuat di koran edisi Minggu. Luar biasa.

Begitu banyak karya sastra yang ditinggalkan almarhum Danarto. Godlob, Asamaraloka, Adam Ma'rifat, Orang Jawa Naik Haji.... Cerita-ceritanya selalu punya refleksi yang mendalam. Kita diajak merenung tentang sang ilahi. Begitu banyak wejangan yang halus. Tidak perlu teriak-teriak ala penceramah zaman now di media sosial yang sikat sana sikat sini.

Danarto mengajak pembacanya untuk membersihkan hati. Berserah diri pada Yang Kuasa. Tenggang rasa. Saling asah asih asuh.

Rupanya Sang Mahakuasa punya cara sendiri untuk memanggil Pak Danarto kembali ke pengkuan-Nya. Malaikat maut itu mewujud lewat pengendara motor yang ugal-ugalan di Jakarta.

Selamat jalan Pak Danarto!

6 comments:

  1. Memang susah urip ning Indonesia, mlaku lek kadung sial ditabrak motor, lek kadung untung ditabrak xenia. Numpak bis dipalak pengamen. Numpak spoor wedi dicopet. Numpak kijang macet,
    Numpak motor disamber prahoto, wis ngono jambret keleleran.

    Apropos Sufismus. Teman kuliah ku banyak cewek2 Persia. Kebanyakan mereka cantik2, bersolek, pakai minirock ala Twiggy, rambut diurai panjang.
    Aku bertanya kepada seorang teman dari Iran, kenapa cewek2 kalian sedemikian modern, jawabnya kita orang persia kebanyakan penganut sufi. Tapi itu zamannya Schah Reza Pahlevi dan Farah Diba.
    Sekarang para nenek itu mungkin harus berzadar di Teheran atau di Isfahan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Para nenek itu sudah lari mengungsi ke Los Angeles, Paris, atau London setelah Ayatollah mengobarkan revolusi. Bila di suatu negara berkembang ada revolusi, maka yang untung Amerika atau negara2 barat lainnya krn terjadi eksodus para profesional dan intelektual ke negara2 mereka.

      Delete
    2. Termasuk revolusi kebudayaan ala ketua mao di tiongkok hehe

      Delete
    3. Jaman revolusi kebudayaan hingga Mao mati, pintu keluar masuk RRT sangat tertutup. Banyak hoakiau yg balik kampung di tahun 1959-60 krn PP10 kemudian bisa keluar ke Hongkong di paruh akhir tahun 1970-an setelah menunggu / antre bertahun-tahun. Termasuk kakak dan adik perempuan papa, yang saya panggil kuku. Kuku yang gede kemudian diajak anak2nya imigrasi ke Amrik; setelah mengalami kesusahan waktu mudanya, di masa tuanya dia menyaksikan anak-cucunya bersekolah di Yale, Harvard, dan lain2 universitas bagus. Kuku yang nomer 2 menetap di Hongkong dan anak2nya juga mendapat pekerjaan yang bagus.

      Jaman revolusi Tiananmen Square thn 1989, pemerintah US memberikan greencard langsung utk para pelajar dan cendekiawan RRT yg sedang belajar atau meneliti di USA. Pintar memang Uncle Sam menggunakan kesempatan dalam kesempitan.

      Delete
    4. Di Los Angeles, ada cukup besar komunitas berbahasa Farsi asal Iran. Yg lari ialah Orang Yahudi, eks jenderal2 dan elite pemerintahan dan bisnis jaman Shah. Mereka ini urban dan sekuler. Tidak cocok dengan pemerintahan ala Imam Khomeini yang teokratis dengan sistem syariah (ala Syiah).

      Anak2 mereka sekarang menjadi orang2 sukses, seperti Daria Khosrowshahi yang baru menjadi CEO perusahaan Uber yg menginspirasi Gojek.

      Kalau orang Persia mengatakan "sufi" itu sebenarnya kata sandi yg berarti "sekuler", hehehe. Lain dengan Wali Sanga atau Gus Dur yang memang mendalami sufisme sebenarnya.

      Seandainya di Indonesia terbentuk khalifah, saya jamin akan terjadi eksodus besar-besaran.

      Delete
  2. Para wali yg menyiarkan agama Islam di nusantara juga ternyata para sufi. Wali songo. Itulah yg membuat nusantara lebih sejuk dan asyik dengan budaya lokal. Itu yg saya baca di beberapa buku. Plus internet.

    ReplyDelete