28 April 2018

Liga Juara-Juara ala Malaysia


Koran Utusan dari Malaysia di rubrik sukan menulis begini:

"Pasukan Liverpool menundukkan Manchester City 3 - 0 dalam perlawanan suku akhir peringkat pertama Liga Juara-Juara Eropah di Anfield sebentar tadi. Dalam satu lagi perlawanan lain Bercelona menewaskan Roma 4-1."

Saya cukup sering membaca beberapa media berbahasa Melayu Malaysia seperti Utusan, Berita Harian, dan Bernama. Mirip bahasa Indonesia. Maklum, bahasa Indonesia sebetulnya juga bahasa Melayu yang akarnya sama. Bedanya cuma di serapan.

Yang menarik, dan saya salut, orang Malaysia ini lebih berani menerjemahkan kata-kata bahasa Inggris. Beda dengan kita di Indonesia yang sengaja membiarkan kata-kata asing apa adanya. Atau mencampur Indonesia + English. Terjemahan yang tanggung.

Kembali ke berita sepak bola di awal. (Oh ya, Malaysia bilang bola sepak, bukan sepak bola.) Media-media di Malaysia biasa menggunakan LIGA JUARA-JUARA untuk CHAMPIONS LEAGUE. Menarik!

Kita di Indonesia pakai LIGA CHAMPIONS. Tanggung! Mengapa CHAMPIONS tidak diterjemahkan? Mengapa bukan LIGA KAMPIUN? Atau LIGA JUARA? Bisa juga Liga Juara-Juara ala Malaysia? Kita punya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk United Nations.

Perlawanan suku akhir peringkat pertama. Di Indonesia peringkat pertama ini biasa ditulis first leg. Ada juga yang menulis leg pertama. Mengapa tidak diterjemahkan dengan kata-kata Melayu atau Indonesia?

Laga pertama dan laga kedua untuk first leg dan second leg cukup sederhana.

Barcelona menewaskan Roma 4-1. Di Indonesia hampir tidak ada media yang pakai TEWAS atau MENEWASKAN untuk sepak bola atau olahraga. Kata TEWAS biasanya dipakai untuk korban kecelakaan atau bencana alam. Tapi asyik juga dipakai untuk sepak bola.

Bahasa Melayu Malaysia percakapan, saya perhatikan di Youtube, lebih sederhana. Pidato-pidato Mahathir, Anwar Ibrahim, atau Najib Razak enak didengarkan. Ada bumbu-bumbu pantun, pepatah petitih, ungkapan bahasa Inggris yang pas.

Beda dengan omongan politisi atau pesohor kita di televisi yang kerap memaksakan kata-kata Inggris agar terkesan modern dan intelek. Padahal kalau disuruh ngomong English beneran, saya gak yakin orang Indonesia lebih fasih ketimbang orang Malaysia.

No comments:

Post a Comment