20 April 2018

Sampean satpam di mana?



Begitu pertanyaan seorang ibu di kawasan Berbek Waru, Sidoarjo. Mungkin potongan saya persis sekuriti, istilah halus satpam. Mungkin juga karena saya mancal sepeda lawas untuk olahraga pekan lalu.

Bukan satpam Bu. Tapi kuli.

Kuli di mana? Tanjung Perak?

Waduh... dikejar terus ibu setengah tua ini. Kuli itu ya buruh. Pekerja kasar.

Tapi kuli apa?

Mau saya bilang kuli tinta tapi malas. Bisa tambah kacau.

Mestinya tadi saya ngaku aja kerja satpam. Selesai. Satpam di Juanda, Buduran, Rungkut... asal sebut aja. Ngawur-ngawuran. Tapi saya kadung sebut kuli.

Jadi ingat kata-kata Bung Karno: ''... bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa.''

Istilah KULI rupanya sudah banyak dilupakan orang. Kuli bangunan, kuli pelabuhan, kuli tinta....

Saya segera menghindar dari ibu yang menganggap saya satpam itu. Gak guna menghadapi orang yang begitu yakin kalau orang yang belum dikenalnya itu satpam. Pertanyaan yang benar + sopan: sampean kerja di mana?

Hemmm... Saya tersenyum sendiri sambil nggowes sepeda lawas ke markas sepeda tua di perbatasan Surabaya dan Sidoarjo itu. Anggota sepeda tua memang sering dikira satpam, tukang parkir, buruh, atau penganggur. Ada bos yang punya lima mobil pun dikira satpam.

''Biarin aja. Dibilang satpam gak papa, buruh juga gak papa. Nganggur juga gak papa,'' ujar seorang bapak dari Buduran penghobi nggowes.

Yang pasti, ibu STW tadi tidak sendiri. Orang Indonesia memang sering menilai orang dari bungkus luarnya. Penampilan. Kendaraan yang dipakai. Baju bermerek. Sepatu yang mahal. Atau malah rasnya.

Maka, orang-orang Tionghoa tidak mungkin dibilang satpam atau kuli bangunan. Pasti bos-bos yang kaya. Borjuis. ''Saya dikira pengusaha hebat. Padahal cuma karyawan biasa,'' ujian Koh Joni di Sidoarjo.

''Saya malah dibilang satpam,'' ujar saya kepada Joni yang biasa nggowes sepeda Sidoarjo ke Surabaya pergi-pulang itu.

''Enak satpam Cak. Anda tidak akan dimintai uang karena dianggap miskin. Saya sering dimintai sumbangan karena dikira orang kaya. Hahaha...,'' kata wong tenglang yang subur tubuhnya itu.

Yen dipikir-pikir, banyak untungnya dianggap satpam, kuli bangunan, atau tukang parkir. Saya bisa menyerap informasi apa adanya khas wong cilik di lapangan. Tidak perlu menyamar untuk investigative reporting.

Hidup satpam!

14 comments:

  1. Sampean satpam di mana ? Di nyek orang yang tak dikenal rapopo, Ojo Dumeh ! Yang penting kita tahu harga diri sendiri. Biasanya semakin kaya atau berpengaruh seseorang, penampilannya semakin sederhana.
    Ada ungkapan bahasa Jerman : Kleider machen Leute, Pakaian menjadikan Orang. Saya rasa ungkapan tersebut untuk menyindir orang2 yang dumeh, orang2 yang sok ingin kelihatan kaya.
    Saya ingin menceritakan pengalaman sendiri :
    Di Tiongkok saya pergi ke pasar naik sepeda, pakai celana piyama kolor dan kaos oblong. Waktu pulang dari pasar, ternyata ban sepeda kempes kena paku. Saya minta tolong kepada encek tukang reparasi sepeda dibawah pohon, didepan pasar.
    Sampai dirumah saya bilang kepada PRT, wah, ban sepeda bocor kena paku. Dia tanya, laoban bayar ongkos berapa untuk tembel ban ? Saya jawab, 1 Yuan. Dia ngomel; kurang ajar, kalau gua tembel ban, kok encek itu minta 5 Yuan ke gua. Begitulah, sebab PRT saya, kalau keluar rumah selalu dandan perlente.
    Tahun 1967 saya membawa satu kemeja batik ke Eropa, tahun 1997 saya pulang ke Jakarta menginap dirumah adik perempuan saya. Keesokan hari nya saya diajak makan ke restoran. Saya pakai baju batik yang sudah 30 tahun tuanya.
    Adik-ku bilang, cepat tukar pakaian, batik model ini sudah tidak musim di Indonesia, lihat batik sopir-ku lebih modern daripada punya-lu. Tentu saja saya menolak untuk ganti baju. Adik-ku malu mengajak seorang satpam makan di Restaurant Seafood Nelayan yang dulu terkenal mahal di Jakarta.
    Seorang teman-ku, termasuk salah satu konglomerat top 10 Indonesia, menelpon, Eeh, gua kebetulan sedang ada Meeting dikota lu, datengo ke hotel untuk makan malam bersama. Saya datang pakai celana Jeans dan jas rombeng. Dia datang ke Eropa membawa 4 direkturnya beserta istri.
    Waktu makan dia dan saya duduk beserta istri satu meja, sedangkan para direktur dan istri2 mereka duduk di meja sebelah yang lebih besar. Para direktur-nya yang digaji puluhan ribu US $ per bulan, merasa heran, kok Boss mereka sedemikian baik dan hormat kepada seorang satpam. Achirnya salah satu direktur itu bertanya kepada saya : Bapak usaha apa, dan apa nama perusahaan bapak ? Saya jawab; usaha kecil-kecilan, saya orang biasa yang cukup-cukup saja.
    Si direktur penasaran; Bapak jangan guyon, saya tanya serius. Aku bilang; lu suruh gua jawab bagaimana, lha wong memangnya gua ini cuma orang biasa. Katanya; wah bapak ini pandai Understatement !
    Di Indonesia khususnya dan Asia umumnya, memang
    pakaian dan tetek bengek sangat penting. Demi penampilan, sampai tidak malu korupsi.

