11 April 2018

Asing dengan Selera Mayoritas

Belum lama ini ANTV pasang iklan satu halaman di koran terbitan Jakarta. Mengumumkan bahwa televisi milik keluarga Bakrie ini kembali jadi nomor satu. Unggul jauh atas puluhan (atau ratusan?) televisi lain di NKRI.

Kok bisa ANTV nomor 1?

Saya kan tidak pernah nonton ANTV. Tidak ada acaranya yang saya anggap menarik. Dulu sering nonton ketika ANTV masih menyiarkan sepak bola. Liga Indonesia alias ISL. Setelah tidak ada balbalan, ANTV saya anggap tidak ada.

Lalu saya mencari peringkat 1 sampai 10 televisi populer. Yang ratingnya tinggi.

Aha... sama aja dengan ANTV. Saya tidak pernah nonton. Kecuali sepak bola Liga Inggris di RCTI dan MNC serta Liga Spanyol dan Liga Champions di SCTV. Juga Liga Indonesia di Indosiar.

Saya lihat daftar 20 program TV yang ratingnya paling tinggi. Oh, ternyata tidak ada satu pun yang saya suka. Maka tidak pernah nonton. Selama bertahun-tahun.

Akhirnya saya sadar bahwa seleraku sudah jauh berbeda dengan mayoritas orang Indonesia. Ketika sebagian besar manusia NKRI doyan sinetron, saya tidak. Ketika warkop-warkop di Sidoarjo dan Surabaya doyan putar Dangdut Academy... saya selalu terganggu.

Pernah saya minta bapak pemilik warkop untuk mengganti saluran. Jangan dangdut lah. Tapi bapak itu marah. 'Aku yang punya warkop. Terserah saya mau nyetel TV yang saya suka,' ujar bapak di perbatasan Surabaya dan Sidoarjo itu.

Saya pun tak pernah mampir lagi ke warkop itu. Sebab saya tahu pasti dangdut yang diputar. Yang pembawa acaranya banyak. Yang komentar-komentarnya sangat berlebihan. Yang ketawa ngakak meski gak lucu. Yang acaranya berjam-jam itu.

Iklan ANTV di koran itu makin menunjukkan bahwa selera saya benar-benar sudah di luar arus utama. Di luar mainstream. Kecuali sepak bola. Karena itu, saya sering bengong saat ngobrol di warkop dsb. Banyak gak nyambung ketika orang-orang ngomong sinetron, academy, Via Vallen, Nella Kharisma, dsb.

4 comments:

  1. Kon iki cocoke tinggal nang Eropa Barat atawa Amerika. Paling sithik Singapur.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ojo, jarke manggon ning Indonesia, Insya Allah lek iso dadi Xi Jinping KW van Indonesia. Podo hobbyne moco buku.

      Delete
  2. Ketika masih mahasiswa seorang teman karib ku adalah orang Bajawa. Kalau rindu pada Tanah Air selalu kita berdendang duet, Manise manise Sayang dilale Kole kole arumbae kole, Menari lenso, Ole sio sayange. Obat pelipur lara.
    Zaman itu belum ada Computer, apalagi YouTube, pokoke lagunya hafal diluar kepala, sebab sering dinyanyikan oleh para mahasiswa dirantau.
    Di Tiongkok sering pejabat ngajak minum ditempat Karaoke, kalau tiba giliran ku harus nyanyi, teman2 itu menyuruh pelayan memutarkan lagu indonesia. Lagunya ya lagu2 Ambon itu, mungkin para Hoakiao asal NTT yang pulang Tiongkok tahun 1960, selalu nyanyi lagu2 itu kalau kangen sama pulau Rote, Sabu, Timor dan Sumba. Lagu cina yang aku hafal hanya dua, yaitu ; 情人的眼泪,qing ren de yan lei
    你怎么说, ni zen me shuo
    Dangdut aku belum pernah dengar, kalau kroncong sering, Jenang Gulo - Indah Andarini, lek mari gelut lan bojoku nesu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe dui dui...
      Kenalan akrab saya pak james chu di hongkong juga doyan nyanyi lagu2 daerah indonesia, campursari, keroncong dsb. Padahal di indonesia sendiri lagu2 kayak gitu sudah gak laku.
      James Chu malah bikin band khusus lagu2 nusantara di xianggang. Juga rajin bikin konser di hongkong lagu2 lawas + daerah. Kalau lihat di nyanyi...waduh.. sepertinya meresap banget. Mungkin kangen dengan Indonesia yg ditinggalkan puluhan tahun.

      Manise manise... so tarlalu manise...
      Sama santen dengen gula..
      So tarlalu manisee

      Delete