10 April 2018

4 Bulan Cuma Baca 3 Buku

Di era digital ini kita lebih akrab membaca ponsel. Main medsos, lihat youtube, nikmati musik dsb via internet.

Baca buku? Aha, kayaknya makin sedikit orang yang melakukannya. Jangankan baca buku. Membaca koran atau majalah cetak pun makin jarang. Termasuk orang-orang yang bekerja di perusahaan media cetak.

Saya sendiri pun demikian. Setiap malam asyik menikmati musik di youtube. Kebanyakan musik lawas. Akhir-akhir ini saya gandrung musik organ pipa ala gereja. Luar biasa permainan organ klasik orang-orang Eropa. Bach, Mozart, Haydn dsb. Dimainkan nyaris sempurna. Macam orkes simfoni lengkap.

Tentu saja mainan baru ini, Youtube, membuat saya sangat jarang membaca buku. Baru saya sadari bahwa selama 2018 ini baru TIGA buku yang saya baca. Itu pun buku lawas semua. Hasil berburu di lapak kaki lima Jalan Semarang Surabaya. Mao, Tan Malaka, Iwan Simatupang.

Terlalu asyik tenggelam di media baru era digital membuat konsentrasi membaca buku cetak jadi sangat berkurang. Belum sampai satu jam berhenti. Ambil ponsel. Baca-baca situs online. Intip media sosial. Siapa tahu ada isu menarik yang bisa dikembangkan jadi berita.

Lalu masuk lagi ke Youtube. Oh.. rupanya Youtube sangat paham selera saya. Berdasarkan rekam jejak alias algoritma sebelumnya. Diklik. Wuih... musik yang hebat. Mustahil kita nikmati di Indonesia pada masa lalu sebelum ada internet yang dahsyat ini.

Maka, bacaan di buku tadi ditinggalkan. Gak rampung. Tiga buku tadi pun belum semuanya kelar. Apalagi tulisan Tan Malaka sang pejuang kiri yang agak berat.

Saya tidak tahu berapa buku yang bisa saya tamatkan sepanjang tahun 2018 ini.

6 comments:

  1. Setiap kali bepergian dengan pesawat, setelah check in, sambil menunggu Boarding, saya dan istri selalu pergi ke Business Lounge untuk ngopi dan makan sekedarnya yang disuguhkan gratis. Setelah mendapat tempat nongkrong yang enak, mengambil secangkir kopi, lalu saya selalu pergi mengambil koran harian yang tersedia disana. Istri-ku selalu mengolok; liaten cuma lu seorang yang baca koran ! Penumpang lainnya semua asyik dengan iphone-, ipad-, Laptop-masing2 atau Computer yang tersedia disana. Ya, jaman sudah berubah, tetapi haruskah setiap orang ikut2-an.
    Zaman sebelum Gestok, di kota Malang ada sebuah toko buku yang spesial menjual buku2 dari negara2 kommunis. Saya juga pernah membeli sejilid buku tentang Kim Il-sung disana. Para bapak guru juga suka berbelanja kesana, sebab harganya sangat murah dan komplit. Guru ilmu alam membeli tentang fisika, Guru aljabar membeli buku matematika, dicetak di Rusia dalam bahasa inggris.
    Toko itu letaknya dekat ujung tenggara Alun-alun kota Malang kearah pecinan, pasar besar. Mungkin sekarang toko itu sudah tidak ada, sebab mungkin pemiliknya sudah dibunuh, setelah Gestok.
    Koq sekarang boleh lagi menjual buku tentang Mao, Tan Malaka, dll-nya di Indonesia.
    Setiap pergantian dynasty, selalu ada buku2 yang dilarang atau dibakar, entah apakah salahnya si-buku. Kalau tidak percaya, ya jangan dibaca.
    Di Internet banyak para orang murtad yang gencar menjelek-jelekkan agama yang pernah dianutnya dahulu. Kalau mau pindah agama, yo monggo, koq musti saling menjelekkan agamanya yang dulu.
    Dasar ajaran Kristen saya agak paham, sekarang saya mulai membaca tentang sejarah agama Islam.
    Konklusi-nya, benar apa kata Papst Johannes XIII,
    Dogma pun harus sesuai dengan zamannya masing2.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu memang jadi jualannya orang2 itu setelah konversi. Biasanya mereka lebih kasar dan jahat ketimbang umat yg sudah turun temurun menganut keyakinan tertentu. Ini juga untuk menunjukkan bahwa dia benar2 sudah murtad dari komunitas lama.
      Makanya saya paling malas dengerkan kesaksian orang2 yg baru masuk nasrani kemudian menjelek2an agamanya yg lama. Biasanya saya langsung ngacir. Ndak ada gunanya Bung!

      Delete
    2. Dulu di Malang ada lapak buku bekas yg sangat bagus di Kayutangan. Dekat gereja katolik itu + toko oen yg antik itu. Tapi kemudian digusur. Lalu datang toko buku gramedia pertama di malang. Persis di depan gereja kayutangan. Toko buku ini masih jaya sampe sekarang. Entah sampai kapan masih ada bisnis buku2 cetak.

      Delete
  2. Iya.. buku2 tan malaka, mao dan sejenisnya cukup ramai di toko2 buku. Versi bajakannya sangat banyak. Mungkin karena banyak orang Indonesia yg penasaran dengan buku2 itu yg dulu diharamkan orde baru.

    Tapi biasanya ada musim tertentu di mana buku2 macam ini dipersoalkan oleh ormas tertentu. Makanya perlu dikoleksi.

    Sekarang ini semua buku bisa diperoleh dengan mudah. Yang jadi masalah utama adalah minat membaca buku yg tidak ada. Minat membaca HP yg luar biasa.

    ReplyDelete
  3. Akibat budaya membaca kita belum mapan.eh keburu si internet datang.ya akhirnya begini deh.
    Sy tudak tahu apa di negara yang bufaya baca dan literasinya sudah mapan.apa juga tergerus internet

    ReplyDelete
  4. Bung, saya tetap membaca di iphone saya tetapi yg saya baca versi online dr New York Times dan majalah New Yorker. Cucok utk sambil menunggu. Kadang ngeck WhatsApp group (sy hanya ikut 3 grup).

    Buku novel terakhir baca 2 bukunya Eka Kurniawan. Habis itu belum lagi. Lebih banyak baca bahan2 teknis utk keperluan kerja.

    ReplyDelete