25 April 2018

Minum arak kok bisa mati?


Tiga orang mati karena miras (minuman keras) oplosan. Begitu berita di koran hari ini. Di RSUD Soetomo masih ada 13 pasien yang dirawat inap. Gara-gara mendhem cukrik oplosan.

Aneh tapi nyata. Orang Jawa, khususnya Jatim, yang tidak punya budaya minum tuak + arak sering mati konyol gara-gara miras. Kasus ini selalu berulang dan berulang. Pembuat mirasnya tiarap sebentar, lalu ngoplos maneh. Jualan lagi. Mati lagi.

Budaya minum tuak terlihat jelas di NTT. Nusa lontar. Pulau-pulau kecil yang banyak lontarnya. Pagi dan sore ada semacam ritual iris tuak. Ambil tuak yang sudah penuh plus mengiris malai yang baru. Tuak itu kemudian diminum ramai-ramai.

Kandungan alkoholnya? Pasti ada tapi sedikit. Sebab durasi fermentasi gulanya terlalu pendek. Sekitar 12 jam saja. Karena itu, tuak yang dihasilkan pun manis. Di Jawa namanya legen.

Bapa-bapa peminum sejati biasanya tidak puas dengan tuak. Meskipun ada ramuan kayu agar lebih keras rasanya. Maka disulinglah tuak itu. Jadi arak. Moke. Sopi. Tidak pakai oplosan atau campuran macam-macam.

Biasanya ada satu dua orang yang mabuk. Omong ngawur. Jalan sempoyongan. Tapi tidak ada yang mati. Juga tidak ada yang sampai dibawa ke rumah sakit. Juga jarang ada tawuran gara-gara arak kampung.

Kok bisa di Surabaya (Jawa umumnya) banyak yang mati karena mendhem cukrik? Itu keheranan beberapa teman asal NTT yang belum paham komposisi arak jawa alias cukrik tadi.

Beda jauh dengan miras kampung di NTT. Di Surabaya ini araknya bukan hasil penyulingan atau destilasi tuak. Tapi hasil pencampuran alkohol 95 persen yang dibeli di apotek + air suling (akuades). Ditambah lagi dengan metanol. Biar bisa melayang, katanya.

Satu bagian alkohol dicampur lima bagian akuades. Pengenceran. Lalu dimasukkan ke botol-botol untuk dijual. Bisa dibayangkan dahsyatnya miras ala rakyat kelas bawah itu. Biasanya dicampur lagi minuman energi. Lebih gila lagi ditambah obat nyamuk.

Ini pula yang menjelaskan mengapa kita tidak pernah dengan kabar orang-orang barat mati gara-gara minum bir atau miras jenis lain. Mirasnya orang bule dibuat di pabrik. Pasti ada standar keselamatannya. Gak asal oplos alkohol seperti yang dilakukan arek-arek kenthir di Surabaya itu.

Kalau mau aman ya ngombe tuak manis aja. Atau minum bir atau anggur orang tua. Lebih aman lagi ya cukup minum kopi atau teh.

7 comments:

  1. Kl menurut mbah Google (lagi lagi mbah google), proses kimianya ialah:
    Anggur, bir, dan arak hasil fermentasi itu mengandung ethanol. Ethanol itu merupakan satu jenis alkohol yg walaupun merupakan racun thd tubuh, tetapi oleh tubuh tepatnya hati, bisa dianalisa dan akhirnya menjadi air dan karbondioksida.

    Sedangkan minuman oplosan arek2 kenthir nan goblok bin kasihan itu, mengandung methanol (alkohol yg biasa dijual di toko utk pembersih), yg setelah dianalisa oleh tubuh, ia menjadi formaldehida yg biasa dicampur metil alkohol dan disebut formalin (bahan pengawet). Formaldehida kemudian lebih jauh dianalisa menjadi asam formiat, yg sama dengan kandungan sengat lebah atau semut. Bayangkan jika methanol itu diminum dalam jumlah besar... oalah rek...

    Apakah fenomena ini ialah akibat langkanya minuman beralkohol (tepatnya beretanol) krn alasan agama?

    Bir atau anggur atau arak itu sangat nikmat diminum dalam jumlah kecil. Bahkan sampai mabuk pun tidak menyebabkan mati. Kalau diminum sampai binge drinking seperti ulah arek2 kenthir di Amrik barulah berbahaya matek. Atau bila ketagihan demi mengobati depresi atau kesepian. Bila tidak, Nabi Isa pun suka minum anggur sehingga mukjizat beliau yg pertama ialah mengubah air menjadi anggur (tentunya tanpa oplosan).

    ReplyDelete
  2. Bener banget mas amrik.
    Penjelasan sampean persis omongan guru kimia kita di sma jaman biyen. Ada etil alkohol dan metil alkohol. Tuak dan arak di flores timur itu yg etanol..

    Arek2 kenthir itu memang ngawurnya sudah kebangetan. Alkohol yg metanol itu diencerkan kemudian diminum. Cara cepat menghadap sang pencipta.

