28 April 2018

Jazz hambar tanpa saksofon

''Ada acara jazz. Asyik mas! Datangnya ya!''

Begitu pesan dari teman lama yang aktif mengelola komunitas jazz di Surabaya. Saya lihat musisinya baru. Muda-muda. Tapi kok gak ada saksofon ya?

Jazz, atau musik apa saja, memang tidak harus pakai saksofon. Improvisasi melodi bisa dimainkan dengan instrumen apa saja. Dan semuanya bagus... kalau senimannya benar-benar berbakat dan punya pengalaman di dunia jazz.

Bubi Chen piano. Bill Saragih flute. Idang piano. Rene Belanda piano. Ireng Maulana gitar. Indra Lesmana dan ayahnya, Jack Lesmana, piano. Louis Amstrong trumpet.

Tapi saya kadung suka musik jazz yang ada sax-nya. Rasanya khas. Instrumen tiup yang satu itu sudah identik dengan jazz. Bahkan sudah jadi semacam ikon jazz. Huruf J di kata JAZZ biasanya diganti gambar saksofon yang memang indah.

Termasuk undangan nonton jazz ini. Ada gambar saksofon untuk ganti huruf J meskipun saya perhatikan band-band yang tampil tidak pakai saksofon. Mungkin bunyi saksofon digital seperti yang biasa dimainkan Balawan dengan gitar listriknya itu.

Saya perhatikan dalam 10 tahun terakhir banyak anak muda yang belajar main saksofon. Bahkan sekolah musiknya Pak Solomon Tong yang orientasinya sangat klasik, orkestra, mayoritas biola dan instrumen gesek, juga ada saksofonnya.

Tapi kok makin jarang band-band jazz yang pakai saksofon beneran? Bukan saksofon digital nan palsu dari keyboard itu?

''Mencari pemain saksofon yang bagus itu gak gampang. Apalagi untuk jazz,'' ujar seorang kenalan yang biasa main jazz di Surabaya.

Di Sidoarjo saya sempat menonton empat atau lima band yang suka bermain smooth jazz. Dua band senior, lainnya musisi di bawah 30 tahun. Gak ada saksofon sama sekali. Nuansa jazz sih ada tapi kurang kental. Malah ada kesan band ini seperti mengiringi penyanyi aja.

Syukurlah, belum lama ini saya diajak Mbak Devy, PR Hotel Luminor di Jemursari Surabaya, untuk nonton jazz. Gratis. Dapat makan pula. Saya lihat ada nama Mas Ucok, pentolan saksofon di Surabaya. Mantap! Pasti seru.

Di komunitas fusion jazz itu Mas Ucok tampil prima. Dengan musik fusion yang rancak. Rasanya gak jauh dari pop. ''Saya memang sengaja mengajak anak-anak muda untuk menikmati jazz. Kami bikin acara dari hotel ke hotel, mal ke mal, kampus dan sebagainya,'' ujar Ucok yang selalu antusias kalau bicara soal jazz.

Ucok bahkan bikin semacam komunitas pemain saksofon di Surabaya. Belum lama ini mereka bikin pertunjukan di stasiun kereta api Gubeng Surabaya. Menghibur para penumpang sepur. ''Alhamdulillah, respons penonton cukup bagus,'' katanya.

Kerja keras dan dedikasi Ucok untuk men-jazz-kan Surabaya layak diacungi jempol. Apalagi mencetak pemain-pemain saksofon. Tapi tentu saja saya tidak ingin menonton 6 atau 10 saksofonis main bareng di atas panggung. Yang saya butuhkan cukup satu orang pemain saksofon kelas maestro macam Embong Rahardjo atau Arief Setiadi.

No comments:

Post a Comment