    ReplyDelete
  2. Kleider machen Leute : Apa bedanya Pak Lambertus dengan Pak Gatot ? Bedanya hanya pada pakaian, yang satu lebih banyak kempyeng nya !

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Hurek sering kali menulis, kita orang Indonesia lebih mementingkan bungkusan daripada isi.
      Ketika saya masih kuliah, kala itu sedang ramainya perang Vietnam dan perang Israel melawan negara2 Arab. Setiap malam nonton warta berita spesial di TV hitam-putih, mengikuti jalannya pertempuran. Jendral2 jagoan waktu itu adalah, Vo Nguyen Giap, Jitzchak Rabin, Mosche Dayan, Ariel Scharon. Saya heran melihat penampilan mereka yang sangat sederhana. Mereka bukannya jendral yang duduk dibelakang meja tulis, melainkan yang aktiv ikut bertempur di medan perang.
      Heran sekali, kok mereka tidak ada yang menggantungi uniform mereka dengan kempyeng-kempyeng yang jumlahnya sampai belasan biji, beda dengan para jendral yang sering kita lihat di TV dan majalah.
      Ketika pecah perang Jom Kippur, hampir semua teman2 kuliah saya yang berdarah Yahudi meninggalkan bangku kuliah, mereka segera berangkat ke Israel untuk ikut bertempur, walaupun ketika itu kita sedang berada diujian terachir, dan mereka tidak tahu, apakah mereka masih bernyawa, jika perang berachir. Patriotisme macam itulah yang selalu saya harapkan dari saudara2 kita asal Yaman. Bukannya supaya mereka untuk ikut berperang yang tidak jelas ujung pangkalnya, tetapi ikut berpikir dan prihatin terhadap tanah leluhurnya dan rakyat sesukunya disana. Dari 28 juta seluruh penduduk Yaman, 3 juta kabur mengungsi ke-negara2 tetangga, 17 juta penduduk terancam kelaparan dan akut terserang penyakit Cholera. Di Eropa, setiap kantor post dan kantor Bank ada tumpukan kartu bayar, minta sumbangan, bahasa jermannya Erlagschein, untuk rakyat Yaman. Juga di TV ada siaran supaya kita ikut menyumbang.
      Mbok yo mikir, wis penak urip ning Indonesia, lha kok terus-terusan riko nggolek gawe, lha kok ora iso leren memprovokasi. Apakah Ibu Pertiwi ingin dijadikan seperti Yaman ? Mikir dan Mendusin !

      Delete
    2. dui dui dui.. bungkus makin penting di era pencitraan. makanan pakaian sekolah universitas gereja politik dsb dikemas bagus biar kelihatan mentereng. perkara isinya jelek yo gak papa.

      saya sudah baca buku jalan2 ke hadramaut tulisan pak anis wartawan senior. luar biasa parah kondisi yaman itu. gak ada hujan, penuh debu dsb. masyarakatnya kecanduan nginang sejenis daun yg mirip narkotik.

      Delete
    3. Godong itu jenenge "khat", Pak Lambertus.

