29 April 2018

Konser Paduan Suara Paroki St. Theresia Pandaan



Sudah lama saya tidak menyaksikan konser paduan suara. Apalagi di dalam Gereja Katolik. Biasanya kor-kor gereja bikin konser di ballroom hotel, aula, gedung kesenian macam Cak Durasim Surabaya dan sejenisnya. Maka, saya agak kaget ketika tahu ada konser di Gereja Katolik Pandaan, Kabupaten Pasuruan. St Theresia Choir.

Tahunya ya... saat ikut misa Sabtu sore. Umat diminta tidak langsung pulang. Ada acara makan-makan disusul konser paduan suara. Dalam rangka 400 tahun Kongregasi Misi (CM). Kebetulan saat ini Paroki St Theresia Pandaan dipegang pater Vinsensian: Romo Didik Setiawan CM dan Romo Stanislaus Beda CM. Kedua imam ini memang punya apresiasi kesenian yang bagus.

Suasana konser St Theresa Choir ini memang jauh berbeda dengan konser-konser klasik yang sering saya saksikan di Surabaya dan beberapa kota lain. Meriah dan guyub. Hampir semua jemaat paroki datang untuk menonton. Sebab ada misi sosial di baliknya. Membantu program-program CM dan paroki. Gereja di pinggir jalan raya pun penuh sesak.

Dukungan umat yang luar biasa ini membuat adik-adik paduan suara sangat antusias. Khususnya dirigen Heribertus Djaka Wusana, organis Yosef Wibisono, dan Romo Stanis selaku pembina. Begitu pula Ariek Yusni Erdianti koreografer sejumlah tarian.

Arswendo Atmowiloto sebagai bintang tamu pun sumringah. Memakai blankon khas Jawa, wartawan, budayawan, sastrawan, dsb ini diberi tugas berbagi pengalaman hidup. Lebih tepatnya melawak tunggal alias standup comedy di depan ribuan umat Katolik di Pandaan.

Seperti biasa, acara-acara paroki selalu ada pidato. Dewan paroki, ketua panitia, pastor paroki dsb. Tapi tidak panjang. Sebab umat sudah tidak sabar menikmati paduan suara, tarian, dan pemutaran film pendek tentang pelayanan Vinsensian di Indonesia. Film pendek diselipkan di antara lagu-lagu kor.

Dibuka dengan Domini Est Terra (Pater Georg Braun SVD), Kor Santa Teresa ini tampil meyakinkan. Akustik gereja yang bagus membuat suara sopran alto tenor bas bisa berpadu harmonis. Megah.

Kemudian lagu Besarlah Nama Allah (ET Caraen) yang kondang di kalangan kor-kor Katolik. Komposisinya pendek tapi menuntut nada-nada tinggi dari sopran. Ada kejar-kejaran ala canon. Gagal fokus bisa bahaya. Syukurlah, arek-arek Pandaan selamat di tengah cuaca yang sejuk tanpa perlu AC.

Lagu ketiga, I Have a Deam dari ABBA, mencairkan suasana. Dari yang rohani, liturgis, ke profan. Komposisi yang diaransemen Theis Watopa (almarhum) ini diikuti sejumlah penonton. Lagunya sangat terkenal sih.

Bagian kedua terdiri dari empat lagu. Ecce Sacerdos (Pustardos SVD), Mutiara Vinsensius, Santo Vinsensius dan Santa Luisa (Francis Cruz CM), dan Kupinta Lagu (Cornel Simanjuntak).

Hem.. yang terakhir ini, dulu, sering dilombakan antarparoki di Keuskupan Malang. Saya pernah memperkuat Paroki St Yusuf Jember dan menang. Meski bukan the best. Saat itu Paroki Pandaan juga ciamik. Memang dari dulu Paroki Pandaan ini sangat kompetitif meskipun umatnya tergolong sedikit.

Bagian ketiga berisi tiga lagu: We Are All His People (Jay Althouse), Cantate Domino (Hans Leo Hasler), dan Kristus Yesus Alleluia. Konser ditutup dengan Wartakanlah pada Sesama.

