14 April 2018

Orang Flores Pertama di DPRD Sidoarjo

Sylvester Ratu Lodo belum lama ini dilantik sebagai anggota DPRD Sidoarjo. Menggantikan Khoirul Huda yang tersandung kasus korupsi PD Aneka Usaha. Bung Sylvester pun dapat rezeki politik karena perolehan suaranya di bawah Huda.

Pergantian antarwaktu alias PAW ini memang biasa. Apalagi masa jabatan anggota dewan tinggal sedikit. Tapi bagaimanapun juga masuknya Sylvester Ratu Lodo ke DPRD Sidoarjo boleh dikata menjadi tonggak sejarah. Khususnya untuk orang Flores yang berada di Sidoarjo atau Surabaya. Bahkan orang NTT umumnya.

Betapa tidak. Sepanjang sejarah Kabupaten Sidoarjo, yang baru saja merayakan hari jadi ke-159, Sylvester orang Flores pertama yang jadi anggota DPRD Sidoarjo. Kalau orang Bali sih sudah pernah. Manado pernah. Orang NTT tidak pernah ada. Silvester yang pecah telur legislatif kota delta.

Semua orang tahu Sidoarjo kota santri. Banyak pesantrennya. Banyak kiai terkenal sejak sebelum kemerdekaan sampai sekarang. Sidoarjo juga bumi Jenggolo. Maka pribumi kawula Jenggolo + santri yang punya modal sosial politik besar di era pemilu langsung.

Jangankan orang Flores atau NTT yang Katolik, orang Sidoarjo yang muslim tapi bukan nahdliyin pun sulit mendapat suara yang cukup untuk kursi legislatif. Kursi PAN yang Muhammadiyah tidak banyak. PBB cuma satu. Itu pun baru periode sekarang.

Tapi Sylvester yang asli Ngada, Flores, tinggal di Pondok Jati Sidoarjo, sejak dulu percaya bahwa politik itu ladang pelayanan. Selalu ada jalan Tuhan untuk tembus ke sana. "Semua ada waktunya," ujar politikus Golkar yang religius itu.

Maka, ketika proses PAW agak mbulet, Sylvester tenang-tenang saja. "Itu semua proses. Saya jalani saja. Semua itu kehendak Tuhan," ujar Bung Sylvester saat ngobrol di halaman Gereja Katolik Pandaan.

Benar saja. Proses PAW akhirnya tuntas. Dan... Sylvester Ratu Lodo resmi dilantik menjadi anggota DPRD Sidoarjo periode 2014-2019.

Bukan bermaksud SARA, ini fakta, Sylvester Ratu Lodo juga menjadi orang Katolik pertama yang jadi anggota DPRD Sidoarjo sejak 1999 atau pemilu era reformasi. Dulu, era orde baru, ada Fraksi ABRI yang anggotanya pakai tunjuk. Itu memungkinkan tentara dan polisi dari agama dan suku apa pun jadi anggota parlemen.

Orang Kristen Protestan yang jadi anggota DPRD Sidoarjo juga baru satu orang. David Sonda Nusu, ketua Partai Damai Sejahtera, yang sudah bubar itu. David bisa tembus karena posisinya sebagai ketua DPC PDS. Nomor urut 1.

Perjuangan Bung Sylvester jelas jauh lebih berat. Sebab dia harus mengikuti kompetisi pileg terbuka melawan caleg-caleg muslim di kota santri. Meskipun masa kerjanya cuma 16 bulan, Sylvester Ratu Lodo sudah berhasil mencatatkan namanya dalam sejarah politik di Sidoarjo.

Selamat untuk Bung Sylvester!

2 comments:

  1. Lambertus dan Sylvester sama2 orang Flores, namun kedua orang tsb. harus berbahasa Indonesia untuk berkommunikasi, seandainya mereka menggunakan bahasa nenek-moyangnya, maka yang satu ngalor dan yang lainnya ngidul.
    Jadi sebenarnya tidak ada masalah atau istilah SARA ! Yang ada adalah istilah Nation atau Bangsa. Hanya di Indonesia SARA dijadikan masalah, dijadikan munisi untuk menembak saingannya.
    Banyak orang2 Indonesia yang mengutip ungkapan : Belajarlah sampai dinegeri Cina. Namun sayangnya mereka tidak paham makna sejati, yang terkandung dalam ungkapan tersebut.
    Jika anda mengetik di Google atau Baidu, nama salah seorang pejabat di Tiongkok, maka tertulis;
    Nama, Tempat dan Tanggal lahir, Suku, Pendidikan dan Pengalaman kerja. Jadi di China tidak ada masalah dengan Suku.
    Tiongkok sebenarnya memiliki ratusan suku atau minoritas, hanya untuk mempermudah administrasi negara, maka diakuilah resmi hanya 56 suku.
    Saya ambil contoh: Provinsi Fujian, terdiri dari 9 kabupaten. Mayoritas adalah suku Han, tetapi tiap kabupaten punya bahasa daerah masing2, bahkan ada kecamatan yang punya bahasa daerahnya sendiri. Tanpa bahasa Mandarin, Hanyu, penduduk Fujian juga ngomong ngalor-ngidul seperti orang2 Flores. Contoh lain yang gamblang; Oom William, pendiri Astra Group, Liem Sioe Liong, Tahir ( Mayapada ), Riady ( Lippo ), Eka Widjaja ( Sinar Mas ), mereka itu semuanya asal orang satu provinsi Fujian, tetapi lain kabupaten, jadi harus berbahasa Indonesia berkommunikasi.
    Ketika Bung Karno merumuskan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, Beliau banyak belajar dari orang China, Dr. Sun Yat Sen, yaitu dari prinsip San Min Zhu Yi dan Zhong Hua Min Zu. Tidak ada embel2 Kommunis atau Atheis, sebab waktu itu belum ada istilah komunis di Tiongkok dan Dr. Sun adalah orang Kristen.
    Jadi intisarinya adalah Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa. Yang lainnya masalah toleransi, musyawarah dan mufakat.
    Di Mesjid Agung Tiongkok selalu tertulis huruf2 besar didinding : 爱国 爱教, Aiguo Aijiao , Cintai Negara Cintai Agama.
    Ketika saya jadi tentara disumpah sbb.: Cintai Negara, Taati Undang2, Siap Mati Membela Negara dan Rakyatnya dengan senjata. Jadi Negara nomer siji.

    ReplyDelete
  2. Betul banget. Saya flores timur pake bahasa Lamaholot, bung Sylvester orang ngada punya bahasa daerah sendiri. Sama2 tidak saling mengerti bahasa yg berbeda. Jangankan ngada yg jauh, sesama flores timur pun bahasanya beda2 meskipun Lamaholot jadi bahasa utama.
    Makanya bahasa melayu jadi lingua franca. Orang Lamaholot macam saya menyebut bahasa Indonesia sebagai bahasa melayu. Bahasa malaysia juga disebut bahasa melayu. Melayu Tionghoa ya bahasa melayu juga.

    Syukurlah ada bahasa melayu yg bisa menjadi jembatan komunikasi antarsuku yg berbeda di NKRI.

    ReplyDelete