      Delete
    4. dui dui... KHAT. godong khat sempat rame beberapa tahun lalu ketika artis terkenal RA ditangkap. ada kebunnya di daerah bogor.

      sempat debat rame: khat itu narkoba atau bukan? yg pasti RA kemudian bebas tanpa perlu ke pengadilan, gak masuk penjara, dan isu khat hilang.

      Delete
  3. Asal usul kata KULI datangnya dari bahasa China.
    Ku artinya susah atau payah.
    Li artinya tenaga.
    Kuli adalah orang yang dengan susah payah mengeluarkan tenaga untuk mendapatkan upah. Di Tiongkok ada 1 milliard orang cina yang menjadi KULI.
    Mengapa kata Kuli di Indonesia dimaknakan penghinaan.
    Tanpa kuli apakah sebuah negara bisa maju ?
    Adalah tugas pemerintah yang harus mengatur gaji kuli menjadi layak dan manusiawi, seperti kuli-kuli di Amerika, Jepang dan Eropa.
    Pada dasarnya kita, Lambertus dan saya sendiri, adalah seorang kuli.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau menurut mbah Google, asal kata kuli itu dari Bahasa Tamil atau Hindi, lalu diserap oleh penjajah Portugis dan Inggris.

      Delete
  4. Betul betul... sebagian besar orang Indonesia memang kuli. Saya sendiri suka istilah lawas: kuli tinta.

    Tapi memang konotasi kuli belakangan lebih ke orang2 yg hanya mengandalkan tenaga untuk cara duit. Misalnya tukang pikul barang di pelabuhan.

    Satpam juga dianggap rendahan. Tapi kalau diganti sekuriti...derajatnya naik sedikit. Opo maneh kalo satpamnya itu wong londo.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pak Lambertus, ibu2 yang bertanya anda satpam di mana itu berpola pikir diskriminatif, hanya karena 1) anda berkulit lebih gelap, dan 2) anda mengendarai sepeda tua. Padahal anda ialah seorang cendekiawan yang bacaannya luas dan pandai merangkai kata.

      Delete
    2. Betul betul banget. Itu yg bikin saya marah. Saya jadi kehilangan respek sama ibu itu. Di Indonesia memang cukup banyak orang macam ibu itu.

      Model pertanyaan tertutup seperti itu memang sangat berbahaya. Makanya sangat dihindari seorang reporter.

      Ada juga pertanyaan sejenis tapi masih agak aman. Misalnya ketemu orang kulit gelap agak ikal khas NTT atau Timor Leste lalu bertanya: gerejamu di mana? Sepertinya dia sangat yakin kalo yg ditanya itu beragama katolik atau protestan. Padahal belum tentu. Bisa saja bukan kristiani. Kalau ketepatan kristen ya aman.

      Kecuali ketemu orang baru di restoran yg bawa buku puji syukur, hari minggu, bisa dipastikan katolik. Atau dia tanda salib sebelum makan. Pertanyaan sampean paroki mana? Itu baru relevan.

      Orang2 NTT yg tinggal di dekat tanjung perak juga sering diasumsikan sebagai kuli pelabuhan atau ABK. Mungkin karena sejarahnya dulu memang begitu. Makanya prasangka itu sangat berbahaya.

      Delete
    3. Sebaliknya kalo sampean Tionghoa ya dianggap orang kaya atau pengusaha sukses. Harga dinaikkan kalo mau beli barang. Orang Barat juga begitu. Dianggap uangnya banyak.

      Lama2 orang bule tau juga kalau harga suvenir dsb ternyata jauh di atas normal. Mereka kemudian curhat di blog dsb. Mestinya kalo fair harga barang itu tidak kenal diskriminasi. Itulah antara lain kelebihan toko2 modern kayak indomaret dan alfamart.

      Delete
  5. Kejadian baru kmrn saya dikira supir oleh satpam hotel tmpt saya menginap (termasuk salah satu hotel bintang 4) dan kena tegur krn pakai celana pendek dan kaos oblong kusam hahahahaha..... Amsiong

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hikmahnya bagus: penampilan itu menunjukkan siapa kita. Biarpun seorang laoban tapi pake celana pendek dan baju murahan kayak om bob sadino ya dianggap wong melarat.
      Wong melarat kalo penampilan bagus, keren, meyakinkan ya sangat dipercaya orang. Bisa dengan mudah menggondok cewek cantik cukup jadi polisi atau pengusaha gadungan.

      Sebaliknya, streotipe ini ada bagusnya juga. Kita bisa menyamar untuk menyerap banyak informasidi lapangan. Makanya pejabat2 sebaiknya tidak selalu dikawal atau naik mobil dinas plat merah. Pakai pakaian biasa aja biar dapat informasi yg akurat di lapangan. Bisa juga mancal sepeda tua atau motor lawas ke kampung2.

      Delete