Dibandingkan konser-konser paduan suara yang sering saya saksikan (dan liput), konser Paduan Suara St Teresa ini paling menarik. Bukan perkara kualitas atau penampilan ala artis kelas nasional atau dunia. Tapi partisipasi penonton yang tak lain umat Paroki Pandaan. Dari kita, oleh kita, untuk kita.

Suasananya yang hangat, asyik, mirip nonton sepak bola aja. Ini juga membuktikan bahwa umat Katolik ternyata masih punya apresiasi yang baik pada seni musik, khususnya paduan suara.

Selamat untuk Paroki Pandaan!

5 comments:

  1. Anda membuat sy nostalgia wkt SMA 30 thn yg lalu ikut paduan suara dipimpin oleh FX Arie Suprapto. Sy ikut menyanyikan lagu Halelujah dari oratorio Sang Mesias oleh Handel, dan lagu Handel yg lain dari oratorio Judas Maccabeus: Seht er kommt mit preis gekroent (lirik bhs Inggris: See the Conquering Heroes Come). Mungkin krn dulu belum ada internet dan partitur klasik jarang, shg kita menyanyikan dalam bhs Latin: resurrexit dominus vere (the lord has truly risen) utk Paskah; dan bhs Jerman: lihatlah, ia datang dengan dimahkotai kemenangan (ketika Natal). Pd saat ini, April 2018, anak saya kelas 5 SD sedang latihan trompet utk pertunjukan di sekolahnya, lagu yg sama: Seht, er kommt mit preis gekroent, fei’rt posaunen, den empfang!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahasa Latin lebih bagus buat kita di Indonesia karena pengucapannya sama dengan bahasa Indonesia. Bahasa Inggris sulit untuk lidah wong Indonesia. Sulit mendekati penutur asli kayak Bapak Obama atau Bapak Trump atau Mbak Whitney.
      Bahasa Latin juga sedikit banyak punya unsur liturgi. Jadi biarpun gak ngerti, maksudnya pasti bagus. Untuk memuliakan Sang Pencipta.

      Delete
    2. Ttp Halelujah itu aslinya ditulis dlm Bhs Inggris, krn Handel menulisnya ketika dia sdg tinggal di London.

      Memang Bhs Latin digunakan sbg bahasa liturgi, ttp kl ga ngerti ya ga ngerti, maksudnya bisa apa aja. Ini argumen lemah, seperti orang Islam yg masih pemula mengagungkan bhs Arab, pdhal gak ngerti bisa jg artinya misuh.

      Delete
  2. Haiya... seperti nostalgia. Apalagi kita yg dulu biasa membawakan Kupinta Lagi, Bumiku Indonesia, Tekad... dan komposisi kor2 gerejawi.

    Pertunjukan di Pandaan ini sederhana tapi sangat meriah. Kayak pesta umat. Makan soto dan minum kopi/teh sebelum konser lalu masuk ke gereja untuk menikmati paduan suara, tari, film pendek, dan wejangan Arswendo.

    Suasana seperti ini yg saya inginkan.

    ReplyDelete
  3. Lagu See The Conquering... itu di gereja2 di Indonesia cukup terkenal. Namanya Putri Sion Nyanyilah.

    Dulu tidak ada di Madah Bakti. Cuman di Kidung Jemaat orang2 protestan. Lagu itu kemudian dimasukkan dalam buku Puji Syukur yg dipakai umat Katolik Indonesia khususnya di Pulau Jawa.

    Masih banyak lagu2 protestan yg masuk Puji Syukur. Syair2 terjemahannya pun hampir sama persis dengan di Kidung Jemaat.

    Lagu Putri Sion tadi memang ciamik banget. Masalahnya banyak dirigen kor kita yg belum bisa menampilkan lagu itu dengen baek. Cuman asal bunyi doang. Makanya kedengaran gak enak.

    ReplyDelete