    ReplyDelete
  3. ''Bir anggur arak sangat nikmat diminum dalam jumlah kecil.''

    Ada joke lawas di indonesia timur.
    Satu gelas tambah darah.
    Dua gelas tambah saudara.
    Tiga gelas banyak bicara.
    Empat gelas bikin perkara.
    Lima gelas masuk penjara.

    Ngombe tapi ojo akeh2
    Mendingan ora ngombe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha. Gelasnya ukurannya lain-lain. Kalau bir dgn kandungan 5%, gelasnya yang tinggi itu, diminum dingin, ahhhh. Hefeweizen dr Jerman itu favoritku.

      Kl anggur dgn kandungan 15-20%, gelasnya yang bulat di bawah bagaikan bokong wanita yang menawan. Anggur dituang sepertiganya saja, shg aroma uap anggur yg terdiri dr berbagai zat aromatik itu bisa dihirup sambil minuman dicecap. Dari California utara daerah Napa dan Sonoma, terkenal produksi anggurnya tidak kalah dengan appellation2 dari Perancis macam Burgundy atau Bordeaux.

      Kalau shoju atau sake (kandungan 20%) enaknya diminum pas makan Korea atau sushi.

      Kalau arak scotch atau whiskey dgn kandungan 30-40%, gelasnya ukuran sloki, dinikmati pelan pelan di musim dingin dengan latar belakang musik jazz. Aku jarang banget minum ini.

      Batas saya ialah 2 porsi saja, itu pun kalau ada teman. Kadang 3 ... banyak bicara krn alkohol menurunkan rasa malu dan sungkan (inhibition).

      Empat, lima, bikin mabuk. Nah mabuk ini ada 2 macam, ada yang mabuk happy, jdnya dia bikin gurauan atau jadi bahan gurauan. Ada yang mabuk pemarah, jadi ajak berkelahi dan bikin keributan. Kalau perempuan, bisa rentan diperkosa.

      Maka itu saya tidak simpan bir atau wine di rumah. Hanya minum di rumah orang, di bar, atau di rumah jika mengundang orang saja.

      Mau mencontoh Yesus harus pintar minum anggur!

      Delete
    2. Sing terakhir iku guyonan khas wong cerdas ala barat. Joke-joke macam ini biasanya diucapkan pak slamet abdul sjukur alm, komponis, pianis n guru musik kaliber dunia itu. Kalau dia ceramah musik tiap awal bulan di sby biasanya muncul humor yg subtil. Bikin orang ketawa meskipun tidak ngakak. Pak slametnya sih gak ikut ketawa hahaha...

      Itulah bedanya dengan guyonan tiap malam di televisi indonesia yg slapstick, hahaha gak karuan, orangnya ketawa sendiri meskipun saya anggak gak lucu. Penonton bayaran di studio ya jelas ngakak karena dapat uang.

      Tapi ojo sampe bikin guyon tentang agama lain... sampean bisa berurusan dengan ormas dan polisi. Cari aman saja sambil ngombe tuak manis hehe.. gak sampe mendhem.

      Delete
  4. Minum bir katanya bagus.. kalo dalam jumlah sedikit.

    ReplyDelete
  5. Orang Romawi yakin dengan ungkapan : in vino veritas, nach orang Lomblen harus juga yakin :
    in tuak veritas (datangnya kejujuran dari tuak).
    Ketika salah satu engkoh saya diutus oleh perusahaannya untuk bernegosiasi soal kerjasama
    dengan pemerintah Vietnam di Hanoi, mula2 dia mendapat kesukaran dalam berkomunikasi dengan menteri industri Vietnam. Engkoh fasih berbahasa Indonesia, Bali, Jawa, Hokkien, Mandarin, Jerman dan Inggris. Sedangkan si Menteri Vietnam fasih berbahasa Prancis.
    Ketika perundingan berjalan buntu, engkoh berkata kepada si menteri; saya keturunan cina dari Indonesia, dan saya yakin Anda adalah keturunan cina di Vietnam. Mengapa kita berdua tidak memakai bahasa leluhur kita untuk berbicara ?
    Si Vietnam tertawa ter-bahak2, langsung mengeluarkan sebotol arak maotai dan berkata kepada engkoh dengan bahasa mandarin : Mari kita berdua minum dulu ! Mereka sambil minum arak, ngobrol ngalor-ngidul, sampai mabuk. Achirnya dalam keadaan mendem itulah surat kesepakatan kerjasama ditandatangani. Orang yang sungguh mabuk selalu berkata sebenarnya dan sejujurnya.
    Saya jarang sekali minum minuman beralkohol, tetapi saya tidak pernah menolak, jika disuguhi alkohol oleh siapa pun, sebab orang bule dan orang china selalu berkata : Jangan se-kali2 percaya kepada orang yang tidak minum alkohol.
    In vino veritas !

    ReplyDelete