25 April 2018

Bertanyalah kepada Mbah Google

Malu bertanya sesat di jalan.

Itu dulu. Ketika belum ada google. Ketika masyarakat Indonesia masih komunal. Ketika orang Indonesia belum terkena virus individualisme Barat yang dulu sering dikecam orang Indonesia.

Sekarang pepatah 'malu bertanya sesat di jalan' ternyata kurang cocok di lapangan. Sudah terlalu banyak contoh. Orang yang kita tanya biasanya tidak tahu. Atau tidak mau tahu. Cuek bebek.

Itulah yang saya alami di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Minggu 22/04/2018. Jelang pertandingan Deltras vs Surabaya Muda. Mampirlah saya ke warung nasi pecel. Dekat kantor sekretariat Deltras. Pecelnya lumayan enak.

''Bu, karcis pertandingan Deltras berapa ya?''

''Nggak tahu,'' kata ibu yang pakai jilbab itu.

''Bapak tahu harga tiket sepak bola sore ini?''

Juga tidak tahu. Hem... saya tersenyum sendiri. Aneh. Jualan persis di samping kantor Deltras kok tidak tahu harga karcis Deltras. Gak nguping omongan arek-arek suporter yang biasa mampir di warungnya.

Rupanya ibu ini--juga pedagang-pedagang lain di luar stadion--hanya fokus jualan. Gak mau tahu urusan tiket. Padahal jarak dengan loket tidak sampai 50 meter. Orang Indonesia memang sudah beda dengan sebelum 2000. Yang suka berbagi informasi tentang apa saja. Termasuk gosip-gosip yang penuh bumbu.

Puji Tuhan, sekarang ini ada Mbah Google. Ketik Deltras vs Surabaya Muda. Maka keluarlah berbagai informasi tentang Liga 3. Prediksi pemain Deltras yang akan diturunkan, siapa cedera, hingga harga tiket.

VIP Rp 25 ribu dan ekonomi Rp 15 ribu. Cukup murah. Maklum pertandingan bola kasta ketiga yang dianggap amatir. Beda dengan Persebaya di Liga 1 yang jauh lebih mahal.

Hidup google! Luar biasa!

Mesin pencari asal USA itu makin pintar saja. Makin terbukti sebagai penyedia data dan informasi yang akurat. Serbatahu. Termasuk pertandingan bola di Sidoarjo. Sebaliknya, pedagang-pedagang di sekeliling stadion malah tidak tahu apa-apa.

Sebelumnya saya pernah ngetes salah satu warga di Tropodo Waru. Mantan orang penting dan sudah 20an tahun tinggal di kawasan langganan banjir itu. ''Apa ada Gereja Katolik di sekitar sini? Kawasan Tropodo?'' pancing saya.

Kenalan yang beragama Islam itu menjawab tidak tahu. Dia mengaku tahu ada gereja tapi tidak tahu denominasinya: katolik protestan pentakosta dsb.

Hem... saya tersenyum kecut. Untung ada google. Ketik gereja katolik di Tropodo dan keluarlah begitu banyak informasi. Mulai jadwal misa, romonya, kegiatan OMK, hingga sejarah gereja. Ada banyak foto di dalam dan luar gereja yang digembalakan romo-romo SVD itu. Paroki Salib Suci ini sejak dulu selalu ada romo asal Flores NTT. Sampai sekarang.

Ada lagi contoh yang ironis. Saya mencari rumah Ibu Susy mantan drummer Dara Puspita di Gedangan. Alamat dsb saya dapat berkat bantuan google juga. Saat itu saya kesasar ke tetangganya Bu Susy. Terpaut satu rumah.

''Maaf Mbak... rumahnya Bu Susy di mana ya?''

''Bu Susy siapa ya?''

''Bu Susy Dara Puspita.''

''Nggak tahu. Nggak pernah dengar.''

Mbak yang usianya di bawah 30 itu rupanya tidak tahu ada band lawas Dara Puspita yang sangat terkenal. Apalagi tahu nama-nama personelnya. Tapi saya bisa pastikan dia tahu lagu lawas ini. ''Surabaya Surabaya.. oh Surabaya. Kota kenangan.. kota kenangan... tak kan terlupa.''

Eh, tidak lama kemudian Bu Susy keluar ke halaman rumahnya. Saya pun langsung mengucapkan selamat pagi dan menyalami musisi senior ini. Akrab kayak teman lama saja.

Pelajaran moralnya:
Banyak bertanya (kepada manusia) belum tentu mendapat informasi yang dibutuhkan. Mbah Google jauh lebih efektif sebagai tempat bertanya dan mencari informasi.

Hidup Mbah Google!!!

No comments:

Post a Comment