29 March 2018

Warlheiyono Juragan Orkes Menang Lagi

j

Tahun 90an WARLHEIYONO juragan orkes dangdut. OM Mayora. Markasnya di Rangkah Kidul, Sidoarjo. Setiap malam pria yang hobi berkuda itu keliling Jatim bersama artis-artis dangdut lokal. Cantik-cantik, genit, bahenol. Plus pinter golek saweran.

Salah satu penyanyi dangdut berbakat saat itu bernama Inul Daratista. ''Saya orbitkan dia ketika belum ada apa-apanya. Masih ngamen di mana-mana. Jangan tanya soal bayaran,'' kata Warlheiyono.

Seperti orkes melayu (OM) lainnya, orkes pimpinan Warlheiyono punya begitu banyak penyanyi. Mulai yang remaja hingga STW. Inul yang paling menonjol. Berkat goyangan ngebor yang sangat seksi. Gaya women on top. Kafe-kafe dangdut jadi ramai luar biasa kalau Inul tampil. Bisa usir stres di zaman krismon.

Betul perkiraan Warlheiyono. Inul kian melejit. Ditanggap di mana-mana. Diajak berbagai orkes di tanah Jawa. ''Memang rezekinya Inul. Goyangannya hebat, suaranya bagus, power oke. Inul juga menguasai banyak lagu. Nggak dangdut thok,'' tuturnya.

Inul Daratista yang asli Kejapanan Pasuruan, dekat Sungai Porong, akhirnya melejit ke tingkat nasional. Masuk televisi. Hampir setiap malam. Bahkan punya acara khusus bernama Sang Bintang di SCTV.

Bagaimana dengan Warlheiyono dan OM Mayora? Jalan terus dengan orkesnya. Tapi tidak kebanjiran rezeki seperti Inul. Dan itu memang nasib orkes lokal di mana-mana. Mengangkat calon bintang hingga melejit ke angkasa. Tapi mereka sendiri tidak ikut terangkat.

Warlheiyono kemudian ikut pemilihan kepala desa di Rangkah Kidul Sidoarjo. Menang. Maka juragan dangdut ini lebih dikenal sebagai pak lurah. Tidak banyak yang tahu bahwa dia punya andil besar mengangkat seorang Ainur Rochimah menjadi Inul Daratista.
''Jadi kepala desa itu untuk melayani masyarakat. Waktu untuk mengurus orkes jadi terbatas,'' ujarnya.

Meski begitu, dia membantah anggapan bahwa OM Mayora sudah wassalam. Buktinya, orkes ini masih sesekali tampil di Sidoarjo. Terakhir saya lihat OM Mayora memeriahkan kejuaraan pacuan kuda di Pilang Wonoayu. Kebetulan Warlheiyono ketua Pordasi Sidoarjo. Perintis olahraga kuda di Kabupaten Sidoarjo.

Minggu lalu, 25 Maret 2018, Warlheiyono kembali mengikuti pilkades. Menang telak. Suaranya 1.887 banding 156. Saingannya MIEKE WAHYUNINGTYAS. Tidak lain istrinya sendiri.
Rupanya tidak ada calon yang berani menantang Warlheiyono. Takut kalah. Kalah modal. Kalah ngetop. Kalah pengalaman. Kalah orkes. Kalah kuda. Maka dicarilah Mieke agar calon petahana ini ada lawannya di pilkades. Sistem bumbung kosong memang tidak lagi dibolehkan di Sidoarjo. Padahal di pilkada, bahkan pilpres, boleh.

Di periode kedua ini, Warlheiyono ingin menyelesaikan program-program-program lama untuk mengangkat kesejahteraan warga Rangkah Kidul. Termasuk membenahi kampung ini agar kelihatan lebih maju dan modern. Bukan apa-apa. Meskipun berada di pusat kota, Rangkah Kidul masih terlihat seperti wilayah pinggiran saja. Maklum daerah tambak di lingkar timur.

Sejumlah perumahan dan pergudangan mulai bermunculan di lingkar timur. Ada Taman Tanjung Puri yang hijau dan asri. Ada juga gedung serbaguna Sidoarjo Community Center (SCC) yang megah. Desa Rangkah Kidul harus bisa mengimbanginya.

Bagaimana dengan orkes dangdutnya? Jalan terus atau vakum dulu? ''Musik itu jiwa saya. Nggak mungkin distop,'' ujarnya.

Belum jelas apakah saat pelantikan nanti Inul Daratista akan pamer suara dan goyangan di Rangkah Kidul. Yang pasti Inul sekarang sudah STW dan tidak ngebor lagi.

No comments:

Post a Comment